• Teduh

    Oleh: agung h.

    Bagaimana cara membaca panas dalam gelombang dingin? Bagaimana cara membaca riang dalam ritme diam? Bagaimana cara menemukan diriku pada keheninganmu?

    Setangkai bunga bermata teduh, menafsirkanmu bukanlah keahlianku. Dan, dalam prosa ini tak akan kucoba-coba melakukannya, kecuali jika aku siap diserang kegilaan.

    Kumulai saja dari kata ‘maaf’. Maaf, ada tanah yang ingin menyatu bersama langit. Seorang insan pemberang nan dingin mengepak-ngepak tangan sambil merapal mantra bunga-bunga.

    Sesuatu di dalam dadaku boleh saja meronta-ronta—itu haknya—tapi, hanya sebatas itu. Tidak boleh ia memaksamu buat mengerti simbol-simbol yang mengemuka.

    Senafas dengan pandangan Nietzche ‘permintaan dicintai adalah jenis arogansi paling besar’.

    Sejauh dugaan-dugaan itu ada, aku tidak dapat memberi kepastian kepada diri sendiri. Kepastian itu milik Tuhan dan dirimu.

    Suara-suara kecil di dalam diriku tidak hadir begitu saja. Seluruhnya berpangkal dari perjumpaan yang dingin namun menggetarkan.

    Matanya yang teduh, bagaikan mantra pereda angkara– mendinginkan amarah yang mengangkasa.

    Tak perlu aku bertanya-tanya lebih kepada diri sendiri, bahwa tepat pada detik itu aku langsung mengerti. Diam mengingini pertemuan-pertemuan berikutnya sekalipun tetap diselimuti kedinginan-kebekuan.

    Hal yang mungkin akan mengendap dalam ingatanku. Di mana pada suatu ketika kau dan aku dalam satu perjalanan, hening tanpa sepatah kata. Pada waktu-waktu lainnya, pun tak pernah ada kalimat panjang. Kecuali satu-dua kata biasa— yang di dalamnya terdapat maksud yang tak sederhana.

    Apabila kemudian hal ini menumbuhkan penyesalan, tak soal. Kupilih jalan sunyi menuju jendela hatimu.

    Api bertemu api—membesarlah ia. Beku bertemu beku—kalau tidak saling bertolak, maka saling mencair.

    Di sana, barangkali telah kau ketahui sedikit banyaknya tentang perwatakan ini. Hal itu bukanlah masalah penting. Sebagaimana pada lebah-lebah yang terbang di antara tubuhku, kubiarkan ia menyengat dan mencium bau diriku. Telah kukemukakan kepada alam bahwa aku tak pakar dalam beberapa watak dan tak akan kututup-tutupi.

    Di samping itu, semoga matamu yang teduh membacanya dengan adil. Serta mampu menerjemahkan simbol-simbol yang mewakili qolb. Menjadi penawar bagi hati yang sepenuhnya diselimuti keresahan.

    Apabila kemudian penglihatan membawamu kepada kesinisan, aku pun telah siap. Dan nyatanya aku selalu siap. Setidaknya tanah telah mencoba menggetarkan langit.

  • Muara Pembebasan

    Oleh Agung Hyt

    Filsuf Indonesia, Siti Murtiningsih, mengatakan, “Perbedaan manusia dengan binatang dilihat dari kemampuan manusia untuk ‘berefleksi’ dan watak ‘bertujuan’ dalam memandang dan berhubungan dengan dunia,” (Murtiningsih (2004: 38).

    Binatang melakukan aktivitas makan, berburu, dan bermain. Tetapi, itu hanyalah suatu aktivitas yang tanpa tujuan. Suatu aktivitas yang hanya sekadar dorongan daripada hasratnya tanpa melalui proses berpikir dan menimbang.

    Sementara itu, manusia hadir dan ada di muka bumi karena suatu tujuan, yaitu sebagai khalifah Allah di bumi— memelihara kehidupan di bumi berdasarkan petunjuk-petunjuk yang di berikan-Nya. Pemeliharaan itu meliputi hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan alam sekalian.

    Maka, pembuka tulisan ini berupaya memberi clue sebelum kita teruskan ke pembahasan selanjutnya, yaitu kewajiban ketuhanan berkait erat dengan kewajiban lainnya. Sebagaimana yang dicatat oleh Kuntowijoyo (2019: 7), “Kesadaran ketuhanan tidak berarti kaffah jika tidak disertai kesadaran kemanusiaan”.

    Kedudukan Ilmu dalam Perjuangan

    Memang ada orang yang mengatakan bahwa “semangat” lebih penting daripada ilmu. Atau, posisi semangat dianjurkan lebih dahulu ada sebelum adanya ilmu. Misalnya, pandangan filosofis ini ada di dalam falsafah beladiri karate, dengan narasi “semangat dahulu, teknik kemudian”.

    Sehubungan dengan tema pembahasan kita.  Ilmu bukan hanya sekadar perangkat untuk tujuan kemahiran, ia lebih daripada itu. Ilmu sebagai batasan dan modal bergerak untuk suatu tujuan yang mulia. Barangkali narasinya dapat kita ganti dengan “niat tulus, mendahului ilmu dan praksis”. Tetapi bukan berarti posisi “niat” lebih penting daripada “ilmu”, tetapi kita memandang hal ini sebagai sesuatu yang harus seimbang.

    Habermas berpandangan, ada tiga macam ilmu (1) ilmu empiris-analitis, didorong oleh kepentingan teknis, kepentingan untuk memanfaatkan sesuatu yang diketahui (2) ilmu historis-hermeneutis didorong oleh kepentingan “praksis”, kepentingan untuk memahami makna (3) ilmu-ilmu kritis (filsafat, psikoanalisis) didorong oleh kepentingan emansipatoris, yaitu kepentingan untuk membebaskan, (Nunu Burhanuddin, 2016: 247).

    Selain itu, dalam seminar ilmiah tentang “Budaya Ilmu” di Universiti Teknologi Malaysia, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan, “Seseorang yang memiliki informasi dan kemahiran belum tentu dapat dikatakan berilmu. Karena berilmu berarti dapat menemukan makna di balik informasi-informasi dan kemahiran yang ia miliki”.

    Kita memandang, ilmu memiliki posisi yang penting dalam setiap hal perjuangan. Ilmu sebagai cahaya, menerangi jalan perjuangan yang akan ditempuh.

    Kedudukan Ideologi dan Ideolog

    Ada banyak pengertian ideologi. Tetapi, kita mengambil satu-tiga pandangan dari pihak yang memiliki semangat pembebasan. Menurut an-Nabhani, “Ideologi (Arab: mabda’) dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional (yang bersifat mendasar, pen.) yang melahirkan sistem atau seperangkat peraturan tentang kehidupan”.

    Ali Syari’ati mencatat “Ideologi terdiri dari dua kata, yaitu ideo/idea yang berarti gagasan, pemikiran, konsep, dan keyakinan. Sementara logi/logos atau logika berarti ilmu atau pengetahuan. Maka dari sini ideologi dapat di artikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita-cita”, Eko Supriyadi (2013: 141).

    Begitu pula definisi ideologi di dalam Glosarium Marxis: Istilah-istilah Penting dalam Marxisme. “Di sana, Ideologi di artikan sebagai suatu cita-cita dan pandangan-pandangan yang mengekspresikan kepentingan-kepentingan suatu kelas.”, Harry Gould (2019: 84).

    Kita memandang, nafas cita-cita yang terkandung di dalam pengertian ideologi tidak sama seperti harapan seorang remaja untuk mendapatkan balasan cinta dari orang terkasihnya. Makna cita-cita di sana lebih dalam dan luas. Suatu cita-cita radikal yang menghendaki terjadinya suatu perubahan mendasar.

    Dalam pandangan Marxisme, ideologi di era modern ini hanya ada dua, yaitu “kapitalisme dan ideologi kelas buruh. Sementara seseorang yang menyatakan dirinya “netral” dan berdiri di luar ideologi-ideologi, secara tidak langsung menunjukkan keputusan ideologis, yaitu cenderung berkepentingan kapitalis.” (Harry Gould, 2019).

    Tetapi, kita mengemukakan bahwa Islampun layak disebut sebagai ideologi. Sebagaimana upaya Ali Syari’ati meng-ideologisasikan Islam. Islam tidak hanya persoalan ritus, tetapi ia memiliki kekuatan untuk menggerakkan masyarakat kepada suatu transformasi. Hal ini dapat dilakukan mula-mula dengan memandang Islam secara menyeluruh. Bahwa Islam lahir untuk membawa perubahan yang mendasar serta berkeadilan. Islam memiliki pandangan-pandangan filosofis, sekaligus ia menetapkan (petunjuk) aturan-aturan berkehidupan dalam segala aspek. Dengan memandang Islam secara menyeluruh dan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan dalam mencapai cita-cita. Maka, dapatlah kita katakan bahwa kita telah ber-ideologikan Islam.

    Eko Supriyadi (2013), beliau menarik kesimpulan dari pengertian ideologi ala Ali Syari’ati, yaitu “seorang ideolog (orang yang berideologi) berarti seorang pembela atau pejuang dari suatu keyakinan dan cita-cita tertentu”. Maka, setiap orang yang memiliki keyakinan dan cita-cita mulia serta berjuang dengannya layak disebut sebagai ideolog. Terutama cita-cita bagi kelangsungan hidup manusia.

    Jalan Pembebasan

    Di atas kita telah membahas posisi ilmu dan ideologi. Akhirnya kita sampai kepada muara dari fungsi ilmu dan ideologi. Segala bentuk perjuangan apa pun di atas muka bumi ini tidak mungkin kokoh apabila ia tidak memiliki pegangan ilmu dan tujuan yang jelas (ideologi). Serta pegangan ilmu dan ideologi itu tidak berarti apa-apa jika ia tidak disertai jalan yang benar dan niat yang lurus. Tetapi, apabila semuanya telah ada pada diri seseorang atau suatu kelompok pergerakan, maka tinggal memastikan apakah ia serius dengan jalan yang dipilihnya. Fungsi ilmu dan ideologi dalam hal ini adalah guna mendasari tercapainya pembebasan.

    Praksis pembebasan telah dilakukan di zaman Rasulullah. Terutama pembebasan kaum mustadh’afin (kaum yang lemah atau dilemahkan). Hal ini terjadi pada dua fase: Fase Mekkah dan fase Madinah, (Baca lebih lanjut, Abad Badruzzaman, “Dari Teologi Menuju Aksi”, 2018: 55-70).

    Pemikir-pemikir seperti Asghar Ali Engineer, Taqi al-Din an-Nabhani, Ali-Syari’ati, Sayyid Qutb dan lainnya adalah ulama-ulama yang menarasikan pembebasan berasaskan Islam. Meskipun kemudian mereka memiliki metode dan jalan yang berbeda-beda tetapi inti darinya adalah suatu cita-cita untuk melepaskan diri dari belenggu penindasan dan meraih kehidupan ideal bagi umat manusia.

    Menurut Ali Syari’ati (dalam Bonjol Jauhari, 2016: 8), “Kita (umat Islam) memiliki tugas intelektual, yaitu mempelajari dan memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia, baik perseorangan maupun  masyarakat, dan sebagai intelektual, kita memikul amanah demi  masa depan umat manusia yang lebih baik”.

    Melihat realitas kehidupan saat ini kita dapat menyimpulkan sendiri fakta apa yang sedang terjadi. Kita boleh menyebut saat ini sebagai zaman “kemajuan” dengan kehadiran teknologinya yang mempercepat segala aktivitas manusia. Tetapi, di samping itu kita harus mengakui telah terjadi ketimpangan-ketimpangan yang merugikan orang-orang yang tak memiliki “kekuatan”.

    Di sana terjadi ketidakadilan, penindasan, akses pendidikan yang terbatas, serta eksploitasi manusia oleh manusia. Lebih parah lagi, telah terjadi budaya anti-intelektual di mana aktivitas ilmiah dibubarkan secara serampangan. Gambaran ini bukanlah bentuk sesungguhnya dari “kemajuan”. Kecuali “kemajuan” yang menumpang nama di atas kesemuan semata.

    Dalam hal ini, orang-orang yang menyebut dirinya “orang pergerakan” telah banyak tampil ke muka menyuarakan perubahan. Beberapa tampil dengan landasan dan semangat yang meyakinkan, namun tidak sedikit pula orang-orang pergerakan yang hanya bergerak berdasarkan asas opportunistik. Dalam kata lain, pergerakannya “berbayar” dan “berbatas”.

    Ditambah lagi fenomena sauvinisme yang tumbuh subur dikalangan masyarakat umum menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai perubahan. Misalnya, sebagian orang menyebut bahwa “Negara ini telah final”. Padahal, sejak pertanggalan masehi itu ada, tidak ada negara atau kekuasaan yang lolos dari tantangan zaman.

    Setiap negara atau kekuasaan akan selalu berhadapan dengan alternatif-alternatif sistem lain. Maka, kemudian, perubahan dan pembebasan menjadi semacam keniscayaan manakala “yang ada” telah menyimpang jauh dari nilai-nilai keidealan. Segala upaya pembebasan itu tidak lain adalah untuk menemukan kebahagiaan (eudaimonia) yang hakiki sebagai tujuan akhir dari perjuangan dan inti dari kehidupan.

  • Stasiun Jakarta Kota

    Oleh Agung Hyt

    Itu hari Minggu, stasiun tidak begitu ramai. Sesampainya di Stasiun Jakarta Kota siang itu, ia berjalan ke arah kursi panjang dengan raut sumringah. Ia duduk dengan posisi anggun. Sesekali membuka HP. Sesekali membaca buku. Tanpa memerdulikan pandangan orang-orang ia duduk dengan tenang selama beberapa waktu.

    Pada hari Minggu biasanya orang-orang Jakarta memilih berlibur ke puncak atau menghabiskan waktu di rumah —udara Jakarta kurang bersahabat buat bermain-main. Namun, siang itu udara agak sejuk. Langit di luar mendung. Tetapi cuaca Jakarta tetaplah kekanakan, sulit diduga akhirnya.

    Lelaki itu beranjak dari kursi dan berjalan menyusuri tembok stasiun. Matanya melirik setiap sudut ruangan. Wajahnya sumringah memancarkan semangat harapan. “Menunggu satu jam bukanlah waktu yang lama untuk sebuah hal penting,” bisiknya dalam hati.

    Tiga tahun lalu di stasiun ini, ia dan seorang perempuan bersepakat untuk bertemu di tempat yang sama, pada jam dan tanggal yang telah ditentukan untuk membicarakan pernikahan. “Tiga tahun lagi kau temui aku di sini. Untuk sementara waktu selesaikan kewajibanmu sebagai seorang pencari ilmu,” ucap sang perempuan.

    Selama proses menunggu, si perempuan tidak mengizinkan si lelaki untuk menghubunginya, kecuali untuk perkara penting. Dengan alasan menjaga kaidah pergaulan di dalam Islam. Lelaki itu seorang aktivis di organisasi pergerakan Islam. Dan sang perempuan seorang yang sedang bergerak menuju perbaikan diri. Maka mereka saling mengerti untuk hal ini.

    Kini, tiga tahun telah berlalu, lelaki itu datang untuk mewujudkan kesepakatan. Menyambut harapan.

    Sembari menyusuri ruangan stasiun, lelaki itu menerbangkan pikirannya ke dunia imajinasi, dan berbicara pada dirinya sendiri tentang sebuah keluarga kecil dengan kehidupan yang sempurna.

    “Jika kami sudah menikah, aku akan membawanya ke Pulau Sirandah dan bermalam selama beberapa hari. Bukan hanya itu, setiap pagi akan ada yang membuatkanku sarapan. Dengan wajah penuh senyum ia membawakan sepotong roti ke hadapanku. Lalu aku memakannya sambil memandang wajahnya. Ia membersihkan serpihan roti yang tertinggal di sudut bibirku dengan bibirnya.

    Di suatu malam yang dingin di kamar yang mungil, aku duduk membaca buku di meja kerja. Ia menemaniku sambil menghantarkan potongan apel ke dalam mulutku dengan jari-jemarinya yang manis. Lalu kami berdiskusi tentang seorang anak yang memiliki keluasan pemikiran dan kehalusan perasaan, serta menakar satu-persatu nama yang bagus untuknya.”

    Lelaki itu menggerakkan kepala lalu mengusap wajahnya. Mengingat khayalan itu hanya tinggal selangkah lagi akan terwujud. Tentunya, selepas ia menemui sang perempuan. Membicarakan tanggal pernikahan, dan melalui resepsi sederhana yang dihadiri sahabat dan anak-anak desa. Lalu ia melanjutkan khayalannya yang semakin liar.

    “Kami belajar bersama setiap hari. Apabila aku memiliki pekerjaan menumpuk, ia menemaniku sampai larut malam. Aku pun akan menemaninya apabila ia sulit tidur, dan memberinya cerita-cerita lucu yang menggairahkan.”

    Lelaki itu berkhayal tentang banyak hal. Tanpa disadari ia telah berkhayal terlalu jauh. Tiba-tiba sesuatu yang ghaib memukul kesadarannya. Mengingatkannya akan perkataan seorang sufi: bahwa berpanjang angan-angan adalah buah dari kebodohan dan cinta dunia. Sontak ia palingkan pikirannya.

    Ia melihat jam tangan telah menunjukkan pukul tiga sore. Ia kembali ke tempat duduk dan melanjutkan penungguannya sembari membaca buku. Wajahnya mulai memancarkan kekhawatiran, hatinya gelisah, setiap kalimat yang ia baca seolah-olah berubah menjadi barisan nama perempuan itu. Hatinya bertanya-tanya, mengapa yang ditunggu belum juga datang? Sementara hujan telah turun.

    Sebenarnya pagi-pagi tadi ia sudah menghubungi perempuan itu melalui pesan singkat WA, tetapi tidak ada balasan. Sebelum ia berangkat menuju Stasiun Jakarta Kota ia menghubunginya kembali. Tidak ada juga balasan. Ia berpikir barang kali perempuan itu sedang sibuk sehingga tidak sempat menyentuh HP-nya. Tapi ia berkeyakinan perempuan itu pasti datang. Maka ia pun berangkat menuju Stasiun Jakarta Kota dengan setumpuk harapan.

    Berlembar-lembar halaman buku sudah terlewati. Perempuan itu belum juga datang. Ketika tengah membaca, tiba-tiba seorang lelaki berwajah tirus menepuk pundaknya dari belakang. Tanpa banyak kata lelaki itu duduk di sebelahnya, dengan baju yang sedikit basah.

    “Ardi, sudah berapa lama menunggu?” Tanya lelaki berwajah tirus.

    Ardi melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 05.05 WIB. “Sekitar empat jam, sejak jam satu,” jawabnya. “Maaf, kamu siapa?”

    “Tidak terlalu penting dengan nama saya. Saya ingin menyampaikan amanah ini.” Sembari menyodorkan sebuah amplop mungil berbahan kertas padi. “Di dalam ini ada pesan dari seorang yang sedang engkau tunggu. Dia tidak lupa dengan janjinya. Untuk menghormatimu, surat ini mewakili kehadiran dirinya.”

    Di saat Ardi kebingungan dan berusaha mencerna perkataan lelaki itu. Lelaki itu pamit dan melangkah pergi. Langkahnya sedikit terburu-buru, padahal di luar sedang hujan. Ardi memerhatikannya: tubuhnya tinggi, langkahnya tegas, persis seperti Luca Valdesi dari Itali. “Tampaknya lelaki itu orang baik,” besitnya dalam hati.

    Ardi membuka amplop perlahan-lahan. Ditemuinya secarik kertas, terdapat empat paragraf tulisan tangan yang rapi. Ia baca dengan mata yang meredup, hatinya bergetar hebat —seiring dengan bising hujan dan gelegar petir yang menyala-nyala.

    “Ardi, selamat atas kelulusan kuliahmu. Aku tahu kau akan dapat menyelesaikan rintangan meski seorang diri. Maaf aku tidak dapat menemuimu sesuai dengan kesepakatan kita tiga tahun lalu. Mungkin kau akan amat marah ketika membaca surat ini. Tapi izinkan aku tetap menjelaskan. Empat bulan yang lalu seorang temanmu di dalam kepengurusan organisasi yang juga teman dekatku mengabariku. Ia menyampaikan bahwa kau adalah laki-laki yang penuh ketabahan dan kesungguhan, kau tidak kurang dari segi sifat apa pun kecuali satu: kau seorang pemberang.

    Ardi, katamu kau ingin membangun peradaban kecil dan memiliki seorang anak pejuang keadilan, menurutmu bagaimana membentuk anak berwatak adil dari benih pemberang?

    Telah banyak informasi itu sampai kepadaku, tetapi semua itu kutepis sampai kemudian kawanmu mengabariku. Perlu kau tahu telah berjatuhan air mataku mengingatmu, ketangguhanmu tiada setara dari setiap lelaki yang pernah memintaku. Tapi Ardi, aku seorang perempuan yang jauh dari sifat humor, aku tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya kalau kita hidup dalam satu rumah.

    Tahun lalu aku pernah memberitahumu ada seorang lelaki yang melamarku dan kutolak atas pertimbangan kehadiran dirimu di hati dan pikiranku. Nyatanya ia masih setia menanti sama seperti aku menantimu selama ini. Maka setelah kupikirkan berhari-hari dan telah kering air mataku, serta telah kuketahui perwatakannya, kuputuskan untuk menerima lamarannya. Lelaki itu baru saja menghantarkan surat ini ke tanganmu. Kami menikah satu bulan lalu, dengan resepsi sederhana dan dihadiri oleh anak-anak desa. Maafkan aku.”

    from May Ziadah

  • Sayap-sayap Api

    Oleh: agung h. —

    Dengan perasaan yang teramat, ia meyakini bahwa dirinya seorang sanguinis-koleris. Sebuah teori kepribadian yang berusia tua yang berasaskan temperamen—koherensi perilaku. Meskipun seiring berjalannya waktu teori ini mengalami perkembangan dan penolakan, sampai kepada teori personality plus Littauer. Sanguinis-koleris berarti pribadi yang penuh percaya diri, kuat, dan riang. Watak ini senada dengan teori kepribadian Jung, yaitu ekstrovesi/ekstrover kebalikan dari introversi/introver. Keyakinan itu bertahan pada dirinya selama beberapa tahun—di hitung sejak ia bisa berpikir.

    Hal yang membuat ia sangat yakin bahwa dirinya seorang sanguinis-koleris berdasarkan pada praktik hidupnya (masa itu) yang sering tampil ke muka dan menonjol dari yang lainnya.

    Pada praktik-praktik hidupnya itu, memang ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang jika di analogi kan seperti sebuah pisau di atas kertas, atau memancing ikan di danau minyak. Inkoherensi atau ketidakberhubungan. Tetapi karena keyakinan tadi itu terlanjur ia sepakati, maka menunjukkan citra yang mengesankan bahwa ia seorang sanguinis-koleris.

    Menonjolkan diri dan mendominasi perdiskusian pada dasarnya memberi tekanan pada dirinya. Ia harus memaksa diri untuk tetap tampil meskipun dengan kapasitas yang seadanya. Pada beberapa momen, bagi seseorang yang paham dan tajam analisisnya akan memandang sinis dirinya. Pada momen ini, sebenarnya, ia sendiri menyadari kesinisan itu. Tapi seolah-olah ia tidak menghiraukannya. Pada praktik yang ekstrim, kadang-kadang ia memutuskan berkonflik terbuka pada orang yang memandang sinis dirinya. Sekalipun itu gurunya. Tidak jarang pula sampai ke ranah fisik. Setelah perkonflikan-perkonflikan berlau, tanpa ada satupun yang menyadari, jauh di dalam dirinya tesimpan penyesalan-penyesalan.

    Maka kemudian menjadi semacam paradoksal, seorang yang penuh prestise itu juga seorang yang gemar berkonflik dan berkelahi. Pada satu sisi ia seorang pendominasi dan penonjol, pada sisi lain ia seorang yang rapuh perasaannya. Orang-orang yang sinis akan kemenonjolannya itu, baginya adalah sebuah hinaan.

    Paradoksal lainnya, adalah sudah semestinya seorang sanguinis-koleris itu memiliki banyak teman dan mudah bergaul (adaptif). Tapi nyatanya, ia kebalikannya. Keramaian dan orang-orang baru adalah sebuah siksaan. Sehingga tidak jarang, beberapa orang yang berwatak sanguinis sejati melabeli dirinya “sombong”.

    Paradok-paradok ini menjadi pikiran yang berkepanjangan bagi dirinya. Di tambah, semakin hari semakin berkurang lingkaran pertemanannya. Label orang-orang atas dirinya sering pula ia ungkapkan dalam puisi-puisi dan tulisan-tulisan. Ia sadar benar, mengajak mereka bertikai secara terbuka lagi hanya akan membuat ia semakin kehilangan identitas dan di benci.

    Pergolakan batin yang kian hari kian tajam. Membuat ia harus merenung panjang pada tiap-tiap sepi dan malam. Siapa dirinya sebenarnya?

    Sampailah pada satu waktu, sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan. Selama ini beberapa guru menyebut dirinya watak pemikir, tapi hal itu luput dari pikirannya. Bahkan ketika mengetahui itu, ia sendiri malu mengakuinya. Bukan karena hal itu buruk, tetapi publik tidak akan menerimanya, bahwa nyatanya ia seorang melankolis.

    Benar, ia malu untuk mengumumkan itu kepada publik. Tapi sebenarnya ia tidak harus mengumumkan itu. Paradoksal dan pertikaian batin itu akhirnya terjawab setelah bertahun-tahun. Bahwa selama ini, sayap-sayap murung (watak melankolik) itu memaksa diri menerbangkan keriangan, menebar optimisme, serta menipu diri sendiri. Seorang melankolis berpraktik sanguinis-koleris—sungguh sebuah inkoherensi.

    Kepercayadirian yang ia layangkan selama ini adalah sebuah keterpaksaan. Pemaksaan itu bukan hanya memanaskan situasi dan merusak ritme hidup, tetapi juga membakar dirinya sendiri.

    Seperti pada sebelumnya, di dalam dirinya yang jauh, ia menyesalinya, maka dengan penuh kesadaran ia menginsyafkan diri. Meskipun praktik emosionil berupa “amarah-berang” masih sering mengemuka, itu hanyalah manifestasi dari hatinya yang rapuh dan sensitif. Tetapi telah pula ia putuskan untuk menanggalkan praktik-praktik lama yang merusak nilai kemanusiaan. Memanusiakan manusia berarti pula menghormati hak-hak manusia lain untuk juga mendapatkan kesempatan mengekspresikan diri.

  • Rosea
    Oleh : agung h. —
    /1/
    adalah dirimu
    segala apa yang ada padamu
    sebuah puisi
    sastra yang, sunyi
    
    /2/
    tanganmu puisi
    matamu puisi
    langkahmu puisi
    segala apa yang ada padamu, sunyi
    
    /3/
    seseorang yang linglung
    merapal setiap inci tubuhmu
    memuncratkannya
    tepat di jendela kamar hatimu
    saat kau bermimpi
    saat kau, sunyi
  • Yang Berguguran
    /1/
    berpangkal, keinginan
    para perawan di ujung siang
    menumpahi kata menimbangi diri
    
    /2/
    pejalan,
    bermain dadu di pelataran rindu
    
    /3/
    sampai saatnya waktu menghampiri;
    pejalan mati
    oleh tumpukan-tumpakan,
    kemungkinan-kemungkinan
    
    /4/
    pejalan,
    menanam kesungguhan
    merindang lah wahai ketabahan
    menuai penantian,
    bunga-bunga berguguran
    
    
  • Cilaka
    Gubahan : agung h. —
    aku meminta mu bercinta dalam keberpikiran
    membentuk anak-anak peradaban, serta
    membangun pondok kebajikan
    namun, kau menutup mata
    dari kesakitan manusia-manusia
    kau katakan “aku hidup karena cinta”
    namun, disaat bersamaan 
    kau bunuh cinta-cinta yang bertebaran
    di jalan-jalan
    di gorong-gorong
    di tumpukan sampah
    cinta adalah kemanusiaan
    cinta mana yang kau maksud?
    yang mendaki tubuhmu?
    Yang menghangatkanmu?
    nafsu berkata “ku cintai engkau, sungguh!”
    cilaka
  • Manusia Itu Laut

    Oleh: Agung Hyt

    Manusia (mikrokosmos) adalah miniatur alam semesta (makrokosmos): luas, dalam, dan tidak dapat dijangkau sepenuhnya.

    Kita boleh membedah manusia dengan pisau bedah yang bernama psikologi, filsafat, antropologi, atau apa pun itu. Tapi, kita harus mengerti, manusia bukanlah buku yang bisa dituntaskan; manusia itu lautan.

    Apabila ditemui suatu titik di mana seolah-olah kita memahami seseorang, tidak lain itu hanyalah bersifat dugaan, atau hanya sebagian kecil dari keseluruhan tentangnya.

    Mungkin kita pernah mendengar. Bahwa setiap manusia memiliki satu, dua atau lebih hal yang hanya ia dan Tuhannya yang tahu — dalam kata lain, ia merahasiakannya.

    Itulah mengapa manusia disebut lautan atau miniatur alam semesta. Manusia menyimpan sebuah potensi. Dan apabila potensi itu mengemuka, dapat memberi dampak besar kepada luar dirinya. Persis seperti gunung berapi dan lautan apabila ia berang. Senafas dengan ucapan seorang pemikir revolusioner: Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.

    Hal ini berbeda apabila kita menemui satu persoalan, di mana seseorang itu berpotensi merugikan khalayak. Kita boleh menjabarkan fakta-fakta busuk atas dirinya — sebagai upaya untuk mencegah potensi perugian terjadi. Namun pengungkapan fakta ini tidak boleh sembarang dikemukakan. Misalnya, engkau perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi. Sebab, sungguh tidak berperasaan menguliti manusia di hadapan publik.

    Kita perlu memperhatikan bahwa manusia memiliki perasaan; yang membuat ia akan kehilangan muka jika kita mengulitinya tanpa pertimbangan. Tetapi, alangkah arifnya apabila kita memilih untuk diam atau sekurang-kurangnya mengungkapkan dengan cara yang subtil. Hal ini dapat mencegah potensi pertikaian. Sebab, dewasa ini, betapa banyak yang bercepat mulut, yang rela menjual keburukan manusia lain buat kepentingan pribadi.

  • Mimpi Anak Jalanan

    Oleh: agung h.*

    Buletin Jakarta Muda — Setelah berita pandemi Covid-19 menyebar luas, orang-orang memilih mendekam diri di rumahnya masing-masing.  Berharap-harap tidak terkena Covid-19, lebih-lebih mengalami kematian. Sebab, menurut berita begitu lajunya Covid-19 menyebar dan menjangkit manusia. Dari hanya dua orang, menjadi ribuan dalam waktu singkat, bisa kita simak info kredibel lajunya di situs resmi Covid19.go.id atau media-media terpercaya lainnya. 

    Akan tetapi, mendekam diri di rumah yang awalnya untuk memutus mata rantai virus, justru mengemukakan suatu fakta yang miris. Kita menyaksikan kegelisahan masyarakat kecil yang terpinggirkan (marjinal), mereka tak berdaya dalam menghadapi gelombang perubahan yang bersifat dadakan. Pun saat kedatangan Covid-19 yang mengharuskan seluruh masyarakat melaksanakan aturan-aturan tertentu, hal ini membuat masyarakat kecil kebingungan. Terlebih, saat mereka harus diam di rumah, sementara cadangan uang dan makanan tidak ada. Bahkan sebagian hidup tanpa rumah.

    Oleh sebab itu, dapat kita lihat beberapa dari mereka tampil kemuka untuk menuntut pemenuhan kebutuhan yang bagi mereka adalah tanggung jawab negara.

    Kalau kita berkeliling ke setiap persimpangan jalan di Jakarta Pusat selama wabah ini berlangsung, kita akan menyaksikan ada orang-orang dengan pakaian compang-camping duduk sendiri dan kadang berkelompok, sembari matanya mengisyaratkan ‘saya belum makan’ seraya menunggu kedatangan tangan-tangan dermawan.

    Sementara di lain sisi orang-orang mapan (yang tak peduli) duduk manis di rumah dengan cadangan uang yang berlimpah. Lebih lagi, kita dapat menyaksikan, di antara orang jalanan itu ada yang masih berusia anak-anak dan remaja. Orang jalanan yang berumur dewasa memiliki ketangguhan mental yang lebih dalam menghadapi kenyataan hidup, tapi bagaimana dengan anak-anak? Padahal, anak-anak adalah benih-benih penerus bangsa atas mereka yang akan usang.

    Menurut Asmawati (1999), anak jalanan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu anak semi jalanan dan anak jalanan murni. Anak semi jalanan adalah anak-anak yang hidup dan mencari penghidupan di jalanan, tetapi tetap mempunyai hubungan dengan keluarga. Sementara itu, anak jalanan murni adalah yang hidup dan menjalani kehidupannya di jalanan tanpa punya hubungan dengan keluarganya. Walaupun masih kecil, kita tahu bahwa mereka adalah sama seperti manusia pada umumnya, memiliki imajinasi, harapan, dan impian.

    Mimpi Mereka

    Secara fitrah, manusia pasti memiliki cita-cita, memiliki suatu harapan. Siapapun itu, tak terkecuali anak-anak jalanan. Coba kita perhatikan lamat-lamat, meskipun pendapatan ekonomi orang tua kelas menengah-atas menurun drastis selama wabah. Tetapi, anak-anaknya masih dapat hidup nyaman di rumah, dengan berbagai fasilitas, menikmati cadangan uang yang ada, masih bisa mengekspresikan diri melalui jalur online. Mereka tinggal menyampaikan saja kebutuhannya kepada orang tuanya.

    Untuk hal ini, jangan kita bayangkan hal yang sama atas anak-anak jalanan. Anak jalanan tidak memiliki jaminan hidup dari orang tua, dari sesiapa, bahkan dari negara. Apatah jaminan masa depan bagi mereka. Masa depan mereka masih menjadi sebuah pertanyaan bebas. Kenyataan hidup semacam itu bukanlah sesuatu yang mereka inginkan, semua terjadi tanpa melalui proses memilih. Maka, dapatkah kita bayangkan, cita-cita dan harapan seorang anak yang seharusnya terealisasikan justru terampas oleh kenyataan hidup.

    Padahal, anak memiliki hak dalam hi-dup berkehidupan, hak tersebut dilindungi oleh konstitusi. Berdasarkan Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yaitu tentang hak anak, diantaranya adalah hak anak untuk hidup, hak atas pendidikan, hak atas makanan, hak atas kesehatan, hak atas air, hak atas perlindungan, hak atas kebebasan, serta hak untuk identitas.

    Memang, pernah pula kita dengar founding father mengatakan, “Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.” Seakan-akan kalimat ini memberi harapan “Ayo, bermimpi! Jangan takut bermimpi!” Tapi banyak yang lupa, bagaimana mungkin mereka (anak jalanan) berani menerbangkan mimpi sampai ke langit? Sementara langit mereka mendung dan murung. Ditambah lagi akses menuju pendidikan tidak semudah yang dibayangkan.

    Untuk mencapai mimpi itu me-mbutuhkan piranti, salah satunya ‘ilmu’ yang bisa di dapat melalui proses pendidikan formal atau nonformal. Mungkin beberapa orang akan mengatakan, bukankah ada lulusan sekolah dasar dan bahkan tidak sekolah sukses secara materi? Maka, kita jawab dengan pertanyaan, berapa persen jumlah mereka dari jumlah manusia secara keseluruhan? Tentu, pertanyaan itu tidak relevan dikeluarkan. Karena jumlahnya tidak sebanding. Menurut data UNESCO saja, jumlah anak jalanan di dunia sekitar 150 juta. Sementara di Indonesia menurut data Kemensos jumlah anak jalanan sekitar 12.000 orang pada tahun 2018. Ini adalah menurut data, belum lagi yang tidak terdata.

    Anak Jalanan dalam Bayang-bayang Pandemi

    Covid-19 membuat masa depan anak jalanan semakin tidak pasti, semakin suram dalam hal kesehatan. Anak jalanan seringkali tidak memperhatikan kesehatan dirinya. Baginya, hujan adalah bunga, panas adalah jantungnya, serta jalanan ialah ibu yang setia. Budaya hidup bersih tidak mungkin mereka lakukan. Meskipun, mereka memiliki mimpi untuk itu—makan dengan makanan yang sehat dan lezat, berpakaian klimis dan rapi, serta siap pergi ke dokter manakala terserang batuk- Hal itu hanya ada di dalam benak mereka.

    Pemerintah mengumumkan agar setiap orang menjaga jarak (social distancing) dan menjalankan aturan-aturan menjaga kesehatan secara mandiri. Tetapi, silakan pembaca lihat di sudut kota tempat pembaca tinggal, apakah mereka melakukan itu? Tentu sebenarnya mereka ingin melaksanakan anjuran pemerintah. Tetapi, sebelum pemerintah mengumumkan kewaspadaan itu, anak jalanan telah di intai kematian setiap waktu oleh berbagai penyakit dan tindak kejahatan.

    Kewajiban Pemerintah

    Salah satu alasan adanya negara ada-lah sebagai fasilitator atas hajat masyarakat. Maka, baik ketika Covid-19 sedang terjadi maupun setelah Covid-19 berlalu nantinya, pemerintah harus menunjukkan perhatian lebih kepada anak jalanan. Perhatian dalam arti yang sebenar-benarnya, memenuhi mimpi-mimpi mereka yang terekam sepanjang masa. Dalam kacamata keadilan sosial berbasis Islam, Hamka mengemukakan (2015), sebelum pemerintah menjatuhkan suatu hukuman terhadap rakyatnya, terlebih dahulu pemerintah harus menjalankan kewajiban memenuhi hajat rakyat, pendidikan, dan sebagainya.

    Begitu pula menurut Ibnu Khaldun (2011), kehadiran kekuasaan (pemerintahan) adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, baik kebutuhan dunia maupun akhirat. Sementara di dalam konstitusi Indonesia, telah tercantum jelas kewajiban itu, “…Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia… Mencerdaskan kehidupan bangsa… Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

    Jika landasan-landasan semacam itu tidak juga dapat menggerakkan pemerintah untuk memperhatikan anak jalanan atas mimpi-mimpinya, maka dapat kita beri satu pernyataan, bagaimana jika kita berada di posisi anak jalanan? Tidak cukup hanya menyerahkan anak jalanan kepada Polisi dan Satpol PP. Sejauh apa mereka memperlakukan anak jalanan setelah mengamankannya dari jalanan. Apakah mereka turut memenuhi mimpi-mimpinya yang selama ini tertahan?

    Memang, ada juga sebagian orang yang terhimpun dalam suatu organisasi melakukan pendampingan terhadap anak jalanan selama pandemi Covid-19. Aksi ini harus kita berikan apresiasi. Tetapi, sesuai dengan pembahasan kita. Bagaimana dengan cita-cita dan harapan anak jalanan selama ini, mimpi mereka sepanjang masa, terlepas ada dan tidaknya Covid-19. Mimpi itu sudah ada sebelum datangnya Covid-19. Apakah mimpi dan harapan itu turut terdampingi?

    Kita tidak ingin melihat anak-anak jalanan di dampingi hanya saat mewabahnya Covid-19 saja, tetapi, setelah Covid-19 berlalu, hidup dan cita-cita mereka masih menjadi suatu ketidakpastian. Mimpi dan harapan anak jalanan yang tertahan di dalam hati, lebih menyakitkan dari pada ketakutan orang-orang atas Covid-19. Bercita-cita adalah hak semua anak manusia, dan pemerintah memiliki kewajiban untuk turut serta memfasilitasinya, baik ketika masa Covid-19 atau pun setelah Covid-19 berlalu.

  • Pipoisme Sebagai Makna

    : agung h.

    artstation.com/artwork/qA38BD

    Sudah sekitar lima tahun berlalu, asal muasal lahirnya istilah ‘Pipoisme’. Sebenarnya saya agak bingung harus memulainya dengan kalimat apa. Sebab, pernah saya berniat untuk tidak membuka ini, cukup saya dan Sang Mahapaham yang tahu. Tapi, saya timbang-timbang kembali, rasanya untuk dapat saling memahami, kita harus saling tahu terlebih dahulu. Maka, atas alasan inilah saya putuskan untuk menulisnya.

    Dimulai ketika satu waktu saya sedang berada pada suatu kegiatan yang di adakan oleh suatu organisasi pergerakan. Lokasinya disuatu desa yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi, pohon tinggi ini bukan tanpa manfaat. Ia adalah mata pencarian utama penduduk desa, sekaligus penggerak perekonomian tanah kami. Jika ia musnah, maka terkaparlah kami.

    Kegiatan itu berjalanan selama tujuh hari. Dalam tujuh hari inilah proses lahirnya istilah ‘Pipoisme’. Saat saya tengah duduk diatas keramik putih, sehabis malam menjelang. Saya berbincang dengan salah seorang kawan. Ditengah perbincangan saya melihat suatu benda yang kalau saya tidak silap benda itu bertuliskan ‘vivo’. Mulanya tidak ada yang menarik dari benda bernama ‘vivo’. Semua menjadi berbalik setelah saya tahu pemilik dari benda bernama ‘vivo’ itu seorang ‘bunga’. Secara umum ‘bunga’ adalah salah satu mahluk yang memiliki bentuk sebagaimana manusia pada umumnya. Bermata, berkaki, berkepala, berbadan, berpakaian, dan yang masih menjadi tanda tanya, bernurani?

    Perlu kita ketahui, bahwa jauh sebelum saya melihat benda bernama ‘vivo’ itu, saya telah lebih dulu jatuh kepada tuannya. Pun, jauh sebelum mahluk-mahluk baru datang.

    Tepat pada momentum kegiatan itu, bagi saya ialah akumulasi dari patah-patah yang sebelumnya. Hal ini semakin mempertegas bahwa ‘bunga’ telah bergeser dari mahluk paling subtil menjadi mahluk pelupa (atau, sengaja berlupa).

    Pada momentum itu, saya hanya dapat memandangi benda di tangannya. Apabila benda itu dapat mendengar, ingin saya katakan ‘Hai, benda! Tuanmu lupa dengan janjinya, semoga ia tidak jatuh kepada tangan cilaka.”

    Maka kemudian, kata ‘vivo’ itu bertransformasi menjadi ‘pipo’, alasanya adalah saya melihat kata ‘pipo’ memiliki citra kesederhanaan dan kepastian dari pada kata ‘vivo’. Sementara kata isme itu tidak lain hanyalah piranti atau yang berarti paham/prinsip. Maka makna istilah Pipoisme dalam pandangan saya bersifat konteks bukan literal, yang bermakna sebagai suatu prinsip mengenai kesederhanaan dan kepastian sikap atas suatu fakta yang memperkosa kesepakatan. Sederhananya, pipoisme adalah prinsip untuk tetap bersikap jujur (hati dan pikiran) meskipun kejujuran itu pernah dipatahkan.  Serta tidak memiliki pikiran untuk mencari pelarian (eskapisme) atau melampiaskannya kepada bunga-bunga lainnya. Tetap meyakini bahwa hati dan pikiran yang jujur memiliki nilai dan jalannya sendiri. Pepatah melayu menyatakan; “kalau tuah ada di diri, pasir di genggaman menjadi intan”.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai