• Sejarah Canggung

    Oleh: Agung Hyt

    Setelah melobi bagian Tata Usaha kampus. Akhirnya, ia berkenan mengeluarkan surat bahwa aku benar sebagai mahasiswa kampus tersebut. Dengan surat ini, akan kucoba mencari jalan tikus. Barangkali ada celah agar bisa kutuntaskan apa yang telah kumulai. Kadang-kadang kita memang harus seperti tikus, tidak penting jenis makanannya, yang penting makan. Selepas itu, aku keluar berjalan ke arah parkiran, aku akan pulang ke kost dengan sepeda motor milik teman. Di perjalanan, perutku dikocok oleh ban yang sedikit baling. Tapi tidak dengan kepalaku, mataku sekadarnya saja melihat jalan, dibalik mataku itu ada sebentuk otak yang disesaki tentang ini itu, tentang kampung, dan segala tentang yang biasa dihadapi oleh mahasiswa kacau.

    Sesampainya di kos, kulepas sepatu, kuletak tas, kulepas batik hingga tersisa kaos hitam polos, lalu aku duduk di atas kursi plastik biru tosca. Daguku menyentuh dada.

    Tiga bulan sudah aku tidak menghubungi bapak-ibu. Kepalaku seperti terperangkap dalam asap pembakaran sampah, tiada waktu buat duduk tenang. Gelisah, gelisah. Aku mondar mandir. Kubongkar tasku berkali-kali, baju-baju kotor di dalam ember, seluruh ruangan kugerayangi, lantai bawah dan lantai atas. Berharap kutemukan uang tujuh ribu buat membeli pulsa. Aku duduk sejenak di kursi plastik tosca, mengendurkan dadaku yang sudah berat sejak seminggu lalu. Entahlah, sedikit saja aku bergerak terburu-buru sembari diikuti perasaan cemas dadaku akan terasa seperti dililit tali tambang kapal.

    Setelah dadaku terasa sedikit kendur, aku bangkit membongkar buku-buku yang berserak di etalase kaca, berharap kudapati uang tujuh ribu di antara celah-celah buku itu. Tetapi rasanya aku harus mengetuk kesadaranku, bahwa aku sedang tidak kelupaan menaruh uang. Aku duduk kembali, menurunkan kepala sampai daguku menyentuh dada.

    Aku khawatir bapak-ibu menganggapku anak sombong, karena tidak menelponnya selama itu, padahal satu bulan lalu, melalui saudaraku ibu mengirim uang satu juta. Sudah berkali-kali kubilang, jangan kirim uang. Tapi katannya ibu ketakutan aku tidak makan, dan, aku ketakutan ibu dipermainkan harapan.

    Uang itu habis. Lima Ratus Ribu buat temanku yang membutuhkan, Tiga Ratus Ribu untuk membeli buku, Dua Ratus Ribu buat menjaga hubungan baik dengan teman-teman. Sialnya, aku lupa menyisakannya buat membeli pulsa.

    Daguku masih menyentuh dada, bangkit, lalu aku pergi ke atas, lantai dua. Sekali lagi membongkar pakaianku, merogoh kantong demi kantong. Kuraih tas ransel yang sudah tergeletak berbulan-bulan, kubongkar setiap sudutnya secermat mungkin, “Aaa, alhamdulillah!” Kudapati uang dua ribuan sebanyak empat lembar. Aku bergegas membeli pulsa. Lalu membeli paket nelpon 20 menit.

    Mula-mula, saat sambungan telpon berdering, aku bingung mau membicarakan apa. Ibu mengangkatnya. Kutanya kabarnya, Apakah ibu sehat? Apakah ibu sudah makan? dan sepaket “basa-basi” lainnya. Kami berbincang sejenak, aku canggung, sepertinya ibu pun sama. Seolah-olah bagaikan pertanyaan wajib setiap kali menelpon, ibu bertanya tentang kapan aku wisuda. Kuberi jawaban yang menenangkan, “Doakan saja, bu, semoga dimudahkan.”

    Lalu ibu berkata, apakah aku mau bicara dengan bapak. Kukatakan, Ya. Suara bapak terdengar, saat bapak hendak bertanya langsung saja kupotong. Aku bertanya, bapak menjawab. Pertanyaannya sama seperti yang kutanyakan kepada ibu. Bapak tampak canggung, meski tidak secanggung ibu. Seperti sudah kehabisan bahan pembicaraan, lalu bapak berkata, “Kalau sudah wisuda, kau pulang saja. Bantu bapak menernak lele!”

    “InsyaAllah, lihat besok.” Aku menjawab.

    20 menit berlalu. 20 menit yang kaku. Tetapi aku lega, kewajiban mengabari sudah tuntas, setidaknya untuk bulan ini. Tinggal kewajiban berkata jujur dan apa adanya.

  • Hikayat Benci

    Oleh: Agung Hyt

    AKU melihat lelaki tua bertempur mulut di bawah pohon akasia. Aku berjalan mendekat buat menyimaknya. Sejurus kemudian dua lelaki tua itu terdiam dan mulai menatap diriku dengan sinis. Aku memberi isyarat tubuh bahwa aku tidak bermaksud mengganggu perdebatan mereka yang syahdu. Lalu aku duduk dan menyandarkan tubuh ke batang pohon itu—dan mereka melanjutkannya.

    “Kau harus mengerti, Freud, gagasanmu itu amat naif!” Ucap salah satu dari mereka. “Kenaifan itu dapat dilihat dari ketidakmampuanmu memilah jenis-jenis cinta. Jika cinta itu selalu didasari oleh seksualitas bagaimana dengan cinta kepada anjing kesayanganmu, kepada ibumu, dan kepada ide-ide abstrak yang tidak memiliki bentuk? Apa yang kau maksud itu tidak lain hanyalah terjadi pada jenis cinta erotis.”

    “Kupikir kau salah memahami maksudku, Fromm. Aku tidak sedang membahas cinta seluas itu. Aku membahas cinta dalam realitas yang terjadi pada anak-anak muda sekarang. Singkatnya pengertian cintaku kugali dari praktik cinta kebanyakan manusia modern. Kau bisa mengatakan bahwa cinta bisa tumbuh kepada hewan, kepada orangtua, dan kepada setiap orang yang kau anggap saudara dan teman. Tetapi faktanya, masyarakat lebih senang membicarakan tentang dua orang manusia yang menunggu malam bulan madu daripada membahas gagasan “Cinta Tuhan” yang terkesan berat. Di saat kapitalisme menyeret manusia ke dalam lembah keterasingan dan keterpisahan, kau pikir bagaimana membuat mereka bahagia kecuali menyadarkan mereka bahwa cinta atas dasar libido dan seksualitas adalah jalan menuju puncak kebahagiaan?

    “Dengan cara seperti itu kau hanya akan membuat manusia semakin terasing, Freud. Kebahagiaan yang kau maksud hanyalah bersifat orgiastic—suatu kebahagiaan yang semu. Kalau begini, kalau cinta hanya sekadar buat mendapatkan kebahagiaan orgiastic, jika pada satu titik cinta atas dasar seksualitas itu tidak mampu ia capai; maka pilihan lainnya adalah melarikan diri ke rumah-rumah bordil, alkohol, keluh kesah, dan segala bentuk perilaku rendah.”

    “Ini adalah pilihan alternatif, Fromm. Kita tidak tahu kapan kapitalisme akan berhenti menyiksa manusia. Selama dalam periode yang tidak pasti itu kau harus memberi pilihan alternatif kepada manusia agar ia dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan sekali pun itu bersifat semu. Satu hari merasakan bahagia itu lebih baik, Fromm, daripada terasing selamanya.”

    Sejurus kemudian, mereka mengakhiri perdebatannya. Kedua lelaki tua itu duduk di antara aku. Sejenak suasana diliputi keheningan, helaan nafas mereka menyamarkan siur angin yang menyelinap di antara daun yang berguguran. Tanpa rencana, lidahku mengeluarkan pertanyaan, “Ia mengetahui segala keburukanku, apakah mungkin ia akan senantiasa mencintaiku?”

    Mereka menatapku, lalu lelaki tua yang bernama Fromm tadi menjawab, “Cinta tak dapat lahir dari ketidaktahuan. Semakin besar pengetahuan melekat dalam sesuatu, hanya ada dua kemungkinan, ia akan mencintaimu atau, jika kau tidak beruntung, ia akan membencimu.”

    Jawaban si tua Fromm menghujam dadaku. Seharusnya aku tidak usah bertanya apa-apa. Sekarang, aku dibayangi tanda tanya, apakah dia mencintaiku?

    Tiba-tiba dari arah depan segerombol burung gereja mendarat di ranting pohon tempat aku bersandar. Kicaunya seakan-akan membawaku ke alam lain. Dalam hitungan detik, aku telah berpindah alam, mataku terbuka, cahaya menembus celah jendela kamarku, burung-burung di luar rumah berkicau nyaring, membangunkanku dari mimpi yang panjang. Lucu sekali, hanya mimpi.

    Sejak hari itu, jawaban si lelaki tua Fromm membayangi ke mana pun aku pergi. Ingin rasanya aku membuktikan perkataannya. Tetapi satu-satunya cara adalah dengan menanyakannya langsung kepada Syarifah.

    Bagaimana caranya? menatap matanya saja aku tak kuat. Keberanianku mengkerut malu. Apalagi di tubuhnya mengalir darah Hassan Rahimahullah. Sementara darahku sekumpulan keringat para buruh.

    Di suatu waktu, di dalam kelas, aku hanya berani melihatnya melalui sudut mataku, pantulan wajah lelahnya, mata teduhnya saat jari jemarinya menulis tugas tanpa lelah.

    Ingin rasanya aku bercakap-cakap dengannya saat orang-orang sedang terlelap, lalu menanyakan satu persatu perkara hati yang amat serius.

    Perjumpaan kami selalu saja diselimuti kebisuan, padahal begitu ramainya yang mencoba bercakap-cakap dengan dirinya. Aku memilih jalan dingin, seolah-olah tidak memperdulikan keberadannya, sekali pun hanya kami berdua saja di antara meja-meja itu. Ah, betapa pecundangnya aku.

    Kadang-kadang aku menerka-nerka alam pikirnya dan mencoba menafsirkan gerak matanya, tetapi yang terbaca kemudian hanyalah pancaran kebencian atas diriku. Selalu saja begitu setiap kali musim tugas datang.

    Setiap di pinggiran malam, aku mengadukan semuanya kepada Tuhan pemilik alam. Memohon jalan keluar atas pergolakan hati. Bibirku bergumam; Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, jika dengannya aku dapat menempuh jalan pergerakan ini dan melahirkan anak-anak peradaban, maka permudahlah jalanku menujunya.

    Pada suatu malam sehabis aku mengirim pesan kepada Tuhan. Aku berniat buat mengirim pesan singkat kepada Syarifah. Jawabannya amat aku butuhkan, sebelum aku semakin mampus digempur keresahan.

    Kukatakan kepadanya:

    Salam…

    Syarifah, fakta bahwa saya bukan laki-laki yang baik, rasanya tidak asing bagimu. Engkau melihat dan menyaksikan setiap ketidaksempurnaanku, dan bahwa memang demikianlah saya. Maka karena itu tidak perlu rasanya saya menjelaskan berpanjang-panjang kata buat meyakinkanmu.

    Atas alasan yang tidak dapat saya jelaskan sepenuhnya, bolehkah saya menikahimu?

    **

    Hatiku diselimuti gelisah sampai kemudian ia memberi jawaban setelah pesanku teranggur seharian:

    Wasallam…

    Kenapa kau berani menanyakan sesuatu yang sakral kepada perempuan yang tak pernah kau ajak bicara? Bagaimana mungkin kau tertarik kepadaku? Sementara aku tak pernah tertarik kepada lelaki dingin. Lihatlah betapa kacaunya bahasa permintaanmu. Seperti mawar beku.

    Ah, benar saja kata si tua Fromm. Syarifah muak kepadaku. Oh, Chairil, betapa perihnya terkoyak-koyak sunyi.

  • Relevansi “Falsafah Gerakan” Pasca Pandemi

    Oleh: Agum//

    Setiap “rezim pengurus” akan selalu berganti dan akan pergi menjadi masa lalu, tetapi Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai suatu lembaga yang berkonstitusi dan memiliki tujuan akan tetap ada, namun keberlangsungan PII sebagai lembaga, sebagai suatu “perahu pergerakan” tidak dapat tumbuh dan berjalan sendiri, harus ada “pilot, manajer, dan sebagainya.” yang menyelenggarakan misi-misi secara rapi demi ketercapaian tujuannya. Sementara itu sepanjang PII masih tegak berdiri, dasar filosofis (philosofische grondslag) harus ada mengiringi perjalanannya.

    Sekarang ini, mungkin, beberapa dari kita mengetahui Falsafah Gerakan (FG) sebagai salah satu dari 14 hierarki konstitusi PII. Setiap terselenggaranya training dokumen FG akan dibahas, baik secara serius atau sekadarnya. Dari namanya kita dapat menebak bahwa FG berisi pandangan filosofis yang berfungsi sebagai “pegangan” dalam pergerakan. FG memuat 4 pembahasan pokok yakni Muqaddimah, Pandangan Dunia Islam, Sistem Perjuangan serta Misi dan Eksistensi.

    Apabila kita membacanya—baiknya secara berulang-ulang—ada satu hal mendasar yang akan kita temukan yaitu, tidak ditemukannya posisi keberpihakan secara jelas dan tegas. Selain itu, kerancuan dan ketidakjernihan sebagian besar premis membuat FG seperti daun yang terlepas dari tangkai tapi tidak sempat menyentuh tanah karena diterbangkan oleh angin. Konklusi yang seharusnya diisi oleh kesimpulan yang mengikat dan jelas justru diisi dengan menawarkan permasalahan baru.

    Mengapa FG bisa sedemian rancu? Saya coba ajukan dua jawaban, pertama, sebagian besar dari kita tidak pernah mendapatkan penjelasan secara gamblang dari mana FG bermula. Bermula dalam artian, kita tidak pernah tahu bagaimana proses perumusannya, siapa yang merumuskan, apa yang diinginkan oleh si perumus serta dalam situasi yang bagaimana FG dirumuskan (situasi alam pikir si perumus dan realitas saat itu). Hal-hal di atas belum saya dapatkan jawabannya baik melalui lisan ataupun tulisan. Padahal pengetahuan historisitas amat penting guna memahami dan menafsirkan keinginan yang terkandung di dalam FG.

    Kedua, FG tidak berangkat dari realitas yaitu satu permasalahan terkait yang ingin diselesaikan. Misalnya pada bagian mukadimah perumus memberikan percontohan historis tapi sampai akhir kalimat mukadimah ia tidak kunjung mengangkat persoalan nyata. Saya pikir permasalahan nyata bakal diangkat dilembar berikutnya, ternyata tidak. Bahkan sampai kepada pembahasan Sistem Perjuangan Islam yang membahas 5 poin yaitu, Cita Perjuangan Islam, Cita-cita Masyarakat Islam, Tingkatan-tingkatan Perjuangan Islam, dari tiga poin ini penjabarannya bersifat abstrak tidak ada yang berangkat dari realitas, padahal judulnya sangat realistis, lalu bagaimana mungkin perumus dapat melanjutkan ke poin berikutnya yaitu tentang Metode Perjuangan, yang lebih rancu, perumus menempatkan pembahasan Problematika berada di bagian akhir. Saya tidak dapat membayangkannya, apakah karena FG itu bersifat filosofis sehingga tidak berangkat dari permasalahan fenomena?

    Memang, pada sebagiannya, FG membangun premis yang baik, misalnya di bagian Karakteristik Bangun Organisasi, pada pembahasan asas-asas, penjelasannya sistematis dan rapi, tetapi secara keseluruhan kita patut membawa FG ke forum peninjauan.

    Dan apabila saya keliru, ternyata di luar sana ada yang mengetahui historisitas FG dan mampu menjelaskan FG secara gamblang maka timbul pertanyaan berikutnya. Mengapa kepahaman atas FG itu tidak begitu masif di kalangan masyarakat PII?

    Bagaimana mungkin pengurus PII akan tahu ke mana harus membawa PII, sementara Philosofische grondslag-nya saja tidak tentu asal dan keinginannya? Maklum apabila kemudian dalam arus kehidupan yang semakin liar ini PII terseok-seok dan kelimpungan menentukan arah-sikap. Benar jika dikatakan kita perlu pribadi-pribadi yang “aksi”, tetapi jangan sampai makna “aksi” itu justru membuat PII menjadi “organisasi seremonial” tanpa roh dan menjauhkannya dari tujuan “kesempurnaannya” disebabkan tidak pahamnya para kader atas dasar filosofis, arah-tujuan dan metode perjuangan PII.

    Mengapa Philosofische grondslag sangat penting? Karena ia akan menjadi jati diri yang akan mengilhami setiap perilaku para kader yang kemudian menentukan “perilaku kelembagaan” dari waktu ke waktu. Tanpa philosofische grondslag yang jernih dan terpahami oleh seluruh pengurus dan kader, kita akan semakin kehilangan arah-tujuan pergerakan dalam gelombang ketidakpastian situasi yang kian memprihatinkan.

    Pada permenungan dalam lingkaran pandemi ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang juga, mungkin, digelisahkan oleh sebagian orang yakni perlunya kita melakukan keberanjakan atau sekurang-kurangnya meninjau ulang dasar filosofis yang selama ini, mungkin, telah kita yakini kesakralannya. Terutama dalam rangka menghadapi segudang permasalahan “keorganisasian”. Problem keorganisasian yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, wilayah maupun daerah, maka di sana memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan “dasar filosofis” sebagai pemandu pergerakan, selain daripada pengurus yang berwatak ikhlas, serius dan “kudus”.

    Melalui tulisan ini, kita mengajak kepada seluruh masyarakat PII khususnya para instruktur, pejabat organisasi serta Pengurus Besar sebagai cerminan untuk mengambil langkah penyegaran, pembaruan atas philosofische grondslag PII; lalu memahaminya dan menyebarluaskannya kepada masyarakat PII yang digarap secara serius dan kudus.

    Soal kekudusan ini Joesdi Ghazali dalam bukunya “Islam dan Dunia Modern” memberi wejangan, ia menganjurkan kita untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat jauh sebagai refleksi dari fenomena isra’ mi’raj Rasulullah. Kata “perjalanan ke suatu tempat” di sini saya maknakan sebagai “perubahan dan keberanjakan”, katanya, “Pergilah ke suatu tempat dengan hati yang kudus, berangkatlah ke Miami, London atau Moskow dan pasanglah niat kudus sejak mulai berangkat. Tetapi kalau sudah sejak mula berangkat maksudnya sudah lain, berniat untuk memuaskan selera buruknya dan hawa nafsunya … Berarti dia sudah memilih jalan yang salah.”

    Karena dalam situasi semacam ini tidak dapat kita harapkan gerak tubuh dan pikiran “tak kudus” dalam penyelenggaraan organisasi apalagi dalam penyebarluasan nilai-nilai fundamental. Kalau pun kita paksakan, penyelenggaraan itu bakal tidak membangkitkan kesadaran para kader secara utuh, yang amat penting lagi adalah peran para penyelenggara organisasi untuk dapat secara cermat dan ikhlas dalam meneruskan Dasar Filosofis itu kepada setiap lapisan pengurus dan para kader binaan. Melalui peninjauan dan diseminasi Dasar Filosofis kiranya dapat diposisikan langkah ini sebagai spirit baru dan paradigma baru bagi PII dan para kader dalam gelombang ketidakpastian abad 21.

  • Bunyi yang Sembunyi

    Oleh: agung hyt

    Kita lihat, jalan ini semakin lama semakin buram. Bukan, bukan karena ia telah mengatakan suatu perkataan yang melumpuhkan semangat. Tapi karena secara nyata kita menyadari bahwa kita sedang berjalan di ruangan mewah dengan pakaian compang-camping di antara orang-orang yang wangi dan menarik.

    Setelah sekian lama kita menduga-duga dirinya. Dan menakar kemungkinan-kemungkinan ruang bagi kita, akhirnya dugaan dan penakaran kita itu kian hari kian berembun.

    Meskipun ini masih sebatas dugaan. Tetapi secara jelas kita telah melihat bahwa yang menginginkannya bukan hanya satu-dua. Kita perhatikan, dari keseluruhan itu kita lah yang paling kecil kemungkinannya.

    Selama ini pula kita telah memilih jalan sunyi. Pertama, karena kita serba kekurangan di sana sini. Kedua, karena kita belum melihat tanda “penyilahan”. Tetapi kita mengira alasan pertama adalah alasan yang paling kuat. Apabila ternyata ia memegang prinsip negosiasi dan diplomasi pun, apalah yang dapat saya tawarkan, kecuali sekadar keinginan kuat? Meskipun al-Mustafa telah memberi kriteria, toh saya tidak terlalu baik dalam agama.

    Meskipun perjumpaan secara nyata masihlah kaku dan dingin atau tidak mungkin. Tapi hampir setiap hari kita melihatnya melalui mata hati, kita melihat ia dalam meja, dalam kendaraan, dalam jalan, dalam air minum, dalam pohon, dan dalam mimpi-mimpi.

    Kadang-kadang kita diserang keinginan menjadi mereka. Lalu dengan penuh percaya diri menghampirinya dan mencoba berbasabasi. Tapi, sejak saya mulai waras, saya telah kehilangan kemampuan membual.

    Atau mungkin, kita memang ditakdirkan untuk jadi riuh di kegelapan, jadi bunyi yang bersembunyi.

    Mengikat keinginan-keinginan di sepertiga malam. Dalam samudera perbendaharaan kata.

  • Hikmah dan Perlawanan

    Oleh: Agum Hyt

    Sekarang, saya merasakan kata “hikmah” terasa dalam dan sarat makna. Sekarang, mendengar kata “hikmah” kepala saya bakal spontan menunduk dan mata berkaca-kaca—mencari-cari pertalian antara realitas dan pelajaran. Padahal dahulu, kita menganggap kata ini cuma pelarian bagi orang-orang yang kalah.

    Fenomena kemelaratan dan kesengsaraan baik dalam arti lahiriah maupun batin telah menyeruak ke dalam diri banyak manusia modern. Karena hal ini, tampil orang-orang yang menolak realitas dan memutuskan untuk melawan, lebih-lebih memberontak. Kawan-kawan saya yang baik hati, yang berada di kiri jalan adalah salah satunya.

    Saya memerhatikan dan membaca mereka. Saya menemukan suatu ketulusan dan jalan yang anti-mainstream pada mereka. Di saat orang-orang muda hanyut dalam “budaya massa” dan mendambakan popularitas, justru mereka mempertanyakan itu semua. Dalam konteks ketulusan dan kemanusiaan, jalan mereka tidak lagi perlu diragukan.

    Tapi, ada hal yang mengusik saya. Sisi lain yang saya lihat dari mereka. Dalam situasi yang cenderung diliputi keputusasaan, mereka mengolok-olok apa yang ada di luar dirinya. Bahkan, terkadang mereka mengeluarkan guyonan, “Kami lebih baik berada di neraka, daripada harus sesurga bersama ustaz kapitalis”. Pernah pada suatu ketika salah satu dari mereka mengatakan, “Bunuh diri adalah jalan yang baik, ketika kehidupan tak berpihak kepada kita”.

    Pada titik ini, apakah itu berarti saya memihak kepada penindas dan orang-orang curang?

    Tentu tidak sesederhana itu. Hak melawan adalah potensi dasar yang ada pada diri manusia. Meskipun pada tataran praktik tidak semua manusia akan melawan meski secara jelas sedang ditindas dan dipermainkan. Saya menyadari betul ada penghisapan dan permainan oleh otoritas yang merugikan manusia lain secara besar-besaran.

    Secara nurani dan sikap saya berada di pihak yang melawan. Tetapi, saya tidak ingin perlawanan itu justru terjatuh ke dalam ”jebakan iblis,” suatu perlawanan yang semu. Melawan sekadar melawan—iblis juga pernah melawan—bahkan kurang ajarnya ia melawan atasnama cinta dan kecemburuan. Akhirnya ketidakmampuan iblis menarik hikmah dari pembentukan Adam Alaihissalam membuat ia terkutuk sepanjang zaman.

  • Bungaisme

    alismu, ilalang bertangkai-tangkai yang dipermainkan angin

    dadamu, beribu-ribu bunyi yang maha sunyi

    matamu, nyala lilin di padang fatamorgana yang maha tanda tanya

  • Bunga Ranah Minang

    Oleh: agung h. //

    Bunga berpangkat, jelas asalnya, tinggi ilmunya, setitik sakitnya

    melintasi berbagai tanah, gedung dan kehormatan

    kalah dalam rupa, pendekar dalam tahta

    oh, Bunga

    atasnama kehormatan-kehormatan yang tak terhitung banyaknya, kau injak kesungguhan-kesungguhan ini

    demi mimpimu yang panjang
    dan nuranimu yang kelam

    kau sebut bau sepuntung rokok tak layak membersamai Bunga ranah Minang yang wanginya melampui cakrawala

    kau bilang, kiri dan kanan akan selalu bertentangan, hitam dan putih tidaklah sepaduan

    mengapa tak kau coba pertemukan saja keduanya dalam genggaman ruh cinta yang abadi, oh Bunga, bidadariku yang lumpuh nurani

    kini kau menangis, merengek dan merangkak kepadaku, membawa segudang kesakitanmu

    benarlah kata banyak orang,
    kalau hati sudah kelam bagaimana pun upaya tak kan bisa menyadarkan

    Tibalah waktunya,
    kau mati oleh hasratmu sendiri

  • PINTA

    saya mengigau sepanjang malam

    apa-apa yang keluar dari mulut hanyalah dirimu

    raut muram wajah manis itu seakan-akan berkata-kata kutukan

    api-api kekecewaan menerbangkan diri membakar kesungguhan

    hilang, hilang saya dalam palung hatimu dalam sekejap

  • Pukul Dua Pagi

    Agak bingung sebenarnya apa yang harus saya tulis malam ini. Riuh bising memadati lintasan pikiran saya. Saya coba menangkap satu saja keriuhan itu, untuk saya tuliskan, tapi ia melaju, memutar-mutar begitu cepat.

    Akhirnya, saya teringat malam sebelum saya diangkut paksa oleh sekumpulan orang tak beradab. Malam itu saya baru pulang dari Tangerang Selatan, sekitar pukul 2 pagi. Saya tidak ingin cepat-cepat sampai ke asrama. Maka saya lajukan motor sehalusnya, selambat mungkin.

    Motor terus melaju, melewati Ragunan lalu berbelok ke kiri ke arah Mampang Prapatan, di ujung saya melihat penunjuk jalan bertuliskan “Menteng” disertai simbol ke lajur kanan. Saya memasuki jalan bawah tanah Kuningan, di temboknya yang berelief itu dipasang lampu yang dapat berubah-ubah warna, jalan bawah tanah itu terlihat sangat mewah. Agak 30 meter setelah motor saya memasuki jalan bawah tanah, seorang perempuan paruh baya memakai baju warnah putih, berjilbab hitam dan membawa tas ransel berjalan melawan arah di pinggiran jalan bawah tanah tersebut. Saya melihatnya tidak lebih dari 5 detik, tapi karenanya saya kepikiran berhari-hari.

    Saya mencoba untuk berpikir positif. Bahwa perempuan itu baik-baik saja. Tapi, upaya saya untuk berpikir positif terbantahkan oleh ketidak-masuk-akalannya . Seorang perempuan paruh baya, berpenampilan kumuh, berjalan tengah malam di jalan yang tidak lazim—jalan bawah tanah—membawa tas yang sekilas terlihat penuh. Di antara gedung-gedung kota, di antara tembok-tembok-tembok yang bernilai milyaran rupiah, langkahnya sendu.

    Aapakah ia seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang hilang? atau, ia seorang perempuan yang mencari kehidupannya? Tuhan, lindungi ia, kuatkan langkahnya, apabila ia sedang dalam pencarian pertemukan segera ia dengan pencariannya. Apabila ia memiliki hajat lain, mudahkan langkahnya.

  • Berbincang dengan Rumi

    Oleh: agung h.

    Pukul sebelas malam. Ia berjalan ke kamar mandi yang terletak agak jauh ke belakang, sekitar 30 meter, untuk mandi. Langkahnya seperti prajurit yang habis berperang, lunglai dan pasrah.

    Selesai mandi ia menuju kamar kontrakan yang terletak di lantai 2. Ia menghadap cermin lemari, mengeringkan rambut dengan handuk, dan menatap dirinya di kedalaman cermin itu beberapa saat. Ia termangu. Melihat seorang pemuda menyedihkan di dalam cermin sana. Matanya bagaikan perahu mini yang terombang-ambing di tengah lautan, tanpa kemudi, tanpa penumpang.

    Lalu, ia duduk di atas kursi dan meletak keningnya di atas meja yang dikelilingi buku-buku. Ia biarkan tangannya mengulai ke bawah tak berpangku. Dia mengetuk-ngetukan kepalanya ke atas meja itu. Selama beberapa saat.

    Sejurus kemudian ia bangun dari kepasrahannya dan meraih buku abu-abu yang di sampulnya terpampang lukisan seorang lelaki tua bersorban dan berjubah, mirip seperti sufi. Tertulis di sana, “Matsnawi Jalaluddin Rumi”.

    Dia buka lembar demi lembar buku itu. Ia baca baris demi baris. Kadang-kadang ia paham dengan kalimatnya, kadang-kadang ia bingung sendiri. Dia berusaha menerka-nerka di bagian sebelah mana ia bisa menemukan sosok Jalaluddin Rumi. Sebab, ia melihat keseluruhan buku itu adalah kisah-kisah acak yang tak tentu perhubungannya. Tapi dia, lelaki itu, tetap melihat kalimat-kalimat yang menggetarkan, menggugah, dan menusuk. Prosa-prosanya bernada “jalan tengah”, tapi kadang-kadang juga memuji akal.

    Ia menutup bukunya. Matanya memejam dan mengucap nama Jalaluddin Rumi secara lirih sebanyak tiga kali, ia membuka mata dan menatap tembok biru di depan. Lalu ia menoleh ke kiri. Tepat di tangga menuju ke lantai 3 ia melihat sesosok lelaki tua berjanggut, bersorban dan berjubah duduk di anak tangga ke dua dari bawah. Lelaki tua itu menatapnya dalam, tanpa kedip. Matanya teduh dan wajahnya seperti suasana jingga di sore hari di tepi pantai, sangat tenang.

    Si lelaki ketakutan, keringatnya menetes di pelipisnya. Tiba-tiba saja ia diserang gerah saat lelaki tua menghampiri dirinya. Sontak ia berdiri dan bersandar ke tembok, ia ketakutan, seperti sedang ditodong bedil tentara.

    “Jangan takut?” Ucap si lelaki tua.

    “Kau siapa?”

    “Baru saja kau membaca namaku, sekarang sudah lupa?”

    “Jalaluddin Rumi?”

    “Ya. Adakah yang ingin kau sampaikan?”

    Sang lelaki terdiam. Ia kebingungan. Ia tak ingin melepas kesempatan langka ini. Biar saja sembarang bertanya. Lalu sang lelaki berkata, “Mengapa engkau menulis?”

    “Hmm, haruskah aku menjawabnya?”

    “Ya”

    “Jika aku tidak menulis, kau tidak akan mengetahui dan menyebut namaku.”

    “Hanya itu?”

    “Hikmah dan nasihatku tak akan sampai kepada kalian. Dari mana kalian akan berwatak hati-hati kecuali dari kisah masa lampau yang tertulis?”

    “Hanya itu?”

    “Pada masaku ada banyak orang yang menulis. Dan tidak setiap yang menulis mengetahui keseluruhan makna hidup ini. Mereka memiliki ilmu pada bidangnya masing-masing. Siapa yang akan menuliskan anjuran kebijaksanaan?”

    “Hanya itu?”

    “Menyampaikan kebaikan dan mengingatkan batasan-batasan.”

    “Hanya itu?”

    “Sudahkah kau menulis?” Tanya Rumi menimpali.

    “Aku tak bisa menulis, dan tak pernah ingin untuk menulis.”

    “Lalu untuk apa kau membaca?”

    “Untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang sepertimu.”

    “Apa yang kau dapat dari mengetahui?”

    “Kebijaksanaan”

    “Kau tak bisa menjadi bijaksana jika tidak menyampaikan kebaikan kepada orang lain.”

    “Apakah berbuat baik harus dengan menulis? Dengan membaca bukumu dan buku lainnya, aku dapat menahan diri untuk tidak bercepat mulut, berwajah penipu, dan berlidah dusta.”

    “Kebaikanmu akan berlipat-lipat jika kau iringi dengan menulis, dan menebarkannya kepada orang-orang.”

    “Ok, kita lupakan saja perdebatan yang ini.” Ucap si lelaki, “Bagaimana kau memandang perempuan? Apakah ombak kebijaksanaanmu dapat menyentuh bibir akal perempuan yang sedang jatuh cinta?”

    “Baiknya, pertanyaanmu yang ini kau ajukan kepada perempuan?”

    “Kenapa bukan kau saja yang menjawabnya. Bukankah engkau seorang bijak?”

    “Kau bertanya kepada seorang lelaki, sama sepertimu,” jawab Rumi, “Ah, tampaknya pembicaraan ini sudah terlalu jauh.”

    Sejurus kemudian sang lelaki mendengar suara azan yang samar-samar, dan tiba-tiba Rumi menghilang, meninggalkan bayang berupa asap putih tipis. Sontak sang lelaki tersadar dari mimpinya yang klasik diikuti suara azan yang semakin jelas.

    Sesaat sang lelaki linglung, dia berusaha mengingat-ingat, terakhir kali dia mengetuk-ngetuk kepalanya ke atas meja, tubuhnya yang kelelahan sehabis mengelilingi kota Jakarta tanpa disadari membuatnya tertidur.

    Sejurus kemudian sang lelaki mengusap muka, mengucap Hamdallah, lalu berjalan mengambil wudhu untuk solat subuh.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai