• Luka Tembok Tua

    Oleh : agung hidayat

    Sebelum matahari menampakkan diri. Biasanya stasiun sudah penuh oleh lautan manusia. Suara kendaraan memadati telinga. Selain sebagai Ibu kota negara, kota ini juga sebagai pusat perekonomian. Orang-orang desa rela meninggalkan kampungnya untuk bertaruh hidup di kota ini, atas nama martabat dan pencapaian hidup. Maka tidak heran, jika para petarung itu menjuluki kota ini sebagai arena peperangan. Kota ini bukan hanya sibuk oleh beragam aktifitas manusia, tetapi juga mesin-mesin. Akan sangat sulit menemukan ketengan walau hanya sejenak.

    Itu bulan Desember tahun perjuangan. Saat langit sedang panas-panasnya dan jalanan penuh dengan kendaraan.

    Langkahnya terhenti, Tepat didepan salah satu halte Bus Transjakarta. Tubuhnya terpaku. Matanya memutar-mutar melihat satu persatu bangunan tinggi yang menyilaukan mata itu–penaka memancarkan keangkuhan.

    “Kota ini begitu megah” Bisiknya dalam hati. “Namun sayang, dibalik kemegahannya ia menyembunyikan karut marut kehidupan. Disana, tidak jauh dari gedung-gedung ini ada orang-orang terkapar kelaparan, tubuhnya kumuh dan hidupnya terlunta-lunta. Ada kehidupan purba ditengah kota. Jangankan untuk membeli pakaian dan makanan yang layak, untuk mendapat izin masuk ke dalam gedung itu saja tidak bisa. Satpam akan langsung mengusirnya.” Ia berbicara pada dirinya sendiri.

    “Sungguh, kota ini dibangun diatas kepalsuan.” Umpatnya dengan suara yang sedikit keras.

    Petang itu ia keluar dari stasiun berdesak-desakan, tanpa disengaja menyerempet seorang perempuan. Ia perhatikan wajahnya beberapa detik. Ia meminta maaf, lalu melanjutkan langkahnya.

    Di lihatnya di luar hujan deras. Tanpa pikir panjang ia putuskan menerobosnya berlari-lari kecil dibawah hujan itu. Sandal biru mengiringi langkahnya yang pendek seperti langkah Maui di film Moana. Dari stasiun Gondangdia kearah timur laut melewati kantor kementerian pertahanan lalu berbelok ke kanan memasuki jalan Menteng Raya. Berjalan sedikit ke depan tepat disebelah Apartemen Mewah Fraser Residence, disanalah Mikail tinggal, sebuah asrama milik organisasi islam.

    Ia dorong pintu tak berkunci itu lalu duduk dengan membuka kaki selebar badannya. Ia urungkan niat untuk mengambil handuk karena pikirannya masih terbayang oleh perempuan di kereta tadi. Perempuan itu wajahnya biasa saja. Perempuan itu mengingatkannya pada seorang perempuan di kampungnya yang pernah ia sukai. Kabarnya hidup perempuan itu kini menyedihkan karena menikah dengan pria bajingan.

    Mikail al-Ghazali adalah anak tunggal. Orangtuanya buruh disebuah perusahaan kelapa sawit swasta milik kapitalis lokal yang belum lama ini meninggal. Dia meninggal di dalam kapal laut saat sedang bertamasya mengelilingi samudera. Perusahaan itu kini di ambil alih oleh anaknya yang tidak jauh berbeda seperti ayahnya.

    Sewaktu muda ayah Mikail adalah seorang aktivis di sebuah organisasi pengkaderan. Disana ayahnya di tempa menjadi manusia yang tahan banting dan mandiri. “Orang-orang yang lahir dari organisasi pengkaderan sudah semestinya memiliki naluri bertahan hidup yang baik”—ucap ayahnya suatu ketika. Itulah mengapa Mikail merantau sampai ke Jakarta. Ia ingin meneruskan perjuangan ayahnya.

    Dulu, ayahnya sering berdemo menentang penjajahan gaya baru. Ayahnya mengatakan “Kehidupan kita telah dikendalikan oleh segelintir elit.” Meskipun pada akhirnya ayahnya menjadi budak Corporate. Bekerja buat kepentingan elit ekonomi. Tidak ada pilihan lain. Hanya agar Mikail bisa kuliah.

    Kini, Mikail mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang aktivis. Organisasi yang di ikutinya memiliki tujuan yang tercermin dalam satu kata yang tegas dan singkat “pembebasan”.

    Mikail telah berjumpa dengan banyak organisasi pergerakan dan orang-orangnya. Baginya semua pergerakan memiliki salah satu dari dua tujuan: penguasaan dan pembebasan. Namun pergerakan yang ia ikuti memiliki kedua tujuan itu: berkuasa untuk membebaskan. Baru disini ia melihat perjuangan yang murni, rapih, dan konsisten. Ia tak tahu apakah diluar sana ada pergerakan yang seperti itu. Kalaupun ada, ia sangat bersyukur. Berarti masih banyak orang yang peduli dengan kehidupan yang karut marut ini.

    Malam ini ia harus menghadiri diskusi lintas organisasi pemuda tentang “Keadilan dan Kemakmuran”. Ia jadi salah satu pembicaranya. Ia bergegas membersihkan diri. Jarak menuju lokasi pertemuan sekitar setengah jam jika tidak macet. Tapi tak mungkin. Pasti macet.

    Diperjalanan dari balik kaca mobil ojek online ia melihat gedung-gedung tinggi itu. Waktu sudah mulai gelap. Lampu-lampu gedung membuatnya semakin indah terlihat. Ditambah sisa rintik hujan yang jatuh rincis-rincis membuat cahaya lampu gedung itu  membias seperti pelangi. Ia selalu memandangi gedung-gedung kota setiap kali bepergian. Mengingatkannya pada manusia-manusia yang tak bisa menginjakkan kakinya di gedung itu. Gedung-gedung ini dibangun tidak untuk rakyat jelata.

    Mikail membuka pintu mobil melangkah menuju ruangan acara. Jam menunjukkan pukul delapan belas empat puluh. Jalanan yang macet tadi membuatnya terlambat sholat maghrib. Ia melangkah mencari mushola untuk melaksanakan sholat. Acara akan mulai ba’da Isya’. Sehabis sholat ia pergi menemui Lukas Hiolo dari organisasi mahasiswa.

    “salamu’alaikum”

    “wa’alaikumsalam. hey Mik, gimana tadi macetkah?” sambung Lukas

    “Kalau tak macet. Bukan jakarta namanya” Pungkas Mikail

    “Kenalkan ini Fatimah. Dia dari Malaysia sedang studi Magister Filsafat di UIN.” Lukas Hiolo memperkenalkan perempuan yang berada disampingnya.

    Mikail terkejut, ini perempuan yang ia jumpai di kereta itu. “ah, ya, Fatimah. Salam kenal”

    Dengan logat Melayu yang kentara Fatimah menjawab “Ya, Mik, salam kenal juge. Saye tak asing dengan nama awak. Saye sering mendengar aktivis lain membicarakan awak. Salam kenal, Mik.”

    Mereka bercakap-cakap sembari menunggu acara mulai.

    Ruangan yang seluas lapangan futsal itu sudah dipenuhi oleh orang-orang. Mikail berjalan ke depan untuk duduk di bangku para pembicara. Semua pembicara sudah hadir dan acara dimulai. Moderator membuka acara dengan kalimat-kalimat pemantik “Manusia menghuni bumi sudah ribuan tahun. Selama itu pernahkah seluruh manusia mengalami keadilan dan kemakmuran yang ideal seperti yang sedang kita perjuangkan ini? atau cita-cita itu hanya membuang-buang waktu kita yang sesungguhnya tidak akan mungkin tercapai?”.

    Moderator itu tampaknya bukan orang sembarangan. Pasti dia seorang aktivis di organisasi yang progresif. Dia meragukan keadilan dan kemakmuran umat manusia dapat dicapai sampai pada titik ideal. Mungkin dia meyakini, Tuhan menciptakan kehidupan beserta dengan segala dinamikanya. Apa yang ada di dalam kehidupan saling berpasangan. Tinggi dan rendah. Dalam dan dangkal. Baik dan buruk. Dan seterusnya. Bila ada kehidupan ideal maka akan ada kehidupan anti-ideal. Yang intinya tidak mungkin seluruh umat manusia mendapat keadilan dan kemakmuran dalam waktu yang bersamaan.

    Seluruh pembicara telah menyampaikan pendapat mereka masing-masing. Selanjutnya Mikail, dia paling muda diantara pembicara lainnya dan belum selesai sarjana.

    Mikail menyampaikan pendapatnya. Ia tertarik dengan pernyataan keadilan dan kemakuran yang ideal bagi seluruh umat manusia. Kalimat ‘bagi seluruh umat manusia’ terkesan utopis. Tidak banyak berlari kesana kemari, Mikail menyampaikan bicaranya dengan singkat, Mikail mengatakan “Saya tidak begitu yakin dengan keadilan dan kemakuran bagi seluruh umat manusia. Apa lagi sampai pada titik yang ideal. Tapi, sejak kapan aktivis perjuangan diajarkan menyerah sebelum menang?”

    Setelah hampir tiga jam berlangsung pernyataan Mikail menutup diskusi. Moderator menyampaikan kesimpulan sebagaimana pada acara-acara diskusi pada umumnya. Moderator menutup dengan pantun ala Betawi disambut dengan tepuk tangan.

    Mikail berjalan menghampiri Lukas Hiolo dan Fatimah. Setelah berbincang-bincang sejenak dan bertukar nomor telepon dengan Fatimah. Mikail izin pulang buat istirahat.

    Sesampainya di asrama Mikail tumbang diatas kasur tua–warisan dari penghuni asrama sebelumnya.

    Satu harian penuh Mikail bertemu dengan gedung dan orang-orang. Tubuhnya kelelahan tak berdaya. Tapi kepalanya yang juga kelelahan masih berdaya mendatangkan bayangan Fatimah malam itu, bayangan itu seolah-olah tersenyum pada dirinya lalu mengatakan ‘Mik, aku kagum dengan cara mu memandang dunia’. Sungguh, tidak ada adegan yang lebih lucu dibanding saat seorang pemikir kelimpungan tak keruan karena jatuh cinta.

    Besok pagi, Mikail harus kuliah. Pak Zenimo Laia dosen Mikail yang berdarah Nias itu tak bisa di ajak bernego. Dia satu-satunya dosen tanpa kompromi di kampus yang menjunjung tinggi toleransi itu. Tidak seperti pak Andi Faniupalu, meskipun kadang kejam tapi masih bisa berkompromi jika soal organisasi.

    Pun buk Kristin Simbolon, dia dosen muda berusia dua puluh delapan tahun lulusan Stanford University yang paling sering memaklumi jika Mikail tidak bisa masuk kuliah. Buk Kristin juga sering membela Mikail dihadapan universitas soal permasalahan kuliahnya. Kebaikan buk Kristin membuat Mikail sering tertolong. Tapi sayang, meskipun baik dan pintar dia belum juga menikah.

    Mikail bangkit dari kasur tua buat membersihkan diri dan melaksanakan sholat isya’. Selepas itu dia tidur. Bersiap menuju kehidupan berikutnya.

    Sudah hampir empat tahun Mikail merantau di Jakarta. Selama itu baru tiga kali dia pulang ke kampung menemui orang tuanya. Tahun lalu dia tidak bisa pulang karena ongkos pesawat tiba-tiba saja melambung tinggi hampir tiga kali lipat dari biasanya. Dari pada membayar ongkos pesawat yang semahal itu yang cuma akan membuat kapitalis semakin berjaya. Lebih baik Mikail menyimpan uangnya buat keperluan perut dan otak.

    Sebenarnya bisa saja dia pulang menggunakan bus, tapi akan banyak menghabiskan waktu di perjalanan sementara waktu libur hanya sebulan. Orang tua Mikail memakluminya. Terlebih lagi ayahnya.

    Ada satu fakta yang akan membuat ibu Mikail kecewa jika mengetahuinya. Bahwa kuliah Mikal tidak semulus yang dibayangkan. Mikail sering menggunakan waktunya buat berbagai kegiatan diluar kampus. Sehingga kuliahnya menjadi sedikit berantakan. Ayahnya bisa memakluminya, tetapi ibunya tidak. Sebagaimana seorang ibu pada umumnya ingin yang terbaik buat anaknya. Begitu juga dengan ibu Mikail. Setiap menelepon ibunya sering mengingatkan, agar Mikail menjalankan kuliah dengan sungguh-sungguh. Kampungnya memerlukan orang-orang terpelajar buat membebaskan masyarakat dari kelicikan perusahaan sawit yang berselingkuh dengan penguasa daerah. Hutan dibakar dan tanah adat dirampas tanpa imbalan. Memang telah banyak kampung itu melahirkan sarjana sampai doktor. Tapi mereka hanya mementingkan keamanan dan kenyamanan diri sendiri. Mereka tidak benar-benar peduli dengan kampung. Meskipun setiap tahun, setiap kebakaran hutan melanda mereka tampil ke muka bak pahlawan–selamatkan Riau, katanya.

    Mikail menyembunyikan kenyataan itu dari ibunya. Dia tetap fokus mengikuti berbagai acara dan diskusi buat mengisi otaknya. Sebenarnya Mikail memiliki satu alasan kenapa dia lebih memilih diskusi diluar kampus dari pada mengikuti jam kuliah. Persoalan kampungnya adalah persoalan integritas dan cara berpikir. Selama ini setiap terjadi bencana kebakaran hutan. Orang-orang kampung hanya fokus pada solusi taktis. Mereka tidak melihat akar permasalahan secara mendalam. Ditambah lagi sebagian intelektual plastik memanfaatkan bencana kebakaran hutan sebagai momentum politis buat memperkuat eksistensi. Hal ini dikarenakan integritas yang cacat dan cara berpikir yang condong keduniaan dan individualistik.

    Mikail berpegang pada pernyataan seorang ulama revolusioner. Untuk merubah pemikiran masyarakat pemimpin itu tidak boleh berpikir dangkal tapi harus mendalam, yaitu memahami persoalan sampai ke akarnya. Dan tidak cukup hanya berpikir mendalam tetapi juga harus berpikir cemerlang, yaitu mencari solusi efektif buat penyelesaian permasalahan itu. Mikail berpendapat harus ada pembaruan pemikiran di dalam tubuh masyarakat Riau. Dan ilmunya itu hanya bisa di dapat di luar kampus. Kecuali hanya sebagian kecil saja yang bisa di dapat di dalam kampus.

    keesokan hari setelah menyelesaikan jam kuliah dengan pak Zenimo Laia. Mikail pergi ke kantin Paramasophia tempat nongkrongnya mahasiswa filsafat. Mikail nongkrong di kedai itu sampai waktu zhuhur. Ketika Mikail hendak pulang ke asrama Nue Giloni laki-laki asal Bangka Belitung yang juga seorang mahasiswa filsafat dua angkatan diatas Mikail memberikan selembar kertas undangan. Nue Giloni menyarakan agar Mikail datang ke acara itu. Katanya salah satu pembicaranya adalah Yulius Magnina seorang profesor filsafat yang fokus mendalami filsafat moral. Lumayan buat menambah pengetahuan baru soal moralitas. Acaranya di Balai Istana Joeang. Besok hari pukul sembilan pagi.

    Mikail melangkah ke depan gerbang kampus untuk naik bus Transjakarta. Sesampainya di asrama dia duduk di sofa yang sudah bolong-bolong. Mikail membuka telepon yang tidak ia sentuh sejak malam tadi. Dua belas panggilan tak terjawab: Dua kali dari ibu di kampung. Dua kali dari Lukas Hiolo. Satu kali dari Fatimah. Dan delapan kali dari buk Kristin Simbolon. Tampaknya, buk Kristin khawatir Mikail tidak masuk kuliah hari ini.

    Memang buk Kristin Simbolon begitu baik hati. Ada satu buku langka yang diberikannya beberapa waktu lalu, tapi Mikail belum sempat membacanya karena ada buku lain yang belum selesai dia baca.

    Sebelum istirahat Mikail menyempatkan membaca artikel terbaru di blog pribadi seorang mantan menteri. Blog pribadi yang kepopulerannya hampir menyamai media mainstream. Tulisannya sederhana dan asik dibaca, meskipun begitu memiliki inti yang dalam dan mencerahkan. Artikelnya terbit setiap pukul empat subuh hari. Subuh tadi Mikail tidak sempat membacanya karena kelelahan.

    Sehabis membaca artikel. Mikail bangkit dari sofa dan pergi untuk mandi. Sejurus kemudian dia berbaring dan terlelap.

    Biasanya jika tidak ada acara Mikail akan menghabiskan waktu di dalam asrama. Membuat kopi dan membaca buku sembari menghisap rokok berbatang-batang. Malam itu dia masih terjaga padahal sudah pukul satu dini hari. Berlembar-lembar halaman buku dia tuntaskan. Sampai di satu batang rokok terakhir dia meniatkan untuk istirahat, masih ada waktu buat tidur.

    Pukul delapan tiga puluh pagi Mikail berangkat ke Balai Istana Joeang. Dia berjalan kaki menuju lokasi, buat melatih paru-parunya yang lebih banyak di beri asap rokok dari pada olahraga.

    Gedung itu bergaya bangunan Belanda. Jendela dan pintunya berukuran lebih besar dari umumnya terlihat kokok dan kuat tampaknya terbuat dari kayu jati. Mikail masuk ke dalam ruangan dan acara belum dimulai, dia duduk menunggu di dalam ruangan. Biasanya acara akan di mulai setengah jam lebih lambat dari waktu yang ditentukan.  Seperti sudah menjadi budaya bangsa ini.

    Mikail memutuskan keluar sebentar buat menghisap rokok. Dia pergi ke belakang gedung mencari tempat yang lebih pantas buat merokok. Suasana dibelakang gedung sejuk, terdapat banyak pohon mangga berdaun rimbun. Mikail menyandarkan punggungnya di tembok itu. Dia hisap rokok itu perlahan-lahan. Lalu berjalan-jalan kecil melihat area belakang gedung. Saat menoleh ke kanan tanpa disengaja matanya menemui Lukas Hiolo dan Fatimah berduaan dibalik tembok putih gedung itu. Mikail tidak menduga akan menyaksikan pemandangan yang semenyakitkan itu. Lukas Hiolo dan Fatimah sedang bercumbu. Sejurus kemudian Lukas Hiolo menyadari kehadiran Mikail. Mereka berdua terperangah melihat Mikail berada disana. Lukas Hiolo berlari menghampiri Mikail. “Bagaimana kau bisa disini?!” Ucap Lukas.

    “Aku ingin melihat Profesor Yulius Magnina.” Jawab Mikail datar

    “Jangan beritahu siapapun apa yang kau lihat tadi, aku mohon?” Lukas Hiolo mengiba

    Fatimah berdiri disebelah Lukas Hiolo dengan kepala tertunduk dan wajahnya memerah malu. Tuhan telah membuka tabir. Perempuan yang dia cintai tertangkap basah sedang bercumbu. Runtuh seluruh rasa cinta Mikail yang belum sempat terungkap itu. Dia memendam luka itu sendirian. Bahkan Fatimah tak mengetahuinya bahwa orang yang sedang dihadapannya sedang terluka karenanya.

    “Aku dan Fatimah sudah menghubungi mu kemarin untuk mengajak mu hadir di acara ini, tapi tidak ada jawaban darimu? Tapi kenapa sekarang kau tiba-tiba disini?” Ucap Lukas Hiolo

    “Seorang kawan kampus meminta ku untuk hadir.”

    Mereka berjalan ke ruangan acara. Acara sudah dimulai. Prof. Yulius Magnina menyampaikan materinya. Mata Mikail terlihat fokus memperhatikan Profesor itu berbicara, padahal pikirannya terbang entah kemana.

    Pikiranya tak keruan, sebelum acara selesai. Mikail izin untuk pulang kepada Lukas Hiolo dan Fatimah.

    Tubuhnya terkapar diatas kasur tua itu. Matanya memandangi langit-langit. Hatinya baru saja remuk redam. Fatimah adalah perempuan pertama yang dia cintai selama berada di Jakarta. Tidak membutuhkan waktu lama, cinta yang baru tumbuh itu hancur seketika.

    Satu bulan berlalu. Bayangan Fatimah masih menghantui. Membuatnya tidak fokus melakukan apapun. Dia tidak ingin terjebak dalam keadaan itu. Diberusaha menyibukkan diri. Tiba-tiba dia teringat satu buku langka yang diberikan oleh buk Kristin Simbolon itu yang belum sempat ia baca. Ia ambil buku itu dari atas meja, sesuatu mengganjal di halaman tengah buku itu sebuah kertas kecil semacam surat, dia buka dan membacanya.

    “Mikail, saya ingin mengungkapkan ini sejak lama. Tapi, saya takut kamu akan menganggap saya murahan. Namun, sekarang saya telah yakin, kamu adalah laki-laki yang berpikir. Saya yakin kamu akan memaklumi jika saya menyampaikan ini. Mikail, saya kagum dengan cara mu memandang dunia. Tanpa saya sadari kekaguman saya itu menumbuhkan rasa cinta.”

    Itu adalah hari yang sendu bagi Mikail. Dia teringat perkataan Nue Giloni “Kadang keindahan bersembunyi dibalik keburukan. Pun keburukan bersembunyi dibalik keindahan.”

  • Fenomena ‘Ngaletak’

    Oleh : agung hidayat

    Pict: instazu.com

    ….Meja cokelat itu memperhatikan dan menyimak kami dengan khidmat.

    Perbincangan kami di malam itu di dengar seluruhnya oleh meja itu. Saat kami mengutuk habis-habisan penguasa. Saat kami menyumpah mereka yang memilih menjadi pe-letak.

    Hanya ada dua pilihan: nginjak atau ngaletak—ucapnya, dengan suara yang sedikit tinggi. Mungkin sebagai penegasan.

    Tidak adakah pilihan lain–tanya teman di depan sana

    Sebenarnya kita bisa memilih menjadi manusia yang berhati nurani. Bisa saja. Seperti orang-orang di Lembaga Bantuan Hukum itu. Tapi, resikonya besar. Kehilangan nyawa.

    Tinggal pilih saja. Toh, itu hanya sebatas pilihan hidup. Lagi pula, Tuhan memberi Kehendak bebas kepada umat manusia.

    Yang bermain saat ini bukan hanya politisi. Siapa saja memiliki kemungkinan bermain. Bahkan, mahasiswa yang katanya garda terdepan pembela rakyat itu.

    Kemarin ada mahasiswa mengatakan mereka adalah representasi rakyat. Wajah lain dari rakyat. Perpanjangan lidah rakyat.

    Ah, terlalu banyak yang mengatasnamakan rakyat sampai-sampai saya tidak bisa menyebut seluruhnya.

    Tapi, kamu boleh percaya. Boleh tidak dengan pernyataan mereka. Lagi lagi ini pilihan.

    Tapi sebelum kamu memilih. Saya ingin memberi tahu kamu satu hal: kata elit itu bukan hanya milik para politisi. Ada juga aktivis elit. Mahasiswa elit. BEM elit. Dan masih banyak lagi yang elit-elit.

    Jadi, bagaimana jika elite mengatakan: kami representasi rakyat kecil.?

    Apakah rakyat merasa jeritan mereka terwakili oleh penampilan dan gaya hidup para elit.

    Apakah penampilan dan gaya hidup mereka itu mewakili jeritan rakyat.

    Pernahkah anda mendengar ada rakyat mengatakan ‘saya tidak mau menerima gaji 8 juta, saya dari kampus elit’. Bagi rakyat, bisa kerja saja sudah syukur.

    Atau, lihat saja saat pelantikan tuan-tuan dewan kemarin di gedung Conefo[1] yang indah itu. Adakah dari style mereka yang mewakili rakyat.

    Baik lupakan yang elit-elit itu. Kita masuk ke jantung pembahasan, manusia-manusia yang sedang berupaya mati-matian menjadi elit.

    Banyak yang tergila-gila ingin menjadi elit. Entah buat kepentingan keluarga atau pun pribadi.

    Sah sah saja. Toh, itu termasuk cita-cita. Semua manusia berhak bercita-cita. Terlepas dari baik buruknya cita-cita itu.

    Tapi, kalau cita-cita itu memiliki kemungkinan merugikan khalayak. Nampaknya, itu mesti di pertimbangkan lagi. Ia harus menyadarinya. Kesadardirian.

    Nginjak dan Ngaletak adalah jalan paling efektif di situasi sekarang ini. Di jakarta ini. Di ibu kota ini.

    Yang bernurani. Pokoknya yang lurus-lurus. Silakan menyingkir.

    Dari sinilah mereka berasal. Orang-orang yang duduk di kursi mahal itu. Di dekat gedung Conefo itu. Sebenarnya bukan hanya disana. Di kampung saya juga ada, bahkan mungkin juga di kampung mu.

    Saya jadi teringat. Sewaktu masih di SMA dulu. Banyak murid-murid yang suka mencari muka di depan guru atas nama nilai dan prestise.

    Sementara kami murid-murid  nakal yang tukang melawan. Bertugas membakuhantam mereka di TPH[2]. Biar mereka insyaf dari kemenjilatan.

    Sekarang saya baru tahu. Ternyata mereka sudah merambat ke mahasiswa. Ke politisi. Ke aktivis. Ke pimpinan adat. Dan ahli agama.

    Mereka ini sudah masuk ke seluruh tingkatan. Dari paling atas ke paling bawah. Dari paling kanan ke paling kiri. Fenomena nginjak dan ngaletak tidak bisa di hindari.

    Ngaletak bukan fenomena baru. Tapi, setiap hari menghasilkan korban-korban baru.

    Tanpa kami sadari. Waktu sudah menunjuk pukul tiga dini hari. Kami tenggelam. Membuka kebusukan mereka-mereka itu. Semoga Tuhan memaklumi.


    [1] Conference of The New Emerging Forces (CONEFO) gedung yang dibangun oleh Soekarno sebagai dualisme United Nation

    [2] Tempat Penimbangan Hasil (TPH) buah kelapa sawit

    [3] Ngaletak di ambil dari dari bahasa sunda yang berarti ‘menjilat’

  • Retna Kalinda

    Oleh : agung hidayat

    Pict: designingintheclouds.com

    Saya lupa itu tanggal berapa hari apa. Tapi, suasana itu masih dapat saya rasakan hingga kini.

    Sebelum saya pindah dari Dompu ke Tapanuli Selatan. 18 Tahun lalu. Saya sering bermain dengan Linse Geu anak dari paman saya, paman Ulos Pakasi. Sejak pindah, saya tidak pernah mendapat kabarnya barang sekali saja. Enku Kusa yang seorang petani seperti ayah saya, mengatakan Linse Geu merantau ke Mataram setelah lulus dua tahun lalu. Ia menjadi mahasiswa ilmu kelautan disana. Katanya, ia ingin seperti menteri perempuan yang sedang naik daun itu. Menenggelamkan siapa saja yang berani mengganggu.

    Ketika saya menghubungi Linse Geu ternyata paman Enku Kusa memberi nomor telepon yang salah. Telepon itu tersambung kepada Retna Kalinda seorang perempuan dari pulau kecil di selat Malaka. Saya meminta maaf kepadanya. Saya katakan ‘Ketidakjelian sering membuat manusia keliru’. Ia pun memakluminya.

    Obrolan itu tidak langsung terputus. Retna Kalinda, saya memanggilnya nona Lin, ia sangat hangat dan terbuka. Kami bercerita selama beberapa menit. Ia mengatakan bahwa ia seorang aktivis di organisasi pelajar. Baru tahun ini ia bergabung. Entah kebetulan atau apa. Organisasi yang ia ikuti sama seperti yang saya ikuti. Bedanya, saya sudah bergabung sejak tujuh tahun lalu.

    Komunikasi kami berlanjut.

    Dan kisah pun dimulai….

    Beberapa bulan setelah perkenalan itu, nona Lin mengatakan ‘saya merasa nyaman dengan denganmu’. Sebagaimana anak bayi yang nyaman dalam pangkuan ibunya, hanyut lalu terlelap.

    Dari satu waktu ke waktu lainnya. Dari satu suasana ke suasana berikutnya. Hubungan kami semakin erat.

    Tiba memasuki bulan oktober. Yang seharusnya memasuki musim penghujan. Tapi tahun ini sedikit aneh. Sepanjang tahun kota ini dilanda kemarau yang panjang. Belum ada hujan sekalipun, kecuali hanya sekedar tetesan-tetesan kecil dari langit yang jemu oleh polusi.

    Malam itu tiba-tiba hujan turun. Tepat ketika saya menghubungi nona Lin melalui telepon seluler.

    Ada hal penting yang ingin saya katakan kepadanya. Sebelum niat itu terutarakan sejurus kemudian bibir saya menjadi beku. Entah karena dingin yang menusuk atau karena takut yang membayangi.

    Sampai telepon itu terputus. Tidak ada sepatah kata berarti yang keluar dari mulut saya. Kecuali hanya sekedar kalimat normatif pembuka dan penutup percakapan.

    Maksud saya gagal terutarakan malam itu.

    Kami selalu bertukar kabar. Kadang, nona Lin menghubungi saya tepat ketika saya sedang repot-repotnya mengurusi organisasi. Selalu saya sempatkan membalasnya, kecuali saat saya tidak memegang telepon atau ketika saya sedang tidur. Ketika tidur itu saya merasa tetap terhubung dengannya. Mimpi-mimpi kecil soal ia tidak letih-letihnya membungai tidur saya.

    Satu waktu ketika kerinduan saya sedang membumbung tinggi. Saya menelepon nona Lin dan bercerita panjang lebar kepadanya.

    Nona Lin. Pernahkah engkau mendengar kisah seorang pujangga dari Libanon. ‘perempuan yang ia kasihi berada di jazirah Arab’ sementara kala itu belumlah ada transportasi canggih seperti saat ini. Yang dapat memangkas jarak menjadi singkat. Hatinya remuk setiap kali terbesit dalam pikiran soal jarak yang jauh dan cintanya yang dalam. Dirinya sungguh-sungguh terkapar dalam kerinduan. Ia sekarat oleh cinta yang memenuhi dadanya. Ia mencintai perempuan yang ia sendiri tak pernah melihatnya.

    “Anju, tidakkah engkau tahu. Ada jutaan manusia yang merindukaan Muhammad yang agung. Padahal mereka tidak pernah melihatnya?”

    Ucapnya malam itu. Dengan suaranya yang indah namun mengandung keraguan. Ia tidak ragu manusia dapat merindukan Muhammad yang agung. Ia hanya ragu kami dapat bertemu.

    Entah dari mana datangnya energi di malam itu. Tidak bosan-bosannya saya mendengar suara nona Lin.

    Katanya, pagi tadi kawanan babi merusak ladang jagung milik ayahnya, padahal tidak sampai seminggu lagi jagung-jagung itu siap di panen. Nona Lin menggerutu, menyamakan kawanan babi itu dengan kawanan polisi pamong praja–pembuat onar yang getol menumpahkan dagangan ibu-ibu renta–semoga Tuhan mengutuk mereka.

    Nona Lin juga bercerita soal si Topokase adiknya yang katanya nakal itu–tapi lucu dan menggemaskan. Ingin secepatnya saya berjumpa dengan Topokase.

    Saya bercakap-cakap dengan nona Lin sebebas-bebasnya selepas-lepasnya.

    saat menikah nanti. Saya ingin calon istri saya membaca seluruh daftar kelemahan dan kekurangan saya–Ucap saya

    “Kau tak perlu melakukan itu. Apabila ia bersedia menjadi istri mu. Sudah menjadi tugasnya untuk juga menerima kekurangan mu.”

    Tidak. Saya memiliki kriteria perempuan yang ingin saya nikahi. Saya harus bersikap adil dan tahu diri. Saya izinkan ia mempertimbangkan kekurangan saya yang menjijikkan

    “Saya menghormati keberanian mu. Semoga engkau mendapatkan seperti apa yang engkau inginkan.”

    Nona Lin menutup percakapan. Ia pamit karena harus menyiapkan silabus pelatihan untuk minggu depan. Organisasi yang kami ikuti getol melakukan kaderisasi. Kami meyakini bahwa kaderisasi organisasi lebih efektif dalam membentuk mental generasi yang pemimpin dan religius dari pada pendidikan formal.

    Jika tidak percaya, lihat saja, kanda-kanda yang punya negara ini pada umumnya orang-orang yang dulu berproses di organisasi pengkaderan semacam itu.

    Meski pun beberapa suka lupa diri–lupa ibu.

    Pendidikan formal dibutuhkan hanya sekedar buat legitimasi keilmuan. Disamping itu pendidikan formal tidak memberi pengaruh keilmuan yang berarti.

    Sebenarnya organisasi pengkaderan tidak membenarkan menjalin komunikasi yang seperti saya alami dengan nona Lin. Organisasi kami menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman perjuangan.

    Apa yang saya lakukan ini sudah menciderai nilai-nilai keislaman sekaligus menodai prinsip seorang kader yang seharusnya di pegang teguh. Apa lagi buat kader paripurna yang sudah menyelesaikan seluruh jenjang training. Tidak pacaran dan tidak melakukan ikhtilat. Sebenarnya saya tidak melakukan keduanya, tapi apa yang saya lakukan ini mengarah kesana.

    Padahal, cinta sering menjadi penyebab pelemahan aktivis perjuangan. Seperti kisah Yusuf al-Khariji di dalam cerpen ‘Pada Peperangan Terakhir’ ia mati dalam keadaan hina karena jatuh cinta kepada perempuan pendusta Camelia cela.

    Saya menyadari betul hal itu. Tapi, saya rasa kita semua sepakat. Cinta itu kadang-kadang membunuh akal sehat.

    Saya berada dalam pilihan sulit. Mengakhiri komunikasi yang sudah menabrak prinsip seorang kader. Atau tetap menjalaninya dengan tetap memperhatikan batas-batas kesopanan. Tidak sampai terjerumus dalam hal-hal yang berlebihan.

    Usia saya sudah lumayan matang, sudah cukup matang buat melakukan pernikahan. Saya sempat berpikir untuk menikahi saja nona Lin. Sebagai solusinya.

    Pukul sebelas malam itu. Saya berniat menghubungi nona Lin. Untuk menyampaikan maksud saya. Meskipun saya tidak begitu yakin.

    Kekhawatiran memenuhi kepala saya. Namun, saya harus menyampaikan ini. Saya putuskan untuk menyampaikannya melalui pesan singkat–saya pilih jalan para pecundang.

    Nona Lin yang terhormat

    Saya membayangkan engkau May Ziadah abad ini.

    Mengasihi engkau dari kejauhan. Terpisahkan oleh jarak yang beribu-ribu kilometer. Lebih tebal dari hanya sekedar tembon beton. Lebih dalam dari hanya sekedar laut Malaka. Engkau diseberang pasifik, sangat jauh. Sementara saya hanyalah serpihan di antara orang-orang kota, sangat dalam dan tidak terlihat. Namun, saya mengasihi mu dengan sepenuh hati. Saya harap engkau pun mengasihi saya sebagaimana saya mengasihi mu.

    “Tuan Anjulius. Andai saya dapat menjawab pesan mu sebagaimana yang engkau harapkan. Tapi, meskipun jawaban itu ada di tangan saya. Saya ingin engkau mengetahui yang sesungguhnya. pertama, Bagaimana mungkin saya dapat menjawab pertanyaan tuan Anju. Sementara di kampung saya ini, telah ada pria yang menunggu jawaban saya. Kedua, Saya tidak dapat menjawab pertanyaan, tuan. Kecuali tuan dapat memenuhi permintaan saya? Kita terpisah oleh jarak yang sangat jauh, saya tidak yakin dengan perjumpaan kita. Lalu saya ingin tuan memberi perhatian lebih kepada saya. Kesibukan tuan dalam mengurus organisasi itu menurut saya sangatlah berlebihan.”

    Maaf nona Lin. Saya pun lupa, engkau ini Retna Kalinda. Bukan May Ziadah. Tidak mungkin tumbuh benih kasih dalam hati mu. Sebagaimana kasihnya May Ziadah kepada tuan Gibran. Maaf, saya telah mengilusikan mu teramat jauh, nona Lin. Terimakasih, saya tidak perlu lagi bimbang. Kini sudah terbuka seluruhnya, bahwa saya harus menerima apapun jawaban nona.

    Nona Lin, bisakah engkau mengganti permintaan mu. Mendengar permintaan mu, tiba-tiba saya seperti di timpah batu yang begitu besar. Berat dan menyakitkan. Saya tidak mengerti cara memberi perhatian seperti yang engkau inginkan. Sudah sejak sebelum saya mengenal nona, sikap saya sudah hambar dan tidak berbumbu.”

    “Lalu, apa yang dapat kau beri untuk di tukar dengan cinta ku, tuan Anju? Bukankah cinta memiliki harganya.”

    Saya tidak dapat menjawab pertanyaan yang terakhir itu. Sembari menghirup nafas dalam-dalam. Lalu saya katakan dalam hati ‘Saya bersedia menjaga hati mu dengan adil, nona Lin’.

  • Batas-batas

    Oleh : agung hidayat

    Pict: grid.id

    Pukul satu siang nanti. Kami akan turun ke jalan menyuarakan harapan. Harapan rakyat. Harapan pemuda. Dan yang tidak kalah penting, harapan pelajar.

    Kemarin pak menteri mengumumkan ‘pelajar dilarang turun ke jalan. berunjuk rasa’.

    Saya baru saja bangun. Malam tadi diskusi master plan aksi. Berjam-jam sampai pukul enam pagi—membosankan. Tapi, aksi tanpa kajian seperti berlari tanpa mata. Seperti berlayar tanpa kapal. Seperti bicara tanpa otak.

    Membahayakan. Membahayakan diri sendiri. Pun membahayakan pasukan.

    Sebelum saya terbangun, tubuh saya merasa gerah. Seperti sedang berada di dalam peti kemas besi berstandar ISO[1] yang berdiri sendiri di padang gurun. Di siang bolong.

    Kamar itu langsung berbatasan dengan atap seng. Wajar menggerahkan.

    Dengan mata yang masih sangat berat dan tanpa terlebih dulu ke kamar mandi. Saya langsung pergi ke Pasar Senen menggunakan motor inventaris.

    Tadi malam saya di amanatkan untuk mencetak dua buah spanduk yang akan digunakan untuk aksi siang nanti. Satu spanduk tuntutan untuk dilapangan. Satu lagi spanduk bertuliskan ‘Posko Pelajar Bersuara’—menyediakan bantuan hukum. Menyediakan layanan kesehatan. Dan menyediakan tempat istirahat buat pelajar yang ikut aksi menyuarakan harapan sejak beberapa hari lalu.

    Saat pemerintah melarang pelajar buat turun ke jalan berujuk rasa. Saat banyak organisasi bungkam. Organisasi satu itu berani keluar dari zona nyaman.

    Ini satu keputusan yang patut di apresiasi.

    Meskipun setiap pilihan pastilah melalui proses pertimbangan. Apa lagi buat sekelas organisasi berbadan hukum.

    Namun, tidak sedikit pula organisasi yang meletak pertimbangannya di bawah kepentingan.

    Setelah menyerahkan file spanduk kepada customer service. Saya duduk dikursi tunggu. Proses pencetakan sekitar satu jam. Bisa kurang, bisa lebih. Tapi mudah-mudahan selesai sebelum waktu dzuhur.

    Sambilan menunggu. Saya melihat berita terbaru di ponsel pintar. Akhir-akhir ini media dipenuhi berita mahasiswa berunjuk rasa. Berdemonstrasi. Menuntut undang-undang yang bermasalah agar diperbaiki secepatnya dengan cara apa pun.

    Bukan hanya itu saja. Pembantaian di Wamena dan Kebakaran hutan gambut di Kalimantan dan Sumatera juga termasuk hal-hal yang di tuntutkan.

    Soal bencana kebakaran hutan itu sudah seperti musim semi siberia — setiap tahun pasti kembali. Tidak ada pemerintah yang ‘mampu’ menyelesaikannya—dalam arti yang sesungguhnya. Disamping kekomplekskan kasusnya.

    Sementara yang akan kami gugat nanti itu persoalan kebakaran hutan. Upaya pelemahan KPK. Dan pembungkaman pelajar.

    Ketiga itu harus kami gugat karena membahayakan generasi.

    Sudah puluhan ribu orang yang terkena ISPA. Termasuk pelajar. Karena asap yang menyelimuti langit selama dua bulan lebih itu. Mereka juga terganggu proses pendidikannya.

    Padahal setiap manusia memiliki hak untuk hidup dengan aman dan nyaman. Bencana ini harus diselesaikan sekarang juga dengan menuntut pemerintah untuk menindak tegas perusahaan yang terlibat.

    Persoalan pelemahan KPK. Apa guna mata kuliah anti korupsi jika badan pemberantas korupsinya saja di lemahkan otot tubuhnya. Ini akan membuat KPK tidak mampu berdiri dengan kokoh.

    Kita tidak ingin korupsi menjadi budaya yang mengakar. Dan disaksikan terus-menerus oleh generasi bangsa ini. Yang pada akhirnya akan memunculkan benih-benih koruptor baru yang akan memperkuat klaim kekoruptoran negara kita. Akibat dari percontohan lingkungan.

    Ditengah fakta itu. Datang pula pernyataan pemerintah yang membatasi gerak pelajar dalam menyuarakan aspirasinya.

    Menteri pendidikan dan kebudayaan mengumumkan agar sekolah dan perangkat pemerintah daerah mengawasi pelajar agar tidak melakukan unjuk rasa di jalanan.

    Bagaimana negara ini?

    Bukankah konstitusi negara menjamin kemerdekaan berpikir. Jika menyatakan pandangan itu dilarang bukankah itu berarti menyalahi prinsip kemerdekaan berpikir. Setiap manusia dari kelas dan entitas manapun di jamin kemerdekaan berpikirnya. Termasuk juga pelajar.

    Tidakkah mereka melihat sejarah. Pelajar turut serta dalam memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. Dalam hal itu tidak ada pembatasan. Siapapun yang ingin menjaga dan mencintai negara ini dipersilahkan dengan senang hati.

    Pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah ini pantas disebut sebagai pembungkaman. Apa lagi kementerian riset dan pendidikan tinggi juga menegur rektor agar melarang mahasiswa melakukan unjuk rasa.

    Jika entitas pembelajar (yang berpikir) dilarang berunjuk rasa. Siapa lagi yang akan mengoreksi penguasa dengan terang-terangan?

    Bukankah yang tua sudah tidak memungkinkan lagi bersuara keras nan menantang. Bukankah pemuda tolol nan hedon sibuk bermain mobile legend dan berjalan-jalan ria. Sementara anak bayi masihlah belum berakal—belum mampu melihat kepincangan penguasa. Siapa lagi? akankah perjuangan ini kita berikan saja kepada Kpopers yang ia sendiri pun tak mengerti wujud invansi kebudayaan.

    Siapa lagi. Siapa lagi. Kalau bukan pemuda yang berpikir? merekalah pelajar dan mahasiswa yang berpikir.

    Sudah cukup. Sudahi intelektual pembebek. Sudahi ahli agama penjilat. Sudahi orang-orang yang mengejar uang dan kekuasaan buat kepentingan pribadi dan kelompok. Biarkan orang-orang dengan idealisme seteguh pohon jati bersuara.

    Pembatasan dalam konteks ini merupakan keputusan diktator dan inkonstitusional. Maka tak heran jika reformasi tak ubahnya orde baru. Hanya berganti wajah. Hanya berganti nama. Hanya berganti peran.

    Waktu hampir dzuhur. Petugas percetakan memberitahukan spanduk saya sudah selesai. Saya langsung bergegas kembali.

    Peserta aksi siang ini juga berasal dari Purwokerto dan Jogjakarta. Mereka sudah berkumpul disini sejak malam tadi. Kami akan berangkat beberapa saat lagi. Menggunakan dua mobil bus dan satu mobil kijang kapsul—buat berorasi.

    Kami pun berangkat menuju Senayan. Sepanjang jalan, kami bernyanyi. Sudah seperti pasukan yang akan berangkat ke medan perang. Nyanyian itu begitu menggema.

    Marilah kawan mari kita kabarkan

    Ditangan kita tergenggam arah bangsa

    Marilah kawan mari nyanyikan

    Sebuah lagu tentang pembebasan

    Dibawah tirani

    Ku susuri garis jalan ini

    Berjuta kali turun aksi

    Bagiku satu langkah pasti

    Sesampainya dilokasi aksi. Kami langsung membentuk barisan rapi. Akses menuju depan gedung dewan RI ditutup rapat-rapat menggunakan beton pembatas. Kami berhenti tepat di depan pembatas itu. Dibawah flyover.

    Satu kawan dari timur memulai orasi. Menyelipkan sedikit ayat al-Qur’an sebagai bumbu penyemangat. Satu persatu orator menunjukkan kebolehannya. Sesekali orasi mereka dibumbui dengan mengutip perkataan tokoh-tokoh kemerdekaan. Suasana semakin hidup dan menggetarkan.

    Tuntutan demi tuntutan di lontarkan di tengah lautan mahasiswa dan pelajar. Diantara mereka bapak berseragam cokelat berdiri angkuh nan menyedihkan.

    Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) Nomor 9 Tahun 2008 pasal 6 ayat (2) menyebut bahwa polisi membatasi penyampaian pendapat di tempat terbuka antara pukul enam pagi hingga enam sore.

    Jika waktunya sudah tiba. Bapak-bapak berbaju cokelat itu akan menampakkan wujud aslinya.

    Meskipun sesungguhnya. Perkap itu bertentangan dengan peraturan diatasnya—Undang-undang. Baik itu tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat UU 9/1998. Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 23 UU 3/1999. Kovenan Internasional tentang hak-hak sipil dan politik pasal 19. Dan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28e ayat (3).

    Begitulah batasan-batasan di buat. Sebagai alat. Meredam. Membungkam.

    Beberapa kali kawan-kawan dan media independen mengabarkan bahwa bapak berseragam cokelat itu bringas nan ganas. Saya membayangkannya seperti saat Naruto berubah menjadi Kyuubi. Lupa mana teman, mana lawan. Mengerikan.

    Kami akan menarik peserta aksi sebelum waktu sampai pada batasnya.

    Saat melihat kawan saya yang berasal dari ujung Barat Pulau Jawa berorasi. Tiba-tiba dengan setengah di paksa saya di minta untuk naik ke atas mobil melakukan orasi.

    Belum naik, tubuh saya sudah menggigil. Saya tidak menolaknya. Tapi saya minta sedikit waktu untuk pergi kebelakang. Lima belas meter dibelakang peserta aksi.

    Saya keluarkan sebatang rokok. Saya hidupkan, lalu saya hisap. Apa yang mau saya sampaikan diatas sana. Rasanya semua yang ingin saya sampaikan sudah terwakili oleh mereka.

    Mungkin tidak perlulah saya berorasi. Lain waktu saja.

    Aksi berjalan lancar dan khidmat.

    Namun, Tepat di hisapan terakhir rokok. Suara ricuh terdengar. Saya lihat peserta aksi dari selain Jakarta menggeser beton pembatas. Berteriak ke arah sopir mobil kapsul untuk memasukkan mobilnya ke dalam sana. Lebih dekat dengan gedung dewan RI.

    Mereka berteriak-teriak tak karuan. Beberapa orang yang masih berkepala dingin membujuk mereka untuk tidak melakukan itu. Karena waktu sudah hampir sore dan ada perempuan yang harus di jaga dari hal-hal yang bersifat adu fisik.

    Tapi, mereka tetap memaksa. Mobil kijang kapsul mundur perlahan menjauhi beton pembatas itu.

    Saya mendatangi peserta aksi dari organisasi pelajar untuk mundur dan tidak terlibat tindakan rusuh. Untung saja akal mereka masih ada. Saya pikir sudah hilang juga. Kami menjauh dari peserta yang mulai kehilangan kendali.

    Sementara mereka itu masih saja berteriak-teriak. Persis seperti orang yang sedang kesurupan di acara Jarkepan.

    Pimpinan organisasi mahasiswa mencoba menenangkan mereka. Tapi nampaknya tak mempan. Tak mempan mengalahkan nafsu yang terlanjur memuncak. Di ujung kepala. Secepat-cepatnya ingin di luapkan.

    Kami mulai bergerak membalik haluan.

    Karena waktu sudah hampir tergelincir ke sore hari. Bapak berbaju cokelat itu sudah siap menerkam.

    Melanjutkan aksi dan menembus beton pembatas itu mungkin suatu keberanian. Dan memang pada dasarnya aktivis itu sebelum diajarkan berbicara di ajarkan berani.

    ‘Jangan pikirkan salah. Yang penting berani dulu’ begitulah doktrinnya

    Hampir semua organisasi pengkaderan seperti itu. Organisasi itu membentuk kader-kadernya agar bermental baja. Agar keberaniannya diatas rata-rata manusia pada umumnya. Seperti Mutan barangkali.

    Lapangan. Jalanan. Forum. Kelas—seluruhnya berani di kuasai. Mendominasi. Siapa peduli.

    Saking beraninya, sampai lupa satu hal: bahwa batas keberanian dan ketololan itu setipis kertas putih.

    Kami pulang menuju markas. Kami sudah berjanji aksi akan berlangsung damai—mengingat organisasi ini berlandaskan nilai-nilai Islam. Jalan damai diutamakan, meski pun tidak harga mati. Hanya pada waktunya.


    [1] International Organization for Standardization (ISO) Organisasi Internasional untuk Standardisasi.

  • Jaket dengan Lubang Bekas Peluru
    Pict: picpanzee.com

    DULU dia tukang demo. Sekarang dia anggota parlemen. Dulu dia turun ke jalan mengkritik pemerintah dan terutama anggota parlemen yang hanya jadi tukang stempel pemerintah. Dia bersama kawan-kawan aktivitisnya berhasil menumbangkan pemerintah lama dan membubarkan parlemen yang berisi boneka rezim korup, dan mereka—anggota perlemen itu—sama saja korupnya.

    Dia bergabung dengan sebuah partai politik yang dekat dengan rakyat kecil. Pada pemilu pertama yang digelar oleh pemerintah transisi, dia terpilih menjadi wakil rakyat.

    Pada hari dia dilantik dia teringat sahabatnya, rekan aktivis yang tertembak dan tewas setelah beberapa hari sempat dirawat di rumah sakit. Dia sempat menunggu rekannya itu di rumah sakit. Bergantian dengan rekan-rekan lain. Malam itu, tugas korlap demonstrasi diserahkan kepada rekan yang lain. Aksi turun ke jalan mereka teruskan. Tindakan pihak militer yang menembaki beberapa aktivis malah membuat demonstasi antipemerintah semakin besar, semakin liar, dan semakin berani.

     Setelah peluru dikeluarkan, malam itu rekannya sempat sebentar sadar.

    “Kawan, mana kawan-kawan yang lain?”

    “Mereka sedang menduduki gedung parlemen. Sudah, kau istirahat saja. Kau banyak kehilangan darah.”

    “Justru itu. Aku kira aku tak akan bisa bertahan….”

    “Jangan kau pikirkan itu. Kau pasti selamat. Aksi kita pasti berhasil. Rezim korup ini pasti tumbang.”

    Rekannya terdiam. Memejamkan mata. Lalu tersenyum. Damai sekali, seperti bendera di pucuk tiang ketika hari tak berangin. Selang beberapa lama, rekannya membuka mata lagi. Sangat perlahan. “Kawan, maukah kau berjanji?”

    “Sudahlah. Tidur saja. Kau tak usah banyak berpikir dulu.”

    “…Kalau nanti situasi politik berganti, maukah kau masuk ke salah satu partai yang kita percaya bisa memperbaiki bangsa ini? Atau kau dan kawan-kawan dirikanlah partai seperti sering kita bicarakan dalam diskusi-diskiusi kita. Lalu berjuanglah untuk jadi wakil rakyat lewat partai itu.”

    “Kau ini bicara apa?”

    “…Maukah kau berjanji kalau kau terpilih, dan kau dilantik, kau jangan memakai jas baru yang mahal. Kita pernah mengkritik itu. Kita benci sekali melihat para wakil rakyat itu pamer kemewahan. Kau nanti dilantik dengan jas almamater saya yang berlubang karena peluru yang menembus perutku ini.”

    Dia diam saja.

    Rekannya memejamkan mata. Dari celah mata yang memejam itu mengalir perlahan air mata.

    “Kawan…”

    “Berjanjilah. Rasanya kalau aku harus mati malam ini, aku akan mati dengan tenang.”

    “Ya, saya berjanji. Tapi, percayalah kau tidak akan mati malam ini. Kau tidak akan mati karena kita harus melihat negeri ini dipimpin oleh pemerintah yang tidak korup.”

    ***

    Ia memenuhi janjinya kepada rekannya yang gugur karena menumbangkan rezim korup negerinya. Pada hari pelantikannya sebagai wakil rakyat ia mengenakan jas almamater milik temannya yang ada lubang bekas tembusan peluru di bagian perutnya. Ia tidak pernah mau menjahit atau menambal lubang itu. Tentu saja di tengah anggota parlemen lain dia dengan jas almamater itu jadi menarik perhatian wartawan. Kepada para wartawan yang meriunginya ia menjelaskan alasannya. Para wartawan foto dan kameraman berebut memotret dan mengambil gambarnya. Ia sudah membayangkan fotonya terpampang di halaman satu koran-koran besar ibukota. Ia sudah membayangkan beritanya disiarkan pertama di siaran berita pada jam tayang utama. Dulu, fotonya dan rekannya yang tertembak pernah terpajang menjadi foto utama. Dulu ia tak merasakan apa-apa. Tapi, karena foto itulah perjalanannya ke gedung parlemen mulus. Ia menjadi pahlawan. Ia terpilih dengan suara tertinggi dari seluruh anggota perlemen yang terpilih dan pada hari itu dilantik bersamanya.

    Tapi ia kecewa. Tak ada berita tentang dia di televisi sepanjang siang hingga malam harinya. Koran-koran keesokan paginya juga tak ada memajang fotonya. Hanya ada beberapa berita pendek dan foto dalam ukuran kecil di situs berita daring.

    Sepanjang siang dan malam hari, hingga pagi itu, yang disiarkan justru berita artis dan selebritis yang dimanfaatkan oleh partai warisan rezim lama untuk melenggang mulus ke parlemen. Artis-artis itu terutama mengandalkan popularitas, dan sepertinya hanya itu yang mereka punya. Merekalah yang kini bersamanya duduk dalam parlemen. Ia makin kecewa.

    Hari pertama masuk kantor di kompleks parlemen, ia membawa guntingan halaman pertama surat kabar yang dulu memajang fotonya memeluk sahabatnya yang tewas di ranjang rumah sakit. Sahabatnya yang menjadi tumbal dari perjuangan aktivis mahasiswa menumbangkan rezim bobrok, yang tak lagi bisa diperbaiki kecuali dengan menumbangkannya. Potongan surat kabar itu ia bingkai. Lalu dia pasang di belakang mejanya.

    “Kawan, harusnya kau melihat dan menikmati hasil perjuangan kita,” ujarnya bergumam, seakan berbicara dengan sahabatnya dalam bingkai itu.

    “Seharusnya, Kawan, kau juga kecewa dengan parlemen di mana aku duduk menjadi bagiannya. Rasanya terlalu banyak penumpang gelap. Pemerintah zalim itu memang tumbang. Tapi orang-orang partai lama itu dengan lihai berganti wajah. Mereka seakan-akan lebih bersih dari kita. Mereka dengan cepat mandi dan cuci tangan, membersihkan tangan dari darah rakyat, dan menghilangkan bau busuk dari apa yang mereka makan dari merampok uang negara.

    “Kalau bukan karena janji denganmu, Kawan, aku tak akan pernah mau duduk di parlemen yang tak sepenuhnya bersih, seperti yang dulu kita cita-citakan. Partai penguasa lama itu hanya berganti nama. Orang-orangnya adalah mereka yang dulu menjilat presiden yang kita tumbangkan. Orang-orang itulah yang juga duduk di parlemen yang sekarang aku ada di dalamnya.

    “Sesungguhnya, Kawan. Aku lebih memilih turun ke jalan lagi seperti dulu.”

    ***

    Hari itu, dengan jaket almamater yang bolong ditembus peluru, dia menghadiri sidang paripurna pertama. Hari itu, tak ada lagi wartawan yang bertanya tentang jaket itu. Tak ada lagi fotografer yang menjepretkan kamera ke arahnya. Tak ada kamera televisi yang menyorot dia. Rekan-rekan anggota parlemen pun memandang kepadanya dengan tatapan mengejek.

    “Bung, kita ini mau sidang bukan mau unjuk rasa.”

    “Mau ke kampus? Oh, belum lulus ya? Makanya, selesaikan dulu kuliahmu, Bung. Banyak tuh anggota partai Bung yang siap jadi anggota parlemen menggantikan, Bung.”

    “Jual saja, Bung, kursi Anda. Lumayan harga kursi itu, Bung. Tanggung kalau cuma menghemat uang dari ongkos bikin jas baru.”

    Dia memasuki ruang sidang dengan perasaan yang kosong. Ejekan-ejekan anggota parlemen lain bergaung, berulang-ulang, dan justru gaung itu semakin nyaring menumbuk-numbuk telinganya. Apa yang dia lihat kini tampak berputar. Ia mulai berkeringat. Ia kesulitan mencari-cari namanya, sebelum akhirnya menemukannya. Ia menduduki kursinya yang sangat nyaman sebenarnya, tapi dia justru merasa tersiksa. Ia panas dingin. Ia diam saja mencoba menyerap keriuhan basa-basi. Ia teringat rapat-rapatnya dulu bersama sahabat-sahabat aktivisnya. Sahabat-sahabat yang juga berjuang mendudukkannya ke parlemen, karena janji dengan sahabatnya yang tewas tertembak. Sahabat-sahabatnya yang mengumpulkan uang untuk sekadar biaya kampanye.

    Ia tak terlalu sempat menyimak apa yang sebenarnya terjadi di kursi pemimpin sidang. Seorang anggota parlemen perempuan yang sudah entah empat atau lima kali menjadi anggota parlemen. Ia tak terlalu tahu kenapa palu sidang itu tiba-tiba hilang, hujan interupsi, meja yang ditumbangkan, mikrofon yang mati, dan rekan-rekannya yang entah kenapa tiba-tiba meninggalkan ruang sidang.

    Ia kini duduk sendiri. Kursi-kursi di sekitarnya kosong. Ia memejamkan mata. Ia menautkan jari-jari kedua tangannya di depan wajahnya. Ia tampak seperti tertidur. Ia tak tahu, dari arah balkon para wartawan memotretnya, televisi menyiarkan langsung gambarnya yang sedang tertidur di sidang paripurna pertama yang dia ikuti. Juga situs berita daring. Foto dia yang tertidur itu menyebar di media sosial.

    ***

                Pagi itu, semua suratkabar ibukota memuat fotonya di halaman pertama. Tapi, dia tak pernah melihat dan membaca berita itu: Mantan Aktivis Tewas di Sidang Paripurna.

    Jakarta, November 2014–Juni 2017

    Hasan Aspahani | https://basabasi.co/jaket-dengan-lubang-bekas-peluru/

  • Asap ‘Anak Haram’ Hasil Persetubuhan Tiga Iblis

    Oleh : agung hidayat

    pict: dictio.id

    Saya pikir asap tahun ini hanya bertahan sampai bulan lalu. Atau paling banter hanya sampai pada beberapa hari setelah memasuki September.

    Tapi ternyata. Kawan-kawan saya dikampung masih mengutuk asap itu.

    Sekolah di liburkan kembali. Yang terjangkit ISPA semakin berpuluh ribu.

    Dari kejauhan saya perhatikan perkembangan kampung saya itu. Kampung yang katanya penghasil CPO terbesar di Indonesia. Yang setiap tahun menyumbang triliunan rupiah buat negara. Sekarang sedang sekarat, udaranya.

    Dulu, akhir 2015 saya masih merasakan dan melihat langsung kesekaratan itu. Sekolah di liburkan berkali-kali karena asap yang tidak juga hilang meskipun sudah dua bulan berlalu. Kesulitan bernafas yang saya rasakan kala itu dialami juga oleh seluruh kawan-kawan, tetangga, guru, keluarga dan mungkin juga musuh saya.

    Kami semua tersiksa. Atau lebih tepatnya disiksa, ditanah sendiri.

    Sekitar tiga minggu yang lalu. Saya bersama beberapa kawan mahasiswa Riau menyambangi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bukan untuk berdemo.

    Kami ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Riau. Sehingga asap tidak pernah abstain menyelimuti Riau setiap tahun.

    Berdialog dengan pihak kementerian terkait kebakaran hutan Riau. 

    Seorang staf pribadi Ibu menteri. Yang juga asli orang Riau Menyampaikan bahwa kebakaran Riau itu bukan sebuah ketidaksengajaan. Itu adalah persekongkolan berbagai pihak. Sembari menunjukkan data dari hasil penelitian mereka.

    Saya mengangguk pelan. Mendengarkan beliau dengan khidmat. Meskipun sebagai manusia yang berpikir kita patut untuk tidak percaya sepenuhnya. Pada hal-hal tertentu. Tapi fakta ini sangat penting. Untuk menunjukkan kepada rakyat Riau bahwa deforetasi yang terjadi. Dan asap yang menyelimuti Riau bukan perbuatan satu pihak saja.

    Riau itu sudah dibagi-bagi. Sudah dikotak-kotak. Monopoli lahan di Riau sangat pekat.

    Lahan-lahan ini kemudian ditanami sawit. Bahkan ratusan perusahaan jumlahnya yang ikut ‘berperang’ disana.

    Perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggungjawab. Tidak taat pajak. Mengelola lahan tanpa etika.

    Kalau memang perusahaan itu melakukan berbagai kesalahan. Kenapa pemerintah tidak menindaknya dengan tegas? Begitu kan logikanya?

    Peran negara, dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah, tak bisa dikesampingkan. Sebab, izin usaha perkebunan dikeluarkan oleh pemerintah daerah melalui perundang-undangan. Pemilik modal yang mendapatkan izin bisa dengan leluasa mengubah kawasan hutan dengan fungsi hutan produksi.

    Keleluasaan ini kemudian bisa digunakan untuk menerbitkan pelepasan kawasan hutan menjadi tanaman monokultur, yaitu perkebunan sawit.

    Hutan berikut ekosistemnya yang sangat kaya pun hilang dan berganti menjadi tanaman sawit. Lenyapnya hutan berarti lenyap pula kekayaan alam yang tak tergantikan dan nilainya sulit dibandingkan dengan hanya sekadar modal investasi.

    Dalam melenyapkan hutan ini tak jarang perusahaan menggunakan cara-cara tidak terhormat dan tidak bertanggung jawab. Dengan membakarnya. Agar biaya pembukaan lahan lebih murah dan sederhana.

    Apa bila pemerintah masih berfungsi sebagaimana mestinya sebagai problem solving dan menjamin kenyamanan dan keamanan masyarakat. Mengapa pemerintah tidak menindak dengan tegas perusahaan-perusahaan yang nakal itu?

    Sulit di cerna oleh akal sehat. Jika pemerintah tidak memiliki kepentingan atas itu. Padahal pemerintah memiliki kekuasaan untuk mengendalikan apa yang terjadi di wilayah. Atau kebakaran hutan yang rutin ini bagian dari pada pengendalian itu.

    Disamping itu. Dalam melancarkan maksudnya. Perusahaan sungguh pintar. Bagaikan politisi senior. Licik dan licin.

    Perusahaan menggunakan tangan rakyat yang masih lemah akal sehat dan nuraninya untuk membakar lahan itu. Tujuannya satu, agar perusahaan punya kambing hitam ketika persoalan ini diseret ke ranah hukum.

    Namun, masyarakat tidak bisa dipersalahkan sesederhana itu. Ada motif tertentu mengapa masyarakat mengikuti suruhan perusahaan untuk membakar lahan. Tidak mungkin masyarakat mau disuruh membakar lahan jika kebutuhan dapurnya sudah sangat-sangat tercukupi.

    Baiklah. Kita ketahui faktanya bahwa persoalan kebakaran hutan ini sangat kompleks. Namun, juga harus cepat kita sadari asap di Riau merupakan persekongkolan jahat berbagai pihak.

    Otak dibalik asap yang melanda Riau merupakan persekongkolan antara tiga pihak yang berhati iblis. Pemerintah, perusahaan, dan iblis-iblis kecil yang merasuk ke dalam diri orang yang melakukan pembakaran di lapangan. Semudah itu mereka terhasut. Seperti belum tuntas tauhidnya.

    Asap di Riau akan sulit diobati—Sebagaimana yang diucapkan oleh staf pribadi Ibu menteri. Karena memang pada dasarnya asap Riau merupakan manifestasi dari ketamakan manusia.

    Asap yang berulang kali terjadi selama bertahun-tahun ini. Merupakan bukti nyata bahwa asap Riau tidak bisa ditangani oleh segelintir pihak saja. Apa lagi satu orang. Harus ada kesadaran pemikiran dan kesadaran tanggungjawab bersama.

    Integralistik menjadi pilihan harga mati bagi kita. Kekuatan kolektif yang melibatkan intelektual, pemerintah, dan orang-orang terpelajar Riau adalah jalan yang harus dilalui dalam menyelesaikan persoalan asap.

    Kita ingin suatu saat melihat tidak ada orang yang membagikan masker di jalan-jalan.

    Dan selama kita masih berjalan sendiri-sendiri. Gubernur berjalan sendiri. DPRD berjalan sendiri. DPD berjalan sendiri. Intelektual berjalan sendiri. Semuanya berjalan sendiri.

    Keinginan itu rasanya hanya akan menjadi ke-utopisan belaka.

    Referensi :

    https://nasional.tempo.co/read/707373/kemenhut-perusahaan-dan-warga-kongkalikong-bakar-hutan

    https://geotimes.co.id/fokus/bara-di-lahan-sawit-1/

    https://geotimes.co.id/fokus/bencana-asap-dan-balada-negeri-sawit-1/

  • Macallan 18

    Oleh : agung hidayat

    Pict: thekeeferbar.com

    Itu malam saya sedang duduk santai. Sambilan menunggu waktu isya’.

    Tiba-tiba ia mengajak saya untuk ikut dengannya ke sebuah tempat. Yang entah apa.

    Lalu saya katakan “sehabis isya’”.

    “jangan” Katanya “ojek online sebentar lagi datang. Sholat isya’ disana saja”

    Saya ambil baju batik Melayu kehijauan yang tergantung. Saya raih tas itu lalu berlari menuju gerbang didepan.

    Ojek itu sudah menunggu. Mereka sudah ada didalam mobil itu. Mobil ojek online. Saya langsung masuk ke dalam.

    Kepala saya pusing mencium aroma pewangi mobil itu. Saya tutup hidung menggunakan tangan. Tapi malah semakin mual. Ternyata aroma tangan saya lebih menyengat dari pewangi mobil itu. Kehidupan yang semakin rumit dan pahit itu terutama beberapa bulan ini, menyebar keseluruh tubuh saya sampai ke tangan.

    “Ah sial”  Umpat saya dalam hati

    Selama diperjalanan. Saya hanya diam. Sementara mereka bercakap-cakap. Kalau saya membuka mulut otomatis hidung saya akan menghirup udara semakin dalam. Itu akan membuat saya semakin mual.

    Tak berapa lama kemudian. Setelah melalui kemacetan. Setelah melalui bunyi klakson yang berkejar-kejaran tanpa etika. Akhirnya, sampai juga ditempat tujuan. Menara Global.

    Kami berjalan ke dalam gedung tinggi itu. Pikiran liar saya mengudara. Andaikan gempa dasyat terjadi di kota ini. Anggaplah Megatrust yang sedang viral itu. Apa yang akan terjadi pada gedung-gedung ini. Sudahkah perancangnya menyiapkan rancangan bangunan yang kokoh dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk. Atau justru kecanggihan rancangan mereka akan tanpa daya dihadapan amarah semesta?

    Mari kita masuk ke dalam ruangan itu. Kami berjalan ke ruangan bawah tanah.

     “Apa yang mau ditemui diruangan bawah tanah seperti ini” bisik saya dalam hati “yang ada hanya mobil-mobil mewah yang berjejer rapih. Benda mati.”

    Saya lihat lampu kerlap-kerlip dari dalam ruangan didepan sana.

    “Kita akan kesana” ucap mereka

    Sesampainya didepan pintu itu. Perempuan cantik berpakaian rapih membuka pintunya.

    “Silahkan” Ucap perempuan itu

    Mata saya langsung tertuju pada botol-botol yang berjejer rapih disetiap sudut dan lemari ruangan itu. Botol-botol itu nampak indah dan klasik. Tapi saya tidak tahu itu botol apa.

    Kami duduk diantara orang-orang gemuk, namun rapih.

    Tiba-tiba kawan saya membisiki “laki-laki gemuk itu yang traktir” matanya memberi isyarat.  Laki-laki gemuk itu duduk diantara orang-orang berbaju kemeja. Cara duduk mereka seperti pemain poker kelas kakap.

    Saya hanya mengangguk mendengarnya.

    “Silahkan, pesan. Apa saja. Bebas.”  Ucap laki-laki gemuk itu

    Seorang perempuan datang menyodorkan menu. Kebetulan perut saya sudah sangat lapar. Saya akan pesan makanan paling mahal dan enak. Toh, gratisan. Semangat saya untuk memesan makanan berbenturan dengan fakta, menu itu berbahasa inggris, “sial!”.

    Untung saja perempuan itu bertanya saya mau makan apa. Langsung saja saya jawab—“makanan yang enak mbak, yang paling mahal.”

    “Oke,  Kami punya Steak Wagyu” Ucap perempuan itu.

    “Wagyu, sapi yang mahal itu?” tanya saya “Oke, saya pesan itu”

    “Minumnya apa pak? Tanya perempuan itu. “Lemon tea” jawab saya “Lemon tea dingin”. Itu minuman standar dengan nama yang tidak terlalu desa. Saya hanya tahu itu. Karena nampaknya tempat ini tidak menyediakan teh manis dingin.

    Sambil menunggu pesanan datang kami bercerita dengan lelaki gemuk itu. Laki-laki itu mantan ketua umum organisasi yang sedang kami ikuti hari ini. “Sekitar tahun 2000an”, ucapnya pada kami.

    Kawan-kawan saya hanya mengangguk mendengarkan cerita lelaki itu. Sementara mata saya berkeliaran memandangi perempuan itu, sepertinya ia pelayan, matanya teduh dan pakaiannya sangat rapi, meskipun rambutnya tak tertutup.

    Lukisan-lukisan di dinding itu saya pandangi. Ada lukisan leak yang menyeramkan. Bergigi panjang dan mata yang melotot. Seperti ingin menerkam saya dan semua orang diruangan ini.

    Ada lukisan lelaki berpakaian Tionghoa seperti panglima perang Genghis Khan, saya suka itu. Begitu juga lukisan tiga ekor kucing berleher panjang itu. Imut sekali.

    Tapi, ada yang lebih menarik dari pelayan cantik dan lukisan-lukisan itu—Ya, botol-botol itu. Botol-botol indah yang berjejer rapi. Ada yang panjang, seperti kapsul. Ada juga yang persegi, seperti octagon. Pokoknya, sangat banyak botol itu, berbagai bentuk.

    Mata saya berusaha membaca tulisan yang ada di salah satu botol itu. Tapi tulisannya terlalu kecil. Ditambah lagi ruangannya yang bercahaya remang-remang. Semakin membuat tulisannya kabur.

    Saya sangat penasaran dengan botol-botol indah itu. Lalu saya menghampirinya. Melihatnya dari dekat. Botol-botol itu bertuliskan: Raven Park. Buena Vista. Sweet Red. Dan lainnya. Banyak sekali. Tapi, ada satu botol yang sangat indah menurut saya. botol itu bertuliskan Macallan-18. Indah sekali. Seperti si sinta gadis di desa saya. Klasik, Sederhana, namun tetap elegan.

    Tiba-tiba kawan saya memanggil. Makanan sudah datang. Kamipun makan.

    Sembari makan saya sempatkan bertanya kepada kawan disebelah saya “Botol-botol itu apa?”

    Dia tertawa kecil. Seolah-olah meledek—“itu minuman beralkhohol” Ucapnya.

    Mata saya terperangah.

    Sejurus kemudian, kekaguman saya terhadap botol-botol itu luruh seketika. Keindahan botol-botol itu menipu mata saya. Indah dalam pandangan. Namun, mengecewakan sebagai fakta. Nampaknya, lain kali. Saya harus lebih mengendalikan diri agar tidak mudah hanyut oleh yang indah-indah.

  • Diplomasi Unggun

    Oleh : agung hidayat

    Sabtu pagi itu kami bergegas berangkat menuju lokasi acara. Jumlahnya sekitar tiga puluh orang. Dari keseluruhan jumlah mahasiswa Riau yang kuliah di Jakarta. Ketiga puluh ini memutuskan untuk ikut menjalani malam keakraban dan diskusi santai di salah satu Villa di Puncak Bogor. Sambilan mensyukuri kemerdekaan Indonesia yang ke tujuh puluh empat tahun dan merenungi kemahasiswaan Riau di Jakarta.

    Satu kesempatan langka dapat mengumpulkan tiga puluh orang mahasiswa Riau yang kuliah di Jakarta seperti ini.

    Padahal dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya. Terutama acara diskusi atau seminar, atau pertemuan penting untuk membahas Riau. Betapa sulitnya mengumpulkan mereka walau hanya tiga puluh itu.

    Mungkin bagi organisasi kedaerahan lainnya seperti Aceh, Sumatera Barat, atau Sulawesi Selatan, tidak sulit mengumpulkan sejumlah itu. Tapi ini Riau. Ini mahasiswa Jakarta asal Riau.

    Sedih sekali saya menyaksikan fakta ini.

    Hal ini terjadi bukan hanya tahun 2019 saja. Tapi tahun-tahun sebelumnya juga sama. Setidaknya, begitu cerita mereka yang jadi mahasiswa abadi di Jakarta.

    Saat realitas terpampang di depan mata. Saat angin informasi menyampaikan dengan lugas bahwa Riau sudah lama dalam bahaya dan sekarat kemartabatannya. Dalam kesunyian Riau merintih kesakitan akibat penggerogotan dan pelemahan terus menerus.

    Justru, mahasiswa Riau perantauan acuh. Kalaupun peduli. Kepedulian yang memiliki maksud tertentu.

    Bukan kepeduliaan yang berangkat dari kesadaran dan tanggung jawab sebagai pemuda Riau. Sebagai anak-anak Riau. Sebagai primordialisme Riau.

    Fakta ini bukan hanya terjadi pada mahasiswanya. Tetapi juga utusan-utusan pejabat Riau yang bermarkas di Jakarta. Jika tidak percaya, kalian boleh membuktikannya sendiri.

    Kegiatan malam ini disatu sisi membuat saya bahagia. Tapi disisi lain hati saya teriris dalam.

    Saya bahagia karena di momen ini saya dapat melihat keakraban mahasiswa Jakarta asal Riau dari berbagai kabupaten dan kota. Saya bahagia hari itu dapat merasakan kultur Riau di tanah perantauan. Saya bahagia bisa melihat mereka bertiga puluh kumpul di satu waktu.

    Namun, kesedihan saya tidak juga hilang. Karena keakraban ini hanya sesaat. Apalagi,  acara ini bukan membahas persoalan yang substansial. Sekadar bersua dan diskusi santai. Bukan membedah persoalan mahasiswa perantauan sampai ke akarnya. Bukan merumuskan bagaimana gerak mahasiswa Riau seharusnya.

    Seperti yang saya katakan diatas mengumpulkan mahasiswa Riau untuk membahas persoalan mendasar, tidaklah mudah. Kita sadari atau tidak, fakta ini menunjukkan kelas dan kualitas.

    Nampaknya fakta ini harus saya terima dengan lapang dada.

    Api unggun yang menghangatkan tubuh kami di malam itu. Tidak mampu menyatukan kami dalam satu tujuan dan satu cita-cita kedaerahan.

    Saya khawatir. Eksistensi dan martabat Riau perlahan menjadi abu. Seperti kayu yang terbakar itu.

    Sementara corporate dan oligarki kapitalis tertawa lebar, mereka tetap leluasa menarik keuntungan dari tanah kita. Dan biadabnya, mereka meninggalkan Asap dan polusi. Di biarkannya orang tua kita, saudara kita, dan kawan-kawan kita di kampung, mati perlahan-lahan.

  • Merah

    Oleh : agung hidayat

    Pict: juragan-poster.com

    Itu tidak sabar malam secepatnya selesai. Besok pagi Idul adha. Sholat di masjid Istiqlal. Eh, katanya kami akan sholat di halaman Gereja Katedral. Istiqlal sedang dipercantik.

    Besok pagi menyembelih sapi atau kambing. Besok makan rendang. Atau nyate.

    Malam itu pikiran saya sudah dipenuhi oleh hal-hal itu.

    Pagi itu tanggal 10 zulhijjah 1440. Atau 11 agustus 2019. Saya bangun kesiangan, sholat Iedul adha terlewat. Kawan saya hanya tertawa.

    Saya pergi ke kamar mandi mencuci muka. Saya lupa pangkas rambut. Padahal tadi malam sudah saya niatkan. Tapi apa ada tukang pangkas yang buka dihari raya macam ini.

    Saya keliling Menteng. Dari Gondangdia ke Kali pasir. Dari Kramat Raya ke Pasar senen. Semuanya tutup. Tidak ada satupun tukang pangkas rambut yang buka.

    Motor yang saya pakai untuk mencari pangkas rambut itu bunyinya semakin tidak enak. Seperti sedang menggiling batu di dalam perutnya. Saya putuskan untuk langsung pulang saja.

    Saya juga khawatir sapi dari pak Kapolri yang seberat hampir satu ton itu sudah di sembelih. Atau kambing-kambing imut itu sudah terkapar lesu. Saya ingin melihat mereka sebelum mati.

    Menteng raya lima delapan. Ketik saja di google maps. Itulah tempat saya tinggal. Dan tempat sapi-sapi dan kambing-kambing itu akan di sembelih.

    Saya lihat mereka yang berjumlah sekitar dua puluh orang sedang berusaha untuk menggulingkan sapi pak kapolri. Sapi itu sungguh besar dan berotot. Saya takut melihatnya. Takut dia mengamuk. Lalu menyeruduk kami dan PII wati.

    Lucu sekali kalau sampai media masa mengumumkan: aktivis mati ditanduk sapi.

    Sapi itu melompat-lompat. Untung kakinya sudah diikat oleh tambang sebesar jempol kaki. Orang-orang itu memegangi tambang itu sekuat tenaga. Satu orang mengomel karena melihat ada kekeliruan dalam memegang tambang. Orang lainnya menggerutu karena ekor sapi itu ditarik oleh anak laki-laki nakal. Bapak-bapak tua mengelus-elus kepala sapi yang sudah roboh. tapi belum mengarah ke kiblat.

    Masih belum pas. Teriak laki-laki yang nampaknya berperan sebagai algojo. Di tangan kanannya digenggam parang yang terbungkus koran. Siap-siap menggesekkan ke leher sapi itu. Sapi itupun diberdirikan lagi.

    Arahkan ke kiblat. Ucap seorang laki-laki yang memegang toa. Sambil meneriakkan takbir berulang-ulang.

    Seorang bapak berwajah sejuk mengatakan. Kasihan lubang hidungnya berdarah.

    Mata saya langsung tertuju ke arah hidung sapi itu. Benar, darah merah kehitaman menetes dari hidungnya. Tali tambang itu mengoyak lubang hidungnya. Nampaknya terlalu kencang.

    Saya perhatikan. Air berkumpul dikelopak matanya. Lalu jatuh menetes. Sapi itu menangis. Nafas yang keluar dari hidungnya memuncratkan darah itu. Berkali-kali.

    Sapinya tersiksa. Ucap salah seorang laki-laki.

    Laki-laki yang memegang tali itu mengomel. Karena sapi itu tak kunjung roboh. Sementara hari sudah semakin siang. Suara takbir semakin keras. Lalu sapi itupun roboh.

    Algojo itu langsung menempelkan parang di leher sapi itu. Sapi itu mengerang. Orang-orang tadi memeganginya sekuat tenanga.

    Darah merah menyembur dari lehernya.

    Saya lega. Sapi itu melewati masa menyakitkannya.

    Agama kami melarang kami bersedih saat melihat hewan qurban disembelih. Mungkin karena akan mengurangi kadar keikhlasannya.

    Tapi saya tidak bersedih. Saya hanya teringat cerita guru saya dahulu ketika saya masih sekolah dasar. Dia mengatakan ayahnya itu dahulu seorang pejuang pra-kemerdekaan. Jika ada lawan perang yang tertawan. Ayahnya bertugas menyembelih lawan itu dengan kaleng yang di asah. Dibawah jembatan.

    Untung saja di negara ini hanya ada perang pemikiran. Atau sesekali perang dagang antar orang batak dan minang.

    Tubuh saya menggigil kalau melihat darah merah.

  • Riau dalam Kubangan Asap

    Oleh : agung hidayat

    pict: muslimahnews.com

    Kalau kita coba mengetik “Kebakaran Hutan dan Lahan” di kolom pencarian Google, nama Riau akan terpampang paling atas. suatu kebanggaan bagi kita jika terpampangnya nama Riau disebabkan suatu prestasi. Tapi, bagaimana jika itu sebuah catatan kelam?

    Menyedihkan rasanya, sebagai orang yang pernah hidup dan tumbuh besar di Riau berita kebakaran hutan ini masih saya dengar sampai ke pulau seberang. Saat forum internasional sudah menyuarakan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) yang katanya harus memanfaatkan alam secara arif dan bijaksana. Justru kita merusaknya tanpa rasa bersalah.

    Media lokal dan nasional serta kawan-kawan saya di kampung mengabari bahwa Riau sedang menjalankan rutinitasnya “membakar hutan”.

    Nampaknya ini bukan sesuatu yang tidak di sengaja. Mengingat kebakaran ini terjadi hampir setiap tahun. Apa lagi kalau sudah memasuki bulan-bulan yang terik mataharinya menggigit.

    Siapa yang bertanggung jawab?

    Sekolah di liburkan. Sistem pernafasan manusia terganggu. Dan banyak akifitas tersendat. Apakah kebakaran hutan ini masih di anggap rutinitas yang boleh di maklumi? Rasanya tidak.

    Gubernur sebagai orang yang paling memiliki kekuatan di provinsi seharusnya turun tangan tanpa tedeng aling-aling.

    Meskipun kebakaran hutan ini ada yang dilakukan oleh personal tapi tidak dapat ditutup-tutupi bahwa corporate memiliki persentase paling besar yang harus bertanggung jawab atas ini. pembukaan lahan yang dilakukan dengan membakarnya mungkin akan memangkas anggaran lebih sedikit. Tapi dampak negatifnya dirasakan oleh banyak orang. Corporate untung, dan masyarakat rugi. Terutama rugi kesehatan.

    Mau sampai kapan masyarakat Riau diam?

    Sudah saatnya pemuda dan masyarakat turun ke jalan dengan memaparkan argumen yang kokoh, kita punya bukti segudang. Suarakan !

    Disamping itu. Disamping menguasai jalanan. Mesti ada orang-orang yang berjuang menguasai gedung-gedung dan kantor-tantor. Merubah dan mengendalikan sistem. Agar para corporate dan perpanjangannya tidak bertindak sesukanya. Menelurkan asap.

    Karena tampaknya, penguasa daerah tak sekuat yang dibayangkan. Atau pura-pura tak paham persoalan. Penguasa daerah kita setiap hari berkubang dengan politik, tak perlu diragukan kepiawaiannya soal itu. Tapi memang lawannya bukan manusia lugu. Corporate  lebih politis dan licin. Politisi bisa di dikte. Tapi corporate hanya ingin satu “mendikte untuk keuntungan”.

    Jangan biarkan kehijauan Riau  terenggut oleh tangan-tangan tamak. Apa bila ini dibiarkan maka slogan “Riau yang hijau dan bermartabat” HUT Riau tahun 2019 ini, hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai