• Oleh Agung Hyt

    DILARANGKAH membicarakan moral? Tidak. Malahan sedikit banyaknya setiap orang harus tahu apa itu etika dan moral.

    Persoalannya di sini: kita tak jarang menggunakan istilah-istilah moralis semata-mata karena perasaan senang-tak-senang. Bukan sebab secara serius memegang prinsip-prinsip moral.

    Kita senang menyebut koruptor sebagai orang-orang tak bermoral, tetapi kita enggan mengatakan leha-leha dalam bekerja, abai pada amanah, eksploitatif, dominatif, inkonsisten, keras kepala, dan gemar menuntut orang lain dengan bermacam-macam tuntutan tak masuk akal, semua itu, juga suatu jenis perbuatan tak bermoral.

  • Oleh Agung Hyt

    DI PII ada keyakinan macam ini: “Anak PII dipaksa dewasa sebelum waktunya.”

    Meskipun sebetulnya di PII jarang terdengar nasihat ini: kau harus dewasa! Malahan yang sering terdengar ini: kau harus banyak membaca!

    Kalau dipikir² anak PII bukan dipaksa dewasa. Dari baca-membaca itu, baca buku & baca kenyataan, dia mengerti dia berangkat dari “ketiadaan”, akhirnya secara rela dia mendewasakan diri.

    Kemudian dengan pegangan kedewasaan itu ada yang  memilih jadi pedagang, profesional, akademisi, malahan ada juga yang konsisten jadi sufi.

    Masing-masing pilihan itu disesuaikan menurut tujuan & kebutuhannya.

  • Ketika Iblis Frustasi

    Oleh Agung Hidayat

    Dikisahkan dalam kitab Luqthul-Marjaan Fi Ahkaamil-jaan halaman 207 karya Imam As-Suyuthy terjemahan Kathur Suhardi, bahwa iblis frustasi ketika berhadapan dengan orang berakal.

    Begini kisahnya.

    Ibnu Abid-Dunya mentakhrij dari jalan Ali bin Asyim, dari sebagian penduduk Bashrah, dia berkata: Ada seorang yang berilmu mengikat persaudaraan dengan seorang ahli ibadah. Syetan berkata kepada iblis, “Aku tak dapat memisahkan dua orang ini.”

    Iblis menjawab, “Serahkan mereka berdua padaku.”

    Iblis duduk di jalan yang dilalui ahli ibadah. Ketika ahli ibadah itu sudah dekat, iblis menampakkan diri dalam rupa lelaki tua yang di antara kedua matanya terdapat bekas sujud. Ia berkata kepada ahli ibadah, “Ada sesuatu yang sudah lama kusimpan dan ingin kutanyakan kepadamu.”

    “Tanyalah. Kalau memang aku dapat menjawab, maka aku akan menjawabnya,” kata ahli ibadah.

    Iblis bertanya, “Apakah Allah mampu menjadikan langit dan bumi, gunung, pepohonan dan air dalam satu telor, tanpa harus menambahi atau mengurangi sedikit pun dari ukuran-(nya) ini?”

    Ahli ibadah hanya diam saja. Maka iblis berkata, “Pergilah.” Lalu ia menoleh pada teman-temannya dan berkata, “Aku telah mampu merusaknya dan menjadikannya orang yang ragu terhadap Allah.”

    Kemudian ia duduk di jalan yang biasa dilalui orang berilmu. Ketika sudah dekat, iblis menghampirinya dan berkata, “Sesungguhnya aku sudah lama memendam sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu.”

    “Tanyalah. Kalau memang aku bisa menjawabnya, aku akan menjawabnya,” kata orang berilmu.

    Iblis bertanya, “Apakah Allah mampu menjadikan langit dan bumi, gunung, pepohonan dan air dalam satu telor, tanpa harus menambahi atau mengurangi sedikit pun dari ukuran-(nya) ini?”

    “Ya, bisa,” jawab orang berilmu.

    Iblis seperti tak puas dengan jawabannya. Maka dia bertanya lagi, “Tanpa harus menambahi sedikit pun dari ukuran ini?”

    “Ya,” jawab orang berilmu. Lalu ia membaca ayat, “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya, ‘jadilah!’, maka jadilah ia.” (Yasin: 82).

    Iblis berkata kepada rekan-rekannya, “Lebih baik tinggalkan orang semacam ini.”

    *

    Kisah di atas memperlihatkan perbedaan pendekatan orang saleh dan orang berilmu dalam menghadapi godaan iblis.

    Iblis, sebagai sosok berwatak jahil tidak hanya mencoba menggoda manusia melalui godaan “dunia”, tetapi juga melalui keraguan-keraguan. Ketika Iblis berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kekuatan akal dan kekokohan iman, ia mengalami kesulitan dan akhirnya frustasi.

  • Oleh Agung Hidayat

    Harapan adalah buah dari keinginan untuk mencapai dan memiliki sesuatu. Apabila tidak terpenuhi harapan dan kemauan, tak jarang seseorang akan kecewa atau patah hati.

    Bagi orang yang besar hati dan matang akalnya, mungkin akan penuh maklum. Tapi, bagi sebagian orang, patah hati adalah kesempatan untuk menangis histeris, menggerutu, dan mengutuk keadaan.

    Mengapa semua itu dapat terjadi? Keadaan rumit ini terjadi karena di awal kita menyandarkan harapan pada manusia. Dorongan hasrat membuat kita mengabaikan fungsi akal. Sering kali lemahnya akal membuat kita melambungkan harapan pada manusia jauh melampaui kewajaran.

    Apakah kita akan mengisi hidup untuk berharap-harap pada makhluk —pada manusia. Sampai kapan kita akan menjadikan manusia sebagai alasan untuk bersedih? Tak punyakah kita keinginan untuk menyandarkan harapan hanya kepada Allah swt? Zat Yang Maha Setia lagi Maha Romantis.

    ***

    Menyandarkan harapan pada manusia, pada dasarnya, memberi manusia kendali atas kebahagiaan dan kekecewaan kita. Di posisi ini, kita lupa bahwa manusia itu sendiri adalah makhluk yang memiliki keterbatasan dan kekurangan.

    Oleh sebab itu —pasti— ketika kita menggantungkan harapan pada manusia, cepat atau lambat, kita sedang menyiapkan diri untuk kecewa.

    Sebaliknya, menyandarkan harapan pada Allah swt berarti menyandarkan harapan pada Zat Yang Maha Setia lagi Maha Pengasih. Allah swt tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang berharap pada-Nya. Sebab kita tahu Allah swt merupakan Zat Yang Maha Teguh —tiada sifat khianat pada Diri-Nya.

    Tapi, ini bukan berarti kita tidak boleh berharap atau mempercayai manusia sama sekali. Namun, kita harus menempatkan harapan kita pada tempat yang semestinya —dengan sikap rela dan penuh kesadaran.

    ***

    “Puncak mencintai adalah rela.”

    Kerelaan mencerminkan keyakinan yang dalam bahwa setiap kejadian punya maksud tersembunyi —serta meyakini hal itu bagian dari rencana yang lebih besar dari Sang Maha Perencana.

    Contoh nyata dari kerelaan dapat kita lihat dalam hubungan suami-istri seperti yang banyak terjadi hari-hari ini. Suami yang mencintai istrinya dengan rela tak akan menuntut agar istrinya menuruti semua keinginan dirinya. Begitu pula sebaliknya, seorang istri yang memiliki sikap rela tak akan menuntut berbagai-bagai pada suaminya hingga membuat suaminya pusing-tujuh-keliling.

    Kerelaan juga memainkan peran penting dalam hubungan antarmanusia. Di dalam hubungan sosial, misalnya, seseorang yang berjiwa rela tidak akan menggelar tuntutan bermacam-macam agar orang tunduk pada “telunjuk”-nya —yang membuat ia terjebak dalam siklus keinginan dan kekecewaan yang tiada henti.

    Pun, dalam konteks spiritual, cinta tertinggi kepada Allah swt juga memerlukan kerelaan. Seorang hamba yang mencintai Allah swt dengan rela akan menerima segala ketetapan dan takdir-Nya. Mereka tidak akan menghadap-hadapkan antara ketetapan dan ego diri. Mereka dapat membedakan secara baik dua hal tersebut. Tidak mencampuradukkan antara keduanya, dan kemudian secara ekstrem menuntut ketetapan harus mengikuti segala kemauannya —sebagaimana yang dilakukan kaum Sodom pada masa Luth Alaihisssalam.

  • Oleh Agung Hyt

    Lawan dari “rela” itu bukan “tidak rela”, tapi menuntut. Di lapangan kehidupan sehari-hari, akan tampak aneh kalau sedikit-sedikit menuntut.

    Menuntut dicintai, menuntut diperhatikan, menuntut diikuti, menuntut diberi, menuntut dihargai, menuntut ini-itu. Pada pokoknya kita gemar mendesak orang lain mengikuti kemauan diri —kita tidak siap melihat orang lain tumbuh dalam kemerdekaan.

    Jangan kita mendidik anak-anak kita dalam moralitas penuntut. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh di atas jiwa yang kacau. Jangan kita menjadi contoh bagi moralitas itu.

    Anak-anak kita harus tumbuh sebagai manusia yang insaf dan sadar. Anak-anak kita harus mengerti bahwa di balik penglihatannya yang sederhana terdapat kompleksitas kehidupan tak terjelaskan.

    Sekarang mari kita berimajinasi, andaikan sifat-sifat itu melekat pada kita hingga suatu saat kelak kita memiliki anak-keturunan, kira-kira apa yang terjadi?

  • Seorang Bhikkhu berkata:

    “Jangan bermeditasi. Jangan pula terdistraksi,” ucapnya.

    Ia melanjutkan, “Jangan memanipulasi pikiran. Bersikaplah alamiah.”

    “Anda hanya perlu menumbuhkan kesadaran; mengetahui apa yang Anda pikiran, lakukan, dan apa yang terjadi dalam diri Anda dan sekitar Anda … Biarkan semua berjalan secara alami. Itulah meditasi terbaik!” Tutupnya.

  • Oleh Agung Hyt

    Memang, bahasa Indonesia tak memiliki standar tutur. Namun, Prof Usman Pelly (1938) seorang antropolog, mencatat: Bahasa Indonesia “lebih sedap” dituturkan dalam dialek dan aksen Medan (mungkin maksudnya seperti dalam Nagabonar). Pendapat itu ia katakan berkaitan dengan historisitas bahasa Indonesia yang tidak dapat dilepaskan dari akarnya: Kemelayuan.

    Mungkin betul, tapi, kupikir, itu harus dikolaborasikan dengan tutur Melayu-Pasar Indonesia timur: di mana kata “tidak”, “sangat”, “sekali”, dan “saya” digunakan secara konsisten. Serta kata “aku” dan “kamu” tetap terdengar bermarwah ketika diucapkan. Kolaborasi ini perlu untuk menciptakan kekuatan berbahasa. Hal ini penting karena tidak ada kekuatan bahasa tanpa eufonik (sedap didengar).

    Tapi, kolaborasi yang dimaksud itu tidak bersifat kaku, karena sebenarnya bahasa Indonesia yang dituturkan dalam dialek dan aksen Aceh, “Sumatera Timur”, “Sumatera Tengah”, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan beberapa lainnya pun memiliki cita rasa yang “sedap” didengar. Ini tercermin ketika kita “mendengar” dan kemudian merindukannya.

    Ringkasnya begini. Kita harus segera meninggalkan bahasa berwatak sinetron. Bahasa yang hambar, kering, dan palsu. Suatu bahasa yang tidak mengundang kerinduan. Suatu bahasa yang bersifat semu —dibuat-buat. Suatu bahasa yang tak memiliki energi untuk membangun percakapan jujur dan mendalam. Yang hari-hari ini memenuhi jagat maya, sebagian kecil wilayah, dan sebagian besar podcast-podcast.

  • Oleh Agung Hyt

    Pernah saya dengar dan saya dapati orang yang patuh pada nilai hidup, dituduh sebagai liberal. Liberal yang dimaksud itu yang maknanya dimiringkan, yaitu watak hidup semau-mau hati.

    Padahal yang dituduh macam-macam itu berjalan di muka kehidupan dengan langkah amat hati-hati: menjaga lidahnya dan disiplin dalam berpikir.

    Pernah saya melihat orang yang dituduh itu dalam kesendiriannya berzikir. Berlama-lama di atas sajadah. Lepas itu, ia membaca buku dan membuat coretan atas apa yang dibacanya. Tapi itu di kesendirian. Saya tidak pernah melihat ia melakukan itu di ruang yang banyak orangnya.

  • Oleh Agung Hyt

    Awak sepakat bahwa dalam mencari ilmu harus banyak bertanya. Tapi, bertanya yang dimaksud tak boleh selalu ditujukan pada yang di luar diri. Pertanyaan itu harus lebih sering diajukan pada diri sendiri untuk memantik diskusi internal. Orang-orang menyebutnya inner monologue: suatu kemampuan melakukan dialog batin. Dalam khazanah Yunani dikenal sebagai gnōthi seautón: mengenal diri sendiri.

    Sebab, pertanyaan jenis pertama mungkin akan memberi kita jawaban instan. Tapi juga akan membawa kita pada watak peminta-minta. Tidak mendidik kemandirian berpikir.

    Namun, pertanyaan jenis kedua mendidik kita untuk mencari, menganalisis, dan memperbandingkan satu sumber dengan sumber lainnya untuk sampai pada kesimpulan paling meyakinkan.

  • Oleh Agung Hyt

    Biarkan anak-anak kita bergerak ke mana pun. Dorong mereka “pergi” meninggalkan kampung. Kalau ia mati di perjalanan —itu jalannya. Kalau ia tumbuh di perjalanan —itu jalannya. Moverse o muerte!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai