Satu hal yang kukhawatirkan, tentang waktu yang terus bergerak maju, orangtua yang semakin menua dan sesakitan, dan dosa sosial yang kian menumpuk.
Terjatuhlah aku ke dalam jurang kemungkinan di antara bukit kepastian dan ketidakpastian.
Sampai pada titik paling membingungkan, aku menjajakan mimpi-mimpiku.
Mimpi adalah barang dengan nilai daya tawar tertinggi yang kumiliki, selain itu aku hampir tidak memiliki apa-apa lagi.
Daya tawarku melemah, sejak kuputuskan melepas seluruh momentum panjat sosial.
Dan sekarang, aku menyadari betapa manusia itu pada titik tertentu memang harus kejam.
Kepada yang lemah dan tak berdaya tidak ada alasan untuk menindasnya, tapi kepada setan-setan kekuasaan dan begu-begu berwajah klimis harus diberi garis tegas dan keras.
Kalau tidak begini, semua orang bakal dihitung sebagai komoditi kepentingan semata.
Tapi aku menerimanya dengan lapang dada. Kemudi waktu bukan barang yang bisa diajak bersantai. Apalagi kembali!
Satu persatu tuan kudatangi. Kepada semuanya kukatakan hal yang sama.
“Bantu aku hari ini, segalanya akan kulunasi di masa depan.”
