Filosofi Angsa

Oleh: Agung Hyt

Apa yang terlintas di benak sodara ketika saya menyebut angsa di atas air. Apa pun itu yang jelas saya meyakini pikiran sodara tidak sedang membayangkan sesuatu yang latah dan grasah grusuh.

Angsa di atas air. Sekilas ia tampak sedang bermalas-malasan. Mengapung dan sekali-kali membenamkan kepalanya ke dalam air. Tetapi saya pikir kita semua tahu, bahwa kakinya tidak pernah berhenti bergerak.

Kekuatannya tidak terlihat. Kekuatannya ada di balik permukaan air. Apa yang Anda lihat di atas permukaan air yaitu, sebuah tubuh yang tenang dan anggun sebenarnya dikendalikan dari dalam—oleh kaki yang terus bergerak—memberi keseimbangan.

Begitulah seharusnya kita menjalani hidup di permukaan bumi ini. Biarkan dunia melihat seolah-olah Anda tanpa aksi, tidak bergerak, tidak terlihat, tetapi di luar penglihatan mata dunia yang fana kita bergerak melebihi pembacaannya.

Kita harus berani tidak menjadi siapa-siapa. Melepaskan segenap ego diri yang ingin terlihat dipandang keren, pintar. Ingin menjadi “seseorang” atau “sosok tertentu”.

Memang cita-cita bukanlah sesuatu yang hina. Tetapi ketika kita mengorientasikan semuanya itu hanya untuk sekadar dikenal dan dipandang sebagai “manusia berprestasi” dan “sukses” semuanya menjadi terasa semu.

Seringkali nafas cita-cita hanya menjadikan subyek sebagai satu-satunya yang menerima kebermanfaatan. Mendongkrak status sosial agar mendapatkan kedudukan istimewa dan seribu pujian.

Mungkin semua itu dapat mengerek Anda ke puncak privilege dan dielu-elukan oleh banyak orang. Tetapi percayalah, kerja keras Anda itu hanyalah SEBUAH KESEMUAN.

Prestasi yang selama ini dipuja-puja oleh orang tua penuntut tidak akan membuat sang anak tumbuh menjadi manusia yang sesungguhnya. Kecuali hanya menjadi “manusia pencapaian” yang haus pujian.

Kita tengok, betapa banyaknya anak-anak yang gila karena tuntutan prestasi. Bahkan tidak sedikit yang memilih bunuh diri.

Apakah Anda tidak bersedih menengok mereka? Lalu, Anda ingin mengembangkan “budaya populer” dengan argumen-argumen yang seolah-olah rasional. Sehingga menjadikan Anda sebagai manusia narsistik yang haus pengakuan.

Apa yang kita miliki. Kesempurnaan pikiran, watak dan fisik adalah sebesar-besarnya buat kebermanfaatan umat dan mencari ridha Allah. Kalau kita telah mengorientasikan hidup pada ini, Anda tidak akan lagi memuja manusia-manusia populer secara gila-gilaan. Anda tidak akan bekerja mati-matian sekadar untuk menjadi seperti mereka.

Kembalilah menjadi seekor angsa di atas air. Anggun tetapi tetap bekerja.

Posted in
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai