Oleh: Agung Hyt
Dua wanita sedang berdialog. Satu dosen, satu mahasiswi. Dosen duduk di atas sofa orange berbahan kulit. Mahasiswi berdiri di depan dosen agak ke pinggir kanan.
“Suatu pemikiran yang dianggap ideal tidak boleh berlawanan dengan logika sosial. Segala gagasan harus membumi, ” kata sang dosen dengan nada penuh keyakinan.
Lalu sang dosen bangkit dari tempat duduk dan berjalan menaiki tangga menuju ke lantai 3 buat makan siang dan beristirahat di dalam ruangan estetis ala coffeshop.
Si mahasiswi melangkah ke arah gerbang kampus bagian belakang. Ketika melewati gerbang teman-temannya menyapa dari atas motor dan dari dalam mobil. Si mahasiswi tersenyum dan melambaikan tangan. Ia terus berjalan 600 meter ke depan. Lalu belok ke kiri 200 meter. Sampai.
Di sana, bersebelahan dengan pembuangan sampah ia tinggal bersama dua adiknya. Ibu-bapaknya telah mati digerogoti malaria di tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, tak ada teknokrat, politisi, maupun akademisi yang menjenguk di detik-detik kematiannya.
