• Oleh Agung Hyt

    Orang-orang bilang, apa yang disebut sebagai “lagu indie” adalah lagu autentik dan mendalam. Orang mengira itulah tingkatan ekspresi filosofis-reflektif paling memesona —sebab ia memakai diksi yang gagah dan ditekuk-tekuk dikemas dalam alunan musik folk.

    Memang, sebagian dari lagu-lagu indie bersifat revolusioner-progresif. Tidak sedikit lagunya berangkat dari kritik akurat atas fenomena ganjil sospolhum. Di titik ini, kita harus mengapresiasi.

    Tapi, untuk sebagian lainnya, awak kok tak melihat apa yang disebut autentik itu. Awak tak melihat kedalaman dan kejujuran di situ. Justru awak melihat ada hasrat “asal asik a la borju-liberal” yang diekspresikan melalui ke-indie-an. Hal ini ditandai dengan mengkarut-marutkan ucapan, melancang-lancangkan perbuatan. Awak menengok, semua itu dilakukan bukan karena keadaan alami, apalagi autentik, tetapi semata-mata buat membangun citra “saya orang santai” dan “saya orang bebas.”

  • Oleh Agung Hyt

    Ia tiba di kontrakan menjelang pukul 20.00 WIB. Setelah seharian bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Tanah Abang.

    Ia membersihkan badannya yang kotor dan beraroma kambing busuk. Aroma busuk itu yang membuat orang-orang di pasar najis berdekat-dekat dengan dirinya, termasuk mereka yang memerlukan jasanya.

    Setelah cukup segar dan aroma busuk tubuhnya hilang, ia duduk bersila di atas karpet tempat tidur. Matanya terpejam. Ia resapi sendi-sendi tubuhnya yang hampir lepas karena seharian mengangkat beban puluhan kilogram, naik turun tangga, mengikuti arahan si pengguna jasa, persis seperti kerbau di sawah.

    Beberapa jurus kemudian, setelah dadanya terasa cukup lapang, ia membuka mata perlahan-lahan. Kemudian, tangannya meraih buku yang ia beli tiga hari lalu di toko buku loak di Kramat Kwitang. Ia membacanya. Tak sampai dua puluh halaman matanya mulai terkulai. Ia bertahan untuk beberapa menit. Di halaman ke dua puluh tiga, tubuhnya tak kuasa menahan diri, ia tersungkur lembut di atas karpet, lalu tertidur.

    Puluhan jurus kemudian ia berada di sebuah taman, tempat yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ia berjalan menyusuri taman hingga sebuah papan nama menghentikan langkahnya. Tertulis di sana: Kannenfeld Park. Sekarang ia tahu sedang ada di mana, di kota Basel. Tepatnya di distrik St. Johann, kota Basel, Swiss.

    Kannenfeld Park adalah taman terbesar di kota Basel. Kota ini tumbuh dalam kompleksitas sejarah. Di timur Kannenfeld Park mengalir sungai Rhein, sungai terpanjang di Eropa. Turun ke bawah sedikit berdiri megah Universität Basel. Dekat dari situ ada situs bersejarah Basilisken-Brunnen. Kota Basel berada di perbatasan tiga negara: Swiss, Jerman dan Prancis.

    Ia meneruskan langkah menyusuri taman. Ia melihat seorang laki-laki berkumis tebal sedang berdiri memandangi Le Monument Aux Morts. Sebuah monumen peringatan tewasnya tentara Prancis melawan Prusia pada 1870-1871. Laki-laki berkumis itu perlahan menoleh dan memanggil pemuda itu dengan isyarat tangan. Sang pemuda mendekat mencoba memastikan siapa gerangan di sana. Ia terkejut karena laki-laki berkumis itu mirip seorang pemikir besar abad sembilan belas. Mirip sekali. Kumis macam tanduk mungil, rambut klimis, tampilan necis. Gambar orang ini banyak tersebar di internet. Hari-hari ini, ketika fenomena depresi semakin menggila, ucapan orang ini banyak dikutip sebagai aspirin.

    “Apakah Anda Nietzsche, maksud saya Friedrich Wilhelm Nietzsche?”

    “Tentu. Saya Nietzsche sahabatmu, Bung. Apa kau lupa?”

    Si pemuda mendelik bingung. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa Nietzsche menyebutnya sahabat. Padahal Nietzsche adalah filsuf besar yang banyak dibicarakan di ruang diskusi, di buku-buku, di mana-mana. Seorang filsuf kontroversial.

    Pernah pada tahun 1882, Nietzsche menerbitkan sebuah buku yang di dalamnya terdapat perkataan yang membuatnya menjadi sosok kontroversial sepanjang zaman. Ia berkata, “God is dead —Tuhan sudah mati. God remains dead —Tuhan tetap mati. And we have killed him —Dan kami telah membunuhnya.” Inilah perkataan yang membuat ia dijuluki sang pembunuh tuhan. Julukan paling berani yang pernah disematkan pada manusia.

    Di hadapan pemuda itu, Nietzsche tampak antusias, seperti seorang sahabat yang lama tidak bertemu. Spontan mereka bercakap-cakap layaknya teman lama. Mula-mula si pemuda merasa aneh. Tapi kemudian tak ingin melewatkan momen itu, si pemuda pun mengabaikan perasaannya. Si pemuda melanjutkan percakapannya bersama Nietzsche. Mereka menikmatinya, hingga di ujung percakapan, mereka terlibat dalam percakapan yang agak sentimental.

    “Apa Bung pernah jatuh cinta,” tanya Nietzsche.

    “Pernah.”

    “Satu kali?”

    “Ya. Tapi, katakanlah itu hanya cinta tak sampai, karena tak pernah kunyatakan.”

    “Kenapa?”

    “Perhatianku terlalu besar untuk diriku.”

    “Bukankah itu artinya Bung dikuasai ego?”

    “Apa begitu?”

    “Apa Bung telah mempersiapkan diri menjomlo selamanya?”

    Si pemuda terdiam. Kikuk.

    “Tapi, Nietzs,” katanya, “Sebenarnya aku memiliki pendapat lain soal ini.”

    “Maksudmu?”

    “Kau pernah menulis dalam Ecce Homo bahwa permintaan untuk dicintai adalah jenis arogansi paling besar. Kupikir, perkataanmu itu ada benarnya.”

    “Lalu?”

    “Bukankah itu artinya ego menguasai jiwa orang-orang yang menuntut untuk dicintai. Aku tidak menuntut siapa pun mencintaiku.”

    “Tapi, Bung, sesungguhnya Ecce Homo kutulis dengan perasaan angkuh. Aku marah karena tidak ada wanita yang mau menemani laki-laki gila sepertiku, sampai menjelang kematianku. Rasa kecewa itu kumuntahkan dalam Ecce Homo. Di sana aku mengimajinasikan diri sebagai manusia paling sempurna —übermensch, manusia soliter yang istimewa, manusia super nan luhur. Kau tahu, hanya orang gila yang mau percaya dan mengutip perkataan omong kosong itu!” Terang Nietzsche.

    “Apakah maksudmu kita ini dua laki-laki gila?”
    Sambil melangkah pergi, dengan senyum kecil, Nietzsche berkata, “Setidaknya kegilaan membuatmu bertahan dalam nasib sial!”

    “Hei! Kau mau ke mana?”

    “Sudah waktunya kau bangun. Orang-orang di pasar menunggu jasamu. Bekerjalah!”

    “Tapi… Tunggu!”

    Nietzsche tak menghiraukan teriakan si pemuda. Ia terus melangkah mendekati sungai Rhein. Si pemuda mengejar. Hingga akhirnya ia menyaksikan Nietzsche perlahan terbang menjadi buliran cahaya jingga, melesat menyusuri sungai Rhein, berbelok tajam ke langit—lalu menghilang. Si pemuda termenung memandangi sungai Rhein. Suara azan yang tak tahu dari mana sumbernya seketika membangunkannya dari mimpi panjang.

  • Oleh Agung Hidayat

    Sebuah video pendek memperlihatkan Hotman Paris (64) menunjukkan sinisme pada Rocky Gerung (65), seorang sarjana filsafat, dengan mengatakan, “Memang filsafat bisa menyelesaikan (perkara) hukum?!”

    Otto Hasibuan (64) yang berada di sampingnya mengatakan, “Filsafat tidak pernah bisa menyelesaikan satu perkara konkret.”

    Bagaimana sebenarnya hubungan filsafat dengan perkara konkret dan selanjutnya bagaimana hubungan hukum dengan filsafat.

    Sebelum membahas lebih jauh, kita mulai dari pertanyaan, apa itu filsafat? Ini perlu dijawab karena tampaknya identitas kefilsafatan yang melekat pada Gerung itulah yang menjadi pokok sinisme Hotman.

    Apa itu filsafat

    Ada bermacam-macam pengertian filsafat menurut ahli, beda kepala beda pula detailnya, tapi saya sandarkan pengertian filsafat di sini pada Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) yang dalam bukunya Pembimbing Ke Filsafat menyebutkan, “…pekerjaan berfilsafat itu ialah berpikir. Hanya makhluk manusia yang telah tiba di tingkat berpikir, yang berfilsafat.”

    Selanjutnya Alisjahbana mengatakan, “…tidak semua atau selalu manusia berpikir itu dapat disebut berfilsafat. … (Karena) berfilsafat ialah berpikir dengan insaf. Yang dimaksud dengan berpikir dengan insaf ialah berpikir dengan teliti, menurut suatu aturan yang pasti.” Kemudian ia mengatakan lagi, “…filsafat memikirkan seluruh alam, seluruh kenyataan.”

    Dalam pengertian yang lain, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan empat poin pengertian filsafat (1) pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya (2) teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan (3) ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi (4) falsafah.

    Dari pengertian di atas dapat disimpulkan filsafat berkait erat dengan aktivitas berpikir atau aktivitas akal. Sehingga hampir tidak mungkin memisahkan antara filsafat dengan (proses) berpikir. Tentu, sebagaimana kata Alisjahbana, jenis berpikir yang dimaksud harus bersifat teliti dan bertanggung jawab.

    Filsafat dan perkara konkret

    Mengacu KBBI, pengertian perkara adalah persoalan, masalah, atau urusan (yang harus diselesaikan atau dibereskan). Sedangkan konkret artinya nyata. Sesuatu yang berwujud, dapat dilihat, diraba, dan sebagainya. Singkatnya, konkret berarti benar-benar ada.

    Maka, perkara konkret dapat diartikan sebagai urusan atau persoalan nyata yang harus diselesaikan atau dibereskan.

    Lalu, apa hubungan filsafat dengan hal tersebut. Di sinilah filsafat mendapat titik gunanya. Filsafat memiliki peran yang signifikan dalam mengeksplorasi, memahami, dan menyelesaikan perkara konkret dalam kehidupan manusia.

    Meskipun filsafat terkadang dianggap sebagai disiplin yang teoritis dan abstrak, namun konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dihasilkan dari pemikiran filosofis dapat memiliki implikasi nyata dalam menangani perkara konkret.

    Filsafat membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat dan sifat dari perkara konkret yang dihadapi. Dengan menyelidiki aspek-aspek filosofis dari suatu masalah, kita dapat mengidentifikasi akar penyebabnya, menganalisis berbagai perspektif, dan memahami implikasi etis dari berbagai tindakan yang mungkin diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

    Selain itu, filsafat memperluas pandangan kita tentang berbagai perkara konkret dengan mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang mendasari pemikiran kita. Dengan mendekonstruksi kerangka pemikiran yang ada, filsafat dapat membuka ruang untuk solusi-solusi baru yang inovatif dan kreatif untuk masalah-masalah yang sulit.

    Tidak hanya itu, filsafat juga memainkan peran penting dalam merumuskan kebijakan dan hukum yang efektif untuk menangani perkara konkret. Prinsip-prinsip etis dan filosofis yang dipelajari dari pemikiran filosofis dapat menjadi landasan bagi pembuatan kebijakan yang adil dan berkelanjutan.

    Meskipun tidak selalu memberikan jawaban yang langsung atau solusi yang instan, filsafat membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan berkelanjutan tentang dunia di sekitar kita, sehingga memungkinkan kita untuk menghadapi perkara konkret dengan cara yang lebih bijaksana dan terbimbing.

    Hukum dan filsafat

    Meskipun keduanya secara umum berada dalam domain yang berbeda, tapi secara khusus keduanya memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi, utamanya dalam pemahaman dan pengembangan norma-norma sosial dan sistem hukum.

    Filsafat memberikan fondasi konseptual dan teoretis yang penting bagi hukum. Filsafat membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hak, keadilan, moralitas, dan kebenaran, yang merupakan dasar bagi pembentukan sistem hukum. Misalnya, konsep tentang hak asasi manusia, yang menjadi landasan bagi banyak konstitusi modern, muncul dari refleksi filsafat tentang hak individu dan martabat manusia.

    Selain itu, filsafat juga membantu mempertanyakan asumsi-asumsi dasar di balik hukum dan mengidentifikasi kelemahan atau ketidakadilan dalam sistem hukum yang ada. Dengan mengeksplorasi konsekuensi etis dari undang-undang dan kebijakan, filsafat dapat membantu memperbaiki kekurangan dalam sistem hukum dan mendorong perubahan yang lebih adil.

    Di sisi lain, hukum memberikan konteks nyata bagi penerapan prinsip-prinsip filosofis dalam kehidupan sehari-hari. Sistem hukum mengatur perilaku manusia dan menentukan konsekuensi dari tindakan-tindakan tersebut, dan sering kali didasarkan pada prinsip-prinsip filosofis seperti keadilan, egalitarianisme, atau utilitarianisme. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam praktik, hukum memberikan pengujian nyata terhadap kegunaan dan kebenaran teori-teori filsafat.

    Selanjutnya, ada juga hubungan dua arah (bidirectional relationship) antara filsafat dan hukum, di mana perkembangan dalam satu bidang acapkali merangsang perkembangan dalam bidang lainnya. Misalnya, diskusi filosofis tentang konsep keadilan mungkin menginspirasi reformasi hukum untuk memperbaiki ketidakadilan sistematis dalam masyarakat.

    Relasi antara filsafat dan hukum merupakan interaksi yang kompleks dan dinamis, di mana keduanya saling mempengaruhi dan memperkaya satu sama lain. Filsafat memberikan landasan konseptual untuk pemahaman dan evaluasi sistem hukum, sementara hukum memberikan konteks praktis bagi penerapan prinsip-prinsip filosofis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami hubungan yang erat antara keduanya, kita dapat lebih baik menghargai kompleksitas norma-norma sosial dan sistem-sistem keadilan yang membentuk masyarakat kita.

    Fungsi etis

    Herman Allositandi, OC Kaligis, Yosef Parera. Apa yang terlintas dalam pikiran ketika membaca tiga nama tersebut? Ya, nama di atas hanyalah tiga dari sekian contoh nyata kegersangan dunia hukum.

    Menengok kenyataan itu, boleh kita khawatir, perkara konkret yang diajukan ke meja hukum mungkin saja diproses oleh pribadi-pribadi yang diragukan keinsafannya.

    Pada awal tulisan ini telah disebutkan berfilsafat artinya berpikir dengan insaf, yaitu berpikir dengan teliti menurut aturan yang benar. Kalau seseorang tidak berpikir dengan teliti, apalagi melanggar aturan yang benar, sukar bagi seseorang itu sampai pada derajat berfilsafat dengan insaf.

    Alisjahbana dalam buku yang sama menegaskan, “Seseorang berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya se-insyaf²nya, sesentral²nya dengan perasaan bertanggungjawab. Bukan bertanggungjawab kepada “si Amat” dan “si Wongso”, tapi kepada pokok, kepada dasar hidup yang sedalam²nya, baik ia yang dinamakan Tuhan atau alam, atau kebenaran.”

    Kemudian kita bertanya lagi, apa guna filsafat? Kepatuhan berpikir teliti, lurus, dan bertanggungjawab yang diharuskan dalam berfilsafat itulah yang dapat menempa seseorang untuk berintegritas sejak dalam pikiran. Sejak dari jiwanya yang paling dalam.

    Nb: Esai ini sebelumnya telah terbit di nalarpolitik.com

  • Oleh Agung Hyt

    Sekali lagi, apa jang ditanam oleh kaum muda di masa-masa perdjuangan awal hidupnja bukan buat dituai setahun dua tahun, tetapi itu buat berpuluh-puluh tahun ke depan. Buat sampai ke masa achir hidupnja.

    Sebagian orang muda mungkin tidak tahan dalam kesetiaan —menempuh perdjuangan jang penuh kemelaratan dalam waktu jang demikian pandjang. Sebagian mereka itu achirnja bertjita-tjita mendjadi big scoundrel, jaitu seorang badjingan besar. Kalau itu tudjuan dia punja hidup, maka tjukup dia tanam skandal dan hiasi perilaku dengan suatu perbuatan jang semata-mata berdasar siasat nafsu. Dalam waktu ke depan pasti dia akan menuai predikat big scoundrel itu setjara mantap.

    Dan kalau orang mau mendjadi berkepribadian unggul, katakanlah sematjam Übermensch, pertama-pertama dia harus berani berpajah-pajah. Kemudian dia harus bersedia untuk bersabar-sabar dalam djalan jang tertib dan menjandarkan perdjuangan hidupnja kepada akal jang luhur. Dengan demikian predikat Übermensch itu pulalah jang akan dituainja nanti.

  • Oleh Agung Hidayat

    Baru saja ibu berangkat ke Taiwan menjadi TKI. Kini aku tinggal bersama nenek. Ayah? Rumah ayah dan nenek berjarak sepelemparan batu. Tapi, rumah ayah dan nenek sebenarnya sama saja. Tidak menghadirkan keamanan dan ketenangan batin: keamanan seorang anak perempuan.

    Pandangan ayah membuat rumah terasa beku dan menyeramkan. Sempit hati nenek membuat batinku selalu diserang perasaan tidak enakan. Ayah adalah nenek. Nenek adalah ayah. Sama saja, kan? Dan, ada atau tidak adanya ibu sebenarnya juga sama saja. Namun, kepergian ibu membuat keadaan bertambah muram. Tidak ada tempatku berlindung.

    Pernah pada satu waktu, di siang hari, ketika ibu sudah di Taiwan, aku merasa lapar. Aku pergi ke dapur nenek buat makan. Ketika tanganku mulai bergerak mengambil nasi, dari sisi lain nenek menengok dengan tatapan intimidatif. Sinis. Perasaanku gundah. Tidak enak. Aku pun mengambil nasi dan lauk secuil, agar nenek menurunkan tatapannya, agar nenek senang hati.

    Aku harus menjaga perasaan nenek setiap waktu. Bukan hanya nenek, tetapi juga kakek, paman, bibi, ayah, dan seluruh keluarga nenek.

    Tidak masalah jika aku harus menjaga perasaan mereka semua. Kupikir, setiap manusia memang harus saling menghormati. Tapi, siapa yang menjagaku? Perasaanku? Sementara ibu di Taiwan. Tuhan? Tuhan katanya ada di mana-mana. Tapi, aku tak pernah melihat Tuhan saat diriku muram dihantam oleh energi kebencian nenek dan kakek. Aku tak berani menyalahkan Tuhan. Aku tak menuntut agar Tuhan hadir secara nyata di hadapanku. Tidak. Aku juga tidak menuntut agar ibu tetap ada di sini. Aku mengerti ibu pergi ke Taiwan karena kami kesulitan membeli beras. Ibu pergi sambil membawa harapan menjadi tajir.

    Aku mengerti nenek dan kakek membenciku karena wajahku mirip ibu, bukan ayah. Nenek dan kakek membenci ibu… kemudian aku. Seperti ada kemauan mereka yang tak terpenuhi dari ibu dan diriku. Tapi aku tak tahu apa. Walaupun kebencian itu nyata, aku tak menuntut agar mereka semua tiba-tiba mencintaiku, agar aku menjadi pelita harapan di masing-masing hati mereka, tidak. Aku tidak berharap apa pun.

    Hanya saja aku selalu bertanya-tanya, apa ini yang dinamakan nasib? Atau jangan-jangan porsi hidup seperti ini telah aku pilih di alam sebelum kelahiranku ke dunia. Apakah pengertian nasib itu sama dengan kesepakatan antara aku dan Tuhan. Apakah aku dan Tuhan telah bersepakat jalan hidupku di dunia akan seperti ini. Aku tak ingat apa pun soal waktu sebelum kelahiran. Aku tak tahu apakah benar kesepakatan itu ada atau tidak. Ada yang bilang, kita akan lupa pada kejadian di alam sebelum kelahiran.
    Namun, yang pasti, seperti ada sesuatu di dalam hatiku yang selalu berbisik agar aku berjalan secara gagah berani. Sesuatu itu bukan bisikan setan, tapi semacam bisikan hati kecil, dan secara alami aku mengikuti bisikan tersebut: berjalan secara gagah berani, tanpa amarah dan dendam.

    Hari-hari di rumah nenek selalu sama. Setiap gerakku diamati. Gerak yang berhubungan dengan makanan, dan semua benda milik mereka yang coba kusentuh. Nenek dan kakek tak rela jika aku menyentuh apa pun milik mereka. Kalaupun aku berhasil menyentuhnya, tatapan nenek dan kakek akan mengintaiku. Setahuku aku tak pernah memulai perang. Memulai permusuhan. Tapi kemudian langkah dan gerakku seperti dimaknai sebagai gerak musuh dalam medan perang. Aku tak mengerti.

    Terkadang aku ingin bertanya pada nenek saat ia sedang duduk membaca koran. “Kapan perang ini akan selesai?” Sebelum niat itu terutarakan, nenek dipanggil Tuhan. Beberapa bulan setelah ibu pulang dari Taiwan, nenek meninggal dalam kesepian.

    Nenek sakit berbulan-bulan. Di hari-hari ketika ia sekarat, tak ada siapa pun, kecuali ibu dan diriku. Ibu membawa pulang uang seratus juta dari Taiwan. Uang itu habis untuk merawat nenek selama empat bulan. Di manakah orang-orang yang dicintai oleh nenek? Mereka masih di rumah yang sama. Mereka masih menjalani hidup seperti biasa. Tapi, nenek sekarat dalam kesepian, tanpa ditemani orang-orang yang ia sayang. Ibu tak pernah mempertanyakan itu.

    Ibu seperti benda mati. Ia menghabiskan uang untuk merawat nenek tanpa mengungkit permusuhan yang telah nenek kobarkan demikian panjang. Ibu seperti benda mati. Ibu seperti tak memiliki hati. Di mata nenek, ibu bagaikan benda najis. Aku tak tahu seperti apa nenek di mata ibu. Aku tak bisa membaca isi hati ibu. Aku tak pernah melihat ekspresi perasaan dari dirinya. Ibu seperti benda mati. Ibu adalah aku. Aku adalah ibu.

    Kudengar dari orang-orang, perempuan adalah makhluk perasaan, tapi Ibu seperti bukan perempuan. Ia tak mampu mengekspresikan kemauan hati, menuntut agar orang-orang mengikuti setiap kemauan hatinya. Sebenarnya aku tak terlalu mengerti apa itu ego? Tapi, orang-orang sering membicarakan ego dan menyebut orang lain egois. Dari yang dibicarakan orang-orang itu, kukira makna ego itu sama dengan menuntut. Menuntut agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan kemauan diri. Kalau itu definisi ego, sungguh aku tak pernah melihat definisi itu melekat pada Ibu.

    Ibu seperti benda mati. Ia tak memiliki perasaan. Setelah nenek meninggal, uang ibu habis, ibu berangkat lagi menjadi TKI ke Taiwan dengan harapan yang masih sama —menjadi tajir. Dua tahun ibu di sana.

    Ketika ibu menjelang pulang, kakek jatuh sakit. Ibu sampai ke kampung halaman, ke rumah kakek, membawa uang delapan puluh juta. Ibu melihat kakek terkapar di sudut kamar. Tidak ada siapa pun, hanya ada aku. Ibu bertanya padaku: mengapa tidak dibawa ke rumah sakit? Aku hanya diam. Aku si anak kecil yang tak punya uang. Ibu bergegas ke rumah tetangga kaya raya, meminta bantuan agar mengantar kakek ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Ibu dan aku mengiringi. Kakek dirawat di rumah sakit berminggu-minggu. Ibu dan aku menemani. Setelah tiga minggu keadaan kakek mulai membaik. Ibu melunasi seluruh tagihan senilai sembilan puluh juta. Uang ibu tak cukup. Ibu meminjam pada tetangga kaya raya, dan ibu berjanji akan menggantinya.  Setelah biaya rumah sakit lunas, akhirnya kakek boleh pulang. Kami pulang ke rumah dalam keadaan bahagia.

    Ibu merawat kakek di rumah sampai benar-benar pulih. Ibu mengatur jadwal makan dan jenis makanan yang boleh kakek makan. Obat yang dibawa dari rumah sakit selalu ibu sediakan setelah kakek makan. Sesekali ibu memintaku membantunya. Setelah kakek benar-benar pulih, ibu mulai bekerja lagi. Bekerja di rumah tetangga kaya raya menjadi tukang cuci pakaian.

    Tiga bulan kemudian, ibu pamit padaku untuk berangkat menjadi TKI ke Arab Saudi. “Apakah ibu masih ingin menjadi tajir?” Tanyaku.

    “Tidak.”

    “Lalu kenapa pergi lagi?”

    “Kau harus sekolah, Rukmini. Jangan menjadi seperti ibu.”

    ___

    Nb: Cerpen ini pertama kali terbit pada 25 Oktober 2024 di Pronesiata.id. Lihat, https://pronesiata.id/homepage/detail/Cerpen/rukmini-bercerita

  • Oleh: Agung Hyt

    Guru dan dosen “killer” itu masalah besar. Ironis ketika ada yang bangga dengan label tersebut.

    Kenapa ironis? Karena mereka adalah orang-orang yang mempelajari berbagai metode pencarian kebenaran dan memahami bahwa selalu ada banyak jalan untuk mencapainya. Namun, mereka justru memaksa orang lain mengikuti satu pendekatan yang sempit dan tendensius, seolah hanya itulah cara yang benar. Padahal, dalam dunia pendidikan yang sehat, perbedaan pandangan dan metode adalah sesuatu yang harus dihargai, bukan ditekan.

    Fenomena ini mengingatkanku pada cerita beberapa teman yang bekerja di perusahaan. Mereka sering menggambarkan budaya kerja yang picik, eksploitatif, penuh senioritas, dan sarat watak penindas. Lalu saya bertanya-tanya: mengapa sebagian akademisi kini menunjukkan perilaku yang mirip? Bukankah mereka seharusnya menjadi teladan dalam bersikap terbuka, kritis, dan inklusif?

    Dosen “killer” biasanya menilai mahasiswa dengan satu standar yang sangat sempit. Mereka mengabaikan fakta bahwa setiap mahasiswa memiliki cara belajar, ritme berpikir, dan potensi yang berbeda. Tugas pendidik seharusnya membantu mahasiswa menemukan kekuatan dan keunikannya, bukan menekan mereka dengan ukuran-ukuran yang kaku. Ketika pendidikan berubah menjadi alat kontrol, bukan ruang pembebasan, maka ada yang keliru secara struktural dalam sistem itu.

    Pertanyaannya, mengapa banyak akademisi memilih bersikap seperti ini? Apakah karena mereka merasa superior, atau karena sistem pendidikan kita memang mendorong keseragaman dan otoritarianisme? Apa pun alasannya, jika pola ini dibiarkan, bukan hanya mahasiswa yang dirugikan. Dunia pendidikan akan kehilangan esensinya: pengembangan potensi individu dan kebebasan berpikir.

    Karena itu, pantas saja jika ada yang menyebut bahwa hanya orang yang benar-benar keliru jalan pikirannya yang bangga menjadi “killer”: bukan karena kurang pengetahuan, tetapi karena tidak mampu memaknai pengetahuan.

  • Obral…

    Buka sini

    buka sana, buka situ.

    Hawa berwajah sepuluh.

    Kirim gambar

    kirim pesan

    pasang lotre!

    Obral rasa, masuk semua!

    Celaka, celaka

    celaka.

  • Oleh Agung Hyt

    Sebenarnya hampir tak pernah saya dengar secara langsung orang merendahkan saya. Namun, memang, beberapa kali kawan-kawan saya membawa kabar pada saya bahwa “si anu” dan “si ini” merendahkan, menghina, dan meragukan saya.

    “Si anu” dan “si ini” ada yang saya kenal baik, ada pula yang saya kenal sekadarnya. Jadi, “si anu” dan “si ini” umumnya adalah orang-orang yang saya kenal.

    Dari kabar yang sampai pada saya itu, penghinaan dan perendahan itu umumnya terkait dua perkara (1) karena pakaian dan tampilan saya kumuh (2) karena saya terlalu lama dalam “ketidakpastian.”

    Ketika kawan-kawan saya itu menyampaikan kabar, saya tak memberi respons berarti. Saya hanya sampaikan bahwa saya tak tersinggung, tidak pula sakit hati oleh yang semacam itu. Kira-kira kenapa? Saudara pasti tahu jawabannya.

  • Oleh Agung Hyt

    Hari-hari ini banyak kita temui di media sosial, orang-orang membandingkan Sumbar dengan Pekanbaru. Mereka ingin Sumbar menjadi “capital city” dan “kota gedung” seperti Pekanbaru.

    Saya berpendapat, biarlah Sumbar tetap begitu. Ia tak perlu dibandingkan dengan Pekanbaru. Tak perlu menjadi Pekanbaru. Sumbar gagah dengan kekuatannya yang lain, kekuatan pikiran.

    Orang-orang besar lahir dari sana bukan karena Sumbar sebagai tanah gemerlap, tanah teatrikal, tetapi karena ia alami, mengakar pada adat, pada akal-pikiran. Karena ia gemar bertengkar di gelanggang nalar.

    Kalau Sumbar digeser menjadi serba kapital, serba gedung, serba bar, serba dugem, serba bising, bisa jadi ini akan menjadikannya impoten dalam melahirkan orang-orang besar. Bisa jadi.

  • Oleh Agung Hyt

    Jujur saja, awak baru betul-betul “peka” berbahasa Indonesia sekitar 2021 ke atas. Padahal, awak udah menulis jauh sejak masih sekolah. Ada jarak bertahun-tahun untuk betul-betul “peka” mana bahasa yang benar, baik & buruk.

    Ini bukti awak bodoh dalam linguistik.

    Awak tak paham bahasa apa pun, kecuali bahasa Indonesia (Melayu-Pasar). Cuman kalau begitu masalahnya, apa iya kita mau berhenti?

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai