Oleh : agung hidayat

Sebelum matahari menampakkan diri. Biasanya stasiun sudah penuh oleh lautan manusia. Suara kendaraan memadati telinga. Selain sebagai Ibu kota negara, kota ini juga sebagai pusat perekonomian. Orang-orang desa rela meninggalkan kampungnya untuk bertaruh hidup di kota ini, atas nama martabat dan pencapaian hidup. Maka tidak heran, jika para petarung itu menjuluki kota ini sebagai arena peperangan. Kota ini bukan hanya sibuk oleh beragam aktifitas manusia, tetapi juga mesin-mesin. Akan sangat sulit menemukan ketengan walau hanya sejenak.
Itu bulan Desember tahun perjuangan. Saat langit sedang panas-panasnya dan jalanan penuh dengan kendaraan.
Langkahnya terhenti, Tepat didepan salah satu halte Bus Transjakarta. Tubuhnya terpaku. Matanya memutar-mutar melihat satu persatu bangunan tinggi yang menyilaukan mata itu–penaka memancarkan keangkuhan.
“Kota ini begitu megah” Bisiknya dalam hati. “Namun sayang, dibalik kemegahannya ia menyembunyikan karut marut kehidupan. Disana, tidak jauh dari gedung-gedung ini ada orang-orang terkapar kelaparan, tubuhnya kumuh dan hidupnya terlunta-lunta. Ada kehidupan purba ditengah kota. Jangankan untuk membeli pakaian dan makanan yang layak, untuk mendapat izin masuk ke dalam gedung itu saja tidak bisa. Satpam akan langsung mengusirnya.” Ia berbicara pada dirinya sendiri.
“Sungguh, kota ini dibangun diatas kepalsuan.” Umpatnya dengan suara yang sedikit keras.
—
Petang itu ia keluar dari stasiun berdesak-desakan, tanpa disengaja menyerempet seorang perempuan. Ia perhatikan wajahnya beberapa detik. Ia meminta maaf, lalu melanjutkan langkahnya.
Di lihatnya di luar hujan deras. Tanpa pikir panjang ia putuskan menerobosnya berlari-lari kecil dibawah hujan itu. Sandal biru mengiringi langkahnya yang pendek seperti langkah Maui di film Moana. Dari stasiun Gondangdia kearah timur laut melewati kantor kementerian pertahanan lalu berbelok ke kanan memasuki jalan Menteng Raya. Berjalan sedikit ke depan tepat disebelah Apartemen Mewah Fraser Residence, disanalah Mikail tinggal, sebuah asrama milik organisasi islam.
Ia dorong pintu tak berkunci itu lalu duduk dengan membuka kaki selebar badannya. Ia urungkan niat untuk mengambil handuk karena pikirannya masih terbayang oleh perempuan di kereta tadi. Perempuan itu wajahnya biasa saja. Perempuan itu mengingatkannya pada seorang perempuan di kampungnya yang pernah ia sukai. Kabarnya hidup perempuan itu kini menyedihkan karena menikah dengan pria bajingan.
Mikail al-Ghazali adalah anak tunggal. Orangtuanya buruh disebuah perusahaan kelapa sawit swasta milik kapitalis lokal yang belum lama ini meninggal. Dia meninggal di dalam kapal laut saat sedang bertamasya mengelilingi samudera. Perusahaan itu kini di ambil alih oleh anaknya yang tidak jauh berbeda seperti ayahnya.
Sewaktu muda ayah Mikail adalah seorang aktivis di sebuah organisasi pengkaderan. Disana ayahnya di tempa menjadi manusia yang tahan banting dan mandiri. “Orang-orang yang lahir dari organisasi pengkaderan sudah semestinya memiliki naluri bertahan hidup yang baik”—ucap ayahnya suatu ketika. Itulah mengapa Mikail merantau sampai ke Jakarta. Ia ingin meneruskan perjuangan ayahnya.
Dulu, ayahnya sering berdemo menentang penjajahan gaya baru. Ayahnya mengatakan “Kehidupan kita telah dikendalikan oleh segelintir elit.” Meskipun pada akhirnya ayahnya menjadi budak Corporate. Bekerja buat kepentingan elit ekonomi. Tidak ada pilihan lain. Hanya agar Mikail bisa kuliah.
Kini, Mikail mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang aktivis. Organisasi yang di ikutinya memiliki tujuan yang tercermin dalam satu kata yang tegas dan singkat “pembebasan”.
Mikail telah berjumpa dengan banyak organisasi pergerakan dan orang-orangnya. Baginya semua pergerakan memiliki salah satu dari dua tujuan: penguasaan dan pembebasan. Namun pergerakan yang ia ikuti memiliki kedua tujuan itu: berkuasa untuk membebaskan. Baru disini ia melihat perjuangan yang murni, rapih, dan konsisten. Ia tak tahu apakah diluar sana ada pergerakan yang seperti itu. Kalaupun ada, ia sangat bersyukur. Berarti masih banyak orang yang peduli dengan kehidupan yang karut marut ini.
—
Malam ini ia harus menghadiri diskusi lintas organisasi pemuda tentang “Keadilan dan Kemakmuran”. Ia jadi salah satu pembicaranya. Ia bergegas membersihkan diri. Jarak menuju lokasi pertemuan sekitar setengah jam jika tidak macet. Tapi tak mungkin. Pasti macet.
Diperjalanan dari balik kaca mobil ojek online ia melihat gedung-gedung tinggi itu. Waktu sudah mulai gelap. Lampu-lampu gedung membuatnya semakin indah terlihat. Ditambah sisa rintik hujan yang jatuh rincis-rincis membuat cahaya lampu gedung itu membias seperti pelangi. Ia selalu memandangi gedung-gedung kota setiap kali bepergian. Mengingatkannya pada manusia-manusia yang tak bisa menginjakkan kakinya di gedung itu. Gedung-gedung ini dibangun tidak untuk rakyat jelata.
Mikail membuka pintu mobil melangkah menuju ruangan acara. Jam menunjukkan pukul delapan belas empat puluh. Jalanan yang macet tadi membuatnya terlambat sholat maghrib. Ia melangkah mencari mushola untuk melaksanakan sholat. Acara akan mulai ba’da Isya’. Sehabis sholat ia pergi menemui Lukas Hiolo dari organisasi mahasiswa.
“salamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam. hey Mik, gimana tadi macetkah?” sambung Lukas
“Kalau tak macet. Bukan jakarta namanya” Pungkas Mikail
“Kenalkan ini Fatimah. Dia dari Malaysia sedang studi Magister Filsafat di UIN.” Lukas Hiolo memperkenalkan perempuan yang berada disampingnya.
Mikail terkejut, ini perempuan yang ia jumpai di kereta itu. “ah, ya, Fatimah. Salam kenal”
Dengan logat Melayu yang kentara Fatimah menjawab “Ya, Mik, salam kenal juge. Saye tak asing dengan nama awak. Saye sering mendengar aktivis lain membicarakan awak. Salam kenal, Mik.”
Mereka bercakap-cakap sembari menunggu acara mulai.
Ruangan yang seluas lapangan futsal itu sudah dipenuhi oleh orang-orang. Mikail berjalan ke depan untuk duduk di bangku para pembicara. Semua pembicara sudah hadir dan acara dimulai. Moderator membuka acara dengan kalimat-kalimat pemantik “Manusia menghuni bumi sudah ribuan tahun. Selama itu pernahkah seluruh manusia mengalami keadilan dan kemakmuran yang ideal seperti yang sedang kita perjuangkan ini? atau cita-cita itu hanya membuang-buang waktu kita yang sesungguhnya tidak akan mungkin tercapai?”.
Moderator itu tampaknya bukan orang sembarangan. Pasti dia seorang aktivis di organisasi yang progresif. Dia meragukan keadilan dan kemakmuran umat manusia dapat dicapai sampai pada titik ideal. Mungkin dia meyakini, Tuhan menciptakan kehidupan beserta dengan segala dinamikanya. Apa yang ada di dalam kehidupan saling berpasangan. Tinggi dan rendah. Dalam dan dangkal. Baik dan buruk. Dan seterusnya. Bila ada kehidupan ideal maka akan ada kehidupan anti-ideal. Yang intinya tidak mungkin seluruh umat manusia mendapat keadilan dan kemakmuran dalam waktu yang bersamaan.
Seluruh pembicara telah menyampaikan pendapat mereka masing-masing. Selanjutnya Mikail, dia paling muda diantara pembicara lainnya dan belum selesai sarjana.
Mikail menyampaikan pendapatnya. Ia tertarik dengan pernyataan keadilan dan kemakuran yang ideal bagi seluruh umat manusia. Kalimat ‘bagi seluruh umat manusia’ terkesan utopis. Tidak banyak berlari kesana kemari, Mikail menyampaikan bicaranya dengan singkat, Mikail mengatakan “Saya tidak begitu yakin dengan keadilan dan kemakuran bagi seluruh umat manusia. Apa lagi sampai pada titik yang ideal. Tapi, sejak kapan aktivis perjuangan diajarkan menyerah sebelum menang?”
Setelah hampir tiga jam berlangsung pernyataan Mikail menutup diskusi. Moderator menyampaikan kesimpulan sebagaimana pada acara-acara diskusi pada umumnya. Moderator menutup dengan pantun ala Betawi disambut dengan tepuk tangan.
Mikail berjalan menghampiri Lukas Hiolo dan Fatimah. Setelah berbincang-bincang sejenak dan bertukar nomor telepon dengan Fatimah. Mikail izin pulang buat istirahat.
Sesampainya di asrama Mikail tumbang diatas kasur tua–warisan dari penghuni asrama sebelumnya.
Satu harian penuh Mikail bertemu dengan gedung dan orang-orang. Tubuhnya kelelahan tak berdaya. Tapi kepalanya yang juga kelelahan masih berdaya mendatangkan bayangan Fatimah malam itu, bayangan itu seolah-olah tersenyum pada dirinya lalu mengatakan ‘Mik, aku kagum dengan cara mu memandang dunia’. Sungguh, tidak ada adegan yang lebih lucu dibanding saat seorang pemikir kelimpungan tak keruan karena jatuh cinta.
Besok pagi, Mikail harus kuliah. Pak Zenimo Laia dosen Mikail yang berdarah Nias itu tak bisa di ajak bernego. Dia satu-satunya dosen tanpa kompromi di kampus yang menjunjung tinggi toleransi itu. Tidak seperti pak Andi Faniupalu, meskipun kadang kejam tapi masih bisa berkompromi jika soal organisasi.
Pun buk Kristin Simbolon, dia dosen muda berusia dua puluh delapan tahun lulusan Stanford University yang paling sering memaklumi jika Mikail tidak bisa masuk kuliah. Buk Kristin juga sering membela Mikail dihadapan universitas soal permasalahan kuliahnya. Kebaikan buk Kristin membuat Mikail sering tertolong. Tapi sayang, meskipun baik dan pintar dia belum juga menikah.
Mikail bangkit dari kasur tua buat membersihkan diri dan melaksanakan sholat isya’. Selepas itu dia tidur. Bersiap menuju kehidupan berikutnya.
Sudah hampir empat tahun Mikail merantau di Jakarta. Selama itu baru tiga kali dia pulang ke kampung menemui orang tuanya. Tahun lalu dia tidak bisa pulang karena ongkos pesawat tiba-tiba saja melambung tinggi hampir tiga kali lipat dari biasanya. Dari pada membayar ongkos pesawat yang semahal itu yang cuma akan membuat kapitalis semakin berjaya. Lebih baik Mikail menyimpan uangnya buat keperluan perut dan otak.
Sebenarnya bisa saja dia pulang menggunakan bus, tapi akan banyak menghabiskan waktu di perjalanan sementara waktu libur hanya sebulan. Orang tua Mikail memakluminya. Terlebih lagi ayahnya.
Ada satu fakta yang akan membuat ibu Mikail kecewa jika mengetahuinya. Bahwa kuliah Mikal tidak semulus yang dibayangkan. Mikail sering menggunakan waktunya buat berbagai kegiatan diluar kampus. Sehingga kuliahnya menjadi sedikit berantakan. Ayahnya bisa memakluminya, tetapi ibunya tidak. Sebagaimana seorang ibu pada umumnya ingin yang terbaik buat anaknya. Begitu juga dengan ibu Mikail. Setiap menelepon ibunya sering mengingatkan, agar Mikail menjalankan kuliah dengan sungguh-sungguh. Kampungnya memerlukan orang-orang terpelajar buat membebaskan masyarakat dari kelicikan perusahaan sawit yang berselingkuh dengan penguasa daerah. Hutan dibakar dan tanah adat dirampas tanpa imbalan. Memang telah banyak kampung itu melahirkan sarjana sampai doktor. Tapi mereka hanya mementingkan keamanan dan kenyamanan diri sendiri. Mereka tidak benar-benar peduli dengan kampung. Meskipun setiap tahun, setiap kebakaran hutan melanda mereka tampil ke muka bak pahlawan–selamatkan Riau, katanya.
Mikail menyembunyikan kenyataan itu dari ibunya. Dia tetap fokus mengikuti berbagai acara dan diskusi buat mengisi otaknya. Sebenarnya Mikail memiliki satu alasan kenapa dia lebih memilih diskusi diluar kampus dari pada mengikuti jam kuliah. Persoalan kampungnya adalah persoalan integritas dan cara berpikir. Selama ini setiap terjadi bencana kebakaran hutan. Orang-orang kampung hanya fokus pada solusi taktis. Mereka tidak melihat akar permasalahan secara mendalam. Ditambah lagi sebagian intelektual plastik memanfaatkan bencana kebakaran hutan sebagai momentum politis buat memperkuat eksistensi. Hal ini dikarenakan integritas yang cacat dan cara berpikir yang condong keduniaan dan individualistik.
Mikail berpegang pada pernyataan seorang ulama revolusioner. Untuk merubah pemikiran masyarakat pemimpin itu tidak boleh berpikir dangkal tapi harus mendalam, yaitu memahami persoalan sampai ke akarnya. Dan tidak cukup hanya berpikir mendalam tetapi juga harus berpikir cemerlang, yaitu mencari solusi efektif buat penyelesaian permasalahan itu. Mikail berpendapat harus ada pembaruan pemikiran di dalam tubuh masyarakat Riau. Dan ilmunya itu hanya bisa di dapat di luar kampus. Kecuali hanya sebagian kecil saja yang bisa di dapat di dalam kampus.
keesokan hari setelah menyelesaikan jam kuliah dengan pak Zenimo Laia. Mikail pergi ke kantin Paramasophia tempat nongkrongnya mahasiswa filsafat. Mikail nongkrong di kedai itu sampai waktu zhuhur. Ketika Mikail hendak pulang ke asrama Nue Giloni laki-laki asal Bangka Belitung yang juga seorang mahasiswa filsafat dua angkatan diatas Mikail memberikan selembar kertas undangan. Nue Giloni menyarakan agar Mikail datang ke acara itu. Katanya salah satu pembicaranya adalah Yulius Magnina seorang profesor filsafat yang fokus mendalami filsafat moral. Lumayan buat menambah pengetahuan baru soal moralitas. Acaranya di Balai Istana Joeang. Besok hari pukul sembilan pagi.
Mikail melangkah ke depan gerbang kampus untuk naik bus Transjakarta. Sesampainya di asrama dia duduk di sofa yang sudah bolong-bolong. Mikail membuka telepon yang tidak ia sentuh sejak malam tadi. Dua belas panggilan tak terjawab: Dua kali dari ibu di kampung. Dua kali dari Lukas Hiolo. Satu kali dari Fatimah. Dan delapan kali dari buk Kristin Simbolon. Tampaknya, buk Kristin khawatir Mikail tidak masuk kuliah hari ini.
Memang buk Kristin Simbolon begitu baik hati. Ada satu buku langka yang diberikannya beberapa waktu lalu, tapi Mikail belum sempat membacanya karena ada buku lain yang belum selesai dia baca.
Sebelum istirahat Mikail menyempatkan membaca artikel terbaru di blog pribadi seorang mantan menteri. Blog pribadi yang kepopulerannya hampir menyamai media mainstream. Tulisannya sederhana dan asik dibaca, meskipun begitu memiliki inti yang dalam dan mencerahkan. Artikelnya terbit setiap pukul empat subuh hari. Subuh tadi Mikail tidak sempat membacanya karena kelelahan.
Sehabis membaca artikel. Mikail bangkit dari sofa dan pergi untuk mandi. Sejurus kemudian dia berbaring dan terlelap.
Biasanya jika tidak ada acara Mikail akan menghabiskan waktu di dalam asrama. Membuat kopi dan membaca buku sembari menghisap rokok berbatang-batang. Malam itu dia masih terjaga padahal sudah pukul satu dini hari. Berlembar-lembar halaman buku dia tuntaskan. Sampai di satu batang rokok terakhir dia meniatkan untuk istirahat, masih ada waktu buat tidur.
Pukul delapan tiga puluh pagi Mikail berangkat ke Balai Istana Joeang. Dia berjalan kaki menuju lokasi, buat melatih paru-parunya yang lebih banyak di beri asap rokok dari pada olahraga.
Gedung itu bergaya bangunan Belanda. Jendela dan pintunya berukuran lebih besar dari umumnya terlihat kokok dan kuat tampaknya terbuat dari kayu jati. Mikail masuk ke dalam ruangan dan acara belum dimulai, dia duduk menunggu di dalam ruangan. Biasanya acara akan di mulai setengah jam lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Seperti sudah menjadi budaya bangsa ini.
Mikail memutuskan keluar sebentar buat menghisap rokok. Dia pergi ke belakang gedung mencari tempat yang lebih pantas buat merokok. Suasana dibelakang gedung sejuk, terdapat banyak pohon mangga berdaun rimbun. Mikail menyandarkan punggungnya di tembok itu. Dia hisap rokok itu perlahan-lahan. Lalu berjalan-jalan kecil melihat area belakang gedung. Saat menoleh ke kanan tanpa disengaja matanya menemui Lukas Hiolo dan Fatimah berduaan dibalik tembok putih gedung itu. Mikail tidak menduga akan menyaksikan pemandangan yang semenyakitkan itu. Lukas Hiolo dan Fatimah sedang bercumbu. Sejurus kemudian Lukas Hiolo menyadari kehadiran Mikail. Mereka berdua terperangah melihat Mikail berada disana. Lukas Hiolo berlari menghampiri Mikail. “Bagaimana kau bisa disini?!” Ucap Lukas.
“Aku ingin melihat Profesor Yulius Magnina.” Jawab Mikail datar
“Jangan beritahu siapapun apa yang kau lihat tadi, aku mohon?” Lukas Hiolo mengiba
Fatimah berdiri disebelah Lukas Hiolo dengan kepala tertunduk dan wajahnya memerah malu. Tuhan telah membuka tabir. Perempuan yang dia cintai tertangkap basah sedang bercumbu. Runtuh seluruh rasa cinta Mikail yang belum sempat terungkap itu. Dia memendam luka itu sendirian. Bahkan Fatimah tak mengetahuinya bahwa orang yang sedang dihadapannya sedang terluka karenanya.
“Aku dan Fatimah sudah menghubungi mu kemarin untuk mengajak mu hadir di acara ini, tapi tidak ada jawaban darimu? Tapi kenapa sekarang kau tiba-tiba disini?” Ucap Lukas Hiolo
“Seorang kawan kampus meminta ku untuk hadir.”
Mereka berjalan ke ruangan acara. Acara sudah dimulai. Prof. Yulius Magnina menyampaikan materinya. Mata Mikail terlihat fokus memperhatikan Profesor itu berbicara, padahal pikirannya terbang entah kemana.
Pikiranya tak keruan, sebelum acara selesai. Mikail izin untuk pulang kepada Lukas Hiolo dan Fatimah.
Tubuhnya terkapar diatas kasur tua itu. Matanya memandangi langit-langit. Hatinya baru saja remuk redam. Fatimah adalah perempuan pertama yang dia cintai selama berada di Jakarta. Tidak membutuhkan waktu lama, cinta yang baru tumbuh itu hancur seketika.
Satu bulan berlalu. Bayangan Fatimah masih menghantui. Membuatnya tidak fokus melakukan apapun. Dia tidak ingin terjebak dalam keadaan itu. Diberusaha menyibukkan diri. Tiba-tiba dia teringat satu buku langka yang diberikan oleh buk Kristin Simbolon itu yang belum sempat ia baca. Ia ambil buku itu dari atas meja, sesuatu mengganjal di halaman tengah buku itu sebuah kertas kecil semacam surat, dia buka dan membacanya.
“Mikail, saya ingin mengungkapkan ini sejak lama. Tapi, saya takut kamu akan menganggap saya murahan. Namun, sekarang saya telah yakin, kamu adalah laki-laki yang berpikir. Saya yakin kamu akan memaklumi jika saya menyampaikan ini. Mikail, saya kagum dengan cara mu memandang dunia. Tanpa saya sadari kekaguman saya itu menumbuhkan rasa cinta.”
Itu adalah hari yang sendu bagi Mikail. Dia teringat perkataan Nue Giloni “Kadang keindahan bersembunyi dibalik keburukan. Pun keburukan bersembunyi dibalik keindahan.”


















