• Oleh Agung Hyt

    Tak jarang orang menganggap remeh kebiasaan-kebiasaan kecil, padahal dari situlah karakter seseorang terbentuk.

    Jika kita tidak terbiasa menghargai hal-hal kecil dalam hidup, bagaimana mungkin kita dapat dipercaya untuk menangani sesuatu yang besar dan kompleks?

    Kesetiaan dalam perkara kecil itu semacam latihan disiplin —membentuk kebiasaan untuk selalu menyelesaikan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

    Kita punya hidup mesti dilatih dari perkara kecil: jaga kebersihan, jaga perkataan sehari-hari, tepati janji, penuhi tugas dengan tuntas. Kalau seseorang terlatih untuk bertanggung jawab pada hal-hal kecil, maka ia tidak akan kesulitan ketika diberi amanah besar.

    Kita sering mengagumi orang-orang sukses tanpa melihat perjalanan panjang yang mereka tempuh. Padahal, mereka sampai di titik itu bukan karena keberuntungan semata, melainkan karena mereka telah terbiasa mengelola tanggung jawab dari hal-hal sederhana. Seorang pemimpin yang hebat, misalnya, pasti memiliki kebiasaan untuk mendengar dengan saksama, merespons dengan bijak, dan menepati kata-katanya, bahkan dalam situasi yang tampak remeh. Dari situlah kepercayaan terbentuk —dari akumulasi tindakan kecil yang dilakukan dengan konsisten.

    Tidak ada pencapaian besar yang datang tiba-tiba; semuanya berawal dari hal-hal kecil yang terus dikerjakan dengan penuh tanggung jawab.

  • Oleh Agung Hyt

    Hatta membaca, tapi dia bukan pembaca yang pengecut. Sukarno membaca, tapi dia bukan pembaca yang pengecut. Agus Salim membaca, tapi dia bukan pembaca yang pengecut.

    Dan para bapak bangsa lainnya, mereka membaca dengan keberanian. Mereka bukan bebek yang berani berkotek dalam kawanan, tapi lumpuh saat sendiri. Mereka membaca bukan cuma buat menghafal, bukan buat menyusun argumen akademik yang kering, melainkan buat memperteguh keberanian, melahirkan tindakan. Hari-hari ini, adakah pembaca yang berani? Semoga kita semua adalah pembaca yang pemberani itu.

  • Oleh Agung Hyt

    Saya membagi dua jenis pendidikan yang berperan dalam pembentukan karakter dan intelektual. Pertama, pendidikan dalam keluarga. Kedua, pendidikan formal, yang terdiri atas: dasar, menengah, tinggi.

    Karakter sering dibicarakan di buku-buku atau dalam pidato-pidato. Tapi, dalam tindakan, karakter sering diabaikan, bahkan dikambing-hitamkan. Terkadang, orang mengucapkan karakter bukan karena secara sungguh-sungguh menerapkan prinsip berkarakter, tetapi karena perasaan senang-tidak-senang semata.

    Karakter bukan barang sulapan, yang bisa lahir hanya dengan mengucapkan silmsalabim abakadabra. Karakter adalah buah dari proses dalam waktu tertentu. Sering kali ia dibentuk sejak kecil dalam lingkungan keluarga dan pendidikan dasar.

    Di rumah, anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, dan bagaimana bersikap terhadap orang lain. Di sinilah fondasi karakter ditentukan. Boleh dikatakan, pada fase ini benih-benih karakter baik ditanamkan dalam diri seorang anak manusia. Jika nilai-nilai ini sudah tertanam kuat, pendidikan selanjutnya hanya tinggal memperkuat dan mengasahnya.

    Saat memasuki pendidikan menengah, seseorang mulai belajar berpikir lebih luas dan sistematis. Logika diasah, kreativitas mulai berkembang, dan kemampuan analitis mulai terbentuk. Ini adalah masa transisi, di mana seseorang belajar untuk memahami dunia dengan sudut pandang yang lebih kompleks.

    Pendidikan tinggi, pada akhirnya, bukan sekadar soal menghafal teori, tapi soal bagaimana seseorang menciptakan sesuatu dari ketajaman pikirannya. Ini adalah tahap di mana pemikiran kritis benar-benar diuji, dan keilmuan digunakan untuk memecahkan masalah nyata.

    Hanya saja, tanpa fondasi karakter yang kuat, kecerdasan akademik bisa jadi digunakan secara semau-mau hati. Atau bahkan tidak berguna sama sekali.

    Karena itu, kalau ada politisi korup, yang harus dipertanyakan bukan sekadar pendidikan tingginya, tapi bagaimana dia dibesarkan dan dididik sejak kecil. Apakah sejak kecil dia diajarkan untuk menghargai kejujuran atau justru terbiasa melihat kebohongan? Sebab, pendidikan tinggi bisa mencerdaskan seseorang, tapi pendidikan dasar dan keluarga-lah yang menentukan apakah kecerdasan itu digunakan untuk kebaikan atau justru untuk mencurangi orang lain.

  • Oleh Agung Hyt

    KALAU kita tak punya apa-apa dalam materi, sekurang-kurangnya kita punya tiga hal dalam sifat: kesetiaan, keberanian, dan integritas.

    Tiga hal tersebut akan membentuk karakter kita sebagai manusia.

    Kesetiaan membuat kita tetap teguh dalam konsistensi. Keberanian memungkinkan kita untuk mengambil langkah-langkah besar, sementara integritas menjaga kita untuk tetap berada di koridor akal sehat.

    Kalau kita tak punya kesetiaan, keberanian, dan integritas, jangankan orang baik, Hitler pun pasti ogah berkawan dengan kita.

  • Oleh Agung Hyt

    Kapitalisme memang menyediakan sumber daya yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan semua orang, memberi kebebasan bagi setiap individu untuk mendapatkan lebih banyak atau lebih sedikit, tergantung pada usaha dan kemampuan mereka.

    Prinsip kebebasan ini memungkinkan masyarakat untuk berkembang, menciptakan inovasi, dan menikmati akses ke berbagai barang dan layanan. Namun, meskipun kapitalisme menawarkan sumber daya material, ia juga menciptakan kegelisahan bagi para peneteknya.

    Tak jarang orang terjebak dalam pola konsumsi yang tak berkesudahan, di mana kemauan dangkal menjadi tujuan utama, sementara dimensi transenden diabaikan.

    Dalam dunia yang terobsesi dengan konsumsi, konsumsi dan konsumsi, tak jarang orang semakin teralienasi.

    Siapa sangka, Amerika Serikat, babon kapitalisme dunia, warganya mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Menurut laporan National Institute of Mental Health (NIMH), sekitar 19% orang dewasa di AS mengalami gangguan kecemasan setiap tahun, dan lebih dari 16 juta orang mengalami depresi besar. Korea Selatan, negara kapitalistis yang paling dipuji-puji saat ini, pada 2022 tercatat sebagai negara dengan angka bunuh diri tertinggi di antara negara-negara OECD.

    Inilah dua wajah kapitalisme. Meskipun menawarkan sumber daya material yang serba ada, tetapi ia sering kali gagal memberikan ketenangan jiwa yang sejati bagi penikmatnya.

  • Oleh Agung Hyt

    Jilbab itu “standar dasar”. Kalau kita jadikan jilbab sebagai “standar istimewa” —pastilah kita akan kecewa. Karena boleh jadi, seseorang beriman dalam pakaian, tetapi sekuler dalam perbuatan. Meskipun begitu, standar dasar haruslah terpenuhi, sebab ia bersifat melekat. Namun, ia tidak untuk dipuji secara berlebihan, apalagi sampai di-istimewakan.

    Sementara itu, standar istimewa ialah suatu mutu lebih lanjut seperti mutu intelektual, etos kerja, dan kemantapan mental. Kalau pemahaman tentang standar dasar dan istimewa ini dipahami, pastilah kita akan terhindar dari keadaan kecewa karena penilaian yang keliru.

    Singkatnya, saya ingin katakan, standar dasar dan standar istimewa adalah dua hal berbeda.

  • Oleh Agung Hyt

    Kalau kita tak mampu menjelaskan klaim dalam detail, artinya kita bingung.

    Ketika kita hanya bisa membicarakan klaim tanpa bisa menjelaskan dengan jelas dan rinci, itu menunjukkan bahwa kita sendiri tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang apa yang kita katakan.

    Orang yang bingung terkadang tidak menyandarkan ucapan dan perbuatannya pada pengetahuan yang utuh, melainkan hanya pada keyakinan yang tidak teruji.

    Klaim sejati harus bisa disampaikan secara detail dan terstruktur, bukan hanya berdasarkan keyakinan atau intuisi yang belum teruji. Hanya dengan pemahaman yang jelas dan argumentasi yang rinci, kita bisa menunjukkan bahwa klaim kita didasari pada pengetahuan yang solid, bukan sekadar asumsi atau perasaan.

    Ketika kita bisa menjelaskan suatu klaim dengan mendalam, kita juga menunjukkan bahwa kita benar-benar menguasai topik tersebut, bukan hanya sekadar berbicara dari perasaan atau dugaan belaka. Ketika seseorang hanya mengandalkan keyakinan mentah tanpa pengujian yang mendalam, itu menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar memahami apa yang ia ucapkan.

    Keyakinan tanpa pemahaman pastilah rapuh, dan bisa dengan mudah runtuh ketika dihadapkan dengan pertanyaan atau tantangan yang memerlukan analisis lebih jauh. Itulah sebabnya, kemampuan untuk mendalami dan menguji keyakinan adalah esensi dari pengetahuan yang sahih dan dapat diandalkan.

    Inilah prinsip pengetahuan modern yang dibawa oleh abad Renaisans: penekanan pada pembuktian, eksperimen, dan pemahaman yang mendalam.

    Zaman Renaisans menekankan pentingnya memisahkan antara kepercayaan yang belum teruji dengan pengetahuan yang teruji, membuka jalan bagi ilmu pengetahuan yang berbasis pada pembuktian dan observasi. Ini adalah fondasi yang membentuk cara kita berpikir saat ini, di mana setiap klaim harus diuji dengan cara yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Sebagai pribadi yang dilimpahi potensi akal, kita harus berani menguji keyakinan kita, tidak hanya menerima begitu saja apa yang kita dengar atau apa yang kita yakini. Pengetahuan yang hakiki datang dari kemampuan untuk menguji dan menganalisis, bukan sekadar memercayai tanpa dasar. Dengan cara ini, kita bisa menghindari kebingungan dan memastikan bahwa apa yang kita katakan atau percayai benar-benar berdasarkan pemahaman yang mendalam dan teruji.

  • Oleh Agung Hyt

    Orang-orang bilang, apa yang disebut sebagai “lagu indie” adalah lagu autentik dan mendalam. Orang mengira itulah tingkatan ekspresi filosofis-reflektif paling memesona —sebab ia memakai diksi yang gagah dan ditekuk-tekuk dikemas dalam alunan musik folk.

    Memang, sebagian dari lagu-lagu indie bersifat revolusioner-progresif. Tidak sedikit lagunya berangkat dari kritik akurat atas fenomena ganjil sospolhum. Di titik ini, kita harus mengapresiasi.

    Tapi, untuk sebagian lainnya, awak kok tak melihat apa yang disebut autentik itu. Awak tak melihat kedalaman dan kejujuran di situ. Justru awak melihat ada hasrat “asal asik a la borju-liberal” yang diekspresikan melalui ke-indie-an. Hal ini ditandai dengan mengkarut-marutkan ucapan, melancang-lancangkan perbuatan. Awak menengok, semua itu dilakukan bukan karena keadaan alami, apalagi autentik, tetapi semata-mata buat membangun citra “saya orang santai” dan “saya orang bebas.”

  • Oleh Agung Hyt

    Ia tiba di kontrakan menjelang pukul 20.00 WIB. Setelah seharian bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Tanah Abang.

    Ia membersihkan badannya yang kotor dan beraroma kambing busuk. Aroma busuk itu yang membuat orang-orang di pasar najis berdekat-dekat dengan dirinya, termasuk mereka yang memerlukan jasanya.

    Setelah cukup segar dan aroma busuk tubuhnya hilang, ia duduk bersila di atas karpet tempat tidur. Matanya terpejam. Ia resapi sendi-sendi tubuhnya yang hampir lepas karena seharian mengangkat beban puluhan kilogram, naik turun tangga, mengikuti arahan si pengguna jasa, persis seperti kerbau di sawah.

    Beberapa jurus kemudian, setelah dadanya terasa cukup lapang, ia membuka mata perlahan-lahan. Kemudian, tangannya meraih buku yang ia beli tiga hari lalu di toko buku loak di Kramat Kwitang. Ia membacanya. Tak sampai dua puluh halaman matanya mulai terkulai. Ia bertahan untuk beberapa menit. Di halaman ke dua puluh tiga, tubuhnya tak kuasa menahan diri, ia tersungkur lembut di atas karpet, lalu tertidur.

    Puluhan jurus kemudian ia berada di sebuah taman, tempat yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ia berjalan menyusuri taman hingga sebuah papan nama menghentikan langkahnya. Tertulis di sana: Kannenfeld Park. Sekarang ia tahu sedang ada di mana, di kota Basel. Tepatnya di distrik St. Johann, kota Basel, Swiss.

    Kannenfeld Park adalah taman terbesar di kota Basel. Kota ini tumbuh dalam kompleksitas sejarah. Di timur Kannenfeld Park mengalir sungai Rhein, sungai terpanjang di Eropa. Turun ke bawah sedikit berdiri megah Universität Basel. Dekat dari situ ada situs bersejarah Basilisken-Brunnen. Kota Basel berada di perbatasan tiga negara: Swiss, Jerman dan Prancis.

    Ia meneruskan langkah menyusuri taman. Ia melihat seorang laki-laki berkumis tebal sedang berdiri memandangi Le Monument Aux Morts. Sebuah monumen peringatan tewasnya tentara Prancis melawan Prusia pada 1870-1871. Laki-laki berkumis itu perlahan menoleh dan memanggil pemuda itu dengan isyarat tangan. Sang pemuda mendekat mencoba memastikan siapa gerangan di sana. Ia terkejut karena laki-laki berkumis itu mirip seorang pemikir besar abad sembilan belas. Mirip sekali. Kumis macam tanduk mungil, rambut klimis, tampilan necis. Gambar orang ini banyak tersebar di internet. Hari-hari ini, ketika fenomena depresi semakin menggila, ucapan orang ini banyak dikutip sebagai aspirin.

    “Apakah Anda Nietzsche, maksud saya Friedrich Wilhelm Nietzsche?”

    “Tentu. Saya Nietzsche sahabatmu, Bung. Apa kau lupa?”

    Si pemuda mendelik bingung. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa Nietzsche menyebutnya sahabat. Padahal Nietzsche adalah filsuf besar yang banyak dibicarakan di ruang diskusi, di buku-buku, di mana-mana. Seorang filsuf kontroversial.

    Pernah pada tahun 1882, Nietzsche menerbitkan sebuah buku yang di dalamnya terdapat perkataan yang membuatnya menjadi sosok kontroversial sepanjang zaman. Ia berkata, “God is dead —Tuhan sudah mati. God remains dead —Tuhan tetap mati. And we have killed him —Dan kami telah membunuhnya.” Inilah perkataan yang membuat ia dijuluki sang pembunuh tuhan. Julukan paling berani yang pernah disematkan pada manusia.

    Di hadapan pemuda itu, Nietzsche tampak antusias, seperti seorang sahabat yang lama tidak bertemu. Spontan mereka bercakap-cakap layaknya teman lama. Mula-mula si pemuda merasa aneh. Tapi kemudian tak ingin melewatkan momen itu, si pemuda pun mengabaikan perasaannya. Si pemuda melanjutkan percakapannya bersama Nietzsche. Mereka menikmatinya, hingga di ujung percakapan, mereka terlibat dalam percakapan yang agak sentimental.

    “Apa Bung pernah jatuh cinta,” tanya Nietzsche.

    “Pernah.”

    “Satu kali?”

    “Ya. Tapi, katakanlah itu hanya cinta tak sampai, karena tak pernah kunyatakan.”

    “Kenapa?”

    “Perhatianku terlalu besar untuk diriku.”

    “Bukankah itu artinya Bung dikuasai ego?”

    “Apa begitu?”

    “Apa Bung telah mempersiapkan diri menjomlo selamanya?”

    Si pemuda terdiam. Kikuk.

    “Tapi, Nietzs,” katanya, “Sebenarnya aku memiliki pendapat lain soal ini.”

    “Maksudmu?”

    “Kau pernah menulis dalam Ecce Homo bahwa permintaan untuk dicintai adalah jenis arogansi paling besar. Kupikir, perkataanmu itu ada benarnya.”

    “Lalu?”

    “Bukankah itu artinya ego menguasai jiwa orang-orang yang menuntut untuk dicintai. Aku tidak menuntut siapa pun mencintaiku.”

    “Tapi, Bung, sesungguhnya Ecce Homo kutulis dengan perasaan angkuh. Aku marah karena tidak ada wanita yang mau menemani laki-laki gila sepertiku, sampai menjelang kematianku. Rasa kecewa itu kumuntahkan dalam Ecce Homo. Di sana aku mengimajinasikan diri sebagai manusia paling sempurna —übermensch, manusia soliter yang istimewa, manusia super nan luhur. Kau tahu, hanya orang gila yang mau percaya dan mengutip perkataan omong kosong itu!” Terang Nietzsche.

    “Apakah maksudmu kita ini dua laki-laki gila?”
    Sambil melangkah pergi, dengan senyum kecil, Nietzsche berkata, “Setidaknya kegilaan membuatmu bertahan dalam nasib sial!”

    “Hei! Kau mau ke mana?”

    “Sudah waktunya kau bangun. Orang-orang di pasar menunggu jasamu. Bekerjalah!”

    “Tapi… Tunggu!”

    Nietzsche tak menghiraukan teriakan si pemuda. Ia terus melangkah mendekati sungai Rhein. Si pemuda mengejar. Hingga akhirnya ia menyaksikan Nietzsche perlahan terbang menjadi buliran cahaya jingga, melesat menyusuri sungai Rhein, berbelok tajam ke langit—lalu menghilang. Si pemuda termenung memandangi sungai Rhein. Suara azan yang tak tahu dari mana sumbernya seketika membangunkannya dari mimpi panjang.

  • Oleh Agung Hidayat

    Sebuah video pendek memperlihatkan Hotman Paris (64) menunjukkan sinisme pada Rocky Gerung (65), seorang sarjana filsafat, dengan mengatakan, “Memang filsafat bisa menyelesaikan (perkara) hukum?!”

    Otto Hasibuan (64) yang berada di sampingnya mengatakan, “Filsafat tidak pernah bisa menyelesaikan satu perkara konkret.”

    Bagaimana sebenarnya hubungan filsafat dengan perkara konkret dan selanjutnya bagaimana hubungan hukum dengan filsafat.

    Sebelum membahas lebih jauh, kita mulai dari pertanyaan, apa itu filsafat? Ini perlu dijawab karena tampaknya identitas kefilsafatan yang melekat pada Gerung itulah yang menjadi pokok sinisme Hotman.

    Apa itu filsafat

    Ada bermacam-macam pengertian filsafat menurut ahli, beda kepala beda pula detailnya, tapi saya sandarkan pengertian filsafat di sini pada Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) yang dalam bukunya Pembimbing Ke Filsafat menyebutkan, “…pekerjaan berfilsafat itu ialah berpikir. Hanya makhluk manusia yang telah tiba di tingkat berpikir, yang berfilsafat.”

    Selanjutnya Alisjahbana mengatakan, “…tidak semua atau selalu manusia berpikir itu dapat disebut berfilsafat. … (Karena) berfilsafat ialah berpikir dengan insaf. Yang dimaksud dengan berpikir dengan insaf ialah berpikir dengan teliti, menurut suatu aturan yang pasti.” Kemudian ia mengatakan lagi, “…filsafat memikirkan seluruh alam, seluruh kenyataan.”

    Dalam pengertian yang lain, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan empat poin pengertian filsafat (1) pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya (2) teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan (3) ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi (4) falsafah.

    Dari pengertian di atas dapat disimpulkan filsafat berkait erat dengan aktivitas berpikir atau aktivitas akal. Sehingga hampir tidak mungkin memisahkan antara filsafat dengan (proses) berpikir. Tentu, sebagaimana kata Alisjahbana, jenis berpikir yang dimaksud harus bersifat teliti dan bertanggung jawab.

    Filsafat dan perkara konkret

    Mengacu KBBI, pengertian perkara adalah persoalan, masalah, atau urusan (yang harus diselesaikan atau dibereskan). Sedangkan konkret artinya nyata. Sesuatu yang berwujud, dapat dilihat, diraba, dan sebagainya. Singkatnya, konkret berarti benar-benar ada.

    Maka, perkara konkret dapat diartikan sebagai urusan atau persoalan nyata yang harus diselesaikan atau dibereskan.

    Lalu, apa hubungan filsafat dengan hal tersebut. Di sinilah filsafat mendapat titik gunanya. Filsafat memiliki peran yang signifikan dalam mengeksplorasi, memahami, dan menyelesaikan perkara konkret dalam kehidupan manusia.

    Meskipun filsafat terkadang dianggap sebagai disiplin yang teoritis dan abstrak, namun konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dihasilkan dari pemikiran filosofis dapat memiliki implikasi nyata dalam menangani perkara konkret.

    Filsafat membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat dan sifat dari perkara konkret yang dihadapi. Dengan menyelidiki aspek-aspek filosofis dari suatu masalah, kita dapat mengidentifikasi akar penyebabnya, menganalisis berbagai perspektif, dan memahami implikasi etis dari berbagai tindakan yang mungkin diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

    Selain itu, filsafat memperluas pandangan kita tentang berbagai perkara konkret dengan mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang mendasari pemikiran kita. Dengan mendekonstruksi kerangka pemikiran yang ada, filsafat dapat membuka ruang untuk solusi-solusi baru yang inovatif dan kreatif untuk masalah-masalah yang sulit.

    Tidak hanya itu, filsafat juga memainkan peran penting dalam merumuskan kebijakan dan hukum yang efektif untuk menangani perkara konkret. Prinsip-prinsip etis dan filosofis yang dipelajari dari pemikiran filosofis dapat menjadi landasan bagi pembuatan kebijakan yang adil dan berkelanjutan.

    Meskipun tidak selalu memberikan jawaban yang langsung atau solusi yang instan, filsafat membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan berkelanjutan tentang dunia di sekitar kita, sehingga memungkinkan kita untuk menghadapi perkara konkret dengan cara yang lebih bijaksana dan terbimbing.

    Hukum dan filsafat

    Meskipun keduanya secara umum berada dalam domain yang berbeda, tapi secara khusus keduanya memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi, utamanya dalam pemahaman dan pengembangan norma-norma sosial dan sistem hukum.

    Filsafat memberikan fondasi konseptual dan teoretis yang penting bagi hukum. Filsafat membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hak, keadilan, moralitas, dan kebenaran, yang merupakan dasar bagi pembentukan sistem hukum. Misalnya, konsep tentang hak asasi manusia, yang menjadi landasan bagi banyak konstitusi modern, muncul dari refleksi filsafat tentang hak individu dan martabat manusia.

    Selain itu, filsafat juga membantu mempertanyakan asumsi-asumsi dasar di balik hukum dan mengidentifikasi kelemahan atau ketidakadilan dalam sistem hukum yang ada. Dengan mengeksplorasi konsekuensi etis dari undang-undang dan kebijakan, filsafat dapat membantu memperbaiki kekurangan dalam sistem hukum dan mendorong perubahan yang lebih adil.

    Di sisi lain, hukum memberikan konteks nyata bagi penerapan prinsip-prinsip filosofis dalam kehidupan sehari-hari. Sistem hukum mengatur perilaku manusia dan menentukan konsekuensi dari tindakan-tindakan tersebut, dan sering kali didasarkan pada prinsip-prinsip filosofis seperti keadilan, egalitarianisme, atau utilitarianisme. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam praktik, hukum memberikan pengujian nyata terhadap kegunaan dan kebenaran teori-teori filsafat.

    Selanjutnya, ada juga hubungan dua arah (bidirectional relationship) antara filsafat dan hukum, di mana perkembangan dalam satu bidang acapkali merangsang perkembangan dalam bidang lainnya. Misalnya, diskusi filosofis tentang konsep keadilan mungkin menginspirasi reformasi hukum untuk memperbaiki ketidakadilan sistematis dalam masyarakat.

    Relasi antara filsafat dan hukum merupakan interaksi yang kompleks dan dinamis, di mana keduanya saling mempengaruhi dan memperkaya satu sama lain. Filsafat memberikan landasan konseptual untuk pemahaman dan evaluasi sistem hukum, sementara hukum memberikan konteks praktis bagi penerapan prinsip-prinsip filosofis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami hubungan yang erat antara keduanya, kita dapat lebih baik menghargai kompleksitas norma-norma sosial dan sistem-sistem keadilan yang membentuk masyarakat kita.

    Fungsi etis

    Herman Allositandi, OC Kaligis, Yosef Parera. Apa yang terlintas dalam pikiran ketika membaca tiga nama tersebut? Ya, nama di atas hanyalah tiga dari sekian contoh nyata kegersangan dunia hukum.

    Menengok kenyataan itu, boleh kita khawatir, perkara konkret yang diajukan ke meja hukum mungkin saja diproses oleh pribadi-pribadi yang diragukan keinsafannya.

    Pada awal tulisan ini telah disebutkan berfilsafat artinya berpikir dengan insaf, yaitu berpikir dengan teliti menurut aturan yang benar. Kalau seseorang tidak berpikir dengan teliti, apalagi melanggar aturan yang benar, sukar bagi seseorang itu sampai pada derajat berfilsafat dengan insaf.

    Alisjahbana dalam buku yang sama menegaskan, “Seseorang berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya se-insyaf²nya, sesentral²nya dengan perasaan bertanggungjawab. Bukan bertanggungjawab kepada “si Amat” dan “si Wongso”, tapi kepada pokok, kepada dasar hidup yang sedalam²nya, baik ia yang dinamakan Tuhan atau alam, atau kebenaran.”

    Kemudian kita bertanya lagi, apa guna filsafat? Kepatuhan berpikir teliti, lurus, dan bertanggungjawab yang diharuskan dalam berfilsafat itulah yang dapat menempa seseorang untuk berintegritas sejak dalam pikiran. Sejak dari jiwanya yang paling dalam.

    Nb: Esai ini sebelumnya telah terbit di nalarpolitik.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai