• Oleh Agung Hyt

    Sekali lagi, apa jang ditanam oleh kaum muda di masa-masa perdjuangan awal hidupnja bukan buat dituai setahun dua tahun, tetapi itu buat berpuluh-puluh tahun ke depan. Buat sampai ke masa achir hidupnja.

    Sebagian orang muda mungkin tidak tahan dalam kesetiaan —menempuh perdjuangan jang penuh kemelaratan dalam waktu jang demikian pandjang. Sebagian mereka itu achirnja bertjita-tjita mendjadi big scoundrel, jaitu seorang badjingan besar. Kalau itu tudjuan dia punja hidup, maka tjukup dia tanam skandal dan hiasi perilaku dengan suatu perbuatan jang semata-mata berdasar siasat nafsu. Dalam waktu ke depan pasti dia akan menuai predikat big scoundrel itu setjara mantap.

    Dan kalau orang mau mendjadi berkepribadian unggul, katakanlah sematjam Übermensch, pertama-pertama dia harus berani berpajah-pajah. Kemudian dia harus bersedia untuk bersabar-sabar dalam djalan jang tertib dan menjandarkan perdjuangan hidupnja kepada akal jang luhur. Dengan demikian predikat Übermensch itu pulalah jang akan dituainja nanti.

  • Oleh Agung Hidayat

    Baru saja ibu berangkat ke Taiwan menjadi TKI. Kini aku tinggal bersama nenek. Ayah? Rumah ayah dan nenek berjarak sepelemparan batu. Tapi, rumah ayah dan nenek sebenarnya sama saja. Tidak menghadirkan keamanan dan ketenangan batin: keamanan seorang anak perempuan.

    Pandangan ayah membuat rumah terasa beku dan menyeramkan. Sempit hati nenek membuat batinku selalu diserang perasaan tidak enakan. Ayah adalah nenek. Nenek adalah ayah. Sama saja, kan? Dan, ada atau tidak adanya ibu sebenarnya juga sama saja. Namun, kepergian ibu membuat keadaan bertambah muram. Tidak ada tempatku berlindung.

    Pernah pada satu waktu, di siang hari, ketika ibu sudah di Taiwan, aku merasa lapar. Aku pergi ke dapur nenek buat makan. Ketika tanganku mulai bergerak mengambil nasi, dari sisi lain nenek menengok dengan tatapan intimidatif. Sinis. Perasaanku gundah. Tidak enak. Aku pun mengambil nasi dan lauk secuil, agar nenek menurunkan tatapannya, agar nenek senang hati.

    Aku harus menjaga perasaan nenek setiap waktu. Bukan hanya nenek, tetapi juga kakek, paman, bibi, ayah, dan seluruh keluarga nenek.

    Tidak masalah jika aku harus menjaga perasaan mereka semua. Kupikir, setiap manusia memang harus saling menghormati. Tapi, siapa yang menjagaku? Perasaanku? Sementara ibu di Taiwan. Tuhan? Tuhan katanya ada di mana-mana. Tapi, aku tak pernah melihat Tuhan saat diriku muram dihantam oleh energi kebencian nenek dan kakek. Aku tak berani menyalahkan Tuhan. Aku tak menuntut agar Tuhan hadir secara nyata di hadapanku. Tidak. Aku juga tidak menuntut agar ibu tetap ada di sini. Aku mengerti ibu pergi ke Taiwan karena kami kesulitan membeli beras. Ibu pergi sambil membawa harapan menjadi tajir.

    Aku mengerti nenek dan kakek membenciku karena wajahku mirip ibu, bukan ayah. Nenek dan kakek membenci ibu… kemudian aku. Seperti ada kemauan mereka yang tak terpenuhi dari ibu dan diriku. Tapi aku tak tahu apa. Walaupun kebencian itu nyata, aku tak menuntut agar mereka semua tiba-tiba mencintaiku, agar aku menjadi pelita harapan di masing-masing hati mereka, tidak. Aku tidak berharap apa pun.

    Hanya saja aku selalu bertanya-tanya, apa ini yang dinamakan nasib? Atau jangan-jangan porsi hidup seperti ini telah aku pilih di alam sebelum kelahiranku ke dunia. Apakah pengertian nasib itu sama dengan kesepakatan antara aku dan Tuhan. Apakah aku dan Tuhan telah bersepakat jalan hidupku di dunia akan seperti ini. Aku tak ingat apa pun soal waktu sebelum kelahiran. Aku tak tahu apakah benar kesepakatan itu ada atau tidak. Ada yang bilang, kita akan lupa pada kejadian di alam sebelum kelahiran.
    Namun, yang pasti, seperti ada sesuatu di dalam hatiku yang selalu berbisik agar aku berjalan secara gagah berani. Sesuatu itu bukan bisikan setan, tapi semacam bisikan hati kecil, dan secara alami aku mengikuti bisikan tersebut: berjalan secara gagah berani, tanpa amarah dan dendam.

    Hari-hari di rumah nenek selalu sama. Setiap gerakku diamati. Gerak yang berhubungan dengan makanan, dan semua benda milik mereka yang coba kusentuh. Nenek dan kakek tak rela jika aku menyentuh apa pun milik mereka. Kalaupun aku berhasil menyentuhnya, tatapan nenek dan kakek akan mengintaiku. Setahuku aku tak pernah memulai perang. Memulai permusuhan. Tapi kemudian langkah dan gerakku seperti dimaknai sebagai gerak musuh dalam medan perang. Aku tak mengerti.

    Terkadang aku ingin bertanya pada nenek saat ia sedang duduk membaca koran. “Kapan perang ini akan selesai?” Sebelum niat itu terutarakan, nenek dipanggil Tuhan. Beberapa bulan setelah ibu pulang dari Taiwan, nenek meninggal dalam kesepian.

    Nenek sakit berbulan-bulan. Di hari-hari ketika ia sekarat, tak ada siapa pun, kecuali ibu dan diriku. Ibu membawa pulang uang seratus juta dari Taiwan. Uang itu habis untuk merawat nenek selama empat bulan. Di manakah orang-orang yang dicintai oleh nenek? Mereka masih di rumah yang sama. Mereka masih menjalani hidup seperti biasa. Tapi, nenek sekarat dalam kesepian, tanpa ditemani orang-orang yang ia sayang. Ibu tak pernah mempertanyakan itu.

    Ibu seperti benda mati. Ia menghabiskan uang untuk merawat nenek tanpa mengungkit permusuhan yang telah nenek kobarkan demikian panjang. Ibu seperti benda mati. Ibu seperti tak memiliki hati. Di mata nenek, ibu bagaikan benda najis. Aku tak tahu seperti apa nenek di mata ibu. Aku tak bisa membaca isi hati ibu. Aku tak pernah melihat ekspresi perasaan dari dirinya. Ibu seperti benda mati. Ibu adalah aku. Aku adalah ibu.

    Kudengar dari orang-orang, perempuan adalah makhluk perasaan, tapi Ibu seperti bukan perempuan. Ia tak mampu mengekspresikan kemauan hati, menuntut agar orang-orang mengikuti setiap kemauan hatinya. Sebenarnya aku tak terlalu mengerti apa itu ego? Tapi, orang-orang sering membicarakan ego dan menyebut orang lain egois. Dari yang dibicarakan orang-orang itu, kukira makna ego itu sama dengan menuntut. Menuntut agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan kemauan diri. Kalau itu definisi ego, sungguh aku tak pernah melihat definisi itu melekat pada Ibu.

    Ibu seperti benda mati. Ia tak memiliki perasaan. Setelah nenek meninggal, uang ibu habis, ibu berangkat lagi menjadi TKI ke Taiwan dengan harapan yang masih sama —menjadi tajir. Dua tahun ibu di sana.

    Ketika ibu menjelang pulang, kakek jatuh sakit. Ibu sampai ke kampung halaman, ke rumah kakek, membawa uang delapan puluh juta. Ibu melihat kakek terkapar di sudut kamar. Tidak ada siapa pun, hanya ada aku. Ibu bertanya padaku: mengapa tidak dibawa ke rumah sakit? Aku hanya diam. Aku si anak kecil yang tak punya uang. Ibu bergegas ke rumah tetangga kaya raya, meminta bantuan agar mengantar kakek ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Ibu dan aku mengiringi. Kakek dirawat di rumah sakit berminggu-minggu. Ibu dan aku menemani. Setelah tiga minggu keadaan kakek mulai membaik. Ibu melunasi seluruh tagihan senilai sembilan puluh juta. Uang ibu tak cukup. Ibu meminjam pada tetangga kaya raya, dan ibu berjanji akan menggantinya.  Setelah biaya rumah sakit lunas, akhirnya kakek boleh pulang. Kami pulang ke rumah dalam keadaan bahagia.

    Ibu merawat kakek di rumah sampai benar-benar pulih. Ibu mengatur jadwal makan dan jenis makanan yang boleh kakek makan. Obat yang dibawa dari rumah sakit selalu ibu sediakan setelah kakek makan. Sesekali ibu memintaku membantunya. Setelah kakek benar-benar pulih, ibu mulai bekerja lagi. Bekerja di rumah tetangga kaya raya menjadi tukang cuci pakaian.

    Tiga bulan kemudian, ibu pamit padaku untuk berangkat menjadi TKI ke Arab Saudi. “Apakah ibu masih ingin menjadi tajir?” Tanyaku.

    “Tidak.”

    “Lalu kenapa pergi lagi?”

    “Kau harus sekolah, Rukmini. Jangan menjadi seperti ibu.”

    ___

    Nb: Cerpen ini pertama kali terbit pada 25 Oktober 2024 di Pronesiata.id. Lihat, https://pronesiata.id/homepage/detail/Cerpen/rukmini-bercerita

  • Oleh: Agung Hyt

    Guru dan dosen “killer” itu masalah besar. Ironis ketika ada yang bangga dengan label tersebut.

    Kenapa ironis? Karena mereka adalah orang-orang yang mempelajari berbagai metode pencarian kebenaran dan memahami bahwa selalu ada banyak jalan untuk mencapainya. Namun, mereka justru memaksa orang lain mengikuti satu pendekatan yang sempit dan tendensius, seolah hanya itulah cara yang benar. Padahal, dalam dunia pendidikan yang sehat, perbedaan pandangan dan metode adalah sesuatu yang harus dihargai, bukan ditekan.

    Fenomena ini mengingatkanku pada cerita beberapa teman yang bekerja di perusahaan. Mereka sering menggambarkan budaya kerja yang picik, eksploitatif, penuh senioritas, dan sarat watak penindas. Lalu saya bertanya-tanya: mengapa sebagian akademisi kini menunjukkan perilaku yang mirip? Bukankah mereka seharusnya menjadi teladan dalam bersikap terbuka, kritis, dan inklusif?

    Dosen “killer” biasanya menilai mahasiswa dengan satu standar yang sangat sempit. Mereka mengabaikan fakta bahwa setiap mahasiswa memiliki cara belajar, ritme berpikir, dan potensi yang berbeda. Tugas pendidik seharusnya membantu mahasiswa menemukan kekuatan dan keunikannya, bukan menekan mereka dengan ukuran-ukuran yang kaku. Ketika pendidikan berubah menjadi alat kontrol, bukan ruang pembebasan, maka ada yang keliru secara struktural dalam sistem itu.

    Pertanyaannya, mengapa banyak akademisi memilih bersikap seperti ini? Apakah karena mereka merasa superior, atau karena sistem pendidikan kita memang mendorong keseragaman dan otoritarianisme? Apa pun alasannya, jika pola ini dibiarkan, bukan hanya mahasiswa yang dirugikan. Dunia pendidikan akan kehilangan esensinya: pengembangan potensi individu dan kebebasan berpikir.

    Karena itu, pantas saja jika ada yang menyebut bahwa hanya orang yang benar-benar keliru jalan pikirannya yang bangga menjadi “killer”: bukan karena kurang pengetahuan, tetapi karena tidak mampu memaknai pengetahuan.

  • Obral…

    Buka sini

    buka sana, buka situ.

    Hawa berwajah sepuluh.

    Kirim gambar

    kirim pesan

    pasang lotre!

    Obral rasa, masuk semua!

    Celaka, celaka

    celaka.

  • Oleh Agung Hyt

    Sebenarnya hampir tak pernah saya dengar secara langsung orang merendahkan saya. Namun, memang, beberapa kali kawan-kawan saya membawa kabar pada saya bahwa “si anu” dan “si ini” merendahkan, menghina, dan meragukan saya.

    “Si anu” dan “si ini” ada yang saya kenal baik, ada pula yang saya kenal sekadarnya. Jadi, “si anu” dan “si ini” umumnya adalah orang-orang yang saya kenal.

    Dari kabar yang sampai pada saya itu, penghinaan dan perendahan itu umumnya terkait dua perkara (1) karena pakaian dan tampilan saya kumuh (2) karena saya terlalu lama dalam “ketidakpastian.”

    Ketika kawan-kawan saya itu menyampaikan kabar, saya tak memberi respons berarti. Saya hanya sampaikan bahwa saya tak tersinggung, tidak pula sakit hati oleh yang semacam itu. Kira-kira kenapa? Saudara pasti tahu jawabannya.

  • Oleh Agung Hyt

    Hari-hari ini banyak kita temui di media sosial, orang-orang membandingkan Sumbar dengan Pekanbaru. Mereka ingin Sumbar menjadi “capital city” dan “kota gedung” seperti Pekanbaru.

    Saya berpendapat, biarlah Sumbar tetap begitu. Ia tak perlu dibandingkan dengan Pekanbaru. Tak perlu menjadi Pekanbaru. Sumbar gagah dengan kekuatannya yang lain, kekuatan pikiran.

    Orang-orang besar lahir dari sana bukan karena Sumbar sebagai tanah gemerlap, tanah teatrikal, tetapi karena ia alami, mengakar pada adat, pada akal-pikiran. Karena ia gemar bertengkar di gelanggang nalar.

    Kalau Sumbar digeser menjadi serba kapital, serba gedung, serba bar, serba dugem, serba bising, bisa jadi ini akan menjadikannya impoten dalam melahirkan orang-orang besar. Bisa jadi.

  • Oleh Agung Hyt

    Jujur saja, awak baru betul-betul “peka” berbahasa Indonesia sekitar 2021 ke atas. Padahal, awak udah menulis jauh sejak masih sekolah. Ada jarak bertahun-tahun untuk betul-betul “peka” mana bahasa yang benar, baik & buruk.

    Ini bukti awak bodoh dalam linguistik.

    Awak tak paham bahasa apa pun, kecuali bahasa Indonesia (Melayu-Pasar). Cuman kalau begitu masalahnya, apa iya kita mau berhenti?

  • Hamka & Melayu Kultural

    Oleh Agung Hidayat

    Sekitar awal 2021 kami berkumpul di Ternate untuk sebuah acara. Dalam satu diskusi orang yang dituakan di sana mengatakan: “Kami ini Melayu. Kami orang Melayu.”

    Sebagai yang tumbuh dan besar di Riau, saya terpecut untuk mencari jawaban dari rasa penasaran. Mengapa orang Ternate dan terkadang juga orang Betawi menyebut dirinya Melayu? Apa itu Melayu? Dan bagaimana gugusan pulau Nusantara memakai bahasa yang disebut Melayu-Pasar atau Melayu-Dagang? Apa sebenarnya Melayu itu?

    Semunya rasa bangga

    Beberapa bulan lalu saya menemukan akun YouTube dan Instagram bernama: “Riau yang Asli.” Akun ini sepertinya berbasis di Kepulauan Riau (Kepri). Konten akun tersebut sesuai dengan namanya —Riau yang Asli— cenderung naif, eksklusif, dan segregasionis. Bagi mereka, Melayu Kepri punya kedudukan istimewa dibanding Melayu di tempat lainnya.

    Rasa bangga atas kebesaran kaum dan leluhur di masa lalu bukan sebuah dosa. Malahan, dengan rasa bangga yang mendalam tentang asal-usul itulah, seseorang atau suatu bangsa dapat memacu semangatnya untuk menjadi besar dan terhormat.

    Kalau dua akun itu mendasarkan langkahnya pada nilai di atas, tentu, ini akan menjadi sebuah dorongan besar. Sayangnya, bukan “keinginan untuk maju” yang menjadi dasar nilainya, tetapi, kentalnya sikap eksklusif dan primordialisme.

    Berkenaan dengan ini, pandangan Buya Hamka tentang alam kemelayuan dalam buku Dari Perbendaharaan Lama, patut untuk direnungkan.Di buku tersebut pada bagian III poin IX, Hamka membahas tentang Alam Melayu dan sejarah Riau.

    Semua ini hasil perpaduan

    Hamka menekankan kompleksitas sejarah dan identitas kemelayuan itu tidak dapat diabaikan. Ia mengatakan, mencari Melayu Riau yang tulen, Melayu Riau yang sejati, atau yang disebut asli Melayu, payahlah ditemukan. Ini menunjukkan istilah “asli” atau “murni” dalam konteks budaya Melayu bukan istilah yang “sehat”.

    Alfred Russel Wallace, seorang naturalis, dalam The Malay Archipelago (Kepulauan Melayu) mengatakan, Kepulauan Melayu bermula di Pulau Nikobar di timur laut ke Pulau Solomon di tenggara, dari Luzon di utara ke Rote di selatan. Wilayah itu oleh Wallace dibagi dalam empat nama: Kepulauan Indo-Malaya, Kepulauan Timor, Kepulauan Maluku, dan Kepulauan Papua, (Thamrin, 2018).

    Kemudian, ada beberapa teori tentang asal-usul orang Melayu, pertama, Martin Richards berteori, orang Melayu berasal dari Yunnan dan Taiwan. Berkebalikan dengan pendapat Richards, Dr Stephen Oppenheimer mengatakan, orang Melayu berasal dari Asia Tenggara, bukan dari utara (Yunnan dan Taiwan). Terbaru, Dr Wan Hashim Wan Teh mengatakan, orang Melayu sudah ada di Nusantara sejak 74 ribu tahun lalu, (Thamrin, 2018).

    Jadi di mana Melayu paling tua itu? Berbagai teori tidak menyebutkan di Malaysia saja, Palembang saja, Brunei saja, atau Riau saja, tapi orang Melayu adalah mereka yang mendiami Kepulauan Melayu atau Nusantara atau Asia Tenggara atau Paparan Sunda (Sunda Shelf).

    Tepatlah, apa yang dikatakan Hamka, identitas kemelayuan merupakan perpaduan berbagai suku bangsa dari seluruh kepulauan dan semenanjung baik Malaka, Johor, Bugis, Minangkabau, Banjar, Bajau, dan bahkan Sulu (Filipina).

    Asal-usul di atas bersifat genetik. Sementara itu, Hamka mengatakan, yang disebut orang Melayu pada zaman kebesaran kerajaan-kerajaan Melayu bukan bersifat genealogis (genealogy based) semata, tetapi karena mereka tinggal di bawah naungan panji raja-raja Melayu. Malahan, banyak dari raja-raja itu berasal dari bermacam-macam asal, tetapi dirajakan oleh orang Melayu. Ini semacam Melayu berbasis ikatan kultural (cultural bondage).

    Bahkan, tak cuma dari negeri yang dekat, orang-orang Melayu juga bermoyang dari negeri yang jauh. Hamka menyebut ada banyak peranakan Arab, yang telah menyatu dengan bumi Melayu sejak zaman kerajaan Pasai. Mereka datang dari Makkah dan Madinah, dan lebih banyak dari Hadramaut. Mereka menikah dengan penduduk setempat, tak sedikit raja-raja mengawinkan orang-orang Arab itu dengan anak-anak perempuan raja, sehingga keturunannya sering kali menjadi raja-raja Melayu.

    Sangat kentara, Tanah Melayu (Bhūmi Mālayu) membuka diri untuk semua asal. Tak hanya orang-orang Arab, ada pula yang disebut Melayu keturunan Keling, yaitu mereka yang berasal dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan. Mereka menetap dan bernaung di Bumi Melayu hingga akhirnya mereka disebut Melayu.

    Lalu adakah Melayu asli itu? Saya katakan, mungkin ada, tapi sulit menentukannya, dan saya pikir tidak perlu ditentukan. Bukan kita memelihara pesimistis, tapi mencari “asli” dan “tidak asli” hanya akan menebalkan prasangka sosial. Orang Jepang dan Korea tahu nenek moyang mereka berasal dari Tiongkok, tapi mereka tidak pusingkan dari mana mereka berasal. Mereka fokus pada apa yang ada dan apa yang akan dilakukan untuk pemajuan bangsanya.

    Sekali lagi, penegasan perpaduan

    Dapat kita pahami, identitas kemelayuan sebenarnya terbentuk dari campuran berbagai suku bangsa yang berinteraksi dan hidup bersama di atas Tanah Melayu (Bhūmi Mālayu). Ini menunjukkan pada kita identitas Melayu bersifat cair, multifaset, dan dinamis. Tidak terikat pada darah atau keturunan semata, tetapi pada ikatan kultural dalam lingkup geografis tertentu dan nilai-nilai kemelayuan yang dijunjung bersama. Inilah yang kita sebut sebagai “Melayu kultural”.

    Itulah mengapa sikap eksklusif-primordial seperti yang ditunjukkan oleh akun “Riau yang Asli” bertentangan dengan spirit keterbukaan yang dijelaskan oleh Hamka. Dan, satu hal yang pasti akan kita dapat dari sikap macam itu: Mengikis rasa persaudaraan dan menebalkan prasangka di tengah kehidupan sosial.

    Kesadaran untuk tentram dan beradab

    Esensi terdalam kebudayaan Melayu adalah keadaban, persaudaraan, dan ketentraman. Keadaban, persaudaraan dan ketentraman itu tidak berhenti pada falsafah, melainkan terejawantah dalam laku hidup dan tutur kata.

    Raja Ali Haji berpetuah dalam “Gurindam V”: Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihatlah kepada budi dan bahasa.

    Persaudaraan dan ketentraman dalam kehidupan Melayu diilhami oleh budi pekerti —yaitu, sebuah kesadaran untuk menciptakan laku hidup beradab.

    Kendati laku hidup Melayu didasarkan pada prinsip-prinsip adab dan ketentraman, namun pantang baginya mengaku paling beradab dan paling tentram.

    Hal itu senapas dengan apa yang tercatat dalam naskah “Adat Segala Raja-raja Melayu”:

    Adat Raja-raja Melayu itu—Pertama, merendahkan diri, tiada mau membesarkan diri, baik dari segi adab-tertib, bahasa pertuturan, perjalanan, dan kedudukan. Kedua, berlemah lembut tidak berlebih-lebihan, tidak berkurangan. Ketiga, sederhana dalam perlakuan, perbuatan, perkataan, pakaian, dan perjalanannya. Keempat, pandai mengawal kata-kata, penglihatan dan pandangan dari perkara yang keji.

    Setiap kita, siapa pun, memanglah tak perlu mengaku sebagai yang paling luhur, karena esensi dari keadaban dan ketentraman adalah kerendahan hati untuk belajar dari yang lain.

    Hamka, dalam bukunya itu, seperti hendak mengingatkan kita bahwa nyawa kemelayuan terletak pada kemampuannya untuk merangkul “segala asal-usul” tanpa merasa lebih unggul.

    Ruang persaudaraan

    Kita harus melepaskan prasangka sosial dan mulai masuk dalam pandangan mendalam tentang identitas kemelayuan. Mengedepankan kesamaan kultur daripada kesamaan genetik. Dan, memang —seperti kata Prof Usman Pelly, antropolog Indonesia— siapa pun dapat menjadi Melayu sepanjang ia mengaku Melayu, tinggal di tanah Melayu, dan menjalankan laku hidup kemelayuan. Saya pikir, pandangan ini sejalan-senapas dengan spirit dunia masa kini yang menekankan keterbukaan.

    Identitas Melayu terbentuk dari interaksi dan perpaduan berbagai suku bangsa yang hidup di atas tanah yang disebut Alam Melayu. Sebab itu, klaim “asli” dan “tidak asli” tidak senapas-sejalan dengan historisitas kebudayaan Melayu yang cair, inklusif, dan dinamis.

    Kalau sekarang ini ada yang bertanya apa itu Melayu? Melayu adalah “ruang” yang menyatukan berbagai latar belakang dalam ikatan persaudaraan —dari dulu, kini, dan nanti.

  • Oleh Aung Hyat

    KALAU kita banyak-banyak menengok, selalu ada yang lebih hebat dan lebih pintar dari kita-kita. Kata orang, “Di atas langit masih ada langit.”

    Itulah sebabnya, tugas awak-awak ini bukan untuk jadi paling hebat dan paling pintar. Tapi cemana pun keadaannya, dalam tiap-tiap perjuangan, awak dapat menapakinya secara konsisten dan tabah.

    Mungkin orang becakap: “Ngapai pulak kau kejar yang tak pasti itu.” Kalau kita tak serius dalam kemauan, kita mungkin bebisik di hati: “Betul juga. Ngapai pulak kukejar yang tak pasti ini.”

    Itulah! Teguh pendirian itu perkara paling payah dalam perjuangan. Malah banyak yang tumbang dihantam “si teguh” ini.

    Sekali lagi, wajar orang becakap macam di atas tadi, memang, godaan untuk mengeluh, menggerutu, dan menyerah itu lebih “memikat”, sebab kadang-kadang yang diperjuangkan itu pun belum tentu dapat barangnya.

    Tapi sekali lagi, bukan perkara paling hebat atau paling pintar, tapi ini perkara siapa dengan penuh keyakinan tetap teguh bejalan sekalipun merangkak-rangkak. Kalau teguhmu itu udah level “A”, tak peduli apakah nanti “tumbang” di jalan atau sampai pada tujuan, yang ada dalam kepalamu cuma satu: “Aku mau berjuang!”

  • Oleh Agung Hyt

    SEBETULNYA awak tak terlalu senang disebut penulis. Sebab, hari-hari ini, menulis itu dilekatkan pada suatu pekerjaan mengkhayal dan bersendu-sendu soal hidup.

    Jadi, kalau bolehlah memilih, awak lebih senang disebut “pemelajar” atau “pemikir.” Sementara menulis itu hanya medium untuk menyimpan buah dari belajar dan berpikir tadi, agar buah pikiran itu berumur panjang.

    Sebab itu, menulis bagiku bukan suatu cita-cita, bukan suatu tujuan, bukan juga suatu yang istimewa. Bagiku menulis hanyalah media saja.

    Namun, seperti yang orang-orang katakan, menulis itu sendiri adalah suatu pemelajaran, yaitu pemelajaran menata pikiran.

    Sepanjang kita masih berpikir, maka sepanjang itu pulak menulis masih diperlukan buat menyimpan isi pikiran. Singkat kata, menulis adalah pemelajaran seumur hidup.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai