Kategori: Puisi

  • Teduh VI

    Siapa yang menenggelamkan diri pada laut, untuk merengkuh engkau di daratan? Siapa yang meneduh di bawah awan, melambaikan tangan pada langit yang berhasrat menyentuh bibir laut? Seorang penyair berkata: Jika ada yang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan. Ah, tak seharusnya kita percaya pada penyair.

  • Oleh: Agung Hyt Jalanan telah mencuri habis rasa takut tiada lagi ketakutan kecuali yang diciptakan oleh mata-pisau-waktu yang mengintaimu setiap pagi Gelap telah menghisap habis duka tiada lagi duka kecuali yang diciptakan oleh tumpukan kemungkinan luka adalah Gibran kepada Ziadah? luka adalah Rahwana kepada Shinta? oh, tidak! luka adalah langkah tanpa ujung di lorong panjang…

  • Teduh III

    Kau tahu adanya Lihatlah ke dalam lembah hatiku tak ada rahasia Lihatlah ke dalam telaga mataku tak ada yang mampu disembunyikan Maka datanglah padaku sebagai api atau sebagai amuk badai siap aku terbakar rela aku terhempas

  • Perdebatan kesunyian

    Oleh : agunghyt Katamu / sekuntum puspa enggan mewangi di ladang pagi yang kaku Tiada jiwa yang benar-benar beku / jawabku Katamu / jiwa-jiwa hambar ditakdirkan mati ditikam kesunyian Kesunyian adalah anugerah bagi terlaksananya segala permenungan / jawabku Katamu / hidup ialah buat berkompetisi, menangguk prestasi sebagai sumber dari kebahagiaan hakiki Hidup-menghidupi adalah inti dari…

  • Hening Binal Pablo Neruda

    Aku ingin jadi keheningan Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak adaDan kau dengar aku dari jauh, tapi suaraku tak menyentuhmuSeperti matamu yang mengalur hingga jauhSeperti ada sebuah kecupan yang mengunci mulutmu Seperti segalanya terpenuhi dengan jiwakuKau menjelma dari segalanya, memenuhi jiwakuEngkau seperti jiwaku, kupu-kupu mimpi,Dan engkau seperti kata Melakoli Aku ingin jadi keheningan…

  • Bungaisme

    alismu, ilalang bertangkai-tangkai yang dipermainkan angin dadamu, beribu-ribu bunyi yang maha sunyi matamu, nyala lilin di padang fatamorgana yang maha tanda tanya

  • Bunga Ranah Minang

    Oleh: agung h. // Bunga berpangkat, jelas asalnya, tinggi ilmunya, setitik sakitnya melintasi berbagai tanah, gedung dan kehormatan kalah dalam rupa, pendekar dalam tahta oh, Bunga atasnama kehormatan-kehormatan yang tak terhitung banyaknya, kau injak kesungguhan-kesungguhan ini demi mimpimu yang panjangdan nuranimu yang kelam kau sebut bau sepuntung rokok tak layak membersamai Bunga ranah Minang yang…

  • PINTA

    saya mengigau sepanjang malam apa-apa yang keluar dari mulut hanyalah dirimu raut muram wajah manis itu seakan-akan berkata-kata kutukan api-api kekecewaan menerbangkan diri membakar kesungguhan hilang, hilang saya dalam palung hatimu dalam sekejap

  • Mata

    manusia melihat, kawan-kawan di atas sana sungguh mulia manusia melihat, kawan-kawan di bawah sana sungguh hinanya sastrawan mengucap; sungguh hidup ini biasa saja yang hebat-hebat hanya tafsirannya sepuh menyeru; Tuhan tidak peduli dengan apa yang kau miliki, Tuhan melihat apa yang kau beri

  • Rosea

    Oleh : agung h. — /1/ adalah dirimu segala apa yang ada padamu sebuah puisi sastra yang, sunyi /2/ tanganmu puisi matamu puisi langkahmu puisi segala apa yang ada padamu, sunyi /3/ seseorang yang linglung merapal setiap inci tubuhmu memuncratkannya tepat di jendela kamar hatimu saat kau bermimpi saat kau, sunyi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai