Oleh: agung h.
Itu sore yang dingin. Hujan baru saja reda. Para binatang keluar dari persembunyiannya di bawah rumah panggung milik bibi Olen. Setiap memasuki musim hujan, para binatang harus bertungkus lumus lari mencari perlindungan. Ada yang lari ke bukit Sigunggua, ada yang memanjat pohon trembesi, ada yang bernasib sial—hanyut terbawa banjir deras. Setiap kali turun hujan setidaknya tidak kurang dari 10 nyawa melayang.
Pada suatu hari, mengingat kenyataan yang mengerikan ini, Patua seekor anjing muda bijaksana mengajak para binatang untuk berkumpul di bukit Sigunggua. Maksud dari ajakannya itu adalah untuk melakukan rapat dan membahas kelangsung hidup para binatang di tanah Batus. Patua memimpin pertemuan tersebut dan menyampaikan pendapat bahwa para binatang harus segera membentuk pemerintahan yang berpusat di bukit Sigunggua dengan alasan kehidupan diperumahan manusia yang semakin hari semakin membahayakan. Manusia meletak sampah dengan sembarangan, menggunakan kendaraan bermotor tanpa aturan. Sehingga polusi begitu tingginya, sungai-sungai dan selokan penuh terisi sampah yang menyebabkan banjir bandang setiap turun hujan.
Para tamu undangan dari berbagai penjuru datang ke bukit sigunggua.
Pertama-tama semua binatang berdebat keras. Ada yang mendukung dan ada yang menolak. Boga, seekor tikus mengatakan cukuplah para binatang hidup berdampingan dengan manusia dan mendapatkan kemurahan hati darinya. Boga khawatir manusia akan menganggap pemerintahan binatang ini sebagai bentuk pemberontakan lalu kemudian para manusia membantai mereka satu persatu. Utusan dari pihak kerbau berpendapat sebaliknya, bagi mereka usulan dari Patua sangat cerdas. Para Kerbau memandang ini sebagai hak otonomi kehewanan. Setiap mahluk yang Tuhan ciptakan memiliki hak untuk mengurusi hidupnya sendiri sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Setelah para kerbau selesai berpendapat, Bara angkat bicara mewakili utusan para macan. Bara menyampaikan bahwa untuk membentuk pemerintahan para binatang harus menyiapkan segala aturan tertulis yang berhubungan dengannya. Agar dalam proses berpemerintahan nanti tidak timbul hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Dan kata Bara, harus dibuat sebuah piagam untuk mengikat kesepakatan ini. Semua masyarakat akan dihormati kedudukan dan tindak tanduknya selama mengikuti aturan-aturan yang dicatat di dalam “Piagam Sigunggua”.
Maka disepakatilah “Piagam Sigunggua” berisi 8 kesepakatan, yaitu:
1. Menjunjung keadilan dan kemakmuran.
2. Menjunjung kesetiakawanan.
3. Melindungi betina dan anak-anak.
4. Dilarang memakan daging.
5. Tidak boleh ada persekutuan tanpa persetujuan bersama.
6. Dilarang mengganggu manusia.
7. Semua binatang dalam lindungan negara.
8. Sesungguhnya piagam ini tidak membela binatang zalim dan khianat.
Pertemuan berlangsung selama 6 hari. Setelah menyusun konstitusi dan terpilihnya Rojak yang seekor kerbau sebagai presiden, pertemuan pun dibubarkan dengan misi lanjutan membentuk 7 wilayah bawahan yang dipimpin oleh seorang gubernur dan membangun pusat pemerintahan di Sigunggua selambat-lambatnya dalam tempo 3 bulan. Selain itu, para binatang bersepakat mengangkat Patua sebagai penasihat presiden. Ketujuh gubernur itu, ialah: Falailai seekor babi dari Meranta, Henoka seekor semut dari Bengkala, Jendi seekor badak dari Saoloka, Bagiva seekor burung gereja dari Pelawas, Johan seekor kerbau dari Gasie, Arwada seekor kambing dari Buasinus, dan Bara dari Batus.
Para gubernur kembali ke wilayahnya masing-masing untuk melanjutkan misi pemerintahan.
Sementara itu, Rojak beserta para petinggi pemerintahan menemui para binatang ke berbagai penjuru untuk turut bergabung ke dalam negaranya. Dengan kelihaian diplomasi dan negosiasi Rojak berhasil mengajak kerajaan binatang yang selama ini terpisah-pisah bersatu dalam satu negara bernama “Sigunggua”.
Setelah pemerintahan berlangsung selama bertahun-tahun Sigunggua berkembang pesat dan menjadi negara hewan yang disegani. Kini wilayah bawahannya telah berpuluh-puluh banyaknya. Dengan militer yang kuat, dan kedamaian serta kesejahteraan yang terjamin.
Kebutuhan pangan rakyat Sigunggua tidak pernah tersendat, karena para kerbau membajak sawah dengan baik—sejak berdirinya negara Sigunggua, negara menerapkan aturan bahwa memakan sesama binatang adalah jenis kejahatan tingkat tinggi dan akan dihukum mati—untuk menyiasati ini mereka makan makanan hasil dari olahan yang dicampur rempah-rempah.
Sejak 5 tahun tidak ada lagi korban yang disebakan oleh banjir bandang. Semua masyarakat Sigunggua dibawah pemerintahannya sama sekali tidak bersentuhan dengan kehidupan manusia.
Begitu juga dengan para burung sebagai penyampai pesan yang cepat dan jujur, sehingga informasi pemerintah tidak kurang sedikitpun ketika sampai ke telinga rakyat.
Para babi, harimau dan gajah bertugas menjaga hutan-hutan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, mereka adalah militer khusus yang bertugas menjaga hutan negara Sigunggua.
Pun pendidikan di Sigunggua berjalan baik, tidak ada satupun dari anak-anak binatang yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak, semua ini berkat menteri pendidikan, yaitu Hugo Dasidus dari kalangan monyet.
Dari keberhasilan itu semua tentu semua ini berasal dari satu tangan kuat, bapak presiden Rojak, “sungguh pilihan yang tepat mengangkat Rojak untuk memimpin negara Sigunggua,” begitu pikir masyarakat sekalian.
Itulah gambaran negara Sigunggua yang adil, makmur dan maju. Setidaknya, sebelum terjadinya satu penghianatan besar.
Pada suatu ketika Bara berjalan di taman istana presiden. Tanpa disengaja dia menemui para kerbau sedang berkumpul. Dia mendengar percakapan aneh lalu mengendap-ngedap dengan penuh kehati-hatian. Bara bersembunyi di balik pohon beringin besar. Dia menyimak perbincangan para kerbau. Rupa-rupanya, selama ini para kerbau bersiasat. Rojak beserta para kerbau telah menyusun satu rencana panjang, manakala negara Sigunggua telah besar dan kuat mereka akan membunuh seluruh binatang dan membentuk satu kekuasaan yang hanya berisikan para kerbau.
Setelah mengetahui ini semua. Bara segera saja menemui Patua. Ia menyampaikan apa yang didengarnya itu. Patua menjawab, “kau jangan sampaikan ini kepada siapapun!”.
“Mengapa?”
“Kalau para kerbau sampai tahu bahwa kau telah mengetahui rencana busuk mereka. Kau akan mati.”
“Apakah ini berarti kau sudah tahu rencana ini sebelumnya?”
“Ya, sejak pertama kali kita bersepakat mengangkat Rojak jadi presiden.”
“Mengapa kau tidak mengatakan ini?! sekarang, air sudah di leher!”
“Aku…” Patua berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca, air menetes dari matanya. Lalu dia melanjutkan, “Ayo, kita lawan mereka!”
Bara dan Patua berangkat menemui satu persatu para gubernur, menyampaikan hal ini kepada para gubernur yang dianggap belum terpengaruh oleh kepicikan para kerbau. Mereka pergi menemui para tetua masyarakat dan kesatria desa serta pejabat-pejabat negara yang masih memiliki hati nurani. Bara dan Patua menyampaikan pesan perlawanan. Akhirnya, terbentuklah dua kubu yang saling bertentangan. Bara dan Patua memimpin masyarakat binatang untuk melawan niat jahat para kerbau yang hendak memonopoli kekuasaan.
Dihari berikutnya, telah sampai kabar kepada Rojak bahwa telah terjadi mobilisasi masyarakat oleh Bara dan Patua buat melawan pemerintah. Tanpa basa-basi Rojak mengintruksikan darurat perang kepada militer yang dipimpin oleh para kerbau. Pasukan militer kebinatangan yang berpangkat kopral tidak tahu menahu tentang siasat para kerbau. Mereka dimanfaatkan oleh para kerbau sebagai martir, setelah itu kemudian disingkirkan dan dibunuh.
Pada satu titik waktu, pasukan militer negara tepat dibawah kaki bukit Sigunggua berhadap-hadapan dengan masyarakat binatang yang dipimpin Bara dan Patua. Moncong senjata milik negara bersiap menerbangkan peluru ke dada para pemuda revolusioner itu.
Sementara masyarakat binatang hanya bermodalkan tombak, parang, ketapel, dan sedikit bedil milik militer yang membelot. Dua kekuatan yang tidak seimbang.
Sebagaimana etika perang. Kedua pimpinan bertemu digaris netral. Mereka bernegosiasi untuk menemukan solusi tanpa perang.
“Bagaimana bisa kau menghianati Piagam Sigunggua?” tanya Bara.
“Sudah waktunya bagi para kerbau untuk naik ke puncak kekuasaan. Kami lelah menjadi budak manusia dan membajak sawah.”
Rojak yang haus kekuasaan dan Bara yang menolak dipermainkan menjadikan perang sebagai pilihan terakhir. Mereka kembali ke barisan asal dan perang pun dimulai.
Peluru demi peluru menghiasi petala, debu dan asap beracun mengaburkan sebagian pandangan. Karena begitu pekatnya udara, ada dari mereka yang matanya meloncat keluar. Deru senjata dan gema teriakan masyarakat menggetarkan tanah Sigunggua.
Bara dan Patua saling berdekatan, menerkam dan menyeruduk musuh yang tertangkap matanya. Suasana begitu kacau. Sementara Rojak duduk manis di istananya. Bara dan Patua lari menuju istana dengan amarah yang menggebu-gebu. Dilihat oleh mereka Rojak yang duduk santai di atas singgasana. Mereka berlari sekencangnya, lalu menyeruduk dan menerkam Rojak. Seiring dengan itu dari arah timur, peluru terbang mengenai leher Patua. Patua tersungkur dan menghantam tembok. Darah mengalir deras dari lehernya, Patua sekarat. Melihat sahabatnya terkapar, Bara lari ke arah kerbau yang menembak Patua lalu menghabisinya dengan kukunya yang tajam, menggigit leher kerbau tersebut sekeras-kerasnya. Menunggu kematian sang kerbau air mata berlinang dari mata Bara.
Di depan sana, Rojak beringsut-ingsut berusaha melarikan diri. Tapi tubuhnya terluka parah. Bara lari ke arah Rojak, kali ini dengan taring yang berkilauan Bara menerkam leher Rojak. Darah segar memuncrat darinya. Sementara para kerbau dari delapan penjuru memberondong tubuh Bara dengan peluru—tapi, Bara tak sedikitpun mengendurkan gigitannya. Air matanya berlinang deras mengingat segala penghianatan Rojak yang telah membuahkan perang berdarah-darah. Rojak mati kehabisan darah, Bara mati dalam perlawanan.