Oleh Agung Hyt
Sejak awal puasa sampai sekarang, entah udah berapa jam hidupku kuhabiskan menonton Para Pencari Tuhan di YouTube. Padahal sebelumnya, jangankan menonton, melirik pun aku malas. Sinetron tak mutu, bisikku dalam hati. Tapi begitu kutonton satu episode, rasanya seperti tersedot masuk ke dunia mereka. Setiap karakter muncul dengan keunikannya sendiri, seolah-olah mereka datang mengetuk pintu pikiranku dan berkata, “Kau harus lanjut nonton!”
Dari semua tokoh, Asrul jadi pusat perhatianku. Begitu dia muncul, alur cerita serasa punya gravitasi baru. Konsisten benar perangainya: cerewet, senang nasihati orang lain, dan kadang sok bijak sampai-sampai aku menahan napas antara ingin tertawa atau ingin menegurnya dari balik layar.
Di setiap jilid, Asrul tetaplah Asrul. Hidup susah dia mengeluh, sambil gemar menasihati orang lain. Hidup lapang pun dia tetap gemar mengeluh dan menasihati siapa pun yang lewat, seakan dunia tak akan selamat tanpa petuah-petuahnya. Istrinya, Ka’ Mira, seperti malaikat kesabaran yang turun langsung ke bumi, mencoba menuntunnya agar lebih tenang dan bijak. Namun nasihat Ka’ Mira itu ibarat angin lewat.
Awak sekarang paham, ternyata, ujian kemiskinan dan ujian kemakmuran tak membuat Asrul menjadi bijaksana dan pandai membawa diri.