Oleh Agung Hyt
Biarkan anak-anak kita bergerak ke mana pun. Dorong mereka “pergi” meninggalkan kampung. Kalau ia mati di perjalanan —itu jalannya. Kalau ia tumbuh di perjalanan —itu jalannya. Moverse o muerte!
Oleh Agung Hyt
Biarkan anak-anak kita bergerak ke mana pun. Dorong mereka “pergi” meninggalkan kampung. Kalau ia mati di perjalanan —itu jalannya. Kalau ia tumbuh di perjalanan —itu jalannya. Moverse o muerte!
Oleh Agung Hyt
Orang muda harus mampu diajak bicara apa pun. Mulai dari yang paling praktis, sampai yang filosofis. Mulai dari yang empiris, sampai yang transenden.
Tapi, selain daripada itu, hal yang amat penting buat direnungi dan diubah, orang muda harus membuang jauh-jauh penyakit yang melekat dalam dirinya: liar dan grasah-grusuh.
Liar seperti babi. Grasah-grusuh seperti bebek. Satu penyakit yang membuat kaum tua menjulukinya: naif.
Oleh Agung Hyt
Pidatolah secara wajar. Bicaralah secara wajar. Di mana pun. Hindari intonasi atraktif-teatrikal. Hindari bersendu-sendu. Hindari penekanan yang tidak perlu. Lakukan secara orisinal dan datar.
Tak perlu ikuti anjuran semu public speaking. Kursus public speaking itu pendidikan membual, tidak kurang tidak lebih.
Bicara tak perlu seni. Bicara perlu kejujuran. Bicara harus mengandung keaslian. Bicara harus berfondasikan pengetahuan. Pada orisinalitas dan kejujuran ada kekuatan dahsyat yang tidak terdapat dalam ekspresi teatrikal.
Oleh Agung Hidayat
Tak boleh berhenti di membaca saja, tapi juga harus diskusi. Tak boleh cuma diskusi saja, tapi juga harus menulis. Tapi membaca itulah pangkal dari semuanya. Inilah pendidikan berpikir itu.
Tanpa membaca apa mungkin dapat terlibat dalam diskusi dan menulis? Mungkin. Tapi isinya rentan membual. Rentan lancung.
Selain itu, sering pula orang menyamakan pendidikan berpikir dengan pendidikan teknokratis. Lalu menghadap-hadapkan keduanya seakan salah satunya lebih penting. Lebih unggul. Apa memang begitu? Tentu tidak.
Pandangan berbahaya macam itu tak perlu dipertimbangkan. Harus dibuang jauh-jauh. Malahan, kita ini harus menjadi manusia utuh, yang memiliki kecakapan berpikir di satu sisi, dan kecakapan teknis di sisi lain.
Oleh Sukarno
Suatu hari saya berbicara di dunia pikiran tentang kehidupan saya.
Ketika masih muda saya kehilangan setiap kesenangan dalam kehidupan material. Saya tidur di atas dipan bambu. Tidak ada lampu listrik di rumah saya. Saya membaca dalam terang dari lampu minyak tanah kecil.
Tapi kemudian saya meninggalkan dunia ini, dunia material ini. Dan saya mencari penghiburan saya dalam buku-buku. Saya meninggalkan dunia material ini dan pergi ke dunia pikiran.
Dan di dunia pikiran itu, saya bertemu dengan banyak orang besar. Saya bertemu dengan Dante, Mazzini, Marx, Engels, dengan Rosa Luxembourg, Liebknecht, Gladstone, dan saya bertemu Hitler.
Ya, saya bertemu dengan Hitler. Saya membaca Mein Kampf tiga kali. Tetapi saya juga membaca Konrad Adenauer.
Saya membaca pemimpin revolusi Prancis: Mirbeau, Marat, Danton.
Ini yang saya maksud di dunia pikiran. Saya bertemu dan saya berbicara dengan Plekanov. Saya berbicara dengan Lenin. Saya berbicara dengan Sun Yat-Sen dari Cina. Saya berbicara dengan para pemimpin Jepang baru, dengan Okuma, dengan Saigo Takamori. Saya bertemu dengan seorang nasionalis besar dari Filipina, Rizal.
Dari mereka saya mendapat ide, dan semua ide itu saya masukkan ke dalam “great jack” dan saya menggulung ide-ide itu, lalu saya sampai pada ide saya sendiri: Pancasila. Dan kemudian (Pancasila) jadi lima jimat Revolusi Indonesia.
Sumber:
Disarikan dari wawancara Sukarno dengan Wartawan Asing. https://youtu.be/qjQhG3rvJBM?si=QfeUs-SsV5PgbpQH. Diakses pada 20 Januari 2024.
Oleh Agung Hidayat
Saya tidak akan mengambil kesimpulan tentang seseorang sebelum terpenuhi tiga syarat: Pertama, bersama dalam perjalanan jauh. Atau bersama dalam waktu cukup lama di suatu tempat. Kedua, ketika bermuamalah. Ketiga, ketika diberi kepercayaan.
Meskipun tiga syarat itu terpenuhi kesimpulan tidak akan langsung saya ambil. Saya mengedepankan sikap kontekstual. Tidak ada tindakan tanpa alasan.
Jika akhirnya saya mendapatkan kesimpulan tidak akan saya ucapkan dengan mulut lamis ke mana-mana. Saya menghormati hak kehormatan setiap manusia.
Hari-hari ini, bahasa tutur Indonesia semakin kering, hambar, dan tak sedap didengar.
Kata-kata diucapkan sekenanya, tanpa nyawa, tanpa ruh. Sehingga bahasa Indonesia kehilangan kekuatan untuk membangun percakapan mendalam.
Mengapa ini bisa terjadi? Apa karena bahasa Indonesia tidak memiliki standar bahasa lisan? Atau karena propaganda bahwa bahasa Indonesia harus praktis sudah terlalu Jauh dilakukan? Siapa tersangka utamanya?
Padahal, peribahasa Melayu menyatakan, “Bahasa menunjukkan bangsa”. Di dalam Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji mengungkapkan, “Jika hendak mengenal orang yang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa”.
Menurut Saudara, di mana kehidupan dengan bahasa tutur terburuk? Buruk dalam arti tidak bercita rasa; hambar, kering, tidak mengandung nilai sastrawi, nilai keberanian, dan nilai kejujuran. Suatu bahasa tutur yang dapat menjadi racun bagi jiwa.
Bahasa tutur racun tidak hanya merugikan kehormatan individu atau suatu kelompok, tapi dalam jangka panjang akan mengakar menjadi budaya. Dan, tentu ini berbahaya bagi kesehatan kepribadian bangsa.
Oleh Agung Hidayat
Sejak kecil aku terbiasa mengakrabi Gereja. Setidaknya ada 4 Gereja tempat kami sering bermain waktu kecil dulu. Mulai dari “Gereja Kayu” di Tenda Biru. “Gereja Kayu” di Kampung Kristen. Gereja Oikoumene di Inti Satu. Dan, Gereja HKBP Lubuk Dalam. Yang terakhir ini adalah tempat di mana aku sering nemani kawanku untuk ibadah muda/mudi di malam Minggu (sebagai siasat agar setelah itu kami dapat pergi bermain).
Rumahku pernah hanya berjarak tembok dengan Kampung Kristen. Di sana kami bermain sambil melihat babi ternak yang gempal dan besar.
Saat itu aku berhadap-hadapan dengan realitas.
Belasan tahun kemudian, kupikir-pikir lagi, apa yang kulalui dulu adalah sebuah khazanah berkehidupan.
Sebuah masa yang sangat berarti dan memengaruhi pandanganku ketika berhadapan dengan pandangan-pandangan yang ada hari ini.
Singkatnya, kendati pada satu sisi kami mempunyai keyakinan tentang apa yang ideal, namun pada sisi lain kami memegang sikap hidup kontekstual.
Oleh Agung Hyt
Kelak dalam ruang berdinding buku-buku
Dalam senandung revolusioner: hasta siempre comandante!
Suatu energi mengerek gairah dan membawa kita ke alam romantisme
Cinta menyala terang di antara tubuh
mata menggeridip oleh peluh-peluh
***
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Hasrat berbisik:
tiada kenikmatan selain tubuh bertemu tubuh
Cinta menyangkal:
tiada nikmat tanpa Pemberi Nikmat
Maka dua tubuh tanpa busana
tak lagi tergesa menuju puncak semu,
melainkan beranjak perlahan
menuju kenikmatan hakiki
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Lā ilāha illa l-Lāh
by Agung Hidayat
Saya senang, sahabat yang saya cintai dengan sepenuh hati itu kini telah menemukan permatanya.
Sekaligus saya bersedih, karena itu artinya akan sukar untuk mendapatkan waktu lagi buat kami bertukar pikiran, atau sekadar bergurau tentang gilanya kehidupan. Tetapi tak mengapa, jika kehilangan itu sebagai jalan untuknya merengkuh kebahagiaan dalam kerangka iman, saya merelakannya.
Kini biarlah saya melanjutkan dan menuntaskan perjalanan ini, sembari di setiap langkah, saya langitkan doa-doa kebaikan: semoga tuhan selalu turunkan balahikmah manakala kalian goyah —agar cinta kalian menyala tanpa ujung tanpa batas waktu.
—–
Selamat, Rivaldi dan Nuri, menjadi satu sejak 21 Mei 2022.