Oleh: Agung Hyt
Jalan Kencana membentang sepanjang 500 meter. Di kanan jalan bunga dadap tumbuh berbaris. Di sebelah kiri terdapat sungai gambut dengan air yang agak keruh. Di ujung jalan kita akan menemukan dua pohon mahoni besar dengan daun yang lebat, berdiri kokoh bagai gapura.
Konon, dua pohon tersebut telah berusia sangat tua, setua ruas jalan Kencana. Para orang tua mengatakan bahwa jalan ini telah ada sejak zaman kerajaan, masa awal abad 18. Mereka juga percaya, dahulu jalan ini sering dilintasi oleh rombongan kerajaan Putri Kaca Mayang. Menurut penuturan warga yang rumahnya tak jauh dari ruas jalan Kencana, sering mendengar suara derap kaki kuda dibarengi pekikan suaranya. Mereka meyakini, itu adalah rombongan Putri Kaca Mayang yang tengah melakukan perjalanan lintas dimensi. Itulah sebabnya penduduk desa akan bergidik ketika melewati jalan ini terutama di waktu malam.
Tetua desa memberi sabda kepada para orang tua agar anak-anak mereka dilarang untuk bermain di jalan Kencana. Tetua desa mengatakan, jika ada yang berani melakukannya, anak-anak tersebut akan dibawa ke alam gaib oleh Sang Putri untuk dijadikan pelayan. Masyarakat yang mendengar petuah Tetua langsung memercayainya tanpa tetapi.
Tak heran jika jalanan ini sunyi. Aroma ngeri menguar di setiap waktunya.
Namun demikian, jika manusia merasa ngeri meski cuma mendengar nama jalan Kencana, lain hal dengan tumbuhan dan hewan yang hidup di sekitarnya. Pepohonan dan hewan tampak selalu riang. Sebab mereka dapat hidup aman terbebas dari tangan-tangan jahat manusia. Begitu pula dengan Sinta dan Rahwana, dua burung Serindit yang telah lama berkawan, mereka dapat terbang bebas di antara ranting pohon tanpa harus merasa khawatir dibidik oleh senapan manusia.
Sebenarnya Rahwana pernah mengatakan kepada Sinta, ia menyimpan keinginan untuk pergi ke daerah manusia. Ia ingin melihat bagaimana kehidupan di sana. Tetapi Sinta selalu melarangnya. Sinta mengatakan bahwa nyawa menjadi taruhan jika Rahwana berani pergi ke daerah manusia. Rahwana selalu mendengarkan perkataan Sinta. Tapi entah kenapa sore itu berbeda, Sinta menyadari sesuatu hal, rasa penasaran Rahwana seakan telah menjelma menjadi setan bebal.
Rahwana mencuri waktu dan terbang ke daerah manusia. Benar saja, tak jauh setelah keluar dari batas antara jalan Kencana dengan daerah manusia yang ditandai oleh dua pohon mahoni, malapetaka berkunjung kepada dirinya. Tubuhnya menghantam tanah di-ketapel oleh anak manusia. Rahwana berteriak. Sinta yang mengikuti Rahwana sejak tadi cuma bisa menyaksikan kemalangan Rahwana di antara dedaunan pohon mahoni. Rahwana beringsut mencoba melarikan diri. Sayangnya sayapnya yang terluka kalah gesit oleh tangan manusia yang lebih dulu mencengkram tubuhnya. Tamatlah dia!
Anak manusia tertawa girang mendapati burung mungil berwarna indah.
Air mata mengalir deras, membasahi bulu hijau indahnya. Seketika saja kekuatan cinta merobohkan ketakutannya. Sinta meluncur meninggalkan garis aman. Ia kepak sayapnya sekuat tenaga — Sinta melesat bagai Elang yang hendak menerkam mangsa. Sinta membidik mata si anak manusia dengan paruhnya yang indah. Sejurus kemudian si anak manusia berguling-guling di tanah. Darah memuncrat dari matanya. Bidikan Sinta tepat sasaran.
Bergegas Sinta meraih tubuh Rahwana dengan kedua kakinya. Membawa Rahwana terbang ke langit.
Setelah dirasa aman dari jangkauan ketapel anak manusia, Sinta mendarat di salah satu pohon besar yang rimbun. Diletaknya tubuh Rahwana di antara cabang pohon itu. Sinta mengelus tubuh Rahwana dengan paruhnya. Meminta Rahwana bertahan. Rahwana mengedipkan mata. Ia mengedipkan mata berulang kali seperti sedang berusaha membahasakan sesuatu.
“M-maaf. M-maafkan a-aku…”
Sinta menangis.
“Kau mampu bertahan. Aku percaya kepadamu.”
Rahwana tersenyum kecil. Mengedipkan mata. Mencoba berkomunikasi dengan matanya.
Sekian puluh detik kemudian, tak ada kedipan lagi. Matanya tertutup rapat.
Sinta meraung. Diiringi oleh gelegar halilintar di langit mendung.
“Lihatlah diriku, sebuah kekhawatiran yang maknanya samar-samar. Kadang tak bermakna. Kadang bermakna bahasa cinta,” lirih Sinta pada Rahwana yang telah mati oleh kebodohannya sendiri.