• Hari-hari ini, bahasa tutur Indonesia semakin kering, hambar, dan tak sedap didengar.

    Kata-kata diucapkan sekenanya, tanpa nyawa, tanpa ruh. Sehingga bahasa Indonesia kehilangan kekuatan untuk membangun percakapan mendalam.

    Mengapa ini bisa terjadi? Apa karena bahasa Indonesia tidak memiliki standar bahasa lisan? Atau karena propaganda bahwa bahasa Indonesia harus praktis sudah terlalu Jauh dilakukan? Siapa tersangka utamanya?

    Padahal, peribahasa Melayu menyatakan, “Bahasa menunjukkan bangsa”. Di dalam Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji mengungkapkan, “Jika hendak mengenal orang yang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa”.

    Menurut Saudara, di mana kehidupan dengan bahasa tutur terburuk? Buruk dalam arti tidak bercita rasa; hambar, kering, tidak mengandung nilai sastrawi, nilai keberanian, dan nilai kejujuran. Suatu bahasa tutur yang dapat menjadi racun bagi jiwa.

    Bahasa tutur racun tidak hanya merugikan kehormatan individu atau suatu kelompok, tapi dalam jangka panjang akan mengakar menjadi budaya. Dan, tentu ini berbahaya bagi kesehatan kepribadian bangsa.

  • Oleh Agung Hidayat

    Sejak kecil aku terbiasa mengakrabi Gereja. Setidaknya ada 4 Gereja tempat kami sering bermain waktu kecil dulu. Mulai dari “Gereja Kayu” di Tenda Biru. “Gereja Kayu” di Kampung Kristen. Gereja Oikoumene di Inti Satu. Dan, Gereja HKBP Lubuk Dalam. Yang terakhir ini adalah tempat di mana aku sering nemani kawanku untuk ibadah muda/mudi di malam Minggu (sebagai siasat agar setelah itu kami dapat pergi bermain).

    Rumahku pernah hanya berjarak tembok dengan Kampung Kristen. Di sana kami bermain sambil melihat babi ternak yang gempal dan besar.

    Saat itu aku berhadap-hadapan dengan realitas.

    Belasan tahun kemudian, kupikir-pikir lagi, apa yang kulalui dulu adalah sebuah khazanah berkehidupan.

    Sebuah masa yang sangat berarti dan memengaruhi pandanganku ketika berhadapan dengan pandangan-pandangan yang ada hari ini.

    Singkatnya, kendati pada satu sisi kami mempunyai keyakinan tentang apa yang ideal, namun pada sisi lain kami memegang sikap hidup kontekstual.

  • Oleh Agung Hyt

    Kelak dalam ruang berdinding buku-buku

    Dalam senandung revolusioner: hasta siempre comandante!

    Suatu energi mengerek gairah dan membawa kita ke alam romantisme

    Cinta menyala terang di antara tubuh

    mata menggeridip oleh peluh-peluh

    ***

    Allahu Akbar… Allahu Akbar

    Hasrat berbisik:
    tiada kenikmatan selain tubuh bertemu tubuh

    Cinta menyangkal:
    tiada nikmat tanpa Pemberi Nikmat

    Maka dua tubuh tanpa busana
    tak lagi tergesa menuju puncak semu,
    melainkan beranjak perlahan
    menuju kenikmatan hakiki

    Allahu Akbar… Allahu Akbar
    Lā ilāha illa l-Lāh

  • by Agung Hidayat

    Saya senang, sahabat yang saya cintai dengan sepenuh hati itu kini telah menemukan permatanya.

    Sekaligus saya bersedih, karena itu artinya akan sukar untuk mendapatkan waktu lagi buat kami bertukar pikiran, atau sekadar bergurau tentang gilanya kehidupan. Tetapi tak mengapa, jika kehilangan itu sebagai jalan untuknya merengkuh kebahagiaan dalam kerangka iman, saya merelakannya.

    Kini biarlah saya melanjutkan dan menuntaskan perjalanan ini, sembari di setiap langkah, saya langitkan doa-doa kebaikan: semoga tuhan selalu turunkan balahikmah manakala kalian goyah —agar cinta kalian menyala tanpa ujung tanpa batas waktu.

    —–

    Selamat, Rivaldi dan Nuri, menjadi satu sejak 21 Mei 2022.

  • Tentang Menjadi Diri Sendiri

    “Menjadi diri sendiri” adalah satu kalimat yang sering kita dengar, baik dari para motivator ataupun dari orang biasa.

    Kalimat itu memberikan energi pada kita, sekaligus tidak jarang menjadi racun bagi kehidupan yang sehat. Betapa tidak, keinginan untuk tidak terikat pada apa pun tak jarang lahir karena dorongan binatangisme daripada karena pertimbangan akal yang seimbang.

    Oleh karena itu mari kita coba luruskan paradigma ini.

    “Kita harus menjadi diri sendiri,” kalimat ini benar. Semua orang yang menganut prinsip kemandirian akan sepakat dengan ini.

    Namun, “kita harus menjadi diri sendiri” yang dimaksud bukan dalam arti permisif. Sebab jika ingin bertindak semau-hati maknanya sama dengan menghina fungsi akal.

    Akal adalah alat pertimbangan untuk mengendalikan sifat kebinatangan.

    Maka pengertian “menjadi diri sendiri” yang tepat adalah “kita tidak akan tunduk pada apa pun yang bertentangan dengan akal-kewarasan.”

  • Makna Hikmati

    Oleh: Agum Hyt

    Sebelum kita menuntut orang lain mencintai kita, kita mesti mengkaji diri dulu, apakah kita layak dicintai? Apakah kita pantas dikasihi? Benar, bahwa cahaya cinta itu universal tanpa sekat, tapi, menuntut dicintai tanpa usaha memantaskan diri adalah satu bentuk keangkuhan hati. Hal ini senada dengan perkataan seorang ateis radikal: Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi paling besar (Nietzsche, 2018: 118).

    Saya kutip pernyataan tersebut untuk menarik satu kebijaksanaan kecil. Seorang ateis yang telah “membunuh tuhan” menyadari secara baik nilai-nilai kepantasan.

    Ketika dalam mengkaji diri itu kita menemukan kekurangan diri di sana sini, maka jalan yang paling bijaksana adalah menerima. Menerima serta rela tidak dicintai oleh siapa pun. Tidak menuntut orang lain mencintai dan memberi perhatiannya kepada kita.

    Cukuplah kita berserah-diri kepada Yang Maha Pencinta.

    Lā hawla wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi.

  • meniadakan kata

    Oleh: Agung Hyt

    Seorang komunis dari Portugal pernah mengatakan: Kata-kata yang berasal dari hati tidak pernah terucap, ia tertahan di tenggorokan dan hanya bisa dibaca pada mata seseorang.

    Mengapa mata?

    Kalau tidak silap, jawabannya tedapat dalam perkataan seorang sufi dari Persia: Orang yang tak mampu membaca kedua matamu, tak akan mampu mendengar kata hatimu.

    Ada yang mengatakan bahwa cinta itu irrasional, ia tidak memerlukan alasan apa pun kecuali keberserahan diri secara utuh pada yang dicinta. Ada pula yang meyakini bahwa cinta yang luhur harus masuk melalui pintu akal dan harus berada dalam kontrol akal.

    Kita tidak mencoba masuk ke dalam perdebatan tersebut. Namun, kita hendak menggelar satu pemahaman lain yaitu, “Cinta harus mampu dijelaskan secara masuk akal dan meniadakan kata-kata adalah penjelasan paling masuk akal dalam mencinta.”

  • Teduh VII

    Oleh Agung Hyt

    Hidup dalam susuan induk semang membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lamban dan rapuh.

    Ia tak pernah merasa-i lidah matahari menjilati pipi, merahnya bara membakar kaki, tak pernah menempuh rangkaian panjang perjalanan. Sehingga daya pandangnya terbatas pada yang tampak saja. Mudah kagum pada yang melankolis, pada yang merdu, pada yang romantis, pada yang semu.

    Dengan mudah ia tahu tengah senang pada siapa, tapi ia tak tahu siapa yang tengah menyenanginya dengan kepayahan. Ia memesona dan lembut hati, sekaligus naif dan bodoh.

  • Petuah Dari Yunani

    Oleh: AgungHyt

    Dalam seribu dialog, kita tidak mungkin luput dari sikap melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi fakta, dengan kadar sedikit maupun banyak. Perkataan spontan sering lepas dari kontrol alam sadar. Secara sederhana kita menyebutnya: khilaf.

    Jika ini yang terjadi, tak apa. Tak perlu dipusingkan. Itu manusiawi, itu dapat dimaklumi.

    Lagi pula, Rumi dalam Matsnawi-nya mencatat, yang kurang lebih begini: “Selalu ada kadar kebaikan dalam keburukan. Selalu ada kadar keburukan dalam kebaikan.”

    Yang tidak boleh adalah perilaku melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi itu mengakar dan menjadi watak yang melekat pada diri. Sehingga kita tidak menyadari, atau bahkan secara ekstrem menolak menyadari.

    Karena itu, setiap waktu dalam sehari kita tak boleh lepas dari mengkaji diri. Membuka dan mengupas kemungkinan-kemungkinan kekeliruan yang dibuat.

    Dalam Apologia, melalui Plato, Socrates menegaskan: “Hidup yang tidak direnungi dalam refleksi bukanlah hidup yang manusiawi.”

  • Teduh VI

    Siapa yang menenggelamkan diri pada laut, untuk merengkuh engkau di daratan?

    Siapa yang meneduh di bawah awan, melambaikan tangan pada langit yang berhasrat menyentuh bibir laut?

    Seorang penyair berkata: Jika ada yang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.

    Ah, tak seharusnya kita percaya pada penyair.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai