• Runtuhnya Cinta

    Selain virus yang dapat menyebar secara cepat. Krisis kesetiaan dan kesungguhan juga bagian dari penyakit yang mewabah.

    Tengok saja.

    Berita mengumumkan satu persatu politisi tersandung kasus korupsi. Ia tak setia pada amanahnya.

    Para pengusaha menyedot keringat para buruh lalu memakinya dengan balasan gaji yang tak seberapa . Ia menghianati kemanusiaan.

    Para dosen yang mempersulit proses belajar. Sesungguhnya ia sedang menghianati prinsip mencerdaskan.

    Para mahasiswa yang mencuri jawaban dari temannya. Sesungguhnya ia sedang menghianati dirinya sendiri.

    Intelektual yang menjual kepakarannya kepada penguasa dengan harga menghinakan. Ia rela mengkhianati pengetahuan.

    Seorang anak yang memenjarakan ibunya. Mengerikan. Pendurhaka yang menghianati nurani.

    Seorang ayah-ibu meremehkan kerendahan hati. Ia membusungkan ego di atas kewajiban. Ini juga bagian dari penghianatan.

    Aktivis menebalkan mukanya buat kekuasaan dan jabatan. Ia menghianati falsafah pergerakan.

    Tengok. Betapa krisis kesetiaan telah melewati batas-batas ruang. Kesungguhan telah enyah dari tempatnya.

    Maka tersebutlah suatu cerita yang sama maknanya:

    Setiap menemui malam // Seorang lelaki menaruh kepalanya di kaki seorang wanita // Merendahkan bahu di depan suaranya // Sesekali menyanyikan lagu-lagu bisu // Sesekali berkata-kata yang menggairahkan // Merubuhkan badannya di atas sajadah harapan // Sang lelaki gila tak sadar sedang menghianati kesadaran.

    Seorang perempuan pulau-pulau menebar benih kebanyak orang // Mengendap-ngendap merayu dengan bahasa qalbu dan buku-buku // Dialah penghianat suci di tengah malam.

    Demi luka yang diremas ketika sunyi. Di waktu terenyuhnya segala hati. Aku menghendaki cinta tercerabut dari akarnya.

  • Menyelam di lautan pseudo

    Oleh: Agung Hyt

    Di salah satu artikelnya. Bung Geger Riyanto menguliti habis para milenial inovator pengobral “mimpi”.

    Ruh dari artikelnya adalah Bung Geger hendak menunjukkan kepada kita. Bahwa orang-orang yang disebut milenial inovator itu tak pantas menjadi panutan. Lebih-lebih panutan dalam hidup berkehidupan.

    Sebab panutan memberi hidup secara jujur. Bukan secara tipu-tipu.

    Selanjutnya, Bung Geger menyatakan bahwa aktivitas bisnis para milenial inovator tak pelak berpegang pada kreatifitas. Namun di samping itu ia berkiblat kepada jaringan, senior dan segala “tangan-tangan tuhan”.

    Dan kurang ajarnya, mereka mengatasnamakan kreatifitas untuk memuji dirinya sendiri. “Kreatifitas yang membawa saya ke sini.”

    Sesungguhnya kreatifitas berperan sepersekian persen dalam menumpuk kapital dan bergaining selain yang paling penting itu “jaringan pengerek”. Bagaimana dengan nasib anak-anak desa yang tak mengerti dunia peraksesan?

    Setelah mereka memberi ceramah kepada anak-anak muda yang sedang hangat-hangatnya ingin menjadi terkenal dan dikenal. Anak-anak muda membawa hasrat dan sederet mimpi ngablu ketika pulang ke rumahnya.

    Di kamarnya dan disegala tempat anak muda tadi berbicara tentang masa depan yang “Baik dan membahagiakan” kepada teman-temannya.

    Katanya, “Kita akan menangkap masa depan seperti kakak-kakak milenial inovator.”

    Ia membangkitkan sebagian semangat anak muda dan memberi mereka harapan. Tapi sayangnya, ia belum juga menyadari bahwa apa-apa yang dibicarakan dan dilakukannya hanyalah kesemuan yang hakiki. Kesemuan adalah ciri khas orang-orang yang tergila-gila menjadi bintang di panggung kehidupan milenial.

    Karena kesemuan itu tak berbentuk. Ia cuma refleksi kesadaran. Maka itulah mengapa nilai semu jarang disadari oleh pengagum milenial ngablu.

    Sejauh ini, yang paling berseberangan dengan tokoh-tokoh milenial pseudo adalah para teman-teman dari kiri jalan. Atau kalau pembaca agak anti-kiri kita sebut saja manusia-manusia “pengagum kejernihan”.

    Mereka mengangkat “pedang” kepada virus milenial semu. Melalui tulisan yang tajam dan manis. Melalui diskusi-diskusi. Melalui praktik-taktik mereka menyatakan diri “memerangi kepseudoan”.

    Alasan-alasan mengapa ada pihak-pihak yang menolak habis milenial inovator-motivator tak lain adalah karena nilai kesemuan yang dibawanya. Orientasi bergerak mereka semata-mata buat terkenal dan kapital. Kalau dalam geraknya ada narasi nurani semata-mata hanyalah strategi pemasaran diri.

    Data demografis menunjukkan jumlah anak muda kita berjibun. Membuat kekhawatiran kita semakin mengemuka. Karena anak mudalah sasaran empuk para pengobral mimpi-mimpi. Mengiblatkan hidup sepenuhnya kepada eksistensi diri dan kapital. Inilah kebahagiaan hakiki bagi mereka–di luar ini ialah kegagalan.

    Sepatutnya para anak muda tak tergiur dengan yang demikian itu. Bahwa hidup bukan hanya tentang terkenal dan kapital cukuplah ini menjadi alarm bagi kita untuk tidak hanya menjadi pengikut tetapi juga pembela kaum yang takberdaya.

    Omong kosong rasanya mengatakan kita ini menaruh nurani pada kaum takberdaya sementara mengamini penyembahan berhala-berhala milenial inovator.

    Jalan di seberang berkerikil dan becek. Memilih bersandar pada nurani berarti harus siap menghadapi kesulitan di sana sini.

    Pemujian terhadap berhala manusia sesegera mungkin musti kita tanggalkan. Sepenuhnya menyandarkan hidup hanya kepada kejernihan.

  • Belantara Kota

    Oleh: Agung Hyt

    Sebagai pengembara yang tertahan di persimpangan jalan kehidupan, seringkali saya mendapati titik ini.

    Titik di mana saya seolah-olah berada di tengah padang pasir nan luas.

    Atau seperti si nelayan Diego yang bertarung dengan ikan marlin di tengah bentangan samudera tanpa siapa pun.

    Atau bagaikan seorang lelaki yang terpisah dari rombongan petualang di dalam kerimbunan belantara hutan yang maha mencekam.

    Entahlah, semua bagaikan orang asing.

    Entah kalimat mana lagi yang laik menggambarkan seorang petualang hilang dengan cita-cita setua langit.

    Saya mendongak ke atas, mendadak langit membuka dirinya menyaksikan mulut tuan-tuan terhormat berkata-kata congkak.

    Saya menengok ke kanan. Semua orang tertunduk menutupi kepalanya dengan kepura-puraan. Memanjangkan lidahnya dan melipat tangannya di antara dada dan perut.

    Waktu saya menoleh ke kiri. Hal yang sama pun terjadi.

    Lalu saya tidak melihat ke mana-mana. Di sanalah saya menemukan seorang lelaki yang mengkhawatirkan.

    Kami duduk di tepi danau kota dengan sebatang rokok yang masih berupa keinginan. Kepulan asap harapan keluar dari mulut dan seluruh tubuh kami.

    Di lain waktu, dalam persimpangan yang sama, dengan berhidangkan secangkir air mineral bercampurkan beberapa tetes air mata, kami tertawa di salah satu ruangan yang ada di ibu kota.

    Malam terasa gerah. Ia membuka kaosnya, saya mengikuti. Kami telanjang dada di hadapan persimpangan tanda tanya. Saling puji dan saling hina.

    Akhir-akhir ini kami benar-benar kehausan tertawa.

  • Hening Binal Pablo Neruda

    Aku ingin jadi keheningan

    Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada
    Dan kau dengar aku dari jauh, tapi suaraku tak menyentuhmu
    Seperti matamu yang mengalur hingga jauh
    Seperti ada sebuah kecupan yang mengunci mulutmu

    Seperti segalanya terpenuhi dengan jiwaku
    Kau menjelma dari segalanya, memenuhi jiwaku
    Engkau seperti jiwaku, kupu-kupu mimpi,
    Dan engkau seperti kata Melakoli

    Aku ingin jadi keheningan untukmu: dan kau berjauh jarak
    Suara itu seperti engkau meratap, kupu-kupu berbunyi seperti merpati
    Kau mendengarku dari jauh, suaraku tak mencapaimu:
    Biarkan aku datang padamu menjadi hening dalam sunyimu

    Dan biarkan aku bicara denganmu, dengan kesunyianmu
    Terang seperti lampu, seadanya bagai seutas cincin
    Engkau seperti malam, menyimpan keheningan dan konstelasi
    Sunyimu adalah bintang, memecil jauh dan bersembunyi

    Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada
    Jauh jarak itu penuh nestapa itu seakan kau telah mati
    Lalu hanya satu kata, satu senyuman, cukup sudah
    Dan aku bahagia, bahagia karena segalanya menyaru palsu~

    (8/1/2021/imperiumdaily.com)

    Menjaga keheningan

    Kini kita akan menghitung waktu
    ke puncak malam
    dan berhenti sejenak di sana
    untuk sekali memandang wajah bumi
    tanpa suara dalam bahasa apa pun
    berhenti sejenak saja
    membiarkan tubuh
    tak banyak bergerak

    akan tiba saat yang menakjubkan
    tanpa riuh, tanpa deru mesin-mesin
    kita berada dalam kebersamaan
    dalam keterasingan yang tiba-tiba

    Para nelayan di lautan dingin
    takkan melukai ikan-ikan paus
    dan lelaki pencari garam
    memandangi tangannya
    yang terluka

    Mereka yang mempersiapkan perang hijau,
    peperangan dengan gas,
    peperangan dengan api,
    kemenangan tanpa pemenang,

    akan meletakkan baju-baju bersih
    dan akan melangkah bersama para saudara
    di dalam bayang-bayang,
    tak melakukan apa pun

    Apa yang kuinginkan
    tak seharusnya membingkungkan
    Kehidupan seperti ini:
    Aku ingin tidak ada truk dengan kematian.

    Jika kita tidak tulus ikhlas
    untuk menjaga kehidupan kita
    yang terus bergerak,
    dan sekali saja tak melakukan apa pun,
    mungkin keheningan yang maha besar
    mungkin akan menyela kesedihan ini
    yang tak pernah memahami diri sendiri
    dan mengancam diri kita
    dengan kematian.
    Barangkali bumi bisa mengajarkan kita
    seperti ketika segalanya seakan mati
    dan kemudian terbukti hidup.

    Kini kuakan menghitung waktu
    ke puncak malam,
    dan kau tertinggal menjauh
    dadaku melangkah pergi~

    (balipost.co.id)

    Telanjang

    Telanjang
    Kau sesederhana satu dari kedua belah tanganmu
    yang halus, bersahaja, kecil, bening, dan melingkar:
    dengan garis bulan dan jalan masuk:
    Telanjang
    Kau selembut butiran gandum tanpa kemasan.

    Telanjang
    Kau sebiru malam di Kuba,
    dengan tumbuhan dan bintang-bintang di rambutmu;
    Telanjang
    Kau lapang dan kuning
    seperti musim panas di dalam sebuah gereja emas.

    Telanjang
    Kau setipis satu dari kuku-kukumu
    yang melengkung, halus, dan merah muda sampai hari ini lahir
    Dan kau kembali kepada dunia bawah tanah.

    Seolah-olah kau menyusuri terowongan panjang yang menyelimuti dan memasung:
    Kau cahaya terang yang meredup dengan hiasan
    yang jatuh di dedaunan
    Dan kembali menjadi sepasang tangan yang telanjang

    (SyahrulChelsky/medium.com)

  • Sejarah Canggung

    Oleh: Agung Hyt

    Setelah melobi bagian Tata Usaha kampus. Akhirnya, ia berkenan mengeluarkan surat bahwa aku benar sebagai mahasiswa kampus tersebut. Dengan surat ini, akan kucoba mencari jalan tikus. Barangkali ada celah agar bisa kutuntaskan apa yang telah kumulai. Kadang-kadang kita memang harus seperti tikus, tidak penting jenis makanannya, yang penting makan. Selepas itu, aku keluar berjalan ke arah parkiran, aku akan pulang ke kost dengan sepeda motor milik teman. Di perjalanan, perutku dikocok oleh ban yang sedikit baling. Tapi tidak dengan kepalaku, mataku sekadarnya saja melihat jalan, dibalik mataku itu ada sebentuk otak yang disesaki tentang ini itu, tentang kampung, dan segala tentang yang biasa dihadapi oleh mahasiswa kacau.

    Sesampainya di kos, kulepas sepatu, kuletak tas, kulepas batik hingga tersisa kaos hitam polos, lalu aku duduk di atas kursi plastik biru tosca. Daguku menyentuh dada.

    Tiga bulan sudah aku tidak menghubungi bapak-ibu. Kepalaku seperti terperangkap dalam asap pembakaran sampah, tiada waktu buat duduk tenang. Gelisah, gelisah. Aku mondar mandir. Kubongkar tasku berkali-kali, baju-baju kotor di dalam ember, seluruh ruangan kugerayangi, lantai bawah dan lantai atas. Berharap kutemukan uang tujuh ribu buat membeli pulsa. Aku duduk sejenak di kursi plastik tosca, mengendurkan dadaku yang sudah berat sejak seminggu lalu. Entahlah, sedikit saja aku bergerak terburu-buru sembari diikuti perasaan cemas dadaku akan terasa seperti dililit tali tambang kapal.

    Setelah dadaku terasa sedikit kendur, aku bangkit membongkar buku-buku yang berserak di etalase kaca, berharap kudapati uang tujuh ribu di antara celah-celah buku itu. Tetapi rasanya aku harus mengetuk kesadaranku, bahwa aku sedang tidak kelupaan menaruh uang. Aku duduk kembali, menurunkan kepala sampai daguku menyentuh dada.

    Aku khawatir bapak-ibu menganggapku anak sombong, karena tidak menelponnya selama itu, padahal satu bulan lalu, melalui saudaraku ibu mengirim uang satu juta. Sudah berkali-kali kubilang, jangan kirim uang. Tapi katannya ibu ketakutan aku tidak makan, dan, aku ketakutan ibu dipermainkan harapan.

    Uang itu habis. Lima Ratus Ribu buat temanku yang membutuhkan, Tiga Ratus Ribu untuk membeli buku, Dua Ratus Ribu buat menjaga hubungan baik dengan teman-teman. Sialnya, aku lupa menyisakannya buat membeli pulsa.

    Daguku masih menyentuh dada, bangkit, lalu aku pergi ke atas, lantai dua. Sekali lagi membongkar pakaianku, merogoh kantong demi kantong. Kuraih tas ransel yang sudah tergeletak berbulan-bulan, kubongkar setiap sudutnya secermat mungkin, “Aaa, alhamdulillah!” Kudapati uang dua ribuan sebanyak empat lembar. Aku bergegas membeli pulsa. Lalu membeli paket nelpon 20 menit.

    Mula-mula, saat sambungan telpon berdering, aku bingung mau membicarakan apa. Ibu mengangkatnya. Kutanya kabarnya, Apakah ibu sehat? Apakah ibu sudah makan? dan sepaket “basa-basi” lainnya. Kami berbincang sejenak, aku canggung, sepertinya ibu pun sama. Seolah-olah bagaikan pertanyaan wajib setiap kali menelpon, ibu bertanya tentang kapan aku wisuda. Kuberi jawaban yang menenangkan, “Doakan saja, bu, semoga dimudahkan.”

    Lalu ibu berkata, apakah aku mau bicara dengan bapak. Kukatakan, Ya. Suara bapak terdengar, saat bapak hendak bertanya langsung saja kupotong. Aku bertanya, bapak menjawab. Pertanyaannya sama seperti yang kutanyakan kepada ibu. Bapak tampak canggung, meski tidak secanggung ibu. Seperti sudah kehabisan bahan pembicaraan, lalu bapak berkata, “Kalau sudah wisuda, kau pulang saja. Bantu bapak menernak lele!”

    “InsyaAllah, lihat besok.” Aku menjawab.

    20 menit berlalu. 20 menit yang kaku. Tetapi aku lega, kewajiban mengabari sudah tuntas, setidaknya untuk bulan ini. Tinggal kewajiban berkata jujur dan apa adanya.

  • Hikayat Benci

    Oleh: Agung Hyt

    AKU melihat lelaki tua bertempur mulut di bawah pohon akasia. Aku berjalan mendekat buat menyimaknya. Sejurus kemudian dua lelaki tua itu terdiam dan mulai menatap diriku dengan sinis. Aku memberi isyarat tubuh bahwa aku tidak bermaksud mengganggu perdebatan mereka yang syahdu. Lalu aku duduk dan menyandarkan tubuh ke batang pohon itu—dan mereka melanjutkannya.

    “Kau harus mengerti, Freud, gagasanmu itu amat naif!” Ucap salah satu dari mereka. “Kenaifan itu dapat dilihat dari ketidakmampuanmu memilah jenis-jenis cinta. Jika cinta itu selalu didasari oleh seksualitas bagaimana dengan cinta kepada anjing kesayanganmu, kepada ibumu, dan kepada ide-ide abstrak yang tidak memiliki bentuk? Apa yang kau maksud itu tidak lain hanyalah terjadi pada jenis cinta erotis.”

    “Kupikir kau salah memahami maksudku, Fromm. Aku tidak sedang membahas cinta seluas itu. Aku membahas cinta dalam realitas yang terjadi pada anak-anak muda sekarang. Singkatnya pengertian cintaku kugali dari praktik cinta kebanyakan manusia modern. Kau bisa mengatakan bahwa cinta bisa tumbuh kepada hewan, kepada orangtua, dan kepada setiap orang yang kau anggap saudara dan teman. Tetapi faktanya, masyarakat lebih senang membicarakan tentang dua orang manusia yang menunggu malam bulan madu daripada membahas gagasan “Cinta Tuhan” yang terkesan berat. Di saat kapitalisme menyeret manusia ke dalam lembah keterasingan dan keterpisahan, kau pikir bagaimana membuat mereka bahagia kecuali menyadarkan mereka bahwa cinta atas dasar libido dan seksualitas adalah jalan menuju puncak kebahagiaan?“

    “Dengan cara seperti itu kau hanya akan membuat manusia semakin terasing, Freud. Kebahagiaan yang kau maksud hanyalah bersifat orgiastic—suatu kebahagiaan yang semu. Kalau begini, kalau cinta hanya sekadar buat mendapatkan kebahagiaan orgiastic, jika pada satu titik cinta atas dasar seksualitas itu tidak mampu ia capai; maka pilihan lainnya adalah melarikan diri ke rumah-rumah bordil, alkohol, keluh kesah, dan segala bentuk perilaku rendah.”

    “Ini adalah pilihan alternatif, Fromm. Kita tidak tahu kapan kapitalisme akan berhenti menyiksa manusia. Selama dalam periode yang tidak pasti itu kau harus memberi pilihan alternatif kepada manusia agar ia dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan sekali pun itu bersifat semu. Satu hari merasakan bahagia itu lebih baik, Fromm, daripada terasing selamanya.”

    Sejurus kemudian, mereka mengakhiri perdebatannya. Kedua lelaki tua itu duduk di antara aku. Sejenak suasana diliputi keheningan, helaan nafas mereka menyamarkan siur angin yang menyelinap di antara daun yang berguguran. Tanpa rencana, lidahku mengeluarkan pertanyaan, “Ia mengetahui segala keburukanku, apakah mungkin ia akan senantiasa mencintaiku?”

    Mereka menatapku, lalu lelaki tua yang bernama Fromm tadi menjawab, “Cinta tak dapat lahir dari ketidaktahuan. Semakin besar pengetahuan melekat dalam sesuatu, hanya ada dua kemungkinan, ia akan mencintaimu atau, jika kau tidak beruntung, ia akan membencimu.”

    Jawaban si tua Fromm menghujam dadaku. Seharusnya aku tidak usah bertanya apa-apa. Sekarang, aku dibayangi tanda tanya, apakah dia mencintaiku?

    Tiba-tiba dari arah depan segerombol burung gereja mendarat di ranting pohon tempat aku bersandar. Kicaunya seakan-akan membawaku ke alam lain. Dalam hitungan detik, aku telah berpindah alam, mataku terbuka, cahaya menembus celah jendela kamarku, burung-burung di luar rumah berkicau nyaring, membangunkanku dari mimpi yang panjang. Lucu sekali, hanya mimpi.

    Sejak hari itu, jawaban si lelaki tua Fromm membayangi ke mana pun aku pergi. Ingin rasanya aku membuktikan perkataannya. Tetapi satu-satunya cara adalah dengan menanyakannya langsung kepada Syarifah.

    Bagaimana caranya? menatap matanya saja aku tak kuat. Keberanianku mengkerut malu. Apalagi di tubuhnya mengalir darah Hassan Rahimahullah. Sementara darahku sekumpulan keringat para buruh.

    Di suatu waktu, di dalam kelas, aku hanya berani melihatnya melalui sudut mataku, pantulan wajah lelahnya, mata teduhnya saat jari jemarinya menulis tugas tanpa lelah.

    Ingin rasanya aku bercakap-cakap dengannya saat orang-orang sedang terlelap, lalu menanyakan satu persatu perkara hati yang amat serius.

    Perjumpaan kami selalu saja diselimuti kebisuan, padahal begitu ramainya yang mencoba bercakap-cakap dengan dirinya. Aku memilih jalan dingin, seolah-olah tidak memperdulikan keberadannya, sekali pun hanya kami berdua saja di antara meja-meja itu. Ah, betapa pecundangnya aku.

    Kadang-kadang aku menerka-nerka alam pikirnya dan mencoba menafsirkan gerak matanya, tetapi yang terbaca kemudian hanyalah pancaran kebencian atas diriku. Selalu saja begitu setiap kali musim tugas datang.

    Setiap di pinggiran malam, aku mengadukan semuanya kepada Tuhan pemilik alam. Memohon jalan keluar atas pergolakan hati. Bibirku bergumam; Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, jika dengannya aku dapat menempuh jalan pergerakan ini dan melahirkan anak-anak peradaban, maka permudahlah jalanku menujunya.

    Pada suatu malam sehabis aku mengirim pesan kepada Tuhan. Aku berniat buat mengirim pesan singkat kepada Syarifah. Jawabannya amat aku butuhkan, sebelum aku semakin mampus digempur keresahan.

    Kukatakan kepadanya:

    Salam…

    Syarifah, fakta bahwa saya bukan laki-laki yang baik, rasanya tidak asing bagimu. Engkau melihat dan menyaksikan setiap ketidaksempurnaanku, dan bahwa memang demikianlah saya. Maka karena itu tidak perlu rasanya saya menjelaskan berpanjang-panjang kata buat meyakinkanmu.

    Atas alasan yang tidak dapat saya jelaskan sepenuhnya, bolehkah saya menikahimu?

    **

    Hatiku diselimuti gelisah sampai kemudian ia memberi jawaban setelah pesanku teranggur seharian:

    Wasallam…

    Kenapa kau berani menanyakan sesuatu yang sakral kepada perempuan yang tak pernah kau ajak bicara? Bagaimana mungkin kau tertarik kepadaku? Sementara aku tak pernah tertarik kepada lelaki dingin. Lihatlah betapa kacaunya bahasa permintaanmu. Seperti mawar beku.

    Ah, benar saja kata si tua Fromm. Syarifah muak kepadaku. Oh, Chairil, betapa perihnya terkoyak-koyak sunyi.

  • Relevansi “Falsafah Gerakan” Pasca Pandemi

    Oleh: Agum//

    Setiap “rezim pengurus” akan selalu berganti dan akan pergi menjadi masa lalu, tetapi Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai suatu lembaga yang berkonstitusi dan memiliki tujuan akan tetap ada, namun keberlangsungan PII sebagai lembaga, sebagai suatu “perahu pergerakan” tidak dapat tumbuh dan berjalan sendiri, harus ada “pilot, manajer, dan sebagainya.” yang menyelenggarakan misi-misi secara rapi demi ketercapaian tujuannya. Sementara itu sepanjang PII masih tegak berdiri, dasar filosofis (philosofische grondslag) harus ada mengiringi perjalanannya.

    Sekarang ini, mungkin, beberapa dari kita mengetahui Falsafah Gerakan (FG) sebagai salah satu dari 14 hierarki konstitusi PII. Setiap terselenggaranya training dokumen FG akan dibahas, baik secara serius atau sekadarnya. Dari namanya kita dapat menebak bahwa FG berisi pandangan filosofis yang berfungsi sebagai “pegangan” dalam pergerakan. FG memuat 4 pembahasan pokok yakni Muqaddimah, Pandangan Dunia Islam, Sistem Perjuangan serta Misi dan Eksistensi.

    Apabila kita membacanya—baiknya secara berulang-ulang—ada satu hal mendasar yang akan kita temukan yaitu, tidak ditemukannya posisi keberpihakan secara jelas dan tegas. Selain itu, kerancuan dan ketidakjernihan sebagian besar premis membuat FG seperti daun yang terlepas dari tangkai tapi tidak sempat menyentuh tanah karena diterbangkan oleh angin. Konklusi yang seharusnya diisi oleh kesimpulan yang mengikat dan jelas justru diisi dengan menawarkan permasalahan baru.

    Mengapa FG bisa sedemian rancu? Saya coba ajukan dua jawaban, pertama, sebagian besar dari kita tidak pernah mendapatkan penjelasan secara gamblang dari mana FG bermula. Bermula dalam artian, kita tidak pernah tahu bagaimana proses perumusannya, siapa yang merumuskan, apa yang diinginkan oleh si perumus serta dalam situasi yang bagaimana FG dirumuskan (situasi alam pikir si perumus dan realitas saat itu). Hal-hal di atas belum saya dapatkan jawabannya baik melalui lisan ataupun tulisan. Padahal pengetahuan historisitas amat penting guna memahami dan menafsirkan keinginan yang terkandung di dalam FG.

    Kedua, FG tidak berangkat dari realitas yaitu satu permasalahan terkait yang ingin diselesaikan. Misalnya pada bagian mukadimah perumus memberikan percontohan historis tapi sampai akhir kalimat mukadimah ia tidak kunjung mengangkat persoalan nyata. Saya pikir permasalahan nyata bakal diangkat dilembar berikutnya, ternyata tidak. Bahkan sampai kepada pembahasan Sistem Perjuangan Islam yang membahas 5 poin yaitu, Cita Perjuangan Islam, Cita-cita Masyarakat Islam, Tingkatan-tingkatan Perjuangan Islam, dari tiga poin ini penjabarannya bersifat abstrak tidak ada yang berangkat dari realitas, padahal judulnya sangat realistis, lalu bagaimana mungkin perumus dapat melanjutkan ke poin berikutnya yaitu tentang Metode Perjuangan, yang lebih rancu, perumus menempatkan pembahasan Problematika berada di bagian akhir. Saya tidak dapat membayangkannya, apakah karena FG itu bersifat filosofis sehingga tidak berangkat dari permasalahan fenomena?

    Memang, pada sebagiannya, FG membangun premis yang baik, misalnya di bagian Karakteristik Bangun Organisasi, pada pembahasan asas-asas, penjelasannya sistematis dan rapi, tetapi secara keseluruhan kita patut membawa FG ke forum peninjauan.

    Dan apabila saya keliru, ternyata di luar sana ada yang mengetahui historisitas FG dan mampu menjelaskan FG secara gamblang maka timbul pertanyaan berikutnya. Mengapa kepahaman atas FG itu tidak begitu masif di kalangan masyarakat PII?

    Bagaimana mungkin pengurus PII akan tahu ke mana harus membawa PII, sementara Philosofische grondslag-nya saja tidak tentu asal dan keinginannya? Maklum apabila kemudian dalam arus kehidupan yang semakin liar ini PII terseok-seok dan kelimpungan menentukan arah-sikap. Benar jika dikatakan kita perlu pribadi-pribadi yang “aksi”, tetapi jangan sampai makna “aksi” itu justru membuat PII menjadi “organisasi seremonial” tanpa roh dan menjauhkannya dari tujuan “kesempurnaannya” disebabkan tidak pahamnya para kader atas dasar filosofis, arah-tujuan dan metode perjuangan PII.

    Mengapa Philosofische grondslag sangat penting? Karena ia akan menjadi jati diri yang akan mengilhami setiap perilaku para kader yang kemudian menentukan “perilaku kelembagaan” dari waktu ke waktu. Tanpa philosofische grondslag yang jernih dan terpahami oleh seluruh pengurus dan kader, kita akan semakin kehilangan arah-tujuan pergerakan dalam gelombang ketidakpastian situasi yang kian memprihatinkan.

    Pada permenungan dalam lingkaran pandemi ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang juga, mungkin, digelisahkan oleh sebagian orang yakni perlunya kita melakukan keberanjakan atau sekurang-kurangnya meninjau ulang dasar filosofis yang selama ini, mungkin, telah kita yakini kesakralannya. Terutama dalam rangka menghadapi segudang permasalahan “keorganisasian”. Problem keorganisasian yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, wilayah maupun daerah, maka di sana memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan “dasar filosofis” sebagai pemandu pergerakan, selain daripada pengurus yang berwatak ikhlas, serius dan “kudus”.

    Melalui tulisan ini, kita mengajak kepada seluruh masyarakat PII khususnya para instruktur, pejabat organisasi serta Pengurus Besar sebagai cerminan untuk mengambil langkah penyegaran, pembaruan atas philosofische grondslag PII; lalu memahaminya dan menyebarluaskannya kepada masyarakat PII yang digarap secara serius dan kudus.

    Soal kekudusan ini Joesdi Ghazali dalam bukunya “Islam dan Dunia Modern” memberi wejangan, ia menganjurkan kita untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat jauh sebagai refleksi dari fenomena isra’ mi’raj Rasulullah. Kata “perjalanan ke suatu tempat” di sini saya maknakan sebagai “perubahan dan keberanjakan”, katanya, “Pergilah ke suatu tempat dengan hati yang kudus, berangkatlah ke Miami, London atau Moskow dan pasanglah niat kudus sejak mulai berangkat. Tetapi kalau sudah sejak mula berangkat maksudnya sudah lain, berniat untuk memuaskan selera buruknya dan hawa nafsunya … Berarti dia sudah memilih jalan yang salah.”

    Karena dalam situasi semacam ini tidak dapat kita harapkan gerak tubuh dan pikiran “tak kudus” dalam penyelenggaraan organisasi apalagi dalam penyebarluasan nilai-nilai fundamental. Kalau pun kita paksakan, penyelenggaraan itu bakal tidak membangkitkan kesadaran para kader secara utuh, yang amat penting lagi adalah peran para penyelenggara organisasi untuk dapat secara cermat dan ikhlas dalam meneruskan Dasar Filosofis itu kepada setiap lapisan pengurus dan para kader binaan. Melalui peninjauan dan diseminasi Dasar Filosofis kiranya dapat diposisikan langkah ini sebagai spirit baru dan paradigma baru bagi PII dan para kader dalam gelombang ketidakpastian abad 21.

  • Bunyi yang Sembunyi

    Oleh: agung hyt

    Kita lihat, jalan ini semakin lama semakin buram. Bukan, bukan karena ia telah mengatakan suatu perkataan yang melumpuhkan semangat. Tapi karena secara nyata kita menyadari bahwa kita sedang berjalan di ruangan mewah dengan pakaian compang-camping di antara orang-orang yang wangi dan menarik.

    Setelah sekian lama kita menduga-duga dirinya. Dan menakar kemungkinan-kemungkinan ruang bagi kita, akhirnya dugaan dan penakaran kita itu kian hari kian berembun.

    Meskipun ini masih sebatas dugaan. Tetapi secara jelas kita telah melihat bahwa yang menginginkannya bukan hanya satu-dua. Kita perhatikan, dari keseluruhan itu kita lah yang paling kecil kemungkinannya.

    Selama ini pula kita telah memilih jalan sunyi. Pertama, karena kita serba kekurangan di sana sini. Kedua, karena kita belum melihat tanda “penyilahan”. Tetapi kita mengira alasan pertama adalah alasan yang paling kuat. Apabila ternyata ia memegang prinsip negosiasi dan diplomasi pun, apalah yang dapat saya tawarkan, kecuali sekadar keinginan kuat? Meskipun al-Mustafa telah memberi kriteria, toh saya tidak terlalu baik dalam agama.

    Meskipun perjumpaan secara nyata masihlah kaku dan dingin atau tidak mungkin. Tapi hampir setiap hari kita melihatnya melalui mata hati, kita melihat ia dalam meja, dalam kendaraan, dalam jalan, dalam air minum, dalam pohon, dan dalam mimpi-mimpi.

    Kadang-kadang kita diserang keinginan menjadi mereka. Lalu dengan penuh percaya diri menghampirinya dan mencoba berbasabasi. Tapi, sejak saya mulai waras, saya telah kehilangan kemampuan membual.

    Atau mungkin, kita memang ditakdirkan untuk jadi riuh di kegelapan, jadi bunyi yang bersembunyi.

    Mengikat keinginan-keinginan di sepertiga malam. Dalam samudera perbendaharaan kata.

  • Hikmah dan Perlawanan

    Oleh: Agum Hyt

    Sekarang, saya merasakan kata “hikmah” terasa dalam dan sarat makna. Sekarang, mendengar kata “hikmah” kepala saya bakal spontan menunduk dan mata berkaca-kaca—mencari-cari pertalian antara realitas dan pelajaran. Padahal dahulu, kita menganggap kata ini cuma pelarian bagi orang-orang yang kalah.

    Fenomena kemelaratan dan kesengsaraan baik dalam arti lahiriah maupun batin telah menyeruak ke dalam diri banyak manusia modern. Karena hal ini, tampil orang-orang yang menolak realitas dan memutuskan untuk melawan, lebih-lebih memberontak. Kawan-kawan saya yang baik hati, yang berada di kiri jalan adalah salah satunya.

    Saya memerhatikan dan membaca mereka. Saya menemukan suatu ketulusan dan jalan yang anti-mainstream pada mereka. Di saat orang-orang muda hanyut dalam “budaya massa” dan mendambakan popularitas, justru mereka mempertanyakan itu semua. Dalam konteks ketulusan dan kemanusiaan, jalan mereka tidak lagi perlu diragukan.

    Tapi, ada hal yang mengusik saya. Sisi lain yang saya lihat dari mereka. Dalam situasi yang cenderung diliputi keputusasaan, mereka mengolok-olok apa yang ada di luar dirinya. Bahkan, terkadang mereka mengeluarkan guyonan, “Kami lebih baik berada di neraka, daripada harus sesurga bersama ustaz kapitalis”. Pernah pada suatu ketika salah satu dari mereka mengatakan, “Bunuh diri adalah jalan yang baik, ketika kehidupan tak berpihak kepada kita”.

    Pada titik ini, apakah itu berarti saya memihak kepada penindas dan orang-orang curang?

    Tentu tidak sesederhana itu. Hak melawan adalah potensi dasar yang ada pada diri manusia. Meskipun pada tataran praktik tidak semua manusia akan melawan meski secara jelas sedang ditindas dan dipermainkan. Saya menyadari betul ada penghisapan dan permainan oleh otoritas yang merugikan manusia lain secara besar-besaran.

    Secara nurani dan sikap saya berada di pihak yang melawan. Tetapi, saya tidak ingin perlawanan itu justru terjatuh ke dalam ”jebakan iblis,” suatu perlawanan yang semu. Melawan sekadar melawan—iblis juga pernah melawan—bahkan kurang ajarnya ia melawan atasnama cinta dan kecemburuan. Akhirnya ketidakmampuan iblis menarik hikmah dari pembentukan Adam Alaihissalam membuat ia terkutuk sepanjang zaman.

  • Bungaisme

    alismu, ilalang bertangkai-tangkai yang dipermainkan angin

    dadamu, beribu-ribu bunyi yang maha sunyi

    matamu, nyala lilin di padang fatamorgana yang maha tanda tanya

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai