Oleh Agung Hidayat
Sekitar awal 2021 kami berkumpul di Ternate untuk sebuah acara. Dalam satu diskusi orang yang dituakan di sana mengatakan: “Kami ini Melayu. Kami orang Melayu.”
Sebagai yang tumbuh dan besar di Riau, saya terpecut untuk mencari jawaban dari rasa penasaran. Mengapa orang Ternate dan terkadang juga orang Betawi menyebut dirinya Melayu? Apa itu Melayu? Dan bagaimana gugusan pulau Nusantara memakai bahasa yang disebut Melayu-Pasar atau Melayu-Dagang? Apa sebenarnya Melayu itu?
Semunya rasa bangga
Beberapa bulan lalu saya menemukan akun YouTube dan Instagram bernama: “Riau yang Asli.” Akun ini sepertinya berbasis di Kepulauan Riau (Kepri). Konten akun tersebut sesuai dengan namanya —Riau yang Asli— cenderung naif, eksklusif, dan segregasionis. Bagi mereka, Melayu Kepri punya kedudukan istimewa dibanding Melayu di tempat lainnya.
Rasa bangga atas kebesaran kaum dan leluhur di masa lalu bukan sebuah dosa. Malahan, dengan rasa bangga yang mendalam tentang asal-usul itulah, seseorang atau suatu bangsa dapat memacu semangatnya untuk menjadi besar dan terhormat.
Kalau dua akun itu mendasarkan langkahnya pada nilai di atas, tentu, ini akan menjadi sebuah dorongan besar. Sayangnya, bukan “keinginan untuk maju” yang menjadi dasar nilainya, tetapi, kentalnya sikap eksklusif dan primordialisme.
Berkenaan dengan ini, pandangan Buya Hamka tentang alam kemelayuan dalam buku Dari Perbendaharaan Lama, patut untuk direnungkan.Di buku tersebut pada bagian III poin IX, Hamka membahas tentang Alam Melayu dan sejarah Riau.
Semua ini hasil perpaduan
Hamka menekankan kompleksitas sejarah dan identitas kemelayuan itu tidak dapat diabaikan. Ia mengatakan, mencari Melayu Riau yang tulen, Melayu Riau yang sejati, atau yang disebut asli Melayu, payahlah ditemukan. Ini menunjukkan istilah “asli” atau “murni” dalam konteks budaya Melayu bukan istilah yang “sehat”.
Alfred Russel Wallace, seorang naturalis, dalam The Malay Archipelago (Kepulauan Melayu) mengatakan, Kepulauan Melayu bermula di Pulau Nikobar di timur laut ke Pulau Solomon di tenggara, dari Luzon di utara ke Rote di selatan. Wilayah itu oleh Wallace dibagi dalam empat nama: Kepulauan Indo-Malaya, Kepulauan Timor, Kepulauan Maluku, dan Kepulauan Papua, (Thamrin, 2018).
Kemudian, ada beberapa teori tentang asal-usul orang Melayu, pertama, Martin Richards berteori, orang Melayu berasal dari Yunnan dan Taiwan. Berkebalikan dengan pendapat Richards, Dr Stephen Oppenheimer mengatakan, orang Melayu berasal dari Asia Tenggara, bukan dari utara (Yunnan dan Taiwan). Terbaru, Dr Wan Hashim Wan Teh mengatakan, orang Melayu sudah ada di Nusantara sejak 74 ribu tahun lalu, (Thamrin, 2018).
Jadi di mana Melayu paling tua itu? Berbagai teori tidak menyebutkan di Malaysia saja, Palembang saja, Brunei saja, atau Riau saja, tapi orang Melayu adalah mereka yang mendiami Kepulauan Melayu atau Nusantara atau Asia Tenggara atau Paparan Sunda (Sunda Shelf).
Tepatlah, apa yang dikatakan Hamka, identitas kemelayuan merupakan perpaduan berbagai suku bangsa dari seluruh kepulauan dan semenanjung baik Malaka, Johor, Bugis, Minangkabau, Banjar, Bajau, dan bahkan Sulu (Filipina).
Asal-usul di atas bersifat genetik. Sementara itu, Hamka mengatakan, yang disebut orang Melayu pada zaman kebesaran kerajaan-kerajaan Melayu bukan bersifat genealogis (genealogy based) semata, tetapi karena mereka tinggal di bawah naungan panji raja-raja Melayu. Malahan, banyak dari raja-raja itu berasal dari bermacam-macam asal, tetapi dirajakan oleh orang Melayu. Ini semacam Melayu berbasis ikatan kultural (cultural bondage).
Bahkan, tak cuma dari negeri yang dekat, orang-orang Melayu juga bermoyang dari negeri yang jauh. Hamka menyebut ada banyak peranakan Arab, yang telah menyatu dengan bumi Melayu sejak zaman kerajaan Pasai. Mereka datang dari Makkah dan Madinah, dan lebih banyak dari Hadramaut. Mereka menikah dengan penduduk setempat, tak sedikit raja-raja mengawinkan orang-orang Arab itu dengan anak-anak perempuan raja, sehingga keturunannya sering kali menjadi raja-raja Melayu.
Sangat kentara, Tanah Melayu (Bhūmi Mālayu) membuka diri untuk semua asal. Tak hanya orang-orang Arab, ada pula yang disebut Melayu keturunan Keling, yaitu mereka yang berasal dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan. Mereka menetap dan bernaung di Bumi Melayu hingga akhirnya mereka disebut Melayu.
Lalu adakah Melayu asli itu? Saya katakan, mungkin ada, tapi sulit menentukannya, dan saya pikir tidak perlu ditentukan. Bukan kita memelihara pesimistis, tapi mencari “asli” dan “tidak asli” hanya akan menebalkan prasangka sosial. Orang Jepang dan Korea tahu nenek moyang mereka berasal dari Tiongkok, tapi mereka tidak pusingkan dari mana mereka berasal. Mereka fokus pada apa yang ada dan apa yang akan dilakukan untuk pemajuan bangsanya.
Sekali lagi, penegasan perpaduan
Dapat kita pahami, identitas kemelayuan sebenarnya terbentuk dari campuran berbagai suku bangsa yang berinteraksi dan hidup bersama di atas Tanah Melayu (Bhūmi Mālayu). Ini menunjukkan pada kita identitas Melayu bersifat cair, multifaset, dan dinamis. Tidak terikat pada darah atau keturunan semata, tetapi pada ikatan kultural dalam lingkup geografis tertentu dan nilai-nilai kemelayuan yang dijunjung bersama. Inilah yang kita sebut sebagai “Melayu kultural”.
Itulah mengapa sikap eksklusif-primordial seperti yang ditunjukkan oleh akun “Riau yang Asli” bertentangan dengan spirit keterbukaan yang dijelaskan oleh Hamka. Dan, satu hal yang pasti akan kita dapat dari sikap macam itu: Mengikis rasa persaudaraan dan menebalkan prasangka di tengah kehidupan sosial.
Kesadaran untuk tentram dan beradab
Esensi terdalam kebudayaan Melayu adalah keadaban, persaudaraan, dan ketentraman. Keadaban, persaudaraan dan ketentraman itu tidak berhenti pada falsafah, melainkan terejawantah dalam laku hidup dan tutur kata.
Raja Ali Haji berpetuah dalam “Gurindam V”: Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihatlah kepada budi dan bahasa.
Persaudaraan dan ketentraman dalam kehidupan Melayu diilhami oleh budi pekerti —yaitu, sebuah kesadaran untuk menciptakan laku hidup beradab.
Kendati laku hidup Melayu didasarkan pada prinsip-prinsip adab dan ketentraman, namun pantang baginya mengaku paling beradab dan paling tentram.
Hal itu senapas dengan apa yang tercatat dalam naskah “Adat Segala Raja-raja Melayu”:
Adat Raja-raja Melayu itu—Pertama, merendahkan diri, tiada mau membesarkan diri, baik dari segi adab-tertib, bahasa pertuturan, perjalanan, dan kedudukan. Kedua, berlemah lembut tidak berlebih-lebihan, tidak berkurangan. Ketiga, sederhana dalam perlakuan, perbuatan, perkataan, pakaian, dan perjalanannya. Keempat, pandai mengawal kata-kata, penglihatan dan pandangan dari perkara yang keji.
Setiap kita, siapa pun, memanglah tak perlu mengaku sebagai yang paling luhur, karena esensi dari keadaban dan ketentraman adalah kerendahan hati untuk belajar dari yang lain.
Hamka, dalam bukunya itu, seperti hendak mengingatkan kita bahwa nyawa kemelayuan terletak pada kemampuannya untuk merangkul “segala asal-usul” tanpa merasa lebih unggul.
Ruang persaudaraan
Kita harus melepaskan prasangka sosial dan mulai masuk dalam pandangan mendalam tentang identitas kemelayuan. Mengedepankan kesamaan kultur daripada kesamaan genetik. Dan, memang —seperti kata Prof Usman Pelly, antropolog Indonesia— siapa pun dapat menjadi Melayu sepanjang ia mengaku Melayu, tinggal di tanah Melayu, dan menjalankan laku hidup kemelayuan. Saya pikir, pandangan ini sejalan-senapas dengan spirit dunia masa kini yang menekankan keterbukaan.
Identitas Melayu terbentuk dari interaksi dan perpaduan berbagai suku bangsa yang hidup di atas tanah yang disebut Alam Melayu. Sebab itu, klaim “asli” dan “tidak asli” tidak senapas-sejalan dengan historisitas kebudayaan Melayu yang cair, inklusif, dan dinamis.
Kalau sekarang ini ada yang bertanya apa itu Melayu? Melayu adalah “ruang” yang menyatukan berbagai latar belakang dalam ikatan persaudaraan —dari dulu, kini, dan nanti.