• Perihal Keberpihakan

    Oleh : agung h.

    Dalam pandangan Ali-Syariati, manusia adalah mahluk dua dimensi, (terj. Syari’ati, 1995: 6). Pada hakikatnya manusia berasal dari sesuatu yang rendah: tanah dan air yang nista. Akan tetapi di lain sisi Allah meniupkan roh ke dalam diri manusia—dimensi spiritual, cenderung naik ke puncak kesucian. Pada titik ini manusia memiliki unsur keilahian. Karena manusia terbentuk dari dua sisi yang saling bertentangan memungkinkan manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih: antara kutub suci dan kutub kehinaan.

    Sebagaimana yang telah kita ketahui Allah menciptakan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi. Karena ciptaan-Nya terdahulu tidak mampu menjaga amanah yang telah diberikan—cenderung berbuat kerusakan.

    Ketika Malaikat mempertanyakan hal ini guna menemukan hikmah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. Allah tidak memberikan jawaban secara eksplisit. Jawaban Allah bersifat “simbolis”, bersifat “tanda tanya”. Apa kemudian yang akan terjadi?

    Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Allah mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut kemaslahatan yang jauh lebih kuat dalam penciptaan jenis mahluk ini daripada kerusakan-kerusakan yang disebutkan itu[1]. Disamping itu, karena manusia diberikan hawa nafsu maka dalam kehidupannya kontradiksi antara yang baik dan buruk pastilah akan selalu ada.

    Kita mengetahui kisah antara Habil dan Qabil. Jelaslah di sana, bahwa sifat merusak dan mendengki tercermin dari seorang Qabil (dimensi kehinaan) dan sebaliknya Habil (dimensi keilahian) tampil sebagai yang “tertindas”. Ketidakmampuan Qabil mengendalikan hasratnya membuatnya bertindak gegabah.

    Seiring dengan perjalanan manusia muncul Qabil-Qabil dan Habil-Habil berikutnya—penindas dan yang tertindas. Motifnya pun meluas tidak berhenti di persoalan “cinta” belaka. Tetapi persoalan “cinta” antara Qabil dan Habil menjadi pintu awal terjadinya kehinaan-kehinaan berikutnya yang berdasarkan hawa nafsu.

    Sekarang dapat kita saksikan dengan mata terbuka, manusia terbagi menjadi dua, manusia yang menuruti hasrat rendahnya dan manusia yang menghormati kehidupan.

    Kisah di atas dapat kita sebut sebagai kejahatan. Kejahatan pertama dalam sejarah umat manusia. Sekarang, dikehidupan yang semakin dinamis dan ruwet. Kejahatan itu berevolusi menjadi lebih rapi dan terstruktur—suatu kejahatan yang by design. Realitas sosial yang jelas-jelas menampakkan ketimpangan, ketidakadilan dan berwatak eksploitatif adalah fakta yang tidak perlu diperdebatkan lagi.

    Tugas kita sekarang adalah mengubah apa yang sudah terlanjur terjadi melalui jalan-jalan yang disanggupi. Adalah menjadi pilihan kita, berada dipihak Qabil atau Habil? Sesungguhnya hidup adalah tentang keberpihakan.


    [1] Tafsir Ibnu Katsir, al-Baqarah: 30

  • Obituari Layla Majnun

    Adakah kata yang lebih indah untuk menyebut suatu kegilaan selain kata “Majnun”?

    Adakah kata yang lebih romantis untuk menyebut suatu malam yang gelap gulita selain kata “Layla”?

    Sepintas, kita akan memandang Qais benar-benar gila. Termabuk-mabuk kepada seorang perempuan yang sebenarnya bisa ia selesaikan jika mengedepankan akal sehatnya.

    Begitu pula dengan Layla, betapa rapuhnya ia, ketika memutuskan mengurung diri di kamar karena seorang laki-laki.

    Kenapa manusia seringkali kalah dihadapan cinta? Sehingga memosisikan dirinya seakan-akan tak berbeda dengan mahluk yang tanpa fitrah akal sehat.

    Kadang-kadang manusia rela mengabaikan cinta atas nama cinta.

    Di bawah ini bolehlah kita simak satu hikayat tua tentang kegilaan cinta itu, satu legenda bangsa Arab yang berusia ribuan tahun yang ditulis ulang oleh Syaikh Nizhami:

    —

    Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang
    diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa
    itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua
    usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

    Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

    Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.

    Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.

    Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-“Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.

    Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.

    Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.

    Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”

    Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun.

    Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun dudukduduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.

    Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.

    Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada
    Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya
    kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia
    berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.

    Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu
    oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk
    berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan
    Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka
    melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.

    Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti
    masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup
    mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin
    berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar
    suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin
    atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah
    berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang
    cintanya.

    Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya.
    Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas
    tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana
    kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick
    merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan
    kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.

    Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan
    datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu
    selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka
    bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang
    dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.

    Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar
    tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun,
    ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah
    orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang
    telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala
    sesuatunya.

    Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di
    rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari
    kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini
    ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.

    Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri
    drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh
    dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat
    baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka.
    Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat
    penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.

    Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”

    Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya
    adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling
    cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya.
    Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak
    mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan
    melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”

    Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan
    malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis
    tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun
    dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu
    lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk
    mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila.

    Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya
    rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak
    ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun
    yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan
    Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang
    di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.

    Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai
    berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke
    lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais
    dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan
    merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.

    Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pencinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.

    Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.

    Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh
    yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang
    hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan
    kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia
    mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan
    bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan.

    Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan
    terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun
    yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh
    jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan
    dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri
    dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari
    kehidupan liar dan buas itu.

    Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa
    Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala
    sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan
    Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti
    yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan perjalanannya.

    Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala
    suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan
    meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun
    masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.

    Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun
    dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab
    dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau
    menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat
    hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.
    Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku
    atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah
    mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah
    nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan
    dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.

    Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya.
    Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya,
    orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk
    mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api
    cinta yang membakar dalam kalbunya. Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang
    terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan
    kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan
    potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan
    syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan
    cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.

    Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya.
    Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak
    kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah
    dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.

    Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang
    kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih
    sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang
    ksatria gagah berani bernama ‘Amr, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya
    menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di
    kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.

    Drama tragis itu membuatnya demikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan
    bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun
    ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Ketika ‘Amr kembali ke kota
    kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan
    menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.

    Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan
    kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku
    akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak
    keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku
    untuk memberikan putriku pada orang gila itu”. Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia
    bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di
    antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat
    mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.

    Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia
    membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa
    kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian
    bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang
    dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun
    memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa
    mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.

    Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka dipihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu.

    Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati
    ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris.
    Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung
    dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya
    berakhir juga.

    Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya.
    “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuangbuang
    waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang
    bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya
    bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan
    menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang
    kepadanya.

    Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apaapa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.

    Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas
    perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta
    satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah
    memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang
    yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil
    namamu, Laila”.

    Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?

    Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di
    reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia
    mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia
    memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas
    yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan
    ranting di atas tanah. Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia
    mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang
    sanggup mengusik dan mengganggunya.

    Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.

    Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini
    pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh
    sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya,
    pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya
    makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas
    kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang
    dan sudah lama dirindukannya.

    Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali
    saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih
    satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun
    masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri
    wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar
    karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur
    dengan baik selama bermalam-malam.

    Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun,
    ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun…Majnun.

    Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian,
    berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di
    tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika
    kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan
    lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di
    kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.

    Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar
    seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.

    Konon, tak lama setelah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah SWT. membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukannya di sisi-Nya. Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil-Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur cinta-Ku?”

    Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Ia pun bertanya-tanya, jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah SWT., lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah SWT. mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”

    Sumber : Bayat & Ali Jamnia. 2007. Layla & Majnun: Cerita-cerita Menakjubkan dari Negeri Sufi. Cet. Ke-5. Penerbit Lentera.

  • Seperti Pasir

    Radhitu Billahi Rabba wabil Islami Dina wabi Muhammadin Nabiyya wa Rasula

    Wahai Tuhanku ! Tuhan pemilik langit dan bumi, Tuhan penguasa jiwa manusia. Aku mengaku lemah, seorang insan pemberang yang tak mampu menjaga hubungan.

    Tuhanku, ada begitu banyak suara penentangan. Ketidakmampuanku dalam bersikap sewajarnya dalam pandangan umum telah membuatku resah.

    Tuhanku, jika kesalahan sesama manusia adalah dosa yang harus selesai sendiri. Maka lembutkanlah hatiku, lapangkanlah jiwaku. KepadaMu, aku memohon segala kebaikan dan kasih sayang.

    Dalam resah yang tak menentu, kusimak syair seorang pujangga lama, Hani al-Hakami:

    Wahai Tuhanku ! hamba tidak pantas menjadi penghuni surga

    Namun hamba tidak kuat atas neraka Jahim

    Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

    Dosaku laksana pasir di lautan

    Umurku setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

    Maka terimalah taubatku wahai Dzat Yang Maha Agung

    Jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni 

    Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

    Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang di situlah urusan kehidupanku.

    Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan.

  • Penjaja Angin

    Oleh : agung h.

    Kemarin malam. Waktu saya sedang meriang-meriangnya. Tiba-tiba, kisah lama bergantian memerangi pikiran.

    Ketika mengingatnya. Pada sebagian kisah, saya tersenyum-senyum. Pada sebagiannya lagi, saya tertunduk murung.

    Saya teringat waktu pak Husen Sinaga yang seorang Nasrani bercerita di kelas. Saya bisa dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Dia lucu dan mesum.

    Begitu juga ketika Bleky (nama julukan, berarti anjing peliharaan) jadi bahan bulian teman-teman kelas. Kadang saya tertawa, kadang saya geram.

    Lalu pikiran saya terbang ke pedalaman desa, kami menyebutnya Lubuk Dalam. Di sanalah kisah paling dramatis seorang “master of romantic” pernah terjadi–berkali-kali.

    Satu persatu saya pandangi wajah kembang desa. Berbaris rapi di dalam pikiran saya.

    Saya ingat-ingat, kadang saya merasa malu, kadang merasa rindu.

    Saat saya tak sanggup mengingat mereka lagi. Pikiran saya terbang kepada sahabat-sahabat.

    Langsung saja, hati saya diserang kesedihan. Bahwa kadang manusia tak sungguh-sungguh mau bersahabat.

    Serta kisah-kisah masa silam seterusnya yang teramat panjang dan rumit. Yang tak mungkin tertuliskan.

    Saya berharap mereka yang tersebut di atas (dan, yang tidak) dapat hadir di samping saya hari ini. Seluruhnya. Jika tak mampu raganya, cukuplah kasih sayangnya.

    Nyatanya, kepala itu terasa seperti “penjaja angin”. Kita ditawari harapan-harapan, kesemuan-kesemuan. Sialnya, kita meyakininya.

    Hampir setiap hari dalam hidup ini. Saya sisakan waktu untuk memaknai kehidupan. Di mana saya tumbuh, di mana saya berjuang, di mana saya berakhir?

    Saya sering tersadarkan di akhir-akhir perjalanan. Kadang-kadang saat semuanya sudah terlambat.

    Kali ini saya tersadar “kembali”. Mengingatkan saya pada satu prinsip lama, “tidak ada yang dapat dipercaya”.

    Sekalipun, sesuatu itu mengatakan, “aku menyayangimu”.

  • Manusia Pergerakan dan Era Disrupsi

    Oleh : agung h.

    Tidak ada satupun founding Fathers yang menghabiskan hidup hanya di satu tempat. Pada umumnya mereka meloncat-loncat dari pulau yang satu ke pulau lainnya. Alasannya beragam, ada yang karena dikejar-kejar musuh (baca, kolonial). Ada karena tugas diplomatik. Ada juga karena suatu tugas kemanusiaan; kampanye kemerdekaan dan pembebasan, misalnya.

    Mungkin telah kita ketahui obituari seorang Ratu Zaleha, berjuang melawan kolonial Belanda sampai harus diasingkan ke pulau Jawa selama 31 tahun.

    Tidak jauh berbeda dengan Tan Malaka. Saking bersemangatnya membela kemanusiaan ia rela tidak hidup tenang. Dikejar-kejar musuh, bahkan sampai harus mati di tangan bangsanya sendiri.

    Begitu juga dengan pejuang lainnya seperti Cut Nyak Dien, Martha Kristina Tiahahu, Soekarno, Hatta, Pramoedya A. Toer sampai A.M Fatwa.  Dibuang ke pulau-pulau jauh tanpa sedikitpun mengeluh. Meskipun begitu, dari kejauhan dan keterasingan di antara mereka masih saja ada yang melakukan perlawanan melalui “tulisan” melalui “bacaan”. Kesemuanya adalah orang-orang yang menggadaikan kenyamanan hidup pribadi atas nama keadilan dan kemanusiaan.

    Bayangkan, kalau misalnya semacam mereka lebih memilih hidup sampai mati di kampung halamannya. Menikmati kopi pagi sambil mendengarkan lantunan suara burung kenari. Bayangkan juga kalau misalnya mereka memilih menjadi intelektual menara gading. Mungkinkah Indonesia akan menemui kemerdekaannya, dan terbebas dari cengkraman penindas yang ngga berakhlak?

    Bertarung dengan Ketidakpastian

    “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.” Kalimat itu adalah penggalan puisi Soe Hok Gie. Seorang manusia pergerakan yang berpandangan humanis.

    Konsep waktu terbagi dalam tiga bagian, yaitu “masa lalu”, “masa kini”, dan “masa depan”. Masa lalu adalah sesuatu yang pasti, ia dikatakan masa lalu karena pernah terjadi. Masa kini adalah waktu yang sedang kita jalani, “masa kini” akan langsung berubah menjadi “masa lalu” apabila ia berlalu walau hanya sedetik. Dari sini, dapatlah kita pahami bahwa “masa kini” juga bersifat pasti. Sementara masa depan, senafas dengan ucapan Gie bahwa ia bersifat “tanda tanya” atau masih menjadi sebuah kemungkinan.

    Orang pergerakan dikatakan sebagai orang pergerakan karena mengejar sesuatu di depan, suatu cita-cita untuk memperbaiki kondisi yang tidak ideal. Hal ini berhubungan dengan konsep waktu tentang masa depan. Di atas kita katakan bahwa masa depan bersifat “tanda tanya”. Tapi bukan berarti masa depan yang “tanda tanya” itu membuat “orang pergerakan” menjadi “orang kalahan”.

    Masa depan memang bersifat tanda tanya, tapi tidak juga kita katakan masa depan itu bersifat “mustahil”. Misalnya, seorang perantau yang bertarung di kota Metropolitan tidaklah dapat kita katakan perjuangannya “gagal” sebelum si perantau itu menilainya sendiri dengan tolok ukur yang dia punya. Andaikan pun perantauannya itu “gagal”, sesungguhnya tidaklah sepenuhnya. Karena kemampuannya bertahan hidup selama di kota metropolitan merupakan keberhasilan dalam kacamata “survival”.

    Orang pergerakan dengan tujuan mulianya, yaitu merubah kondisi yang tidak ideal kepada kondisi yang ideal. Tidaklah elok jika ia berhenti bergerak karena keberhasilan pergerakannya masih bersifat tanda tanya. Sementara itu, pergerakan berhubungan dengan kepentingan publik, bagaimana mungkin orang pergerakan akan mampu merubah kondisi menjadi ideal jika kediriannya belum selesai.

    Pergerakan Di Era Disrupsi

    Menurut KBBI disrupsi adalah hal yang tercabut dari akarnya. Dalam pengertian sederhana disrupsi adalah perubahan mendasar yang sangat liar. Ciri era disrupsi ialah tingkat persaingan semakin tinggi, baik antara yang konvensional dengan yang digital, maupun antara yang digital dengan yang digital. Contoh sederhananya persaingan antara Gojek dan Grab, atau antara ojek pangkalan dengan ojek online. Kata kuncinya, kecerdikan menentukan kebertahanan.

    Begitu juga dengan orang-orang pergerakan. Jika dahulu propaganda dan agitasi hanya dapat dilakukan melalui media cetak dan pidato. Sekarang telah lebih luas. Siapa saja bisa memengaruhi publik hanya dengan bermodalkan internet.

    Berdasarkan laporan terbaru We Are Social, pada tahun 2020 disebutkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada kenaikan 17% atau 25 juta pengguna internet di negeri ini. Berdasarkan total populasi Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% setengah penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya.

    Dari data di atas sangat wajar jika media sosial memiliki peranan penting dalam membentuk persepsi publik. Sebagai contoh, Donald Trump sering menggunakan twitter sebagai alat agitasi dan provokasi. Walhasil, bukan hanya publik Amerika yang dihebohkan tapi juga dunia.

    Di Indonesia, pada Agustus 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui siber drone memberitakan ada 474 isu hoax mengenai Covid-19 di berbagai platform digital. Karena isu hoax tersebut publik dibuat gamang dengan kevalidan informasi mengenai Covid-19. Dampaknya kini, publik tidak lagi mengindahkan anjuran-anjuran pemerintah dalam memerangi Covid-19.

    Berhubungan dengan pembahasan kita. Harus ada semacam kultur baru bagi orang pergerakan dalam bergerak. Bukan berarti menghilangkan cara-cara konvensional sepenuhnya. Tetapi, orang pergerakan harus memanfaatkan potensi internet dengan semaksimal mungkin. Orang pergerakan mesti berdiri di dalam dunia maya buat melawan informasi-informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Era Disrupsi itu semacam era “kartu liar”. Bisa jadi pergerakan di akar rumput seakan-akan masif dan berhasil. Namun, siapa yang tahu jika di dunia maya akar rumput itu juga dihajar habis-habisan. Maka, jangan heran jika pandangan publik bisa berubah seketika meskipun telah diberi pemahaman secara face to face.

    *Artikel ini telah terbit di Rahma.id

  • Negara Seribu Kemungkinan

    Oleh : agung h.

    Sejak kelahirannya 75 tahun lalu Indonesia sudah dilanda berbagai permasalahan. Tapi kita tidak ingin jauh-jauh menengok ke masa lalu, kita hitung saja dari pilpres 2019 sampai dengan hari ini.

    Ditambah lagi hari ini, serangan dadakan dari pandemi Covid-19 melumpuhkan hampir semua sektor. Kita berduka untuk Indonesia atas segala permasalahannya yang tak kunjung selesai.

    Dari segala permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia. Kita boleh memandang apakah permasalahan Indonesia ini sebuah keniscayaan, atau karena ketidakbecusan pemerintah mengelola segala potensi yang ada. Silakan pembaca berpandangan?

    Tapi, di sini penulis hendak melihat permasalahan yang dihadapi Indonesia dari sudut pandang yang lain.

    Falsafah Kejayaan

    Kita mungkin tak asing dengan istilah, “Terbentur-terbentur-terbentuk”. Biasanya para perantau sering menggunakan istilah ini sebagai senjata untuk menjaga ritme perjuangan.

    Korelasinya dengan konteks Indonesia adalah kita anggap Indonesia itu seorang manusia. Seorang manusia yang sedang merantau. Seorang perantau adalah seorang yang telah siap dengan segala konsekuensi kehidupan. Konsekuensi terberat dari seorang perantau bukanlah kegagalan, tapi kematian.

    Tetapi, seorang perantau meletak “harga” di atas konsekuensi itu bahwa ia harus dapat mencapai tujuannya.

    Segala permasalahan yang tengah dihadapi oleh Indonesia adalah bagian daripada konsekuensi. Kita memilih merdeka, maka harus siap dengan tantangan sebuah negara yang merdeka.

    Meskipun Indonesia itu sesuatu yang abstrak. Tapi, Indonesia bukanlah benda mati (baca, tidak bergerak). Indonesia bergerak, penggeraknya adalah setiap manusia yang mengelolanya.

    Kita ketahui bahwa Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atas permintaan Presiden Joko Widodo telah menyusun Visi Indonesia 2045. Keseluruhan Visi itu diarahkan pada perwujudan Indonesia yang maju, adil, dan makmur.

    Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

    Visi Indonesia yang maju, adil dan makmur tidak bisa ujug-ujug tercapai. Perlu usaha dan kerjasama semua pihak. Dari sana kita melihat bahwa harus ada “gerak” untuk mengubah suatu fakta yang ada. Dari satu gerak kepada gerak lainnya, itulah yang kita sebut sebagai proses.

    Kultur Indonesian Dream’s

    Pada tanggal 24 November 2015. YouTuber Ismail Fahmi mewawancarai Ulil Abshar Abdalla yang akrab disapa “Gus Ulil” dengan tema “Manusia Indonesia”.

    Dalam wawancara itu Gus Ulil mengatakan bahwa ia optimis suatu saat Indonesia akan seperti Amerika, Indonesia memiliki satu fenomena yang sama dengan Amerika dalam istilahnya Kultur Indonesian Dream’s. Dimana orang-orang yang berangkat dari bawah tiba-tiba muncul menjadi sesuatu yang sangat besar.

    Selain itu ia juga melihat begitu tingginya kreativitas anak-anak muda sekarang. Berbagai penemuan dan prestasi tak henti-hentinya mengisi beranda pemberitaan. Pertumbuhan kreativitas ini dapat dijadikan salah satu tolok ukur untuk mencapai mimpi menjadi seperti Negara Amerika. Tapi dengan catatan, lingkungan harus mendukung kultur kekreativitasan.

    Istilah ekonomi kreatif pertama kali dimunculkan oleh John Howkins ketika melihat ada gelombang ekonomi baru yang melanda Amerika Serikat. Gelombang ekonomi baru itu dicirikan dengan aktivitas ekonomi berbasis ide, gagasan, dan kreativitas. Menurutnya, karakter ekonomi kreatif dicirikan dari aktivitas ekonomi yang bertumpu pada eksplorasi dan eksploitasi ide-ide kreatif yang memiliki nilai jual tinggi.

    Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif terbukti dengan lahirnya Badan Ekonomi Kreatif yang sekarang menyatu dengan Kementerian Pariwisata.

    Selain itu, pada November 2018 lalu Indonesia menyelenggarakan The World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali. Mempertemukan perwakilan dari pemerintah, pengusaha, think tank, komunitas, organisasi internasional, media, dan ahli di bidang ekonomi kreatif.

    Optimisme sebagian kalangan terhadap kemajuan dan kejayaan Indonesia sering penulis dengar. Baik dalam diskusi lesehan maupun diskusi di forum-forum formal. Namun demikian, kreativitas hanyalah salah satu komponen yang dapat mendorong Indonesia menjadi Negara yang maju, adil dan makmur. Tentu ada faktor-faktor lain yang tak kalah pentingnya.

    Memenangkan Kemungkinan

    Tidak selamanya perubahan itu bergerak perlahan-lahan. Ada jenis perubahan yang datang secara tiba-tiba dan mengubah segalanya dengan cepat. Hal demikian itu dapat kita sebut sebagai kejadian wild card. Tentang perubahan sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, tapi tiba-tiba ia meledak dan membuat kehebohan.

    Saya pikir kita semua sama-sama sepakat. Bahwa setiap tujuan yang besar memiliki harga yang harus dibayar. Dalam konteks Indonesia, salah satu harga yang harus dibayar ialah bertarung dengan ketidakpastian. Pertarungan ini bisa melahirkan kemenangan bisa juga melahirkan kekalahan.

    Mimpi Indonesia tentang kejayaan 2045 tidak bisa dikatakan sebagai tujuan biasa-biasa saja. Setidaknya ada 2 hal yang membuat ia tidak biasa-biasa saja, pertama, Indonesia akan bertarung dengan waktu atas eksistensi dirinya. Kedua, Indonesia bertarung dengan realitas untuk dapat tumbuh menjadi Negara besar.

    Secara filosofis, dua faktor itu memengaruhi apakah Indonesia dapat bertahan dalam perjalanannya serta dapat mencapai tujuannya sebagai Negara yang Berdaulat, Adil dan Makmur. Atau ia menyerah dihadapan waktu dan realitas? Hal ini adalah sebuah konsekuensi logis dari kemungkinan-kemungkinan yang terbuka dan dengan melihat begitu dinamisnya kehidupan dunia.

    Tapi karena masa depan adalah kemungkinan-kemungkinan yang terbuka. Maka Indonesia tak perlu khawatir dengan masa depannya. Sebab definisi dari kemungkinan ialah bisa “Ya” bisa “Tidak”.

    Itu artimya, selama peta jalan yang telah disusun oleh Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional dilalui dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Indonesia yang Adil dan Makmur bukanlah suatu ketidakmungkinan.

    *Artikel ini telah terbit di jurnalintegritas.com

  • Desa Elitis

    Oleh Agung Hidayat

    Dulu di desa kita sering mendengar celotehan anak-anak tentang kota dan segala isinya. Apabila ada seorang anak yang baru pulang dari kota, ia akan bercerita tentang kemegahan dan kemajuannya. Sementara bagi anak desa yang tak pernah menyentuh kota–apalagi sekadar buat liburan–hanya tertegun mendengar ceritanya.

    Kenapa anak-anak desa begitu merindukan kota, sesuatu yang kadang ia tak pernah melihatnya?

    Sejarah umat manusia dimulai dari ‘kampung’, dari ketiadaannya ‘kota’. Tatkala Allah turunkan Adam ke bumi, Adam hanya bertemu dengan tanah, hutan, batu dan laut. Sampai ia bertemu dengan Hawa, memiliki anak-anak, dan mereka bertani. Tak ada kota dan tak ada pakaian branded. Hal ini berlangsung setidaknya sampai Aleppo dibangun pada 3.000 tahun sebelum masehi sebagai kota pertama di dunia.

    Pada posisi ini, kita tidak menghujat kota dan tidak membela desa (baca, kampung) ataupun menolak mentah-mentah kemodernan. Karena kota ataupun desa adalah bagian daripada peradaban dunia saat ini. Yang menjadi pembahasan kita berhubungan dengan narasi ‘peradaban’ itu. Menurut an-Nabhni, “peradaban hakikatnya adalah kumpulan pemahaman (pandangan hidup) tentang kehidupan dan metode kehidupan yang khas“.

    Kata kuncinya ada pada ‘pandangan hidup’ dan ‘metode kehidupan yang khas’. Mengindikasikan bahwa ‘siapa’ yang mendominasi suatu peradaban maka otomatis ia juga memengaruhi pandangan hidup khalayak pada umumnya. Atau dalam istilahnya disebut hegemoni. Peradaban saat ini didominasi oleh pandangan hidup sekulerisme-materialisme, memisahkan antara kepentingan dunia dan akhirat serta berpaham kebendaan. Dari sana lahirlah pandangan ‘mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya’ dan pandangan ‘setiap individu berhak berlaku sebebasnya’.

    Budaya modern dengan nilai kesenangan dan kebebasan memiliki ciri-cirinya sendiri. Misalnya, ketika standar kecantikan telah diatur sedemikian rupa oleh iklan. Pakaian branded menjadi standar dalam berteman. Tempat nongkrong yang menentukan kelas komunitas. Serta berpandangan segala pemenuhan nafsu pribadi adalah bentuk dari pemenuhan kebahagiaan dan hak keberbebasan. Dan kecongkakan-kecongkakan lainnya yang menjamah hampir semua aspek kehidupan.

    Di sinilah persoalannya. Saat sebagian kawan-kawan kita di desa ‘mabuk’ dengan budaya kota (baca, yang bernilai kesenangan dan kebebasan tanpa memahami hakikat darinya) serta terseret jauh karenanya. Sehingga memandang sebelah mata desa.

    Sebenarnya ada banyak ruang untuk memahami dan mempelajari kehidupan beserta nilai-nilai di dalamnya. Tapi, sebagian dari mereka seakan-akan tak pernah mau mengerti. Bahwa dibalik setiap pakaian branded dan budaya ‘makan ala Eropa’ yang mereka tampilkan ada beban moral yang ditenggelamkan oleh ketaksadaran.

    Budaya modern dengan nilai kesenangan dan kebebasan telah merusak hakikat berkehidupan kota. Lebih jauh lagi, budaya ini terbang ke desa menjamah setiap pemuda yang rela menjadi mangsanya. Dengan semangat meyakinkan mereka yang terseret budaya itu mengkomunikasikannya dengan bahasa simbol kepada publik yang tak-berdaya.

    Padahal, tanpa orang-orang yang berpangkal dari desa (baca, kampung), ibu kota pun takkan dapat tumbuh menjulang. Kini, kita tersayat melihat anak-anak desa yang mabuk dengan budaya kota. Segala standar disandarkan pada yang pseudo dan kebendaan, dengan wawasan historis yang minim dan tumpulnya kemampuan refleksi-filosofis.

    Sangat mengkhawatirkan ketika pandangan-pandangan itu mewujud dalam tingkah laku, pakaian, makanan dan gaya hidup anak-anak desa. Tapi, lebih mengkhawatirkan lagi apabila itu mengakar dan menjadi ideologinya.

    Sebagai refleksi. Mari kita baca perlahan-lahan puisi Najwa Shihab di bawah ini:

    Tuhan menciptakan desa-desa, manusia yang membangun kota-kota. Kita pada dasarnya anak desa yang merantau, yang pergi ke tanah impian yang tak terjangkau.

    Asal-usul selalu dipanggul ke mana-mana, ibarat cangkang di punggung kura-kura. Yang tahu kapan saatnya kembali ke kampung halaman, karena kacang memang tak boleh lupa pada lanjaran.

    Menjadi anak kampung yang memandang seluas cakrawala, si udik yang tak sungkan untuk menjangkau ujung dunia.

    Mampu bangkit dari kegagalan yang tak terkira, meniti pencapaian yang niscaya akan tiba. Kita semua anak-anak dari masa silam, yang sedang bergerak menuju yang menjelang.

    Yang merentangkan batas-batas sejauh mungkin, kita adalah anak panah yang dilesatkan angin.

  • Mata

    manusia melihat,

    kawan-kawan di atas sana sungguh mulia

    manusia melihat,

    kawan-kawan di bawah sana sungguh hinanya

    sastrawan mengucap;

    sungguh hidup ini biasa saja yang hebat-hebat hanya tafsirannya

    sepuh menyeru;

    Tuhan tidak peduli dengan apa yang kau miliki, Tuhan melihat apa yang kau beri

  • Kerancuan Berorganisasi

    Oleh : agung h.

    Dalam Falsafah Gerakan dan Khittah Perjuangan telah ditegaskan bahwa PII adalah organisasi pengkaderan yang bertujuan — kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam … serta bercita-cita menegakkan Izzul Islam wal Muslimin. Artinya, kemana PII akan berlabuh telah jelas muaranya. Namun, apakah kejelasan muara itu berbanding lurus dengan kejelasan pergerakannya?

    Hal ini berkait erat dengan kerapian pergerakan sebuah organisasi. Tujuan yang jahat dengan pengorganisasian yang rapi akan dapat mencapai tujuannya dibandingkan tujuan mulia dengan pengorganisasian yang buruk. Maka, tugas kita dalam situasi sekarang ini adalah untuk menguatkan kembali pondasi keorganisasian. Memperjelas arah gerakan. Memperjelas batas antara hak dan kewajiban para organisatoris.

    Kita kemukakan bahwa kerancuan-kerancuan di dalam pergerakan mendekatkan kita kepada nilai keserampangan. Kalau tidak ada aturan main dalam berlembaga atau katakanlah ada aturan mainnya tapi tidak dilaksanakan. Maka hal itu membuat PII terlihat seperti ‘organisasi yang ugal-ugalan’.

    Memang perihal marwah dan wibawa akan di tolak mentah-mentah oleh pihak yang mengatasnamakan dirinya ‘egaliter dan bebas’. Hal itu tidak perlu dirisaukan. Marwah kelembagaan tetap mesti kita bangkitkan serta menjaganya baik-baik dengan tidak merendahkan aturan main. Sesuatu yang mengalami krisis kewibawaan bukan hanya tidak akan dipertimbangkan oleh dunia luar, tetapi juga oleh internalnya sendiri.

    Permisalannya, kita sadari bahwa semua manusia memiliki potensi untuk menjadi mahluk berkualitas—Allah Swt menanamkan potensi itu dan menetapkan aturan main dalam berkehidupan—Tetapi sebagian memilih menjadi ‘manusia sampah’ karena ketakberaniannya menjalankan aturan main serta tak-siap atas konsekuensinya.

    Kini, berbagai gagasan muncul kemuka demi menjawab tantangan lembaga PII. Kita katakan bahwa dari berbagai gagasan itu ada yang brilian dan canggih tapi ada pula yang rancu. Misalnya, sebagian mengatakan bahwa ‘berdata’ menjadi hal penting saat ini guna menjalankan asas ‘velox et excatus’—kecepatan dan ketepatan— dalam mengambil keputusan dan merespon kondisi eksternal. Sementara sebagian organisatoris yang berpikir amat serampangan berpendapat PII harus lihai bermain dengan penguasa guna menyerap kekuatannya.

    Pendapat pertama benar, terlebih bila kita kaitkan dengan kondisi saat ini yang serba digital dan serba cepat. Kami melihat gagasan pertama yang mengemuka itu merupakan bentuk kekhawatiran, antara PII yang konvensional dan dunia yang sangat dinamis. Anthony Giddens, pemikir asal Inggris, mengatakan, bahwa dunia kita adalah dunia yang tunggang langgang (runaway world). Siapa yang tak siap ikut berlari, pasti akan tertinggal.

    Kemudian kita kemukakan satu pertanyaan. Apakah gagasan yang muncul itu benar-benar di gali dari hakikat persolan PII?

    Atau justru kita hanya tenggelam dalam samudera dialektika dan perdebatan tentang seputar metode untuk mengatasi persoalan PII, yang sebenarnya menjauhkan kita dari mengkaji hakikat persoalan. Sementara ‘berdata’ tidak berarti apa-apa jika para organisatoris bergerak serampangan dan tidak menghormati aturan main.

    PII bangkit dan tumbuh dalam waktu. Jangan sampai waktu sendiri yang menikamnya.

  • Menghujam Bumi

    Oleh: agung h.

    Narasi ‘Fatum Brutum Amor Fati‘ — ‘Mencintai takdir meskipun takdir itu kadang brutal’ — adalah pandangan yang harus dipertimbangkan.

    Kita perhatikan lekat-lekat. Ada miliaran manusia di bumi. Adakah dari mereka yang hidup tanpa persoalan?

    Kita tampil ke muka meneriakkan keluh kesah. Sembari menyebut satu persatu nama mahluk di kebun binatang. Kita mengutuk segala yang ada–jijik terhadap hidup sendiri.

    Ada sebagian orang yang mendukung keluh kesah itu. Mendukung kematian sebelum waktunya. Merekalah orang-orang yang memuja pikiran tapi menutup iman. Apabila diberi satu peringatan, mereka berkata: orang kuat sedang berlagak menasehati.

    Tidak perlu kita bergabung dengan kumpulan manusia rumit untuk menyaksikan keluh kesah itu. Perhatikan saja di sekelilingmu. Sesuatu yang setiap hari kau lihat.

    Kita tidak tahu, kapan tepatnya keluh kesah itu lahir ke bumi dan menjangkit jiwa manusia. Yang kita tahu, iblis dan malaikat pernah melakukannya tatkala Allah hendak menciptakan Adam.

    Itu artinya, mengeluh adalah suatu kewajaran bagi mahluk.

    Tapi, ada pula orang-orang yang menjalani hidupnya dengan anggun. Kita mengerti bahwa setiap manusia memiliki persoalannya sendiri. Manusia anggun dan manusia pengeluh sama saja dalam hal ini. Tapi, orang pertama tak sudi bersikap serampangan.

    Hidup ini penuh dengan makna-makna. Sesuatu yang tersembunyi di balik apa yang terindera. Ada hal yang tidak dapat di jangkau oleh akal murni manusia.

    Memang, ketika akal ini menemukan kejanggalan-kejanggalan kehidupan, hasrat memberontak bisa seketika muncul. Penolakan demi penolakan atas nama kehidupan yang sempurna.

    Pemberontakan dan penolakan itu tidak sepenuhnya tertolak. Tapi, ia harus ada pada tempat dan porsinya. Misalnya, tidak mungkin kita diam melihat kelaliman penguasa yang memandang sinis masyarakat bawah. Di lain sisi, ada takdir yang tidak mungkin tertolak–bentuk pemberontakan terhadapnya hanya suatu kesia-siaan.

    Tidak juga kita sedang bersikap seperti kaum skeptis. Kita hanya sedang berusaha menyadarkan diri sendiri bahwa kita ini manusia. Kita mahluk.

    Sementara pada kejanggalan-kejanggalan nasib. Allah telah memberi lampu kuning ‘Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada dirinya’.

    Lampu kuning itu berupa pesan bahwa harus ada proses di sana. Kita mengambil contoh ke negeri jauh, Tiongkok. Di sana ada sebuah bambu bernama ‘Mojuk’. Bambu itu dalam pertumbuhannya akan menjadi tunas dalam waktu yang sangat lama, yaitu 5 tahun.

    Dalam pandangan normal, itu adalah sesuatu yang tidak normal dan membuang-buang waktu. Tapi, dalam pandangan yang bijaksana, kita akan diam dan memperhatikan tunas Mojuk itu. Selepas 5 tahun berlalu Mojuk akan tumbuh cepat. Dalam satu hari Mojuk bisa tumbuh puluhan sentimeter. Ternyata di dalam proses 5 tahun menjadi tunas Mojuk menghujam tanah, menguatkan akar — agar dapat tumbuh menjulang.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai