• Pipoisme Sebagai Makna

    : agung h.

    artstation.com/artwork/qA38BD

    Sudah sekitar lima tahun berlalu, asal muasal lahirnya istilah ‘Pipoisme’. Sebenarnya saya agak bingung harus memulainya dengan kalimat apa. Sebab, pernah saya berniat untuk tidak membuka ini, cukup saya dan Sang Mahapaham yang tahu. Tapi, saya timbang-timbang kembali, rasanya untuk dapat saling memahami, kita harus saling tahu terlebih dahulu. Maka, atas alasan inilah saya putuskan untuk menulisnya.

    Dimulai ketika satu waktu saya sedang berada pada suatu kegiatan yang di adakan oleh suatu organisasi pergerakan. Lokasinya disuatu desa yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi, pohon tinggi ini bukan tanpa manfaat. Ia adalah mata pencarian utama penduduk desa, sekaligus penggerak perekonomian tanah kami. Jika ia musnah, maka terkaparlah kami.

    Kegiatan itu berjalanan selama tujuh hari. Dalam tujuh hari inilah proses lahirnya istilah ‘Pipoisme’. Saat saya tengah duduk diatas keramik putih, sehabis malam menjelang. Saya berbincang dengan salah seorang kawan. Ditengah perbincangan saya melihat suatu benda yang kalau saya tidak silap benda itu bertuliskan ‘vivo’. Mulanya tidak ada yang menarik dari benda bernama ‘vivo’. Semua menjadi berbalik setelah saya tahu pemilik dari benda bernama ‘vivo’ itu seorang ‘bunga’. Secara umum ‘bunga’ adalah salah satu mahluk yang memiliki bentuk sebagaimana manusia pada umumnya. Bermata, berkaki, berkepala, berbadan, berpakaian, dan yang masih menjadi tanda tanya, bernurani?

    Perlu kita ketahui, bahwa jauh sebelum saya melihat benda bernama ‘vivo’ itu, saya telah lebih dulu jatuh kepada tuannya. Pun, jauh sebelum mahluk-mahluk baru datang.

    Tepat pada momentum kegiatan itu, bagi saya ialah akumulasi dari patah-patah yang sebelumnya. Hal ini semakin mempertegas bahwa ‘bunga’ telah bergeser dari mahluk paling subtil menjadi mahluk pelupa (atau, sengaja berlupa).

    Pada momentum itu, saya hanya dapat memandangi benda di tangannya. Apabila benda itu dapat mendengar, ingin saya katakan ‘Hai, benda! Tuanmu lupa dengan janjinya, semoga ia tidak jatuh kepada tangan cilaka.”

    Maka kemudian, kata ‘vivo’ itu bertransformasi menjadi ‘pipo’, alasanya adalah saya melihat kata ‘pipo’ memiliki citra kesederhanaan dan kepastian dari pada kata ‘vivo’. Sementara kata isme itu tidak lain hanyalah piranti atau yang berarti paham/prinsip. Maka makna istilah Pipoisme dalam pandangan saya bersifat konteks bukan literal, yang bermakna sebagai suatu prinsip mengenai kesederhanaan dan kepastian sikap atas suatu fakta yang memperkosa kesepakatan. Sederhananya, pipoisme adalah prinsip untuk tetap bersikap jujur (hati dan pikiran) meskipun kejujuran itu pernah dipatahkan.  Serta tidak memiliki pikiran untuk mencari pelarian (eskapisme) atau melampiaskannya kepada bunga-bunga lainnya. Tetap meyakini bahwa hati dan pikiran yang jujur memiliki nilai dan jalannya sendiri. Pepatah melayu menyatakan; “kalau tuah ada di diri, pasir di genggaman menjadi intan”.

  • Sesat Pikir Pemuda Hijrah?

    Oleh: agung h.

    heartland.org

    Menurut Dr. Munirul Ikhwan[1], Tren Hijrah adalah konsep yang menyatakan menjadi muslim saja tidaklah cukup. Belakangan doktrin hijrah gampang menjangkiti kelas menengah urban yang frustrasi dan haus inspirasi kesalehan. Budaya kota yang cenderung bebas dan konsumtif membuat pemaknaan atas hidup menjadi bias. Barangkali sebab karena hal ini lah pemuda kelas menengah urban mencari suatu pelarian (eskapisme).

    Tetapi, dalam praktik dan realitasnya justru pemuda hijrah masih menjalankan budaya popular. Mereka tetap dengan ringan meng-upload foto-foto yang menunjukkan budaya elitis dan konsumtif. Fakta ini mengindikasikan bahwa benar ada kegundahan massal pada pemuda yang ingin mengeksplorasi Islam, namun di sisi lain mereka tidak ingin kehilangan budaya populer modern (Popular Culture) yang selama ini mereka kerjakan[2].

    Selain terang-terangan menunjukkan budaya populer, konsumtif, dan elitis, beberapa pemuda hijrah pun terangan-terangan pula menunjukkan budaya ‘bucin’. Dalam pandangan saya, bucin adalah suatu ekspresi atas nama cinta yang pada hakikatnya pelaku minus pemahaman filsafat cinta. Pembaca yang adil, pasti sering mendengar kritik dari berbagai kalangan bahwa pemuda hijrah sarat akan kata yang berbau percintaan, pernikahan, dan sejenisnya. Bagaimana mungkin pemuda hijrah mau mendakwahi ‘pemuda nakal’ yang bacaannya Karl Marx, Asghar Ali, Ibnu Khaldun, Muhammad Abduh, Hamka, kalau kerjaannya saja ngebucin?

    Fakta lain yang sering membuat saya miris, pemuda hijrah sering mengatasnamakan ‘romantisme islami’. Memang, tidak salah secara syariat, tetapi pandangan semacam ini berpengaruh kepada cara pandangannya terhadap realitas. Romantisme selain kepada Allah hanyalah bersifat semu. Bagaimana mungkin dengan terangan-terangan mereka mengumbar keromantisan di layar publik atasnama pacaran halal. Selain akan menyakiti orang-orang yang memiliki ekspektasi tapi terhalang fakta, juga akan melunturkan nilai lain yang lebih serius. Karena saking terlenanya atas romantisme-islami sampai melupakan bahwa Islam itu harus bersifat transitif, Islam bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi manfaatnya harus menyentuh ranah sosial.

    Misalnya, hal lainnya yang belum lama buming, yaitu tentang lagu yang berjudul ‘Aisyah Istri Rasulullah’. Kita mengapresiasi si pembuat lagu karenanya nama Rasulullah dan Aisyah ra di dengar berjuta kali. Tetapi, dampak dari lagu ini sangat besar. Lagu ini menonjolkan keromantisan Rasulullah dengan Aisyah ra, alih-alih pendengar berpotensi menerka-nerka wujud Aisyah ra secara fisik. Padahal, ada sisi lain yang lebih berguna bagi peradaban ini yang dapat di kemukakan dari seorang Aisyah ra, misalnya kecerdasannya dan keberaniannya.

    Pemuda Hijrah seringkali mengemukakan pendapat yang kadang tidak melalui proses perenungan. Sehingga dapat tampak jelas baik dari ekspresi atau narasinya sarat kenaifan.

    Sejujurnya, jalan hijrah adalah mulia.

    Tapi sayang, sebagian memilih jalan ini tanpa melalui proses berpikir dan merenung. Mereka mendeklarasikan kehijrahannya dengan pikiran dan hati yang sepenggal-sepenggal. Maka tidak heran, jika akan mudah kita temui yang tidak bertahan lama dalam kehijrahannya. Mereka yang tidak bertahan lama itu sering berargumen ‘hidup adalah pilihan’ atau ‘kau tidak mengerti’. Bukan kita sedang mengurusi hidup mereka, apa yang mereka lakukan menentukan pendapat publik atas Islam (bukan atas pribadi mereka). Pemuda hijrah mendakwah dan menasehati melalui status media sosial dengan kondisi kepala sesat pikir (fallacy of thinking, berpikir sepenggal-sepenggal). Sesat pikir ini membuat mereka mengekspresikan sesuatu yang remeh-temeh dan tidak esensif. Ketidakkokohan pikiran dan hati ini lah yang membuat beberapa dari mereka tidak bertahan lama dalam kehijrahan.

    Mereka tidak akan pernah menyadari kekeliruan gerak mereka. Karena disana terjadi sesat pikir. Ia memilih jalan hijrah bukan berasal dari proses renungan mendalam dan hati yang jujur. Tetapi atas motif-motif.

    Andaikan pemuda hijrah yang jumlahnya banyak itu–terbukti dengan bejibun-nya mereka setiap kali menghadiri suatu acara, andai mereka mau menyelesaikan persoalan kediriannya atau sekurang-kurangnya menyadarinya dan berburu melakukan perbaikan pikiran dan niat. Lalu menyadari bahwa Islam bukan hanya persoalan ritus, tetapi Islam juga membahas persoalan sosial, politik, dan juga pendidikan. Serta mengubah pandangan bahwa mendiskusikan negara jauh lebih penting daripada bicara pra-nikah dan romantisme-Islami. Kesadaran ketuhanan tidak berarti kaffah jika tidak dibarengi kesadaran kemanusiaan. Jika sudah begini, saya yakin pemuda kiri dan pemuda liberal akan menimbang kembali untuk meremehkan pemuda hijrah.

    Sebab, apa yang terjadi saat ini. Pemuda kiri dan pemuda liberal memandang ‘pemuda hijrah’ sebelah mata karena ia tidak kokoh dalam pikiran dan hatinya.


    Sumber:

    [1] Dosen pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Baca selengkapnya di artikel “Tren Hijrah Anak Muda: Menjadi Muslim Saja Tidak Cukup” (Tirto.id, akses 12 Mei 2020)

    [2] Geotimes.co.id/akses 12 Mei 2020

  • Pandangan Mata Telanjang

    oleh: agung h.

    tak ‘kan kau temukan kebaikan pada dirinya

    ia adalah kebalikan dari kebaikan

    tak ‘kan kau temukan ia dimana-mana

    kecuali, pada apa yang paling kau muak

    tak ‘kan kau temui senja pada matanya

    ia tenang di perbukitan kesunyian

    tak ‘kan kau cintai ia

    dari balik bukit

    dari bawah laut

    dari dalam lumpur yang membenam jiwamu

    engkau merontan-ronta

    tak dapat kau lihat

    kecuali perhitaman

    matamu,

    hatimu,

    jiwamu,

    meludahi keadilan sejak dalam pikiran

    tak ada keadilan yang lahir dari pikiran yang tak adil

  • Biar Ina Tenang

    Jika suatu hari nanti kupulang

    Hujan-hujan membasahi kelopak perasaan

    Maka mekarlah segala yang sakit

    Maka tumbuhlah segala yang obati

    Jika dengar degup jantung kuingat

    Peluk ringan tanganmu merintih kerinduan

    Pergi langkahku menopang matamu

    Lekaslah sembuh luka di kisahmu

    Mama aku ingin jadi begini saja

    Mama jangan paksa aku ‘tuk jadi mereka

    Maka jangan takut nanti

    Jangan risau nanti

    Bila anakmu memprotes negara ini

    …Bila anakmu ditembak polisi


    Buah Pikiran – Sombanusa

  • Filosofi ‘Hari Bangkit’ PII

    Oleh: agung h.

    Amazon.com

    Dalam rangka memperingati Hari Bangkit (HARBA) Pelajar Islam Indonesia (PII) yang ke 73 tahun. Saya coba untuk menulis semacam sebuah refleksi. Saya mulai dari pernyataan salah seorang inisiator PII, yaitu Anton Timur Djaelani, ia pernah mencatat, kira-kira begini bunyinya:

    Sejarah Pelajar Islam Indonesia tak dapat dipahami dengan sempurna, jika tak diketahui (lebih dulu) sejarah pemuda Indonesia. (Tafsir Asasi PII)

    Mengapa demikian? Sebab pada dasarnya setiap perjalanan memiliki permulaan. Ada rangkaian yang membangunnya. Apabila PII mau kita katakan sebagai sebuah bangunan struktur, maka ia terdiri dari bagian-bagian yang menyusunnya—Kekuatan Pembentuk–Struktur Dalam-Struktur Permukaan. Sementara sejarah permulaan PII adalah sebagai “kekuatan pembentuk”, yang kemudian kita sering menyebutnya sebagai “fase kesadaran”. PII benar adalah sebuah struktur/rangkaian. Tapi, ia adalah bangunan bergerak (umpama, sebuah kendaraan). Maka, selama ia masih ada atau hidup, ia akan terus menciptakan bekas-bekas (sejarah).  Mengetahui dan meresapi proses kebangkitan PII dan perjalanannya selama puluhan tahun itu, dapat kiranya kita ambil sebuah pelajaran.

    Seperti yang kita ketahui, PII tidaklah serta-merta bangkit tanpa sebab. Ia melalui serangkaian proses. Rangkaian proses inilah yang menentukan kenapa kemudian kehadiran PII disebut sebagai Hari Bangkit bukan Kelahiran, seperti pada umumnya organisasi pergerakan. Rangkaian proses itu dapat sama-sama kita baca di bawah ini.

    Kesadaran kesatu, Searah dengan konsep Islam Transitif Ansari Yamamah, yaitu dalam praktiknya dampak positif Islam bukan hanya buat individu atau buat sebagian orang, tetapi ia harus bergerak keluar memberi dampak positif kepada orang lain (dividum). Anjuran-anjuran untuk peka terhadap di luar kehidupan pribadi dan kelompok, amat banyak terdapat di dalam literatur Islam.

    Nyatanya, gerakan dan kesadaran ini telah di mulai sejak lama. Misalnya di Timur Tengah abad 19 lahir gerakan modernis dan reformis yang salah duanya dipantik oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, suatu gerakan pembaharu dalam merespon situasi dan kondisi ekonomi, politik dan sosial. Islam dengan prinsip tauhidnya ditafsirkan agar mampu menciptakan pandangan hidup yang berisi kebenaran yang diaktualisasikan, mampu menghilangkan kesulitan sosial, dan menghapuskan semua kerumitan kultural melalui otoritas politik yang kuat. Melakukan pencerdasan, perlawanan dan lepas dari penjajah adalah implementasi dari Tauhid. Hal ini berdampak kepada Islam di Nusantara dan mengalami peralihan. Pengetahuan Islam di Nusantara berubah menjadi suatu ideologi pembebasan.

    Lalu kemudian tokoh-tokoh Islam Nusantara merespon gerakan pemikiran tersebut dengan konkrit, sehingga berdirilah Syarikat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 dengan tujuan mengutamakan sosial ekonomi, mempersatukan pedagang pribumi, mempertinggi derajat bumiputera dan memajukan agama dan sekolah-sekolah Islam—dan melakukan perlawanan terhadap penjajah. Orang-orang dari kalangan modernis-reformis juga tradisionalis turut melakukan perlawanan. Misalnya, Muhamadiyah, NU, PSII, dll.

    Kesadaran kedua, kaum muda pun tidak ingin kehilangan perannya. Sehingga tokoh-tokoh muda Islam masa itu seperti, M. Natsir, H. Agus Salim, Mohammad Roem, S.M Kartosoewirjo, dan Kasman Singodimedjo, mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) di Jakarta 1 Januari 1925. Dengan tujuan utamanya untuk mengadakan kursus-kursus agama Islam bagi para pelajar Islam dan untuk mengikat rasa persaudaraan antar para pemuda terpelajar Islam yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan sebelumnya masih menjadi anggota perkumpulan daerah. Keangotaan JIB berasal dari organisasi pemuda berskala lokal yang memiliki perhatian terhadap Islam misalnya, Jong Sumateranen Bond, Jong Java, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan lainnya. Berdirinya JIB memiliki alasan tertentu pula. Selain karena organisasi lokal yang mulai kurang memperhatikan prinsip-prinsip Islam menurut Mohammad Roem, Belanda pada saat itu mengatur pembelajaran di sekolah terutama terkait hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Di sekolah (umum), para murid diajarkan bahasa dan sastra Belanda, Jerman, Prancis, dan Inggris. Bila mana ada pelajaran yang menyinggung Islam, mereka tidak terlalu antusias. Bahkan, kadang dengan sengaja meremehkan Islam (Republika, 01 November 2017).

    Maka, dapat kita lihat kehadiran JIB pada intinya adalah untuk mengangkat harkat martabat Islam, dan ia muncul atas penggabungan antar pemuda Islam dari organisasi berskala lokal. Selain melakukan pengajaran dan pemahaman kepada pelajar-pelajar Islam, JIB juga melakukan perjuangan literasi melalui majalahnya. Serta turut berusaha mengangkat marwah Islam di kalangan pelajar dan sekolah umum.

    Kesadaran ketiga, sekitar 22 tahun kemudian setelah JIB dibubarkan oleh pemerintah fasis Jepang. Masih tersisa bekas-bekas peninggalan kolonial penjajah, yaitu sebuah sekat antara pelajar pesantren dan pelajar umum. Tokoh seperti Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Ibrahim Zarkasyi, Amien Syahri merasakan keresahan atas fakta ini. Sehingga mereka memutuskan untuk membentuk ‘kembali’ suatu organisasi yang berdasarkan nilai-nilai keislaman. Lebih-lebih menghilangkan jurang pemisah antara pelajar pesantren dan pelajar umum.

    Bangkit

    Maka, pada tanggal 4 Mei 1947 JIB “bangkit kembali” dengan nama Pelajar Islam Indonesia (PII) yang dideklarasikan di Yogyakarta oleh Yoesdi Ghazali, dkk. Tidak ada penjelasan tertulis mengenai mengapa para tokoh PII memilih kata “Pelajar”. Mereka juga tidak menjelaskan makna kata Pelajar apakah bersifat luas atau sempit. Sementara menurut Sinolungan (1997), pelajar secara luas adalah setiap orang yang terlibat dengan proses pendidikan untuk memperoleh pengetahuan sepanjang hidupnya. Sedangkan dalam arti sempit, pengertian pelajar adalah setiap siswa yang belajar di sekolah. Tetapi penulis berkeyakinan bahwa makna kata Pelajar di dalam Pelajar Islam Indonesia bersifat luas. Sehingga pergerakan PII kedepan tidak terbatas hanya di wilayah sekolah tetapi juga universitas dan untuk mereka yang berpendidikan nonformal.

    Kebangkitan

    Setelah PII bangkit pada 4 Mei, maka selanjutnya ia memasuki proses ‘kebangkitan’. PII mulai melakukan perluasan dengan membangun komunikasi dengan organisasi Islam berskala lokal serta dengan tokoh-tokoh pada masa itu, awalnya terdapat berbagai organisasi pelajar lokal, seperti Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) di Yogyakarta, Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERSIKEM) di Solo, GPII bagian Pelajar di beberapa daerah, Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PERPINDO) di Aceh, dan lain-lain. Seluruhnya menyatakan bergabung ke pelukan PII.

    Pada tanggal 9 Juni 1947 di tanda tanganilah ”Perjanjian Malioboro” dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Perjanjian Malioboro ialah, IPI berjanji akan menjelaskan bestaanrecht (hak-hidup) organisasi Pelajar Islam Indonesia, kepada daerah-daerah dan cabang-cabangnya dan membantu pembentukan PII di daerah-daerah yang belum ada. Ini adalah permulaan kebangkitan PII dan disambut baik oleh berbagai kalangan.

    Filosofi Hari Bangkit

    Kehadiran PII bukanlah hal baru. Sebab pendahulunya, JIB telah melakukan perjuangan yang tidak jauh berbeda dengan PII pasca kemerdekaan. Apabila JIB melakukan pengajaran dan pendidikan kepada pelajar-pelajar Islam, PII pun melakukannya. Bahkan hal itu di anggap sebagai saripati dari perjuangan PII, terbukti dengan tercantumnya kata ‘pendidikan’ dan ‘kebudayaan’ di dalam tujuan PII. Sebagaimana JIB, PII pun hadir dari penggabungan (fusi) berbagai pemuda dan organisasi lokal. Pun berangkat dari kesadaran atas realitas yang merugikan Islam dan umat Islam, yaitu upaya pemisahan dan reduksi citra Islam. Maka, kemudian 4 Mei dikenal lah sebagai “Hari Bangkit”, mengindikasikan bahwa kehadiran PII bukan suatu hal baru tetapi atas rangkaian masa sebelumnya yang sempat terputus. Lahir artinya dari tidak ada menjadi ada. Sementara bangkit artinya tersadarkan dari “tidur” untuk kemudian bergerak bersama melanjutkan perjuangan.


    Kepustakaan:

    Nietzche, Mengapa Aku Begitu Pandai

    Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu

    Yamamah, Islam Transitif: Filsafat Milenial

    Thamrin, Husnie, Pilar Dasar Gerakan PII

    Djaelani, Anton, Darmabakti Tafsir Asasi PII

    GBHO PII

    Sureza, Karakteristik Dasar Organisasi PII

  • Berfilsafat

    Oleh : agung h.

    Tatanan dunia saat ini tidak dapat terlepas dari pikiran-pikiran mendasar terdahulu. Pikiran-pikiran itu bermula dari sebuah perenungan lalu melahirkan sebuah pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini lah yang kemudian membangun kerangka pikir setiap peradaban dan zaman hingga saat ini.

    Diantara mereka yang melakukan perenungan-perengunan itu biasa disebut filsuf atau filosof, yaitu orang yang berfilsafat. Kata filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni philo dan sophia. Philo berarti cinta, dalam makna luas dapat diartikan sebagai keingintahuan yang mendalam, sedangkan sophia artinya kebijaksanaan atau kepandaian.

    Maka dapat disimpulkan filsafat berarti ilmu hikmah/kebijaksanaan dan filsuf adalah seorang pencinta hikmah/kebijaksanaan. Orang yang berfilsafat adalah orang yang mengkaji suatu hal sampai ke akar-akarnya.

    Meskipun terminologi filsafat dan filsuf sarat ke-Yunanian. Tetapi filsafat tidak hanya ada dalam budaya Yunani, ada filsafat islam, Cina, India, dan Barat. Belakangan beberapa orang menyebut Indonesia memiliki dasar falsafah, yaitu Pancasila. Tapi, banyak pikiran-pikiran filsafat di luar Yunani itu terpengaruhi oleh filsafat Yunani. Misalnya filsuf-filsuf islam yang banyak mengambil pikiran Aristoteles dan tertarik dengan beberapa pikiran tokoh-tokoh Yunani.

    Sekalipun kemudian filsafat memengaruhi pembentukan pikiran dan peradaban dunia dari masa ke masa. Tetapi, tidak semua apa-apa tentang filsafat dapat diterima. Khususnya oleh sebagian orang. karena menurut Martin Suryajaya, filsafat adalah sebuah ilmu mempertanyakan, alih-alih hal ini yang membahayakan.

    Misalnya Ibnu Khaldun di dalam bukunya ‘’Mukaddimah’’ menjelaskan mengenai kesesatan sekaligus kelebihan berfilsafat. Baginya, memang ilmu logika seperti apa yang di praktikkan oleh para filsuf itu dapat melatih pemikiran untuk berpikir secara teratur dan memahami penggunaan argumen-argumen yang baik dan benar, sehingga menjadikannya baik dalam berhujjah dan berkonklusi. Tetapi ilmu-ilmu itu tidak mampu mencapai tujuan mereka, yaitu hikmah dan kebahagiaan.

    Begitu pula dengan, Taqiyuddin an-Nabhani, ia berpendapat di dalam bukunya terj. ‘’Hakekat Berpikir’’ bahwa dulu ketika berdebat dengan kaum muslimin, orang-orang Kristen menggunakan filsafat Yunani dan logika Yunani. Maka kaum muslimin pun menggunakan filsafat dan logika Yunani untuk membantah orang-orang Kristen, tanpa memahami pemikiran yang terkandung dalam filsafat Yunani, dan tanpa melihat kekeliruan-kekeliruan yang masuk ke dalam premis-premis logikanya.

    Aktivitas mempelajari filsafat dan logika Yunani yang semula untuk menyebarkan Islam, telah memalingkan sebagian kaum muslimin untuk mempelajari logika guna mencari kenikmatan yang ditemukan ketika mempelajarinya. Pergeseran ini menyebabkan umat muslim sibuk berdebat dan berkelahi di arena tersebut. Hingga muncul lah sekte, aliran, pemikiran, dan kelompok diantara kaum muslim.

    Tentu pandangan-pandangan kesemuanya itu perlu kita cermati dengan adil. Memang, berfilsafat memiliki bahaya, tenggelam dalam perdebatan-perdebatan semu. Sementara aktivitas dakwah haruslah tetap berlanjut. Tetapi di dalam berfilsafat ada aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir inilah yang tidak boleh kita tolak. Karena islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk berpikir.

    Berpikir berarti menganalisa, mempertimbangkan, merenungkan, dan menyimpulkan. Aktivitas ini merupakan hal-hal yang harus dilakukan oleh umat muslim dalam berkehidupan. Sebab, apabila berfilsafat dapat menjerumuskan kedalam kesesatan maka tanpa berpikir manusia dapat terjerumus kedalam kesesatan sekaligus kezaliman. Sementara itu aktivitas berpikir adalah satu kesatuan dengan berfilsafat.


    Kepustakaan:

    Wahyu Murtiningsih, para filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah

    Ibnu Khaldun, terj. Mukaddimah

    Taqiyuddin an-Nabhani, terj. Hakekat Berpikir

  • Imam al-Ghazali, Maut dan Ketakutan-ketakutan

    Oleh: agung h.

    Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Thusi atau lebih akrab dikenal Imam al-Ghazali adalah seorang ulama, teolog,  ahli fiqh, ahli pikir, dan ahli filsafat islam. Ia menuntut ilmu kepada para ulama termuka, seperti Ahmad al-Radakani dan Imam al-Haramain. Selain pernah menjadi guru besar di perguruan tinggi Nizhamiyyah, beliau juga pernah bekerja di istana kesultanan seljuk. Maka, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa beliau memiliki hidup yang berkecukupan secara dunia. Tapi, dunia tetaplah dunia, ia bersifat fana. Diberinya senyuman padahal hakikatnya umpatan. Diberinya tangan kasih padahal hakikat sebilah pedang. Diberinya kenikmatan sejatinya semu. Maka kemudian kesemuan atas dunia ini membawa Imam al-Ghazali kepada suatu pergolakan batin—antara dunia dan akhirat. Pergolakan ini ia narasikan sendiri di dalam autobigrafinya:

    “suatu hari aku berniat meninggalkan bagdad dengan semua lingkungannya, tapi keesokan harinya pikiranku berubah lagi… keinginan terhadap dunia menarikku dan mengikatku agar tetap bertahan. Sebaliknya, suara iman berseru, ‘pergilah! Pergilah! Umurmu hanya tersisa sedikit lagi, sedangkan perjalanan yang harus kau tempuh masih panjang. Semua pengetahuan dan amal perbuatan yang menjadi milikmu hari ini hanyalah hiasan mata dan kebanggaan. Jika sekarang engkau tidak melakukan persiapan untuk akhirat, kapankah lagi kau akan melakukannya?”

    Dia menang melawan godaan dunia tersebut. Di sisa usianya, ia memutuskan untuk meninggalkan kesenangan dunia dan memilih jalan sufistik. Jalan ini ia pilih tidak lain karena kesadaran dan keyakinannya atas kepastian datangnya maut dan hari kiamat. Sehingga hal ini mempengaruhi tema tulisan-tulisannya di fase akhir perjalanan hidupnya.

    Di dalam buku ‘’Metode Menjemput Maut” beliau menasehati kita semua agar tidak takut mati dan tidak terhasut oleh godaan dunia dan, agar memperbanyak mengingat mati. Apabila manusia telah duduk kesadarannya bahwa mati itu suatu kepastian, maka ia tidak akan berlebihan dalam mengejar dunia. Tetapi, kita juga mesti adil dalam melihat ini. Bahwa al-Ghazali memutuskan memilih jalan sufistik setelah merasai bagaimana hidup dalam tabung dunia dengan segala pernak-perniknya. “kejarlah akhirat tapi jangan lupakan dunia” cukuplah menjadi tanda bahwa dunia bukan sesuatu yang haram. Dan kita dewasa ini, dengan kehidupan yang penuh tantangan sebab dari perkembangan teknologi dan ideologi akan sangat sulit untuk melepaskan dunia seluruhnya, lebih-lebih memilih jalan sufisme. Namun, disamping itu apa yang beliau nasehatkan kepada kita, cukuplah menjadi dasar bagi kita apabila belum mampu melepaskan jubah dunia itu seluruhnya maka sekurang-kurangnya seimbang memosisikan kepentingan akhirat dan dunia. Mengupayakan dunia dengan sewajarnya atas alasan untuk tetap bisa hidup dan, dengan tidak melupakan kematian dan akhirat sama sekali.

    Pada posisi bersikap sewajarnya, kita akan terjauh dari sifat ‘berpanjang angan-angan. Sebab Imam al-Ghazali mengatakan, faktor berpanjang angan-angan tidak lain karena bodoh dan cinta dunia.

    tak seorang pun yang dapat memuaskan hasratnya; sebab satu hasrat akan disusul oleh hasrat lainnya

    Terkini kita sedang menghadapi ujian, ujian yang melanda bukan hanya Indonesia tetapi dunia. Dimana wabah yang mereka sebut dengan Covid-19 menghantui mereka siang dan malam. Telah ribuan manusia mati karenanya, dan entah berapa jumlahnya yang sedang dalam perawatan medis. Sementara di Indonesia sendiri, telah mencapai ribuan yang terdampak dan telah ratusan orang yang meninggal dunia—maka muncul lah perintah agar masyarakat melaksankan social distancing dalam rangka memutus penyebarannya. Pada posisi ini, kita sebagai umat muslim dihadapkan pada kebimbangan. Antara perintah tegas syariat dan ancaman Covid-19. Apabila beberapa orang menyatakan siap mati demi melaksanakan syariat, sementara yang lain tidak siap, lalu bagaimana? sementara kita sedang berhadapan dengan penyakit menular. al-Ghazali mengutuk sikap cinta dunia dan takut mati. Dalam konteks ini alasan apa yang paling logis kalau tidak karena dunia ketakutan-ketakutan itu lahir? Ini yang membuat kita semua bimbang.

    Namun, kebimbangan itu tidak perlu kita diskusikan lebih tajam lagi. Karena islam sebagai agama yang tegas sekaligus toleran memiliki jalan untuk menghadapi setiap kesulitan-kesulitan pelaksana syariat dengan prinsip pengecualiannya. Yang perlu kita bahas lanjutan adalah mengenai ketakutan-ketakutan mereka akan kematian sehingga membunuh rasa kemanusiaan dengan dalih keamanan. Barangkali kita semua sudah mendengar dan melihat sikap-sikap tidak berkemanusiaan mereka. Lebih-lebih yang paling memilukan ketika mereka menolak mayat dengan berbagai alasan. Padahal inti dari kesemua alasan itu dapat kita pahami, yaitu takut akan kematian.

    Bagaimana mungkin penolakan itu dapat hadir. Sementara mati itu adalah pasti bagi setiap manusia. Kalau tidak mati karena hal ini, maka ia akan mati karena hal lainnya.

    Rasulullah Saw. Bersabda, “Manusia itu dikepung oleh 99 macam sebab kematian; jika semua sebab itu gagal mengenainya, dia pasti tidak bisa mengelak dari usia tua.” (Tirmidzi, al-Qiyamah, 22.)

    Bukan pula kita sedang menantang Covid-19. Tetapi tetap masih dalam konteks pembicaraan diatas. Penyebaran ketakutan itu ternyata lebih cepat dari Covid-19 itu sendiri. Jika Covid-19 telah menjamah ribuan orang maka ketakutan telah menjamah hampir seluruh penduduk Indonesia. Media-media dan mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab menebar benih-benih ketakutan itu, sehingga muncrat dan mengenai setiap orang yang melihat, mendengar, dan membacanya. Sekali lagi kita sedang tidak dalam rangka menantang suatu penyakit, bukan karena wujud penyakitnya tetapi penantangan semacam itu identik dengan keangkuhan. Ketakutan-ketakutan yang membunuh rasa kemanusiaan lah yang harus di lawan.


    Catatan: Tulisan ini Refleksi dan Parafrase dari buku terjemahan Ahsin Mohamad ”Metode Menjemput Maut” Karya Imam al-Ghazali

  • Ibnu Khaldun dan Hakikat Kekuasaan Politik

    Oleh: agung hidayat

    Abdurrahman Ibn Khaldun al-Maghribi al-Hadrami al- Maliki atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Khaldun adalah seorang ulama terkemuka yang hidup pada abad pertengahan atau tepatnya masa kekuasaan bani Mamluk antara abad ke-8 dan 9 H. Ia dikenal pula sebagai seorang ilmuwan muslim yang ahli dibidang sejarah, sosiologi, politik, dan ekonomi.

    Dewasa ini di tengah masyarakat apabila mereka diskusi mengenai kekuasaan dan politik cenderung mengeluarkan pendapat-pendapat yang negatif. Hal ini bukanlah tanpa sebab, karena dalam praktiknya kekuasaan dewasa ini hanya alat bagi para politisi buat mencapai kepentingan-kepentingan atas dirinya, keluarga, dan gengnya. Tidak harus jauh-jauh kepada kekuasaan tingkat negara tetapi cukup kita saksikan realitas ini di tingkat desa. Maka, realitas kekuasaan di tingkat yang lebih tinggi itu tidak jauh dari yang dibawahnya karena ia berada dalam satu sistem. Apa yang masyarakat diskusikan ini merupakan praktik dari kekuasaan, ada pula beberapa orang dari masyarakat yang mendiskusikan fakta kekuasaan pada tingkatan praktik dan sistem, meskipun dapat di hitung jumlahnya. Beberapa orang menyebut fakta kekuasaan dewasa ini cenderung zalim, sebab ia tidak mampu mengangkat keadilan sebagai tujuan pokok dari pemerintahan umum. Bahkan pada fakta yang lebih ekstrim beberapa politisi menggunakan jabatan politik sebagai arena bisnis, sehingga tak segan melancarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Padahal inti dari kekuasaan adalah untuk mengatur dan memenuhi hajat kehidupan umat manusia. Dalam islam kekuasaan itu tidak hanya memenuhi tujuan dunia semata tetapi ia juga menyangkut persoalan akhirat.

    Di dalam bukunya yang berjudul ‘Mukaddimah’ pada salah satu pasalnya Ibnu Khaldun membahas tentang kekuasaan, kekhalifahan, dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Kita semua sebagai seorang muslim menyepakati bahwa Allah menciptakan manusia bukan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan manusia di dunia saja. Karena bagaimanapun manusia akan mati dan menuju alam akhirat. “Apa engkau mengira bahwa kami menjadikan engkau sia-sia.” (al-Mukminun:115)

    Menurut Ibnu Khaldun penciptaan manusia memiliki maksud untuk membuat ia bahagia di akhirat kelak.

    Manusia tidak mungkin terlepas dari kehidupan bermasyarakat sehingga ia membutuhkan suatu pemerintahan yang mengatur dan memenuhi segala hajatnya.  Namun, pemerintahan tersebut tidak boleh lepas dari syariat. Dalam arti lain, kekuasaan harus berjalan berdasarkan aturan-aturan agama sehingga masyarakat dapat terlindungi dengan aturan-aturan tersebut. Diatas telah kita sebut bahwa penciptaan manusia sejurus dengan kepentingan dunia dan akhirat. Maka dalam hal ini kekuasaan yang berdasarkan syariat bukan hanya melindungi dan menyelamatkan manusia dari persoaln dunia tetapi juga akhirat. Pada masalah duniawi manusia harus makan, minum dan berpendidikan, kekuasaan (penguasa) harus turut serta dalam memenuhi kebutuhan tersebut sebagi kebutuhan dasar untuk hidup dan berkehidupan. Pada masalah akhirat manusia harus menjalankan setiap kehidupannya berdasarkan aturan-aturan syariat, hal-hal yang bertentangan dengan aturan-aturan syariat maka akan mendapatkan konsekuensi. Agar manusia tetap terkendali didalam hal ini maka penguasa harus menerapkan aturan-aturan yang menjauhkan manusia dari berbuat zalim dan aniaya kepada dirinya, kepada sesama manusia dan kepada agamanya. Kekuasaan yang berdasarkan kesewenang-wenangan, saling menguasai, dan jauh dari syariat merupakan kebijakan yang sesat dan tercela serta akan menimbulkan kerusakan. Hal ini lahir apabila hukum-hukum pada suatu pemerintahan dirumuskan oleh para cendekiawan, para pemimpin kerajaan dan para pakarnya berdasarkan akal murni. Sementara apabila diturunkan dari syariat Allah maka dikatakan sebagai hukum agama yang dapat bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

    Dan menurutnya kekuasaan yang didasarkan kepada hukum politik dan aturan-aturan yang jauh dari petunjuk Allah merupakan suatu ketercelaan. Karena Allah sebagai pembuat hukum lebih mengetahui kepentingan-kepentingan seluruh makhluk-Nya. Hal ini berkenaan dengan adagium bahwa islam adalah rahmat bagi semesta. Siapa yang lebih mengetahui alam ini selain penciptanya?

    Selanjutnya, dampak dari syariat ini tidak lain untuk mendorong umat manusia berada dalam aturan-aturan syariat demi kebaikan dunia dan akhirat. Kekuasaan yang berdasarkan syariat ini harus diberikan kepada yang mampu dalam mengembannya, merekalah para Nabi dan khalifah sebagai penggantinya (Khalifah Rasulullah).

    Menurut beliau, karakter dasar pemerintahan cenderung memerintah berdasarkan tujuan dan keinginan naluriahnya. Sedangkan kekuasaan politik cenderung memerintah masyarakat berdasarkan akalnya. Yakni, sebatas mendatangkan kebaikan dunia semata—padahal tidak jarang pula kekuasaan yang berdasarkan akal itu mendatangkan keburukan bagi manusia dan alam. Namun beliau berkata pula, bahwa kekuasaan memang memiliki konsekuensi atau akibat. Kekuasaan bisa menimbulkan kerusakan, pemaksaan, kezaliman, dan tenggelam dalam kesenangan dunia. Tetapi disisi lain kekuasaan yang berdasarkan syariat memuji sifat keadilan, tenggang rasa (toleransi), dan menjalankan ajaran-ajaran agama serta mengaplikasikan hal tersebut dalam realitas kehidupan (kekuasaan). Kekuasaan kekhalifahan cenderung memerintah berdasarkan syariat, baik buat kepentingan-kepentingan akhirat maupun dunia. Karena pada hakikatnya kekhalifahan itu merupakan wakil Allah dalam menjaga agama dan kehidupan dunia. Serta seluruh aktivitas dunia hanyalah sebagai piranti untuk mencapai kehidupan akhirat.

    Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita tarik benang merahnya. Bahwa kekuasaan dewasa ini dirumuskan jauh daripada syariat yang diturunkan Allah. Kekuasaan dewasa ini tidak memiliki pengendali yang dapat mengendalikan tangan fananya dari berbuat zalim. Ketidakadilan yang tampak nyata dalam kehidupan yang dibawah kekuasaan tersebut merupakan bukti nyata, bahwa ia harus memiliki pijakan yang berdasarkan syariat. Apabila kemudian beberapa orang menyatakan bahwa kekuasaan itu tidak harus berdasarkan syariat maka ia telah terjebak baik dalam pandangan yang naif atau karena kepentingan-kepentingan semu. Dalam jumlah masyarakat yang ratusan bahkan milyaran juta jiwa itu, akan sangat sulit bagi mereka mengangkat keadilan, dan menyeimbangkan kepentingan dunia dan akhirat apabila kekuasaan itu dibangun berdasarkan akal murni. Seperti yang telah kita sebutkan diatas bahwa hanya penciptalah yang paling mengerti maksud dan pengaturan atas ciptaannya (Nya).

  • Mengembara

    oleh: agung h.

    Ibn Qayyim al-Jawziyya, pernah berkata, “Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara.”

    Orang-orang seperti kami haruslah mendapatkan pendidikan hakikat yang lebih. Karena apabila telah sampai pemahaman hakikat ke kepala dan hati maka tidak akan seseorang itu bercepat mulut. Untuk mendapatkan pemahaman itu ia harus merelakan dirinya mengembara baik di alam pikiran atau di alam realita.

    Manakala telah benar-benar menjadi  sufaha. Setelah melalui pertimbangan yang panjang, melalui diskusi dengan beberapa orang yang saya percaya, serta dengan niat untuk melengkapi kecacatan-kecatatan yang ada pada diri. Sebagai seorang lelaki yang memiliki cita-cita radikal dan revolusioner, yaitu merubah paradigma masyarakat dan pemuda kampung agar adil sejak dalam pikiran. Maka, saya putuskan untuk mencari piranti-piranti untuk melengkapi cita-cita itu, ke suatu negeri, ke suatu pulau, ke suatu dunia baru.

    Imam Syafii mengungkapkan, “Bahkan seekor singa tidak akan pandai memangsa jika tidak hidup di hamparan bumi yang luas, dan anak panah tak akan menemui sasarannya bila tak pernah dilepaskan dari busurnya.”

    Kalau tidak layak dikatakan saya mengikuti jejak Ibn Batutah, maka saya sedang berusaha untuk tidak menjadi sampan tanpa kemudi, untuk tidak menjadi sebongkah kayu mati yang terseret-seret oleh arus.

    Dalam pencarian dan pengembaraan itu, saya masihlah sama seperti manusia biasa. Pada waktu-waktu tertentu terlintas beberapa hal yang melemahkan langkah. Bersyukur ada orang-orang yang setia menasehati saya akan tujuan saya ke negeri orang. Meskipun saya tidak berasal dari keturunan perantau secara genetik, tetapi setidaknya sejak dari kakek dan ibu/bapak sudah memulai untuk mengundi hidup dikampung orang. Beberapa dan dapat dikatakan telah banyak saya berjumpa dengan orang-orang yang bernasib sama, maksudnya kami seorang lelaki perantau tunggal yang tidak lepas dari kisah-kisah masa silam. Kami dibentuk dari penggalan-penggalan masa silam, yang justru menguatkan niat untuk tidak membalik haluan. Seorang pengembara juga manusia, dan gadis-gadis yang pernah berlalu adalah bunga-bunganya, bahkan beberapa filsuf dan pemikir ternama tidak luput dari gadis dan cinta. Kegagalan dalam konteks ini bukanlah sesuatu yang memalukan, bagi mereka yang berpikiran terbuka. Tapi mungkin saja ini memalukan bagi beberapa orang yang tidak pernah berkehidupan dalam arti yang sesungguhnya.

  • Syair-syair Melankolik

    Aku

    Malam bertanya siapakah aku
    akulah yang melangkah dengan resah dalam kedalaman malam
    akulah diam yang berontak
    kusimpan rahasiaku dengan diam
    kuselimuti hatiku dengan curiga
    dan di sini, aku tersiksa sebagai tawanan
    denting masa bertanya dan menatapku
    siapakah sebenarnya aku
    angin pun bertanya siapakah aku
    akulah jiwanya yang kebingungan dan diingkari  waktu
    aku seperti dia, tiada bertempat tinggal
    kami terus melangkah tiada henti
    kami terus berjalan tiada bertepi
    dan ketika kami sampai di tikungan jalan
    kami mengira ini jalan penghabisan dari semua nestapa, ternyata ruang angkasa
    waktu bertanya siapakah aku
    aku seperti dia yang perkasa menggulung usia
    dan kembali akan mengembalikan hari kebangkitan untuknya
    kucipta masa lalu yang terbebas dari godaan harapan yang melenakan
    lalu kubur ia kembali
    untuk menempa hari-hari kemarin yang baru
    dan hari-hari esok yang beku
    diri ini bertanya siapakah aku
    aku seperti dia, bingung dan terkepung dalam kegelapan
    tak ada yang dapat memberiku kedamaian
    aku tetap menjadi pertanyaan dan jawaban
    dan tetap akan tersembunyi dalam fatamorgana
    aku masih mengira ia begitu dekat
    ternyata ketika aku sampai kepadanya, aku meleleh
    memudar dan sirna.

    Buah Pikiran-Nazik al-Malaikah

    Sepasang Matamu

    Biarkan sepasang matamu melihat yang tak terlihat
    Biarkan ia menafsir yang serupa mimpi
    Sebab matamu tercipta dari sesuatu
    Yang menjadikan tidur sebagai perangkap
    Dan kemeja yang terluka sebagai kemungkinan

    Yang tersisa dari kematian
    Adalah tipu daya kehidupan
    Biarkanlah
    Sebab ia adalah titah
    Dan sepasang matamu akan tetap melihat yang terlihat

    Buah Pikiran-Qasim Haddad

    Hendak Kukatakan Kepadamu: Aku Mencintaimu

    Hendak kukatakan kepadamu: aku mencintaimu
    kala batas-batas akhir antara kau dan puisi telah berakhir
    hingga tidur di atas kertas-kertas oretanku menjelma
    hasrat sekaligus kebingungan seperti tengah tidur bersamamu
    hal itu tak semudah yang kau bayangkan
    sebab aku tak bisa mencintai perempuan
    di luar ketukan ritme syair-syair
    sebab aku tak bisa memulai percakapan dengan tubuh yang tidak bisa kueja
    kata demi katanya
    sepenggal demi sepenggal kalimatnya
    sesungguhnya aku terbebas dari belenggu para intelektual
    akan tetapi jiwaku menolak orang-orang yang tidak bisa bicara dengan cerdas
    dan mata yang tidak melemparkan pertanyaan
    sebab syarat hasrat yang kumiliki, terikat dengan syarat-syarat puisi
    maka perempuan adalah puisi, di mana aku mati saat menuliskannya
    di mana aku mati saat melupakannya

    Buah Pikiran-Nizar Qabbani

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai