Oleh: Agung Hyt
AKU melihat lelaki tua bertempur mulut di bawah pohon akasia. Aku berjalan mendekat buat menyimaknya. Sejurus kemudian dua lelaki tua itu terdiam dan mulai menatap diriku dengan sinis. Aku memberi isyarat tubuh bahwa aku tidak bermaksud mengganggu perdebatan mereka yang syahdu. Lalu aku duduk dan menyandarkan tubuh ke batang pohon itu—dan mereka melanjutkannya.
“Kau harus mengerti, Freud, gagasanmu itu amat naif!” Ucap salah satu dari mereka. “Kenaifan itu dapat dilihat dari ketidakmampuanmu memilah jenis-jenis cinta. Jika cinta itu selalu didasari oleh seksualitas bagaimana dengan cinta kepada anjing kesayanganmu, kepada ibumu, dan kepada ide-ide abstrak yang tidak memiliki bentuk? Apa yang kau maksud itu tidak lain hanyalah terjadi pada jenis cinta erotis.”
“Kupikir kau salah memahami maksudku, Fromm. Aku tidak sedang membahas cinta seluas itu. Aku membahas cinta dalam realitas yang terjadi pada anak-anak muda sekarang. Singkatnya pengertian cintaku kugali dari praktik cinta kebanyakan manusia modern. Kau bisa mengatakan bahwa cinta bisa tumbuh kepada hewan, kepada orangtua, dan kepada setiap orang yang kau anggap saudara dan teman. Tetapi faktanya, masyarakat lebih senang membicarakan tentang dua orang manusia yang menunggu malam bulan madu daripada membahas gagasan “Cinta Tuhan” yang terkesan berat. Di saat kapitalisme menyeret manusia ke dalam lembah keterasingan dan keterpisahan, kau pikir bagaimana membuat mereka bahagia kecuali menyadarkan mereka bahwa cinta atas dasar libido dan seksualitas adalah jalan menuju puncak kebahagiaan?“
“Dengan cara seperti itu kau hanya akan membuat manusia semakin terasing, Freud. Kebahagiaan yang kau maksud hanyalah bersifat orgiastic—suatu kebahagiaan yang semu. Kalau begini, kalau cinta hanya sekadar buat mendapatkan kebahagiaan orgiastic, jika pada satu titik cinta atas dasar seksualitas itu tidak mampu ia capai; maka pilihan lainnya adalah melarikan diri ke rumah-rumah bordil, alkohol, keluh kesah, dan segala bentuk perilaku rendah.”
“Ini adalah pilihan alternatif, Fromm. Kita tidak tahu kapan kapitalisme akan berhenti menyiksa manusia. Selama dalam periode yang tidak pasti itu kau harus memberi pilihan alternatif kepada manusia agar ia dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan sekali pun itu bersifat semu. Satu hari merasakan bahagia itu lebih baik, Fromm, daripada terasing selamanya.”
Sejurus kemudian, mereka mengakhiri perdebatannya. Kedua lelaki tua itu duduk di antara aku. Sejenak suasana diliputi keheningan, helaan nafas mereka menyamarkan siur angin yang menyelinap di antara daun yang berguguran. Tanpa rencana, lidahku mengeluarkan pertanyaan, “Ia mengetahui segala keburukanku, apakah mungkin ia akan senantiasa mencintaiku?”
Mereka menatapku, lalu lelaki tua yang bernama Fromm tadi menjawab, “Cinta tak dapat lahir dari ketidaktahuan. Semakin besar pengetahuan melekat dalam sesuatu, hanya ada dua kemungkinan, ia akan mencintaimu atau, jika kau tidak beruntung, ia akan membencimu.”
Jawaban si tua Fromm menghujam dadaku. Seharusnya aku tidak usah bertanya apa-apa. Sekarang, aku dibayangi tanda tanya, apakah dia mencintaiku?
Tiba-tiba dari arah depan segerombol burung gereja mendarat di ranting pohon tempat aku bersandar. Kicaunya seakan-akan membawaku ke alam lain. Dalam hitungan detik, aku telah berpindah alam, mataku terbuka, cahaya menembus celah jendela kamarku, burung-burung di luar rumah berkicau nyaring, membangunkanku dari mimpi yang panjang. Lucu sekali, hanya mimpi.
Sejak hari itu, jawaban si lelaki tua Fromm membayangi ke mana pun aku pergi. Ingin rasanya aku membuktikan perkataannya. Tetapi satu-satunya cara adalah dengan menanyakannya langsung kepada Syarifah.
Bagaimana caranya? menatap matanya saja aku tak kuat. Keberanianku mengkerut malu. Apalagi di tubuhnya mengalir darah Hassan Rahimahullah. Sementara darahku sekumpulan keringat para buruh.
Di suatu waktu, di dalam kelas, aku hanya berani melihatnya melalui sudut mataku, pantulan wajah lelahnya, mata teduhnya saat jari jemarinya menulis tugas tanpa lelah.
Ingin rasanya aku bercakap-cakap dengannya saat orang-orang sedang terlelap, lalu menanyakan satu persatu perkara hati yang amat serius.
Perjumpaan kami selalu saja diselimuti kebisuan, padahal begitu ramainya yang mencoba bercakap-cakap dengan dirinya. Aku memilih jalan dingin, seolah-olah tidak memperdulikan keberadannya, sekali pun hanya kami berdua saja di antara meja-meja itu. Ah, betapa pecundangnya aku.
Kadang-kadang aku menerka-nerka alam pikirnya dan mencoba menafsirkan gerak matanya, tetapi yang terbaca kemudian hanyalah pancaran kebencian atas diriku. Selalu saja begitu setiap kali musim tugas datang.
Setiap di pinggiran malam, aku mengadukan semuanya kepada Tuhan pemilik alam. Memohon jalan keluar atas pergolakan hati. Bibirku bergumam; Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, jika dengannya aku dapat menempuh jalan pergerakan ini dan melahirkan anak-anak peradaban, maka permudahlah jalanku menujunya.
Pada suatu malam sehabis aku mengirim pesan kepada Tuhan. Aku berniat buat mengirim pesan singkat kepada Syarifah. Jawabannya amat aku butuhkan, sebelum aku semakin mampus digempur keresahan.
Kukatakan kepadanya:
Salam…
Syarifah, fakta bahwa saya bukan laki-laki yang baik, rasanya tidak asing bagimu. Engkau melihat dan menyaksikan setiap ketidaksempurnaanku, dan bahwa memang demikianlah saya. Maka karena itu tidak perlu rasanya saya menjelaskan berpanjang-panjang kata buat meyakinkanmu.
Atas alasan yang tidak dapat saya jelaskan sepenuhnya, bolehkah saya menikahimu?
**
Hatiku diselimuti gelisah sampai kemudian ia memberi jawaban setelah pesanku teranggur seharian:
Wasallam…
Kenapa kau berani menanyakan sesuatu yang sakral kepada perempuan yang tak pernah kau ajak bicara? Bagaimana mungkin kau tertarik kepadaku? Sementara aku tak pernah tertarik kepada lelaki dingin. Lihatlah betapa kacaunya bahasa permintaanmu. Seperti mawar beku.
Ah, benar saja kata si tua Fromm. Syarifah muak kepadaku. Oh, Chairil, betapa perihnya terkoyak-koyak sunyi.

