Kategori: Cerpen
-

Oleh: Agung Hyt Jalan Kencana membentang sepanjang 500 meter. Di kanan jalan bunga dadap tumbuh berbaris. Di sebelah kiri terdapat sungai gambut dengan air yang agak keruh. Di ujung jalan kita akan menemukan dua pohon mahoni besar dengan daun yang lebat, berdiri kokoh bagai gapura. Konon, dua pohon tersebut telah berusia sangat tua, setua ruas…
-

Pukul 9 pagi Pak Tua terlihat mangkal tidak jauh dari Stasiun Sudirman. Dahinya menyentuh spidometer, seperti sedang tertidur. “Pak, tolong antar saya ke kantor KPK Pusat di Kuningan. Cepat! Saya sudah terlambat!” Pak Tua terperangah, ia bangkit dari peningnya memikirkan beras di rumah habis. Ditambah istrinya yang harus segera membeli minyak goreng, lauk pauk, dan…
-

Oleh: Agung Hyt Dua wanita sedang berdialog. Satu dosen, satu mahasiswi. Dosen duduk di atas sofa orange berbahan kulit. Mahasiswi berdiri di depan dosen agak ke pinggir kanan. “Suatu pemikiran yang dianggap ideal tidak boleh berlawanan dengan logika sosial. Segala gagasan harus membumi, ” kata sang dosen dengan nada penuh keyakinan. Lalu sang dosen bangkit…
-

Oleh: Agung Hyt Akan kuceritakan satu kisah membosankan. Kusebut “membosankan” karena ini bukan kisah cinta dengan bumbu percumbuanya. Ini kisah dendam, kisah kemuakan atas kebodohan yang dipertontonkan. Begini. Pada tahun 1997 di sebuah desa seorang perempuan berusia tanggung berlari ke atas bukit kecil. Dari atas bukit itu ia berteriak selepas-lepasnya. Setelah itu, dengan suara yang…
-

Setelah kutimbang-timbang. Setelah selama sekian purnama kepalaku disesaki tanda tanya. Setelah kulakukan pembacaan dan meneliti sudut jendela barangkali ada kisi-kisi. Akhirnya, aku harus mengakui bahwa ia terasa amat jauh dari jangkauan. Bahkan, hampir mendekati taraf kemustahilan. Aku malu kalau semua orang mengetahuinya. Sebab, di saat semua merayu. Aku saja yang memasang mata tak peduli. Namun,…
-

Oleh: Agung Hyt Setelah melobi bagian Tata Usaha kampus. Akhirnya, ia berkenan mengeluarkan surat bahwa aku benar sebagai mahasiswa kampus tersebut. Dengan surat ini, akan kucoba mencari jalan tikus. Barangkali ada celah agar bisa kutuntaskan apa yang telah kumulai. Kadang-kadang kita memang harus seperti tikus, tidak penting jenis makanannya, yang penting makan. Selepas itu, aku…
-

Oleh: Agung Hyt AKU melihat lelaki tua bertempur mulut di bawah pohon akasia. Aku berjalan mendekat buat menyimaknya. Sejurus kemudian dua lelaki tua itu terdiam dan mulai menatap diriku dengan sinis. Aku memberi isyarat tubuh bahwa aku tidak bermaksud mengganggu perdebatan mereka yang syahdu. Lalu aku duduk dan menyandarkan tubuh ke batang pohon itu—dan mereka…
-

Oleh: agung h. Pukul sebelas malam. Ia berjalan ke kamar mandi yang terletak agak jauh ke belakang, sekitar 30 meter, untuk mandi. Langkahnya seperti prajurit yang habis berperang, lunglai dan pasrah. Selesai mandi ia menuju kamar kontrakan yang terletak di lantai 2. Ia menghadap cermin lemari, mengeringkan rambut dengan handuk, dan menatap dirinya di kedalaman…
-

Oleh: agung h. Dia, teman yang sangat kuhormati dan kusayangi. Pertemanan kami masih terbilang baru, kenal di semester empat perkuliahan. Tapi meskipun baru, dia adalah teman yang baik untukku. Bagaimana tidak, hampir setiap hari dia mengingatkanku untuk solat, makan dan membersihkan diri. Di antara seluruh orang yang kumiliki, dia lah yang paling peduli. Memiliki teman…
-

Oleh: agung h. Itu sore yang dingin. Hujan baru saja reda. Para binatang keluar dari persembunyiannya di bawah rumah panggung milik bibi Olen. Setiap memasuki musim hujan, para binatang harus bertungkus lumus lari mencari perlindungan. Ada yang lari ke bukit Sigunggua, ada yang memanjat pohon trembesi, ada yang bernasib sial—hanyut terbawa banjir deras. Setiap kali…