Aku ingin jadi keheningan
Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada
Dan kau dengar aku dari jauh, tapi suaraku tak menyentuhmu
Seperti matamu yang mengalur hingga jauh
Seperti ada sebuah kecupan yang mengunci mulutmu
Seperti segalanya terpenuhi dengan jiwaku
Kau menjelma dari segalanya, memenuhi jiwaku
Engkau seperti jiwaku, kupu-kupu mimpi,
Dan engkau seperti kata Melakoli
Aku ingin jadi keheningan untukmu: dan kau berjauh jarak
Suara itu seperti engkau meratap, kupu-kupu berbunyi seperti merpati
Kau mendengarku dari jauh, suaraku tak mencapaimu:
Biarkan aku datang padamu menjadi hening dalam sunyimu
Dan biarkan aku bicara denganmu, dengan kesunyianmu
Terang seperti lampu, seadanya bagai seutas cincin
Engkau seperti malam, menyimpan keheningan dan konstelasi
Sunyimu adalah bintang, memecil jauh dan bersembunyi
Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada
Jauh jarak itu penuh nestapa itu seakan kau telah mati
Lalu hanya satu kata, satu senyuman, cukup sudah
Dan aku bahagia, bahagia karena segalanya menyaru palsu~
(8/1/2021/imperiumdaily.com)
Menjaga keheningan
Kini kita akan menghitung waktu
ke puncak malam
dan berhenti sejenak di sana
untuk sekali memandang wajah bumi
tanpa suara dalam bahasa apa pun
berhenti sejenak saja
membiarkan tubuh
tak banyak bergerak
akan tiba saat yang menakjubkan
tanpa riuh, tanpa deru mesin-mesin
kita berada dalam kebersamaan
dalam keterasingan yang tiba-tiba
Para nelayan di lautan dingin
takkan melukai ikan-ikan paus
dan lelaki pencari garam
memandangi tangannya
yang terluka
Mereka yang mempersiapkan perang hijau,
peperangan dengan gas,
peperangan dengan api,
kemenangan tanpa pemenang,
akan meletakkan baju-baju bersih
dan akan melangkah bersama para saudara
di dalam bayang-bayang,
tak melakukan apa pun
Apa yang kuinginkan
tak seharusnya membingkungkan
Kehidupan seperti ini:
Aku ingin tidak ada truk dengan kematian.
Jika kita tidak tulus ikhlas
untuk menjaga kehidupan kita
yang terus bergerak,
dan sekali saja tak melakukan apa pun,
mungkin keheningan yang maha besar
mungkin akan menyela kesedihan ini
yang tak pernah memahami diri sendiri
dan mengancam diri kita
dengan kematian.
Barangkali bumi bisa mengajarkan kita
seperti ketika segalanya seakan mati
dan kemudian terbukti hidup.
Kini kuakan menghitung waktu
ke puncak malam,
dan kau tertinggal menjauh
dadaku melangkah pergi~
(balipost.co.id)
Telanjang
Telanjang
Kau sesederhana satu dari kedua belah tanganmu
yang halus, bersahaja, kecil, bening, dan melingkar:
dengan garis bulan dan jalan masuk:
Telanjang
Kau selembut butiran gandum tanpa kemasan.
Telanjang
Kau sebiru malam di Kuba,
dengan tumbuhan dan bintang-bintang di rambutmu;
Telanjang
Kau lapang dan kuning
seperti musim panas di dalam sebuah gereja emas.
Telanjang
Kau setipis satu dari kuku-kukumu
yang melengkung, halus, dan merah muda sampai hari ini lahir
Dan kau kembali kepada dunia bawah tanah.
Seolah-olah kau menyusuri terowongan panjang yang menyelimuti dan memasung:
Kau cahaya terang yang meredup dengan hiasan
yang jatuh di dedaunan
Dan kembali menjadi sepasang tangan yang telanjang
(SyahrulChelsky/medium.com)
