• Oleh Agung Hyt

    Tak masalah sama sekali jika saat berbicara kita menyelipkan bunyi aa-ee. Berbicara yang baik itu bukan berarti ucapan harus selalu mulus tanpa jeda. Hal yang paling utama dalam berbicara adalah kejujuran, kebijaksanaan, dan pemahaman penuh atas apa yang sedang kita ucapkan.

    Kalau kita perhatikan, banyak pemikir terkemuka dengan rekam jejak yang sudah teruji pun tidak sepenuhnya lepas dari kebiasaan aa-ee.

    Mulai dari para tokoh bangsa hingga deretan intelektual publik masa kini, mereka juga butuh waktu untuk merangkai kata. Ada Sukarno, Habibie, hingga Quraish Shihab. Sebut siapa lagi? Gagasan besar mereka tidak lantas menjadi kerdil hanya karena cara penyampaiannya tidak seperti penyiar berita atau MC.

    Jeda atau bunyi aa-ee itu kadang-kadang dilakukan secara sengaja sebagai seni retorika untuk membuat komunikasi terasa lebih hidup. Coba kita ingat kembali teori retorika Aristoteles terutama soal pathos dan ethos. Dalam sebuah perbincangan personal maupun retorika, jeda seperti itu bisa menjadi rem agar kita tidak tampak terlalu dominan atau arogan di hadapan orang lain. Jeda dan bunyi aa-ee memberikan kesan bahwa kita benar-benar menimbang apa yang akan diucapkan, sekaligus memberikan ruang bagi pendengar untuk ikut mencerna pesan yang kita sampaikan.

  • Oleh Agung Hyt

    Berpikir itu setidaknya dapat dibagi menjadi tiga tingkatan: berpikir dangkal (superficial thinking), berpikir mendalam (deep/analytical thinking), dan berpikir cemerlang (strategic/brilliant thinking).

    Berpikir dangkal adalah cara berpikir yang hanya berhenti pada apa yang terlihat atau terdengar di permukaan. Orang dengan tipe ini menerima informasi tanpa mencernanya. Sebagai contoh, saat mendengar kabar harga beras naik, ia tahu itu akan menyusahkan masyarakat kecil, tapi tanpa tahu penyebab pastinya. Ia tahu sebuah peristiwa terjadi, tetapi tidak paham mengapa itu bisa terjadi. Cara berpikir ini paling sering kita jumpai, karena mengonsumsi informasi memang jauh lebih mudah daripada mengujinya.

    Berpikir mendalam melangkah satu tingkat lebih tinggi, yaitu kemampuan mengupas masalah hingga ke akarnya. Orang yang berpikir mendalam tidak mudah percaya begitu saja pada tampilan luar. Ketika harga beras naik, ia akan mencari tahu penyebabnya, apakah karena gagal panen, rantai distribusi yang panjang, atau permainan spekulan. Ia melihat hubungan sebab-akibat dari berbagai sudut pandang. Kemampuan ini membutuhkan data, ketelitian, dan kepala dingin. Model berpikir ini banyak dimiliki oleh para ahli, ulama, akademisi, dan cendekiawan.

    Berpikir cemerlang adalah puncak dari proses berpikir, di mana pemahaman mendalam bertemu dengan kemampuan menemukan solusi jitu. Orang yang berpikir cemerlang tidak berhenti hanya pada menganalisis mengapa harga beras naik, tetapi diikuti mencari jalan keluar yang adil bagi petani, pedagang, dan konsumen. Ia mampu menimbang risiko, mengambil keputusan cepat, dan menggerakkan orang lain untuk mengeksekusi suatu solusi. Kemampuan ini wajib dimiliki oleh seorang pemimpin –baik pemimpin negara, pemimpin perusahaan, pemimpin organisasi, ataupun pemimpin rumah tangga.

    Nb: disarikan dari buku Hakikat Berpikir

  • Apabila anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar meragui dirinya.

    Apabila anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar memasang perisai terhadap sesamanya.

    Apabila anak dibesarkan dalam ketakutan, ia belajar mencemaskan hari esok.

    Apabila anak senantiasa dikasihani tanpa diberi kesempatan berdiri, ia mungkin lupa bahwa kedua kakinya diciptakan untuk melangkah.

    Apabila anak kerap diolok-olok, ia mungkin menyembunyikan suara dan dirinya.

    Apabila anak tumbuh dalam iri dan perbandingan, ia belajar mengukur harga dirinya dengan kehidupan orang lain.

    Apabila anak dibesarkan dengan pengertian, ia belajar memahami hati sesama.

    Apabila anak diberi dorongan untuk mencoba, ia belajar menaruh percaya pada dirinya.

    Apabila anak dihargai atas usaha dan kebaikannya, ia belajar bahwa setiap ikhtiar memiliki kemuliaan.

    Apabila anak diterima dengan segala kekurangan dan kelebihannya, ia belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

    Apabila anak diberi ruang untuk dialog, ia belajar menyuarakan pikiran dengan santun dan berani.

    Apabila anak dibiasakan menepati janji, ia belajar memelihara amanah.

    Apabila anak diperlakukan dengan kejujuran, ia belajar menjunjung kebenaran.

    Apabila anak dibesarkan dalam keadilan, ia belajar bahwa setiap insan berhak diperlakukan dengan layak.

    Apabila anak menyaksikan perbedaan diselesaikan dengan musyawarah, ia belajar bahwa perselisihan tidak harus berakhir dengan permusuhan.

    Apabila anak diajarkan mengakui kesalahan, ia belajar bahwa kemuliaan bukan terletak pada kesempurnaan, melainkan pada keberanian memperbaiki diri.

    Apabila anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar mengasihi.

    Apabila anak diberi kepercayaan dan tanggung jawab, ia belajar menjadi insan yang teguh dan mandiri.

    Apabila anak tumbuh dalam lingkungan yang memuliakan ilmu, ia belajar mencintai pengetahuan dan merendahkan hati di hadapan kebenaran.

  • Ketika pertama kali menjadi mahasiswa S2 di Jepang, 21 tahun lalu, Hasanudin Abdurakhman diingatkan oleh Sensei-nya agar jangan membawa budaya malas orang tropis. Katanya, ikutilah cara hidup orang Cina, Jepang, dan Korea.

    Awalnya Hasan tersinggung. Ia ingin mendebatnya. Tapi kemudian Hasan hanya diam dan memilih membuktikan kepada Sensei-nya bahwa ia berbeda. Setelah masternya selesai, Sensei-nya justru kepincut melihat Hasan yang tekun dan serius. Sensei-nya minta Hasan tetap di Jepang dan memberinya akses pekerjaan.

    Kadang-kadang kita memang tak perlu tersinggung oleh suatu perkataan yang merendahkan. Cukup diam dan buktikan.

  • Oleh Agung Hyt

    Sejak kelas 6 SD, saya tertarik pada filsafat. Saya masih ingat betul masa-masa itu, saya senang mengoleksi gambar para filsuf. Kemudian saat SMP-SMA saya senang berdebat dan bicara agak ngotot (dua poin ini tidak dianjurkan untuk dicontoh). Di kampung saya waktu itu, bahkan saya tak pernah mendengar orang berkata-kata banyak soal filsafat. Berbeda dengan sekarang. Mungkin warga desa sudah tak terlalu asing dengan istilah filsafat, apalagi setelah Rocky Gerung semakin populer.

    Soal buku-buku filsafat? Ceritanya lain. Buku-buku babon termasuk buku filsafat memang sulit didapat di kampung kami. Paling banter saya hanya mendapatkan buku Albert Einstein, Isaac Newton, dan beberapa bacaan lain. Selebihnya, soal-soal filsafat saya baca dari artikel-artikel dan esai-esai di internet. Malahan pokok-pokok dalam filsafat seperti materialisme, idealisme, epistemologi, ontologi, dan aksiologi, termasuk pembahasan filsafat sebagai ilmu spekulatif maupun sebagai ilmu kritis, baru saya dapatkan setelah merantau ke Jakarta.

    Kendati demikian, orang tetap banyak pesimis terhadap sosok bernama filsafat. Barang kali orang pesimis terhadap filsafat bukan hanya karena filsafat itu ruwet. Ada persoalan lain: filsafat bukan ilmu praktis, ia tidak berbicara tentang sesuatu yang konkret, bahkan kadang untuk menunjuk objeknya saja sulit. Orang yang belajar filsafat sering kebingungan ketika ditanya, “Filsafat itu ilmu apa?” Sementara di telinga mereka, yang lebih sering terdengar adalah matematika, biologi, hukum, ekonomi, teknik, pendidikan, dan berbagai ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Peter Gibson pernah menyebut filsafat sebagai sosok yang dingin dan tidak asyik. Tetapi belakangan saya justru mengerti mengapa saya tertarik kepada filsafat: saya mencintai kedinginannya. Orang yang jatuh cinta tidak lagi terlalu peduli pada ukuran asyik atau tidak asyik. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu yang membuatnya terus ingin mendekat.

    Ya, filsafat adalah sesuatu yang dahulu saya impikan. Hukum adalah sesuatu yang kemudian dapat saya jangkau. Tetapi setelah masuk ke dunia hukum, saya justru menemukan bahwa keduanya tidak benar-benar terpisah. Saya berkali-kali mendengar para dosen mengatakan bahwa hukum itu juga berpangkal daripada filsafat.

    Lihat saja, nama-nama seperti Aristoteles dengan teori keadilannya. John Locke yang memikirkan hak dan pemerintahan. Thomas Hobbes yang memikirkan negara, ketertiban, dan kontrak sosial. Montesquieu yang memikirkan pembagian kekuasaan. Immanuel Kant berbicara tentang hukum dan moralitas. Hans Kelsen dengan alam pikiran positivisme-nya yang juga dianut oleh rezim hukum Indonesia. Pun Lawrence M. Friedman yang melihat hukum bukan hanya sebagai norma, tetapi juga sebagai struktur dan kultur yang hidup dalam masyarakat.

    Sebagian besar nama-nama di atas telah saya dengar, terutama saat masih kuliah filsafat di Paramadina dan menjalani rutinitas diskusi di PII. Saya masih ingat betul jauh sebelum saya kuliah hukum, pada satu waktu kami mendiskusikan alam pikiran Hans Kelsen tentang teori hukum berjenjang atau stufenbau theory sampai berjam-jam. Jadi, saya pikir, filsafat dan hukum itu seperti bersaudara saja, sama-sama dilahirkan dari pikiran para filsuf.

    Lalu, siapa yang bercita-cita menjadi orang hukum? Terus terang, saya tak pernah terpikir ke arah situ. Sejak kecil, yang saya bayangkan justru filsafat. Meskipun bayangan itu tidak jelas wujudnya, tapi saya selalu ingin merasa dekat dengan filsafat. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa suatu hari saya akan belajar hukum, membaca undang-undang, menulis tentang hukum, dan melanjutkan pendidikan hukum. Tetapi hidup rupanya punya cara sendiri untuk membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia rencanakan.

  • Siapa yang sungguh-sungguh, maka ia akan antusias. Siapa yang antusias dan konsisten dalam antusiasnya itu, maka itulah cinta. Hal-hal yang demikian itu selalu diikuti oleh keberanian berkorban, kesetiaan yang tinggi, dan gairah yang konsisten.

  • Oleh Agung Hyt

    Mungkin orang hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan yang telah kita tempuh. Selebihnya tetap menjadi detail yang tak pernah diketahui siapa pun selain diri kita sendiri.

    Karena itu, seseorang kerap merasa sendiri. Apa yang diperjuangkan, dikorbankan, dan dipertaruhkan dalam setiap langkah hidupnya sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Semua itu tersimpan sebagai rahasia yang hanya ia pahami.

    Begitulah kehidupan bekerja. Setiap manusia lahir dengan cerita yang tidak sepenuhnya bisa dibagikan. Ada bagian-bagian yang hanya akan menjadi percakapan antara dirinya dan Tuhan.

  • Oleh Agung Hyt

    Kalaulah benar Saudara benci pada pejabat yang korup lagi bermoral hidup borjuis, buktikanlah bahwa Saudara sendiri tidak seperti itu. Buktikan bahwa Saudara adalah setitik lilin di tengah lautan gulita.

    Namun apabila ternyata sama, hanya beda pada tingkat dan kadarnya, maka perjuangan pertama itu adalah menundukkan diri, bukan revolusi.

    Aneh dan ganjil, apabila kita memiliki gejolak yang tinggi untuk selalu mengkritik dan memberontak, tetapi sebenarnya itu dilakukan menurut sifat reaktif tanpa kejujuran moral.

    Revolusi dari zaman ke zaman sering kali memakan anaknya sendiri. Revolusi dibekali oleh semangat yang berkobar dan keinginan memberontak yang tinggi, tetapi sering kali bolong dalam mempersiapkan manusianya sebagai eksekutor unggul pasca-revolusi.

  • Tentang Murah Hati & Latihan Menahan Diri

    Oleh Agung Hyt

    Mas Agus, bukan saja mentorku dalam kepenulisan, tapi juga dalam sikap mental. Mungkin ia tak menganggap begitu, katakanlah saya sendiri yang merasa sebagai mentee-nya.

    Ia menulis banyak buku tokoh, mulai dari politisi sampai jenderal. Berpengalaman sebagai jurnalis, aktivis, dan TA di DPR RI. Meski begitu, saya menyaksikan ia menjalani kehidupan dengan amat bersahaja, cinta ilmu, dan teratur.

    Tapi maksudku begini, saya menyerap banyak pelajaran dari ia punya hidup. Terutama soal ini: jangan mudah buat minta-minta; kalaupun terpaksa harus minta tolong, jangan minta tolong sebelum memberi.

    Walau ia sering menekankan nilai itu, tapi jangan salah, ia amat murah hati. Kalau bertamu ke rumahnya, kami sering ngebakso. Apalagi kalau pas ada acara, pasti kenyang. Tak cuma itu, pun mereka sering membantu banyak orang.

    Seakan bertentangan, kan? Tapi tunggu dulu. Kenapa ia katakan jangan mudah minta-minta? Saya memahaminya begini: ini soal nilai hidup. Ini soal latihan menahan diri. Ini adalah bentuk pendidikan kemandirian. Mental mandiri itu cermin keteguhan jiwa. Cermin keseriusan hidup.

    Dapat dikatakan, kemandirian adalah mata kuliah kehidupan. Bukankah orang banyak dapat nilai merah di situ? Bisa jadi Mas Agus tak ingin orang-orang di sekitarnya dapat nilai merah. Begitulah saya memahaminya.

    Nah, yang terakhir, dari Mas Agus pulak saya belajar minum kopi tanpa gula. Makan secukupnya. Harus jalan kaki tiap pagi. Daaan, tiga-tiganya payah saya jalankan —apalagi soal makan. Haha!

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis