• Bunga Ranah Minang

    Oleh: agung h. //

    Bunga berpangkat, jelas asalnya, tinggi ilmunya, setitik sakitnya

    melintasi berbagai tanah, gedung dan kehormatan

    kalah dalam rupa, pendekar dalam tahta

    oh, Bunga

    atasnama kehormatan-kehormatan yang tak terhitung banyaknya, kau injak kesungguhan-kesungguhan ini

    demi mimpimu yang panjang
    dan nuranimu yang kelam

    kau sebut bau sepuntung rokok tak layak membersamai Bunga ranah Minang yang wanginya melampui cakrawala

    kau bilang, kiri dan kanan akan selalu bertentangan, hitam dan putih tidaklah sepaduan

    mengapa tak kau coba pertemukan saja keduanya dalam genggaman ruh cinta yang abadi, oh Bunga, bidadariku yang lumpuh nurani

    kini kau menangis, merengek dan merangkak kepadaku, membawa segudang kesakitanmu

    benarlah kata banyak orang,
    kalau hati sudah kelam bagaimana pun upaya tak kan bisa menyadarkan

    Tibalah waktunya,
    kau mati oleh hasratmu sendiri

  • PINTA

    saya mengigau sepanjang malam

    apa-apa yang keluar dari mulut hanyalah dirimu

    raut muram wajah manis itu seakan-akan berkata-kata kutukan

    api-api kekecewaan menerbangkan diri membakar kesungguhan

    hilang, hilang saya dalam palung hatimu dalam sekejap

  • Pukul Dua Pagi

    Agak bingung sebenarnya apa yang harus saya tulis malam ini. Riuh bising memadati lintasan pikiran saya. Saya coba menangkap satu saja keriuhan itu, untuk saya tuliskan, tapi ia melaju, memutar-mutar begitu cepat.

    Akhirnya, saya teringat malam sebelum saya diangkut paksa oleh sekumpulan orang tak beradab. Malam itu saya baru pulang dari Tangerang Selatan, sekitar pukul 2 pagi. Saya tidak ingin cepat-cepat sampai ke asrama. Maka saya lajukan motor sehalusnya, selambat mungkin.

    Motor terus melaju, melewati Ragunan lalu berbelok ke kiri ke arah Mampang Prapatan, di ujung saya melihat penunjuk jalan bertuliskan “Menteng” disertai simbol ke lajur kanan. Saya memasuki jalan bawah tanah Kuningan, di temboknya yang berelief itu dipasang lampu yang dapat berubah-ubah warna, jalan bawah tanah itu terlihat sangat mewah. Agak 30 meter setelah motor saya memasuki jalan bawah tanah, seorang perempuan paruh baya memakai baju warnah putih, berjilbab hitam dan membawa tas ransel berjalan melawan arah di pinggiran jalan bawah tanah tersebut. Saya melihatnya tidak lebih dari 5 detik, tapi karenanya saya kepikiran berhari-hari.

    Saya mencoba untuk berpikir positif. Bahwa perempuan itu baik-baik saja. Tapi, upaya saya untuk berpikir positif terbantahkan oleh ketidak-masuk-akalannya . Seorang perempuan paruh baya, berpenampilan kumuh, berjalan tengah malam di jalan yang tidak lazim—jalan bawah tanah—membawa tas yang sekilas terlihat penuh. Di antara gedung-gedung kota, di antara tembok-tembok-tembok yang bernilai milyaran rupiah, langkahnya sendu.

    Aapakah ia seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang hilang? atau, ia seorang perempuan yang mencari kehidupannya? Tuhan, lindungi ia, kuatkan langkahnya, apabila ia sedang dalam pencarian pertemukan segera ia dengan pencariannya. Apabila ia memiliki hajat lain, mudahkan langkahnya.

  • Berbincang dengan Rumi

    Oleh: agung h.

    Pukul sebelas malam. Ia berjalan ke kamar mandi yang terletak agak jauh ke belakang, sekitar 30 meter, untuk mandi. Langkahnya seperti prajurit yang habis berperang, lunglai dan pasrah.

    Selesai mandi ia menuju kamar kontrakan yang terletak di lantai 2. Ia menghadap cermin lemari, mengeringkan rambut dengan handuk, dan menatap dirinya di kedalaman cermin itu beberapa saat. Ia termangu. Melihat seorang pemuda menyedihkan di dalam cermin sana. Matanya bagaikan perahu mini yang terombang-ambing di tengah lautan, tanpa kemudi, tanpa penumpang.

    Lalu, ia duduk di atas kursi dan meletak keningnya di atas meja yang dikelilingi buku-buku. Ia biarkan tangannya mengulai ke bawah tak berpangku. Dia mengetuk-ngetukan kepalanya ke atas meja itu. Selama beberapa saat.

    Sejurus kemudian ia bangun dari kepasrahannya dan meraih buku abu-abu yang di sampulnya terpampang lukisan seorang lelaki tua bersorban dan berjubah, mirip seperti sufi. Tertulis di sana, “Matsnawi Jalaluddin Rumi”.

    Dia buka lembar demi lembar buku itu. Ia baca baris demi baris. Kadang-kadang ia paham dengan kalimatnya, kadang-kadang ia bingung sendiri. Dia berusaha menerka-nerka di bagian sebelah mana ia bisa menemukan sosok Jalaluddin Rumi. Sebab, ia melihat keseluruhan buku itu adalah kisah-kisah acak yang tak tentu perhubungannya. Tapi dia, lelaki itu, tetap melihat kalimat-kalimat yang menggetarkan, menggugah, dan menusuk. Prosa-prosanya bernada “jalan tengah”, tapi kadang-kadang juga memuji akal.

    Ia menutup bukunya. Matanya memejam dan mengucap nama Jalaluddin Rumi secara lirih sebanyak tiga kali, ia membuka mata dan menatap tembok biru di depan. Lalu ia menoleh ke kiri. Tepat di tangga menuju ke lantai 3 ia melihat sesosok lelaki tua berjanggut, bersorban dan berjubah duduk di anak tangga ke dua dari bawah. Lelaki tua itu menatapnya dalam, tanpa kedip. Matanya teduh dan wajahnya seperti suasana jingga di sore hari di tepi pantai, sangat tenang.

    Si lelaki ketakutan, keringatnya menetes di pelipisnya. Tiba-tiba saja ia diserang gerah saat lelaki tua menghampiri dirinya. Sontak ia berdiri dan bersandar ke tembok, ia ketakutan, seperti sedang ditodong bedil tentara.

    “Jangan takut?” Ucap si lelaki tua.

    “Kau siapa?”

    “Baru saja kau membaca namaku, sekarang sudah lupa?”

    “Jalaluddin Rumi?”

    “Ya. Adakah yang ingin kau sampaikan?”

    Sang lelaki terdiam. Ia kebingungan. Ia tak ingin melepas kesempatan langka ini. Biar saja sembarang bertanya. Lalu sang lelaki berkata, “Mengapa engkau menulis?”

    “Hmm, haruskah aku menjawabnya?”

    “Ya”

    “Jika aku tidak menulis, kau tidak akan mengetahui dan menyebut namaku.”

    “Hanya itu?”

    “Hikmah dan nasihatku tak akan sampai kepada kalian. Dari mana kalian akan berwatak hati-hati kecuali dari kisah masa lampau yang tertulis?”

    “Hanya itu?”

    “Pada masaku ada banyak orang yang menulis. Dan tidak setiap yang menulis mengetahui keseluruhan makna hidup ini. Mereka memiliki ilmu pada bidangnya masing-masing. Siapa yang akan menuliskan anjuran kebijaksanaan?”

    “Hanya itu?”

    “Menyampaikan kebaikan dan mengingatkan batasan-batasan.”

    “Hanya itu?”

    “Sudahkah kau menulis?” Tanya Rumi menimpali.

    “Aku tak bisa menulis, dan tak pernah ingin untuk menulis.”

    “Lalu untuk apa kau membaca?”

    “Untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang sepertimu.”

    “Apa yang kau dapat dari mengetahui?”

    “Kebijaksanaan”

    “Kau tak bisa menjadi bijaksana jika tidak menyampaikan kebaikan kepada orang lain.”

    “Apakah berbuat baik harus dengan menulis? Dengan membaca bukumu dan buku lainnya, aku dapat menahan diri untuk tidak bercepat mulut, berwajah penipu, dan berlidah dusta.”

    “Kebaikanmu akan berlipat-lipat jika kau iringi dengan menulis, dan menebarkannya kepada orang-orang.”

    “Ok, kita lupakan saja perdebatan yang ini.” Ucap si lelaki, “Bagaimana kau memandang perempuan? Apakah ombak kebijaksanaanmu dapat menyentuh bibir akal perempuan yang sedang jatuh cinta?”

    “Baiknya, pertanyaanmu yang ini kau ajukan kepada perempuan?”

    “Kenapa bukan kau saja yang menjawabnya. Bukankah engkau seorang bijak?”

    “Kau bertanya kepada seorang lelaki, sama sepertimu,” jawab Rumi, “Ah, tampaknya pembicaraan ini sudah terlalu jauh.”

    Sejurus kemudian sang lelaki mendengar suara azan yang samar-samar, dan tiba-tiba Rumi menghilang, meninggalkan bayang berupa asap putih tipis. Sontak sang lelaki tersadar dari mimpinya yang klasik diikuti suara azan yang semakin jelas.

    Sesaat sang lelaki linglung, dia berusaha mengingat-ingat, terakhir kali dia mengetuk-ngetuk kepalanya ke atas meja, tubuhnya yang kelelahan sehabis mengelilingi kota Jakarta tanpa disadari membuatnya tertidur.

    Sejurus kemudian sang lelaki mengusap muka, mengucap Hamdallah, lalu berjalan mengambil wudhu untuk solat subuh.

  • Teduh II

    Kita harus bertemu. Sebelum kesinisan dan kebencian menumpuk di ujung matamu.

    Kita harus bertemu. Ada yang belum selesai. Ia tertahan di ujung lidahku yang kelu.

    Kita harus bertemu. Menuntaskan segalanya. Lalu berjalan ke ujung kota menatap lautan utara. Menemui ketenangan dari riuhnya kebisingan.

    Tapi, matamu masih saja kosong. Melaju cepat dan jatuh di antara jurang kesinisan dan tanda tanya.

    Tapi, mata itu masih saja yang terindah, siang dan malam berjibaku memperebutkan ke dua matamu.

    Kepada langit yang memegang kendali bumi. Kepada tentara-tentara Tuhan di barisan batalion percintaan, turunlah, pertemukan dua sisi yang saling bertentangan ini.

    Kepada gelas yang setiap hari dalam genggamannya, katakan, aku bersama air yang menghapus dahaganya.

    Kepada burung-burung yang menari di hadapannya. Jangan kau curi sesuatu apa pun dari dirinya. Biarkan ia tumbuh menjadi manusia indah dalam pandangan yang meresapinya.

    Atau, sekali pun kemuraman telah benar-benar menerbangkan amarahnya, teduhnya tak pernah kalah.

  • Perihal Ketidakpercayaan

    Oleh: agung h.

    Apakah kamu pikir seseorang akan ujug-ujug tidak mempercayaimu tanpa sebab yang jelas? Apakah kamu pikir ketidakpercayaan itu otomatis bersifat naif? Apakah kamu pikir semua manusia di tanah pertiwi ini bodoh kecuali para birokrat, politisi, dan elit organisasi?

    Kamu boleh mengatakan bahwa segala hal yang kamu ambil dan putuskan adalah sebesar-besarnya buat kepentingan khalayak. Kamu boleh mengatakan bahwa kemajuan bangsa ini hanya bisa diraih dengan pembukaan kran investasi selebar-lebarnya. Serta kamu boleh mengaku-ngaku dalam banyak hal lainnya.

    Lalu memoles seluruhnya seolah-olah kamu memang bekerja dan berpikir untuk khalayak, untuk pembangunan, untuk kemajuan.

    Kamu-kamu adalah seorang penipu ulung. Tapi, sebagaimana kata pepatah lama, “tak ada gading yang tak retak.”

    Di sinilah kamu harus mengerti bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap bangsa-organisasi dalam arti yang sejujurnya dan sesungguhnya. Merekalah orang-orang yang melihat jalan penipuanmu, merekalah orang-orang yang dapat melihat mata-wajah dustamu.

    Mereka melihat bahwa di balik narasi kemajuan-pembangunan yang kamu utarakan itu tersembunyi maksud busuk yang sama sekali tak menyentuh orang-orang marjinal.

    Dengan bangga kamu tampil ke muka. Lalu berkata, “tidak ada yang pantas berkuasa kecuali saya.”

    Kamu berkata sembari dipenuhi kedunguan ucapan di sana-sini. Lucunya, kamu tetap tampil percaya diri. Mungkin inilah hasil dari pendidikan kepemimpinan yang selama ini mereka gembor-gemborkan itu, agar kamu tampil tanpa rasa malu meskipun begitu dungunya.

    Akhirnya, doktrin berjiwa kepemimpinan yang selama ini dipaksa masuk ke dalam diri orang-orang seperti kamu berhasil sepenuhnya menguasai kendali dirimu. Haus kuasa, haus pengakuan, haus pembangunan-penghancuran. Sungguh, keegoisan yang paripurna.

    Kamu telah melihat, lautan manusia di mana-mana. Menolak untuk percaya terhadap orang-orang seperti dirimu. Tapi, dengan tanpa rasa malu kamu membalikkan semuanya. Lalu kamu berkata, “Kalian tidak pantas bersuara, kalian perusak.”

    Keangkuhan yang bercampur dengan kedunguan mencerminkan dirimu secara sempurna.

    Mereka yang sehat akal dan nuraninya hanya bisa berdo’a. Semoga kamu-kamu mati oleh kata-katamu sendiri.

  • Pelacur Terhormat

    Oleh: agung h.

    Dia, teman yang sangat kuhormati dan kusayangi. Pertemanan kami masih terbilang baru, kenal di semester empat perkuliahan. Tapi meskipun baru, dia adalah teman yang baik untukku. Bagaimana tidak, hampir setiap hari dia mengingatkanku untuk solat, makan dan membersihkan diri. Di antara seluruh orang yang kumiliki, dia lah yang paling peduli.

    Memiliki teman seperti dia adalah cita-citaku sejak lama. Memang, dulu, aku pernah memiliki teman baik beberapa kali, tapi semua berakhir seiring dengan terungkapnya penghianatan mereka satu persatu.

    Untuk yang satu ini. Aku tidak ingin kehilangannya. Sungguh, aku sangat menyayanginya. Dan aku yakin dia pun sangat menyayangiku, terbukti dengan kepeduliannya kepadaku selama ini.

    Andaikan ada orang yang mencoba untuk merebutnya dariku. Jangankan harta, nyawa pun akan kupertaruhkan agar ia tetap di sini—menjadi teman baikku.

    Aku tak pernah rela dia disakiti. Menyakiti dia berarti menyakiti aku. Aku dan dia seperti telah menjadi satu-kesatuan. Kami terpisah dalam raga, tapi menyatu dalam ruh.

    Pernah pada satu waktu, seseorang lelaki apatis membuat teman baikku ini menangis. Padahal, teman baikku hanya ingin menyatakan perasaannya yang sudah lama terpendam. Lelaki apatis itu malah tidak menggubrisnya sedikit pun, wajahnya datar dan terkesan tidak memerdulikan. Melihat sikap lelaki itu, teman baikku lari ke belakang gedung kampus, berbelok ke kiri lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menangis sesenggukan. Aku mengejarnya dan berusaha menenangkannya. Kukatakan kepadanya, cinta yang suci dan luhur tidak layak diberikan kepada lelaki sombong seperti dirinya. Tidak lama kemudian, aku ikut menangis. Patah hatinya menyentuh nuraniku.

    Lain kisah, si tomboy yang sering mengganggu perempuan-perempuan kampus pernah pula menyakiti teman baikku ini. Dia mengatai teman baikku dengan sebutan si bodoh dan si dungu. Padahal aku tahu betul, teman baikku ini seorang perempuan yang vokal dan aktif dalam setiap diskusi, dan, para dosen juga menyukainya. Tak terima mendengar perkataan si tomboy, aku menjumpainya di kantin kampus, dari kejauhan kulihat dia sedang duduk di kursi kantin sambil memakan sesuatu, aku berlari, kuraih mangkok berisi bakso yang penuh dengan cabai lalu kutumpahkan kewajahnya. Si tomboy berteriak kepedihan dan berguling-guling di lantai seperti ulat bulu. Hatiku puas melihatnya.

    Yang lebih menyakitkan, ketika pada satu waktu, seorang lelaki menghina teman baikku. Lelaki itu mengatakan, bahwa temanku ini seorang pelacur. Aku sangat marah mendengarnya, mukaku memerah, orang yang sangat kuhormati dikatai pelacur. Kutampar muka lelaki itu dengan segudang cacian dihadapan masyarakat kampus. Bagaimana mungkin teman terbaikku dikatai pelacur, sementara aku tahu persis kesibukannya di mana saja. Kalau tidak di organisasi pasti di kampus. Kalau tidak di kampus pasti di organisasi. Sebagaimana aku. Sungguh, tuduhan tak berdasar.

    —

    Itulah, kisah singkatku dan teman baikku. Semua itu terjadi sekitar delapan tahun lalu. Sekarang dia sudah menikah dengan lelaki jangkung berwajah segitiga, namanya Rama. Katanya, mereka sangat bahagia. Mereka sering bepergian ke luar negeri mengunjungi berbagai negara. Aku senang mereka bahagia, dan, cukuplah aku yang terluka.

    —

    Tiga bulan sebelum kami wisuda. Aku dan Reni hampir saja terpilih mendapatkan beasiswa studi pascasarjana ke luar negeri. Universitas telah merekomendasikan kami berdua bersama dengan delapan belas mahasiswa lainnya. Kampus mengatakan, kami diberi waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh berkas. Apabila pengiriman berkas telat dari tanggal yang telah ditentukan, maka, akan dinyatakan mengundurkan diri.

    Di lima hari terakhir sebelum kuserahkan berkasku ke kedubes Jerman, Reni menghubungiku agar aku dapat membantunya untuk menyelesaikan berkasnya, dan akhirnya seluruh berkasnya selesai.

    Tapi ternyata, masalahnya belum selesai. Ibunya Reni masih berat hati untuk melepaskan Reni studi ke Jerman. Reni anak tunggal, ibunya tak ingin kesepian. Dalam hal ini aku tak bisa ikut campur, yang dapat kulakukan adalah aku berdoa kepada Tuhan agar ibunya Reni diberi keluasan hati.

    Di hari terakhir batas pengiriman berkas, aku menunggu Reni di sebuah kantin tidak jauh dari kantor kebudes Jerman. Berjam-jam aku menunggu, berkali-kali kutelpon, tetapi Reni tidak kunjung ada kabar. Ketika waktu hampir memasuki pukul lima sore,  Kuputuskan pulang ke rumah dan membawa seluruh berkas persyaratan kembali. Aku hanya mau kuliah ke Jerman jika bersama dengan Reni.

    Aku memahami kerumitan Reni dalam keputusan ini. Mungkin ibunya tak juga mengizinkannya. Dua hari kemudian, pukul delapan malam, aku menelpon kembali Reni. Dia mengangkatnya. Kutanya kabarnya, kesehatannya, dan berbagai pertanyaan kekhawatiran lainnya. Reni tak menjawab semua pertanyaanku. Dia langsung mengatakan, “Maaf Putri, aku sudah mengirim berkas di dua hari terakhir, ditemani oleh Rama.”

  • Perihal Ketuntasan

    Oleh: agung h.

    Kita bisa memandang semua hal secara subyektif, dan itu sah. Tapi ketika pandangan itu hendak mengemuka ke khalayak, ia harus melalui pertimbangan.

    Seperti sebuah balon, apabila ia ditiup tanpa perhitungan hanya akan berakhir dengan letusan.

    Pengetahuan kita tentang sesuatu secara menyeluruh dan tuntas membawa kita kepada dua pilihan, menolak atau menerima dengan lapang dada. Selama kita belum mengetahui sesuatu itu secara tuntas, kesimpulan dan keputusan yang kita ambil kemudian pastilah bersifat naif dan syak wasangka.

    Aku berdiri jauh dari duniamu, dan kau pun sebaliknya. Kita mengetahui masing-masing dunia kita itu secara terbatas dan tidak tuntas. Ketidaktuntasan ini berpotensi menimbulkan syak wasangka yang tidak pada tempatnya. Sekali pun dugaan itu bernada positif bagi si terduga, ia tidak positif menurut kondisi yang sebenarnya.

    Kau memintaku dan aku menginginkanmu. Apakah permintaanmu itu berdasarkan pemahaman dirimu atas fakta diriku? Atau sekadar asumsi yang cenderung subyektif.

    Kalau kemudian aku begitu ketatnya dalam hal “harus tuntas memandang sesuatu” karena aku tidak ingin kau mencintaiku berdasarkan ketidaktahuan. Dan, prinsip ini berlaku dalam banyak hal.

    Dalam nada yang tendensius, dibenci berdasarkan kepahaman lebih baik daripada dicintai berdasarkan ketidaktahuan.

    Karena orang akan berpikir dua kali untuk memberi nilai positif dan legowo manakala ia tahu sesuatu itu tidak sesuai dengan standar yang dia miliki.

    Ingatlah, bahwa cinta dan ambisi adalah sifat manusiawi dari seorang manusia. Tetapi, kita tidak ingin hal itu berakhir dengan kebencian dan kesinisan karena ketidaktuntasan kita dalam memahami sesuatu itu secara menyeluruh.

    Kau dan aku bersepakat bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun aku tidak tahu sejauh apa pengertianmu tentang hal itu. Bisa jadi kau memiliki standar sendiri tentang “pengertian” kekurangan dan kelebihan.

    Standarku tidak bisa kupaksa masuk ke dalam dirimu, begitu pun sebaliknya. Namun, berdasarkan standar ini kita boleh memilih: tetap mencintai atau beralih.

    Di sanalah, apa yang kita sebut sebagai “keikhlasan” itu diuji.

    Cepat atau lambat, mencintai berdasarkan ketidaktahuan hanya akan berujung kekecewaan.

    Kucintai bunga dengan hati, berdasarkan pertimbangan akal.

  • Siasat Para Kerbau

    Oleh: agung h.

    Itu sore yang dingin. Hujan baru saja reda. Para binatang keluar dari persembunyiannya di bawah rumah panggung milik bibi Olen. Setiap memasuki musim hujan, para binatang harus bertungkus lumus lari mencari perlindungan. Ada yang lari ke bukit Sigunggua, ada yang memanjat pohon trembesi, ada yang bernasib sial—hanyut terbawa banjir deras. Setiap kali turun hujan setidaknya tidak kurang dari 10 nyawa melayang.

    Pada suatu hari, mengingat kenyataan yang mengerikan ini, Patua seekor anjing muda bijaksana mengajak para binatang untuk berkumpul di bukit Sigunggua. Maksud dari ajakannya itu adalah untuk melakukan rapat dan membahas kelangsung hidup para binatang di tanah Batus. Patua memimpin pertemuan tersebut dan menyampaikan pendapat bahwa para binatang harus segera membentuk pemerintahan yang berpusat di bukit Sigunggua dengan alasan kehidupan diperumahan manusia yang semakin hari semakin membahayakan. Manusia meletak sampah dengan sembarangan, menggunakan kendaraan bermotor tanpa aturan. Sehingga polusi begitu tingginya, sungai-sungai dan selokan penuh terisi sampah yang menyebabkan banjir bandang setiap turun hujan.

    Para tamu undangan dari berbagai penjuru datang ke bukit sigunggua.

    Pertama-tama semua binatang berdebat keras. Ada yang mendukung dan ada yang menolak. Boga, seekor tikus mengatakan cukuplah para binatang hidup berdampingan dengan manusia dan mendapatkan kemurahan hati darinya. Boga khawatir manusia akan menganggap pemerintahan binatang ini sebagai bentuk pemberontakan lalu kemudian para manusia membantai mereka satu persatu. Utusan dari pihak kerbau berpendapat sebaliknya, bagi mereka usulan dari Patua sangat cerdas. Para Kerbau memandang ini sebagai hak otonomi kehewanan. Setiap mahluk yang Tuhan ciptakan memiliki hak untuk mengurusi hidupnya sendiri sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

    Setelah para kerbau selesai berpendapat, Bara angkat bicara mewakili utusan para macan. Bara menyampaikan bahwa untuk membentuk pemerintahan para binatang harus menyiapkan segala aturan tertulis yang berhubungan dengannya. Agar dalam proses berpemerintahan nanti tidak timbul hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Dan kata Bara, harus dibuat sebuah piagam untuk mengikat kesepakatan ini. Semua masyarakat akan dihormati kedudukan dan tindak tanduknya selama mengikuti aturan-aturan yang dicatat di dalam “Piagam Sigunggua”.

    Maka disepakatilah “Piagam Sigunggua” berisi 8 kesepakatan, yaitu:

    1. Menjunjung keadilan dan kemakmuran.

    2. Menjunjung kesetiakawanan.

    3. Melindungi betina dan anak-anak.

    4. Dilarang memakan daging.

    5. Tidak boleh ada persekutuan tanpa persetujuan bersama.

    6. Dilarang mengganggu manusia.

    7. Semua binatang dalam lindungan negara.

    8. Sesungguhnya piagam ini tidak membela binatang zalim dan khianat. 

    Pertemuan berlangsung selama 6 hari. Setelah menyusun konstitusi dan terpilihnya Rojak yang seekor kerbau sebagai presiden, pertemuan pun dibubarkan dengan misi lanjutan membentuk 7 wilayah bawahan yang dipimpin oleh seorang gubernur dan membangun pusat pemerintahan di Sigunggua selambat-lambatnya dalam tempo 3 bulan. Selain itu, para binatang bersepakat mengangkat Patua sebagai penasihat presiden.  Ketujuh gubernur itu, ialah: Falailai seekor babi dari Meranta, Henoka seekor semut dari Bengkala, Jendi seekor badak dari Saoloka, Bagiva seekor burung gereja dari Pelawas, Johan seekor kerbau dari Gasie, Arwada seekor kambing dari Buasinus, dan Bara dari Batus.

    Para gubernur kembali ke wilayahnya masing-masing untuk melanjutkan misi pemerintahan.

    Sementara itu, Rojak beserta para petinggi pemerintahan menemui para binatang ke berbagai penjuru untuk turut bergabung ke dalam negaranya. Dengan kelihaian diplomasi dan negosiasi Rojak berhasil mengajak kerajaan binatang yang selama ini terpisah-pisah bersatu dalam satu negara bernama “Sigunggua”.

    Setelah pemerintahan berlangsung selama bertahun-tahun Sigunggua berkembang pesat dan menjadi negara hewan yang disegani. Kini wilayah bawahannya telah berpuluh-puluh banyaknya. Dengan militer yang kuat, dan kedamaian serta kesejahteraan yang terjamin.

    Kebutuhan pangan rakyat Sigunggua tidak pernah tersendat, karena para kerbau membajak sawah dengan baik—sejak berdirinya negara Sigunggua, negara menerapkan aturan bahwa memakan sesama binatang adalah jenis kejahatan tingkat tinggi dan akan dihukum mati—untuk menyiasati ini mereka makan makanan hasil dari olahan yang dicampur rempah-rempah.

    Sejak 5 tahun tidak ada lagi korban yang disebakan oleh banjir bandang. Semua masyarakat Sigunggua dibawah pemerintahannya sama sekali tidak bersentuhan dengan kehidupan manusia.

    Begitu juga dengan para burung sebagai penyampai pesan yang cepat dan jujur, sehingga informasi pemerintah tidak kurang sedikitpun ketika sampai ke telinga rakyat.

    Para babi, harimau dan gajah bertugas menjaga hutan-hutan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, mereka adalah militer khusus yang bertugas menjaga hutan negara Sigunggua.

    Pun pendidikan di Sigunggua berjalan baik, tidak ada satupun dari anak-anak binatang yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak, semua ini berkat menteri pendidikan, yaitu Hugo Dasidus dari kalangan monyet.

    Dari keberhasilan itu semua tentu semua ini berasal dari satu tangan kuat, bapak presiden Rojak, “sungguh pilihan yang tepat mengangkat Rojak untuk memimpin negara Sigunggua,” begitu pikir masyarakat sekalian.

    Itulah gambaran negara Sigunggua yang adil, makmur dan maju. Setidaknya, sebelum terjadinya satu penghianatan besar.

    Pada suatu ketika Bara berjalan di taman istana presiden. Tanpa disengaja dia menemui para kerbau sedang berkumpul. Dia mendengar percakapan aneh lalu mengendap-ngedap dengan penuh kehati-hatian. Bara bersembunyi di balik pohon beringin besar. Dia menyimak perbincangan para kerbau. Rupa-rupanya, selama ini para kerbau bersiasat. Rojak beserta para kerbau telah menyusun satu rencana panjang, manakala negara Sigunggua telah besar dan kuat mereka akan membunuh seluruh binatang dan membentuk satu kekuasaan yang hanya berisikan para kerbau.

    Setelah mengetahui ini semua. Bara segera saja menemui Patua. Ia menyampaikan apa yang didengarnya itu. Patua menjawab, “kau jangan sampaikan ini kepada siapapun!”.

    “Mengapa?”

    “Kalau para kerbau sampai tahu bahwa kau telah mengetahui rencana busuk mereka. Kau akan mati.”

    “Apakah ini berarti kau sudah tahu rencana ini sebelumnya?”

    “Ya, sejak pertama kali kita bersepakat mengangkat Rojak jadi presiden.”

    “Mengapa kau tidak mengatakan ini?! sekarang, air sudah di leher!”

    “Aku…” Patua berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca, air menetes dari matanya. Lalu dia melanjutkan, “Ayo, kita lawan mereka!”

    Bara dan Patua berangkat menemui satu persatu para gubernur, menyampaikan hal ini kepada para gubernur yang dianggap belum terpengaruh oleh kepicikan para kerbau. Mereka pergi menemui para tetua masyarakat dan kesatria desa serta pejabat-pejabat negara yang masih memiliki hati nurani. Bara dan Patua menyampaikan pesan perlawanan. Akhirnya, terbentuklah dua kubu yang saling bertentangan. Bara dan Patua memimpin masyarakat binatang untuk melawan niat jahat para kerbau yang hendak memonopoli kekuasaan.

    Dihari berikutnya, telah sampai kabar kepada Rojak bahwa telah terjadi mobilisasi masyarakat oleh Bara dan Patua buat melawan pemerintah. Tanpa basa-basi Rojak mengintruksikan darurat perang kepada militer yang dipimpin oleh para kerbau. Pasukan militer kebinatangan yang berpangkat kopral tidak tahu menahu tentang siasat para kerbau. Mereka dimanfaatkan oleh para kerbau sebagai martir, setelah itu kemudian disingkirkan dan dibunuh.

    Pada satu titik waktu, pasukan militer negara tepat dibawah kaki bukit Sigunggua berhadap-hadapan dengan masyarakat binatang yang dipimpin Bara dan Patua.  Moncong senjata milik negara bersiap menerbangkan peluru ke dada para pemuda revolusioner itu.

    Sementara masyarakat binatang hanya bermodalkan tombak, parang, ketapel, dan sedikit bedil milik militer yang membelot. Dua kekuatan yang tidak seimbang.

    Sebagaimana etika perang. Kedua pimpinan bertemu digaris netral. Mereka bernegosiasi untuk menemukan solusi tanpa perang.

    “Bagaimana bisa kau menghianati Piagam Sigunggua?” tanya Bara.

    “Sudah waktunya bagi para kerbau untuk naik ke puncak kekuasaan. Kami lelah menjadi budak manusia dan membajak sawah.”

    Rojak yang haus kekuasaan dan Bara yang menolak dipermainkan menjadikan perang sebagai pilihan terakhir. Mereka kembali ke barisan asal dan perang pun dimulai.

    Peluru demi peluru menghiasi petala, debu dan asap beracun mengaburkan sebagian pandangan. Karena begitu pekatnya udara, ada dari mereka yang matanya meloncat keluar. Deru senjata dan gema teriakan masyarakat menggetarkan tanah Sigunggua.

    Bara dan Patua saling berdekatan, menerkam dan menyeruduk musuh yang tertangkap matanya. Suasana begitu kacau. Sementara Rojak duduk manis di istananya. Bara dan Patua lari menuju istana dengan amarah yang menggebu-gebu. Dilihat oleh mereka Rojak yang duduk santai di atas singgasana. Mereka berlari sekencangnya, lalu menyeruduk dan menerkam Rojak. Seiring dengan itu dari arah timur, peluru terbang mengenai leher Patua. Patua tersungkur dan menghantam tembok. Darah mengalir deras dari lehernya, Patua sekarat. Melihat sahabatnya terkapar, Bara lari ke arah kerbau yang menembak Patua lalu menghabisinya dengan kukunya yang tajam, menggigit leher kerbau tersebut sekeras-kerasnya. Menunggu kematian sang kerbau air mata berlinang dari mata Bara.

    Di  depan sana, Rojak beringsut-ingsut berusaha melarikan diri. Tapi tubuhnya terluka parah. Bara lari ke arah Rojak, kali ini dengan taring yang berkilauan Bara menerkam leher Rojak. Darah segar memuncrat darinya. Sementara para kerbau dari delapan penjuru memberondong tubuh Bara dengan peluru—tapi, Bara tak sedikitpun mengendurkan gigitannya. Air matanya berlinang deras mengingat segala penghianatan Rojak yang telah membuahkan perang berdarah-darah. Rojak mati kehabisan darah, Bara mati dalam perlawanan.

  • Hakikat Cinta

    Oleh: agung h.

    Fenomena “budak cinta” telah tumbuh subur dikalangan generasi “digital”. Bagi mereka cinta hanya sekadar pertautan hati antara dua insan. Melakukan pacaran, dan kalau beruntung sampai menikah. Pada situasi ini, cinta menjadi semacam komoditi guna mendapatkan apa yang diinginkannya.

    Apabila ia gagal dalam usaha itu maka kalimat-kalimat galau yang tidak esensif akan berkeliaran ke mana-mana. Cinta dalam pandangan mereka haruslah terdengar oleh mahluk sejagat, yang berarti melemahkan kedudukan cinta dalam kerahasiaannya.

    Dalam pandangan Islam. Cinta tidak hanya terhenti di sana. Makna cinta di dalam Islam mesti memenuhi “segitiga cinta”: Tuhan—Manusia—Alam. Kecintaan kepada Tuhan teraplikasi dalam ketauhidan.

    Meyakini bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang pantas disembah dan di Agungkan. Kalau seseorang mencintai Tuhan, maka otomatis ia harus menjalankan sebaik-baiknya hubungan dengan sesama manusia dan alam sekalian. Inilah keparipurnaan cinta.

    Belakangan makna cinta telah dipersempit oleh pihak-pihak yang hanya mengerti cinta dalam tataran praksis (pertautan antara dua insan). Ada banyak sebab kenapa orang bisa berpandangan demikian—bisa karena tuntutan keluarga, lingkungan dan pola pikir.

    Dampak dari penyempitan makna cinta itu adalah mereka tidak lagi memandang setiap lapisan manusia dan alam sekalian sebagai sesuatu yang juga harus dicintai. Ketiadaan cinta terhadap keadilan dan kemajuan kolektif memosisikan ia sebagai generasi “apatis”.

    Karena ketiadaan cinta atas kolektif, fenomena sosial yang seringkali ganjil tidak dipandang sebagai masalah yang harus diselesaikan. Pada titik ini, lumpuhlah jiwa kritis-emansipatoris itu.

    Menurut Aristoteles, ada dua macam cinta diri. Yang pertama, kalau orang menginginkan uang, kedudukan terhormat dan nikmat jasmani bagi dirinya sendiri. Cinta diri semacam ini adalah cinta orang buruk. Yang kedua, orang mencintai yang luhur dan indah, dan ini diarahkan oleh akal budi . . . (Darwis al-Munzir, 2015: 49).

    Mencintai yang luhur dan indah sejatinya sifat dasariah daripada cinta. Cinta pada hakikatnya berwatak baik. Sementara “kecintaan terhadap yang buruk” adalah dorongan daripada hawa nafsu yang sebenarnya tidak sama sekali tersentuh oleh cinta.

    Misalnya, seorang pedagang yang menipu pembeli demi keuntungan yang berlipat ganda sesungguhnya bukan karena ia mencintai “uang”, tetapi karena dorongan daripada nafsunya. Kalau begini, di mana ruang bagi cinta di sana?

    Sama seperti ketika sebagian orang menuduh iblis berilmu. Kemudian tuduhan ini digunakan oleh sebagian orang untuk menyerang intelektual menara gading. Padahal sejatinya kedudukan ilmu itu mulia. Tidak bisa kita katakan iblis berilmu—kecuali sekadar berinformasi tentang riwayat langit dan dunia. Begitulah cinta diposisikan pada kasus di atas.

    Cinta memiliki kekuatan menggerakkan. Sekali lagi kita tekankan bahwa sesuatu yang digerakkan oleh cinta pastilah berbentuk luhur, baik atau indah. Sesuatu diluar keluhuran itu tidak layak mengatasnamakan cinta.

    Mohammad Iqbal bersyair tentang kedahsyatan cinta, (dalam, Suprapto, 2014):

    Cinta adalah nafas Jibril

    Cinta adalah hati al-Mustafa

    Cinta adalah utusan ilahi

    Cinta adalah gemilang hayat

    Cinta adalah api kehidupan

    Cinta adalah Plato yang menyembunyikan sakitnya pikiran

    Cinta adalah Mahmud yang merebut Somnath

    Kemudian kita bertanya tentang fungsi dari cinta. Sesungguhnya cinta itu menentramkan, cinta itu membahagiakan. Itulah sebabnya orang-orang rela bergerilya demi mendapatkannya.

    Kebahagiaan adalah sesuatu yang dialektis. Apabila langsung diusahakan, kebahagian akan menghindar, tetapi orang yang tanpa pamrih melibatkan diri dalam memajukan atau menyelamatkan sesama, dialah yang akan bahagia. . . (Darwis al-Munzir, 2015: 47).

    Inilah cinta yang dimiliki oleh orang-orang pergerakan. Menggadaikan kebahagiaan pribadi demi mencapai kebahagiaan kolektif. Tidak usah kita sebut satu persatu, hampir setiap founding fathers mengorbankan kebahagiaan dirinya untuk meraih pembebasan bersama.

    Mungkin tidak semua orang akan sepakat dengan pendapat ini. Tetapi untuk sekadar kita renungkan. Mencintai lawan jenis adalah hadiah kehidupan. Kau yang mencintai laki-laki dan kau yang mencintai perempuan tidak ada yang salah denganmu.

    Kita hanya perlu meluruskan sedikit niat baik itu. Kesalehan individual yang tercermin dalam keinginan kuat untuk menikah karena ingin menghindari zina adalah tujuan baik. Fenomena ini begitu subur hari ini. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang termarginalkan yang ada disekelilingmu, tidakkah kamu mencintai mereka?

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai