Oleh Agung Hidayat
Dikisahkan dalam kitab Luqthul-Marjaan Fi Ahkaamil-jaan halaman 207 karya Imam As-Suyuthy terjemahan Kathur Suhardi, bahwa iblis frustasi ketika berhadapan dengan orang berakal.
Begini kisahnya.
Ibnu Abid-Dunya mentakhrij dari jalan Ali bin Asyim, dari sebagian penduduk Bashrah, dia berkata: Ada seorang yang berilmu mengikat persaudaraan dengan seorang ahli ibadah. Syetan berkata kepada iblis, “Aku tak dapat memisahkan dua orang ini.”
Iblis menjawab, “Serahkan mereka berdua padaku.”
Iblis duduk di jalan yang dilalui ahli ibadah. Ketika ahli ibadah itu sudah dekat, iblis menampakkan diri dalam rupa lelaki tua yang di antara kedua matanya terdapat bekas sujud. Ia berkata kepada ahli ibadah, “Ada sesuatu yang sudah lama kusimpan dan ingin kutanyakan kepadamu.”
“Tanyalah. Kalau memang aku dapat menjawab, maka aku akan menjawabnya,” kata ahli ibadah.
Iblis bertanya, “Apakah Allah mampu menjadikan langit dan bumi, gunung, pepohonan dan air dalam satu telor, tanpa harus menambahi atau mengurangi sedikit pun dari ukuran-(nya) ini?”
Ahli ibadah hanya diam saja. Maka iblis berkata, “Pergilah.” Lalu ia menoleh pada teman-temannya dan berkata, “Aku telah mampu merusaknya dan menjadikannya orang yang ragu terhadap Allah.”
Kemudian ia duduk di jalan yang biasa dilalui orang berilmu. Ketika sudah dekat, iblis menghampirinya dan berkata, “Sesungguhnya aku sudah lama memendam sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu.”
“Tanyalah. Kalau memang aku bisa menjawabnya, aku akan menjawabnya,” kata orang berilmu.
Iblis bertanya, “Apakah Allah mampu menjadikan langit dan bumi, gunung, pepohonan dan air dalam satu telor, tanpa harus menambahi atau mengurangi sedikit pun dari ukuran-(nya) ini?”
“Ya, bisa,” jawab orang berilmu.
Iblis seperti tak puas dengan jawabannya. Maka dia bertanya lagi, “Tanpa harus menambahi sedikit pun dari ukuran ini?”
“Ya,” jawab orang berilmu. Lalu ia membaca ayat, “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya, ‘jadilah!’, maka jadilah ia.” (Yasin: 82).
Iblis berkata kepada rekan-rekannya, “Lebih baik tinggalkan orang semacam ini.”
*
Kisah di atas memperlihatkan perbedaan pendekatan orang saleh dan orang berilmu dalam menghadapi godaan iblis.
Iblis, sebagai sosok berwatak jahil tidak hanya mencoba menggoda manusia melalui godaan “dunia”, tetapi juga melalui keraguan-keraguan. Ketika Iblis berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kekuatan akal dan kekokohan iman, ia mengalami kesulitan dan akhirnya frustasi.