Oleh Agung Hyt
Sejak kelas 6 SD, saya tertarik pada filsafat. Saya masih ingat betul masa-masa itu, saya senang mengoleksi gambar para filsuf. Kemudian saat SMP-SMA saya senang berdebat dan bicara agak ngotot (dua poin ini tidak dianjurkan untuk dicontoh). Di kampung saya waktu itu, bahkan saya tak pernah mendengar orang berkata-kata banyak soal filsafat. Berbeda dengan sekarang. Mungkin warga desa sudah tak terlalu asing dengan istilah filsafat, apalagi setelah Rocky Gerung semakin populer.
Soal buku-buku filsafat? Ceritanya lain. Buku-buku babon termasuk buku filsafat memang sulit didapat di kampung kami. Paling banter saya hanya mendapatkan buku Albert Einstein, Isaac Newton, dan beberapa bacaan lain. Selebihnya, soal-soal filsafat saya baca dari artikel-artikel dan esai-esai di internet. Malahan pokok-pokok dalam filsafat seperti materialisme, idealisme, epistemologi, ontologi, dan aksiologi, termasuk pembahasan filsafat sebagai ilmu spekulatif maupun sebagai ilmu kritis, baru saya dapatkan setelah merantau ke Jakarta.
Kendati demikian, orang tetap banyak pesimis terhadap sosok bernama filsafat. Barang kali orang pesimis terhadap filsafat bukan hanya karena filsafat itu ruwet. Ada persoalan lain: filsafat bukan ilmu praktis, ia tidak berbicara tentang sesuatu yang konkret, bahkan kadang untuk menunjuk objeknya saja sulit. Orang yang belajar filsafat sering kebingungan ketika ditanya, “Filsafat itu ilmu apa?” Sementara di telinga mereka, yang lebih sering terdengar adalah matematika, biologi, hukum, ekonomi, teknik, pendidikan, dan berbagai ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Peter Gibson pernah menyebut filsafat sebagai sosok yang dingin dan tidak asyik. Tetapi belakangan saya justru mengerti mengapa saya tertarik kepada filsafat: saya mencintai kedinginannya. Orang yang jatuh cinta tidak lagi terlalu peduli pada ukuran asyik atau tidak asyik. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu yang membuatnya terus ingin mendekat.
Ya, filsafat adalah sesuatu yang dahulu saya impikan. Hukum adalah sesuatu yang kemudian dapat saya jangkau. Tetapi setelah masuk ke dunia hukum, saya justru menemukan bahwa keduanya tidak benar-benar terpisah. Saya berkali-kali mendengar para dosen mengatakan bahwa hukum itu juga berpangkal daripada filsafat.
Lihat saja, nama-nama seperti Aristoteles dengan teori keadilannya. John Locke yang memikirkan hak dan pemerintahan. Thomas Hobbes yang memikirkan negara, ketertiban, dan kontrak sosial. Montesquieu yang memikirkan pembagian kekuasaan. Immanuel Kant berbicara tentang hukum dan moralitas. Hans Kelsen dengan alam pikiran positivisme-nya yang juga dianut oleh rezim hukum Indonesia. Pun Lawrence M. Friedman yang melihat hukum bukan hanya sebagai norma, tetapi juga sebagai struktur dan kultur yang hidup dalam masyarakat.
Sebagian besar nama-nama di atas telah saya dengar, terutama saat masih kuliah filsafat di Paramadina dan menjalani rutinitas diskusi di PII. Saya masih ingat betul jauh sebelum saya kuliah hukum, pada satu waktu kami mendiskusikan alam pikiran Hans Kelsen tentang teori hukum berjenjang atau stufenbau theory sampai berjam-jam. Jadi, saya pikir, filsafat dan hukum itu seperti bersaudara saja, sama-sama dilahirkan dari pikiran para filsuf.
Lalu, siapa yang bercita-cita menjadi orang hukum? Terus terang, saya tak pernah terpikir ke arah situ. Sejak kecil, yang saya bayangkan justru filsafat. Meskipun bayangan itu tidak jelas wujudnya, tapi saya selalu ingin merasa dekat dengan filsafat. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa suatu hari saya akan belajar hukum, membaca undang-undang, menulis tentang hukum, dan melanjutkan pendidikan hukum. Tetapi hidup rupanya punya cara sendiri untuk membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia rencanakan.