• Oleh Agung Hyt

    Kelak dalam ruang berdinding buku-buku

    Dalam senandung revolusioner: hasta siempre comandante!

    Suatu energi mengerek gairah dan membawa kita ke alam romantisme

    Cinta menyala terang di antara tubuh

    mata menggeridip oleh peluh-peluh

    ***

    Allahu Akbar… Allahu Akbar

    Hasrat berbisik:
    tiada kenikmatan selain tubuh bertemu tubuh

    Cinta menyangkal:
    tiada nikmat tanpa Pemberi Nikmat

    Maka dua tubuh tanpa busana
    tak lagi tergesa menuju puncak semu,
    melainkan beranjak perlahan
    menuju kenikmatan hakiki

    Allahu Akbar… Allahu Akbar
    Lā ilāha illa l-Lāh

  • by Agung Hidayat

    Saya senang, sahabat yang saya cintai dengan sepenuh hati itu kini telah menemukan permatanya.

    Sekaligus saya bersedih, karena itu artinya akan sukar untuk mendapatkan waktu lagi buat kami bertukar pikiran, atau sekadar bergurau tentang gilanya kehidupan. Tetapi tak mengapa, jika kehilangan itu sebagai jalan untuknya merengkuh kebahagiaan dalam kerangka iman, saya merelakannya.

    Kini biarlah saya melanjutkan dan menuntaskan perjalanan ini, sembari di setiap langkah, saya langitkan doa-doa kebaikan: semoga tuhan selalu turunkan balahikmah manakala kalian goyah —agar cinta kalian menyala tanpa ujung tanpa batas waktu.

    —–

    Selamat, Rivaldi dan Nuri, menjadi satu sejak 21 Mei 2022.

  • Tentang Menjadi Diri Sendiri

    “Menjadi diri sendiri” adalah satu kalimat yang sering kita dengar, baik dari para motivator ataupun dari orang biasa.

    Kalimat itu memberikan energi pada kita, sekaligus tidak jarang menjadi racun bagi kehidupan yang sehat. Betapa tidak, keinginan untuk tidak terikat pada apa pun tak jarang lahir karena dorongan binatangisme daripada karena pertimbangan akal yang seimbang.

    Oleh karena itu mari kita coba luruskan paradigma ini.

    “Kita harus menjadi diri sendiri,” kalimat ini benar. Semua orang yang menganut prinsip kemandirian akan sepakat dengan ini.

    Namun, “kita harus menjadi diri sendiri” yang dimaksud bukan dalam arti permisif. Sebab jika ingin bertindak semau-hati maknanya sama dengan menghina fungsi akal.

    Akal adalah alat pertimbangan untuk mengendalikan sifat kebinatangan.

    Maka pengertian “menjadi diri sendiri” yang tepat adalah “kita tidak akan tunduk pada apa pun yang bertentangan dengan akal-kewarasan.”

  • Makna Hikmati

    Oleh: Agum Hyt

    Sebelum kita menuntut orang lain mencintai kita, kita mesti mengkaji diri dulu, apakah kita layak dicintai? Apakah kita pantas dikasihi? Benar, bahwa cahaya cinta itu universal tanpa sekat, tapi, menuntut dicintai tanpa usaha memantaskan diri adalah satu bentuk keangkuhan hati. Hal ini senada dengan perkataan seorang ateis radikal: Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi paling besar (Nietzsche, 2018: 118).

    Saya kutip pernyataan tersebut untuk menarik satu kebijaksanaan kecil. Seorang ateis yang telah “membunuh tuhan” menyadari secara baik nilai-nilai kepantasan.

    Ketika dalam mengkaji diri itu kita menemukan kekurangan diri di sana sini, maka jalan yang paling bijaksana adalah menerima. Menerima serta rela tidak dicintai oleh siapa pun. Tidak menuntut orang lain mencintai dan memberi perhatiannya kepada kita.

    Cukuplah kita berserah-diri kepada Yang Maha Pencinta.

    Lā hawla wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi.

  • meniadakan kata

    Oleh: Agung Hyt

    Seorang komunis dari Portugal pernah mengatakan: Kata-kata yang berasal dari hati tidak pernah terucap, ia tertahan di tenggorokan dan hanya bisa dibaca pada mata seseorang.

    Mengapa mata?

    Kalau tidak silap, jawabannya tedapat dalam perkataan seorang sufi dari Persia: Orang yang tak mampu membaca kedua matamu, tak akan mampu mendengar kata hatimu.

    Ada yang mengatakan bahwa cinta itu irrasional, ia tidak memerlukan alasan apa pun kecuali keberserahan diri secara utuh pada yang dicinta. Ada pula yang meyakini bahwa cinta yang luhur harus masuk melalui pintu akal dan harus berada dalam kontrol akal.

    Kita tidak mencoba masuk ke dalam perdebatan tersebut. Namun, kita hendak menggelar satu pemahaman lain yaitu, “Cinta harus mampu dijelaskan secara masuk akal dan meniadakan kata-kata adalah penjelasan paling masuk akal dalam mencinta.”

  • Teduh VII

    Oleh Agung Hyt

    Hidup dalam susuan induk semang membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lamban dan rapuh.

    Ia tak pernah merasa-i lidah matahari menjilati pipi, merahnya bara membakar kaki, tak pernah menempuh rangkaian panjang perjalanan. Sehingga daya pandangnya terbatas pada yang tampak saja. Mudah kagum pada yang melankolis, pada yang merdu, pada yang romantis, pada yang semu.

    Dengan mudah ia tahu tengah senang pada siapa, tapi ia tak tahu siapa yang tengah menyenanginya dengan kepayahan. Ia memesona dan lembut hati, sekaligus naif dan bodoh.

  • Petuah Dari Yunani

    Oleh: AgungHyt

    Dalam seribu dialog, kita tidak mungkin luput dari sikap melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi fakta, dengan kadar sedikit maupun banyak. Perkataan spontan sering lepas dari kontrol alam sadar. Secara sederhana kita menyebutnya: khilaf.

    Jika ini yang terjadi, tak apa. Tak perlu dipusingkan. Itu manusiawi, itu dapat dimaklumi.

    Lagi pula, Rumi dalam Matsnawi-nya mencatat, yang kurang lebih begini: “Selalu ada kadar kebaikan dalam keburukan. Selalu ada kadar keburukan dalam kebaikan.”

    Yang tidak boleh adalah perilaku melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi itu mengakar dan menjadi watak yang melekat pada diri. Sehingga kita tidak menyadari, atau bahkan secara ekstrem menolak menyadari.

    Karena itu, setiap waktu dalam sehari kita tak boleh lepas dari mengkaji diri. Membuka dan mengupas kemungkinan-kemungkinan kekeliruan yang dibuat.

    Dalam Apologia, melalui Plato, Socrates menegaskan: “Hidup yang tidak direnungi dalam refleksi bukanlah hidup yang manusiawi.”

  • Teduh VI

    Siapa yang menenggelamkan diri pada laut, untuk merengkuh engkau di daratan?

    Siapa yang meneduh di bawah awan, melambaikan tangan pada langit yang berhasrat menyentuh bibir laut?

    Seorang penyair berkata: Jika ada yang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.

    Ah, tak seharusnya kita percaya pada penyair.

  • Merebus Bakwan

    Oleh: AgungHyt

    Mendadak Kepala Adat mengumpulkan semua pegawai desa I-lus-i. Dengan suara lembut diiringi nyengir tipis, Kepala Adat menyilakan Sang Istri tercinta untuk duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu mahoni untuk menyampaikan sesuatu.

    “Sodara-sodara, harap semuanya tenang dan simak baik-baik,” kata Kepala Adat sebagai pimpinan tertinggi di desa I-lus-i.

    Setelah semua hening, Kepala Adat menyilakan Sang Istri untuk bicara.

    “Sudah tiga hari saya mengalami sulit tidur.” Ucap Sang Istri Kepala Adat membuka bicaranya. Lalu dia terdiam. Seperti sedang memikirkan suatu hal.

    Para pegawai kebingungan, tidak memahami maksud dari perkataan Sang Istri Kepala Adat. Apa hubungannya persoalan sulit tidur dengan urusan mengatur desa.

    Sang Istri melanjutkan. “Begini. Selama tiga hari ini saya memikirkan satu gagasan. Mengapa kita harus memasak makanan dengan menggunakan minyak goreng, kalau dengan air saja bisa. Air di desa kita melimpah. Lagian, bukankah menurut anu mengkonsumsi makanan yang serba digoreng itu berbahaya dan bukankah menurut anu makanan yang direbus dan dikukus itu menyehatkan tubuh? Tapi maksud inti dari gagasan saya itu begini. Semua Ibu Rumah Tangga, pedagang di Pasar, dan semua masyarakat yang berjualan dengan memanfaatkan minyak goreng kita ubah aturan mainnya: Membuat bakwan, molen, keripik, kerupuk, pecal lele, dan semua jenis memasak makanan di desa ini harus diproses dengan cara dikukus dan direbus. Tapi, ini hanya caranya saja, nanti penyebutannya tetap ‘menggoreng’ meskipun proses memasaknya dengan cara dikukus dan direbus. Jadi singkatnya, menggoreng molen dan bakwan melalui metode kukus dan rebus.

    Bagaimana?” Tanya Sang Istri Kepala Adat kepada para hadirin.

    Semua pegawai yang hadir tampak kebingungan.

    Tiba-tiba seorang laki-laki gempal memecah suasana kikuk tersebut, “Mantappp, Bu Kadat!” Teriaknya. “Ini ide yang sangat cemerlang!” Pujinya.

    Semua orang di ruangan tersebut tertuju kepada Si Laki-laki Gempal. Sang Istri Kepala Adat nyengir kesenangan. Para pegawai yang lainnya masih berwajah bingung.

    Si Laki-laki Gempal melanjutkan bicaranya.

    “Ini gagasan cemerlang. Sangat inovatif: Menggoreng bakwan dan molen melalui metode kukus dan rebus. Selama ini kita tidak pernah memikirkan gagasan keren ini. Melampaui pikiran siapa pun. Padahal gagasan ini berangkat dari hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Ditambah lagi beliau tidak ingin kita bergantung kepada minyak goreng karena menurut anu minyak goreng mengancam kesehatan tubuh. Bukankah ini bentuk kasih sayang dari seorang istri Kepala Adat kepada masyarakatnya?

    Tapi… Apakah masyarakat akan menerima perubahan keren ini?” Tanya laki-laki gempal menutup bicaranya.

    Kepala Adat yang sejak tadi diam langsung berkata “Ah, tentang, bisa diatur itu!”

    Sang Istri tersenyum lebar. Si Laki-laki Gempal tertiwi kecil. Sementara itu, para hadirin lainnya dari seperangkat pegawai desa I-lus-i masih diselimuti kebingungan.

  • Sex dan Cinta

    Oleh: Agung Hyt

    Dia dikenal makhluk paling pakboi di kampung kami. Banyak “hutan” dan “lembah” pernah ditelusuri. Bagaimana tidak, warna kulitnya yang putih kemerahan berpadu dengan karakternya yang dingin dan tidak neko-neko membuat perempuan di kampung kami mengantre untuk menjadi pacarnya. Sekali pun sekadar buat merasai sex-nya.

    Kendati demikian, dia adalah laki-laki yang memegang teguh marwah. Baginya, sex yang baik adalah sex yang tidak naif. Tidak kekanakan. Terukur. Terkendali. Padahal di luar sana, banyak laki-laki murah dan tidak bermarwah: menjual cinta dan alat kelamin ke mana-mana.

    Setiap aku pulang kampung, kami selalu bertemu. Bercerita sepanjang malam soal kehidupan, masa depan, serta tentunya cinta dan sex. Biasanya di saat begini aku merayunya agar ia meninggalkan semua itu.

    Selow aja kau. Pasti ada saatnya itu!” Jawabnya. Seolah-olah dia hendak membahasakan bahwa masih ada cahaya akal pada dirinya.

    Aku tersenyum mengangguk. Pertanda memahami.

    Ketika aku merayunya agar meninggalkan pacaran dan sex apa berarti aku juga melakukan ini kepada semua temanku di kampung. Tentu tidak. Justru sebagian kawanku yang “polos” kurayu agar memiliki pacar dan merasakan kenikmatan sensasinya. Mengapa aku melakukan hal yang berbeda? Jawaban sederhananya: Ini hanya perkara waktu saja. Lebih jauh dari itu, “rayuanku” harus menyentuh konteks dan peta kondisi.

    Aku ingin menegaskan kembali saat aku merayu kawanku untuk meninggalkan pacaran dan sex tidak berarti aku telah merdeka dari cela. Hanya saja aku tidak ingin kita menormalisasi sesuatu yang jelas-jelas keliru. Pacaran dan egoisme cinta itu keliru, namun karena pacaran itu mengandung aspirin yang dapat memuaskan hati, kita membelanya mati-matian.

    Ada baiknya kita menjalani sex dan pacaran itu dengan penuh pengakuan. Tidak perlu berdalih dan berfalsafah seakan-akan hal itu suatu hak dan kebaikan.

    Memang tidak semua pacaran dan membucin pasti dibumbui sex. Tapi, pasti semua pacaran menginginkan dan mendambakan romantisme. Kita pikir apa itu romantisme? Jika sex kita artikan kenikmatan, maka, romantisme adalah sex yang diperhalus belaka. Kenikmatan yang didapat melalui tatapan, suara, pujian, pengaguman, hadiah, dan melalui bahasa yang diam-diam menggairahkan.

    Ringkasnya begini. Fakboy saja paham pacaran dan bucin itu suatu kecilakaan. Suatu kekeliruan. Tapi kita yang dididik oleh nilai-nilai malah mencoba menormalisasi pacaran, bucin, dan sex. Apa tidak gila?

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai