Oleh: Agung Hidayat
AKU heran dengan sikap Husin akhir-akhir ini, berbagai kritikan selalu keluar dari mulutnya. Bahkan hanya melihat gadis memakai celana jean’s saja ia membuang muka. Anak-anak remaja yang nongkrong di jalan poros kecamatan dikritiknya habis-habisan.
“Mara, jangan sampai kamu seperti mereka,” ucapnya mengingatkanku.
Padahal dulu di jalan poros itu kami sering berbincang tentang seorang gadis desa yang cantik jelita, kulitnya putih kemerahan, rambutnya seperti bunga gelombang cinta. Serupa daging di mata para anjing. Sungguh memesona, kini itupun ia kritik juga.
Apakah Husin ingin seluruh wanita memakai pakaian serba tertutup, bercadar dan berkerudung besar seperti ninja di Jepang sana. Husin terlihat sudah seperti orang-orang intoleran yang sering disebut-sebut oleh media. Padahal setahuku Husin membenci orang-orang itu, begitupun aku. Media-media mengumumkan bahwa orang-orang itu telah menyusup ke dalam kehidupan masyarakat, mereka mengobrak-abrik ketentraman masyarakat dengan sikap anti toleransinya. Bahkan katanya pemerintah pun membenci mereka, pemerintah menyebut mereka sebagai kelompok radikal.
—
Bersama Husin dan Bagas sore ini kami akan pergi ke Caffe Desa. Duduk santai bercerita soal masa lalu atau mengembara ke masa depan ditemani kopi dan Wifi gratis. Di tempat ini aku biasa mentraktir dua sahabatku, setidaknya tiga tahun lalu ketika kami masih SMA. Hari ini kami berkesempatan berkumpul lagi di caffe ini.
Husin menasihati kami seperti ustad-ustad di khotbah Jum’at. Aku dan Bagas hanya mengangguk mendengarkan ceramah Husin yang membosankan. Kenapa dia tidak bicara kemenangan Barcelona melawan Real Madrid, atau bicara soal Sutatta Udosmilp artis Thailand yang cantik dan sexy itu. Kenapa harus bicara agama di saat seperti ini. Ini zaman sudah maju, sedikit modernlah. Tak henti-hentinya ia meminta kami untuk ikut diskusi agama di rumah Pak Amin mantan guru SMA kami. Bahkan dia berjanji akan mentraktir Blue Ocean salah satu menu minuman yang spesial di Caffe Desa, bila kami mau menghadiri kajian itu.
“Aku mohon sekali ini saja. Ikutlah denganku ke rumahnya Pak Amin,” ucapnya mengiba. Aku dan Bagas terus menolaknya dengan berbagai alasan. Tapi sungguh Husin tak pernah sakit hati meskipun kami menolaknya berulang kali. “Sudahlah. Berhenti merayu kami. Kami tak mau jadi teroris,” ucap Bagas meledek.
“Percayalah, ini tak seburuk yang kalian pikirkan. Ikutlah sekali saja. Aku mohon.”
“Pokoknya, tak mau!” Jawab kami serentak.
Lalu kami pun pulang menuju rumahku. Husin merangkul kami, sambil berjalan menuju rumahku yang berjarak sekitar 30 meter dari Caffe Desa itu. Kalau saja aku ikut kajian itu, bisa-bisa aku jadi aneh seperti Husin. Celana cingkrang, jenggot panjang —wanita cantik tak mau lagi di lirik. Hah dasar aneh.
Namun, seiring dengan itu kami terbiasa melalui hal-hal rumit. Bila kemudian Husin menjadi aneh aku pun penerimanya, tidak ada alasan untuk menjauhinya. Karena pertemanan kami telah terjalin sejak kami masih kecil.
Aku menyayangi mereka, meskipun kami memiliki latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Aku dilahirkan dari keluarga yang serba berkecukupan. Ayahku seorang mandor di PTPN Nusantara V, sebuah pabrik kelapa sawit milik negara. Sedangkan ibuku kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Siak. Kedua orang tuaku juga memiliki kebun kelapa sawit yang terbilang luas. Kehidupan keluargaku jauh berbeda dengan yang di alami oleh kedua sahabatku. Aku bisa memiliki apa-apa yang kuinginkan. Sungguh kami telah diberi kenikmatan, aku bisa kuliah tanpa harus mencari beasiswa, bahkan dua abangku sedang melanjutkan studi di universitas ternama di Malaysia. Aku bersyukur atas nikmat ini. Namun di sisi lain hati kecil ku rasanya ingin berontak, Husin dan Bagas tak seberuntung aku. Mereka harus bersusah payah membiayai kuliah sendiri, dan sesekali mereka mengirim tulisan ke media cetak maupun online untuk kebutuhan perut.
Kadang aku menangisi mereka, saat sendiri di tengah malam yang sunyi.
—
“Mara, hari ini kamu pergi ke Pekanbaru, ya.” Ibuku memintaku untuk membersihkan rumah kami di Pekanbaru yang jarang ditempati. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari kost-kostanku.
Aku meng-iya-kan, tapi aku meminta kepada Ibu agar diizinkan membawa Bagas dan Husin.
“Ya, sudah. Bawa mobil, tapi jangan sampai lecet!” Ucap Ibu sambil melirik ala batak.
Aku mengangguk pertanda sepakat. Senang sekali rasanya ke Pekanbaru bersama Bagas dan Husin. Pikiran jahatku keluar. Membayangkan jalan-jalan ke stadion utama Riau, minum soda sambil ngelirik gadis-gadis sexy yang sedang olahraga sore. Aku akan menghubungi Bagas dan Husin soal ini, mudah-mudahan mereka tidak berhalangan. Lagi pula kami masih punya sisa waktu tiga minggu lagi sebelum habis masa libur kuliah habis.
Malam itu kami berkumpul di rumah Bagas. Tiba-tiba, Husin mengajak kami ke acara diskusi, sebelum aku sempat memulai pembicaraan.
“Hari minggu nanti ada diskusi keislaman di rumah Pak Amin. Kalian datang ya. Aku mohon sekali ini saja. Setelah itu terserah keputusanmu,” ajak Husin kepada kami
“Hari minggu aku harus ke Pekanbaru untuk membersihkan rumah kami. Rencana aku mau mengajak kalian berdua,” ucapku.
“Ya, sudah, soal Ibu harus kau dahulukan. Tapi maaf aku tak bisa ikut.”
“Kau tinggalkan sekali saja acara diskusi itu,” aku memohon kepada Husin melalui perdebatan yang alot. Tapi akhirnya ia sepakat untuk ikut ke Pekanbaru tapi dengan satu syarat tak boleh mampir ke Club 88.
Seingatku pertama kali kami pergi ke Pekanbaru sekitar dua tahun lalu, saat itu aku dan Bagas menemani Husin tes beasiswa Tanoto Foundation, tapi kemudian kami malah kehilangan arah. Langkah kami berbelok ke Club 88 yang terkenal sebagai lokasi billiard dengan gadis-gasis super sexy di dalamnya. Kami habiskan waktu di sana. Hingga sampai lupa bahwa Husin ada jadwal untuk tes beasiswa. Kejadian itu membuatku sangat menyesal.
—
Singkat cerita, keesokan harinya aku dan Bagas duduk di teras depan rumahku. Waktu sudah semakin sore tapi Husin belum juga datang. Aku sangat khawatir Husin lupa atau ada alasan lain yang membuat dia tidak jadi ikut ke Pekanbaru.
“kita tunggu saja dulu,” Bagas meyakinkan.
Sementara sambil menunggu Husin datang, kami bercerita soal Sinta gadis cantik itu. Kata teman-temanku Sinta tidak pernah lagi terlihat, setelah ayahnya mati diserang banaspati, ia hilang entah kemana. Padahal sosoknya menjadi peneduh mata para lelaki. Ketika pemuda desa menemui hari libur kuliah, mereka akan bersemangat pulang ke Siak untuk melihat Sinta yang memesona.
“Mungkin dia sibuk dengan kuliahnya,” ucap Bagas.
Sinta adalah mahasiswa Kedokteran Universitas Riau dengan beasiswa full dari Chevron, sebuah anak perusahaan dari Chevron Corporation asal Amerika yang bergerak di bidang energi. Perusahaan ini berdiri angkuh di kampung kami. Setiap tahun Chevron memberikan beasiswa kepada 100 orang pintar yang ingin melanjutkan kuliah. Sekali lagi, khusus orang pintar. Aku tak tahu apa standar yang mereka pakai dalam menentukan kepintaran seorang manusia. Tapi Sinta adalah salah satu yang terpilih dari mereka. Laki-laki mana coba yang tak terpikat. Cantik, calon dokter pula. Bahkan aku rasa para suami bermata tiga juga ingin menjadikannya istri kedua.
Di sela-sela perbincangan tiba-tiba sms dari Husin masuk.
“Jemput aku di rumah!”
Tanpa basa-basi kami langsung meluncur ke rumah Husin. Tibanya di sana Husin sudah menunggu di depan rumah dan ia langsung masuk ke dalam mobil. Pedal gas pun kupijak perlahan. Kami berangkat.
“Kalian sudah sholat?” Tanya Husin
“Sudah!” Jawabku berbohong.
Di sepanjang perjalanan Husin tak habis-habisnya menceramahi kami. Bicara ini itu yang tak kami mengerti. Dasar aneh.
“Stop…stop!” Ucapku memotong pembicaraan Husin.
“Kalau mau ceramah di masjid saja!” Ucap Bagas sambil tersenyum jahat.
Setelah melalui perjalan kurang lebih dua jam. Kami singgah ke stadion utama Riau, duduk di trotoar jalan ditemani cemilan. Gadis gadis sexy lalu lalang lari sore. Andai saja di desa ada seperti ini. Besitku dalam hati.
“Sin, sini!, ngapain di dalam mobil. Lihat ini pemandangan sorga dunia,” Rayu kami kepadanya.
Mendengar godaan kami, ia hanya menutup telinga dengan kedua tangannya. Aku dan Bagas tertawa melihat tingkahnya yang aneh. Dasar rezeki kok ditolak.
Singkat cerita, setelah selesai membersihkan halaman rumahku yang ditumbuhi rumput yang telah meninggi dan telah puas rasanya menikmati udara kota bersama dua sahabatku. Kami pun pulang ke Siak. Di sepanjang jalan suasana diselimuti keheningan. Bagas duduk di depan sambil mendengarkan lagu dengan headset di telinganya. Dan Husin menyalakan lantunan surah ar-Rahman, telingaku sedikit risih mendengarnya, tapi Husin tetap menyalakannya meskipun telah kuminta untuk mematikannya.
Lama-kelamaan suasana menjadi terasa tenang, suara lantunan surah ar-Rahman seolah-olah menghipnotisku. Pedal gas kuinjak halus hingga mobil melaju dalam kecepatan 110 km per-jam, membuat ilalang di sepanjang pinggir jalan melesat cepat ke arah belakang dan pipa minyak bumi yang membentang sepanjang pinggir jalan seperti ular tanpa ujung, merayap secepat-cepatnya. Kepalaku bergoyang-goyang menikmati suasana yang terasa syahdu. Mataku terfokus ke arah jalan yang basah sehabis diguyur hujan.
Tiba-tiba ssssttttt—Seekor kucing melompat ke tengah jalan, sontak tanganku membanting setir.
Moncong mobil langsung saja menghantam pipa minyak bumi.
Bbeummmmm!
suasana menjadi sangat hening, mataku layu sayu semua terlihat buram. Aku tak dapat mendengar apapun selain suara dari hape Husin yang masih melantunkan bunyi.
Fa bi ayyi aalaa irabbikumaa tukazzibaan!
Sampai di situ aku tak ingat apa-apa lagi. Sampai kemudian aku tersadar dengan mata yang masih tertutup di sebuah tempat dan aku mendengar deru tangis yang samar-samar. Tak asing dengan suara itu. Ibuku.
“Mara, bangun sayang, ini Ibu.”
“Aku dimana bu?”
“kamu dirumah sakit sayang, sudah tiga hari kamu koma”
Aku berusaha mengingat apa yang terjadi, “Mana Bagas sama Husin?”
“Mereka sudah pulang kerumahnya, nak” Jawab ibuku.
Setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit akhirnya dokter mengizinkanku pulang. Luka yang ada di kepala ku sudah mulai membaik. Ketika dalam perjalan pulang aku meminta kepada ayahku agar mengarahkan mobil kerumah Bagas dan Husin. Tapi ayahku menolak katanya aku butuh istirahat. Aku memohon dan memaksa ayahku, ayahku pun memenuhi permintaanku. Di sepanjang jalan tak henti-hentinya aku berdo’a semoga mereka baik-baik saja.
“Yah, kita mau ke mana, ini bukan jalan ke rumah Bagas dan Husin?”
Ayahku diam tak menjawab, dia hanya menoleh dan memegang
pundakku.
Kami berhenti di satu tempat yang tak asing bagiku, “Ini kuburan, Yah… Kenapa kita ke sini… Tidak! jangan bilang mereka… ?”
Aku tak kuasa menahan air mata. Kami keluar dari mobil, tubuhku yang sudah sedikit sehat, tiba-tiba melemas, aku tersungkur jatuh. Kenapa secepat ini.
“Nanti kalau kita sudah menikah kita mendaki gunung bareng, ya. Bawa istri kalian!” Kalimat itu terasa baru kemarin terucap. Tapi kini mereka meninggalkanku secepat kilat, tanpa pamit. Bagas! Husin! Sahabatku!
***
Selama beberapa waktu aku mendenkam di kamar seorang diri. Aku melewatkan kuliah yang semestinya sudah dimulai sejak seminggu yang lalu. Bayangan kedua sahabat ku masih terus menghantui pikiran ku. Aku kesepian tanpa mereka. Setiap terbangun dari tidur, aku berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi waktu demi waktu berlalu, aku tersadar bahwa ini memang nyata.
Aku tenggelam dalam kesedihan. Apakah mungkin ini hukuman dari Tuhan atas diriku yang angkuh dan keras diri. Aku memutuskan untuk menemui pak Amin. Aku beranjak pergi menuju rumahnya. Beliau menyambutku dengan hangat. Sesampainya di rumah beliau, aku bercerita panjang lebar dengan Pak Amin. Pak Amin bercerita mengenai Husin. Katanya, Husin sangat mengharapkan aku dan Bagas agar suatu saat dapat belajar Islam bersama dengannya. Husin ingin persahabatan kami tidak hanya di dunia tetapi juga di sorga.
Air mataku berlinang mendengarkan cerita Pak Amin, cerita Pak Amin mengingatkanku kepada mereka. Husin pergi setelah mengetahui kebesaran sang pencipta. Sementara Bagas pergi tanpa bekal apa-apa.
“Pak saya ingin belajar apa yang dipelajari Husin. Saya ingin belajar agama. Saya ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt.”
***
Singkat cerita, setiap minggu aku selalu menghadiri diskusi pemikiran Islam di rumah Pak Amin. Apa bila aku tak bisa pulang ke Siak maka Pak Amin akan ke pekanbaru untuk mengisi jadwal diskusi-ku. Aku belajar mengenai seluk beluk dunia Islam, aturan-aturan di dalam Islam. Apa yang kupelajari membuatku semakin mengerti bahwa selama ini bukan Husin yang aneh, tetapi akulah yang aneh. Aku tak mengerti sama sekali mengenai Islam hingga aku menyimpulkan Islam dari sudut pandang media propaganda.
“Mara, apa kamu ada niat untuk menikah?” Tanya Pak Amin satu waktu.
Pertanyaan Pak Amin menggelitik telingaku, “Kenapa bapak bertanya seperti itu?”
“Nikah muda itu bukan kewajiban. Tapi bila dengan nikah muda kita dapat terbebas dari maksiat, kenapa tidak? Jika kamu mau, anak dari teman lama saya ada yang menyukaimu. Pamannya meminta saya untuk menyampaikan ini kepadamu. Silakan kamu pikirkan. Bila setuju saya akan mempertemukan kamu dengan dia.”
Aku terdiam beberapa saat. Anak dari temannya Pak Amin menyukaiku. Ah, rasanya tak mungkin. Pastilah ia perempuan yang berilmu. Sementara aku!
Aku menyampaikan ini kepada kedua orang tuaku. Kedua orang tuaku pun merestui. Keputusan orang tuaku sungguh tak terduga. Sebenarnya, aku mengharapkan mereka menolak. Aku telah kehilangan Bagas dan Husin. Rasanya berat untuk langsung menikah. Pikiranku yang masih dipenuhi oleh bayangan mereka, khawatir akan mengganggu nantinya. Aku masuk ke dalam kamar, kupandangi langit-langit rumah. Barang kali ini jalan terbaik. Aku berusaha meyakinkan diri.
Baiklah, telah kuputuskan. Aku ingin memperbaiki seluruh kehidupanku. Maka aku juga harus memiliki pendamping yang membawa ke jalan itu. Saat itu juga aku langsung menghubungi Pak Amin. Lusa, aku dan perempuan itu akan di pertemukan di rumah Pak Amin.
Malam itu, aku dan orang tuaku menuju ke rumah Pak Amin. Di pertengahan jalan tangan dan keningku membasah. Di ruangan tamu itu kulihat Pak Amin bersama seorang bapak berjubah abu-abu, di samping bapak itu kulihat seorang perempuan bercadar. Aku duduk di-apit kedua orang tuaku.
“Perkenalkan ini Pak Zulkarnain, paman dari Hafizah,” ucap pak Amin memperkenalkan bapak berjubah abu-abu dan perempuan bercadar.
“Silakan buka cadarmu, Hafizah!” Ucap Pak Zulkarnain.
Perlahan, sangat perlahan, ia membuka cadar yang menutupi wajahnya. Jantungku berlomba-lomba dengan nafasku. Mula-mula kuperhatikan wajahnya tertunduk. Tapi kemudian sungguh seperti disambar petir di tengah cuaca yang cerah. Seumpama mimpi di siang bolong.
“Sinta…” Ucapku lirih.
Aku tak pernah menduga jika perempuan yang dimaksud oleh Pak Amin adalah Sinta. Tapi bagaimana mungkin Sinta bisa mencintai aku. Sementara dia telah lama mengenal aku dan tak pernah aku melihat tanda-tanda bahwa ia mencintaiku. Tapi mengapa tiba-tiba dia mencintaiku. Akalku tak dapat mencernanya, aku berusaha menepis segala pertanyaan yang ada di kepalaku.
Bagaimana Mara? Tanya Pak Amin.
Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk. Begitu pula dengan Sinta. Semua orang yang ada di ruangan itu sepakat bahwa pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Setelah Aku dan Sinta menyelesaikan Ujian Akhir Semester.
Satu Minggu setelah aku menikah dengan Sinta. Ayahku menyarankan untuk berbulan madu ke Bandung, di daerah pegunungan Burangrang. Katanya, pegunungan Burangrang menyimpan keunikan yang dapat merangsang adrenalin pengantin baru. Tapi Kami memutuskan untuk pergi mendaki Gunung Marapi di Sumatera Barat. Selain lebih dekat, gunung Marapi adalah yang pernah kami impikan bersama Bagas dan Husin.
Malam itu di gunung itu, di depan tenda berwarna biru, yang diterangi oleh api dari pembakaran. Dalam pangkuanku, aku mendekap tubuh Sinta. Sinta bercerita kepadaku tentang kehidupannya, sebelum kematian ayahnya. Ketika ayahnya mati, ia sangat menyesalinya karena tak sempat menjadi baik di hadapan mata ayahnya. Sinta pun menghilang dari keramaian untuk memperbaiki diri dan berganti nama menjadi Hafizah. Tanganku yang merangkul tubuh hangatnya basah oleh air yang jatuh dari matanya.
“Jangan bersedih. Kau telah menjadi baik di hadapan Tuhan, Hafizah.” Bisikku lemah sembari mengecup kepalanya.