Oleh Agung Hidayat
Beberapa waktu lalu, kawan awak bercerita, dia dianggap kampungan dan tidak adaptif hanya karena dialek Sumatera Timur, di tengah lautan prokem Jakarta.
Terus terang, awak cukup terkejut. Sebab awak sendiri tak pernah mengalami hal semacam itu. Dan seandainya itu terjadi, awak justru akan senang hati bersikap konfrontatif —akan awak bikin mereka kewalahan.
Kita sama-sama tahu, sesuatu yang sejak awal berwatak palsu, dangkal, gersang, serta bersifat “sinetron” dan dibuat-buat, mau dipopulerkan bagaimana pun, tidak akan pernah menghilangkan watak dasarnya.
Bicara soal Jakarta, awak membaginya ke dalam dua wajah. Pertama, Jakarta organik. Kedua, Jakarta prokem.
Jakarta organik adalah Jakarta yang berakar pada budaya Betawi —hidup, wajar, dan beridentitas. Adapun Jakarta prokem adalah Jakarta yang identik dengan kejakselan, glamoritas semu, kepura-puraan, dan kegersangan dalam tutur kata.
Seharusnya, dengan memahami watak dasar ini, kita tidak lagi tergesa membuka mulut untuk menghakimi. Terlebih, secara alami, banyak orang di luar budaya prokem Jakarta menyimpan sikap sinis terhadapnya. Namun pertanyaannya: mengapa justru sebagian besar dari mereka ikut mempraktikkan bahasa dan gaya budaya itu ketika masuk ke lingkaran Jakarta?
Jawabannya sederhana: bukan karena mereka telah mengoreksi pemahaman dasarnya tentang watak budaya tersebut, melainkan karena mereka tak kuasa menahan diri untuk tampak “Jakarta”.