Kategori: Renung
-

Oleh Agung Hidayat Dikisahkan dalam kitab Luqthul-Marjaan Fi Ahkaamil-jaan halaman 207 karya Imam As-Suyuthy terjemahan Kathur Suhardi, bahwa iblis frustasi ketika berhadapan dengan orang berakal. Begini kisahnya. Ibnu Abid-Dunya mentakhrij dari jalan Ali bin Asyim, dari sebagian penduduk Bashrah, dia berkata: Ada seorang yang berilmu mengikat persaudaraan dengan seorang ahli ibadah. Syetan berkata kepada iblis,…
-

“Menjadi diri sendiri” adalah satu kalimat yang sering kita dengar, baik dari para motivator ataupun dari orang biasa. Kalimat itu memberikan energi pada kita, sekaligus tidak jarang menjadi racun bagi kehidupan yang sehat. Betapa tidak, keinginan untuk tidak terikat pada apa pun tak jarang lahir karena dorongan binatangisme daripada karena pertimbangan akal yang seimbang. Oleh…
-

Oleh: Agum Hyt Sebelum kita menuntut orang lain mencintai kita, kita mesti mengkaji diri dulu, apakah kita layak dicintai? Apakah kita pantas dikasihi? Benar, bahwa cahaya cinta itu universal tanpa sekat, tapi, menuntut dicintai tanpa usaha memantaskan diri adalah satu bentuk keangkuhan hati. Hal ini senada dengan perkataan seorang ateis radikal: Permintaan agar dicintai adalah…
-

Oleh: Agung Hyt Seorang komunis dari Portugal pernah mengatakan: Kata-kata yang berasal dari hati tidak pernah terucap, ia tertahan di tenggorokan dan hanya bisa dibaca pada mata seseorang. Mengapa mata? Kalau tidak silap, jawabannya tedapat dalam perkataan seorang sufi dari Persia: Orang yang tak mampu membaca kedua matamu, tak akan mampu mendengar kata hatimu. Ada…
-

Oleh Agung Hyt Hidup dalam susuan induk semang membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lamban dan rapuh. Ia tak pernah merasa-i lidah matahari menjilati pipi, merahnya bara membakar kaki, tak pernah menempuh rangkaian panjang perjalanan. Sehingga daya pandangnya terbatas pada yang tampak saja. Mudah kagum pada yang melankolis, pada yang merdu, pada yang romantis, pada yang…
-

Oleh: AgungHyt Dalam seribu dialog, kita tidak mungkin luput dari sikap melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi fakta, dengan kadar sedikit maupun banyak. Perkataan spontan sering lepas dari kontrol alam sadar. Secara sederhana kita menyebutnya: khilaf. Jika ini yang terjadi, tak apa. Tak perlu dipusingkan. Itu manusiawi, itu dapat dimaklumi. Lagi pula, Rumi dalam Matsnawi-nya mencatat, yang kurang…
-

Oleh: Agung Hyt Dia dikenal makhluk paling pakboi di kampung kami. Banyak “hutan” dan “lembah” pernah ditelusuri. Bagaimana tidak, warna kulitnya yang putih kemerahan berpadu dengan karakternya yang dingin dan tidak neko-neko membuat perempuan di kampung kami mengantre untuk menjadi pacarnya. Sekali pun sekadar buat merasai sex-nya. Kendati demikian, dia adalah laki-laki yang memegang teguh…
-

Keluasan, kedalaman, dan segala ketakterjangkauan, kita sebut sebagai misteri. Misteri juga berarti rahasia yang tak terjangkau indera. Manusia waras mana yang mau bermain di ruang misteri? Kecuali yang telah sampai pada taraf gila. Dan satu-satunya penawar atas kegilaannya hanyalah malam pekat belaka.
-

Oleh Agung Hyt Di hari-hari yang penuh ketidakpastian, seorang anak muda merasa diterjang badai kegelisahan. Dia terjebak dalam pilihan hidup yang berat, meskipun akhirnya harus membuat keputusan. Ketika ia akhirnya menetapkan pilihan, ternyata banyak pengaruh perasaan yang dominan. Tentu saja, keputusan seperti ini bermasalah. Mengapa? Karena ia lahir dari penalaran yang sudah termotivasi oleh perasaan,…
-

Oleh Agung Hidayat Saya membayangkan bagaimana jadinya kalau kapitalis itu seorang yang bertabiat pemalas, tidak disiplin, tidak tertib? Tetapi satu hal yang penting. Bertabiat tidak disiplin dan mudah patah arang bukanlah prinsip seorang kapitalis —atau yang bercita-cita menjadi kapitalis— dan tidak mungkin menjadi kapitalis. Kita semua tahu, terkadang kapitalis punya cerita hidup yang panjang. Lalu…