• Ujungbatu

    Oleh : agung h.

    masih ku ingat, tubuh kurusmu

    binar tajam serupa mata elang

    pohon-pohon semampai, muara nyawa orang-orang desa

    saat beduk telah di tabuh, segala yang zahir terperangkap dalam sunyi

    kita berlari, mengulangi mencari setitik cahaya yang masih tersisa

    beduk berdentang lima kali, tak luput gelagak tawa mengundang amarah

    aku tak peduli

    di persayapan gereja tua, akal polos tak faham waktu pulang

    amarah menggelegar, menerbangkan segala yang ada

    induk semang tak jua faham, rekat adalah isyarat

    hingga suatu waktu Ujungbatu mencurimu

  • LA TAHLA

    Oleh: agung hidayat

    sewordteam.net

    Adalah hal yang manusiawi jika manusia mengalami fase kemengeluhan. Tapi bagaimana jika mengeluhnya berlarut-larut, disebabkan suatu keinginannya yang tidak juga terpenuhi. Sampai-sampai anda mengutuk setiap yang anda lihat, dan memaki tanpa arah. Siapa yang dapat menjamin bahwa setiap keinginan seseorang dapat terpenuhi? Disamping baik buruknya keinginan tersebut. Bahagiakah anda dengan kondisi seperti ini? Jika anda katakan sudah ada jaminan maka tidak perlu melanjutkan membaca tulisan ini. silakan anda tidur, dan menunggu sampai seluruh keinginan dalam hidup anda itu terpenuhi. Tapi jika sebaliknya, sediakan kopi untuk menemani anda sembari membaca tulisan receh ini.

    Menurut J. Fichte, secara prinsipil manusia adalah makhluk moralis yang di dalamnya mengandung suatu perjuangan atau usaha[1]. Dalam konteks ini manusia perlu membatasi dirinya dari keinginan-keinginan yang di luar nalar dan merampas hak orang lain. Pembatasan ini termasuk kedalam suatu usaha, usaha untuk menjaga diri dari membuat orang lain terganggu. Itulah sebabnya kehendak yang tanpa batas itu dibatasi oleh hak orang lain. Jika manusia bersikeras untuk memenuhi seluruh kehendaknya maka yang timbul kemudian adalah rasa kecewa dan penderitaan.

    Bukankah Ali R.A telah mengingatkan bahwa dalam kehidupan sosial khususnya berteman dan bersahabat, ada batas dan hak. Antara lain beliau berkata “salah satu kemuliaan manusia adalah menangisi hari-hari kehidupannya yang telah berlalu dengan lalai; kemuliaan lainnya adalah mencintai tanah airnya, dan yang ketiga adalah menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabatnya yang lama.”[2]

    Itu adalah sebagian contoh bahwa manusia harus menjaga dirinya dari keinginan yang berlebihan, terlebih keinginan yang merampas hak orang lain. 

    Al-Ghozali[3] di dalam salah satu bukunya membahas mengenai keharusan manusia membatasi diri dari angan-angan yang berkepanjangan. Tulisannya didasarkan pada perkataan Rasulullah dan sahabat-sabahat. Beliau mengatakan bahwa sebab dari angan-angan yang berkepanjangan adalah kebodohan dan cinta dunia. Jika manusia memiliki sifat yang seperti itu maka ia akan malas berpikir tentang kematian, sehingga tenggelamlah ia dalam pandangan yang serba dunia.

    “Tak seorang pun yang dapat memuaskan hasratnya; sebab satu hasrat hanya akan disusul oleh hasrat lainnya.”

    Keinginan yang saya maksud di kalimat pertama tidak lain adalah hasrat itu sendiri. Suatu keinginan yang di dorong oleh hawa nafsu tanpa melalui proses berpikir.

    Memang benar, bagaimana pun jauhnya keinginan manusia akhir darinya adalah cita-cita untuk sebuah kebahagiaan. Namun, keinginan yang tidak terkendali justru akan menimbulkan akibat yang sebaliknya. Allamah Kamal Faqih Imani[4], mengatakan di dalam bukunya atas tafsir Surah Yunus ayat 108, bahwa kebahagiaan dan penderitaan berada dalam kehendak manusia itu sendiri. Manusia yang menentukan indikator kebahagiaan dirinya, dan ia pula yang menentukan bagaimana cara dalam mencapai kebahagiaan itu. Dilembar selanjutnya beliau menulis sabda Rasulullah, yang ia kutip dari Najh al-Falshahah, hal. 375, “kebahagiaan yang sempurna akan tercapai jika seluruh hidup seseorang dihabiskan untuk mengabdi kepada Allah.”

    Legowo adalah kunci lain dari kebahagiaan itu. Kita bisa saja melakukan apa pun yang kita inginkan, tetapi ingat disana ada tanggung jawab sosial. Kebahagiaan itu bisa datang tidak harus dengan memenuhi seluruh hasratmu. Dalam pandangan yang lain, yaitu dengan membagi separuh dirimu untuk orang lain, dalam arti singkat saling berbagi manfaat. Nietzche menyatakan, manusia sebagai makhluk moralis memperlakukan dirinya bukan sebagai individum tetapi sebagai dividum (keterbagian). Menurutnya dengan melakukan aktifitas sosial manusia bisa memperoleh kesenangan selain kesenangan yang berasal dari dirinya sendiri.[5]

    Apabila ada hal dalam hidupmu yang sampai saat ini belum terpenuhi, jangan bersedih apalagi mengeluh. Mulai lah melihat hidup dari sisi yang lain. Mengikuti cara pandang manusia pada umumnya hanya akan membuatmu lelah dan kecewa. Keinginan atas sesuatu ada baiknya engkau timbang kembali, meletak harapan pada dunia tidak sepasti meletak harapan kepada yang maha Esa.

    Kepustakaan,


    [1] http://antronesia.com/filsafat-manusia/

    [2] Syekh ZA Qurbani Lahiji, Risalah Sang Imam: Ajaran Etika Ali bin Abi Thalib hlm. 332

    [3] Al-Ghozali, Metode Menjemput Maut: Menyikapi Kematian dalam Perspektif Sufistik edisi terjemahan Indonesia hlm. 47

    [4] Allamah Kamal Faqih Imani, Tafsir Nurul Quran hlm. 371-372

    [5] Friedrich Nietzsche, Mengapa Aku Begitu Pandai

  • Jogja dan Romantisme Plastik

    Oleh: agung h.

    Ini adalah hari ke 5, ephebos tak jua menemukan setitik cahaya.

    Bagaimana kabarmu disana? Sudahkah engkau sembuh dari sakitmu? Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang lebih dari itu.

    Itu malam sedang gelap-gelapnya. Pun di malam itu kami berangkat menuju bumi penghasil pemikir.

    Mungkin engkau tidak akan percaya dengan apa yang ku katakan ini. Tapi terserahmu, ini nyata. Serasa kami sedang menempuh jarak yang amat jauh, dengan suasana yang menjemukan.

    Seingat ‘ku tidak seharusnya selama ini. siapa yang salah? Aku? Engkau? Atau udara yang membiarkan mu dalam kecepatan yang lambat. Seharusnya engkau mengangkat kami dengan awanmu, lalu tiba dalam waktu sepersekian nanodetik.

    Banyak yang tidak dapat ‘ku jelaskan, dan memang aku tidak ingin menjelaskannya. Terlebih lagi menjelaskan hanyalah satu upaya sia-sia manakala fenomena itu tak dalam jangkauan pemahamannya. Benarlah keyakinan orang-orang yang sedang patah hatinya, diam adalah suatu cara terbaik saat engkau berhadapan dengan insanus.

    Tidak jauh berbeda dengan Nietzche dalam buku kecilnya itu, bagaimana ia bernada angkuh sekalipun filosofis.

    Apakah engkau ini ia? Melihat dari arah ketololan yang kau anggap multak benar dengan perkiraan yang keliru.

    Seharusnya engkau melebihi ia, engkau bertuhan, sekalipun malas membaca.

    Ternyata benar apa yang dikatakan oleh orang-orang itu, tanah ini memiliki daya magis yang membuat siapapun merasa nyaman. Suatu dusta jika aku dapat membantahya.

    Dari segi elemen, tidak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya. Ada preman, ada pengemis, ada raja, ada manusia semenjana seperti kita. Santun adalah kata kunci dari tanah ini. Dari mana asalnya?

    Tidak seperti manusia pada umumnya, aku ingin melihat tanah ini dari sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya sekadar menikmati tubuhnya, yang lama-lama menjadi basi.

    Setiap kali aku melangkah keluar dari ruangan-ruangan, aku memikirkan itu. Kesantunan itu darimana asalnya?

    Tidak mungkin suatu kealamiahan. Dalam prinsip berkehidupan, segala sesuatu di dalam sosial kehidupan manusia adalah sebuah rekayasa.

    Kopi hitam yang di campur dengan arang, sebatang rokok yang kucumbui menemani kami malam itu. Disebuah ruas jalan kecil, di dekat istana raja.

    Sejak kecil aku menolak tunduk pada otoritas. Ketidaktundukan itu pada umumnya disebabkan oleh ketidaktahudirian mereka—menabrak batas-batas kemanusiaan dan kebijaksanaan.

    Guru-guru membenci ku, beberapa temanku, dalam pernyataan yang ekstrim bahwa aku menolak di perbudak. Bukankah istana adalah lambang yang ku maksudkan itu.

    Sekali lagi aku ingin melihat tanah ini dari sudut pandang yang lain, yang lebih jujur.

    Apa yang kuinginkan itu tercapai, meskipun hasilnya bertentangan dengan anggapanku ketika dahulu itu.

    Dalam kehidupan yang bebas ini (liberalisasi kehidupan). Masih ada tanah yang bertahan pada prinsip konservatismenya. Ini tidak membuatku terkejut, karena sebelum aku menginjakkan kaki ditanah ini, telah banyakku saksikan kekolotan itu. Kebingunganku tidak lain karena keparadokannya..

    Budaya yang tetap dipegang erat itu justru melahirkan suatu kesantunan yang berujung pada suatu puncak yang sering di elu-elukan oleh manusia—ketentraman. Beberapa orang akan menganggap kesantunan itu adalah buah-buah dari kefeodalan, dan aku bukan mereka. Aku memiliki keadilan pandangan, meskipun tidak taat agama.

    Tapi sayang, keistimewaan itu pincang. Label istimewa itu tidak mampu memobilisasi kawan-kawanku yang pragmatis-sempit untuk menjadi manusia yang berpikir dan berpandangan jauh. Sekalipun gedung-gedung tempat mereka bersekolah tidaklah sembarangan.

    Atau pun anak-anak pejabat keparat yang pura-pura romantis dan bahagia itu. Memamerkan ketololan dunia dan meludahi ajakan berpikir para pemuda berpakaian lusuh. Sudah ‘ku dengar informasinya. Sialnya, induk semangnya adalah penguasa ditanah tempat ibu dan teman-temanku berkehidupan.

    Sebenarnya aku tidak ingin terlihat melankolia. Tapi aku harus jujur, agar siapapun kawan-kawanku dari desa itu yang membaca ini dapat terpukul jiwanya. Bagaimana mungkin, bumi lancang kuning itu dapat merebut percaturan, jika faktanya begini. Suatu kesedihan yang teramat bagiku daripada melihat babi yang disembelih oleh tukang jagal.

    Tak akan lelah-lelahnya aku menanti. Menanti sekelompok atau seorang saja yang memiliki pandangan jauh dan menolak ketololan dunia untuk ‘ku pinang menjadi teman seperjuangan.

  • Ibadat Transitif, Dari Pelaminan Ke Pergerakan

    Oleh: agung h.

    Delaware art museum

    Pada waktu-waktu yang lalu ada suatu peristiwa yang membuat ku tergerak untuk menulis ini, bagaimana detailnya biarlah kami yang tahu.

    Kita mulai dari satu kata yang sering dibicarakan orang “takdir”. Jika seluruh gerak hidup manusia memiliki takdirnya maka tak perlulah ada orang-orang yang berjuang siang malam di luar sana—buat mengangkat derajatnya. Bisakah kau jelaskan agar akal ku tunduk, jika aku salah menumbuhkan cinta dalam hatimu, maaf. Andaikan takdir yang kau maksud adalah segala apa-apa telah menjadi kehendak Tuhan, termasuk dalam hal percintaan, lalu kenapa Tuhan memberi kehendak pada manusia untuk memilih?

    Aku mengerti engkau ingin semuanya dalam garis yang baik dan benar, tetapi tidak harus dengan cara yang normatif dan tidak bijaksana. Aku meyakini manusia memiliki kehendak untuk memilih setiap hal dalam hidupnya, sebagaimana fitrah yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Timbang lah sekali lagi, jangan kukuh dalam prinsip yang meremukkan hatiku. Tidakkah engkau melihat pemuda hijrah di luar sana, yang katanya setiap gerak dan keputusannya adalah atas kesadaran ketuhanan, tapi seringkali mereka lupa bahwa kesadaran ketuhanan harus di barengi dengan kesadaran kemanusiaan. Dalam artian manusia memiliki kewajiban beribadat kepada yang maha transenden, dan manusia juga memiliki kewajiban sosial—memberi makan manusia lain yang sedang kelaparan, misalnya.

    Sebagai manusia yang meyakini bahwa kesadaran ketuhanan adalah hal yang penting, aku tidak pula dapat menyingkirkan kesadaran kemanusiaan sebagai sesuatu hal yang harus, aku dan engkau memiliki hak untuk di cintai baik secara terbuka atau bisu. Misalnya hal ini membuat mu risih, bukankah seharusnya engkau berkata apa adanya. Tapi lihat betapa engkau bimbang untuk berkata tegas atas apa yang engkau rasakan.

    Dari kampung hingga kota aku melihat ribuan peristiwa kemanusiaan yang menyayat hati, seiring dengan itu aku menyaksikan kebaikan Tuhan melalui tangan-tangan yang sadar kemanusiaan, aku tidak dapat bersikap naif sebagaimana pada umumnya kawan-kawan ku yang baru saja hijrah. Engkau harus melihat hidup ini dari sudut pandang yang adil dan jujur, bahwa ada kewajiban kemanusiaan di sana.

    Sementara pertautan antara dua insan hanyalah bagian kecil dari kewajiban yang lebih besar.

    Mencintaimu bermula dari pikiran, pikiran itu bergejolak dan mengamuk, meski pun tidak dapat ku nafikkan bahwa ada pula hal-hal simbolik tertentu yang menjadi pemantik. Tetapi pikiran yang mengamuk itu kemudian menumbuhkan sesuatu di dalam hatiku yang tidak dalam otoritas ku.

    Jika pertautan itu sampai kepada ikatan yang lebih sakral dan benar menurut kaidah-kaidahnya, maka mari kita bentuk anak-anak yang bukan hanya memiliki kesadaran ketuhanan tetapi juga kesadaran kemanusiaan. Disamping kita pun terjun dalam pergerakan yang rapi. Bukankah itu sedikit lebih bijaksana dari apa yang dicita-citakan oleh mereka–memiliki keluarga romantis yang dalam hakikatnya semu.

    Dan jika engkau berkenan untuk menyelaminya, engkau akan tahu bahwa orang pergerakan tidak ‘sekering’ yang mereka pikirkan. Hanya saja kadang mereka berpendapat, segala bentuk keromantisan hanyalah bersifat semu, selain kepada-Nya. Bahasa puitik dan sikap romantik hanyalah bunga yang memaksakan dirinya untuk harum, tidak kurang dan tidak lebih.

    Transitif adalah kata yang dipakai oleh Ansari Yamamah dalam buku “Islam Transitif: Filsafat Milenial” yang berarti Islam itu harus bergerak keluar memberi manfaat kepada sekelilingnya

  • Hikmah Kosmopolit dalam Narasi Astronomik Carl Sagan

    oleh: agung hidayat

    come delle pagine bianche

    Pada 14 februari 1990, wahana antariksa voyager I berhasil mengambil gambar bumi kita dari jarak 6 miliar kilometer. Awalnya gagasan konyol itu dikemukakan oleh seorang astronom asal Amerika Serikat, Carl Edward Sagan. Sebenarnya ia paham betul bahwa dari jarak sebegitu jauh bumi akan terlihat seperti noda kecil dan tidak menarik, sehingga mengambil gambar itu seperti suatu hal yang buang-buang duit. Namun ia memiliki alasan lain yang moralis yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan ilmiah.

    Hingga hari ini gambar itu dikenal sebagai “Pale Blue Dot” atau Titik Biru Pucat. Dibawah ini kutipan narasi itu yang saya ambil dari wikipedia:

    Dari jarak sejauh ini, Bumi tidak lagi terlihat penting. Namun bagi kita, lain lagi ceritanya. Tataplah lagi titik itu. Titik itulah yang dinamai ‘di sini.’ Itulah rumah. Itulah kita. Di satu titik itu semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu dengar namanya, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan perambah, setiap pahlawan dan pengecut, setiap pembangun dan pemusnah peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu dan ayah, anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan penjelajah, setiap guru yang mengajarkan moral, setiap politisi busuk, setiap superstar, setiap pemimpin besar, setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah spesies manusia hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.

    Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya arena kosmik. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan maharaja sehingga dalam keagungan dan kejayaan itu mereka dapat menjadi penguasa sementara di sebagian kecil dari titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa siap mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa bergejolak kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

    Bumi adalah satu-satunya dunia, sejauh ini, yang diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya sampai beberapa waktu ke depan, yang bisa dijadikan tempat tinggal. Ada yang bisa kita kunjungi, tetapi belum ada yang bisa kita tinggali. Suka atau tidak, untuk saat ini, Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah sebuah pengalaman yang menumbuhkan kerendahan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini. Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenal selama ini.Carl Sagan

    Ketika pertama kali mendengar dan membaca narasi Pale Blue Dot tubuh saya sedikit merinding. Bayangkan kita hanyalah sesuatu yang lebih kecil dari debu hidup diantara triliunan juta benda dan makhluk di alam semesta ini. Ditengah kemungilan kita itu masih saja ada yang bersikap angkuh dan tidak tahu diri. Menindas dan membunuh sesama manusia tanpa belas kasihan. Hanya untuk kepentingan diri sendiri dan sebagian kelompok. Menekan orang kecil dengan sistem ekonomi yang rumit, sehingga hanya kapitalis-lah yang dapat semakin berjaya. Saya tidak akan fokus membahas mengenai kerendahan hati yang telah ditulis dengan jelas oleh Carl Sagan. Dalam hal ini saya akan menulis tentang keharmonian antar umat manusia, yang sebagian sumber hikmahnya kita petik dari narasi Pale Blue Dot.

    Itulah rumah. Itulah kita…Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan perambah, setiap pahlawan dan pengecut, setiap pembangun dan pemusnah peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu dan ayah, anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan penjelajah, setiap guru yang mengajarkan moral, setiap politisi busuk, setiap superstar, setiap pemimpin besar, setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah spesies manusia hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.

    Di paragraf pertama dapat kita renungi makna kosmopolit yang tersirat. Bahwa bumi sebagai panggung kehidupan, bahwa bumi sebagai tempat hidup manusia dengan latar belakang yang beragam, dalam kondisi yang seperti itu tanpa kita sadari kita hidup di satu rumah yang sama, sebuah rumah mungil di hadapan alam semesta. Apa yang ditulis oleh Carl Sagan hanyalah sebagian kecil dari ribuan perbedaan lainnya. Bayangkan di dalam satu komunitas kecil, sebutlah keluarga sudah ada berapa banyak perbedaan di dalamnya. Antara adik dan kakak, antara ibu dan ayah, antara orang tua dan anak. Seolah-olah perbedaan adalah suatu keniscayaan yang memang Tuhan buat untuk alasan tertentu. Tapi lihat kepada fakta, di dalam kehidupan yang remeh, ada seorang teman yang menghina teman lainya karena bertubuh pendek, berwajah jelek, dan dari keluarga yang miskin. Betapa kita tidak menerima perbedaan, sebuah perbedaan yang paling dasar. Padahal di hadapan tata surya, di hadapan galaksi kita hanyalah sesuatu yang lebih kecil dari debu. Tidak ada yang dapat kita banggakan. Namun, keangkuhan manusia seringkali lebih besar dari dirinya, sehingga tidak segan untuk menghina dan merendahkan orang lain. Andaikan kita menyadari dan menerima posisi kita di hadapan alam semesta ini, mungkin kita akan menjadi manusia yang penuh pertimbangan dan bijak perbuatan.

    Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya arena kosmik. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan maharaja sehingga dalam keagungan dan kejayaan itu mereka dapat menjadi penguasa sementara di sebagian kecil dari titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa siap mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa bergejolak kebencian mereka.

    Kutipan paragraf kedua ini menjelaskan kepada kita bahwa minimnya rasa saling memiliki diantara umat manusia secara global. Atas nama teritorial kita rela memusuhi orang yang berada di tanah lain. Padahal kebencian-kebencian itu hanyalah lahir dari duga-dugaan. Pertumpahan darah yang terjadi hari ini merupakan bentuk keangkuhan komunitas kecil, yang dengan modal yang bergudang ia rela membunuh dan menindas orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah jutaan, hanya untuk mempertinggi derajat.

    Sesungguhnya kita adalah komunitas tunggal “kosmopolit”. Bukan komunitas tunggal yang lahir dari kesamaan-kesamaan tetapi sebaliknya.

    Dalam hal ini saya melihat dari sudut pandang kosmopolitisme, seorang dosen Filsafat dari UIN Jogja menuliskan definisi kosmopolitisme di dalam artikelnya “Otfried Hoffe dan Republik Dunia“, yakni kosmopolitisme adalah pandangan yang menyatakan, bahwa kita semua pada dasarnya adalah manusia yang sama, yang merupakan warga dari dunia (Weltbürger) yang sama. Segala perbedaan perlu dilampaui, dan kita perlu melihat diri kita sendiri sebagai manusia di atas tanah dan langit yang sama, tak lebih dan tak kurang.

    Akar pemikiran Kosmopolitanisme berawal dari pikiran filsuf Diogenes pada abad 4 sebelum masehi. Gagasan awalnya adalah Diogenes menyatakan bahwa ‘ia warga dunia’ sebuah gagasan yang berarti setiap individu adalah warga negara yang tidak dapat dibatasi perbedaan ras, budaya, suku, status sosial, termasuk agama.

    Pada abad modern sekitar tahun 1750 sesudah masehi Imanual Kant menulis sebuah esai yang berjudul “Perpetual Peace” yang menyuarakan ‘hak kosmopolitan’ prinsip pemandu untuk melindungi warga dari perang.

    Diatas itu adalah rekam jejak kelahiran paham kosmopolit. Yang inti dari pahamnya adalah untuk mencapai keharmonian secara global. ‘Umat manusia’ adalah narasi pemersatu yang paling tinggi di bumi ini. Kita sering mengucapkan narasi itu, tetapi kita enggan menerapkannya. Kita adalah warga dunia yang memiliki hak untuk hidup damai dan bahagia. Kita adalah warga dunia yang memiliki kewajiban untuk merawat keharmonian umat manusia. Kita tidak ingin dari kejauhan semesta tertawa sinis melihat manusia yang terus bertengkar dan enggan saling membantu padahal dalam keadaan lebih kecil dari debu.

    —–

  • Konsepsi Pembangunan Riau

    oleh: agung hidayat

    Don’t be a “leader”

    Manusia telah memasuki berbagai fase peradaban di dalam perkembangan kehidupannya. Sejak terjadinya revolusi industri pada abad 18 kehidupan modern berkembang begitu pesat tanpa dapat terbendung. Masa modern itu ditandai pula dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, politik, dan teknologi. Hingga hari ini dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0 di mana persaingan semakin ketat dan tanpa wasit. Sehingga perlu bagi setiap negara dan komponennya menyusun strategi agar menjadi negara yang unggul dan maju atau sekurang-kurangnya tidak terdepak dari arena kehidupan.

    Di samping itu, keinginan untuk menjadi unggul dan maju perlu pula dikendalikan agar dalam setiap prosesnya tetap berdasarkan prinsip holistik. Di mana untuk mencapai puncak kemajuan itu tidak mengorbankan bagian lainnya. Sehingga tepatlah apa yang telah disepakati oleh negara-negara dunia terkait Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai barometer pembangunan—memenuhi kebutuhan generasi hari ini tanpa mengorbankan hak generasi di masa mendatang. Yang tujuan dan kesepakatan global itu telah diturunkan ke tingkat nasional dan regional. Pada tahun 2018 telah dikeluarkan pula Rencana Aksi Daerah (RAD) provinsi Riau sebagai penafsiran atas RPJMN tentang indikator-indikator SDGs.

    Dengan memperhatikan visi pemerintah Riau yang tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2019-2024, yaitu “Terwujudnya Riau yang Berdaya Saing, Sejahtera, Bermartabat dan Unggul di Indonesia (Riau Bersatu).” Maka atas dasar itu bidang Kajian Strategis Otonomi Daerah yang kebetulan saya pimpin, menyusun program kerja tahunan secara tertulis agar dalam pelaksanaannya dapat terkendali, sistematis, dan masif. Dengan tetap memperhatikan langkah agar tidak keluar dari rencana pembangunan daerah  yang telah ditetapkan oleh pemerintah provinsi Riau.

    Bidang Kajian Strategis Otonomi Daerah adalah salah satu bidang di dalam tubuh organisasi Himpunan Pelajar Mahasiswa Riau (HIPEMARI) Jakarta. Dilihat dari namanya, tentu kita dapat menebak dengan mudah bahwa bidang ini bertugas untuk melakukan kajian-kajian khususnya mengenai program dan kebijakan pemerintah provinsi Riau. Hasil-hasil kajian ini selanjutnya berfungsi sebagai dasar pandangan umum HIPEMARI terkait provinsi Riau dan dalam menentukan arah gerak organisasi, sehingga tidak bertolak belakang dan justru ikut berkontribusi dan mendukung kemajuan provinsi Riau.

    Dari mukadimah di atas, maka sampailah kita pada satu konklusi, bahwa di mana pun pelajar dan mahasiswa Riau menuntut ilmu tidak boleh ia lupa akan kampung halamannya dan haruslah ada sumbangsih dirinya bagi kemajuan provinsi Riau. Menjadi unggul dan maju tidak dapat dicapai dengan berpangku tangan, setiap komponen harus berjuang keras pada konteks ini khususnya pelajar dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa Riau harus menjadi manusia-manusia unggul baik dalam hal berpikir mau pun ber-aksi, hanya dengan sumber daya manusia yang unggul cita-cita kemajuan itu dapat tercapai. Dan, lebih spesifik lagi, dalam rangka menjaga kewarasan, HIPEMARI harus menjadi wadah berproses bagi pelajar dan mahasiswa Riau di Jakarta, memperdalam kapasitas kedirian dengan melakukan kajian-kajian dan aksi-aksi. Kita yakini dengan sepenuh akal dan hati, selain kapasitas keagamaan sebagai yang utama Riau membutuhkan dua jenis manusia: seorang filsuf atau orang yang berpikir falsafi dan insinyur atau saintis. Filsuf atau orang yang berpikir seperti filsuf bekerja dalam ranah konsep: filosofis, yuridis, dan etis. Insinyur yang ahli dalam sains menurunkan konsep itu ke wilayah yang lebih teknis—maka atas seizin Allah dapatlah terlaksana pembangunan-pembangunan yang berdasarkan konsep tadi. Baik pembangunan material atau non-material.

    Mengingat pelajar dan mahasiswa adalah orang-orang akademis. Maka ada baiknya sumbangsih yang diberikan itu tidak jauh-jauh dari hal tersebut. Sebagai seorang pembelajar kita sering diajarkan supaya mengeluarkan sesuatu sesuai dengan kapasitas kedirian.

    Duduk perkara yang juga sering dikemukan oleh tokoh-tokoh Riau, bahwa Riau memiliki kekayaan alam berlimpah dan histori-nya bukan satu hal yang boleh diabaikan. Namun, ketidaksolidan dan kesempitan berpikir membuat Riau berjalan di tempat.

    Sebagian tokoh menyarankan agar Riau meneguhkan kembali soliditas, kerja kolektif dan rasa saling memiliki menjadi salah satu kunci kemajuan Riau.

    Tokoh lainnya lagi mengatakan bahwa hal yang membuat Riau rapuh di mata nasional adalah karena pemuda dan aktivis Riau miskin pengalaman eksternal. Pemuda dan aktivis Riau sibuk bermain di dalam tapi lupa mengasah diri dengan dunia luar.

    Lalu, muncullah orang nomor satu di Riau mengatakan, ingatan saya merekamnya kurang lebih begini: masa lalu kita memang gemilang, tetapi jangan terjebak dengan masa lalu. Tugas kita sekarang adalah melakukan inovasi, komunikasi dan lobi agar cita-cita itu dapat tercapai.

    Dari kekhawatiran dan pandangan tokoh-tokoh Riau itu dapat saya simpulkan, pertama, soliditas tidak dapat ditawar dalam memajukan suatu organiasi (baca: Riau). Kerjasama dan kesatuan visi merupakan satu kekuatan dari sekian banyak kekuatan yang dapat menyokong kemajuan provinsi Riau. Maka, perlu dan wajib bagi seluruh elemen yang menginginkan kemajuan itu bersatu.

    Kedua, sempitnya cara pandang pentolan dan mahasiswa Riau dapat saya rasakan. Mereka ini adalah representasi dari rakyat Riau secara keseluruhan. Seperti apa mereka, mencerminkan bagaimana keadaan masyarakatnya. Hal ini terbukti setiap kali saya menghadiri acara-acara masyarakat dan mahasiswa Riau di Jakarta. Apabila tokoh telah sampai ke podium mereka siapkan di dalam kepalanya atau di secarik kertas kalimat-kalimat puji-pujian. Masyarakat Riau begitu gemar dipuji. Mungkin, bagi mereka jika tidak ada kalimat pujian di dalam satu pidato itu rasanya hambar. Dan, tidak akan bersemangat mengikutinya. Saya tidak habis pikir. Bagaimana jadinya suatu tujuan yang inovatif dan progresif disampaikan dengan kalimat-kalimat pujian. Kalau begini, maka akan hilang keinovatifan dan keprogresifannya—cukuplah Tuhan saja yang kita puji.

    Ketiga, kita juga tidak dapat menafikkan bahwa untuk memajukan provinsi Riau perlu kemampuan dan pengalaman. Dalam konteks ini setidaknya kita membutuhkan dua jenis pengalaman, pengalaman pemikiran (idealita) dan pengalaman lapangan (realita). Pengalaman pemikiran ini meliputi hal-hal yang bersifat konsep dan wawasan berpikir. Sebelum sampai pada langkah yang lebih teknis kita perlu mempersiapkan konsep sebagai dasar gerak-aksi. Bagaimana jadinya jika seorang pemimpin tidak memiliki konsep?  

    Pengalaman lapangan (realita). Setelah pengalaman pemikiran itu matang maka selanjutnya kita turun ke hal yang lebih teknis, yaitu pengalaman lapangan. Pengalaman lapangan berbicara tentang strategi dan taktik (stratak) dalam mengaktualisasikan konsep yang telah ada. Dan, secara umum, baik itu pengalaman pemikiran maupun pengalaman lapangan sebagian besar didapatkan di lingkungan yang sarat dinamika–tanpa mengabaikan nilai-nilai kesopanan.

    Melihat persoalan Riau secara keseluruhan, setidaknya ada tiga persoalan utama seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu kesolidan, cara pandang (worldview), dan kapasitas kedirian.

    Ketiga persolan itu harus diperhatikan benar oleh orang-orang yang menginginkan kemajuan bagi Riau, khususnya pelajar dan mahasiswa yang sedang belajar di Jakarta. Serta keberadaan pelajar dan mahasiswa Riau di Jakarta tidak boleh dipandang sebelah mata oleh pemimpin-pemimpin Riau saat ini. HIPEMARI adalah batu loncatan untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin Riau yang berkualitas. Dan memang, pelajar dan mahasiswa Riau Jakarta secara common law dipersiapkan menjadi pemimpin-pemimpin Riau di masa mendatang.

    Sebab kehidupan Jakarta ibarat teleskop. Dinamika yang terjadi di Riau dapat dilihat dengan baik. Seperti seorang pengamat yang melihat Bulan dengan teleskop, maka terlihatlah wujud asli bulan yang bertentangan dengan pandangan mata telanjang.

    Karena telah mengetahui bentuk nyata bulan maka ia memiliki kredibilitas untuk menarasikan wujudnya. Dan, kalau pun misalnya ia memasukkannya ke dalam puisi atau suatu seminar ilmiah, kalimatnya tidak dusta dan dapat di percaya.

  • Petani dan Pemuda yang Resah

    Oleh : agung hidayat

    new-world-andrew-judd

    Orang-orang kampung Bidas menahan hasratnya dari memakan makanan yang enak.

    Dan pada suatu ketika di nasihatilah anak-anak mereka “nak, hari ini kau tak usah jajan. Ibu sedang tidak ada uang”. Anaknya hanya mengangguk, sambil membayangkan biaya tugas sekolahnya yang kian menumpuk.

    Ayah mereka setiap pagi pergi ke kebun mengusapi satu persatu pohon sawit itu. Ia merawatnya seperti anaknya sendiri. Rasa sayangnya terhadap sawit-sawit itu membuat tubuh sawit itu gemuk dan ukuran buahnya besar-besar. Lebih besar dari tubuh babi ternak milik paman Batubara.

    Tapi sayang, meskipun ukuran buahnya meyakinkan tapi pabrik menghargainya sangat murah –lebih murah dari setekong tuak Opung Naga.

    Sudah 10 bulan berlalu. Harga itu tetap bertahan. Orang-orang kampung menjerit batinnya “Tuhan, penderitaan ini begitu panjang”.

    Di lain tempat. Bos besar kelapa sawit yang sawitnya lebih luas dari negara Singapura—tertawa bahagia. Buah kelapa sawit mereka akan langsung di olah di pabrik miliknya sendiri. Sementara para petani sawit untuk menjual buah kelapa sawitnya ke pabrik harus melalui lintah darat—calo tembak. Seperti sudah menjadi aturannya begitu.

    Semakinlah mereka tersiksa. Hasil penjualannya yang tidak seberapa harus di potong buat calo tembak.

    Di siang yang terik itu, Beti Manurung, ibu dari lima orang anak sedang membantu suaminya memanen seluruh buah kelapa sawit yang terletak di kampung Bidas. Beberapa waktu lalu kabar sampai kepada mereka bahwa lahan sawit mereka akan di lintasi oleh jalan Tol yang sedang di garap.

    Beti Manurung bersama puluhahan ibu-ibu lainnya harus memanen seluruh buah kelapa sawit milik mereka sebelum diratakan dengan tanah.

    Dia mengutip brondolan sawit sembari menangis terisak-isak.

    Pemerintah mengatakan akan mengganti tanah mereka dengan prinsip “Ganti untung”. Sebab katanya tidak akan ada yang dirugikan dalam pembeliannya.

    Namun, nyatanya berbeda. Pemerintah berdusta.

    Sang suami menjatuhkan satu persatu buah kelapa sawit itu. Bajunya basah kuyup oleh keringat kelukaan. Tapi, tampaknya sang suami sedikit lebih tabah. Ia tidak menangis seperti istrinya. Namun ia tidak dapat menipu, binar luka terpancar dari matanya.

    Satu-satunya penghasilan sebagai penghidupan keluarganya sebentar lagi akan lenyap. Lahan sawitnya di beli dengan harga yang sangat murah—setiap satu meter perseginya di hargai 18 ribu rupiah—lebih murah dari semangkuk bakso.

    Lengkaplah penderitaan Beti Manurung beserta keluarganya.

    Saat mereka tengah bekerja. Tiba-tiba muncul seorang pemuda yang entah dari mana asalnya. Pemuda itu naik keatas gundukan tanah, lalu berbicara lantang “Hai, kalian semua! Petani yang sedang terzholimi. Dengarkan aku. Kalian hidup untuk berjuang. Maka! perjuangkanlah hak kalian dengan semestinya!”

    Orang-orang tidak menggubris perkataan pemuda itu. Mereka tetap fokus memanen buah kelapa sawit.

    Lalu pemuda itu mengulangi perkataannya “Kalian ini manusia! Bukan binatang! Kalian berhak menuntut keadilan!”

    Sebagian petani mulai memperhatikannya. Lalu salah satu petani berkata kepada pemuda itu “Kau ini bicara apa? Ini sudah menjadi kehendak penguasa.”

    Sekali lagi pemuda itu berkata dengan lantang “Sekalipun itu adalah kehendak Tuhan! Kau pantas memperjuangkannya! Meminta keadilan!”

    Kali ini seluruh petani memperhatikannya. Menatap pemuda itu dengan tatapan kebingungan.

    Beti Manurung angkat bicara “Kami harus bagaimana, wahai pemuda?”

    “Esok hari, kita turun ke jalan!” ucap pemuda itu “Kita suarakan keadilan kalian di hadapan penguasa. Agar pemerintah sadar atas tindakannya yang merugikan penduduk kampung ini.”

    Sepakat!—teriak salah seorang petani “Kita harus menuntut keadilan”

    Maka, esok harinya dengan di pimpin oleh pemuda itu para petani berbondong-bondong menyeruduk kantor Badan Pertanahan Nasional di luar kampung Bidas.

    “Berikan kami keadilan!”

    “Jangan hisap hak kami!”

    “Penguasa terkutuk!”

    Para petani berteriak-teriak. Berbagai kalimat tuntutan dan makian keluar dari mulut mereka.

    Setelah lima jam melakukan demonstrasi—keluarlah pejabat-pejabat itu menemui para petani untuk melakukan mediasi—mungkin.

    “Siapa pemimpin aksi ini?” ucap salah satu pejabat

    Semua petani melihat ke arah pemuda itu. Pemuda itu menatap para pejabat dengan tatapan tajam.

    Sejurus kemudian pejabat itu berkata “Apa yang kau inginkan?”

    “Berikan keadilan kepada para petani yang kau rampas lahannya!” jawab pemuda itu

    “Kau ini siapa? Berani menghasut para petani untuk melakukan kerusuhan.” Ucap pejabat itu dengan suara berang “Apakah kau tak paham, kau bisa kami penjarakan!”

    Terjadilah perdebatan sengit antara pemuda dan pejabat itu.

    Dari arah belakang suara teriakan petani mewarnai suasana yang kian memanas.

    Sejurus kemudian seorang pejabat lain membisiki pejabat itu bahwa Pak Gubernur sedang dalam perjalanan menuju kesitu.

    Pejabat itu meminta seluruh petani untuk tenang dan memberitahukan akan perihal kedatangan Pak Gubernur.

    Para petani pun mulai tenang. Sembari menunggu kedatangan penguasa tertinggi di wilayah itu.

    Sejurus kemudian, datanglah mobil-mobil mewah beriring-iringan dengan bunyi sirine ala pasukan pengawal.

    Pak Gubernur turun dari mobil. Berjalan cepat ke arah pemuda itu—lalu menamparnya.

    Sontak seluruh petani berteriak. Terjadilah kerusuhan. Segera saja Pak Gubernur di amankan oleh Pasukan pengawal.

    Pemuda itu masih berdiri ditempat yang sama.

    Salah seorang pasukan pengawal berbadan besar menghampiri pemuda itu “Apa yang kau lakukan?” tanyanya kepada pemuda itu “Tidakkah kau paham, kau sedang membahayakan posisi ayah mu! Presiden akan marah kepadanya jika tahu anaknya menghasut para petani untuk berdemonstrasi. Kau harus menjaga nama baik ayahmu sebagai Gubernur.”

    Pemuda itu tertunduk. Lalu dia berkata “Bagaimana mungkin aku tega melihat hak keadilan penduduk kampung Bidas dipermainkan.”

    “Tapi, bukankah kau bisa membicarakannya baik-baik dengan ayahmu!” ucap pengawal itu “Tidak harus menghasut petani untuk berdemonstrasi.”

    “Ayahku telah menjadi bagian dari penguasa, wahai pengawal!” Jawab pemuda itu

    Sejurus kemudian ratusan polisi berseragam hitam datang. Membubarkan para petani. Tapi tidak ada satupun petani yang beranjak dari lokasi. Terjadilah kerusuhan—antara petani dan polisi.

    Pemuda itu berteriak kepada para polisi “Setetes saja darah kau buat tumpah, akan ku pimpin revolusi tanah Bidas!”

    Di detik yang berbeda, Beti Manurung memantik seluruh petani untuk meneriakkan narasi keadilan.

    Beri kami keadilan ! Jangan renggut hak kami ! Penguasa terkutuk !

  • Sahabat

    Picture from Surrealism At Perfection”: Haunting Illustrations Of Aykut Aydogdu

    Apa itu sahabat? Orang yang selalu ada untukmu? Orang yang selalu ada di dekatmu? Seperti apa sahabat yang sesungguhnya? Bukan sahabat yang datang hanya di waktu bahagia, lalu pergi saat dirimu bersedih. Sahabat adalah orang yang selalu ada di saat suka maupun duka. Tapi tak semua sahabat selalu ada untuk kita, karena setiap orang mempunyai kesibukannya masing-masing. Termasuk juga sahabat kita sendiri. Tapi sahabat yang sesungguhnya adalah yang selalu dalam hati kita..

    Jika sahabat kita mempunyai masalah dan kita juga mempunyai masalah. Tentu dia akan mengatasi masalah dia sendiri. Tapi bersahabat berarti saling mendoakan agar kita sama-sama mampu melewati setiap permasalahan. Sahabat itu bukan hanya mereka yang mampu memberi bantuan material . Tetapi, sahabat juga mampu memberikan bantuan moral dan dapat mengubah kita menjadi lebih baik.

    Kita lihat saja banyak sekarang yang rela memecahkan celengannya untuk sahabatnya hanya untuk membelikan hadiah ulang tahun. Tidak semua orang mempunyai perekonomian yang baik. Sahabat yang baik itu tidak butuh barang-barang bagus di saat hari bahagianya. Tapi dia hanya ingin doa yang terbaik dari sahabatnya.

    Sahabat juga mempunyai keterbatasan, saat kita mampu melakukan segalanya, belum tentu sahabat kita mampu juga melakukan segalanya. Sahabat itu tidak memperhitungkan seberapa banyak harta yang kamu miliki, tetapi seberapa banyak waktu yang kamu luangkan untuknya.

    Sahabat yang aku inginkan adalah sahabat yang mampu bersama mu pada saat dan situasi apapun. Saling melengkapi dan mengingatkan satu sama lain, lalu mengikrarkan janji dengan jari kelingking dan mengucapkan “Sahabat selamanya”.

    Hal yang mengasyikkan dari bersahabat adalah di saat kita mempunyai kebiasaan yang sama, menceritakan segala isi hati, menghibur kita di saat putus cinta, semuanya terlewati terasa sangat cepat berlalu. Kadang ada juga sahabat yang menjengkelkan tapi bukan berarti ia tak baik hanya saja memang tak setiap hal selalu berjalan baik. Maka usaha untuk tetap menjaga persahabatan itu lah yang membuat persahabatan menjadi terasa indah.

    Persahahabatan itu awalnya di mulai dari teman biasa, proses seorang teman itu menjadi sahabat tidak lah mudah, membutuhkn proses yang panjang. Bukan keadaan yang menjadikan teman itu sahabat. Tetapi, awalnya di mulai dari hal sepele, misalnya memberikan bantuan sederhana atau pun memberikan perhatian kecil.

    Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati dan tak semua orang bisa mendapatkan sahabat sejati.

    Ada banyak hal penyebab kehancuran persahabatan, salah satunya adalah kehilangan kepercayaan (Lost Trust). Tetapi, seandainya persahabatannya sudah sangat kuat, halangan dan rintangan yang akan merusak persahabatan pasti dapat di atasi. Dan mendapatkan loyalitas seorang sahabat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena manusia diciptakan Allah SWT mempunyai tabiat yang berbeda-beda.

    Jika persahabatan sudah retak akan sulit untuk memperbaikinya. Seperti kaca yang pecah sulit untuk mengembalikannya ke bentuk semula. Di dalam persahabatan itu pasti ada rasa kecemburuan, perselisihan kecil yang akan membuat kehancuran dalam persahabatan. Sebenarnya tak perlu ada janji dalam persahabatan tapi lakukanlah sesuatu itu secara nyata dan apa adanya sesuai yang dibutuhkan. Maka komitmen untuk saling setia akan tumbuh dengan sendirinya.

    Memang sangat mudah mengucapkan kata-kata yang indah kepada seorang sahabat, tapi lihatlah betapa cepatnya kata-kata itu terbang ke udara dimakan oleh waktu.

    Kita bukanlah sang pencipta yang tahu segalanya, dan seorang sahabat yang kita percaya tidak akan tahu masa depan kita. 

    Bersahabat itu pada hakikatnya saling melengkapi, menerima segala kelebihan dan kekurangan yang di miliki. Karena semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing–disanalah pesahabatan berperan, saling melengkapi satu sama lain.

    Dan jadikan kelebihan sahabat sebagai motivasi diri kita bukan malah menumbuhkan rasa iri. Mulailah mensyukuri apa yang kita miliki dengan itu kita akan bangga terhadap apa yang di dapat oleh sahabat kita. Begitu pula dengan kekurangan, sadarilah bahwa kita juga mempunyai kekurangan. Bagian yang paling penting dalam sahabat adalah kesabaran, hadapi setiap masalah dengan sabar dan meminta petunjuk pada sang kuasa, karena semua yang terjadi adalah kehendak-Nya. Maafkan kesalahannya, dan sadarilah kesalahan yang pasti juga kita punya.

    Dia sahabat, hargai dan peliharalah. Simpan dalam hati kecilmu jangan sampai ada yang mengotori persahabatan mu yang telah susah payah di bangun. Ingat selalu dia dalam suka dukamu.

  • Bibir Mengkalis

    oleh : agung hidayat

    Anime artwork buildings mobile wallpaper

    Orang-orang baru masuk sekolah tanpa tahu apa-apa. Orang-orang lama meninggalkan sekolah tanpa membawa apa-apa.

    Itu tahun ajaran baru. Kami naik ke kelas 12.

    Bersama Ginting dari kelas 12 aku memperhatikan murid-murid baru yang berada di tengah lapangan memakai seragam olahraga dan menghiasi tubuh mereka dengan dedaunan. Seperti prajurit yang sedang mau berperang. Padahal mereka cuma mau di permainkan oleh kakak-kakak kelas yang sok berkuasa.

    Aku pernah mengalami berdiri di lapangan berpakaian seperti mereka. Saat itu para kakak kelas berdalih ‘Kegiatan ini bertujuan untuk memahamkan murid baru tentang tujuan bersekolah’. Selama 3 hari aku melalui itu, dan tak ku temukan makna yang berarti. Mereka yang sedang berdiri di sana sekarang, akan mengalami seperti apa yang ku alami—murid baru yang malang.

    “Ayo, ke kantin saja kita!” ucap Ginting sambil memulai langkah “Tidak ada gunanya melihat manusia menyalurkan hasrat sok kuasanya kepada manusia lain.”

    Aku mengikuti langkahnya menuju kantin. Hari ini kami tidak memiliki jam pelajaran sampai 3 hari kedepan. Sekolah mewajibkan kami untuk tetap masuk, entah untuk apa. Tapi sekolah punya kekuasaan untuk membuat murid seperti kambing gembala. Mengikuti segala intruksinya meski tidak masuk akal. Jika tidak karena nasehat ibu di rumah agar aku rajin sekolah, aku sudah pergi ke hutan berguru kepada alam.

    Aku dan Ginting duduk di kursi kayu panjang. Memesan dua gelas susu cokelat dingin. Dua tahun lalu seorang perempuan sering mengajak ku duduk berdua di kantin ini, setiap pagi-pagi sekali, saat sekolah masih sepi oleh orang-orang. “Kau harus banyak minum susu, agar tubuh mu sehat” ucapnya ketika. Sekarang perempuan itu sudah lulus dari SMA. Sejak saat itu setiap ke kantin ini aku selalu memesan susu cokelat dingin untuk mengenangnya.

    Sembari menyeduh susu sedikit demi sedikit aku dan Ginting bercerita tentang film malam tadi yang kami tonton di rumah Fai Animama. Film itu tentang seorang remaja yang tersesat di tengah samudera karena kapal yang ia tumpangi bersama keluarganya tenggelam di hantam badai. Hanya Ia dan seekor harimau kebun binatang yang selamat. Terombang-ambing diatas sekoci selama berbulan-bulan. Dalam ketersesatannya ia mengalami pergolakan teologis– antara kematian dan keyakinan.

     “Kalau kau yang tersesat di tengah laut, bagaimana?” tanya Ginting

    Sejenak terdiam, sejurus kemudian kujawab, “Aku manusia darat, bagaimana mungkin aku tenggelam di lautan?”

    Ginting memutar matanya, “Siapa yang tahu jika suatu saat kau jadi nelayan yang bertaruh hidup dengan lautan!”

    Tak sempat menjawab pertanyaan Ginting tiba-tiba Fai Animama datang. Ia duduk di sebelahku sembari menyampaikan kabar bahwa bulan depan Henry Tampufi akan menikah dengan perempuan suku Sakai dari desa Koto Gasib. Pernikahan mereka akan berlangsung di Pakusea, kampung pesisir di ujung timur desa. Sebuah kampung yang banyak melahirkan perempuan cantik dengan bibir semerah darah dan rambut sehitam jelaga.

    Enam bulan lalu, Setelah sekolah mengeluarkannya karena tidak membayar uang SPP selama berbulan-bulan. Henry Tampufi memutuskan untuk bekerja membantu ayahnya yang seorang duda mencari kayu mati yang berusia ratusan tahun di hutan Raokao untuk di jual ke tengkulak kayu tua dengan harga yang sangat murah.

    Seorang filsuf pernah mengatakan “Amicus certus in re incerta cernitur – Seorang kawan sejati dapat dikenali pada saat yang penuh ketidakpastian”.

    Aku dan Ginting sudah berusaha untuk membicarakan ini dengan guru An Returi bagian kesiswaan. Agar Henry Tampufi diberi keringanan. Tapi tampaknya, pihak sekolah tidak mau rugi.

    Pun setiap upacara senin, aku sering mendengar mereka berpidato “Ilmu itu tidak ada yang gratis! Maka lunasi SPP kalian!”.

    Aku marah benar mendengar sekolah mengeluarkan pernyataan pongah. Sekolah sudah seperti ladang bisnis berlabel pengetahuan. Teman ku harus putus sekolah karena uang. Kemana uang negara yang bergudang-gudang itu pergi. Untung saja adat kami menjunjung tinggi sopan santun–jika tidak ingin rasanya ku maki tuan menteri.

    Tiga minggu berlalu. Aktifitas sekolah sudah seperti biasa. Murid baru mulai berbaur dengan murid senior. Ada yang berbaur karena ingin menjadi penguasa sekolah. Ada juga yang berbaur karena ingin mencari pacar. Bermacam-macam motif. Sementara kami berkumpul di depan aula sekolah yang besar itu. Kami berdiskusi soal hadiah apa yang akan kami berikan untuk pernikahan Henry Tampufi.

    Fai Animama menyarankan agar kami memberi hadiah yang benar bermanfaat buat Henry Tampufi. “Beri saja sepatu boot” Jawab Ginting “Untuk melindungi kakinya ketika mencari kayu di dalam hutan”. Aku sepakat dengan usulan mereka berdua. Tapi tampaknya, kami harus membeli tiga sepatu boot. Satu buat Henry Tampufi. Dua buat istrinya dan ayahnya. Mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu di hutan dari pada di aspal.

    Sehabis pulang sekolah kami langsung membeli sepatu boot-nya. Minggu depan, saat Henry Tampufi melihat ini. Pasti ia sangat senang.

    Waktu berlalu. Ini adalah hari pernikahan Henry Tampufi. Subuh-subuh benar kami berangkat menggunakan mobil yang kami sewa malam tadi. Dalam perjalanan kami bercanda ria. Fai Animama sangat lucu. Tak henti-hentinya membuat kami tertawa. Setelah melalui perjalanan yang melelahkan. Jalan yang berlubang dan berlumpur. Setelah melewati perbatasan antara Pakusea dan hutan Raokao yang menyeramkan. Akhirnya kami tiba di desa Koto Gasib. Tidak jauh dari sini, sekitar tiga puluh meter ke depan terbentang lautan yang teramat luas. Terlihat oleh kami pulau Mengkalis yang indah itu. Tepat ketika aku keluar dari mobil, kulihat ratusan burung keluar dari rimbun pepohonan di pulau Mengkalis secara tiba-tiba. Dan ayam yang berada di sekitar kami berkokok nyaring. Hewan-hewan itu ketakutan. Seperti sedang meilhat api neraka didepan mata. Tapi kawan-kawan ku tak menggubrisnya, begitu pun aku.

    Henry Tampufi menyambut kami ditemani istrinya yang cantik dan manis seperti gadis Koto Gasib pada umumnya. Satu persatu dari kami memeluk Henry Tampufi. Lalu menyalami paman Uleo Pardomuan–ayahnya Henry Tampufi.

    Kami duduk di bangku kayu yang terbuat dari pohon kelapa. Paman Uleo Pardomuan menyuguhkan ubi rebus dan tuak aren.

    Sudah lama kami tidak mencicipi tuak aren, setelah kepala desa melarang siapapun menjualnya. Seluruh kedai tuak tutup. Termasuk kedai tuak milik paman Sinaga. Untuk menghidupi satu istri dan dua belas anaknya, paman Sinaga terpaksa menjadi tukang parkir di pasar Rakuskus. Memang, kadang penguasa sering tidak ber-otak.

    Ketika gelas berada di bibir kami. Hewan-hewan berlari tak keruan. Sapi, ayam, kambing, anjing dan babi.

    Mata kami terperangah keheranan. Orang-orang berteriak “Ada apa, ini?”.

    “Lihat itu!” Teriak Ginting, sambil menunjuk ke arah laut.

    Aku menoleh. Mata ku terperangah. “Tsunami!” teriak ku

    Orang-orang berlarian tak keruan. Menyelamatkan diri masing-masing. Tak sampai hitungan menit aku terapung-apung terseret air. Bongkahan kayu menghantam badan ku. Aku terhempas dan tersangkut di antara ranting pohon Mahoni. Pohon Mahoni menahan ku dari derasnya air yang melaju. lebih deras dari arus sungai Jantan.

    Aku tersangkut hampir tiga jam. Air mulai menyurut. Suasana itu tidak dapat di ungkapkan oleh kata-kata–begitu berantakan.

    Aku turun dari atas pohon. Berjalan berjingkat-jingkat. Meneriaki kawan-kawan ku. Tidak ada yang menjawab.

    Tidak lama kemudian, helikopter berputar-putar di langit Koto Gasib.

    Bala bantuan berdatangan. Pasukan berbaju oren. Mereka membongkar bangunan-bangunan yang roboh. Membongkar pepohonan yang tumbang berhimpit-himpitan. Lumpur-lumpur di keruk. Mereka mencari orang-orang yang tewas.

    Aku tersungkur di atas tanah berlumpur itu. Menangis sekeras-kerasnya. Sejadinya-jadinya.

    Kawan-kawan ku, mati.

  • Underground Tauhid
    Pict : Andrew Judd, 1958 – Paint The Future

    Navigasi ini dimulai dari syair perang panjang

    Dari atas satu tanah tempat kita berpijak terus
    menjejak

    Pusara penghentak nalar yang coba membaca arah mata angin

    Kala itu, mereka bilang persatuan gerakan adalah sesuatu yang tak mungkin

    Kita menyemai gagasan demi gagasan, berdiskusi
    terbuka atau diam diam

    Jembatan Harokah hingga Salam Satu Jari, Hingga kuberlabuh pada dermaga Underground Tauhid

    Disini, aku wariskan jurnal untuk para singa tauhid kala itu dalam perjuangan aku harus Pamit Setelah orang yang paling kucintai di Underground Tauhid menusuk belati di Hati hingga hidupku jatuh sakit

    Aku dikhianati dalam topeng retorika langit
    Pengkhianat ashobiyah yang sengaja memasang dinamit membangun fitnah agar semuanya menjadi rumit

    Hingga senyum anakku memberikan ku semangat untuk
    bangkit

    Aku pernah ada dalam pusara inti dakwah

    Mendengar lusinan orang berjualan surga neraka

    Sampai aku sadar, itu adalah dunia yang basah

    Perputaran uang, eksistensi telah membuat kita lupa, susah bedakan ketulusan dan pura pura

    Terkepal Bara

    Kalam Amarah

    Taklukan Dunia

    Jangan Menyerah

    Dalam sunyi dan pedihnya hidup aku belajar tentang kekuatan memaafkan

    Membangun ulang menyusun lilin diantara tulang
    belulang Tak ada uang, Tak ada harapan membentang

    Hijrah mengajarkan kita berTuhan bukan bertuan

    Nilai rahasia keseimbangan Vertikal Dan Horizontal
    Ternyata, ada satu bab tertinggal

    Buah penghambaan adalah kebermanfaatan tanpa sayap kemandirian semua itu adalah dusta

    Jangan hilang kenyakinan kita pada diri sendiri

    Menata Kemandirian

    Ekonomi Adalah invasi baru yang harus terimplementasi. Karena tak semua masalah harus selesai diujung pedang dan anak panah

    Adakalanya kita belajar

    Pada Ustman yang membeli Sumur sang Yahudi Atau kesabaran Rasulullah di perjanjian Hudaibiyah Sebelum Ia berangkat menaklukkan Mekkah tanpa perang tanpa pertumpahan darah

    Terkepal Bara

    Kalam Amarah

    Taklukan Dunia

    Jangan Menyerah

    Kordinasi sandi nurani

    Tak ada kompromi, kita samakan frekuensi bergerak kembali dalam filterisasi ketulusan hati

    Kami masih disini! Hidup mulia atau mati syahid masih jadi harga mati

    Jadilah adil dan bersolusi, Tegaplah dalam kelembutan hati, Tegas tak harus menyakiti, Bijak dengan kekayaan literasi

    Hargai perbedaan pendapat dalam khasanah argumentasi

    Jangan marah, jangan dendam, ikhlas adalah kekuatan berkelas

    Senyap bertahap merayap mengendap-ngendap menembus
    gelap

    Aku berjihad karena Allah bukan karena Umar Bin Khatab: Itulah warisan Khalid bin Walid yang wajib kita ingat

    Samakan irama berkelana menebar jala mengajak sebanyak banyaknya ke rumah Allah

    Hingga kembali ke bawah tanah Semiotik Underground
    Senyawa dari kualitas tauhid

    Hakikat dari Underground Tauhid

    Terkepal Bara

    Kalam Amarah

    Taklukan Dunia

    Jangan Menyerah

     

    Oleh : Richard Stephen Gosal/Thufail al-Ghifari

     

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai