• Makna Hikmati

    Oleh: Agum Hyt

    Sebelum kita menuntut orang lain mencintai kita, kita mesti mengkaji diri dulu, apakah kita layak dicintai? Apakah kita pantas dikasihi? Benar, bahwa cahaya cinta itu universal tanpa sekat, tapi, menuntut dicintai tanpa usaha memantaskan diri adalah satu bentuk keangkuhan hati. Hal ini senada dengan perkataan seorang ateis radikal: Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi paling besar (Nietzsche, 2018: 118).

    Saya kutip pernyataan tersebut untuk menarik satu kebijaksanaan kecil. Seorang ateis yang telah “membunuh tuhan” menyadari secara baik nilai-nilai kepantasan.

    Ketika dalam mengkaji diri itu kita menemukan kekurangan diri di sana sini, maka jalan yang paling bijaksana adalah menerima. Menerima serta rela tidak dicintai oleh siapa pun. Tidak menuntut orang lain mencintai dan memberi perhatiannya kepada kita.

    Cukuplah kita berserah-diri kepada Yang Maha Pencinta.

    Lā hawla wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi.

  • meniadakan kata

    Oleh: Agung Hyt

    Seorang komunis dari Portugal pernah mengatakan: Kata-kata yang berasal dari hati tidak pernah terucap, ia tertahan di tenggorokan dan hanya bisa dibaca pada mata seseorang.

    Mengapa mata?

    Kalau tidak silap, jawabannya tedapat dalam perkataan seorang sufi dari Persia: Orang yang tak mampu membaca kedua matamu, tak akan mampu mendengar kata hatimu.

    Ada yang mengatakan bahwa cinta itu irrasional, ia tidak memerlukan alasan apa pun kecuali keberserahan diri secara utuh pada yang dicinta. Ada pula yang meyakini bahwa cinta yang luhur harus masuk melalui pintu akal dan harus berada dalam kontrol akal.

    Kita tidak mencoba masuk ke dalam perdebatan tersebut. Namun, kita hendak menggelar satu pemahaman lain yaitu, “Cinta harus mampu dijelaskan secara masuk akal dan meniadakan kata-kata adalah penjelasan paling masuk akal dalam mencinta.”

  • Teduh VII

    Oleh Agung Hyt

    Hidup dalam susuan induk semang membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lamban dan rapuh.

    Ia tak pernah merasa-i lidah matahari menjilati pipi, merahnya bara membakar kaki, tak pernah menempuh rangkaian panjang perjalanan. Sehingga daya pandangnya terbatas pada yang tampak saja. Mudah kagum pada yang melankolis, pada yang merdu, pada yang romantis, pada yang semu.

    Dengan mudah ia tahu tengah senang pada siapa, tapi ia tak tahu siapa yang tengah menyenanginya dengan kepayahan. Ia memesona dan lembut hati, sekaligus naif dan bodoh.

  • Petuah Dari Yunani

    Oleh: AgungHyt

    Dalam seribu dialog, kita tidak mungkin luput dari sikap melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi fakta, dengan kadar sedikit maupun banyak. Perkataan spontan sering lepas dari kontrol alam sadar. Secara sederhana kita menyebutnya: khilaf.

    Jika ini yang terjadi, tak apa. Tak perlu dipusingkan. Itu manusiawi, itu dapat dimaklumi.

    Lagi pula, Rumi dalam Matsnawi-nya mencatat, yang kurang lebih begini: “Selalu ada kadar kebaikan dalam keburukan. Selalu ada kadar keburukan dalam kebaikan.”

    Yang tidak boleh adalah perilaku melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi itu mengakar dan menjadi watak yang melekat pada diri. Sehingga kita tidak menyadari, atau bahkan secara ekstrem menolak menyadari.

    Karena itu, setiap waktu dalam sehari kita tak boleh lepas dari mengkaji diri. Membuka dan mengupas kemungkinan-kemungkinan kekeliruan yang dibuat.

    Dalam Apologia, melalui Plato, Socrates menegaskan: “Hidup yang tidak direnungi dalam refleksi bukanlah hidup yang manusiawi.”

  • Teduh VI

    Siapa yang menenggelamkan diri pada laut, untuk merengkuh engkau di daratan?

    Siapa yang meneduh di bawah awan, melambaikan tangan pada langit yang berhasrat menyentuh bibir laut?

    Seorang penyair berkata: Jika ada yang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.

    Ah, tak seharusnya kita percaya pada penyair.

  • Merebus Bakwan

    Oleh: AgungHyt

    Mendadak Kepala Adat mengumpulkan semua pegawai desa I-lus-i. Dengan suara lembut diiringi nyengir tipis, Kepala Adat menyilakan Sang Istri tercinta untuk duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu mahoni untuk menyampaikan sesuatu.

    “Sodara-sodara, harap semuanya tenang dan simak baik-baik,” kata Kepala Adat sebagai pimpinan tertinggi di desa I-lus-i.

    Setelah semua hening, Kepala Adat menyilakan Sang Istri untuk bicara.

    “Sudah tiga hari saya mengalami sulit tidur.” Ucap Sang Istri Kepala Adat membuka bicaranya. Lalu dia terdiam. Seperti sedang memikirkan suatu hal.

    Para pegawai kebingungan, tidak memahami maksud dari perkataan Sang Istri Kepala Adat. Apa hubungannya persoalan sulit tidur dengan urusan mengatur desa.

    Sang Istri melanjutkan. “Begini. Selama tiga hari ini saya memikirkan satu gagasan. Mengapa kita harus memasak makanan dengan menggunakan minyak goreng, kalau dengan air saja bisa. Air di desa kita melimpah. Lagian, bukankah menurut anu mengkonsumsi makanan yang serba digoreng itu berbahaya dan bukankah menurut anu makanan yang direbus dan dikukus itu menyehatkan tubuh? Tapi maksud inti dari gagasan saya itu begini. Semua Ibu Rumah Tangga, pedagang di Pasar, dan semua masyarakat yang berjualan dengan memanfaatkan minyak goreng kita ubah aturan mainnya: Membuat bakwan, molen, keripik, kerupuk, pecal lele, dan semua jenis memasak makanan di desa ini harus diproses dengan cara dikukus dan direbus. Tapi, ini hanya caranya saja, nanti penyebutannya tetap ‘menggoreng’ meskipun proses memasaknya dengan cara dikukus dan direbus. Jadi singkatnya, menggoreng molen dan bakwan melalui metode kukus dan rebus.

    Bagaimana?” Tanya Sang Istri Kepala Adat kepada para hadirin.

    Semua pegawai yang hadir tampak kebingungan.

    Tiba-tiba seorang laki-laki gempal memecah suasana kikuk tersebut, “Mantappp, Bu Kadat!” Teriaknya. “Ini ide yang sangat cemerlang!” Pujinya.

    Semua orang di ruangan tersebut tertuju kepada Si Laki-laki Gempal. Sang Istri Kepala Adat nyengir kesenangan. Para pegawai yang lainnya masih berwajah bingung.

    Si Laki-laki Gempal melanjutkan bicaranya.

    “Ini gagasan cemerlang. Sangat inovatif: Menggoreng bakwan dan molen melalui metode kukus dan rebus. Selama ini kita tidak pernah memikirkan gagasan keren ini. Melampaui pikiran siapa pun. Padahal gagasan ini berangkat dari hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Ditambah lagi beliau tidak ingin kita bergantung kepada minyak goreng karena menurut anu minyak goreng mengancam kesehatan tubuh. Bukankah ini bentuk kasih sayang dari seorang istri Kepala Adat kepada masyarakatnya?

    Tapi… Apakah masyarakat akan menerima perubahan keren ini?” Tanya laki-laki gempal menutup bicaranya.

    Kepala Adat yang sejak tadi diam langsung berkata “Ah, tentang, bisa diatur itu!”

    Sang Istri tersenyum lebar. Si Laki-laki Gempal tertiwi kecil. Sementara itu, para hadirin lainnya dari seperangkat pegawai desa I-lus-i masih diselimuti kebingungan.

  • Sex dan Cinta

    Oleh: Agung Hyt

    Dia dikenal makhluk paling pakboi di kampung kami. Banyak “hutan” dan “lembah” pernah ditelusuri. Bagaimana tidak, warna kulitnya yang putih kemerahan berpadu dengan karakternya yang dingin dan tidak neko-neko membuat perempuan di kampung kami mengantre untuk menjadi pacarnya. Sekali pun sekadar buat merasai sex-nya.

    Kendati demikian, dia adalah laki-laki yang memegang teguh marwah. Baginya, sex yang baik adalah sex yang tidak naif. Tidak kekanakan. Terukur. Terkendali. Padahal di luar sana, banyak laki-laki murah dan tidak bermarwah: menjual cinta dan alat kelamin ke mana-mana.

    Setiap aku pulang kampung, kami selalu bertemu. Bercerita sepanjang malam soal kehidupan, masa depan, serta tentunya cinta dan sex. Biasanya di saat begini aku merayunya agar ia meninggalkan semua itu.

    Selow aja kau. Pasti ada saatnya itu!” Jawabnya. Seolah-olah dia hendak membahasakan bahwa masih ada cahaya akal pada dirinya.

    Aku tersenyum mengangguk. Pertanda memahami.

    Ketika aku merayunya agar meninggalkan pacaran dan sex apa berarti aku juga melakukan ini kepada semua temanku di kampung. Tentu tidak. Justru sebagian kawanku yang “polos” kurayu agar memiliki pacar dan merasakan kenikmatan sensasinya. Mengapa aku melakukan hal yang berbeda? Jawaban sederhananya: Ini hanya perkara waktu saja. Lebih jauh dari itu, “rayuanku” harus menyentuh konteks dan peta kondisi.

    Aku ingin menegaskan kembali saat aku merayu kawanku untuk meninggalkan pacaran dan sex tidak berarti aku telah merdeka dari cela. Hanya saja aku tidak ingin kita menormalisasi sesuatu yang jelas-jelas keliru. Pacaran dan egoisme cinta itu keliru, namun karena pacaran itu mengandung aspirin yang dapat memuaskan hati, kita membelanya mati-matian.

    Ada baiknya kita menjalani sex dan pacaran itu dengan penuh pengakuan. Tidak perlu berdalih dan berfalsafah seakan-akan hal itu suatu hak dan kebaikan.

    Memang tidak semua pacaran dan membucin pasti dibumbui sex. Tapi, pasti semua pacaran menginginkan dan mendambakan romantisme. Kita pikir apa itu romantisme? Jika sex kita artikan kenikmatan, maka, romantisme adalah sex yang diperhalus belaka. Kenikmatan yang didapat melalui tatapan, suara, pujian, pengaguman, hadiah, dan melalui bahasa yang diam-diam menggairahkan.

    Ringkasnya begini. Fakboy saja paham pacaran dan bucin itu suatu kecilakaan. Suatu kekeliruan. Tapi kita yang dididik oleh nilai-nilai malah mencoba menormalisasi pacaran, bucin, dan sex. Apa tidak gila?

  • Teduh V

    Keluasan, kedalaman, dan segala ketakterjangkauan, kita sebut sebagai misteri. Misteri juga berarti rahasia yang tak terjangkau indera.

    Manusia waras mana yang mau bermain di ruang misteri? Kecuali yang telah sampai pada taraf gila.

    Dan satu-satunya penawar atas kegilaannya hanyalah malam pekat belaka.

  • Hikayat Burung Serindit

    Oleh: Agung Hyt

    Jalan Kencana membentang sepanjang 500 meter. Di kanan jalan bunga dadap tumbuh berbaris. Di sebelah kiri terdapat sungai gambut dengan air yang agak keruh. Di ujung jalan kita akan menemukan dua pohon mahoni besar dengan daun yang lebat, berdiri kokoh bagai gapura.

    Konon, dua pohon tersebut telah berusia sangat tua, setua ruas jalan Kencana. Para orang tua mengatakan bahwa jalan ini telah ada sejak zaman kerajaan, masa awal abad 18. Mereka juga percaya, dahulu jalan ini sering dilintasi oleh rombongan kerajaan Putri Kaca Mayang. Menurut penuturan warga yang rumahnya tak jauh dari ruas jalan Kencana, sering mendengar suara derap kaki kuda dibarengi pekikan suaranya. Mereka meyakini, itu adalah rombongan Putri Kaca Mayang yang tengah melakukan perjalanan lintas dimensi. Itulah sebabnya penduduk desa akan bergidik ketika melewati jalan ini terutama di waktu malam.

    Tetua desa memberi sabda kepada para orang tua agar anak-anak mereka dilarang untuk bermain di jalan Kencana. Tetua desa mengatakan, jika ada yang berani melakukannya, anak-anak tersebut akan dibawa ke alam gaib oleh Sang Putri untuk dijadikan pelayan. Masyarakat yang mendengar petuah Tetua langsung memercayainya tanpa tetapi.

    Tak heran jika jalanan ini sunyi. Aroma ngeri menguar di setiap waktunya.

    Namun demikian, jika manusia merasa ngeri meski cuma mendengar nama jalan Kencana, lain hal dengan tumbuhan dan hewan yang hidup di sekitarnya. Pepohonan dan hewan tampak selalu riang. Sebab mereka dapat hidup aman terbebas dari tangan-tangan jahat manusia. Begitu pula dengan Sinta dan Rahwana, dua burung Serindit yang telah lama berkawan, mereka dapat terbang bebas di antara ranting pohon tanpa harus merasa khawatir dibidik oleh senapan manusia.

    Sebenarnya Rahwana pernah mengatakan kepada Sinta, ia menyimpan keinginan untuk pergi ke daerah manusia. Ia ingin melihat bagaimana kehidupan di sana. Tetapi Sinta selalu melarangnya. Sinta mengatakan bahwa nyawa menjadi taruhan jika Rahwana berani pergi ke daerah manusia. Rahwana selalu mendengarkan perkataan Sinta. Tapi entah kenapa sore itu berbeda, Sinta menyadari sesuatu hal, rasa penasaran Rahwana seakan telah menjelma menjadi setan bebal.

    Rahwana mencuri waktu dan terbang ke daerah manusia. Benar saja, tak jauh setelah keluar dari batas antara jalan Kencana dengan daerah manusia yang ditandai oleh dua pohon mahoni, malapetaka berkunjung kepada dirinya. Tubuhnya menghantam tanah di-ketapel oleh anak manusia. Rahwana berteriak. Sinta yang mengikuti Rahwana sejak tadi cuma bisa menyaksikan kemalangan Rahwana di antara dedaunan pohon mahoni. Rahwana beringsut mencoba melarikan diri. Sayangnya sayapnya yang terluka kalah gesit oleh tangan manusia yang lebih dulu mencengkram tubuhnya. Tamatlah dia!

    Anak manusia tertawa girang mendapati burung mungil berwarna indah.

    Air mata mengalir deras, membasahi bulu hijau indahnya. Seketika saja kekuatan cinta merobohkan ketakutannya. Sinta meluncur meninggalkan garis aman. Ia kepak sayapnya sekuat tenaga — Sinta melesat bagai Elang yang hendak menerkam mangsa. Sinta membidik mata si anak manusia dengan paruhnya yang indah. Sejurus kemudian si anak manusia berguling-guling di tanah. Darah memuncrat dari matanya. Bidikan Sinta tepat sasaran.

    Bergegas Sinta meraih tubuh Rahwana dengan kedua kakinya. Membawa Rahwana terbang ke langit.

    Setelah dirasa aman dari jangkauan ketapel anak manusia, Sinta mendarat di salah satu pohon besar yang rimbun. Diletaknya tubuh Rahwana di antara cabang pohon itu. Sinta mengelus tubuh Rahwana dengan paruhnya. Meminta Rahwana bertahan. Rahwana mengedipkan mata. Ia mengedipkan mata berulang kali seperti sedang berusaha membahasakan sesuatu.

    “M-maaf. M-maafkan a-aku…”

    Sinta menangis.

    “Kau mampu bertahan. Aku percaya kepadamu.”

    Rahwana tersenyum kecil. Mengedipkan mata. Mencoba berkomunikasi dengan matanya.

    Sekian puluh detik kemudian, tak ada kedipan lagi. Matanya tertutup rapat.

    Sinta meraung. Diiringi oleh gelegar halilintar di langit mendung.

    “Lihatlah diriku, sebuah kekhawatiran yang maknanya samar-samar. Kadang tak bermakna. Kadang bermakna bahasa cinta,” lirih Sinta pada Rahwana yang telah mati oleh kebodohannya sendiri.

  • Mengapa Pertama-pertama Akal Harus Mendahului Rasa?

    Oleh Agung Hyt

    Di hari-hari yang penuh ketidakpastian, seorang anak muda merasa diterjang badai kegelisahan. Dia terjebak dalam pilihan hidup yang berat, meskipun akhirnya harus membuat keputusan. Ketika ia akhirnya menetapkan pilihan, ternyata banyak pengaruh perasaan yang dominan.

    Tentu saja, keputusan seperti ini bermasalah. Mengapa? Karena ia lahir dari penalaran yang sudah termotivasi oleh perasaan, dan berakhir pada kesimpulan yang bias. Semua orang yang memahami hal ini pasti akan mengatakan bahwa keputusan yang berasal dari penalaran yang termotivasi perasaan tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

    Lalu, mengapa seseorang bisa mengambil keputusan seperti itu? Jawabannya sederhana: karena dominasi perasaan telah melampaui batas kewajaran. Ini adalah masalah serius, sebab sering kali kita justru menganggap dominasi perasaan sebagai kebijaksanaan. Kita telah salah memahami makna kebijaksanaan, menjadikannya sebagai sesuatu yang dirasa nyaman oleh hati. Padahal, kebijaksanaan yang sejati tidak hanya berkutat pada rasa nyaman, melainkan lebih pada keseimbangan antara pertimbangan logis dan emosional.

    Lalu, apakah kita harus mendorong penggunaan akal untuk mendahului rasa? Tidak hanya boleh, tapi harus. Tapi tunggu dulu, jangan terburu-buru memberi reaksi.

    Dalam cerita di atas, saya telah menggambarkan bagaimana dominasi perasaan bisa mengacaukan keseimbangan antara akal dan rasa. Oleh karena itu, kita perlu lebih banyak membicarakan tentang pentingnya akal, untuk menurunkan dominasi rasa sehingga keduanya bisa berjalan beriringan. Atau setidaknya, kita harus bisa memahami kapan akal dan rasa harus hadir dalam setiap situasi.

    Ketika keseimbangan antara akal dan rasa tercapai, kita tidak lagi perlu membicarakam pentingnya akal dibanding rasa. Sebab pada akhirnya, kita akan sampai pada titik di mana kita bisa menghormati keduanya—akal dan rasa—secara setara.

    Akal dan rasa, pikiran dan hati, adalah dua elemen yang saling melengkapi. Kebijaksanaan sejati terletak pada kemampuan kita untuk menempatkan akal dan rasa pada waktu yang tepat. Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang harus dipenuhi dengan romantisme kosong seperti yang sering digambarkan oleh penyair, melainkan kebijaksanaan yang mengandung keseimbangan dan kejelasan.

    Mengapa saya menyebutkan “akal dan rasa” dan bukan “akal dan hati”? Karena saya percaya bahwa rasa adalah bagian integral dari fungsi hati. Rasa berkait erat dengan ego, yakni apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita anggap menyenangkan. Misalnya, jika saya mengatakan kepada seseorang bahwa saya lebih menyukai mobil Jeep Rubicon dan bercita-cita memilikinya, meskipun dia mengatakan bahwa Rolls Royce lebih canggih, saya tetap tidak akan terpengaruh. Keputusan saya didasari oleh rasa, oleh perasaan suka dan nyaman.

    Ketika kita sudah mampu menghormati akal dan rasa dengan cara yang seimbang, maka pembahasan mengenai mana yang lebih penting—pikiran atau rasa—menjadi tidak relevan lagi.

    Akhirnya, saya menutup tulisan ini dengan pernyataan seorang ulama: “Akal bukan hanya perkara logika, namun semua hal yang digunakan untuk menimbang, termasuk kejernihan hati.”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai