Oleh: AgungHyt
Mendadak Kepala Adat mengumpulkan semua pegawai desa I-lus-i. Dengan suara lembut diiringi nyengir tipis, Kepala Adat menyilakan Sang Istri tercinta untuk duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu mahoni untuk menyampaikan sesuatu.
“Sodara-sodara, harap semuanya tenang dan simak baik-baik,” kata Kepala Adat sebagai pimpinan tertinggi di desa I-lus-i.
Setelah semua hening, Kepala Adat menyilakan Sang Istri untuk bicara.
“Sudah tiga hari saya mengalami sulit tidur.” Ucap Sang Istri Kepala Adat membuka bicaranya. Lalu dia terdiam. Seperti sedang memikirkan suatu hal.
Para pegawai kebingungan, tidak memahami maksud dari perkataan Sang Istri Kepala Adat. Apa hubungannya persoalan sulit tidur dengan urusan mengatur desa.
Sang Istri melanjutkan. “Begini. Selama tiga hari ini saya memikirkan satu gagasan. Mengapa kita harus memasak makanan dengan menggunakan minyak goreng, kalau dengan air saja bisa. Air di desa kita melimpah. Lagian, bukankah menurut anu mengkonsumsi makanan yang serba digoreng itu berbahaya dan bukankah menurut anu makanan yang direbus dan dikukus itu menyehatkan tubuh? Tapi maksud inti dari gagasan saya itu begini. Semua Ibu Rumah Tangga, pedagang di Pasar, dan semua masyarakat yang berjualan dengan memanfaatkan minyak goreng kita ubah aturan mainnya: Membuat bakwan, molen, keripik, kerupuk, pecal lele, dan semua jenis memasak makanan di desa ini harus diproses dengan cara dikukus dan direbus. Tapi, ini hanya caranya saja, nanti penyebutannya tetap ‘menggoreng’ meskipun proses memasaknya dengan cara dikukus dan direbus. Jadi singkatnya, menggoreng molen dan bakwan melalui metode kukus dan rebus.
Bagaimana?” Tanya Sang Istri Kepala Adat kepada para hadirin.
Semua pegawai yang hadir tampak kebingungan.
Tiba-tiba seorang laki-laki gempal memecah suasana kikuk tersebut, “Mantappp, Bu Kadat!” Teriaknya. “Ini ide yang sangat cemerlang!” Pujinya.
Semua orang di ruangan tersebut tertuju kepada Si Laki-laki Gempal. Sang Istri Kepala Adat nyengir kesenangan. Para pegawai yang lainnya masih berwajah bingung.
Si Laki-laki Gempal melanjutkan bicaranya.
“Ini gagasan cemerlang. Sangat inovatif: Menggoreng bakwan dan molen melalui metode kukus dan rebus. Selama ini kita tidak pernah memikirkan gagasan keren ini. Melampaui pikiran siapa pun. Padahal gagasan ini berangkat dari hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Ditambah lagi beliau tidak ingin kita bergantung kepada minyak goreng karena menurut anu minyak goreng mengancam kesehatan tubuh. Bukankah ini bentuk kasih sayang dari seorang istri Kepala Adat kepada masyarakatnya?
Tapi… Apakah masyarakat akan menerima perubahan keren ini?” Tanya laki-laki gempal menutup bicaranya.
Kepala Adat yang sejak tadi diam langsung berkata “Ah, tentang, bisa diatur itu!”
Sang Istri tersenyum lebar. Si Laki-laki Gempal tertiwi kecil. Sementara itu, para hadirin lainnya dari seperangkat pegawai desa I-lus-i masih diselimuti kebingungan.