• Komunikasi hati

    Oleh: agunghyt

    Dalam aktifitas politik (politik yang dimaknai sebagai keadaan yang terikat pada nilai/tujuan/prinsip) memiliki konsekuensi bahwa segala ekspresi seseorang dianggap sebagai bahasa komunikasi–meski kenyataannya tidak selalu begitu.

    Orang yang sudah terikat dalam keadaan ini akan (seharusnya) berhati-hati dalam setiap geraknya. Sebab, senyumnya yang paling abstrak sekali pun bakal dikaji dan diperhatikan.

    Bahasa simbol yang mengemuka akan dicari perhubungannya untuk menemukan makna dan relevansi yang tersembunyi.

    Misalnya, pada demonstrasi di Thailand dan Myanmar belakangan ini muncul simbol “tiga jari” dan dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap totalitarian.

    Dulu, pada masa-masa kontestasi pilpres 2019 pun muncul simbol-simbol sebagai bahasa komunikasi.

    Dan, hal-hal semacam ini tidak hanya terjadi dalam aktifitas politik pemerintahan saja. Tetapi juga aktivitas politik pertemanan, percintaan, kekeluargaan, dan organisasi.

    Kekeliruan menafsirkan bahasa simbol–baik terlalu dangkal atau terlalu jauh–mengakibatkan kegagalpahaman. Dan bermuara pada kegagalan menentukan langkah.

    Tapi, ya demikian, kadang bahasa simbol yang terlalu bias dapat menipu kita. Akhirnya, lahirlah orang-orang yang merasa dicintai, merasa berpengaruh, merasa punya andil, merasa terbaik, dan segala aktifitas klaim lainnya.

    Bahasa simbol yang muncul dari kejujuran, nurani, dan kejernihan, memiliki pantulan cahayanya sendiri. Suatu pantulan isyarat atas dorongan Campur-Tangan-Tuhan.

    Isyarat yang semacam ini dapat kita sebut sebagai “komunikasi hati”. Keberhasilan komunikasinya sepenuhnya bergantung pada kehendak-Nya. Apabila Allah meridhoi, bagaimana pun kacaunya keadaan, maka ia bakal bertemu juga. Jiwa-jiwa yang sevisi akan berpadu pada akhirnya.

  • Getaran keraguan

    Setelah kutimbang-timbang. Setelah selama sekian purnama kepalaku disesaki tanda tanya. Setelah kulakukan pembacaan dan meneliti sudut jendela barangkali ada kisi-kisi. Akhirnya, aku harus mengakui bahwa ia terasa amat jauh dari jangkauan. Bahkan, hampir mendekati taraf kemustahilan.

    Aku malu kalau semua orang mengetahuinya. Sebab, di saat semua merayu. Aku saja yang memasang mata tak peduli. Namun, di balik itu, ada pertarungan hebat di dalam dada dan pikiranku.

    Jadi, begini saja.

    Bagaimana kalau kali ini aku menjadi seorang yang sepenuhnya skeptis. Meletak keyakinan bahwa jika yang kuinginkan bisa saja bertentangan dengan yang Tuhan inginkan.

    Ada alasan kuat mengapa aku harus mengedepankan skeptisisme. Bahwa dalam lingkaran ini, aku bukan hanya yang paling nista dalam watak, tetapi juga dalam banyak hal lainnya. Bagaimana mungkin dengan fakta yang jelas-jelas nyata, aku berani melanjutkan “tanda tanya” itu ke level praktik?

    Bisa saja suatu saat nanti. Saat kenistaan-kenistaanku sebagian besar telah dapat terperbaiki. Aku mengampiri dan menanyainya pada waktu malam, sunyi dan ketika tidak ada sesiapa. Bisa saja.

    Tapi, bukankah kepercayaan diri seseorang itu tumbuh karena adanya potensi kepastian. Ada sesuatu yang dapat ia banggakan dan unggulkan.

    Aku musti membawa apa?

    Secara amat pengecut dan pecundang tanpa usaha apa-apa untuk meyakinkannya, bahkan sekadar untuk memberitahunya tentang semua ini. Aku menyerahkan segalanya kepada Sang Kudus. Kata orang, kalau jendela hati manusia tampak sukar dibuka, cobalah masuk melalui pintu-pintu Tuhan.

  • Setunggal

    Satu hal yang kukhawatirkan, tentang waktu yang terus bergerak maju, orangtua yang semakin menua dan sesakitan, dan dosa sosial yang kian menumpuk.

    Terjatuhlah aku ke dalam jurang kemungkinan di antara bukit kepastian dan ketidakpastian.

    Sampai pada titik paling membingungkan, aku menjajakan mimpi-mimpiku.

    Mimpi adalah barang dengan nilai daya tawar tertinggi yang kumiliki, selain itu aku hampir tidak memiliki apa-apa lagi.

    Daya tawarku melemah, sejak kuputuskan melepas seluruh momentum panjat sosial.

    Dan sekarang, aku menyadari betapa manusia itu pada titik tertentu memang harus kejam.

    Kepada yang lemah dan tak berdaya tidak ada alasan untuk menindasnya, tapi kepada setan-setan kekuasaan dan begu-begu berwajah klimis harus diberi garis tegas dan keras.

    Kalau tidak begini, semua orang bakal dihitung sebagai komoditi kepentingan semata.

    Tapi aku menerimanya dengan lapang dada. Kemudi waktu bukan barang yang bisa diajak bersantai. Apalagi kembali!

    Satu persatu tuan kudatangi. Kepada semuanya kukatakan hal yang sama.

    “Bantu aku hari ini, segalanya akan kulunasi di masa depan.”

  • Perdebatan kesunyian

    Oleh : agunghyt

    Katamu / sekuntum puspa enggan mewangi di ladang pagi yang kaku

    Tiada jiwa yang benar-benar beku / jawabku

    Katamu / jiwa-jiwa hambar ditakdirkan mati ditikam kesunyian

    Kesunyian adalah anugerah bagi terlaksananya segala permenungan / jawabku

    Katamu / hidup ialah buat berkompetisi, menangguk prestasi sebagai sumber dari kebahagiaan hakiki

    Hidup-menghidupi adalah inti dari berkehidupan / jawabku

    Katamu / empati cuma dimiliki jiwa-jiwa yang bergerak, kemanusiaan tak mungkin timbul pada diri berbaju hitam

    Mengatakan tentang marabahaya gulungan ombak laut, tak sama dengan memahami bahwa laut itu dalam / jawabku

    Tutupku / prinsip kemanusiaan tertinggi adalah dengan menyadari bahwa manusia itu lautan, manusia itu gunung berapi, dibalik penggerayangan atas hamparan tubuhnya ada yang bergejolak di kedalamannya, bola matamu tak melihatnya, kecuali disertai kejernihan

    Homosocious, ekstrovert, segala kicauan perhatian adalah harga mati, tak peduli dengan segala motif di kedalamannya / jawabmu

  • Kemuliaan Berbohong

    Oleh: agunghyt

    Ada yang mengatakan bahwa kebohongan tidak selamanya salah. Pada situasi tertentu ia merupakan pilihan baik.

    Hal ini bertentangan dengan prinsip tekstual. Di mana kebohongan ditinjau dari sudut makna katanya. Secara harfiah, kebohongan berkonotasi negatif.

    Kita pikir, hal ini berfungsi sebagai “alarm” agar kita tidak menjadikan kebohongan sebagai senjata untuk meraup keuntungan batil. Satu jenis tindakan yang merugikan orang lain demi keuntungan diri sendiri dan kelompok saja.

    Namun, pada situasi rumit yang berpotensi menjebak diri, kadang kita harus mempraktekkan kebohongan.

    Misalnya, saat orangtua membujuk anaknya yang sedang sakit untuk meminum obat yang rasanya pahit. Kadang harus ada unsur kebohongan di sana, dengan mengatakan bahwa obat ini rasanya manis.

    Atau, ketika beberapa orang sedang berkumpul di warung kopi. Misalnya, ada salah satu dari mereka berkata-kata berlebihan dan terkadang dusta. Kita tahu dia bodoh tapi kita tetap memujinya. Kita tahu kata-katanya tidak tepat dan tidak patut tapi kita tetap menyimak tanpa bantahan berarti. Ini adalah sebuah kebohongan, kita mendiamkan kesesatan. Tetapi kebohongan pada situasi ini lahir karena sentuhan nurani, kita tidak ingin si dia tadi malu di hadapan khalayak.

    Kebohongan yang seperti itu tidaklah harus kita sikapi secara keras dan tegas. Dan hal ini mengkonfimasi satu prinsip yang menyatakan, “Dalam hidup selalu ada saja ruang bagi permakluman.”

    Maka, sama halnya ketika seseorang menaruh keinginan lebih pada orang lain. Jika keinginan itu berpotensi menimbulkan “blunder” dan mengacaukan kesucian niatnya kita tidak harus menyampaikannya secara vulgar. Ini bukan berarti Anda munafik. Tetapi harus dipilih cara-cara yang lebih subtil.

    Karena seringkali pembacaan atas situasi (yang rasa-rasanya jauh dari kemungkinan) memaksa kita untuk menyimpan saja dentuman-dentuman di dalam dada yang telanjur meronta-ronta.

    Sehingga, seolah-olah tidak ada apa-apa. Kebohongan yang semacam ini tidak lasuh dilakukan. Perlu ketabahan dan pengorbanan bahwa pesannya berpotensi tak sampai kepada tuannya.

  • Cerita di antara malam

    Oleh: agunghyt

    Malam ini aku menyelam di kedalaman keheningan. Telingaku dapat menangkap jelas setiap bunyi-bunyi halus. Detak-detik jarum jam di dinding mengetuk sisi paling melankolis di dalam diriku. Rasa-rasanya, pertama kalinya aku mengalami ini–di dalam ruangan empat kali empat. Mendadak sesuatu yang terperangkap di dalam diriku meloncat keluar saat itu juga. Dan meneriakkan segala ketaktuntasan.

    Pendidikan yang kuusahakan mendapati hadangan dari sana sini. Telah kucoba berbagai jalur, tetapi semuanya mengatakan tidak. Otakku hampir mengalah di hadapan keremang-remangan hidup. Tapi lagi-lagi, setiap aku hendak berhenti dan memutar haluan, aku teringat ibu-bapak di desa yang masih senantiasa melirihkan harapan-harapan.

    Selanjutnya cerita ini akan sedikit panjang. Begini, ketika kesedihan jiwaku atas ibu-bapak belum juga menenang. Bayangan seorang gadis pulau melayang di langit-langit ingatanku. Kesedihanku semakin memuncak. Seorang gadis yang padanya harapan-harapan pernah kutaruh panjang. Seorang gadis yang pernah kurapal dalam doa-doa kesunyian.

    Mimpinya tentang melewati batas-batas dan menyeberangi pulau-pulau kuamini setiap waktu. Pada waktu itu, kuterbangkan lirih kata melewati tanah, laut dan hutan, lalu jatuh tepat di sudut telinganya, suaraku membisik, “akan kubawa kau menapaki tanah-tanah jauh, pantai-pantai manis, dan gunung-gunung tinggi, kita berjalan di bentangan savana lalu berbagi canda di antara ilalang yang menguning, akan kubuat kau menangis bahagia di dalam dekapanku.”

    Pada waktu itu, satu cerita yang masih berupa imajinasi, dan… semakin jauh dari kemungkinan.

    Malam ini, dirinya datang, kau hadir sekian senti di ujung mataku, kau tersenyum dan aku melihatnya. Mataku menyembab, dadaku berontak dipermainkan kebencian dan cinta.

    Tapi, kulihat ada sesuatu di balik senyumannya. Kuamati, dan kuperhatikan, ternyata sesuatu itu adalah sebentuk ketaksungguhan dan api penghianatan. Jiwaku yang telah lebam oleh kerikil kehidupan, dibuat semakin lumpuh olehnya. Pisau itu ia tusuk secara halus dari berbagai arah, tanpa ampun. Aku terkapar, ia tertawa. Ingin rasanya kumaki diri sendiri. Kesakitan itu semakin mendekati titik kulminasi, saat kudapati kabar satu-persatu kawanku bicara tentang gadis pulau, berbasa-basi dan meminta… Ingin kumaki diri sendiri.

    Seseorang yang lasuh dalam mengidolakan sesuatu akan pula menyimpan rahasia-rahasia. Aku tahu, aku paham, aku pernah menjadi seperti itu.

    Hanya saja, aku tak ingin semua berlalu secepat aku mendapatkannya. Maka, aku berpura-pura tak memahami mekanisme yang semacam itu. Hatiku telanjur simpuh kepada dirinya, hatiku menyediakan ruang kasih seluas-luasnya. Namun, walau telah kau tanam dalam-dalam nafas kesungguhan dan kesetiaan, akan tetap sukar tumbuh kejujuran pada diri perempuan berjiwa rapuh.

    Akhirnya, dalam kesunyian, dalam kediam-diaman ia menebar “hai” ke banyak ruang. Ia menganggap segala ekspresi keakuan adalah puncak dari kebebasan. Ia belum menghadapi realitas yang sebenarnya, ia rapuh menengok pencapaian manusia lain.

    Ingin rasanya kubisikkan pelan-pelan di telinganya, “Nona, jangan terjebak dalam kesemuan. Kau harus berani tidak menjadi siapa-siapa. Jadilah sebagaimana seharusnya perempuan.”

    Namun, aku tak ingin mematahkan semangatnya. Biarlah kehidupan demi kehidupan mengajarinya cara memandang sesuatu secara tuntas dan mendalam. Sementara waktu, biarlah ia berselancar di lautan semu atraktif-teatrikal.

    Ingin kumaki diri sendiri…

    Malam semakin pekat. Setindak demi setindak suara detak jarum jam mulai menyamar. Lalu menghilang. Seiring dengan lenyapnya segala kepercayaan. Kesadaranku terperangkap di alam mimpi. Tubuhku terperangkap di alam kehidupan.

  • Filosofi Angsa

    Oleh: Agung Hyt

    Apa yang terlintas di benak sodara ketika saya menyebut angsa di atas air. Apa pun itu yang jelas saya meyakini pikiran sodara tidak sedang membayangkan sesuatu yang latah dan grasah grusuh.

    Angsa di atas air. Sekilas ia tampak sedang bermalas-malasan. Mengapung dan sekali-kali membenamkan kepalanya ke dalam air. Tetapi saya pikir kita semua tahu, bahwa kakinya tidak pernah berhenti bergerak.

    Kekuatannya tidak terlihat. Kekuatannya ada di balik permukaan air. Apa yang Anda lihat di atas permukaan air yaitu, sebuah tubuh yang tenang dan anggun sebenarnya dikendalikan dari dalam—oleh kaki yang terus bergerak—memberi keseimbangan.

    Begitulah seharusnya kita menjalani hidup di permukaan bumi ini. Biarkan dunia melihat seolah-olah Anda tanpa aksi, tidak bergerak, tidak terlihat, tetapi di luar penglihatan mata dunia yang fana kita bergerak melebihi pembacaannya.

    Kita harus berani tidak menjadi siapa-siapa. Melepaskan segenap ego diri yang ingin terlihat dipandang keren, pintar. Ingin menjadi “seseorang” atau “sosok tertentu”.

    Memang cita-cita bukanlah sesuatu yang hina. Tetapi ketika kita mengorientasikan semuanya itu hanya untuk sekadar dikenal dan dipandang sebagai “manusia berprestasi” dan “sukses” semuanya menjadi terasa semu.

    Seringkali nafas cita-cita hanya menjadikan subyek sebagai satu-satunya yang menerima kebermanfaatan. Mendongkrak status sosial agar mendapatkan kedudukan istimewa dan seribu pujian.

    Mungkin semua itu dapat mengerek Anda ke puncak privilege dan dielu-elukan oleh banyak orang. Tetapi percayalah, kerja keras Anda itu hanyalah SEBUAH KESEMUAN.

    Prestasi yang selama ini dipuja-puja oleh orang tua penuntut tidak akan membuat sang anak tumbuh menjadi manusia yang sesungguhnya. Kecuali hanya menjadi “manusia pencapaian” yang haus pujian.

    Kita tengok, betapa banyaknya anak-anak yang gila karena tuntutan prestasi. Bahkan tidak sedikit yang memilih bunuh diri.

    Apakah Anda tidak bersedih menengok mereka? Lalu, Anda ingin mengembangkan “budaya populer” dengan argumen-argumen yang seolah-olah rasional. Sehingga menjadikan Anda sebagai manusia narsistik yang haus pengakuan.

    Apa yang kita miliki. Kesempurnaan pikiran, watak dan fisik adalah sebesar-besarnya buat kebermanfaatan umat dan mencari ridha Allah. Kalau kita telah mengorientasikan hidup pada ini, Anda tidak akan lagi memuja manusia-manusia populer secara gila-gilaan. Anda tidak akan bekerja mati-matian sekadar untuk menjadi seperti mereka.

    Kembalilah menjadi seekor angsa di atas air. Anggun tetapi tetap bekerja.

  • Kekuasaan kopong makna

    Oleh: Agung Hyt

    Godaan kekuasaan, beratnya, melampaui godaan sepiring nasi padang.

    Bedanya, kalau nasi padang membawa kepada kenikmatan perut. Kekuasaan membawa kepada kenikmatan yang paripurna.

    Bagaimana tidak, dengan kekuasaan Anda bukan cuma dapat membeli nasi padang tetapi juga beserta kedai-kedainya bisa Anda borong, kalau perlu, gadisnya juga. Ups.

    Karena kekuasaan begitu menggiurkan. Maka tidak heran kalau kekuasaan menjadi motif utama dalam sejarah peperangan dunia.

    Secara umum, sejarah perang dari zaman ke zaman disebabkan ketakrelaan ketidakberkuasaan.

    Baik itu kekuasaan atas teritori, kekuasaan atas organisasi/lembaga, maupun kekuasaan atas cinta (ego).

    Azas manfaat semu amat kentara pada motif ini. Kepentingan dalam arti kotor menggurita di dalamnya.

    2021. Di zaman yang tidak lagi purba. Apakah laik insan yang mendaku sebagai terpelajar haus akan kekuasaan?

    Allah mengamanahkan pemeliharaan bumi kepada insan manusia.

    Allah menghendaki manusia untuk mengelola dan menjaganya. Ini artinya Allah menghendaki manusia berkuasa.

    Tetapi kekuasaan ini bukanlah suatu kekuasaan yang tidak beradab. Kekuasaan yang diamanahkan kepada manusia ialah kekuasaan dalam garis-garis aturan main.

    Kekuasaan sebesar-besarnya buat kepentingan umat dan agama. Kepentingan pribadi diletak di nomor paling ujung.

    Apabila seorang insan mengambil dan mempergunakan kekuasaannya di luar garis-garis aturan main. Inilah yang kita sebut “haus kekuasaan”.

    Kekuasaan berhubungan dengan hajat orang banyak. Kalau kekuasaan diraih secara tidak beradab. Kebijakan yang lahir juga tidak akan beradab.

    Kalau begini, kita cuma insan yang menumpang hidup di zaman modern dengan nafsu yang masih purba.

    Satu-satunya cara terhindar dari jebakan ini hanyalah dengan bersikap “rela” dan “insyaf” — bahwa segala kengototan atas jabatan hanya akan menghinakan diri.

    Kekuasaan pada dasarnya mulia. Tetapi kekuasaan hanyalah alat. Praktiknya membahayakan atau memuliakan tergantung kepada pemangkunya.

  • Runtuhnya Cinta

    Selain virus yang dapat menyebar secara cepat. Krisis kesetiaan dan kesungguhan juga bagian dari penyakit yang mewabah.

    Tengok saja.

    Berita mengumumkan satu persatu politisi tersandung kasus korupsi. Ia tak setia pada amanahnya.

    Para pengusaha menyedot keringat para buruh lalu memakinya dengan balasan gaji yang tak seberapa . Ia menghianati kemanusiaan.

    Para dosen yang mempersulit proses belajar. Sesungguhnya ia sedang menghianati prinsip mencerdaskan.

    Para mahasiswa yang mencuri jawaban dari temannya. Sesungguhnya ia sedang menghianati dirinya sendiri.

    Intelektual yang menjual kepakarannya kepada penguasa dengan harga menghinakan. Ia rela mengkhianati pengetahuan.

    Seorang anak yang memenjarakan ibunya. Mengerikan. Pendurhaka yang menghianati nurani.

    Seorang ayah-ibu meremehkan kerendahan hati. Ia membusungkan ego di atas kewajiban. Ini juga bagian dari penghianatan.

    Aktivis menebalkan mukanya buat kekuasaan dan jabatan. Ia menghianati falsafah pergerakan.

    Tengok. Betapa krisis kesetiaan telah melewati batas-batas ruang. Kesungguhan telah enyah dari tempatnya.

    Maka tersebutlah suatu cerita yang sama maknanya:

    Setiap menemui malam // Seorang lelaki menaruh kepalanya di kaki seorang wanita // Merendahkan bahu di depan suaranya // Sesekali menyanyikan lagu-lagu bisu // Sesekali berkata-kata yang menggairahkan // Merubuhkan badannya di atas sajadah harapan // Sang lelaki gila tak sadar sedang menghianati kesadaran.

    Seorang perempuan pulau-pulau menebar benih kebanyak orang // Mengendap-ngendap merayu dengan bahasa qalbu dan buku-buku // Dialah penghianat suci di tengah malam.

    Demi luka yang diremas ketika sunyi. Di waktu terenyuhnya segala hati. Aku menghendaki cinta tercerabut dari akarnya.

  • Menyelam di lautan pseudo

    Oleh: Agung Hyt

    Di salah satu artikelnya. Bung Geger Riyanto menguliti habis para milenial inovator pengobral “mimpi”.

    Ruh dari artikelnya adalah Bung Geger hendak menunjukkan kepada kita. Bahwa orang-orang yang disebut milenial inovator itu tak pantas menjadi panutan. Lebih-lebih panutan dalam hidup berkehidupan.

    Sebab panutan memberi hidup secara jujur. Bukan secara tipu-tipu.

    Selanjutnya, Bung Geger menyatakan bahwa aktivitas bisnis para milenial inovator tak pelak berpegang pada kreatifitas. Namun di samping itu ia berkiblat kepada jaringan, senior dan segala “tangan-tangan tuhan”.

    Dan kurang ajarnya, mereka mengatasnamakan kreatifitas untuk memuji dirinya sendiri. “Kreatifitas yang membawa saya ke sini.”

    Sesungguhnya kreatifitas berperan sepersekian persen dalam menumpuk kapital dan bergaining selain yang paling penting itu “jaringan pengerek”. Bagaimana dengan nasib anak-anak desa yang tak mengerti dunia peraksesan?

    Setelah mereka memberi ceramah kepada anak-anak muda yang sedang hangat-hangatnya ingin menjadi terkenal dan dikenal. Anak-anak muda membawa hasrat dan sederet mimpi ngablu ketika pulang ke rumahnya.

    Di kamarnya dan disegala tempat anak muda tadi berbicara tentang masa depan yang “Baik dan membahagiakan” kepada teman-temannya.

    Katanya, “Kita akan menangkap masa depan seperti kakak-kakak milenial inovator.”

    Ia membangkitkan sebagian semangat anak muda dan memberi mereka harapan. Tapi sayangnya, ia belum juga menyadari bahwa apa-apa yang dibicarakan dan dilakukannya hanyalah kesemuan yang hakiki. Kesemuan adalah ciri khas orang-orang yang tergila-gila menjadi bintang di panggung kehidupan milenial.

    Karena kesemuan itu tak berbentuk. Ia cuma refleksi kesadaran. Maka itulah mengapa nilai semu jarang disadari oleh pengagum milenial ngablu.

    Sejauh ini, yang paling berseberangan dengan tokoh-tokoh milenial pseudo adalah para teman-teman dari kiri jalan. Atau kalau pembaca agak anti-kiri kita sebut saja manusia-manusia “pengagum kejernihan”.

    Mereka mengangkat “pedang” kepada virus milenial semu. Melalui tulisan yang tajam dan manis. Melalui diskusi-diskusi. Melalui praktik-taktik mereka menyatakan diri “memerangi kepseudoan”.

    Alasan-alasan mengapa ada pihak-pihak yang menolak habis milenial inovator-motivator tak lain adalah karena nilai kesemuan yang dibawanya. Orientasi bergerak mereka semata-mata buat terkenal dan kapital. Kalau dalam geraknya ada narasi nurani semata-mata hanyalah strategi pemasaran diri.

    Data demografis menunjukkan jumlah anak muda kita berjibun. Membuat kekhawatiran kita semakin mengemuka. Karena anak mudalah sasaran empuk para pengobral mimpi-mimpi. Mengiblatkan hidup sepenuhnya kepada eksistensi diri dan kapital. Inilah kebahagiaan hakiki bagi mereka–di luar ini ialah kegagalan.

    Sepatutnya para anak muda tak tergiur dengan yang demikian itu. Bahwa hidup bukan hanya tentang terkenal dan kapital cukuplah ini menjadi alarm bagi kita untuk tidak hanya menjadi pengikut tetapi juga pembela kaum yang takberdaya.

    Omong kosong rasanya mengatakan kita ini menaruh nurani pada kaum takberdaya sementara mengamini penyembahan berhala-berhala milenial inovator.

    Jalan di seberang berkerikil dan becek. Memilih bersandar pada nurani berarti harus siap menghadapi kesulitan di sana sini.

    Pemujian terhadap berhala manusia sesegera mungkin musti kita tanggalkan. Sepenuhnya menyandarkan hidup hanya kepada kejernihan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai