• Melihat Syarifah Latifah dalam Diri Muslimah PII

    Oleh : agung hidayat

    Sejak kelahirannya 55 tahun lalu, sebagai Badan Otonom (BO) dari organisasi induk yang bernama Pelajar Islam Indonesia (PII), BO PII Wati berfungsi sebagai sayap yang memfokuskan tugasnya pada dua hal, yaitu pendidikan bagi perempuan dan anak-anak Islam. Mengingat betapa pentingnya posisi perempuan dan anak-anak Islam dalam menentukan kehidupan Islam selanjutnya.

    PII Wati telah banyak berbuat untuk kemajuan umat melalui kaderisasi yang telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Dalam prosesnya mereka sedang mengupayakan pembentukan perempuan dan anak-anak yang baik (aspek moral dan keagamaan) yang pada puncaknya akan tercapai generasi mumpuni dalam menghadapi tantangan zaman di berbagai aspek.

    Menurut pandangan saya, bahwa muslimah yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik. Begitu pula anak-anak yang telah dilahirkan itu akan melahirkan anak-anak yang baik pula dengan catatan akses pendidikan formal mereka tetap terjaga. Begitu seterusnya. Dari satu keturunan ke keturunan lainnya, dari satu generasi ke generasi lainnya. Maka kemudian akan terbentuk regulasi keluarga hingga menjadi semacam “Lingkaran Emas”.

    Namun disamping itu, kelahiran PII Wati mulanya berlandaskan pada kenyataan bahwa peran perempuan di dalam organisasi hanya sebagai pengelola konsumsi. Dan mereka beranggapan bahwa kesempatan pengembangan diri bagi perempuan di dalam organisasi PII lebih terbatas di bandingkan laki-laki. Sehingga dibentuklah satu Badan Otonom yang khusus mengelola perempuan dan anak-anak yang diberi nama Badan Otonom (BO) PII Wati.

    Pada hakikatnya Allah telah menciptakan pada masing-masing manusia potensi kehidupan, yaitu potensi yang juga diciptakan Allah pada yang lainnya. Allah telah menjadikan pada masing-masing manusia kebutuhan jasmani seperti rasa lapar, rasa dahaga; serta berbagai naluri, yaitu naluri mempertahankan diri, naluri melestarikan keturunan, dan naluri beragama. Kebutuhan jasmani maupun naluri-naluri ini ada pada masing-masing jenis kelamin. Allah juga menjadikan pada keduanya daya pikir, yaitu daya pikir yang ada pada laki-laki dan perempuan. Sebab, akal yang terdapat pada laki-laki adalah akal yang juga terdapat pada perempuan; karena akal yang diciptakan Allah adalah akal manusia bukan akal yang bersifat khusus. Perempuan dan laki-laki adalah sama dalam hal aspek kemanusiaan. Secara eksplisit Allah memandang perempuan dan laki-laki sebagai makhluk ciptaannya yang sama-sama dimuliakan.

    “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS al-Isrâ’ [17]: 70)

    Karena itu, tidak boleh memandang salah satunya kecuali dengan pandangan yang sama atas yang lain, bahwa perempuan dan laki-laki adalah manusia yang mempunyai berbagai ciri khas kemanusiaan dan segala potensi yang mendukung kehidupannya.

    Maka dengan ini perempuan memiliki hak untuk ikut serta dalam membangun (atau lebih tepatnya memperbaiki) kondisi kehidupan sosial budaya manusia yang ada pada saat ini . Sebagaimana motto yang telah dipegang “Dari Fitrah ke Kiprah” yang memberi makna bahwa fitrah seorang perempuan adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dan menjadi istri yang baik bagi suaminya. Namun, tidak menutup kesempatan mereka untuk dapat memberikan manfaat kepada teman, tetangga, dan lingkungan sekitar. Bahkan perempuan juga memiliki hak untuk turut serta dalam melakukan perubahan sosial kebudayaan.

    Berpegang pada kisah hidup seorang permaisuri dari kesultanan Siak, yaitu Tengku Agung Sultanah Latifah atau yang lebih dikenal sebagai Syarifah Latifah. Dalam kapasitasnya sebagai seorang permaisuri dan sebagai seorang istri lantas Syarifah Latifah tidak melupakan keadaan perempuan Riau yang pada saat itu di anak tirikan di bandingkan laki-laki. Langkah yang ia mulai untuk menghancurkan sekat-sekat itu adalah dengan mendirikan sekolah kejuruan khusus perempuan “Latifah School” yang berfokus pada pembentukan keterampilan remaja perempuan. Tidak sampai disitu, Syarifah Latifah juga turut andil dalam mendirikan Madrasah an-Nisa yang merupakan sekolah agama untuk perempuan pertama yang berdiri di Riau. Madrasah ini juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Apa yang dilakukan oleh Syarifah Latifah merupakan satu bukti bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk melawan fakta sosial yang keliru. Meskipun beberapa pekan setelah peresmian Madrasah an-Nisa Syarifah Latifah meninggal dunia. Namun, yang mesti dicatat adalah saat sekolah hanya diperuntukkan bagi laki-laki khususnya anak-anak Eropa,Tionghoa, dan anak-anak bangsawan pribumi. Syarifah Latifah berani menabrak fakta sosial yang ada.

    Apa yang dilakukan Syarifah Latifah mungkin tidak sulit jika dilihat dari posisinya sebagai istri dari seorang Raja. Namun, keinginan hati nuraninya yang kuat untuk melawan fakta sosial adalah sesuatu yang sulit ditumbuhkan pada banyak manusia. Kepekaannya terhadap kondisi yang ada, membuatnya harus melakukan sesuatu meski bertentangan dengan fakta sosial. Hati nurani dan kepekaan sosial inilah yang menjadi persoalannya. Pada umumnya muslimah PII ada yang memiliki hati nurani dan kepekaan sosial seperti Syarifah Latifah. Dapat kita lihat Muslimah PII melakukan kaderisasi tanpa henti, mendiskusikan persoalan yang ada dilapangan sampai larut malam, kadang tak jarang menggunakan uang pribadinya hanya untuk kepentingan kaderisasi. Apa yang telah dilakukan oleh Muslimah PII pada umumnya merupakan satu pilihan revolusioner. Namun, kesadaran nurani dan kepekaan ini tidak boleh hanya terjadi pada sebagian Muslimah PII, tapi harus menyeluruh. Sehingga apa yang saya sebut sebagai “Lingkaran Emas” tidak hanya menjadi istilah utopis belaka.

    Kepustakaan:

    Pergaulan Dalam Islam – Taqiyuddin An-Nabhani [ebook]

  • Perempuan Pembunuh Sepi

    Oleh: Agung Hidayat

    AKU heran dengan sikap Husin akhir-akhir ini, berbagai kritikan selalu keluar dari mulutnya. Bahkan hanya melihat gadis memakai celana jean’s saja ia membuang muka. Anak-anak remaja yang nongkrong di jalan poros kecamatan dikritiknya habis-habisan.

    “Mara, jangan sampai kamu seperti mereka,” ucapnya mengingatkanku.

    Padahal dulu di jalan poros itu kami sering berbincang tentang seorang gadis desa yang cantik jelita, kulitnya putih kemerahan, rambutnya seperti bunga gelombang cinta. Serupa daging di mata para anjing. Sungguh memesona, kini itupun ia kritik juga.

    Apakah Husin ingin seluruh wanita memakai pakaian serba tertutup, bercadar dan berkerudung besar seperti ninja di Jepang sana. Husin terlihat sudah seperti orang-orang intoleran yang sering disebut-sebut oleh media. Padahal setahuku Husin membenci orang-orang itu, begitupun aku. Media-media mengumumkan bahwa orang-orang itu telah menyusup ke dalam kehidupan masyarakat, mereka mengobrak-abrik ketentraman masyarakat dengan sikap anti toleransinya. Bahkan katanya pemerintah pun membenci mereka, pemerintah menyebut mereka sebagai kelompok radikal.

    Bersama Husin dan Bagas sore ini kami akan pergi ke Caffe Desa. Duduk santai bercerita soal masa lalu atau mengembara ke masa depan ditemani kopi dan Wifi gratis. Di tempat ini aku biasa mentraktir dua sahabatku, setidaknya tiga tahun lalu ketika kami masih SMA. Hari ini kami berkesempatan berkumpul lagi di caffe ini.

    Husin menasihati kami seperti ustad-ustad di khotbah Jum’at. Aku dan Bagas hanya mengangguk mendengarkan ceramah Husin yang membosankan. Kenapa dia tidak bicara kemenangan Barcelona melawan Real Madrid, atau bicara soal Sutatta Udosmilp artis Thailand yang cantik dan sexy itu. Kenapa harus bicara agama di saat seperti ini. Ini zaman sudah maju, sedikit modernlah. Tak henti-hentinya ia meminta kami untuk ikut diskusi agama di rumah Pak Amin mantan guru SMA kami. Bahkan dia berjanji akan mentraktir Blue Ocean salah satu menu minuman yang spesial di Caffe Desa, bila kami mau menghadiri kajian itu.

    “Aku mohon sekali ini saja. Ikutlah denganku ke rumahnya Pak Amin,” ucapnya mengiba. Aku dan Bagas terus menolaknya dengan berbagai alasan. Tapi sungguh Husin tak pernah sakit hati meskipun kami menolaknya berulang kali. “Sudahlah. Berhenti merayu kami. Kami tak mau jadi teroris,” ucap Bagas meledek.

    “Percayalah, ini tak seburuk yang kalian pikirkan. Ikutlah sekali saja. Aku mohon.”

    “Pokoknya, tak mau!” Jawab kami serentak.

    Lalu kami pun pulang menuju rumahku. Husin merangkul kami, sambil berjalan menuju rumahku yang berjarak sekitar 30 meter dari Caffe Desa itu. Kalau saja aku ikut kajian itu, bisa-bisa aku jadi aneh seperti Husin. Celana cingkrang, jenggot panjang —wanita cantik tak mau lagi di lirik. Hah dasar aneh.

    Namun, seiring dengan itu kami terbiasa melalui hal-hal rumit. Bila kemudian Husin menjadi aneh aku pun penerimanya, tidak ada alasan untuk menjauhinya. Karena pertemanan kami telah terjalin sejak kami masih kecil.

    Aku menyayangi mereka, meskipun kami memiliki latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Aku dilahirkan dari keluarga yang serba berkecukupan. Ayahku seorang mandor di PTPN Nusantara V, sebuah pabrik kelapa sawit milik negara. Sedangkan ibuku  kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Siak. Kedua orang tuaku juga memiliki kebun kelapa sawit yang terbilang luas. Kehidupan keluargaku jauh berbeda dengan yang di alami oleh kedua sahabatku. Aku bisa memiliki apa-apa yang kuinginkan. Sungguh kami telah diberi kenikmatan, aku bisa kuliah tanpa harus mencari beasiswa, bahkan dua abangku sedang melanjutkan studi di universitas ternama di Malaysia. Aku bersyukur atas nikmat ini. Namun di sisi lain hati kecil ku rasanya ingin berontak, Husin dan Bagas tak seberuntung aku. Mereka harus bersusah payah membiayai kuliah sendiri, dan sesekali mereka mengirim tulisan ke media cetak maupun online untuk kebutuhan perut.

    Kadang aku menangisi mereka, saat sendiri di tengah malam yang sunyi.

    “Mara, hari ini kamu pergi ke Pekanbaru, ya.” Ibuku memintaku untuk membersihkan rumah kami di Pekanbaru yang jarang ditempati. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari kost-kostanku.

    Aku meng-iya-kan, tapi aku meminta kepada Ibu agar diizinkan membawa Bagas dan Husin.

     “Ya, sudah. Bawa mobil, tapi jangan sampai lecet!” Ucap Ibu sambil melirik ala batak.

    Aku mengangguk pertanda sepakat. Senang sekali rasanya ke Pekanbaru bersama Bagas dan Husin. Pikiran jahatku keluar. Membayangkan jalan-jalan ke stadion utama Riau, minum soda sambil ngelirik gadis-gadis sexy yang sedang olahraga sore. Aku akan menghubungi Bagas dan Husin soal ini, mudah-mudahan mereka tidak berhalangan. Lagi pula kami masih punya sisa waktu tiga minggu lagi sebelum habis masa libur kuliah habis.

    Malam itu kami berkumpul di rumah Bagas. Tiba-tiba, Husin mengajak kami ke acara diskusi, sebelum aku sempat memulai pembicaraan.

    “Hari minggu nanti ada diskusi keislaman di rumah Pak Amin. Kalian datang ya. Aku mohon sekali ini saja. Setelah itu terserah keputusanmu,” ajak Husin kepada kami

    “Hari minggu aku harus ke Pekanbaru untuk membersihkan rumah kami. Rencana aku mau mengajak kalian berdua,” ucapku.

    “Ya, sudah, soal Ibu harus kau dahulukan. Tapi maaf aku tak bisa ikut.”

    “Kau tinggalkan sekali saja acara diskusi itu,” aku memohon kepada Husin melalui perdebatan yang alot. Tapi akhirnya ia sepakat untuk ikut ke Pekanbaru tapi dengan satu syarat tak boleh mampir ke Club 88.

    Seingatku pertama kali kami pergi ke Pekanbaru sekitar dua tahun lalu, saat itu aku dan Bagas menemani Husin tes beasiswa Tanoto Foundation, tapi kemudian kami malah kehilangan arah. Langkah kami berbelok ke Club 88 yang terkenal sebagai lokasi billiard dengan gadis-gasis super sexy di dalamnya. Kami habiskan waktu di sana. Hingga sampai lupa bahwa Husin ada jadwal untuk tes beasiswa. Kejadian itu membuatku sangat menyesal.

    Singkat cerita, keesokan harinya aku dan Bagas duduk di teras depan rumahku. Waktu sudah semakin sore tapi Husin belum juga datang. Aku sangat khawatir Husin lupa atau ada alasan lain yang membuat dia tidak jadi ikut ke Pekanbaru.

    “kita tunggu saja dulu,” Bagas meyakinkan.

    Sementara sambil menunggu Husin datang, kami bercerita soal Sinta gadis cantik itu. Kata teman-temanku Sinta tidak pernah lagi terlihat, setelah ayahnya mati diserang banaspati, ia hilang entah kemana. Padahal sosoknya menjadi peneduh mata para lelaki. Ketika pemuda desa menemui hari libur kuliah, mereka akan bersemangat pulang ke Siak untuk melihat Sinta yang memesona.

    “Mungkin dia sibuk dengan kuliahnya,” ucap Bagas.

    Sinta adalah mahasiswa Kedokteran Universitas Riau dengan beasiswa full dari Chevron, sebuah anak perusahaan dari Chevron Corporation asal Amerika yang bergerak di bidang energi. Perusahaan ini berdiri angkuh di kampung kami. Setiap tahun Chevron memberikan beasiswa kepada 100 orang pintar yang ingin melanjutkan kuliah. Sekali lagi, khusus orang pintar. Aku tak tahu apa standar yang mereka pakai dalam menentukan kepintaran seorang manusia. Tapi Sinta adalah salah satu yang terpilih dari mereka. Laki-laki mana coba yang tak terpikat. Cantik, calon dokter pula. Bahkan aku rasa para suami bermata tiga juga ingin menjadikannya istri kedua.

    Di sela-sela perbincangan tiba-tiba sms dari Husin masuk.

    “Jemput aku di rumah!”

    Tanpa basa-basi kami langsung meluncur ke rumah Husin. Tibanya di sana Husin sudah menunggu di depan rumah dan ia langsung masuk ke dalam mobil. Pedal gas pun kupijak perlahan.  Kami berangkat.

    “Kalian sudah sholat?” Tanya Husin

    “Sudah!” Jawabku berbohong.

    Di sepanjang perjalanan Husin tak habis-habisnya menceramahi kami. Bicara ini itu yang tak kami mengerti. Dasar aneh.

    “Stop…stop!” Ucapku memotong pembicaraan Husin.

    “Kalau mau ceramah di masjid saja!” Ucap Bagas sambil tersenyum jahat.

    Setelah melalui perjalan kurang lebih dua jam. Kami singgah ke stadion utama Riau, duduk di trotoar jalan ditemani cemilan. Gadis gadis sexy lalu lalang lari sore. Andai saja di desa ada seperti ini. Besitku dalam hati.

    “Sin, sini!, ngapain di dalam mobil. Lihat ini pemandangan sorga dunia,” Rayu kami kepadanya.

    Mendengar godaan kami, ia hanya menutup telinga dengan kedua tangannya. Aku dan Bagas tertawa melihat tingkahnya yang aneh. Dasar rezeki kok ditolak.

    Singkat cerita, setelah selesai membersihkan halaman rumahku yang ditumbuhi rumput yang telah meninggi dan telah puas rasanya menikmati udara kota bersama dua sahabatku. Kami pun pulang ke Siak. Di sepanjang jalan suasana diselimuti keheningan. Bagas duduk di depan sambil mendengarkan lagu dengan headset di telinganya. Dan Husin menyalakan lantunan surah ar-Rahman, telingaku sedikit risih mendengarnya, tapi Husin tetap menyalakannya meskipun telah kuminta untuk mematikannya.

    Lama-kelamaan suasana menjadi terasa tenang, suara lantunan surah ar-Rahman seolah-olah menghipnotisku. Pedal gas kuinjak halus hingga mobil melaju dalam kecepatan 110 km per-jam, membuat ilalang di sepanjang pinggir jalan melesat cepat ke arah belakang dan pipa minyak bumi yang membentang sepanjang pinggir jalan seperti ular tanpa ujung, merayap secepat-cepatnya. Kepalaku bergoyang-goyang menikmati suasana yang terasa syahdu. Mataku terfokus ke arah jalan yang basah sehabis diguyur hujan.

    Tiba-tiba ssssttttt—Seekor kucing melompat ke tengah jalan, sontak tanganku membanting setir.

    Moncong mobil langsung saja menghantam pipa minyak bumi.

    Bbeummmmm!

    suasana menjadi sangat hening, mataku layu sayu semua terlihat buram. Aku tak dapat mendengar apapun selain suara dari hape Husin yang masih melantunkan bunyi.

    Fa bi ayyi aalaa irabbikumaa tukazzibaan!

    Sampai di situ aku tak ingat apa-apa lagi. Sampai kemudian aku tersadar dengan mata yang masih tertutup di sebuah tempat dan aku mendengar deru tangis yang samar-samar. Tak asing dengan suara itu. Ibuku.

    “Mara, bangun sayang, ini Ibu.”

    “Aku dimana bu?”

    “kamu dirumah sakit sayang, sudah tiga hari kamu koma”

     Aku berusaha mengingat apa yang terjadi, “Mana Bagas sama Husin?”

    “Mereka sudah pulang kerumahnya, nak” Jawab ibuku.

    Setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit akhirnya dokter mengizinkanku pulang. Luka yang ada di kepala ku sudah mulai membaik. Ketika dalam perjalan pulang aku meminta kepada ayahku agar mengarahkan mobil kerumah Bagas dan Husin. Tapi ayahku menolak katanya aku butuh istirahat. Aku memohon dan memaksa ayahku, ayahku pun memenuhi permintaanku. Di sepanjang jalan tak henti-hentinya aku berdo’a semoga mereka baik-baik saja.

    “Yah, kita mau ke mana, ini bukan jalan ke rumah Bagas dan Husin?”

    Ayahku diam tak menjawab, dia hanya menoleh dan memegang pundakku.

    Kami berhenti di satu tempat yang tak asing bagiku, “Ini kuburan, Yah… Kenapa kita ke sini… Tidak! jangan bilang mereka… ?”

    Aku tak kuasa menahan air mata. Kami keluar dari mobil, tubuhku yang sudah sedikit sehat, tiba-tiba melemas, aku tersungkur jatuh. Kenapa secepat ini.

    “Nanti kalau kita sudah menikah kita mendaki gunung bareng, ya. Bawa istri kalian!” Kalimat itu terasa baru kemarin terucap. Tapi kini mereka meninggalkanku secepat kilat, tanpa pamit. Bagas! Husin! Sahabatku!

    ***

    Selama beberapa waktu aku mendenkam di kamar seorang diri. Aku melewatkan kuliah yang semestinya sudah dimulai sejak seminggu yang lalu. Bayangan kedua sahabat ku masih terus menghantui pikiran ku. Aku kesepian tanpa mereka. Setiap terbangun dari tidur, aku berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi waktu demi waktu berlalu, aku tersadar bahwa ini memang nyata.

    Aku tenggelam dalam kesedihan. Apakah mungkin ini hukuman dari Tuhan atas diriku yang angkuh dan keras diri. Aku memutuskan untuk menemui pak Amin. Aku beranjak pergi menuju rumahnya. Beliau menyambutku dengan hangat. Sesampainya di rumah beliau, aku bercerita panjang lebar dengan Pak Amin. Pak Amin bercerita mengenai Husin. Katanya, Husin sangat mengharapkan aku dan Bagas agar suatu saat dapat belajar Islam bersama dengannya. Husin ingin persahabatan kami tidak hanya di dunia tetapi juga di sorga.

    Air mataku berlinang mendengarkan cerita Pak Amin, cerita Pak Amin mengingatkanku kepada mereka. Husin pergi setelah mengetahui kebesaran sang pencipta. Sementara Bagas pergi tanpa bekal apa-apa.

    “Pak saya ingin belajar apa yang dipelajari Husin. Saya ingin belajar agama. Saya ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt.”

    ***

    Singkat cerita, setiap minggu aku selalu menghadiri diskusi pemikiran Islam di rumah Pak Amin. Apa bila aku tak bisa pulang ke Siak maka Pak Amin akan ke pekanbaru untuk mengisi jadwal diskusi-ku. Aku belajar mengenai seluk beluk dunia Islam, aturan-aturan di dalam Islam. Apa yang kupelajari membuatku semakin mengerti bahwa selama ini bukan Husin yang aneh, tetapi akulah yang aneh. Aku tak mengerti sama sekali mengenai Islam hingga aku menyimpulkan Islam dari sudut pandang media propaganda.

    “Mara, apa kamu ada niat untuk menikah?” Tanya Pak Amin satu waktu.

    Pertanyaan Pak Amin menggelitik telingaku, “Kenapa bapak bertanya seperti itu?”

    “Nikah muda itu bukan kewajiban. Tapi bila dengan nikah muda kita dapat terbebas dari maksiat, kenapa tidak? Jika kamu mau, anak dari teman lama saya ada yang menyukaimu. Pamannya meminta saya untuk menyampaikan ini kepadamu. Silakan kamu pikirkan. Bila setuju saya akan mempertemukan kamu dengan dia.”

    Aku terdiam beberapa saat. Anak dari temannya Pak Amin menyukaiku. Ah, rasanya tak mungkin. Pastilah ia perempuan yang berilmu. Sementara aku!

    Aku menyampaikan ini kepada kedua orang tuaku. Kedua orang tuaku pun merestui. Keputusan orang tuaku sungguh tak terduga. Sebenarnya, aku mengharapkan mereka menolak. Aku telah kehilangan Bagas dan Husin. Rasanya berat untuk langsung menikah. Pikiranku yang masih dipenuhi oleh bayangan mereka, khawatir akan mengganggu nantinya. Aku masuk ke dalam kamar, kupandangi langit-langit rumah. Barang kali ini jalan terbaik. Aku berusaha meyakinkan diri.

    Baiklah, telah kuputuskan. Aku ingin memperbaiki seluruh kehidupanku. Maka aku juga harus memiliki pendamping yang membawa ke jalan itu. Saat itu juga aku langsung menghubungi Pak Amin. Lusa, aku dan perempuan itu akan di pertemukan di rumah Pak Amin.

    Malam itu, aku dan orang tuaku menuju ke rumah Pak Amin. Di pertengahan jalan tangan dan keningku membasah. Di ruangan tamu itu kulihat Pak Amin bersama seorang bapak berjubah abu-abu, di samping bapak itu kulihat seorang perempuan bercadar. Aku duduk di-apit kedua orang tuaku.

    “Perkenalkan ini Pak Zulkarnain, paman dari Hafizah,” ucap pak Amin memperkenalkan bapak berjubah abu-abu dan perempuan bercadar.

    “Silakan buka cadarmu, Hafizah!” Ucap Pak Zulkarnain.

    Perlahan, sangat perlahan, ia membuka cadar yang menutupi wajahnya. Jantungku berlomba-lomba dengan nafasku. Mula-mula kuperhatikan wajahnya tertunduk. Tapi kemudian sungguh seperti disambar petir di tengah cuaca yang cerah. Seumpama mimpi di siang bolong.

    “Sinta…” Ucapku lirih.

    Aku tak pernah menduga jika perempuan yang dimaksud oleh Pak Amin adalah Sinta. Tapi bagaimana mungkin Sinta bisa mencintai aku. Sementara dia telah lama mengenal aku dan tak pernah aku melihat tanda-tanda bahwa ia mencintaiku. Tapi mengapa tiba-tiba dia mencintaiku. Akalku tak dapat mencernanya, aku berusaha menepis segala pertanyaan yang ada di kepalaku.

    Bagaimana Mara? Tanya Pak Amin.

    Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk. Begitu pula dengan Sinta. Semua orang yang ada di ruangan itu sepakat bahwa pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Setelah Aku dan Sinta menyelesaikan Ujian Akhir Semester.

    Satu Minggu setelah aku menikah dengan Sinta. Ayahku menyarankan untuk berbulan madu ke Bandung, di daerah pegunungan Burangrang. Katanya, pegunungan Burangrang menyimpan keunikan yang dapat merangsang adrenalin pengantin baru. Tapi Kami memutuskan untuk pergi mendaki Gunung Marapi di Sumatera Barat. Selain lebih dekat, gunung Marapi adalah yang pernah kami impikan bersama Bagas dan Husin.

    Malam itu di gunung itu, di depan tenda berwarna biru, yang diterangi oleh api dari pembakaran. Dalam pangkuanku, aku mendekap tubuh Sinta. Sinta bercerita kepadaku tentang kehidupannya, sebelum kematian ayahnya. Ketika ayahnya mati, ia sangat menyesalinya karena tak sempat menjadi baik di hadapan mata ayahnya. Sinta pun menghilang dari keramaian untuk memperbaiki diri dan berganti nama menjadi Hafizah. Tanganku yang merangkul tubuh hangatnya basah oleh air yang jatuh dari matanya.

    “Jangan bersedih. Kau telah menjadi baik di hadapan Tuhan, Hafizah.” Bisikku lemah sembari mengecup kepalanya.

  • Pesona Kuntilanak Perawan
    Pic: id.aliexpress.com

    Kami duduk melingkar membentuk posisi Dhyana Mudra[1]. Memejamkan mata. Udara malam sedikit sejuk, menyegarkan kulit langsat kami yang terbiasa di terpa panas. Kami lakukan kurang lebih selama lima menit. Sebelum selesai, tiba-tiba semilir angin menyelinap ke bahuku diausul bau menyengat bunga kenanga.

    sial, kuntilanak perawan !

    Bulu kudukku berdiri. Aku berani merebut bunga desa yang di pinang pak lurah bulan lalu, tapi soal setan, sungguh aku menyerah.

    Aku mengambil ancang-ancang untuk lari secepat kilat. Teman-temanku mengikuti. Mungkin mereka juga mencium bau bunga kenanga itu. Kami lari ke arah parkiran motor. Aneh, bertahun-tahun kami nongkrong di sini, tak pernah kami melihat ada satu pun pohon bunga kenanga, bagaimana mungkin ada bau-nya. Tidak mungkin pohon kenanga yang ditanam oleh bapaknya Marko di halaman rumah menerbangkan bau wanginya sampai ke sini. Terbang di antara sawit menembus jarak dua kilometer. Sungguh tidak mungkin. Sudah pasti ini bau tubuhnya kuntilanak perawan.

    Saat itu kami berkumpul di rumah Marko menikmati beberapa botol bir sisa dari perayaan Natal.  Ayahnya mengatakan, jika seseorang mencium bau wangi bunga kenanga di suatu tempat yang tidak ada satu pun pohon kenanga, maka bisa dipastikan itu adalah bau dari kuntilanak perawan.  Itulah sebabnya kami tanam pohon kenanga di halaman rumah ini. untuk menyamarkan baunya. Marko sangat takut hantu. Kami tertawa lepas, seolah-olah tak takut setan.

    Malam ini terbukti sudah. Kami semua lari kocar-kacir.

    Memang, selama beberapa lama ini aku sering mencium bau bunga kenanga. Bahkan pernah pada satu waktu aku mencium bau bunga kenanga ketika sedang berada di dalam sebuah acara seminar di sebuah hotel. Aku tak tahu dari mana asalnya. Gila.

    *

    Orang-orang desa tahu kami adalah remaja nakal yang suka berkelahi. Tempat Penimbangan Buah (TPH) kelapa sawit di belakang Kantor Kecamatan adalah tempat favorit untuk baku hantam. Berkelahi telah menjadi identitas kami dan bagi sebagain besar pemuda kampung ini. Sebagian besar penduduk kampung ini adalah perantau dari berbagai daerah. Termasuk aku dan tiga kawanku. Keluarga kami adalah keluarga perantau. Sebagai lelaki sejati, ayahku merantau sampai ke Sumatera, hingga kemudian ia bertemu ibuku dan melahirkanku di tanah rantau. Merantau adalah manifestasi keberanian. Sehingga wajar saja jika orang-orang kampungku suka berkelahi untuk memperkuat klaim keberanian mereka. Tapi sama saja, mereka juga takut setan.

    Setelah kami kabur menggunakan motor bebek. Kami pergi ke warung Mejuah-Mejuah, warung milik seorang perantau dari tanah Karo. Di warung ini kami melanjutkan kebersamaan, saling membual sambil menghisap rokok, menceritakan pengalaman masing-masing terkait hantu. Pasaribu menggerutu karena tak mudah baginya untuk keluar malam minggu begini. Ia harus diam-diam kabur dari intaian mata ayahnya, tepat ketika ayahnya naik ke mimbar gereja untuk berkhotbah. Sudah kabur bertemu hantu, di rumah ayahnya bersiap-siap pula untuk menghantam dirinya. Sungguh sial yang paripurna.

    Sementara Turnip, sahabatku yang lain hanya tersenyum mendengar perkataan Pasaribu. Aku melihatnya dengan penuh saksama. Dia tersenyum dengan guratan luka terpendam di bibirnya. Dia tidak seperti Pasaribu yang setiap keluar rumah harus berhadapan dengan ayahnya. Turnip telah kehilangan ayahnya sejak dia masih kanak-kanak. Pada suatu ketika sepulang dari memimpin jemaat Gereja ayahnya masuk ke dalam hutan untuk mencari rotan dan tak pernah kembali. Orang-orang kampung mengatakan, ayahnya telah masuk ke dalam hutan angker dan terlarang. Katanya, ayahnya telah diculik dan dibunuh oleh para petinggi setan di sana. Sejak saat itulah orang-orang kampung lebih takut setan dari pada kematian.

    Turnip merindukan ayahnya. Sebagaimana pasaribu merindukan kebebasan dari kekangan orang tua-nya.

    Selepas menghabiskan rokok terakhir. Aku dan kawan-kawan pulang ke rumah masing-masing. Turnip dan Pasaribu menuju arah yang sama. Sementara Marko terlebih dahulu mengantarku dengan motornya.

    Ketika hendak terlelap. Aku melihat ada cahaya putih di sudut kamarku. Kuperhatikan dengan khidmat. Astaga, itu kuntilanak perawan. Aku langsung menyelimuti seluruh tubuh. Aku meringkuk ketakutan. Mulutku komait-kamit tak karuan, berharap dia tak mendekat. Tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh bahuku.

    “Hei, bangun!”

    “pergi..pergi. Jangan ganggu aku”

    “buka selimut mu, lihat aku sebentar saja. Kita harus bicara?”

    “Tidak tidak. Aku tidak mau. Pergi kau. Pergi !”

    “kau ini lelaki macam apa, penakut sekali. Aku tak akan memakan mu. Bangunlah, buka selimut mu. Kita harus bicara. Aku mohon”

    Aku sangat terkejut dia memohon pada ku. Ini hantu macam apa, memohon pada manusia, sungguh tak berwibawa. Perlahan aku membuka selimut yang menutup tubuh ku. aku terdiam seribu bahasa. Ku pandangi dia dengam saksama, ku pandangi dia dalam-dalam. Cantik sekali kuntilanak yang satu ini.

    “kau lihat apa, ha? Dasar mesum !” gertaknya

    Aku tersadar, malu. “Maaf  aku tak menyangka ada hantu secantik diri mu. Apa yang ingin kau bicarakan?”

    “Kau putus persahabatan dengan mereka?”

    “mereka siapa?”

    “Marko, Turnip, dan Pasaribu”

    “haa. Apa hak mu menyuruh ku memutus persahabatan dengan mereka? tidak sopan !”

    “Selama ribuan purnama aku mengamati manusia. Aku paham, sejarah perjalanan kebiadaban dan ketulusan seorang manusia. Tiga purnama ini ku gunakan untuk memperhatikan mu. Mengikuti kemanapun kau pergi. Aku melihat kehidupan mu yang keliru. Aku ingin menyelamatkan mu”

    “menyelamatkan dari apa? Kau ini hantu ! tak punya otoritas memberi keselamatan. Sudah, sekarang kau pergi saja. Aku mau tidur”

    “Baiklah, aku akan pergi. Tapi jika suatu saat kau berubah pikiran. Panggil aku. Aku lebih dekat dari urat nadi mu”

    Perlahan ku pejamkan mata. Meninggalkan kejadian malam ini yang gila.

    Karena kejadian malam itu, aku menemui seorang guru yang memiliki kapasitas keagamaan yang baik. Aku menggali informasi darinya tentang hubungan antara manusia dan  hantu. Aku mendapatkan penjelasan yang gamblang. Pemahaman ku mengenai hantu sekarang telah duduk. Bahwa hantu adalah perwujudan jin. Jin dapat menyerupai apa saja yang mereka mau. Sebagaimana manusia di kehidupan ini, jin juga ada yang baik dan jahat.

    Lalu aku teringat kuntilanak perawan. Kira-kira dia jahat atau baik.

    Seiring berjalannya waktu aku semakin sering menemui guru ku. Baik untuk diskusi berat ataupun hanya sekedar ngopi bareng. Dan tanpa ku sadari, aku tenggelam dalam religiusitas dibuatnya. Satu kali dalam seminggu aku rutin menghadiri acara diskusi rohani di rumahnya. Intinya sejak aku rutin ikut diskusi kerohanian, aku telah mendapat pemahaman baru mengenai beragama yang baik dan benar.

    Seiring dengan itu aku sering duduk sendiri di bukit batu untuk merenungi kehidupan. Bukit batu adalah sebuah gundukan tanah yang memiliki ketinggian sekitar 80 meter. Diatasnya ada dua batu besar berbentuk meja. Ini adalah satu-satunya bukit indah di kampung ku. Dulu aku dan sahabat-sahabat ku sering bermain diatas sini. Menenggak tuak, dan menikmati rokok kepulan demi kepulan. Tapi sekarang, aku sering diam-diam pergi sendiri ke bukit ini. membawa sebungkus rokok dan duduk disana berjam-jam.

    Aku teringat perkataan guru ku malam tadi “Kita tak boleh menjadikan yang tak seagama sebagai kawan sehidup semati”. Aku benar-benar kalut. Pikiran dan hati ku di hantam kegamangan bertubi-tubi. Semua orang juga tahu, sejak kecil aku sering menemani Marko untuk ibadah di Gereja. Begitu juga menemani Turnip dan Pasaribu. Kadang aku tak segan menemani mereka berlatih bernyanyi untuk menyambut perayaan Natal. Kadang aku ikut bernyanyi dan tertawa selepas-lepasnya bersama mereka. Aku juga sering menginap dan makan di rumah Pasaribu, begitu pula di rumah Marko, dan Turnip.

    Dulu sewaktu aku masih SD, Aku pernah salah masuk kelas ketika pelajaran agama. Aku malah masuk ke dalam kelas Kristiani. Tapi aku melaluinya tanpa berkomentar. Bahkan sampai beberapa kali aku melakukan itu. Sampai kemudian seorang guru mengingatkanku.

    Sewaktu SMP, Aku juga pernah masuk ke dalam kelas pelajaran kristiani. Kali ini kulakukan dengan sengaja. Aku ingin melihat mereka. Bu Asna Rose Silaban tersenyum, lalu mempersilakanku masuk dengan penuh kehangatan. Aku masuk dan duduk memperhatikan mereka belajar. Aku sering melakukan ini. Sampai kemudian guru pelajaran agama Islam menegur karena aku tak pernah masuk kelas.

    Dalam dunia yang penuh keanekaragaman itu, aku belajar mengasihi, dan memaklumi. Aku menghormati keanekaragaman, tapi aku tak pernah menjualnya, baik di hadapan sahabatku ataupun di hadapan khalayak.

    *

    Pada suatu malam, aku duduk di depan rumah, berpuntung-puntung rokok telah berserakan di bawah kaki ku. Ku nikmati setiap hisapan dari rokok yang kesekian. Dalam ketenangan suasana, tiba-tiba aku di kagetkan oleh kuntilanak perawan yang muncul tiba-tiba.

    “Apa yang kau lakukan duduk sendiri di tengah malam begini? Tak takutkah kau di culik?”

    “Aku sudah lama tak baku hantam. Aku senang kalau ada mau menculik ku.”

    “Dasar angkuh !”

    “Lagi pula, untuk apa kau mengganggu aku yang sedang khidmat merenung?”

    “Apa yang kau renungkan?”

    “Aku terjebak dalam kebingungan dan kesedihan. Guru ku mengatakan, seorang muslim tak boleh menjadikan yang tak seagama sebagai teman sehidup semati. Sementara sahabat-sahabat ku seorang Kristiani”

    “Ini yang ingin ku katakan pada mu, malam itu. Kau harus melepaskan sahabat mu karena hal ini”

    “Tapi aku tak sanggup. Aku telah bersahabat dengan mereka sejak lama. Haruskah ku tinggalkan mereka begitu saja. Sungguh, akan hancur hati ku”

    Kuntilanak perawan itu, bercerita panjang lebar. Mengenai dirinya, semesta, dan cinta. Aku menyempatkan untuk bertanya beberapa hal, tentang hutan angker tempat hilangnnya ayah turnip dan tentang apakah dia hantu atau jin. Dia mengatakan bahwa seluruh hutan yang ada di bumi ini pasti di huni oleh makhluk ghaib, salah satunya adalah jin. Keangkeran hanyalah  persepsi manusia. Sementara manusia dan jin sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.  Ketika ayah turnip hilang, kuntilanak perawan mendengar kehebohan penduduk kampung, dia tertawa ketika mendengar bahwa katanya ayah Turnip hilang di bunuh setan. Kuntilanak perawan mengatakan, ayah Turnip bukan di bunuh setan, Tetapi di makan seekor buaya rawa. Ketika ku tanya bagaimana dia bisa tahu. Saat itu kuntilanak perawan sedang berkeliling hutan. Dia melihat ayah Turnip terjebak di dalam kubangan lumpur, lalu datang seekor buaya dan memakannya.

    “Kenapa kau tidak menyelamatkannya?” tanya ku kesal

    “Aku tak punya otoritas menyelamatkan manusia dari kematian. Lagi pula, Kau tak perlu selamat dari kematian, yang kau perlukan sebenarnya adalah selamat di kehidupan setelah kematian. Sebab, cepat atau lambat, semua makhluk akan mati dengan caranya masing-masing.”

    Aku tertegun mendengarnya. Kepala ku menggeleng pelan. Aku merasa tak percaya, perkataan yang keluar dari mulutnya tak biasa. Apakah dia hantu yang bertitel filsuf?

    Lalu kuntilanak perawan itupun menghilang secepat kilat, tanpa mengucap salam. Aku mengeluarkan sebatang rokok terakhir, ku bakar dan ku hisap perlahan. Gerimis yang jatuh beberapa menit lalu belum juga berhenti. Angin mengoyang-goyangkan daun pohon trembesi di depan rumah, semakin kencang dan semakin kencang. Aku menghembuskan asap rokok sembari menahan dingin yang menembus baju ku, yang menyelami tubuh ku hingga ke sukma. Lalu hujanpun jatuh.

    [1] Salah satu sikap bersemedi Budha dan bermakna memberi kedamaian

  • Pemuda dan Devide et Impera
    dgi.co.id

    Saya sempat berfikir, hari-hari penuh pertengkaran ini akan selesai seiring usainya  17 april. Saya sempat berfikir, kita akan kembali dimana media sosial hanya dipenuhi status-status galau orang-orang yang  sedang kasmaran. Saya sempat berfikir, kita akan menemui lagi sesuatu  yang disebut “kedamaian”.

    Tapi ternyata, apa yang saya pikirkan tidak lebih dari sebuah imajinasi semu. Saya masih menemui banyak kalimat-kalimat tak berkelas di media sosial. Sebut saja kalimat itu memiliki makna kebencian, hujatan, dan ejekkan. Kadang saya merasa kesal kenapa orang-orang seperti Mark Zuckerberg, Kevin Systrom, dan Jan Koum menciptakan wadah semacam itu, kalau akhirnya begini. Mungkin satu sisi semua orang dapat terhubung, menembus batas-batas wilayah dan negara.  Menembus batas-batas antara orang kaya dan miskin. Menembus batas-batas antara yang muda dan tua. Namun, ada satu batas yang di tembus, dan jika dipikirkan semestinya batas ini dapat menciptakan keseimbangan antara yang satu dengan yang lainnya. Tapi, kenyataannya pembauran batas-batas ini justru menciptakan pertengkaran yang dasyat. Batas ini adalah batas-batas antara orang bodoh dan pintar.

    Selama beberapa bulan ini saya mengamati baik di media sosial maupun di kehidupan nyata dinamika politik yang terjadi di negeri ini. Tidak perlu bertanya kepada pengamat politik kaliber, orang biasapun pasti tahu bahwa dinamika politik hari ini telah menembus bagian gressroot. Bukan lagi hanya terjadi di ranah elit. Ada hal yang membanggakan, dimana masyarakat biasa telah ikut peduli terhadap perkembangan politik negeri ini. Namun, seiring dengan itu ada pula hal yang sangat miris bahwa rakyat terbelah menjadi beberapa bagian. Bagian pertama membela 01, bagian kedua membela 02 dan orang-orang yang muak dengan pertengkaran keduanya memilih untuk acuh. Sementara sisanya memilih untuk tetap berada pada ruang objektifitas.

    Pemuda sebagai populasi dominan hari ini sangat menentukan arah situasi politik Indonesia.  Kalau hari ini Indonesia dipenuhi dengan pertengkaran karena persoalan capres dan cawapres, maka sikap pemuda hari ini ikut menghendaki terjadinya situasi itu. Kubu 01 dan 02 menggembar-gemborkan pengaruh pemuda atau yang mereka sebut generasi milenial yang mereka klaim sangat mempengaruhi kemenangan mereka nanti. Tapi justru disini pemuda telah salah arah. Dukungan pemuda terhadap 01 ataupun 02 membuat media sosial penuh dengan kalimat-kalimat saling cerca dan saling hina. Dukungan mereka tidak lagi berdasarkan objektifitas tetapi berdasarkan fanatisme. Tapi tidak dapat kita generalisir, tentu masih ada yang tetap berada pada garis objektifitas, meskipun minim.

    Menarik kebelakang. penjajahan atas negeri-negeri lain adalah sejarah penguasaan yang kuat kepada yang lemah.  Negara-negara eropa seperti Spanyol, Inggris, dan Belanda melakukan penaklukan kepada negeri lain untuk mengambil menfaat dari negeri itu. Upaya mereka untuk menguasai negeri itu menggunakan strategi Devide et Impera yang berarti Pecah dan Kuasai. jika di analogikan kira-kira seperti ini, kita tak mungkin memakan bolu sekaligus dengan utuh, untuk bisa memakan bolu kita harus memotong-motongnya terlebih dahulu sesuai dengan kemampuan ruang mulut. Begitu juga ketika kita ingin menguasai sebuah kelompok besar. Kita tak mungkin secara terang-terangan mengatakan ingin menguasai mereka. Salah satu upaya yang mungkin adalah dengan membelah kelompok itu menjadi beberapa bagian agar kekuatan mereka melemah. Disinilah strategi Devide et Impera di gunakan, dengan cara menciptakan sentimen dan pertengkaran internal yang dapat membuat kelompok besar itu terbelah menjadi beberapa bagian dan membuat kekuatan mereka melemah. Kalau sudah melemah, sang dalang tinggal memanfaatkannya sesuai dengan keinginan.

    Dalam buku Madilog Tan menulis betapa beruntungnya Indonesia dengan segala kekayaan alamnya. Di kalimat selanjutnya Tan menuliskan,  “Sudah pernah seorang pengarang buku di Amerika meramalkan, bahwa kalau satu negara seperti Amerika mau menguasai samudra dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan.” Indonesia ini adalah negara besar dengan limpahan kekayaan alam dan kekayaan kultur di dalamnya. maka tak heran jika Tan menuliskan itu. Tapi untuk menguasai Indonesia yang sebesar ini tidaklah mudah. Mesti ada strategi dan taktik yang cerdas dan kejam. Devide et Impera adalah salah satunya. Meskipun penguasaan Indonesia dapat melalui sesuatu yang bernama Investasi tetapi untuk menuju kesana mesti ada rekayasa. Rakyat Indonesia tak akan sudi jika menyerahkan kekayaan alamnya kepada orang lain sementara di negaranya sendiri kelaparan.

    Tanpa menuduh pihak manapun, melihat situasi Indonesia saat ini rasanya tak mungkin pertengkaran yang terjadi adalah sebuah kealamiahan. Sikap saling cerca dan saling hina membuyarkan perdamaian yang telah ada. Kita terbelah menjadi beberapa bagian karena fanatisme buta. Kalaulah kita ingin membuat Indonesia menuju yang lebih baik bukankah masih banyak cara yang lebih elegant.  Mungkin dibagian elit terlihat damai-damai saja—ngopi dan nyerutu bareng. Tapi dibagian gressroot bertengkar habis-habisan. Siapa yang bertanggungjawab atas ini? siapa yang ingin mengambil momentum dari situasi ini?

    Kepustakaan :

    Madilog, Tan Malaka [ebook]

    berdikarionline.com/memahami-operasi-strategi-devide-et-impera/

  • Tuak dan Mimpi Revolusioner
    pic: artvalue.com

    Aroma tuak berpadu dengan aroma tanah basah yang di bawa oleh angin, menutup perbincangan mereka malam ini. Merekapun meringkuk dalam selimut yang satu. Terlelap menuju masa depan yang serba tak menentu.

    Suatu malam, empat sekawan sedang berkumpul disebuah rumah. Berkumpul telah menjadi aktifitas rutin mereka. Baik untuk menghilangkan rindu, berbagi cerita atau hanya untuk sekedar saling bisu. Yang terpenting bagi mereka adalah tiada waktu tanpa berkumpul. Keempat remaja ini bersahabat, sebut saja begitu.

    Salah satu dari mereka sedang pergi mencari tuak. Tuak adalah minuman tradisional Batak yang diambil dari pohon kelapa yang di fermentasi. “Kadang kita harus berbangga dengan Indonesia” ucap salah satu remaja. Lalu remaja lain menanyakan kenapa. “Indonesia bukan hanya kaya kebudayaan tapi juga kaya makanan tradisonal. Terutama minuman tradisional yang memabukkan. Dari pada membeli Brendy, Vodka, atau Wiski yang cuma akan menjadikan kapitalis semakin berjaya. Lebih baik kita membeli tuak, dapat membantu pemasukan pedagang lapo” Ucapnya. Kawan yang lain mengangguk pertanda sepakat.

    Sebenarnya mereka bukanlah bajingan sejati yang suka mabuk-mabukan. Tapi mereka bukan juga remaja yang saleh. mereka hanya remaja yang sedang gamang akan hidupnya. Mereka berbuat sesuai dengan arah pikiran, dan hati yang tiba-tiba. Kenakalan mereka masih dalam batas pemakluman. Dibandingkan dengan remaja lain yang tak karuan.

    Beberapa saat kemudian teman itu datang membawa tuak berukuran satu tekong. Ukuran terkecil dalam satuannya. Seperti yang telah dikatakan mereka tidaklah memiliki tabiat peminum. mereka bercanda ria sambil bermain kartu. Siapa yang kalah akan diberi hukuman meminum tuak yang dicampur kuku bima. Ya, mereka menjadikan tuak itu sebagai alat hukum. Tampak salah satu kawan telah oyong. Kawan itu paling banyak mengalami kekalahan malam ini. Waktu telah larut. Tinggal cahaya bulan yang menemani mereka dan sesekali suara long-longan anjing membuat malam semakin mencekam. Merekapun menyudahi permainan. Memutuskan untuk terlelap di malam yang kelam.

    Esok hari di Sekolah Menengah Atas Negeri. Mereka berkumpul sejenak sebelum bel masuk berbunyi. Mereka bercerita tentang kejadian malam tadi yang menurut mereka mengesankan. “bulan depan kita akan lulus. Kegiatan semacam itu perlu untuk menambah rasa dan warna dari kenangan” ucap salah satu kawan. “benar, lagi pula kita tak tahu apakah setelah lulus kita akan tetap bersama atau mencari jati diri sendiri-sendiri” jawab kawan lainnya.

    Bel masukpun berbunyi. Mereka berjalan menuju barisan kelas 12. Mereka selalu satu kelas dari mulai pertama masuk sekolah ini. Bukan karena mereka sama-sama pintar, tetapi karena sama-sama bebal. Hinggalah selalu ditempatkan di kelas terburuk. Ditambah lagi mereka sering mendebat peraturan sekolah. Menjadikan guru semakin muak kepada mereka.

    Pernah pada suatu ketika salah satu dari mereka mengkritik aturan sekolah mengenai pemungutan biaya untuk ekstrakurikuler. Bagi mereka sekolah yang anti kritik akan melahirkan lulusan yang anti kritik pula. Kalau sudah begini sekolah telah ikut serta dalam menciptakan benih-benih manusia otoriter. Karena hal ini, sekolahpun semakin berang kepada mereka. Sekolah tak pernah sudi memandang mereka sebagai siswa baik. Meskipun sebenarnya berani mengkritik dengan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan merupakan sebuah kebaikan.  Setidaknya dibandingkan siswa-siswa penurut kesayangan sekolah, yang menjadi budak aturan manusia. Bagi empat sekawan ini sekolah telah di setting sedimikian rupa untuk menciptakan manusia-manusia penurut yang berakhir di meja corporate.

    Mereka tak habis pikir kenapa guru dan sekolah setega itu. Guru selalu bicara tentang jasa dan niatnya untuk mencerdaskan bangsa. Tapi kenyataannya justru mereka membuat generasi terpenjara dalam dogma dan pikiran yang tidak revolusioner. Kalau ingin mendengar pendapat tajam, empat sekawan ini berkesimpulan: Guru itu berniat untuk bekerja bukan mengabdi. Kata mengabdi hanya menjadi alibi bagi mereka. Karena empat sekawan sering mendengar guru mengeluh perihal gajihnya. Apakah para guru tak mengetahui, aktivis organisasi pengkaderan tidak di gaji. Justru sesekali mengeluarkan uangnya untuk menyetak pemimpin bangsa. Meskipun begitu mereka tak pernah mengeluh.  Ini yang di sebut mengabdi. Tapi harus di catat, pendapat empat sekawan ini tidak bersifat menyeluruh. Karena sesungguhnya tidak ada yang boleh di generalisir di dunia ini. Bisa jadi di luar sana ada guru yang mengabdi dalam arti yang sebenarnya.

    “Kalau macam ini nyatanya, wajarlah negeri ini terus-menerus dalam jajahan.” ucap salah satu dari mereka. “Kita memang telah di jajah sejak berada di bangku sekolah” jawab kawan lainnya. Pikiran-pikiran semacam itu memenuhi kepala empat sekawan. Sehingga butuh pelarian untuk menghilangkan kelukaan mereka terhadap realitas pendidikan negeri ini.

    Sehabis pulang sekolah siang ini. Mereka akan berkumpul di kedai kopi, untuk mendiskusikan buku “Hakekat Berfikir” karya seorang ulama revolusioner. Namun, mereka harus pulang ke rumah masing-masing terlebih dahulu lalu kembali lagi, karena dua hari ini mereka menginap di rumah salah satu kawan. Toh, Mereka juga perlu menyetor wajah ke masing-masing orangtua, untuk menegaskan bahwa mereka masih hidup.

    Tibalah mereka di kedai kopi milik kawan mereka. Pertama-tama mereka memesan minuman, lalu mulai mendiskusikan buku “Hakekat Berfikir”. Buku ini mereka beli sewaktu ikut dalam sebuah acara minggu lalu di salah satu gedung di kota pekanbaru. Mereka tak tahu itu acara apa. Tapi nampaknya acara itu memiliki agenda besar jauh ke depan. Di dalam buku ini di jelaskan mengenai banyak hal tentang berpikir. Mulai dari cara berpikir yang benar sampai pada cara berpikir untuk memahami teks-teks bacaan. Selama ini mereka tak memiliki mentor dalam berpikir. Mereka akan menyetujui sebuah pemikiran jika menurut mereka itu pantas untuk diterima. Tapi kemudian mereka mulai mempertanyakan perlunya dasar yang jelas dalam berpikir, tidak cukup hanya mengandalkan kecocokan dengan pikiran mereka menurut yang mereka rasa.

    sampailah mereka pada akhir diskusi. Dan menyimpulkan bahwa “untuk menilai sesuatu dibutuhkan informasi masa lalu. Seperti misalnya ketika kita di suguhkan sebuah benda dan kita di minta untuk menjelaskan mengenai benda tersebut sementara kita tak pernah tahu dan tak pernah melihat benda tersebut. Maka indra kita akan kebingungan dalam memproses jawabannya. Tapi setelah kita diberi tahu tentang informasi benda tersebut maka kita akan dapat menjelaskannya. Begitu juga ketika di tanya mengenai hal lainnya. Kita membutuhkan informasi terdahulu mengenai benda yang di pertanyakan tersebut. Lalu menggunakan indra kita untuk memproses jawabannya.”

    Sehabis diskusi merekapun bersiap untuk pergi. Hari demi hari berlalu mereka selalu melakukan pertemuan rutin, baik hanya untuk sekedar menghilangkan penat ataupun untuk melakukan hal bermanfaat. Sampai kemudian mereka menghadapi ujian nasional dan lulus dari sekolah. Dan menerima selembar surat bukti kelulusan sementara.

    Pada suatu malam, sehabis hujan lebat mereka berkumpul di rumah Ismail di temani tuak yang dibawa oleh Rudi. Rumah Ismail menjadi tempat yang cocok untuk bermesraan pikiran. Sebut saja rumahnya sebagai markas empat sekawan. Mereka berbagi cerita tentang akan kemana selepas ini. Rudi telah diterima di salah satu Universitas Negeri di Pekanbaru. Dayat sudah mengumpulkan modal untuk membuka usaha kedai kopi di Lubuk Dalam. Dodi akan pindah ke salah satu kampung di pedalaman Siak, menemani kakeknya yang sebatang kara mengurus perkebunan sawit. Sementara Ismail akan kuliah di Universitas Swasta di Kota Pekanbaru.

    Akhirnya, Pertanyaan Dodi kala itu terjawab “Apakah kita akan terus bersama atau pergi mencari jati diri sendiri-sendiri?”

    Mereka paham betul, hidup adalah tentang perpisahan. Tuhan telah menggariskan jalan yang berbeda untuk setiap manusia. Dahulu, siapa yang tahu jika kemudian tiga murid Cokroaminoto akan memilih jalan yang berbeda.

    “mungkin kita memiliki garis hidup yang berbeda, tapi kita harus ingat dalam garis hidup yang berbeda itu kita masih bisa memperjuangkan kemerdekaan yang seratus persen. Merdeka ekonomi, merdeka politik, dan terutama merdeka berpikir.” Ucap Dayat.

    Lalu Rudi menambahkan “Benar. Kau Ismail, kau bisa memperjuangkan harapan kita di ranah mahasiswa kelak, lagi pula mahasiswa saat ini banyak yang mandul, kau harus menjadi stimulus bagi mereka. Dan kau Dodi, kau bisa membuat lapak buku di kampung mu, mengajak orang kampung mu untuk membaca, bukankah membaca akan membantu pikiran merdeka. Dan kau Dayat, kau bisa memberi kopi gratis kepada remaja yang berniat untuk diskusi di warung mu nanti, menjadikan kedai kopi mu sebagai tempat ngopinya orang-orang yang mau berpikir.”

    “lalu kau, akan bagaimana?” tanya Ismail

    “aku akan berjuang bersama mu, Ismail. Menggerakkan mahasiwa Riau untuk sadar akan kemerdekaan yang seratus persen. Kita akan bergabung dengan salah satu organisasi dan turun ke jalan menyuarakan kebenaran.”

    “haha, nampaknya akan sering demo, ya.” Sergap Dodi

    “Hahahaha” Mereka tertawa bersamaan, memecah malam yang sunyi.

    Aroma tuak berpadu dengan aroma tanah basah yang di bawa oleh angin, menutup perbincangan mereka malam ini. Merekapun meringkuk dalam selimut yang satu. Terlelap menuju masa depan yang serba tak menentu.

  • [Akhi-ukhti] dan Tanggung Jawab Moral
    Pic : Pinterest.com

    Hijrah, yang secara bahasa berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan syariat agama.[1] kelompok ini menyebut dirinya sebagai Pemuda Hijrah atau Gerakan Pemuda Hijrah. Menurut beberapa referensi. Pemuda Hijrah bukan gerakan tersetruktur atau terorganisir. Gerakan ini tidak memiliki pengurus seperti ketua atau lainnya.

    Meskipun seperti itu banyak pemuda yang terpikat untuk ikut gerakan ini. Mulai dari artis sampai kalangan kelas menengah. Gerakan ini tidak sampai kepada kelas proletar karena Hijrah yang dilakukan oleh mereka identik dengan perubahan pakaian yang lebih Islami. Terutama bagi kaum perempuan. Perubahan pakaian ini membutuhkan uang yang tidak sedikit karena pakaian Islami seperti jilbab besar, cadar dan gamis merupakan pakaian yang tidak murah setidaknya jika dipandang dari perspektif proletar. Dan dapat kita saksikan secara langsung di tengah realitas sering sekali pemuda hijrah ini berpenampilan mewah/standar tidak terlihat jika mereka berasal dari kelas proletariat.

    Namun, persoalannya bukan itu yang akan kita bahas. Tetapi relevansi antara pakaian pemuda hijrah dan sikapnya. Beberapa hari lalu teman saya memperlihatkan sebuah video kepada saya. Videonya berisi tentang seorang Ukhti bercadar dan Akhi bersarung terlihat sedang berada di pinggir jalan. Ada beberapa akhi dan ukhti bercadar di video itu. Lalu kemudian seorang pria remaja lewat di depan mereka, dengan spontan salah satu ukhti menyolek/memegang bagian pundak pria remaja yang sedang lewat itu dengan gestur menggoda. Lalu ukhti bercadar itu langsung berhadapan dengan akhi yang sedang bersamanya. Lalu ada suara terdengar berkata (sepertinya yang sedang merekam) “oh, jagi begitu ukhti itu” perempuan itu berkata dengan suara menyergap.

    Saya secara pribadi sangat kecewa melihat video itu. Saya tidak tahu apakah mereka memiliki hubungan keluarga atau bagaimana. Tapi video ini semakin membuat saya kecewa karena sebelumnya saya sering melihat secara langsung atau media sosial (orang yang saya kenal) bagaimana seorang ukhti bercadar/jilbab besar menunjukkan sikap yang tidak relevan dengan pakaiannya. Seperti berbaur dengan lawan jenis, sampai pada telpon-telponan. Saya tak mengatakan saya suci atau saya bajingan. Tapi jika sesuatu itu belum menjadi pemahaman yang untuh dan kita belum mampu merealisasikannya dengan penuh kesadaran, kenapa harus di deklarasikan. Cukuplah perubahan itu sedikit demi sedikit dilakukan dan hanya di pamerkan kepada Tuhan.

    Saya tidak membenci pakaian mereka. Saya tidak membenci mereka. Justru saya sangat mengharapkan seluruh perempuan muslim menggunakan pakaian yang sesuai dengan syariat islam dan kalau bisa bercadar. Tapi saya hanya terluka oleh sikap mereka. Mereka bisa bertingkah sesukanya tanpa memerdulikan pakaian mereka. Seperti argumen yang miskin tanggung jawab yang sering mereka sampaikan sebagai alibi “Pakaian syar’i itu kewajiban. Sedangkan sikap tergantung kepada orangnnya. Jangan hubungkan pakaian dengan sikap”. Saya tak tahu apakah ketika mereka menyampaikan argumen ini berdasarkan kesadarannya akan tanggung jawab moral atau mereka beragumen seperti itu tanpa kesadaran tanggung jawab sama sekali. Padahal setiap manusia harus siap mempertanggungjawabkan apa yang mereka pilih dan lakukan.

    “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya” –(QS. Al-Mudatstsir: 38)

    Andaikan mereka ini memiliki kesadaran penuh atas tanggung jawab moral dari pakaiannya, yaitu relevansi antara pakaian dan sikapnya. Tentu sikap dan tingkah seperti diatas tidak akan mereka lakukan. Akhirnya saya sebagai laki-laki yang miskin kesucian berharap semoga ukhti dan akhi dapat melakukan sesuatu atas kesadaran penuh dan dapat dipertanggungjawabkan.


    [1] https://news.detik.com/kolom/d-3840983/fenomena-hijrah-di-kalangan-anak-muda

  • Surat ini 

    Ku titipkan pada hujan

    Apa bila nafasku terengah-engah

    Sementara waktu menanti-nanti

    Surat ini 

    Ku titipkan pada waktu

    Apa bila tubuhku kalah

    Tanganku tak lagi menulis puisi

    . . .

    Dan ketika saat itu telah tiba

    Temui aku dalam puisi-puisi yang kau baca

    Lalu katakan: aku juga !

    Atau 

    Buang kertas-kertas itu

    Caci aku. Kutuk aku

    Apa bila aku salah jatuh cinta !

    bumi, 2018

  • Tuan yang Hilang

    Aku membaca kalimat terakhir yang di bisikkan oleh hatinya. Aku bisa membaca apa yang ia pikirkan dan rasakan. Aku dan dia seperti telah menjadi satu kesatuan. Meskipun kadang aku harus berbohong untuk menjaga agar tak tumbuh keinginan yang berlebihan. Aku dapat membacanya, hatinya membisikkan kalimat nan getir “aku tak rela kau berpaling”. Seketika aku menangis dan ia tak tahu.

    *

    Nama ku Aisyah. Aisyah Putri Zalecha. Kata ibu ku, ayah ku memberi nama itu karena ia ingin aku seperti Ratu Zalecha dari Kesultanan Banjar. Kesultanan Banjar adalah sebuah Kerajaan di hutan belantara Kalimantan yang kini tiada. Meskipun kesultanannya sudah tiada namun ketangguhan dan ketabahan sang Ratu masih melegenda. Ayah ku ingin aku seperti dia.

    Kini aku telah menjadi seperti apa yang ayah ku inginkan. Orang-orang telah melihat ku sebagai sosok gadis yang tabah dan berani. Meskipun mereka tak mengetahui untuk menjadi tabah dan berani ada harga yang harus di bayar. Bukan dengan uang, tapi kerelaan. Karena bagiku tabah berarti menutupi segala kelukaan dengan senyuman. Tidak murah bukan?.

    *

    Aku akan menceritakan sebuah kisah. Kisah ini terjadi beberapa waktu sebelum aku menikah. Kisah ini menceritakan tentang aku dan seorang manusia aneh. Kalian pasti tidak tahu orangnya yang mana. Karena memang dia menutup diri dari banyak kehidupan. Katanya, “aku adalah manusia asing di bumi ini.” Dia merasa memiliki kesulitan dalam membangun hubungan sosial, entah kenapa. Lalu kemudian aku datang, menawarkan pertemanan padanya.

    Namanya adalah Jihad. Lengkapnya, Zulkarnaen al-Jihad. Aku tak tahu bagaimana keluarganya dan darimana asalnya. Yang aku tahu, ia menjadi sahabat yang baik untuk ku dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ya, persahabatan ku dengannya berlangsung sekitar dua tahun. Kedekatan yang intensif sekitar 6 bulan. Sementara sisanya hanya ketidakpastian-ketidakpastian.

    *

    Saat itu malam begitu dingin. Hujan baru saja reda dan masih ada sisa-sisa air yang jatuh dari atap rumah. Suara katak dan jangkrik bersahut-sahutan. Aku tenggelam dalam ketermenungan. Lalu tiba-tiba aku teringat Jihad yang sudah berbulan-bulan tak ada kabar. Ku raih hape akan ku coba menghubunginya. Tapi aku khawatir mengganggu karena jam sudah menunjukkan pukul 00:30 WIB. Desa kami masih menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun. Tak baik menghubungi orang lain tengah malam begini. Tapi aku ingin tahu kabarnya. “Ah, biar saja. Biar saja ku langgar dogma desa untuk sebuah kabar, lagi pula tak fatal.” Bisik ku dalam hati. Lalu ku telpon. Jihad tak mengangkatnya. ku ulangi sekali lagi dan dia tidak juga mengangkatnya. mungkin dia sudah tidur. Lalu ku kirim pesan singkat. “Assalamu’alaikum Jihad. Apa kabar mu? Aku rindu”. Setelah itu aku merebahkan badan dan pelan-pelan memejamkan mata.

    Subuh hari saat aku terbangun ku raih hape barangkali Jihad membalas pesan ku. Tapi ternyata tak ada pesan darinya. Hanya pesan dari berbagai laki-laki buaya yang memenuhi hape ku. Memang kadang laki-laki yang tak di undang sering menganggu kehidupan perempuan.

    Pada hari-hari berikutnya aku mencoba menghubungi Jihad. Tapi tak ada juga balasan darinya. Sekali, dua kali, sampai berkali-kali. Aku bingung kenapa Jihad menghilang begitu saja. Apakah dia telah melupakan ku. Padahal di atas jembatan Maredan jembatan yang tinggi itu, kami pernah bersepakat untuk selalu dekat. Kenapa dia melupakannya begitu saja.

    Dalam keadaan yang serba rindu. Aku mencari kabarnya dari waktu ke waktu. Andaikan Jihad menginginkan perpisahan kenapa ia tak mengatakannya dengan jujur. Lagi pula aku tak akan marah. Mungkin hanya sedikit kecewa.

    Pada suatu hari di sore yang mendung. Aku duduk di teras depan rumah, melihat anak-anak desa bermain gasing. Sebuah permainan tradisional masyarakat Melayu. Konon permainan Gasing sudah dikenal di pulau Natuna jauh sebelum kolonialisasi Belanda. Aku jadi teringat perkataan Jihad. Kala itu kami berdua sedang melihat perlombaan Gasing di sebuah acara kebudayaan Melayu di kota Siak. Jihad mengatakan: “Gasing yang sedang berputar mengajarkan pada kita sebuah kestabilan dan kedinamisan. Bahwa agar manusia bisa tetap seimbang, manusia harus terus bergerak dalam hidupnya.” Mungkin karena hal ini Jihad terus bergerak… Sehingga lupa pulang.

    Dalam ketermenunganku sambil melihat anak-anak itu bermain. Tiba-tiba hp dalam genggaman ku bergetar. Tanda pesan masuk. Sengaja kubuat mode getar, karena aku tak begitu suka kebisingan.

    Pengirim: Jihad

    Aku tak dapat mengekspresikannya dalam kata-kata. Aku merasa sangat senang, segera saja ku buka pesannya.

    “Aisyah?”

    “Ya, kau kemana saja?”

    Beberapa saat kemudian ia membalasnya “maaf, aku baru menghubungi mu. Tapi sungguh ini bukan keinginan hati ku. Aku terpaksa harus memutus kontak dengan siapapun karena aku sedang berjuang untuk sebuah hal. Maafkan aku, Aisyah”

    “apa yang sedang kau perjuangkan? Sampai tak pernah menghubungi ku selama itu?”

    “aku tak bisa membicarakan disini. Ceritanya panjang. Mata kita harus saling menatap. Kapan ada waktu untuk ketemu?”

    “kapan pun bisa, untuk mu. Asalkan tidak tengah malam”

    “hmm, kau ini tidak berubah. Masih saja lucu. Oke, dua minggu lagi kita bertemu, ya”

    “kenapa harus menunggu dua minggu? Kau tak takut kalau lusa aku mati?”

    “kau ini bicara apa. kalau kau mati siapa yang akan mengerti aku?”

    “baiklah, ku tunggu kau dua minggu lagi”

    “Oke, siap. Kau tunggu aku. Kita akan pergi ke jembatan tinggi. Ya sudah, Kau baik-baik disana, jangan lupa isi tubuh mu dengan nutrisi. Aku menyayangi mu” Tulis Jihad

    Ku baca pesan penutupnya. Aku memejamkan mata. Hati ku berkecamuk. Aku senang Jihad telah menghubungi ku. tapi aku turut bersedih karena satu minggu lagi akan datang seorang pria bersama keluarganya menemui orang tua ku, buat melamar ku.

    *

    Satu minggu telah berlalu. Malam nanti pria itu akan datang kerumah ku. Aku ingin menghubungi Jihad menyampaikan yang sejujurnya. Tapi aku takut ia tak akan mau lagi menghubungi dan bersahabat dengan ku. Sebab Jihad pernah mengatakan “persahabatan kita akan tetap berlangsung selama diantara kita belum ada yang menikah. Bersahabat ketika diantara kita sudah ada yang menikah sama saja mengkhianati sesuatu yang sah”.

    Sehabis waktu Isya’ pria itu datang bersama kedua orang tuanya. Membawa bingkisan seperti yang terjadi pada umumnya saat hendak lamaran. Kedua orang tua kami berbincang, sementara aku menundukkan kepala. Bukan karena aku menghindari pandangan. Tapi karena kepala ku dipenuhi pikiran Jihad dan masa muda ku yang akan lenyap.

    Tiba-tiba ayahku menepuk pundak ku, ia menanyakan bagaimana keputusan ku. Aku terdiam beberapa saat sambil mata ku melirik pria itu dan kedua orang tuanya, persis seperti mata seorang manusia yang sedang mencari jawaban dalam kebingungan. Lalu aku menatap kedua orang tua ku. selama ini kedua orang tua ku membesarkan ku dengan penuh kesabaran. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Dengan meyakinkan diri bahwa ini nasib terbaik, akupun mengangguk.

    Acara pernikahan akan dilangsungkan 9 bulan lagi. Selepas pria itu mendapatkan gelar sarjananya.

    *

    Satu minggu kemudian di subuh yang dingin Jihad mengirim pesan pada ku. “Aisyah, pagi ini aku pulang ke Siak.” Ku baca pesan singkat Jihad dengan penuh kesedihan. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku ingin berjumpa dengan Jihad. Tapi aku takut orang tua ku tahu dan mereka marah lalu mengusir ku dari rumah. Dalam hati aku berkata “Maafkan aku Jihad. Maafkan aku. Kau pernah mengatakan kau takut kita terpisah oleh nasib yang berbeda. Dan kini tanpa ku minta, kuasa nasib itu memang nyata”

    Andaikan Jihad tak pernah menghilang. Mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi seperti yang dikatakan oleh seorang penulis perempuan ternama “Kita bisa memesan bir, namun tidak bisa memesan takdir”.

    Biarlah rencana-rencana yang pernah kami buat menguap ke udara menjadi bintik-bintik awan lalu jatuh menjadi hujan, yang mendinginkan malamnya dan malam ku.

  • Puan Peredam Dendam
    pixabay.com

     

    Sjahrir pernah tuliskan dalam surat cintanya “Apa yang tidak aku temukan di dalam filsafat. Aku temukan pada dirimu” (lebih…)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai