• Filosofi ‘Hari Bangkit’ PII

    Oleh: agung h.

    Amazon.com

    Dalam rangka memperingati Hari Bangkit (HARBA) Pelajar Islam Indonesia (PII) yang ke 73 tahun. Saya coba untuk menulis semacam sebuah refleksi. Saya mulai dari pernyataan salah seorang inisiator PII, yaitu Anton Timur Djaelani, ia pernah mencatat, kira-kira begini bunyinya:

    Sejarah Pelajar Islam Indonesia tak dapat dipahami dengan sempurna, jika tak diketahui (lebih dulu) sejarah pemuda Indonesia. (Tafsir Asasi PII)

    Mengapa demikian? Sebab pada dasarnya setiap perjalanan memiliki permulaan. Ada rangkaian yang membangunnya. Apabila PII mau kita katakan sebagai sebuah bangunan struktur, maka ia terdiri dari bagian-bagian yang menyusunnya—Kekuatan PembentukStruktur Dalam-Struktur Permukaan. Sementara sejarah permulaan PII adalah sebagai “kekuatan pembentuk”, yang kemudian kita sering menyebutnya sebagai “fase kesadaran”. PII benar adalah sebuah struktur/rangkaian. Tapi, ia adalah bangunan bergerak (umpama, sebuah kendaraan). Maka, selama ia masih ada atau hidup, ia akan terus menciptakan bekas-bekas (sejarah).  Mengetahui dan meresapi proses kebangkitan PII dan perjalanannya selama puluhan tahun itu, dapat kiranya kita ambil sebuah pelajaran.

    Seperti yang kita ketahui, PII tidaklah serta-merta bangkit tanpa sebab. Ia melalui serangkaian proses. Rangkaian proses inilah yang menentukan kenapa kemudian kehadiran PII disebut sebagai Hari Bangkit bukan Kelahiran, seperti pada umumnya organisasi pergerakan. Rangkaian proses itu dapat sama-sama kita baca di bawah ini.

    Kesadaran kesatu, Searah dengan konsep Islam Transitif Ansari Yamamah, yaitu dalam praktiknya dampak positif Islam bukan hanya buat individu atau buat sebagian orang, tetapi ia harus bergerak keluar memberi dampak positif kepada orang lain (dividum). Anjuran-anjuran untuk peka terhadap di luar kehidupan pribadi dan kelompok, amat banyak terdapat di dalam literatur Islam.

    Nyatanya, gerakan dan kesadaran ini telah di mulai sejak lama. Misalnya di Timur Tengah abad 19 lahir gerakan modernis dan reformis yang salah duanya dipantik oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, suatu gerakan pembaharu dalam merespon situasi dan kondisi ekonomi, politik dan sosial. Islam dengan prinsip tauhidnya ditafsirkan agar mampu menciptakan pandangan hidup yang berisi kebenaran yang diaktualisasikan, mampu menghilangkan kesulitan sosial, dan menghapuskan semua kerumitan kultural melalui otoritas politik yang kuat. Melakukan pencerdasan, perlawanan dan lepas dari penjajah adalah implementasi dari Tauhid. Hal ini berdampak kepada Islam di Nusantara dan mengalami peralihan. Pengetahuan Islam di Nusantara berubah menjadi suatu ideologi pembebasan.

    Lalu kemudian tokoh-tokoh Islam Nusantara merespon gerakan pemikiran tersebut dengan konkrit, sehingga berdirilah Syarikat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 dengan tujuan mengutamakan sosial ekonomi, mempersatukan pedagang pribumi, mempertinggi derajat bumiputera dan memajukan agama dan sekolah-sekolah Islam—dan melakukan perlawanan terhadap penjajah. Orang-orang dari kalangan modernis-reformis juga tradisionalis turut melakukan perlawanan. Misalnya, Muhamadiyah, NU, PSII, dll.

    Kesadaran kedua, kaum muda pun tidak ingin kehilangan perannya. Sehingga tokoh-tokoh muda Islam masa itu seperti, M. Natsir, H. Agus Salim, Mohammad Roem, S.M Kartosoewirjo, dan Kasman Singodimedjo, mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) di Jakarta 1 Januari 1925. Dengan tujuan utamanya untuk mengadakan kursus-kursus agama Islam bagi para pelajar Islam dan untuk mengikat rasa persaudaraan antar para pemuda terpelajar Islam yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan sebelumnya masih menjadi anggota perkumpulan daerah. Keangotaan JIB berasal dari organisasi pemuda berskala lokal yang memiliki perhatian terhadap Islam misalnya, Jong Sumateranen Bond, Jong Java, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan lainnya. Berdirinya JIB memiliki alasan tertentu pula. Selain karena organisasi lokal yang mulai kurang memperhatikan prinsip-prinsip Islam menurut Mohammad Roem, Belanda pada saat itu mengatur pembelajaran di sekolah terutama terkait hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Di sekolah (umum), para murid diajarkan bahasa dan sastra Belanda, Jerman, Prancis, dan Inggris. Bila mana ada pelajaran yang menyinggung Islam, mereka tidak terlalu antusias. Bahkan, kadang dengan sengaja meremehkan Islam (Republika, 01 November 2017).

    Maka, dapat kita lihat kehadiran JIB pada intinya adalah untuk mengangkat harkat martabat Islam, dan ia muncul atas penggabungan antar pemuda Islam dari organisasi berskala lokal. Selain melakukan pengajaran dan pemahaman kepada pelajar-pelajar Islam, JIB juga melakukan perjuangan literasi melalui majalahnya. Serta turut berusaha mengangkat marwah Islam di kalangan pelajar dan sekolah umum.

    Kesadaran ketiga, sekitar 22 tahun kemudian setelah JIB dibubarkan oleh pemerintah fasis Jepang. Masih tersisa bekas-bekas peninggalan kolonial penjajah, yaitu sebuah sekat antara pelajar pesantren dan pelajar umum. Tokoh seperti Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Ibrahim Zarkasyi, Amien Syahri merasakan keresahan atas fakta ini. Sehingga mereka memutuskan untuk membentuk ‘kembali’ suatu organisasi yang berdasarkan nilai-nilai keislaman. Lebih-lebih menghilangkan jurang pemisah antara pelajar pesantren dan pelajar umum.

    Bangkit

    Maka, pada tanggal 4 Mei 1947 JIB “bangkit kembali” dengan nama Pelajar Islam Indonesia (PII) yang dideklarasikan di Yogyakarta oleh Yoesdi Ghazali, dkk. Tidak ada penjelasan tertulis mengenai mengapa para tokoh PII memilih kata “Pelajar”. Mereka juga tidak menjelaskan makna kata Pelajar apakah bersifat luas atau sempit. Sementara menurut Sinolungan (1997), pelajar secara luas adalah setiap orang yang terlibat dengan proses pendidikan untuk memperoleh pengetahuan sepanjang hidupnya. Sedangkan dalam arti sempit, pengertian pelajar adalah setiap siswa yang belajar di sekolah. Tetapi penulis berkeyakinan bahwa makna kata Pelajar di dalam Pelajar Islam Indonesia bersifat luas. Sehingga pergerakan PII kedepan tidak terbatas hanya di wilayah sekolah tetapi juga universitas dan untuk mereka yang berpendidikan nonformal.

    Kebangkitan

    Setelah PII bangkit pada 4 Mei, maka selanjutnya ia memasuki proses ‘kebangkitan’. PII mulai melakukan perluasan dengan membangun komunikasi dengan organisasi Islam berskala lokal serta dengan tokoh-tokoh pada masa itu, awalnya terdapat berbagai organisasi pelajar lokal, seperti Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) di Yogyakarta, Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERSIKEM) di Solo, GPII bagian Pelajar di beberapa daerah, Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PERPINDO) di Aceh, dan lain-lain. Seluruhnya menyatakan bergabung ke pelukan PII.

    Pada tanggal 9 Juni 1947 di tanda tanganilah ”Perjanjian Malioboro” dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Perjanjian Malioboro ialah, IPI berjanji akan menjelaskan bestaanrecht (hak-hidup) organisasi Pelajar Islam Indonesia, kepada daerah-daerah dan cabang-cabangnya dan membantu pembentukan PII di daerah-daerah yang belum ada. Ini adalah permulaan kebangkitan PII dan disambut baik oleh berbagai kalangan.

    Filosofi Hari Bangkit

    Kehadiran PII bukanlah hal baru. Sebab pendahulunya, JIB telah melakukan perjuangan yang tidak jauh berbeda dengan PII pasca kemerdekaan. Apabila JIB melakukan pengajaran dan pendidikan kepada pelajar-pelajar Islam, PII pun melakukannya. Bahkan hal itu di anggap sebagai saripati dari perjuangan PII, terbukti dengan tercantumnya kata ‘pendidikan’ dan ‘kebudayaan’ di dalam tujuan PII. Sebagaimana JIB, PII pun hadir dari penggabungan (fusi) berbagai pemuda dan organisasi lokal. Pun berangkat dari kesadaran atas realitas yang merugikan Islam dan umat Islam, yaitu upaya pemisahan dan reduksi citra Islam. Maka, kemudian 4 Mei dikenal lah sebagai “Hari Bangkit”, mengindikasikan bahwa kehadiran PII bukan suatu hal baru tetapi atas rangkaian masa sebelumnya yang sempat terputus. Lahir artinya dari tidak ada menjadi ada. Sementara bangkit artinya tersadarkan dari “tidur” untuk kemudian bergerak bersama melanjutkan perjuangan.


    Kepustakaan:

    Nietzche, Mengapa Aku Begitu Pandai

    Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu

    Yamamah, Islam Transitif: Filsafat Milenial

    Thamrin, Husnie, Pilar Dasar Gerakan PII

    Djaelani, Anton, Darmabakti Tafsir Asasi PII

    GBHO PII

    Sureza, Karakteristik Dasar Organisasi PII

  • Berfilsafat

    Oleh : agung h.

    Tatanan dunia saat ini tidak dapat terlepas dari pikiran-pikiran mendasar terdahulu. Pikiran-pikiran itu bermula dari sebuah perenungan lalu melahirkan sebuah pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini lah yang kemudian membangun kerangka pikir setiap peradaban dan zaman hingga saat ini.

    Diantara mereka yang melakukan perenungan-perengunan itu biasa disebut filsuf atau filosof, yaitu orang yang berfilsafat. Kata filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni philo dan sophia. Philo berarti cinta, dalam makna luas dapat diartikan sebagai keingintahuan yang mendalam, sedangkan sophia artinya kebijaksanaan atau kepandaian.

    Maka dapat disimpulkan filsafat berarti ilmu hikmah/kebijaksanaan dan filsuf adalah seorang pencinta hikmah/kebijaksanaan. Orang yang berfilsafat adalah orang yang mengkaji suatu hal sampai ke akar-akarnya.

    Meskipun terminologi filsafat dan filsuf sarat ke-Yunanian. Tetapi filsafat tidak hanya ada dalam budaya Yunani, ada filsafat islam, Cina, India, dan Barat. Belakangan beberapa orang menyebut Indonesia memiliki dasar falsafah, yaitu Pancasila. Tapi, banyak pikiran-pikiran filsafat di luar Yunani itu terpengaruhi oleh filsafat Yunani. Misalnya filsuf-filsuf islam yang banyak mengambil pikiran Aristoteles dan tertarik dengan beberapa pikiran tokoh-tokoh Yunani.

    Sekalipun kemudian filsafat memengaruhi pembentukan pikiran dan peradaban dunia dari masa ke masa. Tetapi, tidak semua apa-apa tentang filsafat dapat diterima. Khususnya oleh sebagian orang. karena menurut Martin Suryajaya, filsafat adalah sebuah ilmu mempertanyakan, alih-alih hal ini yang membahayakan.

    Misalnya Ibnu Khaldun di dalam bukunya ‘’Mukaddimah’’ menjelaskan mengenai kesesatan sekaligus kelebihan berfilsafat. Baginya, memang ilmu logika seperti apa yang di praktikkan oleh para filsuf itu dapat melatih pemikiran untuk berpikir secara teratur dan memahami penggunaan argumen-argumen yang baik dan benar, sehingga menjadikannya baik dalam berhujjah dan berkonklusi. Tetapi ilmu-ilmu itu tidak mampu mencapai tujuan mereka, yaitu hikmah dan kebahagiaan.

    Begitu pula dengan, Taqiyuddin an-Nabhani, ia berpendapat di dalam bukunya terj. ‘’Hakekat Berpikir’’ bahwa dulu ketika berdebat dengan kaum muslimin, orang-orang Kristen menggunakan filsafat Yunani dan logika Yunani. Maka kaum muslimin pun menggunakan filsafat dan logika Yunani untuk membantah orang-orang Kristen, tanpa memahami pemikiran yang terkandung dalam filsafat Yunani, dan tanpa melihat kekeliruan-kekeliruan yang masuk ke dalam premis-premis logikanya.

    Aktivitas mempelajari filsafat dan logika Yunani yang semula untuk menyebarkan Islam, telah memalingkan sebagian kaum muslimin untuk mempelajari logika guna mencari kenikmatan yang ditemukan ketika mempelajarinya. Pergeseran ini menyebabkan umat muslim sibuk berdebat dan berkelahi di arena tersebut. Hingga muncul lah sekte, aliran, pemikiran, dan kelompok diantara kaum muslim.

    Tentu pandangan-pandangan kesemuanya itu perlu kita cermati dengan adil. Memang, berfilsafat memiliki bahaya, tenggelam dalam perdebatan-perdebatan semu. Sementara aktivitas dakwah haruslah tetap berlanjut. Tetapi di dalam berfilsafat ada aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir inilah yang tidak boleh kita tolak. Karena islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk berpikir.

    Berpikir berarti menganalisa, mempertimbangkan, merenungkan, dan menyimpulkan. Aktivitas ini merupakan hal-hal yang harus dilakukan oleh umat muslim dalam berkehidupan. Sebab, apabila berfilsafat dapat menjerumuskan kedalam kesesatan maka tanpa berpikir manusia dapat terjerumus kedalam kesesatan sekaligus kezaliman. Sementara itu aktivitas berpikir adalah satu kesatuan dengan berfilsafat.


    Kepustakaan:

    Wahyu Murtiningsih, para filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah

    Ibnu Khaldun, terj. Mukaddimah

    Taqiyuddin an-Nabhani, terj. Hakekat Berpikir

  • Imam al-Ghazali, Maut dan Ketakutan-ketakutan

    Oleh: agung h.

    Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Thusi atau lebih akrab dikenal Imam al-Ghazali adalah seorang ulama, teolog,  ahli fiqh, ahli pikir, dan ahli filsafat islam. Ia menuntut ilmu kepada para ulama termuka, seperti Ahmad al-Radakani dan Imam al-Haramain. Selain pernah menjadi guru besar di perguruan tinggi Nizhamiyyah, beliau juga pernah bekerja di istana kesultanan seljuk. Maka, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa beliau memiliki hidup yang berkecukupan secara dunia. Tapi, dunia tetaplah dunia, ia bersifat fana. Diberinya senyuman padahal hakikatnya umpatan. Diberinya tangan kasih padahal hakikat sebilah pedang. Diberinya kenikmatan sejatinya semu. Maka kemudian kesemuan atas dunia ini membawa Imam al-Ghazali kepada suatu pergolakan batin—antara dunia dan akhirat. Pergolakan ini ia narasikan sendiri di dalam autobigrafinya:

    “suatu hari aku berniat meninggalkan bagdad dengan semua lingkungannya, tapi keesokan harinya pikiranku berubah lagi… keinginan terhadap dunia menarikku dan mengikatku agar tetap bertahan. Sebaliknya, suara iman berseru, ‘pergilah! Pergilah! Umurmu hanya tersisa sedikit lagi, sedangkan perjalanan yang harus kau tempuh masih panjang. Semua pengetahuan dan amal perbuatan yang menjadi milikmu hari ini hanyalah hiasan mata dan kebanggaan. Jika sekarang engkau tidak melakukan persiapan untuk akhirat, kapankah lagi kau akan melakukannya?”

    Dia menang melawan godaan dunia tersebut. Di sisa usianya, ia memutuskan untuk meninggalkan kesenangan dunia dan memilih jalan sufistik. Jalan ini ia pilih tidak lain karena kesadaran dan keyakinannya atas kepastian datangnya maut dan hari kiamat. Sehingga hal ini mempengaruhi tema tulisan-tulisannya di fase akhir perjalanan hidupnya.

    Di dalam buku ‘’Metode Menjemput Maut” beliau menasehati kita semua agar tidak takut mati dan tidak terhasut oleh godaan dunia dan, agar memperbanyak mengingat mati. Apabila manusia telah duduk kesadarannya bahwa mati itu suatu kepastian, maka ia tidak akan berlebihan dalam mengejar dunia. Tetapi, kita juga mesti adil dalam melihat ini. Bahwa al-Ghazali memutuskan memilih jalan sufistik setelah merasai bagaimana hidup dalam tabung dunia dengan segala pernak-perniknya. “kejarlah akhirat tapi jangan lupakan dunia” cukuplah menjadi tanda bahwa dunia bukan sesuatu yang haram. Dan kita dewasa ini, dengan kehidupan yang penuh tantangan sebab dari perkembangan teknologi dan ideologi akan sangat sulit untuk melepaskan dunia seluruhnya, lebih-lebih memilih jalan sufisme. Namun, disamping itu apa yang beliau nasehatkan kepada kita, cukuplah menjadi dasar bagi kita apabila belum mampu melepaskan jubah dunia itu seluruhnya maka sekurang-kurangnya seimbang memosisikan kepentingan akhirat dan dunia. Mengupayakan dunia dengan sewajarnya atas alasan untuk tetap bisa hidup dan, dengan tidak melupakan kematian dan akhirat sama sekali.

    Pada posisi bersikap sewajarnya, kita akan terjauh dari sifat ‘berpanjang angan-angan. Sebab Imam al-Ghazali mengatakan, faktor berpanjang angan-angan tidak lain karena bodoh dan cinta dunia.

    tak seorang pun yang dapat memuaskan hasratnya; sebab satu hasrat akan disusul oleh hasrat lainnya

    Terkini kita sedang menghadapi ujian, ujian yang melanda bukan hanya Indonesia tetapi dunia. Dimana wabah yang mereka sebut dengan Covid-19 menghantui mereka siang dan malam. Telah ribuan manusia mati karenanya, dan entah berapa jumlahnya yang sedang dalam perawatan medis. Sementara di Indonesia sendiri, telah mencapai ribuan yang terdampak dan telah ratusan orang yang meninggal dunia—maka muncul lah perintah agar masyarakat melaksankan social distancing dalam rangka memutus penyebarannya. Pada posisi ini, kita sebagai umat muslim dihadapkan pada kebimbangan. Antara perintah tegas syariat dan ancaman Covid-19. Apabila beberapa orang menyatakan siap mati demi melaksanakan syariat, sementara yang lain tidak siap, lalu bagaimana? sementara kita sedang berhadapan dengan penyakit menular. al-Ghazali mengutuk sikap cinta dunia dan takut mati. Dalam konteks ini alasan apa yang paling logis kalau tidak karena dunia ketakutan-ketakutan itu lahir? Ini yang membuat kita semua bimbang.

    Namun, kebimbangan itu tidak perlu kita diskusikan lebih tajam lagi. Karena islam sebagai agama yang tegas sekaligus toleran memiliki jalan untuk menghadapi setiap kesulitan-kesulitan pelaksana syariat dengan prinsip pengecualiannya. Yang perlu kita bahas lanjutan adalah mengenai ketakutan-ketakutan mereka akan kematian sehingga membunuh rasa kemanusiaan dengan dalih keamanan. Barangkali kita semua sudah mendengar dan melihat sikap-sikap tidak berkemanusiaan mereka. Lebih-lebih yang paling memilukan ketika mereka menolak mayat dengan berbagai alasan. Padahal inti dari kesemua alasan itu dapat kita pahami, yaitu takut akan kematian.

    Bagaimana mungkin penolakan itu dapat hadir. Sementara mati itu adalah pasti bagi setiap manusia. Kalau tidak mati karena hal ini, maka ia akan mati karena hal lainnya.

    Rasulullah Saw. Bersabda, “Manusia itu dikepung oleh 99 macam sebab kematian; jika semua sebab itu gagal mengenainya, dia pasti tidak bisa mengelak dari usia tua.” (Tirmidzi, al-Qiyamah, 22.)

    Bukan pula kita sedang menantang Covid-19. Tetapi tetap masih dalam konteks pembicaraan diatas. Penyebaran ketakutan itu ternyata lebih cepat dari Covid-19 itu sendiri. Jika Covid-19 telah menjamah ribuan orang maka ketakutan telah menjamah hampir seluruh penduduk Indonesia. Media-media dan mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab menebar benih-benih ketakutan itu, sehingga muncrat dan mengenai setiap orang yang melihat, mendengar, dan membacanya. Sekali lagi kita sedang tidak dalam rangka menantang suatu penyakit, bukan karena wujud penyakitnya tetapi penantangan semacam itu identik dengan keangkuhan. Ketakutan-ketakutan yang membunuh rasa kemanusiaan lah yang harus di lawan.


    Catatan: Tulisan ini Refleksi dan Parafrase dari buku terjemahan Ahsin Mohamad ”Metode Menjemput Maut” Karya Imam al-Ghazali

  • Ibnu Khaldun dan Hakikat Kekuasaan Politik

    Oleh: agung hidayat

    Abdurrahman Ibn Khaldun al-Maghribi al-Hadrami al- Maliki atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Khaldun adalah seorang ulama terkemuka yang hidup pada abad pertengahan atau tepatnya masa kekuasaan bani Mamluk antara abad ke-8 dan 9 H. Ia dikenal pula sebagai seorang ilmuwan muslim yang ahli dibidang sejarah, sosiologi, politik, dan ekonomi.

    Dewasa ini di tengah masyarakat apabila mereka diskusi mengenai kekuasaan dan politik cenderung mengeluarkan pendapat-pendapat yang negatif. Hal ini bukanlah tanpa sebab, karena dalam praktiknya kekuasaan dewasa ini hanya alat bagi para politisi buat mencapai kepentingan-kepentingan atas dirinya, keluarga, dan gengnya. Tidak harus jauh-jauh kepada kekuasaan tingkat negara tetapi cukup kita saksikan realitas ini di tingkat desa. Maka, realitas kekuasaan di tingkat yang lebih tinggi itu tidak jauh dari yang dibawahnya karena ia berada dalam satu sistem. Apa yang masyarakat diskusikan ini merupakan praktik dari kekuasaan, ada pula beberapa orang dari masyarakat yang mendiskusikan fakta kekuasaan pada tingkatan praktik dan sistem, meskipun dapat di hitung jumlahnya. Beberapa orang menyebut fakta kekuasaan dewasa ini cenderung zalim, sebab ia tidak mampu mengangkat keadilan sebagai tujuan pokok dari pemerintahan umum. Bahkan pada fakta yang lebih ekstrim beberapa politisi menggunakan jabatan politik sebagai arena bisnis, sehingga tak segan melancarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Padahal inti dari kekuasaan adalah untuk mengatur dan memenuhi hajat kehidupan umat manusia. Dalam islam kekuasaan itu tidak hanya memenuhi tujuan dunia semata tetapi ia juga menyangkut persoalan akhirat.

    Di dalam bukunya yang berjudul ‘Mukaddimah’ pada salah satu pasalnya Ibnu Khaldun membahas tentang kekuasaan, kekhalifahan, dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Kita semua sebagai seorang muslim menyepakati bahwa Allah menciptakan manusia bukan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan manusia di dunia saja. Karena bagaimanapun manusia akan mati dan menuju alam akhirat. “Apa engkau mengira bahwa kami menjadikan engkau sia-sia.” (al-Mukminun:115)

    Menurut Ibnu Khaldun penciptaan manusia memiliki maksud untuk membuat ia bahagia di akhirat kelak.

    Manusia tidak mungkin terlepas dari kehidupan bermasyarakat sehingga ia membutuhkan suatu pemerintahan yang mengatur dan memenuhi segala hajatnya.  Namun, pemerintahan tersebut tidak boleh lepas dari syariat. Dalam arti lain, kekuasaan harus berjalan berdasarkan aturan-aturan agama sehingga masyarakat dapat terlindungi dengan aturan-aturan tersebut. Diatas telah kita sebut bahwa penciptaan manusia sejurus dengan kepentingan dunia dan akhirat. Maka dalam hal ini kekuasaan yang berdasarkan syariat bukan hanya melindungi dan menyelamatkan manusia dari persoaln dunia tetapi juga akhirat. Pada masalah duniawi manusia harus makan, minum dan berpendidikan, kekuasaan (penguasa) harus turut serta dalam memenuhi kebutuhan tersebut sebagi kebutuhan dasar untuk hidup dan berkehidupan. Pada masalah akhirat manusia harus menjalankan setiap kehidupannya berdasarkan aturan-aturan syariat, hal-hal yang bertentangan dengan aturan-aturan syariat maka akan mendapatkan konsekuensi. Agar manusia tetap terkendali didalam hal ini maka penguasa harus menerapkan aturan-aturan yang menjauhkan manusia dari berbuat zalim dan aniaya kepada dirinya, kepada sesama manusia dan kepada agamanya. Kekuasaan yang berdasarkan kesewenang-wenangan, saling menguasai, dan jauh dari syariat merupakan kebijakan yang sesat dan tercela serta akan menimbulkan kerusakan. Hal ini lahir apabila hukum-hukum pada suatu pemerintahan dirumuskan oleh para cendekiawan, para pemimpin kerajaan dan para pakarnya berdasarkan akal murni. Sementara apabila diturunkan dari syariat Allah maka dikatakan sebagai hukum agama yang dapat bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

    Dan menurutnya kekuasaan yang didasarkan kepada hukum politik dan aturan-aturan yang jauh dari petunjuk Allah merupakan suatu ketercelaan. Karena Allah sebagai pembuat hukum lebih mengetahui kepentingan-kepentingan seluruh makhluk-Nya. Hal ini berkenaan dengan adagium bahwa islam adalah rahmat bagi semesta. Siapa yang lebih mengetahui alam ini selain penciptanya?

    Selanjutnya, dampak dari syariat ini tidak lain untuk mendorong umat manusia berada dalam aturan-aturan syariat demi kebaikan dunia dan akhirat. Kekuasaan yang berdasarkan syariat ini harus diberikan kepada yang mampu dalam mengembannya, merekalah para Nabi dan khalifah sebagai penggantinya (Khalifah Rasulullah).

    Menurut beliau, karakter dasar pemerintahan cenderung memerintah berdasarkan tujuan dan keinginan naluriahnya. Sedangkan kekuasaan politik cenderung memerintah masyarakat berdasarkan akalnya. Yakni, sebatas mendatangkan kebaikan dunia semata—padahal tidak jarang pula kekuasaan yang berdasarkan akal itu mendatangkan keburukan bagi manusia dan alam. Namun beliau berkata pula, bahwa kekuasaan memang memiliki konsekuensi atau akibat. Kekuasaan bisa menimbulkan kerusakan, pemaksaan, kezaliman, dan tenggelam dalam kesenangan dunia. Tetapi disisi lain kekuasaan yang berdasarkan syariat memuji sifat keadilan, tenggang rasa (toleransi), dan menjalankan ajaran-ajaran agama serta mengaplikasikan hal tersebut dalam realitas kehidupan (kekuasaan). Kekuasaan kekhalifahan cenderung memerintah berdasarkan syariat, baik buat kepentingan-kepentingan akhirat maupun dunia. Karena pada hakikatnya kekhalifahan itu merupakan wakil Allah dalam menjaga agama dan kehidupan dunia. Serta seluruh aktivitas dunia hanyalah sebagai piranti untuk mencapai kehidupan akhirat.

    Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita tarik benang merahnya. Bahwa kekuasaan dewasa ini dirumuskan jauh daripada syariat yang diturunkan Allah. Kekuasaan dewasa ini tidak memiliki pengendali yang dapat mengendalikan tangan fananya dari berbuat zalim. Ketidakadilan yang tampak nyata dalam kehidupan yang dibawah kekuasaan tersebut merupakan bukti nyata, bahwa ia harus memiliki pijakan yang berdasarkan syariat. Apabila kemudian beberapa orang menyatakan bahwa kekuasaan itu tidak harus berdasarkan syariat maka ia telah terjebak baik dalam pandangan yang naif atau karena kepentingan-kepentingan semu. Dalam jumlah masyarakat yang ratusan bahkan milyaran juta jiwa itu, akan sangat sulit bagi mereka mengangkat keadilan, dan menyeimbangkan kepentingan dunia dan akhirat apabila kekuasaan itu dibangun berdasarkan akal murni. Seperti yang telah kita sebutkan diatas bahwa hanya penciptalah yang paling mengerti maksud dan pengaturan atas ciptaannya (Nya).

  • Mengembara

    oleh: agung h.

    Ibn Qayyim al-Jawziyya, pernah berkata, “Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara.

    Orang-orang seperti kami haruslah mendapatkan pendidikan hakikat yang lebih. Karena apabila telah sampai pemahaman hakikat ke kepala dan hati maka tidak akan seseorang itu bercepat mulut. Untuk mendapatkan pemahaman itu ia harus merelakan dirinya mengembara baik di alam pikiran atau di alam realita.

    Manakala telah benar-benar menjadi  sufaha. Setelah melalui pertimbangan yang panjang, melalui diskusi dengan beberapa orang yang saya percaya, serta dengan niat untuk melengkapi kecacatan-kecatatan yang ada pada diri. Sebagai seorang lelaki yang memiliki cita-cita radikal dan revolusioner, yaitu merubah paradigma masyarakat dan pemuda kampung agar adil sejak dalam pikiran. Maka, saya putuskan untuk mencari piranti-piranti untuk melengkapi cita-cita itu, ke suatu negeri, ke suatu pulau, ke suatu dunia baru.

    Imam Syafii mengungkapkan, “Bahkan seekor singa tidak akan pandai memangsa jika tidak hidup di hamparan bumi yang luas, dan anak panah tak akan menemui sasarannya bila tak pernah dilepaskan dari busurnya.

    Kalau tidak layak dikatakan saya mengikuti jejak Ibn Batutah, maka saya sedang berusaha untuk tidak menjadi sampan tanpa kemudi, untuk tidak menjadi sebongkah kayu mati yang terseret-seret oleh arus.

    Dalam pencarian dan pengembaraan itu, saya masihlah sama seperti manusia biasa. Pada waktu-waktu tertentu terlintas beberapa hal yang melemahkan langkah. Bersyukur ada orang-orang yang setia menasehati saya akan tujuan saya ke negeri orang. Meskipun saya tidak berasal dari keturunan perantau secara genetik, tetapi setidaknya sejak dari kakek dan ibu/bapak sudah memulai untuk mengundi hidup dikampung orang. Beberapa dan dapat dikatakan telah banyak saya berjumpa dengan orang-orang yang bernasib sama, maksudnya kami seorang lelaki perantau tunggal yang tidak lepas dari kisah-kisah masa silam. Kami dibentuk dari penggalan-penggalan masa silam, yang justru menguatkan niat untuk tidak membalik haluan. Seorang pengembara juga manusia, dan gadis-gadis yang pernah berlalu adalah bunga-bunganya, bahkan beberapa filsuf dan pemikir ternama tidak luput dari gadis dan cinta. Kegagalan dalam konteks ini bukanlah sesuatu yang memalukan, bagi mereka yang berpikiran terbuka. Tapi mungkin saja ini memalukan bagi beberapa orang yang tidak pernah berkehidupan dalam arti yang sesungguhnya.

  • Syair-syair Melankolik

    Aku

    Malam bertanya siapakah aku
    akulah yang melangkah dengan resah dalam kedalaman malam
    akulah diam yang berontak
    kusimpan rahasiaku dengan diam
    kuselimuti hatiku dengan curiga
    dan di sini, aku tersiksa sebagai tawanan
    denting masa bertanya dan menatapku
    siapakah sebenarnya aku
    angin pun bertanya siapakah aku
    akulah jiwanya yang kebingungan dan diingkari  waktu
    aku seperti dia, tiada bertempat tinggal
    kami terus melangkah tiada henti
    kami terus berjalan tiada bertepi
    dan ketika kami sampai di tikungan jalan
    kami mengira ini jalan penghabisan dari semua nestapa, ternyata ruang angkasa
    waktu bertanya siapakah aku
    aku seperti dia yang perkasa menggulung usia
    dan kembali akan mengembalikan hari kebangkitan untuknya
    kucipta masa lalu yang terbebas dari godaan harapan yang melenakan
    lalu kubur ia kembali
    untuk menempa hari-hari kemarin yang baru
    dan hari-hari esok yang beku
    diri ini bertanya siapakah aku
    aku seperti dia, bingung dan terkepung dalam kegelapan
    tak ada yang dapat memberiku kedamaian
    aku tetap menjadi pertanyaan dan jawaban
    dan tetap akan tersembunyi dalam fatamorgana
    aku masih mengira ia begitu dekat
    ternyata ketika aku sampai kepadanya, aku meleleh
    memudar dan sirna.

    Buah Pikiran-Nazik al-Malaikah

    Sepasang Matamu

    Biarkan sepasang matamu melihat yang tak terlihat
    Biarkan ia menafsir yang serupa mimpi
    Sebab matamu tercipta dari sesuatu
    Yang menjadikan tidur sebagai perangkap
    Dan kemeja yang terluka sebagai kemungkinan

    Yang tersisa dari kematian
    Adalah tipu daya kehidupan
    Biarkanlah
    Sebab ia adalah titah
    Dan sepasang matamu akan tetap melihat yang terlihat

    Buah Pikiran-Qasim Haddad

    Hendak Kukatakan Kepadamu: Aku Mencintaimu

    Hendak kukatakan kepadamu: aku mencintaimu
    kala batas-batas akhir antara kau dan puisi telah berakhir
    hingga tidur di atas kertas-kertas oretanku menjelma
    hasrat sekaligus kebingungan seperti tengah tidur bersamamu
    hal itu tak semudah yang kau bayangkan
    sebab aku tak bisa mencintai perempuan
    di luar ketukan ritme syair-syair
    sebab aku tak bisa memulai percakapan dengan tubuh yang tidak bisa kueja
    kata demi katanya
    sepenggal demi sepenggal kalimatnya
    sesungguhnya aku terbebas dari belenggu para intelektual
    akan tetapi jiwaku menolak orang-orang yang tidak bisa bicara dengan cerdas
    dan mata yang tidak melemparkan pertanyaan
    sebab syarat hasrat yang kumiliki, terikat dengan syarat-syarat puisi
    maka perempuan adalah puisi, di mana aku mati saat menuliskannya
    di mana aku mati saat melupakannya

    Buah Pikiran-Nizar Qabbani

  • Surat untuk May Ziadah

    Surat I

    Wanita pujangga yang mulia…

    Banyak persoalan yang aku pikirkan selama bulan-bulan bisu yang telah berlalu tanpa suatu kabar atau surat balasan. Namun sama sekali tidak tebersit dalam benakku bahwa engkau adalah wanita “jahat”. Tapi sekarang engkau telah berterus terang bahwa roh jahat telah menyelinap dalam dirimu. Maka aku tidak punya alasan selain percaya begitu saja padamu. Aku percaya dan juga turut membenarkan setiap perkataan yang engkau ucapkan kepadaku. Jelas engkau bangga sekali dengan ucapanmu “aku wanita jahat”. Engkau memang layak berbangga diri karena roh jahat adalah kekuatan yang mampu menandingi kebaikan, baik hasrat dan pengaruhnya. Akan tetapi perkenankan diriku berterus terang padamu bahwa kendati dirimu terus bersikukuh dengan kejahatanmu itu, engkau belumlah sampai pada separuh kejahatanku. Sebab aku jahat bagaikan hantu-hantu yang berdiam dalam rongga-rongga neraka, bahkan aku kejam seperti roh kegelapan yang menjaga pintu neraka. Dan engkau pasti percaya ucapakanku ini!

    Sampai saat ini aku belum paham apa sebenarnya yang mendorongmu melawanku dengan kejahatan, tidakkah engkau memberi penjelasan padaku? Aku telah membalas setiap surat yang engkau kirimkan padaku dan aku hayati setiap makna kata demi kata yang engkau bisikkan dengan mesra di telingaku. Lalu adakah hal lain yang mesti aku lakukan? Atau tidakkah engkau melampaui dosaku, seorang “yang tidak ada apa-apanya”, supaya engkau menjelaskan padaku bahwa engkau kuasa mengkisas? Engkau sungguh beruntung dan bisa menjelaskan dengan baik. Sedangkan aku percaya pada Hipostasis-muyang baru, universal, absolut dan mampu mengumpulkan antara pedang Kali, dewi India dan panah Diana, dewi Yunani.

    Kini, setelah kita saling mengetahui kejahatan dan kecenderungan satu sama lain untuk mengkisas, mari kita kembali untuk menuntaskan percakapan yang kita mulai sejak dua tahun silam. Bagaimana dirimu dan bagaimana kondisimu? Apakah engkau sehat dan baik-baik saja (sebagaimana yang dikatakan orang-orang Libanon)? Apakah lenganmu terkilir lagi pada musim panas lalu? Ataukah ibumu melarangmu menunggangi kuda agar saat kembali ke Mesir kedua tanganmu baik-baik saja? Sementara kesehatanku, serupa igauan pemabuk. Berulang kali aku melewati musim panas dan musim gugur sambilmengembara di antara puncak gunung dan pinggiran pantai, kemudian kembali ke New York dengan wajah pucat dan tubuh kerempeng demi mengejar pekerjaan dan bergumal dengan impian—impian aneh yang menerbangkanku ke puncak gunung lalu melemparkanku ke dasar lembah.

    Aku sangat bahagia karena engkau suka majalah Al-Fonoun, majalah terbaik dalam jenisnya yang pernah ada dalam dunia Arab. Pemiliknya adalah pemuda yang baik dan punya pemikiran kritis. Dia juga punya dua buku berjudul Lathîfahdan Qashâid Mubtakirah yang terbit dengan nama pena “Alief”. Yang menarik dari pemuda ini adalah dia tidak hanya mempelajari semua yang ditulis oleh orang-orang Barat, bahkan ia benar-benar menguasainya. Sedangkan temanku, Amin Al-Raihani mulai menerbitkan novel barunya yang panjang di majalah Al-Fonoun. Ia memperlihatkan padaku hampir keseluruhan bab-babnya. Dan kesimpulanku, novel tersebut sangatlah indah. Lantas aku beri tahu pemilik majalah Al-Fonoun bahwa dirimu akan mengirimkan artikel melaluiku, ia sangat menunggu dengan riang gembira.

    Sayang sekali aku tidak bisa memainkan alat musik apapun, meski demikian aku sangat mencintai musik sebagaimana aku mencintai kehidupan. Aku punya kegemaran tersendiri dalam mempelajari dasar-dasar, struktur dan mendalami sejarah kemunculan musik berikut perkembangannya. Jika belum tutup usia, aku akan menulis esai panjang tentang berbagai aspek musik Arab dan musik Persia, mulai dari asal-usulnya, perkembangannya dan hubungan antar keduanya. Kecenderunganku pada musik Barat menyamai kecenderunganku pada lagu-lagu Timur. Sehingga dalam seminggu bisa satu atau dua kali aku pergi ke opera. Kendati demikian, aku lebih menyukai musik Eropa yang dikenal dengan sinfoni, sonata dan kantata dari pada opera. Sebab bagiku, opera itu tak sesuai dengan seleramusikku.Ia jauh dari seni sederhana. Kali ini perkenankan aku cemburu pada tanganmu yang begitu erat memegang kecapi. Kumohon sebutlah namaku sebagai bentuk penghargaan bagiku setiap engkau membunyikan nada Nahawand pada dawai kecapimu. Sebab Nahawand adalah nada yang paling aku suka. Dan aku sependapat dalam hal ini dengan Carlyle dalam  hal memuji Nabi Muhammad.

    Tidakkah kamu berkenan menyebut namaku di hadapan pemujaan Sphinx? Saat aku di Mesir, dua kali dalam seminggu aku pergi dan menghabiskan waktu duduk di atas pasir dengan memandangi piramida dan Sphinx. Saat itu aku masih belum dewasa dan usiaku masih delapan belas tahun. Di hadapan kemagahan seni, aku gemetar seperti rumput yang diterpa prahara. Namun Sphinx, ia tersenyum padaku dan mengisi hatiku dengan kesedihan dan luka yang diimpikan.

    Seperti dirimu, aku juga menaruh rasa kagum kepada Dr. Schumayyil, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang dilahirkan di Libanon untuk mengusung semangat renaisans baru di Timur Dekat. Dan menurutku, masyarakat Timur sangat membutuhkan orang-orang seperti Dr. Schumayyil, sebagai bentuk reaksi atas pengaruh yang dilahirkan oleh kalangan mistikus dan para agamawan di Mesir dan Suriah.

    Apakah engkau sudah membaca buku berbahasa Prancis yang ditulis oleh Khairullah Efendi Khairullah? Aku belum pernah melihatnya. Hanya saja seorang teman memberitahuku bahwa dalam buku tersebut ada satu bab tentang diriku dan satu bab lain tentang dirimu. Jika engkau memiliki dua eksemplar buku itu, kuharap engkau berkenan mengirimkan satu untukku. Semoga Allah membalas kebaikanmu.

    Sudah mulai larut malam, semoga malammu kian indah dan semoga engkau dalam lindungan Allah demi orang yang setia.

    New York, 2 Januari 1914

    Surat II

    NONA May yang terhormat,

    Suratmu mengingatkan aku kembali akan “kenangan seribu musim semi dan seribu musim gugur”, dan terbayanglah diriku berdiri di depan hantu-hantu itu yang raib dan bersembunyi dalam kesunyian segera setelah gunung berapi meletus di Eropa –ya, betapa lama kesunyian itu.

    Tahukah engkau, kawan, bahwa biasanya aku menemukan pelipur lara, persahabatan, dan kesenangan dalam percakapan kita yang sering terputus itu? Dan tahukan engkau bahwa biasanya aku berkata dalam hati, “Di sanalah, nun jauhdi Timur, seorang yang lain dari gadis-gadis lain yang suadah memasuki kuil, bahkan sebelum ia lahir, telah berdiri di dalam tempat yang paling Kudus, dan telah mengetahui rahasia agung yang dijaga oleh ‘rahsasa-raksasa fajar’. Demikianlah dia, yang mengangkat negeriku menjadi negerinya. Tahukan engkau bahwa aku sering membisikan lagu pujian ini pada telinga bayanganku setiap kali aku menerima surat darimu? Jika engkau mengetahuinya, kiranya engkau tak akan berhenti menulis padaku –dalam pada itu engkau tahu pula mengapa engkau berhenti menulis—keputusan yang bukan tanpa kebijaksanaan dan pertimbangan yang baik.

    Mengapa artikel tentang Sphinx, siapa yang tahu bahwa bukan aku yang memintanya terus-menerus kepada pemilik Al-Founoon –semoga Tuhan mengampuninya. Hal itu berlawanan denga sikapku yang suka memesan karya tulis pada penyair, terutama pada lingkunga kecil yang menemukan ilham hanya dari saran kehidupan sendiri; dan engkau termasuk dalam lingkungan ini. Lagi pula, aku tahu bahwa seni memang menandun tuntunan, meskipun tuntunan tidak dapat dibuat dari seni; dan bahwa sesuatu dalam tuntunan itu yang dapat mengurangi kesempurnaannya yang hakiki sebagai seniman. Andaikata engkau lantas menulis, “Kurasa aku tidak suka menulis artikel mengenai Sphinx sekarang”, maka aku akan bersorak, “Hidup May, ia punya watak artistik yang dapat diandalkan!”. Inti masalahnya ialah bahwa aku akan mendahuluimu menulis arrtikel tentang senyum Sphinx, sesudah itu aku akan menulis sajak tentang senyum Sphinx, dan jika aku punya lukisan senyumnya akan melukiskannya sekarang. Tapi aku harus mengunjungi Mesir guna melihat May dan senyumnya. Dan apakah yang bisa dikatakan oleh penyair tentang senyum seorang wanita? Apakah Leonardo da Vinci tidak mengucapkan sesuatu pernyataan tentang “Monica Lisa”-nya? Namun demikian, bukankah dalam senyum seorang dara Lebanon terdapat rahasian yang perlu dilihat dan digambarkan oleh pria Lebanon? Atau adakah wanita, apakah ia wanita Lebanon atau Italia, yang senyumnya menyembunyikan rahasia keabadian di balik cadar lembut susunan bibirnya?

    Dan Si Gila—apa yang hendak kukatakan tentang Si Gila? Kukatakan di dalam nya terdapat unsur “kebengisan”, malam unsur “gua-gua gelap”, tapi aku tak pernah terpikir akan kritik semacam itu sebelumnya, walaupun aku banyak membaca apa yang dikatakan oleh surat khabar dan majalah di Amerika dan Eropa mengenai buku kecil ini. Yang menerik, kebanyakan penulis Barat menyukai dua bab yang berjudul “Temanku” dan “Para Pejalan Tidur”, yang diberinya tanggapan khusus; tapi engkau, Kawanku, melihat ada kebengisan di dalamnya. Apakah untungnya bagi seseorang jika ia memperoleh pengakuan dari seluruh dunia tapi tidak dari May? Adapun alasan yang menyebabkan orang-orang barat itu begitu senang akan Si Gila dan impiannya ialah bahwa mereka sudah bosan dengan impian mereka sendiri, dan punya kelemahan pembawaan terhadap sesuatu yang asing dan aneh, apalagi jika itu diberi baju Timur. Tapi mengenai parabel dan sajak-sajak yang dimuat dalam Al-Founoon, semua diterjemahkan diterjemahkan dalam bahawa Ingris oleh seorang pengarang yang cintanya terhadapku agak melebihi pengetahuannya tentang sulitnya lidah Inggris.

    Aku telah mengingkarinya dengan tinta merah kata “muak”, yang tampak dalam tanggapanmu mengenai Si Gila; dan ini kulakukan kerena aku tahu, jika engkau memperhatikan “Para Pejalan Tidur” dan menghubungkan ucapan-ucapan Si Ibu dan Si Anak Perempuan dengan personifikasi “Kemarin” dan “Esok”, sebaiknyalah engkau mengganti kata “muak” dengan kata lain, bukan?

    Apakah yang hendak kukatakan tentang gua-gua dalam jiwaku? Gua-gua yang mengerikan bagimu – ya, aku mencari perlindungan setelah aku makin bosan terhadap perilaku manusia, terhadap ladang-ladang suburnya yang justru menyakitkan hati dan hutan-hutannya yang terlalu merimba. Aku menarik diri ke dalam gua-gua jiwaku bila aku tidak menemukan tempat lain guna membaringkan kepalaku; dan jika beberapa di antara mereka yang kucintai memeliki keeranian memasuki gua-gua ini. Mereka tidak menjumpai sesuatu kecuali seorang manusia yang bersujud mengucapkan doanya.

    Aku senang, tiga ilustrasi dan Si Gila kauanggap bagus, dan itu merupakan petunjuk bahwa engkau memiliki mata (penglihatan) ketiga pada kedua belah matamu, karena aku pun mengetahui di balik telingamu terdapat telinga lagi yang ersembunyi, yang dapat mendengarkan bunyi yang amat indah laksana keheningan—bunyi yang tidak diciptakan oleh bibir dan lidah, tapi yang berasal dari balik lidah dan bibir, bunyi kesunyian yang manis, bunyi kegembiraan dan kepedihan, dan bunyi kerinduan akan sesuatu yang tidak dikenal nun di dunia yang jauh.

    Bila aku menjelaskan bahwa “Mereka yang memahami kita, menundukkan sesuatu dalam diri kita”, engkau bertanya apakah aku menyerupai seseorang agar seseorang daat memahami. Tidak! Tidak! Aku tidak menginginkan seseorang manusia memahami diriku jika punya arti menuntut perbudakan roaniah. Banyak orang yang dapat memahami dirinya karene mereka menemukan dalam tindak-tanduk “luar” kita agar dekat dengan apa yang mereka alami sekali saja dalam hidupnya. Tidaklah cukup (bagi mereka) untuk mengakui bahwa mereka mengetahui rahasia –rahasia dalam diri kita yang tidak kita ketahui—tapi mereka mengharuskan diri mencatat dan memberi kita suatu sebutan, dan menempatkan kita dalam salah satu di antara banyak kelompok pemikiran dan gagasan, seperti ahli kimia yang lagi menghadapi botol-botol obat dan bubuk. Penulis yang menuduhmu meniru aku dalam beerapa tulisan – bukanlah mereka termasuk orang-orang yang mengaku kiranya bagimu untuk meyakinkannya, bahwa kebebasan merupakan garis awal bagi jiwa untuk bergerak maju, dan bahwa pohon Eik tak dapat tumbuh di bawah bayangan pohon Wilo, begitu pula sebaliknya.

    Telah sampai disini tulisanku, namun sedikit pun belum menyebutkan maksud seperti yang hendak kukatakan tatkala mengawali suratku ini tadi. Siapa diantara kita berdua yang mampu menjelmakan kabut yang halus menjadi patung atau sosok pahatan? Tapi sang dara Lebanon yang mampu mendengar bunyi di balik bunyi itu tentu dapat melihat dengan terang perwujudan maupun roh yang berada dalam kabut.

    Semoga jiwamu yang indah dan hatimu yang mulia berada dala ketentraman. Tuhan melindungimu.

    New York, 7 Februaru 1919

    Surat III

    NONA May yang kuhormati,Bersama ini aku sertakan kopi pertama Prosesi yang baru kuterima. Akan kutemukan semua mimpi, yang sebagaimana adanya, tampak setengah nyata setengah kabut. Jika kebetulan engkau menyukai segala sesuatunya, maka pengakuanmua itu akan pulang kembali menjadi penghormatan yang nyata; jika tidak, semuanya akan kembali pada kabut.

    Salam dan penghormatanku selalu untukmu, dan semoga Tuhan menjaga dan melindungimu.

    New York, 10 Mei 1919

    Khalil Gibran bernama asli Khalil Gibran Khalil, lahir di Lebanon 6 Januari 1883 adalah seorang seniman Lebanon-Amerika, penyair dan penulis. Lahir di kota Bsharri, Lebanon, ia bermigrasi dengan keluarganya ke Amerika Serikat di mana ia belajar seni dan memulai karir sastra. Di dunia Arab, Gibran dianggap sebagai pemberontak sastra dan politik, gaya romantisis-nya berada di jantung renaissance dalam sastra Arab modern, khususnya puisi prosa. Di Lebanon, ia masih dipuja sebagai pahlawan sastra, di negara-negara lain Gibran mulai dikenal pada 1923 dengan karya bukunya The Prophet, sebuah contoh awal dari fiksi inspirasional dengan serangkaian esai filosofis yang ditulis dalam prosa puitis bahasa Inggris. Buku ini dijual dengan baik dan mulai populer di tahun 1930-an. Gibran adalah penyair dengan penjualan terbaik ketiga setelah Shakespeare dan Lao-Tzu. Sebagian besar dari tulisan-tulisan awal Gibran berbahasa Arab, yang akhirnya diterbitkan setelah tahun 1918 dalam bahasa Inggris.
    Sebagai seorang seniman yang bisa menggambar dan melukis, ia masuk sekolah seni di Paris 1908-1910, mengejar gaya romantisis dan simbiolis. Gibran mengadakan pameran seni pertama pada tahun 1904 di Boston. Pada pamerannya tersebut, Gibran bertemu Mary Elizabeth Haskell, yang akhirnya menjadi wanita yang membawa pengaruh besar tidak hanya di kehidupan pribadi Gibran, tetapi juga karirnya.
    Gibran meninggal di New York City pada tanggal 10 April 1931, penyebabnya karena sirosis hati dan TBC. Sebelum kematiannya, Gibran mengatakan keinginan untuk dikuburkan di Lebanon. Keinginan ini dipenuhi oleh kekasihnya Haskell pada tahun 1932

  • Mahabbah

    Oleh: agung h.

    pict: surrealim Alya Khemji

    Mula-mula

    Suatu ketika seorang komandan pasukan bertempur di Padang pasir Ibzar. Saat tengah bertempur sesosok wanita memenuhi pikiran sang komandan, sehingga ia kehilangan fokus dan tak berdaya. Tiba-tiba sang komandan yang gagah berani itu merasakan takut mati sehingga tidak dapat bertemu dengan Camelia Cela, istrinya. Ketakutan itu menjadi kenyataan, sang komandan Yusuf al-Khariji mati ditangan musuh. Sementara Camelia Cela melamun setiap sore sambil memandangi sungai Eufrat. Ternyata Camelia Cela adalah perempuan intelijen yang sengaja dikirim pihak musuh buat menaklukkan Yusuf al-Khariji dengan cinta.

    Yang tuan baca di atas itu adalah penggalan kisah fiktif di dalam cerpen ‘Pada Peperangan Terakhir‘ anak pikiran dari Sungging Raga. Bukan mengenai benar atau tidaknya cerita tersebut, tetapi tentang pelajaran yang dapat kita ambil darinya.

    Berikutnya berkenaan dengan pembahasan ini. Sesuatu yang diluar diri manusia akan sangat mungkin dapat mempengaruhi manusia. Pengaruh dari luar itu dapat pula berupa macam-macam, tidak harus sesama manusia, misalnya dapat pula angin mempengaruhi manusia sehingga manusia itu terserang demam. Atau suatu virus yang menyerang tubuh manusia sehingga manusia itu jatuh sakit. Atau panas matahari yang dapat membuat seseorang menjadi berkulit gelap. Dan percontohan lainnya yang dapat tuan pikirkan sendiri. Sebab menurut John Locke, manusia itu tak ubahnya batu tulis kosong yang siap ditulis dengan tulisan apa saja.

    Ruh

    Kembali kepada apa yang akan kita bahas sebagai badan dari tulisan ini. Sebagai manusia dan sebagai seorang lelaki normal saya pun mengalami hal-hal wajar tersebut. Izinkan saya memulai pembahasan ini dengan bercerita. Suatu ketika di tahun yang panas seorang gadis mempengaruhi diri saya, dibuatnya saya tidak bisa tidur, setiap hari tidak ada yang lebih saya ingin kecuali pertautan dengannya. Hingga pada suatu saat terucaplah kesepakatan diantara kami. Kesepakatan ini tidak sertamerta lahir tanpa proses. Sebagaimana kesepakatan emosionil pada umumnya, pastilah tidak lepas dari proses dramatik. Mula-mula kata-katanya kasar tetapi saya paham betul hakikatnya, bahwa hatinya tidak sekasar kata-katanya. Maka, dengan keyakinan yang meluap saya bersabar-sabar diri sebab saya yakin proses dramatik itu akan berlalu. Cepat atau lambat pastilah akan sampai kepadanya maksud saya yang Insyaallah tidak cacat niat.

    Kalau saya tidak silap, satu minggu setelah muka saya habis tercabik-cabik oleh babi, anjing, dan kata-kata buruk lainnya, akhirnya benarlah apa yang saya duga sejak awal itu. Selepas saya memilih menepi. Datanglah ia menghubungi saya, dan mengatakan permohonan maaf. Ia tidak dapat membohongi hatinya yang bening sejurus dengan kulitnya yang mengkilap dan kemerah-merahan. Berkatalah ia apa adanya sejujur sorot matanya.  Andaikan Tuhan tak menyabdakan agar tak tersentuh wanita non-mahram meski hanya sehelai rambut saja, entah apa yang akan berlaku. Tetapi sekali lagi, ketika itu hati saya tidak ternodai oleh niat-niat yang berasal dari setan-setan. Saya sedang menyatakan sesuatu yang sama apa adanya dengan sorot matanya.

    Pernah juga sebenarnya saya dahulu itu mencoba-coba menariknya, tetapi saya pun sadar kail saya masihlah rapuh dan umpan saya masihlah mungil. Sementara yang akan saya tarik seorang gadis dengan hati raksasa dan tatapan setajam pedang Damaskus. Jika gagal upaya saya di awal-awal itu, saya pun dapat memakluminya. Tapi kemudian setelah melalui berbagai upaya sampailah pada momentum ini, saat itu. Kemudian dengan perasaan yang teramat senang, kami menyatakan suatu kesepakatan, bahwa pada bulan mendatang ia bersedia untuk membuka hati seluruhnya buat saya. Rasanya akan amat naif apabila ini tidak membuat hati dan pikiran saya melompat-lompat riang. Lebih-lebih saat itu saya hanyalah seorang yang pantas disebut sufaha. Hanya julukan sebagai lelaki ternakal saja yang dapat saya jadikan sebagai modal. Bahwa tidak akan ada yang berani mengusik manakala orang-orang tahu saya sedang mengupayakan perempuan itu.

    Beberapa waktu berlalu, tidak sabar saya untuk secepatnya menemui waktu yang telah ditentukan itu. Bersamaan dengan itu saya harus pula menyiapkan diri untuk masuk ke jenjang pendidikan menengah atas. Saya menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya, serta dibarengi dengan niat untuk menanggalkan kenakalan saya itu. Hari ke hari, bulan ke bulan, waktu berlalu. Hingga pada suatu ketika saya sadar bahwa ini telah bergeser jauh dari apa yang pernah kami sepakati. Satu tahun telah berlalu. Selama itu tiada kabar barang hanya sedikit. Apa yang telah saya lakukan? Mengapa bisa sampai seperti ini?

    Semua berjalan seolah-olah tiada pernah terjadi apa-apa. Telah pula saya lihat pada suatu waktu menjelang petang, ia melintas dipandangan saya bersama seorang lelaki yang entah siapa. Sampai beberapa kali pula saya menyaksikan itu, sampai angin sabda menampar telinga saya, bahwa ia itu telah menjadi milik orang lain. Hampir-hampir otak saya lepas dari tempurungnya, tidak dapat akal saya mencerna bagaimana mungkin itu dapat terjadi. Semua berjalan tanpa di iringi kesadaran (Barangkali engkau dapat membayangkan apa yang saya maksud ini) Sebab saya belum menemukan istilah yang tepat untuk menjelaskan fenomena ini secara singkat, kecuali suatu istilah yang sangat kasar ‘lupa diri’.

    Tapi dengan cepat saya menetralisir itu. Berusaha bersikap normal dan apa adanya. Tahun berikutnya ia pun telah satu sekolah dengan saya. Tidak jarang kami berpapasan, atau satu meja ketika makan di kantin milik bibi. Kami bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

    Semakin hari semakin hitam lah warna air laut, semakin tidak mampu saya berenang apalagi menyelam. Bermunculan lah satu persatu musuh-musuh berlingkaran, hampir dengan semua orang saya bermasalah. Hingga tiga tahun berlalu. Tibalah waktunya saya meninggalkan kehidupan sebagai pelajar formal. Dan pada suatu waktu berita buruk menampar telinga saya kembali, bahwa ia telah berpindah haluan, kali ini kepada seorang lelaki lain yang jika itu tidak dapat di katakan sebagai sahabat saya, maka teman baik.

    Pada titik ini, tidak dapat saya tutupi bahwa kelas saya sedang berada paling palung, paling dasar. Hampir setara dengan lantai yang setiap hari tertapaki oleh berbagai jenis kaki. Bukan hanya bagian zahir saja yang terkikis tetapi moril dan nurani saya hampir habis teremas oleh fakta yang begitu beratnya. Bahwa saya bukan saja sedang menghadapi seorang gadis naif tetapi juga lingkungan yang naif. Secara singkat dapatlah dirangkum bahwa pada titik ini saya seperti seorang purba yang berada ditengah-tengah kehidupan modern. Asing, dan teralienasi. Tidak dapat saya salahkan sesiapa, kecuali hanya terjun ke dalam palung renungan yang teramat dalam. Hampir-hampir saya tenggelam dalam renungan itu, tak dapat saya berenang sebab begitu hitam lautannya.

    Pada titik ini lah saya menyampaikan untuk yang terakhir kalinya, atau lebih tepatnya menyadarkannya. Mencoba mengetuk pintu yang dulu pernah akan terbuka. Dengan menebali muka setebal-tebalnya, dan siap menanggung malu yang akan menyejarah terutama bagi pihak mereka, bahwa saya pernah meminta gadisnya.

    Tapi, jika saja mereka mau sadar dan berpikir dengan otak manusia bukan otak binatang, maka hakikatnya saya sedang menjemput hak. Tetapi lagi-lagi zaman modern telah menyesatkan mereka ke hutan kebodohan yang menyeramkan, yaitu berkacamata kuda.

    Maka, malam itu saya tulis dan selipkan satu lembar kertas diantara halaman buku yang pernah saya pinjam darinya, ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’. Pada siang harinya telah sampai ke tangannya buku itu. Tinggal lah saya menunggu gayung bersambut. Seakan-akan saya sedang menjalankan pepatah tua ‘yang tajam balik bertimbal, kalau tak ujung pangkal mengena’. Lebih-lebih jika ia menyertakan nurani saat membacanya.

    Namun, apabila tidak saya pun telah siap menerima segala bentuk konsekuensi terburuk.

    Dan akhirnya, kekhawatiran-kekhawatiran itu seluruhnya telah lengkap dan nyata.  Meskipun di kemudian hari, saya menyadari benar bahwa apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya benar. Karena seorang lelaki seharusnya memilih jalan sunyi. Yaitu, jalan para perenung.

  • Engkau dalam Tiga Bagian
    Oil paintings by Eduardo Fonseca

    Bagian 1—agung h.

    Maaf

    masih tersisa bagian tubuh itu dari rindu yang mencari tuannya

    langit murung dan dingin

    menebar sunyi menusuk jiwa

    apabila dapat kau tembus dinding batas itu

    kau akan melihat, bahwa kita sama-sama terkapar dalam rindu yang bengis

    tampaknya, waktu bersekongkol dengan jarak, bersepakat menyekat membunuh siasat

    anak-anak rindu meronta-ronta, ku teriakkan sesak yang memenuhi dada, bergeming menyentak siapa saja yang bernasib sama

    temu menjadi semu, setelah rindu kalah oleh ego ku

    bibirmu gergeming

    tuan, katamu kita tak mungkin lagi sama

    sebab beda telah menjadi jurang pemisah paling nyata

    apabila beda adalah alasannya, dimana diri bertahta?

    tidakkah upaya adalah kekuatan dasyat yang mampu meremukkan segala sekat

    tapi mengapa seolah-olah pasrah adalah jalan bijak

    atau kata bijak hanya menjadi alat dari hati yang tak sepenuhnya rentak

    tak dapat kujawab tanyamu yang setiap malam memenuhi kepala

    hanya dalam hati aku dapat berkata,

    puan, telah menjadi suatu keharusan bagi manusia untuk berupaya, tak mengenal lelah sebelum waktu katakan sudah

    telah pula ku coba menangkap waktu, tapi ia tak berpihak kepada kita

    maafkan aku

    andai tidak karena diri yang tak bertuah, tidak lah aku katakan sudah

    engkau adalah bagian daripada sang ibunda hawa yang berhati rapuh lagi lemah

    maka, kuserahkan engkau kepada tangan-tangan adam yang mendahulukan kasih daripada egonya

    manakala engkau telah menemukan rumah

    dari jarak yang tidak engkau ketahui izinkan aku tetap mengecup namamu dalam doa-doa

    Bagian 2—Penagenic

    Undur Diri

    akhirnya kata-kata menuntun kita menemukan pagi, puas kita bermain di beranda sangsi, tiba saatnya aku undur diri

    memugar prasangka berlumut, meniupkan wangi dari gumaman doa-doa baik, memberinya sedepa jarak, sebagai garis tepi, untuk kita yang masih sepenuhnya digenggam oleh takdir

    aku mencintaimu dengan rasa takut yang tak pernah mampu kutulis, cukuplah kita, menjadi sebait kata semoga yang lupa, bahagia yang penuh umpama, atau sepasang barangkali yang belum tentu diamini, saling kejar hanya membuat kita hilang nalar

    cinta bukanlah kokoh tembok kota yang setia dikencingi anjing, atau ranting-ranting kering yang tabah menghadapi musim, ia adalah sakit yang tak kunjung sembuh atau justru kecewa yang berulang kali kambuh

    seperti ada yang melubangi dada, kata dan tawa yang biasa meramaikan cuaca di malam hari, telah kita paksa menyerahkan diri, sederet kalimat yang nyaris beku akan menjadi jawaban dari pertanyaan hening bisu, yang belum tentu bisa datang setiap waktu

    Kelak, ketika musim penghujan tiba akan kubuatkan kau puisi yang tak melibatkan kata-kata susah, agar kau bisa membacanya sambil berselimut, menghangatkan pelukan dari belakang yang berulang kali aku janjikan, berkhayal melihat senja, melihat lampu kota yang mulai menyala, atau berbincang tentang apa saja yang belum pernah kita bicarakan sebelumnya

    kita kembali saja pada apa yang pernah kita tulis dengan diam, ternyata waktu tak terlalu sabar untuk menghidangi kita sebuah pelukan, seperti lirih bisikan gerimis yang menyamarkan jejak, jika musim-musim ke depan tak memberiku pilihan, akupun bersiap diri menjadi perihal yang layak kau lupakan

    Bagian 3—afna

    Puan Peredam Dendam

    Ketika matahari mencari jalan pulang tak sekedar sementara

    Riuhlah langit merajuk dalam gulita

    Sontak renjana bertukar semenjana

    Bumipun kuyup terbenam rinainya

    Tak mau kah redup memilih inang lainnya?

    Desah napas tak berujung jua pada lega,

    aku menerima kedatanganmu hujan

    Tak kumaki kali ini karena kuakui kerontang lebih menyiksa

    daripada kuyup dalam redup

    derai menuai lara niskala aku tak peduli

    bersimbah basah, terserah,

    aku pun telah tenggelam dalam serapah

    kurasakan dentum nadi beradu gaduh dengan gelegar petir

    langit seolah berkelakar getir menertawakan kiasan takdir

    menggigil deru dendam memanggil

    menghempas butiran hujan yang kian temaram di ambang karam

  • Laut, Sastra dan Cinta

    oleh: agung h.

    east coast boat marion rose

    Sekitar tiga minggu lalu baru saja saya menyelesaikan membaca The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Tidak banyak yang akan kita diskusikan tentang buku ini, kecuali hanya sebagian saja sebagai salah satu penyanggah dalam tulisan singkat ini. Secara singkat, buku ini berkisah tentang Santiago seorang nelayan tua yang menghabiskan waktu berbulan-bulan dengan laut tanpa satupun hasil berarti. Karena hal ini orang-orang menyebutnya sebagai salao, yaitu bentuk terburuk dari ketidakberuntungan.

    Beberapa ulasan tentang buku ini baik berupa artikel atau video tidak begitu menarik bagi saya. Ada poin penting yang tertinggal dari ulasan mereka, yaitu ruh dari buku ini menurut pandangan saya. Memang benar ketidak-menyerahan dia selama kurang lebih 80 hari itu merupakan sudah menjadi satu poin penting untuk dapat diambil sebagai hikmah. Dan kesendirian ia dalam menjalani hidup tidak membuat ia memilih menjadi pengemis atau lebih-lebih mengakhiri hidup. Poin-poin itu adalah penting secara keseluruhan—namun belum sampai kepada puncaknya. Pada saat ia pulang menuju bibir pantai setelah bertarung berhari-hari adalah bagian perjalanan yang paling menyakitkan. Pada bagian ini  ketabahannya teruji dengan sebenar-benarnya. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulut atau pun hatinya. Seolah-seolah tidak terjadi apa-apa. Ya, perasaan dan tubuhnya remuk, tapi tidak ketabahannya.

    Diatas itu adalah pendapat dan pandangan saya setelah membaca buku karya Hemingway tersebut. Ada pula poin lain yang ingin saya sampaikan terkait ‘kepenulisannya’. Pada saat ini, karya Hemingway ini di  elu-elukan oleh banyak orang—termasuk di Indonesia. Hal ini membuat pertanyaan timbul dalam pikiran saya. Secara jujur. Apabila Hemingway itu orang Indonesia dan hidup pada waktu ini, apakah kita akan tetap memujinya? Mengingat begitu rumit selera sastra para dewan juri.

    Berikutnya, sudah beberapa hari lalu saya membaca buku karya Alexandre Dumas yang berjudul ‘Monte Cristo’. Belum banyak yang dapat saya katakan tentang buku ini. Tetapi bahasan-nya tentang kapal, pemuda, gadis, dan laut searah dengan kondisi saya hari ini. Hari ini, tepat ketika saya menulis ini, saya sedang berada di atas Kapal Doloronda dalam perjalanan dari Jakarta menuju Ternate. Pada bagian awal buku ini bercerita tentang Edmond Dantes seorang pelaut yang jatuh cinta kepada perempuan cantik bernama Mercedes. Beberapa hari setelah kapal La Pharaon berlabuh, Dantes mengadakan pertunangan dengan gadisnya itu. Pada saat itulah seorang komisaris polisi datang membawa surat perintah untuk menangkap Dantes. Berikut itu adalah kisah pada bagian awal buku ‘Monte Cristo’. Ada kalimat yang perlu kita renungkan menurut saya di awal kisah ini. “Kepada atasan ia pandai menjilat sedangkan kepada bawahannya bersifat angkuh.” Kalimat ini di tujukan kepada Tuan Danglars, atasan dari Dantes yang berpangkat Kepala Tata Usaha di Kapal La Pharaon.

    Selanjutnya, sebuah kisah legendaris yang di tulis oleh seorang ulama terkemuka. Mungkin, tidak asing diantara kita yang gemar membaca atau yang gemar bercinta. Kisah Zainuddin dan Hayati di dalam buku ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijch’ karya Buya Hamka. Satu hari yang lalu, kapal Doloronda yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Makassar—Port of Makassar. Pertama-tama saya ingin menyampaikan ketidakpercayaan saya bahwa kami telah menapaki tanah Makassar. Tanah yang saya dengar dari cerita dan film-film. Apabila ada yang mampu menyeimbangi keterkenalan berniaga orang Padang (Minangkabau) maka ia adalah orang Makassar (Bugis). Keduanya sama-sama di kenal sebagai kaum perantau.

    Pun ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijch’ berkisah tentang dua pulau subur yang di pisahkan oleh laut, dua sejoli yang tersekat oleh adat dan oleh nasib. Ada banyak hikmah yang dapat kita petik dari karya Hamka itu. Saya tidak dapat menjelaskannya lebih banyak karena suatu alasan. Tetapi poin-poin pentingnya dapatlah saya tuliskan. Pertama, ‘kesungguhan’ yang dimiliki oleh Zainuddin menggerakkan dirinya untuk melakukan ‘perlawanan’ terhadap prinsip adat. Kesungguhan itu lahir tidak lain karena cintanya yang begitu besar. Meskipun akhirnya, sejauh dan sedalam apa pun rasa cinta itu, seseorang harus tetap mampu memosisikan akal dan hatinya secara seimbang. Sebab-sebab kenapa kita harus melakukannya, saya percaya kalian dapat memahami dengan sendirinya. Berikutnya, Hayati terjatuh kedalam harapan duniawi. Tidak ada yang lebih baik antara jatuhnya ke dalam harapan duniawi atau ke ukhrowi, selama ia jatuh terlalu dalam atau tanpa pemahaman maka hasilnya akan tidak baik. Zainuddin yang teguh terhadap prinsipnya adalah suatu hal yang wajar bagi seorang laki-laki.  Laki-laki yang sebenar-benarnya pantang mengamini pisang berbuah dua kali. Maka, proses di awal mula merupakan penentu untuk perjalanan selanjutnya seperti yang saya katakan diatas, memosisikan hati dan akal secara seimbang. Ketidakbaikan dan kecilakaan merupakan buah dari ketidakseimbangan tersebut.

    Akhirnya tulisan ini saya tutup dengan serangkai kalimat yang penuh dengan pengharapan. Semoga kami semua dapat sampai ke pelabuhan Ternate dengan selamat. Sebab, disana telah menanti suatu acara yang akan menentukan keberlanjutan PII—PII Sustainability. Serta keharusan bagi kita untuk membaca setiap apa-apa yang di lihat, di dengar, dan dibaca. Baik saat engkau di laut, udara, atau pun daratan. Dalam situasi dan kondisi apapun, membacalah!—membaca dalam arti yang luas. Pertengkaran-pertengkaran itu salah satu duri penyebabnya adalah karena keliru tafsir atas keadaan. Secara singkat, seringkali kita bersikap seolah-olah memahami segalanya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai