Oleh Agung Hyt
Ia tiba di kontrakan menjelang pukul 20.00 WIB. Setelah seharian bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Tanah Abang.
Ia membersihkan badannya yang kotor dan beraroma kambing busuk. Aroma busuk itu yang membuat orang-orang di pasar najis berdekat-dekat dengan dirinya, termasuk mereka yang memerlukan jasanya.
Setelah cukup segar dan aroma busuk tubuhnya hilang, ia duduk bersila di atas karpet tempat tidur. Matanya terpejam. Ia resapi sendi-sendi tubuhnya yang hampir lepas karena seharian mengangkat beban puluhan kilogram, naik turun tangga, mengikuti arahan si pengguna jasa, persis seperti kerbau di sawah.
Beberapa jurus kemudian, setelah dadanya terasa cukup lapang, ia membuka mata perlahan-lahan. Kemudian, tangannya meraih buku yang ia beli tiga hari lalu di toko buku loak di Kramat Kwitang. Ia membacanya. Tak sampai dua puluh halaman matanya mulai terkulai. Ia bertahan untuk beberapa menit. Di halaman ke dua puluh tiga, tubuhnya tak kuasa menahan diri, ia tersungkur lembut di atas karpet, lalu tertidur.
Puluhan jurus kemudian ia berada di sebuah taman, tempat yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ia berjalan menyusuri taman hingga sebuah papan nama menghentikan langkahnya. Tertulis di sana: Kannenfeld Park. Sekarang ia tahu sedang ada di mana, di kota Basel. Tepatnya di distrik St. Johann, kota Basel, Swiss.
Kannenfeld Park adalah taman terbesar di kota Basel. Kota ini tumbuh dalam kompleksitas sejarah. Di timur Kannenfeld Park mengalir sungai Rhein, sungai terpanjang di Eropa. Turun ke bawah sedikit berdiri megah Universität Basel. Dekat dari situ ada situs bersejarah Basilisken-Brunnen. Kota Basel berada di perbatasan tiga negara: Swiss, Jerman dan Prancis.
Ia meneruskan langkah menyusuri taman. Ia melihat seorang laki-laki berkumis tebal sedang berdiri memandangi Le Monument Aux Morts. Sebuah monumen peringatan tewasnya tentara Prancis melawan Prusia pada 1870-1871. Laki-laki berkumis itu perlahan menoleh dan memanggil pemuda itu dengan isyarat tangan. Sang pemuda mendekat mencoba memastikan siapa gerangan di sana. Ia terkejut karena laki-laki berkumis itu mirip seorang pemikir besar abad sembilan belas. Mirip sekali. Kumis macam tanduk mungil, rambut klimis, tampilan necis. Gambar orang ini banyak tersebar di internet. Hari-hari ini, ketika fenomena depresi semakin menggila, ucapan orang ini banyak dikutip sebagai aspirin.
“Apakah Anda Nietzsche, maksud saya Friedrich Wilhelm Nietzsche?”
“Tentu. Saya Nietzsche sahabatmu, Bung. Apa kau lupa?”
Si pemuda mendelik bingung. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa Nietzsche menyebutnya sahabat. Padahal Nietzsche adalah filsuf besar yang banyak dibicarakan di ruang diskusi, di buku-buku, di mana-mana. Seorang filsuf kontroversial.
Pernah pada tahun 1882, Nietzsche menerbitkan sebuah buku yang di dalamnya terdapat perkataan yang membuatnya menjadi sosok kontroversial sepanjang zaman. Ia berkata, “God is dead —Tuhan sudah mati. God remains dead —Tuhan tetap mati. And we have killed him —Dan kami telah membunuhnya.” Inilah perkataan yang membuat ia dijuluki sang pembunuh tuhan. Julukan paling berani yang pernah disematkan pada manusia.
Di hadapan pemuda itu, Nietzsche tampak antusias, seperti seorang sahabat yang lama tidak bertemu. Spontan mereka bercakap-cakap layaknya teman lama. Mula-mula si pemuda merasa aneh. Tapi kemudian tak ingin melewatkan momen itu, si pemuda pun mengabaikan perasaannya. Si pemuda melanjutkan percakapannya bersama Nietzsche. Mereka menikmatinya, hingga di ujung percakapan, mereka terlibat dalam percakapan yang agak sentimental.
“Apa Bung pernah jatuh cinta,” tanya Nietzsche.
“Pernah.”
“Satu kali?”
“Ya. Tapi, katakanlah itu hanya cinta tak sampai, karena tak pernah kunyatakan.”
“Kenapa?”
“Perhatianku terlalu besar untuk diriku.”
“Bukankah itu artinya Bung dikuasai ego?”
“Apa begitu?”
“Apa Bung telah mempersiapkan diri menjomlo selamanya?”
Si pemuda terdiam. Kikuk.
“Tapi, Nietzs,” katanya, “Sebenarnya aku memiliki pendapat lain soal ini.”
“Maksudmu?”
“Kau pernah menulis dalam Ecce Homo bahwa permintaan untuk dicintai adalah jenis arogansi paling besar. Kupikir, perkataanmu itu ada benarnya.”
“Lalu?”
“Bukankah itu artinya ego menguasai jiwa orang-orang yang menuntut untuk dicintai. Aku tidak menuntut siapa pun mencintaiku.”
“Tapi, Bung, sesungguhnya Ecce Homo kutulis dengan perasaan angkuh. Aku marah karena tidak ada wanita yang mau menemani laki-laki gila sepertiku, sampai menjelang kematianku. Rasa kecewa itu kumuntahkan dalam Ecce Homo. Di sana aku mengimajinasikan diri sebagai manusia paling sempurna —übermensch, manusia soliter yang istimewa, manusia super nan luhur. Kau tahu, hanya orang gila yang mau percaya dan mengutip perkataan omong kosong itu!” Terang Nietzsche.
“Apakah maksudmu kita ini dua laki-laki gila?”
Sambil melangkah pergi, dengan senyum kecil, Nietzsche berkata, “Setidaknya kegilaan membuatmu bertahan dalam nasib sial!”
“Hei! Kau mau ke mana?”
“Sudah waktunya kau bangun. Orang-orang di pasar menunggu jasamu. Bekerjalah!”
“Tapi… Tunggu!”
Nietzsche tak menghiraukan teriakan si pemuda. Ia terus melangkah mendekati sungai Rhein. Si pemuda mengejar. Hingga akhirnya ia menyaksikan Nietzsche perlahan terbang menjadi buliran cahaya jingga, melesat menyusuri sungai Rhein, berbelok tajam ke langit—lalu menghilang. Si pemuda termenung memandangi sungai Rhein. Suara azan yang tak tahu dari mana sumbernya seketika membangunkannya dari mimpi panjang.