Oleh: agung h.

Amazon.comDalam rangka memperingati Hari Bangkit (HARBA) Pelajar Islam Indonesia (PII) yang ke 73 tahun. Saya coba untuk menulis semacam sebuah refleksi. Saya mulai dari pernyataan salah seorang inisiator PII, yaitu Anton Timur Djaelani, ia pernah mencatat, kira-kira begini bunyinya:
Sejarah Pelajar Islam Indonesia tak dapat dipahami dengan sempurna, jika tak diketahui (lebih dulu) sejarah pemuda Indonesia. (Tafsir Asasi PII)
Mengapa demikian? Sebab pada dasarnya setiap perjalanan memiliki permulaan. Ada rangkaian yang membangunnya. Apabila PII mau kita katakan sebagai sebuah bangunan struktur, maka ia terdiri dari bagian-bagian yang menyusunnya—Kekuatan Pembentuk–Struktur Dalam-Struktur Permukaan. Sementara sejarah permulaan PII adalah sebagai “kekuatan pembentuk”, yang kemudian kita sering menyebutnya sebagai “fase kesadaran”. PII benar adalah sebuah struktur/rangkaian. Tapi, ia adalah bangunan bergerak (umpama, sebuah kendaraan). Maka, selama ia masih ada atau hidup, ia akan terus menciptakan bekas-bekas (sejarah). Mengetahui dan meresapi proses kebangkitan PII dan perjalanannya selama puluhan tahun itu, dapat kiranya kita ambil sebuah pelajaran.
Seperti yang kita ketahui, PII tidaklah serta-merta bangkit tanpa sebab. Ia melalui serangkaian proses. Rangkaian proses inilah yang menentukan kenapa kemudian kehadiran PII disebut sebagai Hari Bangkit bukan Kelahiran, seperti pada umumnya organisasi pergerakan. Rangkaian proses itu dapat sama-sama kita baca di bawah ini.
Kesadaran kesatu, Searah dengan konsep Islam Transitif Ansari Yamamah, yaitu dalam praktiknya dampak positif Islam bukan hanya buat individu atau buat sebagian orang, tetapi ia harus bergerak keluar memberi dampak positif kepada orang lain (dividum). Anjuran-anjuran untuk peka terhadap di luar kehidupan pribadi dan kelompok, amat banyak terdapat di dalam literatur Islam.
Nyatanya, gerakan dan kesadaran ini telah di mulai sejak lama. Misalnya di Timur Tengah abad 19 lahir gerakan modernis dan reformis yang salah duanya dipantik oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, suatu gerakan pembaharu dalam merespon situasi dan kondisi ekonomi, politik dan sosial. Islam dengan prinsip tauhidnya ditafsirkan agar mampu menciptakan pandangan hidup yang berisi kebenaran yang diaktualisasikan, mampu menghilangkan kesulitan sosial, dan menghapuskan semua kerumitan kultural melalui otoritas politik yang kuat. Melakukan pencerdasan, perlawanan dan lepas dari penjajah adalah implementasi dari Tauhid. Hal ini berdampak kepada Islam di Nusantara dan mengalami peralihan. Pengetahuan Islam di Nusantara berubah menjadi suatu ideologi pembebasan.
Lalu kemudian tokoh-tokoh Islam Nusantara merespon gerakan pemikiran tersebut dengan konkrit, sehingga berdirilah Syarikat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 dengan tujuan mengutamakan sosial ekonomi, mempersatukan pedagang pribumi, mempertinggi derajat bumiputera dan memajukan agama dan sekolah-sekolah Islam—dan melakukan perlawanan terhadap penjajah. Orang-orang dari kalangan modernis-reformis juga tradisionalis turut melakukan perlawanan. Misalnya, Muhamadiyah, NU, PSII, dll.
Kesadaran kedua, kaum muda pun tidak ingin kehilangan perannya. Sehingga tokoh-tokoh muda Islam masa itu seperti, M. Natsir, H. Agus Salim, Mohammad Roem, S.M Kartosoewirjo, dan Kasman Singodimedjo, mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) di Jakarta 1 Januari 1925. Dengan tujuan utamanya untuk mengadakan kursus-kursus agama Islam bagi para pelajar Islam dan untuk mengikat rasa persaudaraan antar para pemuda terpelajar Islam yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan sebelumnya masih menjadi anggota perkumpulan daerah. Keangotaan JIB berasal dari organisasi pemuda berskala lokal yang memiliki perhatian terhadap Islam misalnya, Jong Sumateranen Bond, Jong Java, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan lainnya. Berdirinya JIB memiliki alasan tertentu pula. Selain karena organisasi lokal yang mulai kurang memperhatikan prinsip-prinsip Islam menurut Mohammad Roem, Belanda pada saat itu mengatur pembelajaran di sekolah terutama terkait hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Di sekolah (umum), para murid diajarkan bahasa dan sastra Belanda, Jerman, Prancis, dan Inggris. Bila mana ada pelajaran yang menyinggung Islam, mereka tidak terlalu antusias. Bahkan, kadang dengan sengaja meremehkan Islam (Republika, 01 November 2017).
Maka, dapat kita lihat kehadiran JIB pada intinya adalah untuk mengangkat harkat martabat Islam, dan ia muncul atas penggabungan antar pemuda Islam dari organisasi berskala lokal. Selain melakukan pengajaran dan pemahaman kepada pelajar-pelajar Islam, JIB juga melakukan perjuangan literasi melalui majalahnya. Serta turut berusaha mengangkat marwah Islam di kalangan pelajar dan sekolah umum.
Kesadaran ketiga, sekitar 22 tahun kemudian setelah JIB dibubarkan oleh pemerintah fasis Jepang. Masih tersisa bekas-bekas peninggalan kolonial penjajah, yaitu sebuah sekat antara pelajar pesantren dan pelajar umum. Tokoh seperti Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Ibrahim Zarkasyi, Amien Syahri merasakan keresahan atas fakta ini. Sehingga mereka memutuskan untuk membentuk ‘kembali’ suatu organisasi yang berdasarkan nilai-nilai keislaman. Lebih-lebih menghilangkan jurang pemisah antara pelajar pesantren dan pelajar umum.
Bangkit
Maka, pada tanggal 4 Mei 1947 JIB “bangkit kembali” dengan nama Pelajar Islam Indonesia (PII) yang dideklarasikan di Yogyakarta oleh Yoesdi Ghazali, dkk. Tidak ada penjelasan tertulis mengenai mengapa para tokoh PII memilih kata “Pelajar”. Mereka juga tidak menjelaskan makna kata Pelajar apakah bersifat luas atau sempit. Sementara menurut Sinolungan (1997), pelajar secara luas adalah setiap orang yang terlibat dengan proses pendidikan untuk memperoleh pengetahuan sepanjang hidupnya. Sedangkan dalam arti sempit, pengertian pelajar adalah setiap siswa yang belajar di sekolah. Tetapi penulis berkeyakinan bahwa makna kata Pelajar di dalam Pelajar Islam Indonesia bersifat luas. Sehingga pergerakan PII kedepan tidak terbatas hanya di wilayah sekolah tetapi juga universitas dan untuk mereka yang berpendidikan nonformal.
Kebangkitan
Setelah PII bangkit pada 4 Mei, maka selanjutnya ia memasuki proses ‘kebangkitan’. PII mulai melakukan perluasan dengan membangun komunikasi dengan organisasi Islam berskala lokal serta dengan tokoh-tokoh pada masa itu, awalnya terdapat berbagai organisasi pelajar lokal, seperti Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) di Yogyakarta, Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERSIKEM) di Solo, GPII bagian Pelajar di beberapa daerah, Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PERPINDO) di Aceh, dan lain-lain. Seluruhnya menyatakan bergabung ke pelukan PII.
Pada tanggal 9 Juni 1947 di tanda tanganilah ”Perjanjian Malioboro” dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Perjanjian Malioboro ialah, IPI berjanji akan menjelaskan bestaanrecht (hak-hidup) organisasi Pelajar Islam Indonesia, kepada daerah-daerah dan cabang-cabangnya dan membantu pembentukan PII di daerah-daerah yang belum ada. Ini adalah permulaan kebangkitan PII dan disambut baik oleh berbagai kalangan.
Filosofi Hari Bangkit
Kehadiran PII bukanlah hal baru. Sebab pendahulunya, JIB telah melakukan perjuangan yang tidak jauh berbeda dengan PII pasca kemerdekaan. Apabila JIB melakukan pengajaran dan pendidikan kepada pelajar-pelajar Islam, PII pun melakukannya. Bahkan hal itu di anggap sebagai saripati dari perjuangan PII, terbukti dengan tercantumnya kata ‘pendidikan’ dan ‘kebudayaan’ di dalam tujuan PII. Sebagaimana JIB, PII pun hadir dari penggabungan (fusi) berbagai pemuda dan organisasi lokal. Pun berangkat dari kesadaran atas realitas yang merugikan Islam dan umat Islam, yaitu upaya pemisahan dan reduksi citra Islam. Maka, kemudian 4 Mei dikenal lah sebagai “Hari Bangkit”, mengindikasikan bahwa kehadiran PII bukan suatu hal baru tetapi atas rangkaian masa sebelumnya yang sempat terputus. Lahir artinya dari tidak ada menjadi ada. Sementara bangkit artinya tersadarkan dari “tidur” untuk kemudian bergerak bersama melanjutkan perjuangan.
Kepustakaan:
Nietzche, Mengapa Aku Begitu Pandai
Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu
Yamamah, Islam Transitif: Filsafat Milenial
Thamrin, Husnie, Pilar Dasar Gerakan PII
Djaelani, Anton, Darmabakti Tafsir Asasi PII
GBHO PII
Sureza, Karakteristik Dasar Organisasi PII








