• Oleh Agung Hyt

    Memang, bahasa Indonesia tak memiliki standar tutur. Namun, Prof Usman Pelly (1938) seorang antropolog, mencatat: Bahasa Indonesia “lebih sedap” dituturkan dalam dialek dan aksen Medan (mungkin maksudnya seperti dalam Nagabonar). Pendapat itu ia katakan berkaitan dengan historisitas bahasa Indonesia yang tidak dapat dilepaskan dari akarnya: Kemelayuan.

    Mungkin betul, tapi, kupikir, itu harus dikolaborasikan dengan tutur Melayu-Pasar Indonesia timur: di mana kata “tidak”, “sangat”, “sekali”, dan “saya” digunakan secara konsisten. Serta kata “aku” dan “kamu” tetap terdengar bermarwah ketika diucapkan. Kolaborasi ini perlu untuk menciptakan kekuatan berbahasa. Hal ini penting karena tidak ada kekuatan bahasa tanpa eufonik (sedap didengar).

    Tapi, kolaborasi yang dimaksud itu tidak bersifat kaku, karena sebenarnya bahasa Indonesia yang dituturkan dalam dialek dan aksen Aceh, “Sumatera Timur”, “Sumatera Tengah”, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan beberapa lainnya pun memiliki cita rasa yang “sedap” didengar. Ini tercermin ketika kita “mendengar” dan kemudian merindukannya.

    Ringkasnya begini. Kita harus segera meninggalkan bahasa berwatak sinetron. Bahasa yang hambar, kering, dan palsu. Suatu bahasa yang tidak mengundang kerinduan. Suatu bahasa yang bersifat semu —dibuat-buat. Suatu bahasa yang tak memiliki energi untuk membangun percakapan jujur dan mendalam. Yang hari-hari ini memenuhi jagat maya, sebagian kecil wilayah, dan sebagian besar podcast-podcast.

  • Oleh Agung Hyt

    Pernah saya dengar dan saya dapati orang yang patuh pada nilai hidup, dituduh sebagai liberal. Liberal yang dimaksud itu yang maknanya dimiringkan, yaitu watak hidup semau-mau hati.

    Padahal yang dituduh macam-macam itu berjalan di muka kehidupan dengan langkah amat hati-hati: menjaga lidahnya dan disiplin dalam berpikir.

    Pernah saya melihat orang yang dituduh itu dalam kesendiriannya berzikir. Berlama-lama di atas sajadah. Lepas itu, ia membaca buku dan membuat coretan atas apa yang dibacanya. Tapi itu di kesendirian. Saya tidak pernah melihat ia melakukan itu di ruang yang banyak orangnya.

  • Oleh Agung Hyt

    Kita sepakat bahwa dalam mencari ilmu harus banyak bertanya. Tapi, bertanya yang dimaksud tak boleh selalu ditujukan pada yang di luar diri. Pertanyaan itu harus lebih sering diajukan pada diri sendiri, sehingga melahirkan suatu keadaan yang disebut sebagai inner monologue: suatu kemampuan melakukan dialog batin. Atau dalam khazanah Yunani dikenal sebagai gnōthi seautón: mengenal diri sendiri.

    Sebab, pertanyaan jenis pertama mungkin akan memberi kita jawaban instan. Tapi tidak mendidik kemandirian berpikir.

    Sementara pertanyaan jenis kedua akan mendidik kita untuk mencari, menganalisis, dan memperbandingkan satu sumber dengan sumber lainnya untuk sampai pada kesimpulan paling mendalam dan meyakinkan.

    Menurut hemat saya, itulah makna terdalam dari bertanya.

  • Oleh Agung Hyt

    Biarkan anak-anak kita bergerak ke mana pun. Dorong mereka “pergi” meninggalkan kampung. Kalau ia mati di perjalanan —itu jalannya. Kalau ia tumbuh di perjalanan —itu jalannya. Moverse o muerte!

  • Oleh Agung Hyt

    Orang muda harus mampu diajak bicara apa pun. Mulai dari yang paling praktis, sampai yang filosofis. Mulai dari yang empiris, sampai yang transenden.

    Tapi, selain daripada itu, hal yang amat penting buat direnungi dan diubah, orang muda harus membuang jauh-jauh penyakit yang melekat dalam dirinya: liar dan grasah-grusuh.

    Liar seperti babi. Grasah-grusuh seperti bebek. Satu penyakit yang membuat kaum tua menjulukinya: naif.

  • Oleh Agung Hyt

    Pidatolah secara wajar. Bicaralah secara wajar. Di mana pun. Hindari intonasi atraktif-teatrikal. Hindari bersendu-sendu. Hindari penekanan yang tidak perlu. Lakukan secara orisinal dan datar.

    Tak perlu ikuti anjuran semu public speaking. Kursus public speaking itu pendidikan membual, tidak kurang tidak lebih.

    Bicara tak perlu seni. Bicara perlu kejujuran. Bicara harus mengandung keaslian. Bicara harus berfondasikan pengetahuan. Pada orisinalitas dan kejujuran ada kekuatan dahsyat yang tidak terdapat dalam ekspresi teatrikal.

  • Oleh Agung Hidayat

    Tak boleh berhenti di membaca saja, tapi juga harus diskusi. Tak boleh cuma diskusi saja, tapi juga harus menulis. Tapi membaca itulah pangkal dari semuanya. Inilah pendidikan berpikir itu.

    Tanpa membaca apa mungkin dapat terlibat dalam diskusi dan menulis? Mungkin. Tapi isinya rentan membual. Rentan lancung.

    Selain itu, sering pula orang menyamakan pendidikan berpikir dengan pendidikan teknokratis. Lalu menghadap-hadapkan keduanya seakan salah satunya lebih penting. Lebih unggul. Apa memang begitu? Tentu tidak.

    Pandangan berbahaya macam itu tak perlu dipertimbangkan. Harus dibuang jauh-jauh. Malahan, kita ini harus menjadi manusia utuh, yang memiliki kecakapan berpikir di satu sisi, dan kecakapan teknis di sisi lain.

  • Oleh Sukarno

    Suatu hari saya berbicara di dunia pikiran tentang kehidupan saya.

    Ketika masih muda saya kehilangan setiap kesenangan dalam kehidupan material. Saya tidur di atas dipan bambu. Tidak ada lampu listrik di rumah saya. Saya membaca dalam terang dari lampu minyak tanah kecil.

    Tapi kemudian saya meninggalkan dunia ini, dunia material ini. Dan saya mencari penghiburan saya dalam buku-buku. Saya meninggalkan dunia material ini dan pergi ke dunia pikiran.

    Dan di dunia pikiran itu, saya bertemu dengan banyak orang besar. Saya bertemu dengan Dante, Mazzini, Marx, Engels, dengan Rosa Luxembourg, Liebknecht, Gladstone, dan saya bertemu Hitler.

    Ya, saya bertemu dengan Hitler. Saya membaca Mein Kampf tiga kali. Tetapi saya juga membaca Konrad Adenauer.

    Saya membaca pemimpin revolusi Prancis: Mirbeau, Marat, Danton.

    Ini yang saya maksud di dunia pikiran. Saya bertemu dan saya berbicara dengan Plekanov. Saya berbicara dengan Lenin. Saya berbicara dengan Sun Yat-Sen dari Cina. Saya berbicara dengan para pemimpin Jepang baru, dengan Okuma, dengan Saigo Takamori. Saya bertemu dengan seorang nasionalis besar dari Filipina, Rizal.

    Dari mereka saya mendapat ide, dan semua ide itu saya masukkan ke dalam “great jack” dan saya menggulung ide-ide itu, lalu saya sampai pada ide saya sendiri: Pancasila. Dan kemudian (Pancasila) jadi lima jimat Revolusi Indonesia.

    Sumber:

    Disarikan dari wawancara Sukarno dengan Wartawan Asing. https://youtu.be/qjQhG3rvJBM?si=QfeUs-SsV5PgbpQH. Diakses pada 20 Januari 2024.

  • Oleh Agung Hidayat

    Saya tidak akan mengambil kesimpulan tentang seseorang sebelum terpenuhi tiga syarat: Pertama, bersama dalam perjalanan jauh. Atau bersama dalam waktu cukup lama di suatu tempat. Kedua, ketika bermuamalah. Ketiga, ketika diberi kepercayaan.

    Meskipun tiga syarat itu terpenuhi kesimpulan tidak akan langsung saya ambil. Saya mengedepankan sikap kontekstual. Tidak ada tindakan tanpa alasan.

    Jika akhirnya saya mendapatkan kesimpulan tidak akan saya ucapkan dengan mulut lamis ke mana-mana. Saya menghormati hak kehormatan setiap manusia.

  • Hari-hari ini, bahasa tutur Indonesia semakin kering, hambar, dan tak sedap didengar.

    Kata-kata diucapkan sekenanya, tanpa nyawa, tanpa ruh. Sehingga bahasa Indonesia kehilangan kekuatan untuk membangun percakapan mendalam.

    Mengapa ini bisa terjadi? Apa karena bahasa Indonesia tidak memiliki standar bahasa lisan? Atau karena propaganda bahwa bahasa Indonesia harus praktis sudah terlalu Jauh dilakukan? Siapa tersangka utamanya?

    Padahal, peribahasa Melayu menyatakan, “Bahasa menunjukkan bangsa”. Di dalam Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji mengungkapkan, “Jika hendak mengenal orang yang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa”.

    Menurut Saudara, di mana kehidupan dengan bahasa tutur terburuk? Buruk dalam arti tidak bercita rasa; hambar, kering, tidak mengandung nilai sastrawi, nilai keberanian, dan nilai kejujuran. Suatu bahasa tutur yang dapat menjadi racun bagi jiwa.

    Bahasa tutur racun tidak hanya merugikan kehormatan individu atau suatu kelompok, tapi dalam jangka panjang akan mengakar menjadi budaya. Dan, tentu ini berbahaya bagi kesehatan kepribadian bangsa.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai