• Oleh Agung Hidayat

    Beberapa waktu lalu, kawan awak bercerita, dia dianggap kampungan dan tidak adaptif hanya karena dialek Sumatera Timur, di tengah lautan prokem Jakarta.

    Terus terang, awak cukup terkejut. Sebab awak sendiri tak pernah mengalami hal semacam itu. Dan seandainya itu terjadi, awak justru akan senang hati bersikap konfrontatif —akan awak bikin mereka kewalahan.

    Kita sama-sama tahu, sesuatu yang sejak awal berwatak palsu, dangkal, gersang, serta bersifat “sinetron” dan dibuat-buat, mau dipopulerkan bagaimana pun, tidak akan pernah menghilangkan watak dasarnya.

    Bicara soal Jakarta, awak membaginya ke dalam dua wajah. Pertama, Jakarta organik. Kedua, Jakarta prokem.

    Jakarta organik adalah Jakarta yang berakar pada budaya Betawi —hidup, wajar, dan beridentitas. Adapun Jakarta prokem adalah Jakarta yang identik dengan kejakselan, glamoritas semu, kepura-puraan, dan kegersangan dalam tutur kata.

    Seharusnya, dengan memahami watak dasar ini, kita tidak lagi tergesa membuka mulut untuk menghakimi. Terlebih, secara alami, banyak orang di luar budaya prokem Jakarta menyimpan sikap sinis terhadapnya. Namun pertanyaannya: mengapa justru sebagian besar dari mereka ikut mempraktikkan bahasa dan gaya budaya itu ketika masuk ke lingkaran Jakarta?

    Jawabannya sederhana: bukan karena mereka telah mengoreksi pemahaman dasarnya tentang watak budaya tersebut, melainkan karena mereka tak kuasa menahan diri untuk tampak “Jakarta”.

  • Oleh Agung Hyt

    Hari-hari ini —quotes, kutipan psikologi, dan kata-kata tokoh— dipakai sebagai alat untuk mendangkalkan pikiran publik.

    Tidak sedikit orang menafsirkan kehidupan orang lain hanya dengan membaca kalimat pendek di layar telepon genggam. Dari kebiasaan itu lahirlah apa saya sebut sebagai Pikiran Indomie. Memberi rasa kenyang semu, tanpa membangun kemampuan bernalar.

    Pikiran yang kokoh tidak lahir dalam beberapa detik. Ia lahir melalui pengamatan, pengalaman, analisis, dan pembuktian. Pemikiran memerlukan metode, konsistensi, dan usaha sungguh-sungguh.

    Namun, sebagian dari kita cenderung memilih jalan instan. Mengutip untuk memuaskan perasaan —untuk berbijak-bijak. Kutipan pun berubah dari instrumen analisis menjadi alat untuk validasi.

    Lebih buruk lagi, ada orang yang mengambil peruntungan dari situasi ini untuk menjadi “tokoh atau motivator” di media sosial. Mereka mencari followers dari politisasi quotes. Di sinilah pasar pikiran instan tumbuh subur, sementara ruang “kerja keras belajar” semakin menyempit.

    Jika keadaan ini terus berlanjut, kemampuan berpikir kritis akan terkikis. Orang tidak lagi mencari kebenaran, tetapi hanya mencari quotes buat mendukung kemauannya.

    Karena itu, kita perlu kembali pada kerja intelektual yang jujur dan sabar. Bacalah sumber secara utuh, latih logika, dan bangun pendirian melalui proses berpikir yang teruji.

  • Oleh Agung Hidayat

    Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

    QS. At-Taubah: 128

    Seorang muslim sejati tak mungkin bersendu-sendu hanya karena luka pribadinya. Tujuannya lebih luas dari tubuh dan kepentingannya sendiri. Kesedihan personal baginya hanyalah hal kecil. Bagaikan debu di tengah badai perjuangan. Yang membuat hatinya pedih ialah apabila kebenaran diinjak-injak dan kebrutalan menjadi corak kehidupan manusia.

    Inilah jenis cinta yang seharusnya dipahami generasi muda Islam.

    Praksis cinta terdalam adalah cinta Rasulullah saw kepada umatnya. Inilah cinta yang tidak pernah padam oleh waktu dan ujian kehidupan. Rasulullah saw mencintai umatnya hingga detik-detik wafatnya, bahkan cinta itu terus abadi selama-lamanya. Beliau menuntun dan mengangkat martabat manusia dari taraf lumpur kepada keluhuran.

    Sedangkan cinta tertinggi dalam kehidupan manusia ialah mahabbah —cinta umat kepada Allah swt. Mahabbah bukanlah sekadar rasa senang atau rasa tentram. Mahabbah adalah ketundukan total. Keikhlasan sepenuh hati. Kesetiaan yang tidak berubah oleh keadaan. Mahabbah adalah kesadaran bahwa hidup ini adalah amanah —bahwa segala gerak kita, segala usaha kita, segala cita-cita kita harus kembali kepada Dia Yang Maha Esa. Mahabbah menjadikan manusia teguh dalam kebenaran, tabah dalam kesulitan, dan jujur dalam setiap langkahnya.

    Karena itu, ketika seorang pemikir berbicara soal cinta, janganlah kita membayangkan ia sedang membicarakan tentang perasaan-perasaan kecil semata. Ketika seorang pencinta ilmu menyebut kata “cinta”, jangan pula kita sangka ia sedang menuturkan keluh-kesah tentang dirinya sendiri. Dan apabila seorang revolusioner —orang yang menyandarkan hidupnya pada cita-cita yang lebih besar dari dirinya— berkata tentang cinta, maka pastilah cinta yang ia maksud adalah keseriusan dalam memikirkan nasib umat, nasib rakyat, dan nasib bangsanya.

  • Oleh Agung Hyt

    Bangsa maju tidak bertumpu pada kecerdasan semata, tetapi pada kesungguhan dan disiplin yang hidup dalam diri setiap warganya.

    Kecerdasan dapat diasah di sekolah, dapat dipamerkan dalam angka-angka, tetapi kecerdasan tanpa kesungguhan dan disiplin hanya akan melahirkan keangkuhan yang membingungkan.

    Bangsa-bangsa maju —seperti negara-negara Nordik dan Asia Timur— bukanlah bangsa yang paling jenius, melainkan bangsa yang paling tekun, paling tahan uji, dan paling setia pada tujuan kolektifnya. Mereka menanam kebiasaan bekerja tuntas. Mereka membangun budaya bertanggung jawab. Mereka memelihara watak setia; setia pada tugas, setia pada janji, setia pada cita-cita bangsanya sendiri.

    Karena itu, bila kita ingin Indonesia berdiri tegak di antara bangsa-bangsa, maka syarat pokok yang harus kita bangun bukan sekadar kecakapan berpikir, tetapi mentalitas ulet dan disiplin. Kita membutuhkan generasi yang ulet dan serius, tidak mudah menyerah, tidak rapuh oleh keluhan, tidak cepat puas oleh pujian. Kita membutuhkan anak-anak muda yang mengerti bahwa masa depan harus diperjuangkan melalui disiplin yang panjang dan kerja yang tidak putus.

  • Oleh Agung Hidayat

    Kita kerap mengira, bahwa orang jang telah menginjakkan kaki di perguruan tinggi, pastilah ia mendjadi manusia jang berintegritas tinggi, djudjur, dan kuat karakter. Saudara-Saudara, itu keliru besar!

    Fungsi pendidikan tinggi bukan moralisasi, melainkan mempertadjam pikiran dan memperkuat pemahaman metodologis. Hanja sadja, satu hal jang mesti kita tjatat, universitas dapat mempertadjam pikiran, tetapi tidak dapat menambal robekan integritas jang telah kojak semendjak ketjil.

    Internalisasi nilai, pembentukan budi, pembiasaan djudjur dan lurus —semua itu, mesti sudah diletakkan fondasinja di rumah, di pangkuan ibu, serta dalam kebiasaan sehari-hari di PAUD, TK, dan SD. Di situlah karakter manusia ditempa.

    Karena itu, apabila kita melihat seorang pedjabat atau pelajan masjarakat bergelar sardjana, seseorang doktor, atau berpangkat profesor, tetapi tidak berintegritas, pastilah ada jang gandjil dan keliru pada pendidikan masa kecilnja. Mungkin sadja ia dibesarkan dalam suasana moral kebendaan; mungkin sadja ia diasuh dengan ajaran individualisme; mungkin sadja ia tumbuh dalam keluarga dan lingkungan jang kemaruk atas dunia.

  • Oleh Agung Hyt

    Apa jang dikatakan sebagai egalitarianisme hukum itu ialah suatu keadaan di mana hukum diadakan bukan tjuma buat tadjam ke bawah, bukan djuga buat tadjam ke atas sadja, tetapi hukum diadakan buat tadjam ke segala arah —ke segala pendjuru.

    Inilah jang disebut sebagai egalitarianisme hukum, atau dalam adagium jang lebih familiar: equality before the law. Persamaan di hadapan hukum.

    Hukum tidak diadakan buat melindungi golongan tertentu sadja, dan tidak pula buat menindas golongan jang lain. Hukum tak boleh mendjadi instrumen kepentingan bagi jang kuat —ia harus mendjadi suluh keadilan bagi segenap lapisan, baik jang berada di atas, maupun di bawah.

    Apabila hukum dikooptasi oleh kekuatan politik, ekonomi, atau kepentingan golongan, maka hilanglah sifat egalitari dari hukum itu.

    Dalam keadaan jang sematjam itu, hukum tidak lagi berdiri sebagai institusi jang luhur dan bidjaksana, tetapi mendjelma mendjadi instrumen jang lalim lagi ingkar. Padahal hukum jang sejati ialah hukum jang berdiri tegak di atas sendi-sendi keadilan dan kebidjaksanaan.

    Tjita-tjita egalitarianisme hukum telah lama mendjadi dambaan dalam sedjarah bangsa-bangsa. Dari masa ke masa, bangsa-bangsa telah berusaha mendjadikan hukum sebagai naungan jang adil bagi segenap manusianja.

    Dalam kitab undang-undang maupun dalam adat, dalam pengadilan maupun dalam musjawarah, senantiasa ada pengharapan bahwa hukum akan mendatangkan keadilan jang tak pandang bulu, tak bertindak menurut hukum pasar, tetapi menurut fakta & kecermatan, serta tidak pula gojang karena tekanan massa atau kekuasaan.

    Karena sebab jang demikian itu, apabila kita berbicara tentang hukum dalam negara jang mentjanangkan keadilan sosial, egalitarianisme hukum adalah landasan jang tak boleh ditinggalkan. Ia adalah roh dari hukum jang hidup, jang mendjamin bahwa tiada satu orang pun jang boleh mengangkanginja. Pada achirnja, di hadapan hukum jang bermartabat, tiap-tiap manusia harus berdiri sama rata dan sama martabatnja.

  • Oleh Agung Hyt

    Bukan karena kepintaran, bukan karena status sosial, apalagi karena kedudukan ekonomi, jang sebenar-benarnja mengacaukan kehormatan hidup ialah karena tidak adanja kesetiaan dan kehati-hatian dalam berkehidupan.

    Adakah di antara kita jang kehilangan perkara mendasar ini: kesetiaan kepada akal pikiran, kepada kemanusiaan, dan kepada hakikat kebenaran. Setjuil sadja kesetiaan itu rusak, rusak pulalah kehormatan hidup.

    Kesetiaan adalah sjarat pertama buat mendjaga kehormatan hidup, tetapi selain daripada itu, mesti pula seseorang itu memiliki kehati-hatian. Apabila kehati-hatian tak lagi dipelihara, tak ada lagi kemauan dalam menimbang benar dan salah, tak ada sikap kontekstual, serta tak ada lagi rasa malu, maka rusak pulalah kehormatan hidup itu.

  • Oleh Agung Hyt

    Sejak awal puasa sampai sekarang, entah udah berapa jam hidupku kuhabiskan menonton Para Pencari Tuhan di YouTube. Padahal sebelumnya, jangankan menonton, melirik pun aku malas. Sinetron tak mutu, bisikku dalam hati. Tapi begitu kutonton satu episode, rasanya seperti tersedot masuk ke dunia mereka. Setiap karakter muncul dengan keunikannya sendiri, seolah-olah mereka datang mengetuk pintu pikiranku dan berkata, “Kau harus lanjut nonton!”

    Dari semua tokoh, Asrul jadi pusat perhatianku. Begitu dia muncul, alur cerita serasa punya gravitasi baru. Konsisten benar perangainya: cerewet, senang nasihati orang lain, dan kadang sok bijak sampai-sampai aku menahan napas antara ingin tertawa atau ingin menegurnya dari balik layar.

    Di setiap jilid, Asrul tetaplah Asrul. Hidup susah dia mengeluh, sambil gemar menasihati orang lain. Hidup lapang pun dia tetap gemar mengeluh dan menasihati siapa pun yang lewat, seakan dunia tak akan selamat tanpa petuah-petuahnya. Istrinya, Ka’ Mira, seperti malaikat kesabaran yang turun langsung ke bumi, mencoba menuntunnya agar lebih tenang dan bijak. Namun nasihat Ka’ Mira itu ibarat angin lewat.

    Awak sekarang paham, ternyata, ujian kemiskinan dan ujian kemakmuran tak membuat Asrul menjadi bijaksana dan pandai membawa diri.

  • Oleh Agung Hyt

    Hidup tak boleh cuma buat makan dan beranak pinak. Kalau itu tujuan kita punya hidup, artinya kita sebelas-dua belas sama beruk.

    Kita manusia, satu-satunya makhluk yang dikasih kesadaran—kemampuan buat merenung, bertanya, bahkan gelisah soal arti hidup. Hidup yang cuma dihabiskan untuk rutinitas biologis adalah bentuk keterbelakangan.

    Kita lahir bukan cuma untuk bertahan, tapi untuk menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar bertahan. Kalau hidup hanya diisi dengan mengulang hari demi hari tanpa makna, itu sama saja dengan perlahan-lahan mati sambil tetap bernapas.

    Hidup harus bermakna. Tapi makna itu tak datang cuma-cuma. Kita yang harus meraba, mencari, bahkan jatuh bangun dalam prosesnya. Kadang makna ditemukan dalam hal sederhana: membantu orang tanpa pamrih, mencipta sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, atau sekadar jujur sama diri sendiri. Makna bukan sesuatu yang tetap—ia berubah, tumbuh, berlapis, mengikuti kita yang juga terus tumbuh. Dan justru dalam pencarian itu, hidup jadi lebih hidup. Ada nyala. Ada api.

    Dan, setinggi-tingginya makna hidup adalah hidup untuk mendapat ridho-Nya.

  • Oleh Agung Hyt

    Pendidikan berfungsi menajamkan akal, bukan sekadar menjejali kepala dengan hafalan.

    Menghafal itu penting, sama pentingnya dengan membaca buku. Membaca pasti mengandung unsur menghafal pokok-pokok gagasan dalam buku. Tapi semua itu mesti diikuti dengan berpikir dan merenungi, agar apa yang dibaca dan dipelajari tidak berhenti sekadar jadi tumpukan informasi.

    Akibat sekolah, tapi tidak berpikir, akhirnya kita merasa perlu mengoreksi segala hal, abai pada konteks, bernafsu menasihati segala-gala yang tak sempurna.

    Inilah yang kita sebut sebagai mental superioritas. Merasa super. Merasa paten sendiri. Suatu sikap hidup elitis yang berbahaya bagi kesehatan jiwa dan kepribadian.

    Superioritas itu tanda kita punya akal, tetapi tak dipakai secara penuh. Kendati akal yang dipakai tidak penuh, tetapi pribadi superior merasa menjadi juru selamat bagi orang tersesat. Aneh bin ajaib, memang!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai