Cerita di antara malam

Oleh: agunghyt

Malam ini aku menyelam di kedalaman keheningan. Telingaku dapat menangkap jelas setiap bunyi-bunyi halus. Detak-detik jarum jam di dinding mengetuk sisi paling melankolis di dalam diriku. Rasa-rasanya, pertama kalinya aku mengalami ini–di dalam ruangan empat kali empat. Mendadak sesuatu yang terperangkap di dalam diriku meloncat keluar saat itu juga. Dan meneriakkan segala ketaktuntasan.

Pendidikan yang kuusahakan mendapati hadangan dari sana sini. Telah kucoba berbagai jalur, tetapi semuanya mengatakan tidak. Otakku hampir mengalah di hadapan keremang-remangan hidup. Tapi lagi-lagi, setiap aku hendak berhenti dan memutar haluan, aku teringat ibu-bapak di desa yang masih senantiasa melirihkan harapan-harapan.

Selanjutnya cerita ini akan sedikit panjang. Begini, ketika kesedihan jiwaku atas ibu-bapak belum juga menenang. Bayangan seorang gadis pulau melayang di langit-langit ingatanku. Kesedihanku semakin memuncak. Seorang gadis yang padanya harapan-harapan pernah kutaruh panjang. Seorang gadis yang pernah kurapal dalam doa-doa kesunyian.

Mimpinya tentang melewati batas-batas dan menyeberangi pulau-pulau kuamini setiap waktu. Pada waktu itu, kuterbangkan lirih kata melewati tanah, laut dan hutan, lalu jatuh tepat di sudut telinganya, suaraku membisik, “akan kubawa kau menapaki tanah-tanah jauh, pantai-pantai manis, dan gunung-gunung tinggi, kita berjalan di bentangan savana lalu berbagi canda di antara ilalang yang menguning, akan kubuat kau menangis bahagia di dalam dekapanku.”

Pada waktu itu, satu cerita yang masih berupa imajinasi, dan… semakin jauh dari kemungkinan.

Malam ini, dirinya datang, kau hadir sekian senti di ujung mataku, kau tersenyum dan aku melihatnya. Mataku menyembab, dadaku berontak dipermainkan kebencian dan cinta.

Tapi, kulihat ada sesuatu di balik senyumannya. Kuamati, dan kuperhatikan, ternyata sesuatu itu adalah sebentuk ketaksungguhan dan api penghianatan. Jiwaku yang telah lebam oleh kerikil kehidupan, dibuat semakin lumpuh olehnya. Pisau itu ia tusuk secara halus dari berbagai arah, tanpa ampun. Aku terkapar, ia tertawa. Ingin rasanya kumaki diri sendiri. Kesakitan itu semakin mendekati titik kulminasi, saat kudapati kabar satu-persatu kawanku bicara tentang gadis pulau, berbasa-basi dan meminta… Ingin kumaki diri sendiri.

Seseorang yang lasuh dalam mengidolakan sesuatu akan pula menyimpan rahasia-rahasia. Aku tahu, aku paham, aku pernah menjadi seperti itu.

Hanya saja, aku tak ingin semua berlalu secepat aku mendapatkannya. Maka, aku berpura-pura tak memahami mekanisme yang semacam itu. Hatiku telanjur simpuh kepada dirinya, hatiku menyediakan ruang kasih seluas-luasnya. Namun, walau telah kau tanam dalam-dalam nafas kesungguhan dan kesetiaan, akan tetap sukar tumbuh kejujuran pada diri perempuan berjiwa rapuh.

Akhirnya, dalam kesunyian, dalam kediam-diaman ia menebar “hai” ke banyak ruang. Ia menganggap segala ekspresi keakuan adalah puncak dari kebebasan. Ia belum menghadapi realitas yang sebenarnya, ia rapuh menengok pencapaian manusia lain.

Ingin rasanya kubisikkan pelan-pelan di telinganya, “Nona, jangan terjebak dalam kesemuan. Kau harus berani tidak menjadi siapa-siapa. Jadilah sebagaimana seharusnya perempuan.”

Namun, aku tak ingin mematahkan semangatnya. Biarlah kehidupan demi kehidupan mengajarinya cara memandang sesuatu secara tuntas dan mendalam. Sementara waktu, biarlah ia berselancar di lautan semu atraktif-teatrikal.

Ingin kumaki diri sendiri…

Malam semakin pekat. Setindak demi setindak suara detak jarum jam mulai menyamar. Lalu menghilang. Seiring dengan lenyapnya segala kepercayaan. Kesadaranku terperangkap di alam mimpi. Tubuhku terperangkap di alam kehidupan.

Posted in
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai