Setelah kutimbang-timbang. Setelah selama sekian purnama kepalaku disesaki tanda tanya. Setelah kulakukan pembacaan dan meneliti sudut jendela barangkali ada kisi-kisi. Akhirnya, aku harus mengakui bahwa ia terasa amat jauh dari jangkauan. Bahkan, hampir mendekati taraf kemustahilan.
Aku malu kalau semua orang mengetahuinya. Sebab, di saat semua merayu. Aku saja yang memasang mata tak peduli. Namun, di balik itu, ada pertarungan hebat di dalam dada dan pikiranku.
Jadi, begini saja.
Bagaimana kalau kali ini aku menjadi seorang yang sepenuhnya skeptis. Meletak keyakinan bahwa jika yang kuinginkan bisa saja bertentangan dengan yang Tuhan inginkan.
Ada alasan kuat mengapa aku harus mengedepankan skeptisisme. Bahwa dalam lingkaran ini, aku bukan hanya yang paling nista dalam watak, tetapi juga dalam banyak hal lainnya. Bagaimana mungkin dengan fakta yang jelas-jelas nyata, aku berani melanjutkan “tanda tanya” itu ke level praktik?
Bisa saja suatu saat nanti. Saat kenistaan-kenistaanku sebagian besar telah dapat terperbaiki. Aku mengampiri dan menanyainya pada waktu malam, sunyi dan ketika tidak ada sesiapa. Bisa saja.
Tapi, bukankah kepercayaan diri seseorang itu tumbuh karena adanya potensi kepastian. Ada sesuatu yang dapat ia banggakan dan unggulkan.
Aku musti membawa apa?
Secara amat pengecut dan pecundang tanpa usaha apa-apa untuk meyakinkannya, bahkan sekadar untuk memberitahunya tentang semua ini. Aku menyerahkan segalanya kepada Sang Kudus. Kata orang, kalau jendela hati manusia tampak sukar dibuka, cobalah masuk melalui pintu-pintu Tuhan.
