Teduh

Oleh: agung h.

Bagaimana cara membaca panas dalam gelombang dingin? Bagaimana cara membaca riang dalam ritme diam? Bagaimana cara menemukan diriku pada keheninganmu?

Setangkai bunga bermata teduh, menafsirkanmu bukanlah keahlianku. Dan, dalam prosa ini tak akan kucoba-coba melakukannya, kecuali jika aku siap diserang kegilaan.

Kumulai saja dari kata ‘maaf’. Maaf, ada tanah yang ingin menyatu bersama langit. Seorang insan pemberang nan dingin mengepak-ngepak tangan sambil merapal mantra bunga-bunga.

Sesuatu di dalam dadaku boleh saja meronta-ronta—itu haknya—tapi, hanya sebatas itu. Tidak boleh ia memaksamu buat mengerti simbol-simbol yang mengemuka.

Senafas dengan pandangan Nietzche ‘permintaan dicintai adalah jenis arogansi paling besar’.

Sejauh dugaan-dugaan itu ada, aku tidak dapat memberi kepastian kepada diri sendiri. Kepastian itu milik Tuhan dan dirimu.

Suara-suara kecil di dalam diriku tidak hadir begitu saja. Seluruhnya berpangkal dari perjumpaan yang dingin namun menggetarkan.

Matanya yang teduh, bagaikan mantra pereda angkara– mendinginkan amarah yang mengangkasa.

Tak perlu aku bertanya-tanya lebih kepada diri sendiri, bahwa tepat pada detik itu aku langsung mengerti. Diam mengingini pertemuan-pertemuan berikutnya sekalipun tetap diselimuti kedinginan-kebekuan.

Hal yang mungkin akan mengendap dalam ingatanku. Di mana pada suatu ketika kau dan aku dalam satu perjalanan, hening tanpa sepatah kata. Pada waktu-waktu lainnya, pun tak pernah ada kalimat panjang. Kecuali satu-dua kata biasa— yang di dalamnya terdapat maksud yang tak sederhana.

Apabila kemudian hal ini menumbuhkan penyesalan, tak soal. Kupilih jalan sunyi menuju jendela hatimu.

Api bertemu api—membesarlah ia. Beku bertemu beku—kalau tidak saling bertolak, maka saling mencair.

Di sana, barangkali telah kau ketahui sedikit banyaknya tentang perwatakan ini. Hal itu bukanlah masalah penting. Sebagaimana pada lebah-lebah yang terbang di antara tubuhku, kubiarkan ia menyengat dan mencium bau diriku. Telah kukemukakan kepada alam bahwa aku tak pakar dalam beberapa watak dan tak akan kututup-tutupi.

Di samping itu, semoga matamu yang teduh membacanya dengan adil. Serta mampu menerjemahkan simbol-simbol yang mewakili qolb. Menjadi penawar bagi hati yang sepenuhnya diselimuti keresahan.

Apabila kemudian penglihatan membawamu kepada kesinisan, aku pun telah siap. Dan nyatanya aku selalu siap. Setidaknya tanah telah mencoba menggetarkan langit.

Posted in

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai