• Perihal Ketidakpercayaan

    Oleh: agung h.

    Apakah kamu pikir seseorang akan ujug-ujug tidak mempercayaimu tanpa sebab yang jelas? Apakah kamu pikir ketidakpercayaan itu otomatis bersifat naif? Apakah kamu pikir semua manusia di tanah pertiwi ini bodoh kecuali para birokrat, politisi, dan elit organisasi?

    Kamu boleh mengatakan bahwa segala hal yang kamu ambil dan putuskan adalah sebesar-besarnya buat kepentingan khalayak. Kamu boleh mengatakan bahwa kemajuan bangsa ini hanya bisa diraih dengan pembukaan kran investasi selebar-lebarnya. Serta kamu boleh mengaku-ngaku dalam banyak hal lainnya.

    Lalu memoles seluruhnya seolah-olah kamu memang bekerja dan berpikir untuk khalayak, untuk pembangunan, untuk kemajuan.

    Kamu-kamu adalah seorang penipu ulung. Tapi, sebagaimana kata pepatah lama, “tak ada gading yang tak retak.”

    Di sinilah kamu harus mengerti bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap bangsa-organisasi dalam arti yang sejujurnya dan sesungguhnya. Merekalah orang-orang yang melihat jalan penipuanmu, merekalah orang-orang yang dapat melihat mata-wajah dustamu.

    Mereka melihat bahwa di balik narasi kemajuan-pembangunan yang kamu utarakan itu tersembunyi maksud busuk yang sama sekali tak menyentuh orang-orang marjinal.

    Dengan bangga kamu tampil ke muka. Lalu berkata, “tidak ada yang pantas berkuasa kecuali saya.”

    Kamu berkata sembari dipenuhi kedunguan ucapan di sana-sini. Lucunya, kamu tetap tampil percaya diri. Mungkin inilah hasil dari pendidikan kepemimpinan yang selama ini mereka gembor-gemborkan itu, agar kamu tampil tanpa rasa malu meskipun begitu dungunya.

    Akhirnya, doktrin berjiwa kepemimpinan yang selama ini dipaksa masuk ke dalam diri orang-orang seperti kamu berhasil sepenuhnya menguasai kendali dirimu. Haus kuasa, haus pengakuan, haus pembangunan-penghancuran. Sungguh, keegoisan yang paripurna.

    Kamu telah melihat, lautan manusia di mana-mana. Menolak untuk percaya terhadap orang-orang seperti dirimu. Tapi, dengan tanpa rasa malu kamu membalikkan semuanya. Lalu kamu berkata, “Kalian tidak pantas bersuara, kalian perusak.”

    Keangkuhan yang bercampur dengan kedunguan mencerminkan dirimu secara sempurna.

    Mereka yang sehat akal dan nuraninya hanya bisa berdo’a. Semoga kamu-kamu mati oleh kata-katamu sendiri.

  • Pelacur Terhormat

    Oleh: agung h.

    Dia, teman yang sangat kuhormati dan kusayangi. Pertemanan kami masih terbilang baru, kenal di semester empat perkuliahan. Tapi meskipun baru, dia adalah teman yang baik untukku. Bagaimana tidak, hampir setiap hari dia mengingatkanku untuk solat, makan dan membersihkan diri. Di antara seluruh orang yang kumiliki, dia lah yang paling peduli.

    Memiliki teman seperti dia adalah cita-citaku sejak lama. Memang, dulu, aku pernah memiliki teman baik beberapa kali, tapi semua berakhir seiring dengan terungkapnya penghianatan mereka satu persatu.

    Untuk yang satu ini. Aku tidak ingin kehilangannya. Sungguh, aku sangat menyayanginya. Dan aku yakin dia pun sangat menyayangiku, terbukti dengan kepeduliannya kepadaku selama ini.

    Andaikan ada orang yang mencoba untuk merebutnya dariku. Jangankan harta, nyawa pun akan kupertaruhkan agar ia tetap di sini—menjadi teman baikku.

    Aku tak pernah rela dia disakiti. Menyakiti dia berarti menyakiti aku. Aku dan dia seperti telah menjadi satu-kesatuan. Kami terpisah dalam raga, tapi menyatu dalam ruh.

    Pernah pada satu waktu, seseorang lelaki apatis membuat teman baikku ini menangis. Padahal, teman baikku hanya ingin menyatakan perasaannya yang sudah lama terpendam. Lelaki apatis itu malah tidak menggubrisnya sedikit pun, wajahnya datar dan terkesan tidak memerdulikan. Melihat sikap lelaki itu, teman baikku lari ke belakang gedung kampus, berbelok ke kiri lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menangis sesenggukan. Aku mengejarnya dan berusaha menenangkannya. Kukatakan kepadanya, cinta yang suci dan luhur tidak layak diberikan kepada lelaki sombong seperti dirinya. Tidak lama kemudian, aku ikut menangis. Patah hatinya menyentuh nuraniku.

    Lain kisah, si tomboy yang sering mengganggu perempuan-perempuan kampus pernah pula menyakiti teman baikku ini. Dia mengatai teman baikku dengan sebutan si bodoh dan si dungu. Padahal aku tahu betul, teman baikku ini seorang perempuan yang vokal dan aktif dalam setiap diskusi, dan, para dosen juga menyukainya. Tak terima mendengar perkataan si tomboy, aku menjumpainya di kantin kampus, dari kejauhan kulihat dia sedang duduk di kursi kantin sambil memakan sesuatu, aku berlari, kuraih mangkok berisi bakso yang penuh dengan cabai lalu kutumpahkan kewajahnya. Si tomboy berteriak kepedihan dan berguling-guling di lantai seperti ulat bulu. Hatiku puas melihatnya.

    Yang lebih menyakitkan, ketika pada satu waktu, seorang lelaki menghina teman baikku. Lelaki itu mengatakan, bahwa temanku ini seorang pelacur. Aku sangat marah mendengarnya, mukaku memerah, orang yang sangat kuhormati dikatai pelacur. Kutampar muka lelaki itu dengan segudang cacian dihadapan masyarakat kampus. Bagaimana mungkin teman terbaikku dikatai pelacur, sementara aku tahu persis kesibukannya di mana saja. Kalau tidak di organisasi pasti di kampus. Kalau tidak di kampus pasti di organisasi. Sebagaimana aku. Sungguh, tuduhan tak berdasar.

    Itulah, kisah singkatku dan teman baikku. Semua itu terjadi sekitar delapan tahun lalu. Sekarang dia sudah menikah dengan lelaki jangkung berwajah segitiga, namanya Rama. Katanya, mereka sangat bahagia. Mereka sering bepergian ke luar negeri mengunjungi berbagai negara. Aku senang mereka bahagia, dan, cukuplah aku yang terluka.

    Tiga bulan sebelum kami wisuda. Aku dan Reni hampir saja terpilih mendapatkan beasiswa studi pascasarjana ke luar negeri. Universitas telah merekomendasikan kami berdua bersama dengan delapan belas mahasiswa lainnya. Kampus mengatakan, kami diberi waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh berkas. Apabila pengiriman berkas telat dari tanggal yang telah ditentukan, maka, akan dinyatakan mengundurkan diri.

    Di lima hari terakhir sebelum kuserahkan berkasku ke kedubes Jerman, Reni menghubungiku agar aku dapat membantunya untuk menyelesaikan berkasnya, dan akhirnya seluruh berkasnya selesai.

    Tapi ternyata, masalahnya belum selesai. Ibunya Reni masih berat hati untuk melepaskan Reni studi ke Jerman. Reni anak tunggal, ibunya tak ingin kesepian. Dalam hal ini aku tak bisa ikut campur, yang dapat kulakukan adalah aku berdoa kepada Tuhan agar ibunya Reni diberi keluasan hati.

    Di hari terakhir batas pengiriman berkas, aku menunggu Reni di sebuah kantin tidak jauh dari kantor kebudes Jerman. Berjam-jam aku menunggu, berkali-kali kutelpon, tetapi Reni tidak kunjung ada kabar. Ketika waktu hampir memasuki pukul lima sore,  Kuputuskan pulang ke rumah dan membawa seluruh berkas persyaratan kembali. Aku hanya mau kuliah ke Jerman jika bersama dengan Reni.

    Aku memahami kerumitan Reni dalam keputusan ini. Mungkin ibunya tak juga mengizinkannya. Dua hari kemudian, pukul delapan malam, aku menelpon kembali Reni. Dia mengangkatnya. Kutanya kabarnya, kesehatannya, dan berbagai pertanyaan kekhawatiran lainnya. Reni tak menjawab semua pertanyaanku. Dia langsung mengatakan, “Maaf Putri, aku sudah mengirim berkas di dua hari terakhir, ditemani oleh Rama.”

  • Perihal Ketuntasan

    Oleh: agung h.

    Kita bisa memandang semua hal secara subyektif, dan itu sah. Tapi ketika pandangan itu hendak mengemuka ke khalayak, ia harus melalui pertimbangan.

    Seperti sebuah balon, apabila ia ditiup tanpa perhitungan hanya akan berakhir dengan letusan.

    Pengetahuan kita tentang sesuatu secara menyeluruh dan tuntas membawa kita kepada dua pilihan, menolak atau menerima dengan lapang dada. Selama kita belum mengetahui sesuatu itu secara tuntas, kesimpulan dan keputusan yang kita ambil kemudian pastilah bersifat naif dan syak wasangka.

    Aku berdiri jauh dari duniamu, dan kau pun sebaliknya. Kita mengetahui masing-masing dunia kita itu secara terbatas dan tidak tuntas. Ketidaktuntasan ini berpotensi menimbulkan syak wasangka yang tidak pada tempatnya. Sekali pun dugaan itu bernada positif bagi si terduga, ia tidak positif menurut kondisi yang sebenarnya.

    Kau memintaku dan aku menginginkanmu. Apakah permintaanmu itu berdasarkan pemahaman dirimu atas fakta diriku? Atau sekadar asumsi yang cenderung subyektif.

    Kalau kemudian aku begitu ketatnya dalam hal “harus tuntas memandang sesuatu” karena aku tidak ingin kau mencintaiku berdasarkan ketidaktahuan. Dan, prinsip ini berlaku dalam banyak hal.

    Dalam nada yang tendensius, dibenci berdasarkan kepahaman lebih baik daripada dicintai berdasarkan ketidaktahuan.

    Karena orang akan berpikir dua kali untuk memberi nilai positif dan legowo manakala ia tahu sesuatu itu tidak sesuai dengan standar yang dia miliki.

    Ingatlah, bahwa cinta dan ambisi adalah sifat manusiawi dari seorang manusia. Tetapi, kita tidak ingin hal itu berakhir dengan kebencian dan kesinisan karena ketidaktuntasan kita dalam memahami sesuatu itu secara menyeluruh.

    Kau dan aku bersepakat bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun aku tidak tahu sejauh apa pengertianmu tentang hal itu. Bisa jadi kau memiliki standar sendiri tentang “pengertian” kekurangan dan kelebihan.

    Standarku tidak bisa kupaksa masuk ke dalam dirimu, begitu pun sebaliknya. Namun, berdasarkan standar ini kita boleh memilih: tetap mencintai atau beralih.

    Di sanalah, apa yang kita sebut sebagai “keikhlasan” itu diuji.

    Cepat atau lambat, mencintai berdasarkan ketidaktahuan hanya akan berujung kekecewaan.

    Kucintai bunga dengan hati, berdasarkan pertimbangan akal.

  • Siasat Para Kerbau

    Oleh: agung h.

    Itu sore yang dingin. Hujan baru saja reda. Para binatang keluar dari persembunyiannya di bawah rumah panggung milik bibi Olen. Setiap memasuki musim hujan, para binatang harus bertungkus lumus lari mencari perlindungan. Ada yang lari ke bukit Sigunggua, ada yang memanjat pohon trembesi, ada yang bernasib sial—hanyut terbawa banjir deras. Setiap kali turun hujan setidaknya tidak kurang dari 10 nyawa melayang.

    Pada suatu hari, mengingat kenyataan yang mengerikan ini, Patua seekor anjing muda bijaksana mengajak para binatang untuk berkumpul di bukit Sigunggua. Maksud dari ajakannya itu adalah untuk melakukan rapat dan membahas kelangsung hidup para binatang di tanah Batus. Patua memimpin pertemuan tersebut dan menyampaikan pendapat bahwa para binatang harus segera membentuk pemerintahan yang berpusat di bukit Sigunggua dengan alasan kehidupan diperumahan manusia yang semakin hari semakin membahayakan. Manusia meletak sampah dengan sembarangan, menggunakan kendaraan bermotor tanpa aturan. Sehingga polusi begitu tingginya, sungai-sungai dan selokan penuh terisi sampah yang menyebabkan banjir bandang setiap turun hujan.

    Para tamu undangan dari berbagai penjuru datang ke bukit sigunggua.

    Pertama-tama semua binatang berdebat keras. Ada yang mendukung dan ada yang menolak. Boga, seekor tikus mengatakan cukuplah para binatang hidup berdampingan dengan manusia dan mendapatkan kemurahan hati darinya. Boga khawatir manusia akan menganggap pemerintahan binatang ini sebagai bentuk pemberontakan lalu kemudian para manusia membantai mereka satu persatu. Utusan dari pihak kerbau berpendapat sebaliknya, bagi mereka usulan dari Patua sangat cerdas. Para Kerbau memandang ini sebagai hak otonomi kehewanan. Setiap mahluk yang Tuhan ciptakan memiliki hak untuk mengurusi hidupnya sendiri sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

    Setelah para kerbau selesai berpendapat, Bara angkat bicara mewakili utusan para macan. Bara menyampaikan bahwa untuk membentuk pemerintahan para binatang harus menyiapkan segala aturan tertulis yang berhubungan dengannya. Agar dalam proses berpemerintahan nanti tidak timbul hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Dan kata Bara, harus dibuat sebuah piagam untuk mengikat kesepakatan ini. Semua masyarakat akan dihormati kedudukan dan tindak tanduknya selama mengikuti aturan-aturan yang dicatat di dalam “Piagam Sigunggua”.

    Maka disepakatilah “Piagam Sigunggua” berisi 8 kesepakatan, yaitu:

    1. Menjunjung keadilan dan kemakmuran.

    2. Menjunjung kesetiakawanan.

    3. Melindungi betina dan anak-anak.

    4. Dilarang memakan daging.

    5. Tidak boleh ada persekutuan tanpa persetujuan bersama.

    6. Dilarang mengganggu manusia.

    7. Semua binatang dalam lindungan negara.

    8. Sesungguhnya piagam ini tidak membela binatang zalim dan khianat. 

    Pertemuan berlangsung selama 6 hari. Setelah menyusun konstitusi dan terpilihnya Rojak yang seekor kerbau sebagai presiden, pertemuan pun dibubarkan dengan misi lanjutan membentuk 7 wilayah bawahan yang dipimpin oleh seorang gubernur dan membangun pusat pemerintahan di Sigunggua selambat-lambatnya dalam tempo 3 bulan. Selain itu, para binatang bersepakat mengangkat Patua sebagai penasihat presiden.  Ketujuh gubernur itu, ialah: Falailai seekor babi dari Meranta, Henoka seekor semut dari Bengkala, Jendi seekor badak dari Saoloka, Bagiva seekor burung gereja dari Pelawas, Johan seekor kerbau dari Gasie, Arwada seekor kambing dari Buasinus, dan Bara dari Batus.

    Para gubernur kembali ke wilayahnya masing-masing untuk melanjutkan misi pemerintahan.

    Sementara itu, Rojak beserta para petinggi pemerintahan menemui para binatang ke berbagai penjuru untuk turut bergabung ke dalam negaranya. Dengan kelihaian diplomasi dan negosiasi Rojak berhasil mengajak kerajaan binatang yang selama ini terpisah-pisah bersatu dalam satu negara bernama “Sigunggua”.

    Setelah pemerintahan berlangsung selama bertahun-tahun Sigunggua berkembang pesat dan menjadi negara hewan yang disegani. Kini wilayah bawahannya telah berpuluh-puluh banyaknya. Dengan militer yang kuat, dan kedamaian serta kesejahteraan yang terjamin.

    Kebutuhan pangan rakyat Sigunggua tidak pernah tersendat, karena para kerbau membajak sawah dengan baik—sejak berdirinya negara Sigunggua, negara menerapkan aturan bahwa memakan sesama binatang adalah jenis kejahatan tingkat tinggi dan akan dihukum mati—untuk menyiasati ini mereka makan makanan hasil dari olahan yang dicampur rempah-rempah.

    Sejak 5 tahun tidak ada lagi korban yang disebakan oleh banjir bandang. Semua masyarakat Sigunggua dibawah pemerintahannya sama sekali tidak bersentuhan dengan kehidupan manusia.

    Begitu juga dengan para burung sebagai penyampai pesan yang cepat dan jujur, sehingga informasi pemerintah tidak kurang sedikitpun ketika sampai ke telinga rakyat.

    Para babi, harimau dan gajah bertugas menjaga hutan-hutan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, mereka adalah militer khusus yang bertugas menjaga hutan negara Sigunggua.

    Pun pendidikan di Sigunggua berjalan baik, tidak ada satupun dari anak-anak binatang yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak, semua ini berkat menteri pendidikan, yaitu Hugo Dasidus dari kalangan monyet.

    Dari keberhasilan itu semua tentu semua ini berasal dari satu tangan kuat, bapak presiden Rojak, “sungguh pilihan yang tepat mengangkat Rojak untuk memimpin negara Sigunggua,” begitu pikir masyarakat sekalian.

    Itulah gambaran negara Sigunggua yang adil, makmur dan maju. Setidaknya, sebelum terjadinya satu penghianatan besar.

    Pada suatu ketika Bara berjalan di taman istana presiden. Tanpa disengaja dia menemui para kerbau sedang berkumpul. Dia mendengar percakapan aneh lalu mengendap-ngedap dengan penuh kehati-hatian. Bara bersembunyi di balik pohon beringin besar. Dia menyimak perbincangan para kerbau. Rupa-rupanya, selama ini para kerbau bersiasat. Rojak beserta para kerbau telah menyusun satu rencana panjang, manakala negara Sigunggua telah besar dan kuat mereka akan membunuh seluruh binatang dan membentuk satu kekuasaan yang hanya berisikan para kerbau.

    Setelah mengetahui ini semua. Bara segera saja menemui Patua. Ia menyampaikan apa yang didengarnya itu. Patua menjawab, “kau jangan sampaikan ini kepada siapapun!”.

    “Mengapa?”

    “Kalau para kerbau sampai tahu bahwa kau telah mengetahui rencana busuk mereka. Kau akan mati.”

    “Apakah ini berarti kau sudah tahu rencana ini sebelumnya?”

    “Ya, sejak pertama kali kita bersepakat mengangkat Rojak jadi presiden.”

    “Mengapa kau tidak mengatakan ini?! sekarang, air sudah di leher!”

    “Aku…” Patua berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca, air menetes dari matanya. Lalu dia melanjutkan, “Ayo, kita lawan mereka!”

    Bara dan Patua berangkat menemui satu persatu para gubernur, menyampaikan hal ini kepada para gubernur yang dianggap belum terpengaruh oleh kepicikan para kerbau. Mereka pergi menemui para tetua masyarakat dan kesatria desa serta pejabat-pejabat negara yang masih memiliki hati nurani. Bara dan Patua menyampaikan pesan perlawanan. Akhirnya, terbentuklah dua kubu yang saling bertentangan. Bara dan Patua memimpin masyarakat binatang untuk melawan niat jahat para kerbau yang hendak memonopoli kekuasaan.

    Dihari berikutnya, telah sampai kabar kepada Rojak bahwa telah terjadi mobilisasi masyarakat oleh Bara dan Patua buat melawan pemerintah. Tanpa basa-basi Rojak mengintruksikan darurat perang kepada militer yang dipimpin oleh para kerbau. Pasukan militer kebinatangan yang berpangkat kopral tidak tahu menahu tentang siasat para kerbau. Mereka dimanfaatkan oleh para kerbau sebagai martir, setelah itu kemudian disingkirkan dan dibunuh.

    Pada satu titik waktu, pasukan militer negara tepat dibawah kaki bukit Sigunggua berhadap-hadapan dengan masyarakat binatang yang dipimpin Bara dan Patua.  Moncong senjata milik negara bersiap menerbangkan peluru ke dada para pemuda revolusioner itu.

    Sementara masyarakat binatang hanya bermodalkan tombak, parang, ketapel, dan sedikit bedil milik militer yang membelot. Dua kekuatan yang tidak seimbang.

    Sebagaimana etika perang. Kedua pimpinan bertemu digaris netral. Mereka bernegosiasi untuk menemukan solusi tanpa perang.

    “Bagaimana bisa kau menghianati Piagam Sigunggua?” tanya Bara.

    “Sudah waktunya bagi para kerbau untuk naik ke puncak kekuasaan. Kami lelah menjadi budak manusia dan membajak sawah.”

    Rojak yang haus kekuasaan dan Bara yang menolak dipermainkan menjadikan perang sebagai pilihan terakhir. Mereka kembali ke barisan asal dan perang pun dimulai.

    Peluru demi peluru menghiasi petala, debu dan asap beracun mengaburkan sebagian pandangan. Karena begitu pekatnya udara, ada dari mereka yang matanya meloncat keluar. Deru senjata dan gema teriakan masyarakat menggetarkan tanah Sigunggua.

    Bara dan Patua saling berdekatan, menerkam dan menyeruduk musuh yang tertangkap matanya. Suasana begitu kacau. Sementara Rojak duduk manis di istananya. Bara dan Patua lari menuju istana dengan amarah yang menggebu-gebu. Dilihat oleh mereka Rojak yang duduk santai di atas singgasana. Mereka berlari sekencangnya, lalu menyeruduk dan menerkam Rojak. Seiring dengan itu dari arah timur, peluru terbang mengenai leher Patua. Patua tersungkur dan menghantam tembok. Darah mengalir deras dari lehernya, Patua sekarat. Melihat sahabatnya terkapar, Bara lari ke arah kerbau yang menembak Patua lalu menghabisinya dengan kukunya yang tajam, menggigit leher kerbau tersebut sekeras-kerasnya. Menunggu kematian sang kerbau air mata berlinang dari mata Bara.

    Di  depan sana, Rojak beringsut-ingsut berusaha melarikan diri. Tapi tubuhnya terluka parah. Bara lari ke arah Rojak, kali ini dengan taring yang berkilauan Bara menerkam leher Rojak. Darah segar memuncrat darinya. Sementara para kerbau dari delapan penjuru memberondong tubuh Bara dengan peluru—tapi, Bara tak sedikitpun mengendurkan gigitannya. Air matanya berlinang deras mengingat segala penghianatan Rojak yang telah membuahkan perang berdarah-darah. Rojak mati kehabisan darah, Bara mati dalam perlawanan.

  • Hakikat Cinta

    Oleh: agung h.

    Fenomena “budak cinta” telah tumbuh subur dikalangan generasi “digital”. Bagi mereka cinta hanya sekadar pertautan hati antara dua insan. Melakukan pacaran, dan kalau beruntung sampai menikah. Pada situasi ini, cinta menjadi semacam komoditi guna mendapatkan apa yang diinginkannya.

    Apabila ia gagal dalam usaha itu maka kalimat-kalimat galau yang tidak esensif akan berkeliaran ke mana-mana. Cinta dalam pandangan mereka haruslah terdengar oleh mahluk sejagat, yang berarti melemahkan kedudukan cinta dalam kerahasiaannya.

    Dalam pandangan Islam. Cinta tidak hanya terhenti di sana. Makna cinta di dalam Islam mesti memenuhi “segitiga cinta”: Tuhan—Manusia—Alam. Kecintaan kepada Tuhan teraplikasi dalam ketauhidan.

    Meyakini bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang pantas disembah dan di Agungkan. Kalau seseorang mencintai Tuhan, maka otomatis ia harus menjalankan sebaik-baiknya hubungan dengan sesama manusia dan alam sekalian. Inilah keparipurnaan cinta.

    Belakangan makna cinta telah dipersempit oleh pihak-pihak yang hanya mengerti cinta dalam tataran praksis (pertautan antara dua insan). Ada banyak sebab kenapa orang bisa berpandangan demikian—bisa karena tuntutan keluarga, lingkungan dan pola pikir.

    Dampak dari penyempitan makna cinta itu adalah mereka tidak lagi memandang setiap lapisan manusia dan alam sekalian sebagai sesuatu yang juga harus dicintai. Ketiadaan cinta terhadap keadilan dan kemajuan kolektif memosisikan ia sebagai generasi “apatis”.

    Karena ketiadaan cinta atas kolektif, fenomena sosial yang seringkali ganjil tidak dipandang sebagai masalah yang harus diselesaikan. Pada titik ini, lumpuhlah jiwa kritis-emansipatoris itu.

    Menurut Aristoteles, ada dua macam cinta diri. Yang pertama, kalau orang menginginkan uang, kedudukan terhormat dan nikmat jasmani bagi dirinya sendiri. Cinta diri semacam ini adalah cinta orang buruk. Yang kedua, orang mencintai yang luhur dan indah, dan ini diarahkan oleh akal budi . . . (Darwis al-Munzir, 2015: 49).

    Mencintai yang luhur dan indah sejatinya sifat dasariah daripada cinta. Cinta pada hakikatnya berwatak baik. Sementara “kecintaan terhadap yang buruk” adalah dorongan daripada hawa nafsu yang sebenarnya tidak sama sekali tersentuh oleh cinta.

    Misalnya, seorang pedagang yang menipu pembeli demi keuntungan yang berlipat ganda sesungguhnya bukan karena ia mencintai “uang”, tetapi karena dorongan daripada nafsunya. Kalau begini, di mana ruang bagi cinta di sana?

    Sama seperti ketika sebagian orang menuduh iblis berilmu. Kemudian tuduhan ini digunakan oleh sebagian orang untuk menyerang intelektual menara gading. Padahal sejatinya kedudukan ilmu itu mulia. Tidak bisa kita katakan iblis berilmu—kecuali sekadar berinformasi tentang riwayat langit dan dunia. Begitulah cinta diposisikan pada kasus di atas.

    Cinta memiliki kekuatan menggerakkan. Sekali lagi kita tekankan bahwa sesuatu yang digerakkan oleh cinta pastilah berbentuk luhur, baik atau indah. Sesuatu diluar keluhuran itu tidak layak mengatasnamakan cinta.

    Mohammad Iqbal bersyair tentang kedahsyatan cinta, (dalam, Suprapto, 2014):

    Cinta adalah nafas Jibril

    Cinta adalah hati al-Mustafa

    Cinta adalah utusan ilahi

    Cinta adalah gemilang hayat

    Cinta adalah api kehidupan

    Cinta adalah Plato yang menyembunyikan sakitnya pikiran

    Cinta adalah Mahmud yang merebut Somnath

    Kemudian kita bertanya tentang fungsi dari cinta. Sesungguhnya cinta itu menentramkan, cinta itu membahagiakan. Itulah sebabnya orang-orang rela bergerilya demi mendapatkannya.

    Kebahagiaan adalah sesuatu yang dialektis. Apabila langsung diusahakan, kebahagian akan menghindar, tetapi orang yang tanpa pamrih melibatkan diri dalam memajukan atau menyelamatkan sesama, dialah yang akan bahagia. . . (Darwis al-Munzir, 2015: 47).

    Inilah cinta yang dimiliki oleh orang-orang pergerakan. Menggadaikan kebahagiaan pribadi demi mencapai kebahagiaan kolektif. Tidak usah kita sebut satu persatu, hampir setiap founding fathers mengorbankan kebahagiaan dirinya untuk meraih pembebasan bersama.

    Mungkin tidak semua orang akan sepakat dengan pendapat ini. Tetapi untuk sekadar kita renungkan. Mencintai lawan jenis adalah hadiah kehidupan. Kau yang mencintai laki-laki dan kau yang mencintai perempuan tidak ada yang salah denganmu.

    Kita hanya perlu meluruskan sedikit niat baik itu. Kesalehan individual yang tercermin dalam keinginan kuat untuk menikah karena ingin menghindari zina adalah tujuan baik. Fenomena ini begitu subur hari ini. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang termarginalkan yang ada disekelilingmu, tidakkah kamu mencintai mereka?

  • Perihal Keberpihakan

    Oleh : agung h.

    Dalam pandangan Ali-Syariati, manusia adalah mahluk dua dimensi, (terj. Syari’ati, 1995: 6). Pada hakikatnya manusia berasal dari sesuatu yang rendah: tanah dan air yang nista. Akan tetapi di lain sisi Allah meniupkan roh ke dalam diri manusia—dimensi spiritual, cenderung naik ke puncak kesucian. Pada titik ini manusia memiliki unsur keilahian. Karena manusia terbentuk dari dua sisi yang saling bertentangan memungkinkan manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih: antara kutub suci dan kutub kehinaan.

    Sebagaimana yang telah kita ketahui Allah menciptakan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi. Karena ciptaan-Nya terdahulu tidak mampu menjaga amanah yang telah diberikan—cenderung berbuat kerusakan.

    Ketika Malaikat mempertanyakan hal ini guna menemukan hikmah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. Allah tidak memberikan jawaban secara eksplisit. Jawaban Allah bersifat “simbolis”, bersifat “tanda tanya”. Apa kemudian yang akan terjadi?

    Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Allah mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut kemaslahatan yang jauh lebih kuat dalam penciptaan jenis mahluk ini daripada kerusakan-kerusakan yang disebutkan itu[1]. Disamping itu, karena manusia diberikan hawa nafsu maka dalam kehidupannya kontradiksi antara yang baik dan buruk pastilah akan selalu ada.

    Kita mengetahui kisah antara Habil dan Qabil. Jelaslah di sana, bahwa sifat merusak dan mendengki tercermin dari seorang Qabil (dimensi kehinaan) dan sebaliknya Habil (dimensi keilahian) tampil sebagai yang “tertindas”. Ketidakmampuan Qabil mengendalikan hasratnya membuatnya bertindak gegabah.

    Seiring dengan perjalanan manusia muncul Qabil-Qabil dan Habil-Habil berikutnya—penindas dan yang tertindas. Motifnya pun meluas tidak berhenti di persoalan “cinta” belaka. Tetapi persoalan “cinta” antara Qabil dan Habil menjadi pintu awal terjadinya kehinaan-kehinaan berikutnya yang berdasarkan hawa nafsu.

    Sekarang dapat kita saksikan dengan mata terbuka, manusia terbagi menjadi dua, manusia yang menuruti hasrat rendahnya dan manusia yang menghormati kehidupan.

    Kisah di atas dapat kita sebut sebagai kejahatan. Kejahatan pertama dalam sejarah umat manusia. Sekarang, dikehidupan yang semakin dinamis dan ruwet. Kejahatan itu berevolusi menjadi lebih rapi dan terstruktur—suatu kejahatan yang by design. Realitas sosial yang jelas-jelas menampakkan ketimpangan, ketidakadilan dan berwatak eksploitatif adalah fakta yang tidak perlu diperdebatkan lagi.

    Tugas kita sekarang adalah mengubah apa yang sudah terlanjur terjadi melalui jalan-jalan yang disanggupi. Adalah menjadi pilihan kita, berada dipihak Qabil atau Habil? Sesungguhnya hidup adalah tentang keberpihakan.


    [1] Tafsir Ibnu Katsir, al-Baqarah: 30

  • Obituari Layla Majnun

    Adakah kata yang lebih indah untuk menyebut suatu kegilaan selain kata “Majnun”?

    Adakah kata yang lebih romantis untuk menyebut suatu malam yang gelap gulita selain kata “Layla”?

    Sepintas, kita akan memandang Qais benar-benar gila. Termabuk-mabuk kepada seorang perempuan yang sebenarnya bisa ia selesaikan jika mengedepankan akal sehatnya.

    Begitu pula dengan Layla, betapa rapuhnya ia, ketika memutuskan mengurung diri di kamar karena seorang laki-laki.

    Kenapa manusia seringkali kalah dihadapan cinta? Sehingga memosisikan dirinya seakan-akan tak berbeda dengan mahluk yang tanpa fitrah akal sehat.

    Kadang-kadang manusia rela mengabaikan cinta atas nama cinta.

    Di bawah ini bolehlah kita simak satu hikayat tua tentang kegilaan cinta itu, satu legenda bangsa Arab yang berusia ribuan tahun yang ditulis ulang oleh Syaikh Nizhami:

    Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang
    diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa
    itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua
    usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

    Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

    Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.

    Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.

    Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-“Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.

    Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.

    Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.

    Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”

    Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun.

    Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun dudukduduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.

    Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.

    Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada
    Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya
    kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia
    berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.

    Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu
    oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk
    berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan
    Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka
    melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.

    Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti
    masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup
    mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin
    berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar
    suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin
    atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah
    berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang
    cintanya.

    Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya.
    Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas
    tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana
    kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick
    merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan
    kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.

    Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan
    datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu
    selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka
    bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang
    dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.

    Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar
    tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun,
    ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah
    orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang
    telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala
    sesuatunya.

    Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di
    rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari
    kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini
    ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.

    Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri
    drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh
    dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat
    baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka.
    Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat
    penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.

    Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”

    Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya
    adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling
    cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya.
    Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak
    mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan
    melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”

    Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan
    malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis
    tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun
    dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu
    lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk
    mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila.

    Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya
    rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak
    ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun
    yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan
    Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang
    di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.

    Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai
    berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke
    lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais
    dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan
    merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.

    Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pencinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.

    Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.

    Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh
    yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang
    hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan
    kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia
    mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan
    bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan.

    Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan
    terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun
    yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh
    jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan
    dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri
    dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari
    kehidupan liar dan buas itu.

    Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa
    Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala
    sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan
    Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti
    yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan perjalanannya.

    Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala
    suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan
    meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun
    masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.

    Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun
    dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab
    dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau
    menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat
    hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.
    Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku
    atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah
    mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah
    nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan
    dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.

    Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya.
    Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya,
    orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk
    mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api
    cinta yang membakar dalam kalbunya. Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang
    terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan
    kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan
    potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan
    syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan
    cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.

    Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya.
    Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak
    kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah
    dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.

    Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang
    kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih
    sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang
    ksatria gagah berani bernama ‘Amr, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya
    menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di
    kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.

    Drama tragis itu membuatnya demikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan
    bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun
    ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Ketika ‘Amr kembali ke kota
    kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan
    menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.

    Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan
    kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku
    akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak
    keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku
    untuk memberikan putriku pada orang gila itu”. Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia
    bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di
    antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat
    mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.

    Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia
    membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa
    kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian
    bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang
    dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun
    memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa
    mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.

    Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka dipihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu.

    Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati
    ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris.
    Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung
    dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya
    berakhir juga.

    Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya.
    “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuangbuang
    waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang
    bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya
    bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan
    menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang
    kepadanya.

    Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apaapa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.

    Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas
    perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta
    satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah
    memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang
    yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil
    namamu, Laila”.

    Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?

    Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di
    reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia
    mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia
    memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas
    yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan
    ranting di atas tanah. Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia
    mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang
    sanggup mengusik dan mengganggunya.

    Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.

    Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini
    pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh
    sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya,
    pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya
    makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas
    kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang
    dan sudah lama dirindukannya.

    Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali
    saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih
    satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun
    masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri
    wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar
    karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur
    dengan baik selama bermalam-malam.

    Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun,
    ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun…Majnun.

    Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian,
    berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di
    tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika
    kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan
    lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di
    kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.

    Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar
    seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.

    Konon, tak lama setelah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah SWT. membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukannya di sisi-Nya. Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil-Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur cinta-Ku?”

    Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Ia pun bertanya-tanya, jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah SWT., lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah SWT. mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”

    Sumber : Bayat & Ali Jamnia. 2007. Layla & Majnun: Cerita-cerita Menakjubkan dari Negeri Sufi. Cet. Ke-5. Penerbit Lentera.

  • Seperti Pasir

    Radhitu Billahi Rabba wabil Islami Dina wabi Muhammadin Nabiyya wa Rasula

    Wahai Tuhanku ! Tuhan pemilik langit dan bumi, Tuhan penguasa jiwa manusia. Aku mengaku lemah, seorang insan pemberang yang tak mampu menjaga hubungan.

    Tuhanku, ada begitu banyak suara penentangan. Ketidakmampuanku dalam bersikap sewajarnya dalam pandangan umum telah membuatku resah.

    Tuhanku, jika kesalahan sesama manusia adalah dosa yang harus selesai sendiri. Maka lembutkanlah hatiku, lapangkanlah jiwaku. KepadaMu, aku memohon segala kebaikan dan kasih sayang.

    Dalam resah yang tak menentu, kusimak syair seorang pujangga lama, Hani al-Hakami:

    Wahai Tuhanku ! hamba tidak pantas menjadi penghuni surga

    Namun hamba tidak kuat atas neraka Jahim

    Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

    Dosaku laksana pasir di lautan

    Umurku setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

    Maka terimalah taubatku wahai Dzat Yang Maha Agung

    Jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni 

    Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

    Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang di situlah urusan kehidupanku.

    Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan.

  • Penjaja Angin

    Oleh : agung h.

    Kemarin malam. Waktu saya sedang meriang-meriangnya. Tiba-tiba, kisah lama bergantian memerangi pikiran.

    Ketika mengingatnya. Pada sebagian kisah, saya tersenyum-senyum. Pada sebagiannya lagi, saya tertunduk murung.

    Saya teringat waktu pak Husen Sinaga yang seorang Nasrani bercerita di kelas. Saya bisa dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Dia lucu dan mesum.

    Begitu juga ketika Bleky (nama julukan, berarti anjing peliharaan) jadi bahan bulian teman-teman kelas. Kadang saya tertawa, kadang saya geram.

    Lalu pikiran saya terbang ke pedalaman desa, kami menyebutnya Lubuk Dalam. Di sanalah kisah paling dramatis seorang “master of romantic” pernah terjadi–berkali-kali.

    Satu persatu saya pandangi wajah kembang desa. Berbaris rapi di dalam pikiran saya.

    Saya ingat-ingat, kadang saya merasa malu, kadang merasa rindu.

    Saat saya tak sanggup mengingat mereka lagi. Pikiran saya terbang kepada sahabat-sahabat.

    Langsung saja, hati saya diserang kesedihan. Bahwa kadang manusia tak sungguh-sungguh mau bersahabat.

    Serta kisah-kisah masa silam seterusnya yang teramat panjang dan rumit. Yang tak mungkin tertuliskan.

    Saya berharap mereka yang tersebut di atas (dan, yang tidak) dapat hadir di samping saya hari ini. Seluruhnya. Jika tak mampu raganya, cukuplah kasih sayangnya.

    Nyatanya, kepala itu terasa seperti “penjaja angin”. Kita ditawari harapan-harapan, kesemuan-kesemuan. Sialnya, kita meyakininya.

    Hampir setiap hari dalam hidup ini. Saya sisakan waktu untuk memaknai kehidupan. Di mana saya tumbuh, di mana saya berjuang, di mana saya berakhir?

    Saya sering tersadarkan di akhir-akhir perjalanan. Kadang-kadang saat semuanya sudah terlambat.

    Kali ini saya tersadar “kembali”. Mengingatkan saya pada satu prinsip lama, “tidak ada yang dapat dipercaya”.

    Sekalipun, sesuatu itu mengatakan, “aku menyayangimu”.

  • Manusia Pergerakan dan Era Disrupsi

    Oleh : agung h.

    Tidak ada satupun founding Fathers yang menghabiskan hidup hanya di satu tempat. Pada umumnya mereka meloncat-loncat dari pulau yang satu ke pulau lainnya. Alasannya beragam, ada yang karena dikejar-kejar musuh (baca, kolonial). Ada karena tugas diplomatik. Ada juga karena suatu tugas kemanusiaan; kampanye kemerdekaan dan pembebasan, misalnya.

    Mungkin telah kita ketahui obituari seorang Ratu Zaleha, berjuang melawan kolonial Belanda sampai harus diasingkan ke pulau Jawa selama 31 tahun.

    Tidak jauh berbeda dengan Tan Malaka. Saking bersemangatnya membela kemanusiaan ia rela tidak hidup tenang. Dikejar-kejar musuh, bahkan sampai harus mati di tangan bangsanya sendiri.

    Begitu juga dengan pejuang lainnya seperti Cut Nyak Dien, Martha Kristina Tiahahu, Soekarno, Hatta, Pramoedya A. Toer sampai A.M Fatwa.  Dibuang ke pulau-pulau jauh tanpa sedikitpun mengeluh. Meskipun begitu, dari kejauhan dan keterasingan di antara mereka masih saja ada yang melakukan perlawanan melalui “tulisan” melalui “bacaan”. Kesemuanya adalah orang-orang yang menggadaikan kenyamanan hidup pribadi atas nama keadilan dan kemanusiaan.

    Bayangkan, kalau misalnya semacam mereka lebih memilih hidup sampai mati di kampung halamannya. Menikmati kopi pagi sambil mendengarkan lantunan suara burung kenari. Bayangkan juga kalau misalnya mereka memilih menjadi intelektual menara gading. Mungkinkah Indonesia akan menemui kemerdekaannya, dan terbebas dari cengkraman penindas yang ngga berakhlak?

    Bertarung dengan Ketidakpastian

    Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.” Kalimat itu adalah penggalan puisi Soe Hok Gie. Seorang manusia pergerakan yang berpandangan humanis.

    Konsep waktu terbagi dalam tiga bagian, yaitu “masa lalu”, “masa kini”, dan “masa depan”. Masa lalu adalah sesuatu yang pasti, ia dikatakan masa lalu karena pernah terjadi. Masa kini adalah waktu yang sedang kita jalani, “masa kini” akan langsung berubah menjadi “masa lalu” apabila ia berlalu walau hanya sedetik. Dari sini, dapatlah kita pahami bahwa “masa kini” juga bersifat pasti. Sementara masa depan, senafas dengan ucapan Gie bahwa ia bersifat “tanda tanya” atau masih menjadi sebuah kemungkinan.

    Orang pergerakan dikatakan sebagai orang pergerakan karena mengejar sesuatu di depan, suatu cita-cita untuk memperbaiki kondisi yang tidak ideal. Hal ini berhubungan dengan konsep waktu tentang masa depan. Di atas kita katakan bahwa masa depan bersifat “tanda tanya”. Tapi bukan berarti masa depan yang “tanda tanya” itu membuat “orang pergerakan” menjadi “orang kalahan”.

    Masa depan memang bersifat tanda tanya, tapi tidak juga kita katakan masa depan itu bersifat “mustahil”. Misalnya, seorang perantau yang bertarung di kota Metropolitan tidaklah dapat kita katakan perjuangannya “gagal” sebelum si perantau itu menilainya sendiri dengan tolok ukur yang dia punya. Andaikan pun perantauannya itu “gagal”, sesungguhnya tidaklah sepenuhnya. Karena kemampuannya bertahan hidup selama di kota metropolitan merupakan keberhasilan dalam kacamata “survival”.

    Orang pergerakan dengan tujuan mulianya, yaitu merubah kondisi yang tidak ideal kepada kondisi yang ideal. Tidaklah elok jika ia berhenti bergerak karena keberhasilan pergerakannya masih bersifat tanda tanya. Sementara itu, pergerakan berhubungan dengan kepentingan publik, bagaimana mungkin orang pergerakan akan mampu merubah kondisi menjadi ideal jika kediriannya belum selesai.

    Pergerakan Di Era Disrupsi

    Menurut KBBI disrupsi adalah hal yang tercabut dari akarnya. Dalam pengertian sederhana disrupsi adalah perubahan mendasar yang sangat liar. Ciri era disrupsi ialah tingkat persaingan semakin tinggi, baik antara yang konvensional dengan yang digital, maupun antara yang digital dengan yang digital. Contoh sederhananya persaingan antara Gojek dan Grab, atau antara ojek pangkalan dengan ojek online. Kata kuncinya, kecerdikan menentukan kebertahanan.

    Begitu juga dengan orang-orang pergerakan. Jika dahulu propaganda dan agitasi hanya dapat dilakukan melalui media cetak dan pidato. Sekarang telah lebih luas. Siapa saja bisa memengaruhi publik hanya dengan bermodalkan internet.

    Berdasarkan laporan terbaru We Are Social, pada tahun 2020 disebutkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada kenaikan 17% atau 25 juta pengguna internet di negeri ini. Berdasarkan total populasi Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% setengah penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya.

    Dari data di atas sangat wajar jika media sosial memiliki peranan penting dalam membentuk persepsi publik. Sebagai contoh, Donald Trump sering menggunakan twitter sebagai alat agitasi dan provokasi. Walhasil, bukan hanya publik Amerika yang dihebohkan tapi juga dunia.

    Di Indonesia, pada Agustus 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui siber drone memberitakan ada 474 isu hoax mengenai Covid-19 di berbagai platform digital. Karena isu hoax tersebut publik dibuat gamang dengan kevalidan informasi mengenai Covid-19. Dampaknya kini, publik tidak lagi mengindahkan anjuran-anjuran pemerintah dalam memerangi Covid-19.

    Berhubungan dengan pembahasan kita. Harus ada semacam kultur baru bagi orang pergerakan dalam bergerak. Bukan berarti menghilangkan cara-cara konvensional sepenuhnya. Tetapi, orang pergerakan harus memanfaatkan potensi internet dengan semaksimal mungkin. Orang pergerakan mesti berdiri di dalam dunia maya buat melawan informasi-informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Era Disrupsi itu semacam era “kartu liar”. Bisa jadi pergerakan di akar rumput seakan-akan masif dan berhasil. Namun, siapa yang tahu jika di dunia maya akar rumput itu juga dihajar habis-habisan. Maka, jangan heran jika pandangan publik bisa berubah seketika meskipun telah diberi pemahaman secara face to face.

    *Artikel ini telah terbit di Rahma.id

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai