Oleh Agung Hidayat
Dulu di desa kita sering mendengar celotehan anak-anak tentang kota dan segala isinya. Apabila ada seorang anak yang baru pulang dari kota, ia akan bercerita tentang kemegahan dan kemajuannya. Sementara bagi anak desa yang tak pernah menyentuh kota–apalagi sekadar buat liburan–hanya tertegun mendengar ceritanya.
Kenapa anak-anak desa begitu merindukan kota, sesuatu yang kadang ia tak pernah melihatnya?
Sejarah umat manusia dimulai dari ‘kampung’, dari ketiadaannya ‘kota’. Tatkala Allah turunkan Adam ke bumi, Adam hanya bertemu dengan tanah, hutan, batu dan laut. Sampai ia bertemu dengan Hawa, memiliki anak-anak, dan mereka bertani. Tak ada kota dan tak ada pakaian branded. Hal ini berlangsung setidaknya sampai Aleppo dibangun pada 3.000 tahun sebelum masehi sebagai kota pertama di dunia.
Pada posisi ini, kita tidak menghujat kota dan tidak membela desa (baca, kampung) ataupun menolak mentah-mentah kemodernan. Karena kota ataupun desa adalah bagian daripada peradaban dunia saat ini. Yang menjadi pembahasan kita berhubungan dengan narasi ‘peradaban’ itu. Menurut an-Nabhni, “peradaban hakikatnya adalah kumpulan pemahaman (pandangan hidup) tentang kehidupan dan metode kehidupan yang khas“.
Kata kuncinya ada pada ‘pandangan hidup’ dan ‘metode kehidupan yang khas’. Mengindikasikan bahwa ‘siapa’ yang mendominasi suatu peradaban maka otomatis ia juga memengaruhi pandangan hidup khalayak pada umumnya. Atau dalam istilahnya disebut hegemoni. Peradaban saat ini didominasi oleh pandangan hidup sekulerisme-materialisme, memisahkan antara kepentingan dunia dan akhirat serta berpaham kebendaan. Dari sana lahirlah pandangan ‘mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya’ dan pandangan ‘setiap individu berhak berlaku sebebasnya’.
Budaya modern dengan nilai kesenangan dan kebebasan memiliki ciri-cirinya sendiri. Misalnya, ketika standar kecantikan telah diatur sedemikian rupa oleh iklan. Pakaian branded menjadi standar dalam berteman. Tempat nongkrong yang menentukan kelas komunitas. Serta berpandangan segala pemenuhan nafsu pribadi adalah bentuk dari pemenuhan kebahagiaan dan hak keberbebasan. Dan kecongkakan-kecongkakan lainnya yang menjamah hampir semua aspek kehidupan.
Di sinilah persoalannya. Saat sebagian kawan-kawan kita di desa ‘mabuk’ dengan budaya kota (baca, yang bernilai kesenangan dan kebebasan tanpa memahami hakikat darinya) serta terseret jauh karenanya. Sehingga memandang sebelah mata desa.
Sebenarnya ada banyak ruang untuk memahami dan mempelajari kehidupan beserta nilai-nilai di dalamnya. Tapi, sebagian dari mereka seakan-akan tak pernah mau mengerti. Bahwa dibalik setiap pakaian branded dan budaya ‘makan ala Eropa’ yang mereka tampilkan ada beban moral yang ditenggelamkan oleh ketaksadaran.
Budaya modern dengan nilai kesenangan dan kebebasan telah merusak hakikat berkehidupan kota. Lebih jauh lagi, budaya ini terbang ke desa menjamah setiap pemuda yang rela menjadi mangsanya. Dengan semangat meyakinkan mereka yang terseret budaya itu mengkomunikasikannya dengan bahasa simbol kepada publik yang tak-berdaya.
Padahal, tanpa orang-orang yang berpangkal dari desa (baca, kampung), ibu kota pun takkan dapat tumbuh menjulang. Kini, kita tersayat melihat anak-anak desa yang mabuk dengan budaya kota. Segala standar disandarkan pada yang pseudo dan kebendaan, dengan wawasan historis yang minim dan tumpulnya kemampuan refleksi-filosofis.
Sangat mengkhawatirkan ketika pandangan-pandangan itu mewujud dalam tingkah laku, pakaian, makanan dan gaya hidup anak-anak desa. Tapi, lebih mengkhawatirkan lagi apabila itu mengakar dan menjadi ideologinya.
Sebagai refleksi. Mari kita baca perlahan-lahan puisi Najwa Shihab di bawah ini:
Tuhan menciptakan desa-desa, manusia yang membangun kota-kota. Kita pada dasarnya anak desa yang merantau, yang pergi ke tanah impian yang tak terjangkau.
Asal-usul selalu dipanggul ke mana-mana, ibarat cangkang di punggung kura-kura. Yang tahu kapan saatnya kembali ke kampung halaman, karena kacang memang tak boleh lupa pada lanjaran.
Menjadi anak kampung yang memandang seluas cakrawala, si udik yang tak sungkan untuk menjangkau ujung dunia.
Mampu bangkit dari kegagalan yang tak terkira, meniti pencapaian yang niscaya akan tiba. Kita semua anak-anak dari masa silam, yang sedang bergerak menuju yang menjelang.
Yang merentangkan batas-batas sejauh mungkin, kita adalah anak panah yang dilesatkan angin.

Tinggalkan komentar