Oleh : agung hidayat

Itu tidak sabar malam secepatnya selesai. Besok pagi Idul adha. Sholat di masjid Istiqlal. Eh, katanya kami akan sholat di halaman Gereja Katedral. Istiqlal sedang dipercantik.
Besok pagi menyembelih sapi atau kambing. Besok makan rendang. Atau nyate.
Malam itu pikiran saya sudah dipenuhi oleh hal-hal itu.
Pagi itu tanggal 10 zulhijjah 1440. Atau 11 agustus 2019. Saya bangun kesiangan, sholat Iedul adha terlewat. Kawan saya hanya tertawa.
Saya pergi ke kamar mandi mencuci muka. Saya lupa pangkas rambut. Padahal tadi malam sudah saya niatkan. Tapi apa ada tukang pangkas yang buka dihari raya macam ini.
Saya keliling Menteng. Dari Gondangdia ke Kali pasir. Dari Kramat Raya ke Pasar senen. Semuanya tutup. Tidak ada satupun tukang pangkas rambut yang buka.
Motor yang saya pakai untuk mencari pangkas rambut itu bunyinya semakin tidak enak. Seperti sedang menggiling batu di dalam perutnya. Saya putuskan untuk langsung pulang saja.
Saya juga khawatir sapi dari pak Kapolri yang seberat hampir satu ton itu sudah di sembelih. Atau kambing-kambing imut itu sudah terkapar lesu. Saya ingin melihat mereka sebelum mati.
Menteng raya lima delapan. Ketik saja di google maps. Itulah tempat saya tinggal. Dan tempat sapi-sapi dan kambing-kambing itu akan di sembelih.
Saya lihat mereka yang berjumlah sekitar dua puluh orang sedang berusaha untuk menggulingkan sapi pak kapolri. Sapi itu sungguh besar dan berotot. Saya takut melihatnya. Takut dia mengamuk. Lalu menyeruduk kami dan PII wati.
Lucu sekali kalau sampai media masa mengumumkan: aktivis mati ditanduk sapi.
Sapi itu melompat-lompat. Untung kakinya sudah diikat oleh tambang sebesar jempol kaki. Orang-orang itu memegangi tambang itu sekuat tenaga. Satu orang mengomel karena melihat ada kekeliruan dalam memegang tambang. Orang lainnya menggerutu karena ekor sapi itu ditarik oleh anak laki-laki nakal. Bapak-bapak tua mengelus-elus kepala sapi yang sudah roboh. tapi belum mengarah ke kiblat.
Masih belum pas. Teriak laki-laki yang nampaknya berperan sebagai algojo. Di tangan kanannya digenggam parang yang terbungkus koran. Siap-siap menggesekkan ke leher sapi itu. Sapi itupun diberdirikan lagi.
Arahkan ke kiblat. Ucap seorang laki-laki yang memegang toa. Sambil meneriakkan takbir berulang-ulang.
Seorang bapak berwajah sejuk mengatakan. Kasihan lubang hidungnya berdarah.
Mata saya langsung tertuju ke arah hidung sapi itu. Benar, darah merah kehitaman menetes dari hidungnya. Tali tambang itu mengoyak lubang hidungnya. Nampaknya terlalu kencang.
Saya perhatikan. Air berkumpul dikelopak matanya. Lalu jatuh menetes. Sapi itu menangis. Nafas yang keluar dari hidungnya memuncratkan darah itu. Berkali-kali.
Sapinya tersiksa. Ucap salah seorang laki-laki.
Laki-laki yang memegang tali itu mengomel. Karena sapi itu tak kunjung roboh. Sementara hari sudah semakin siang. Suara takbir semakin keras. Lalu sapi itupun roboh.
Algojo itu langsung menempelkan parang di leher sapi itu. Sapi itu mengerang. Orang-orang tadi memeganginya sekuat tenanga.
Darah merah menyembur dari lehernya.
Saya lega. Sapi itu melewati masa menyakitkannya.
Agama kami melarang kami bersedih saat melihat hewan qurban disembelih. Mungkin karena akan mengurangi kadar keikhlasannya.
Tapi saya tidak bersedih. Saya hanya teringat cerita guru saya dahulu ketika saya masih sekolah dasar. Dia mengatakan ayahnya itu dahulu seorang pejuang pra-kemerdekaan. Jika ada lawan perang yang tertawan. Ayahnya bertugas menyembelih lawan itu dengan kaleng yang di asah. Dibawah jembatan.
Untung saja di negara ini hanya ada perang pemikiran. Atau sesekali perang dagang antar orang batak dan minang.
Tubuh saya menggigil kalau melihat darah merah.

Tinggalkan komentar