Oleh Agung Hidayat
Pemimpin sejati itu “terpenjara” sejak ia memilih memimpin. Ia tidak bebas mengatakan apa saja yang ia rasakan (ego-driven). Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa makin besar tanggung jawab seseorang, makin kecil pula ruang bagi egonya untuk diumbar keluar. Sejak seseorang memilih memimpin, sejak itu pula hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.
Apa yang saya sampaikan di atas persis dengan aforisme: leiden is lijden –memimpin adalah menderita.
Aforisme tersebut, benar adanya, bahwa kepemimpinan sejati mensyaratkan terbebas dari ego-driven.
Pemimpin sejati cenderung hidup melampaui diri. Artinya, apabila perjuangannya semata-mata cuma buat kepuasan diri –maka “keringlah” apa yang diperjuangkan itu.
Tidak sedikit orang membayangkan kepemimpinan sebagai posisi yang menyenangkan. Penuh penghormatan. Pengejawantahan dari libido dominandi. Padahal sebagian besar ujian kepemimpinan justru terjadi dalam ruang yang tidak terlihat. Dalam kesunyian. Dalam percakapan batin yang tidak diketahui siapa-siapa. Ada kemauan-kemauan pribadi yang harus dikubur demi menjaga arah bersama.
Terkadang hal yang demikian itu tidak mudah. Sebab manusia pada dasarnya ingin dimengerti. Ingin dihargai. Ingin didengar. Tetapi seorang pemimpin tidak boleh menjadi tawanan dari kebutuhan emosionalnya sendiri.