Oleh Agung Hyt
Di hari-hari yang penuh ketidakpastian, seorang anak muda merasa diterjang badai kegelisahan. Dia terjebak dalam pilihan hidup yang berat, meskipun akhirnya harus membuat keputusan. Ketika ia akhirnya menetapkan pilihan, ternyata banyak pengaruh perasaan yang dominan.
Tentu saja, keputusan seperti ini bermasalah. Mengapa? Karena ia lahir dari penalaran yang sudah termotivasi oleh perasaan, dan berakhir pada kesimpulan yang bias. Semua orang yang memahami hal ini pasti akan mengatakan bahwa keputusan yang berasal dari penalaran yang termotivasi perasaan tidak bisa dipercaya sepenuhnya.
Lalu, mengapa seseorang bisa mengambil keputusan seperti itu? Jawabannya sederhana: karena dominasi perasaan telah melampaui batas kewajaran. Ini adalah masalah serius, sebab sering kali kita justru menganggap dominasi perasaan sebagai kebijaksanaan. Kita telah salah memahami makna kebijaksanaan, menjadikannya sebagai sesuatu yang dirasa nyaman oleh hati. Padahal, kebijaksanaan yang sejati tidak hanya berkutat pada rasa nyaman, melainkan lebih pada keseimbangan antara pertimbangan logis dan emosional.
Lalu, apakah kita harus mendorong penggunaan akal untuk mendahului rasa? Tidak hanya boleh, tapi harus. Tapi tunggu dulu, jangan terburu-buru memberi reaksi.
Dalam cerita di atas, saya telah menggambarkan bagaimana dominasi perasaan bisa mengacaukan keseimbangan antara akal dan rasa. Oleh karena itu, kita perlu lebih banyak membicarakan tentang pentingnya akal, untuk menurunkan dominasi rasa sehingga keduanya bisa berjalan beriringan. Atau setidaknya, kita harus bisa memahami kapan akal dan rasa harus hadir dalam setiap situasi.
Ketika keseimbangan antara akal dan rasa tercapai, kita tidak lagi perlu membicarakam pentingnya akal dibanding rasa. Sebab pada akhirnya, kita akan sampai pada titik di mana kita bisa menghormati keduanya—akal dan rasa—secara setara.
Akal dan rasa, pikiran dan hati, adalah dua elemen yang saling melengkapi. Kebijaksanaan sejati terletak pada kemampuan kita untuk menempatkan akal dan rasa pada waktu yang tepat. Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang harus dipenuhi dengan romantisme kosong seperti yang sering digambarkan oleh penyair, melainkan kebijaksanaan yang mengandung keseimbangan dan kejelasan.
Mengapa saya menyebutkan “akal dan rasa” dan bukan “akal dan hati”? Karena saya percaya bahwa rasa adalah bagian integral dari fungsi hati. Rasa berkait erat dengan ego, yakni apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita anggap menyenangkan. Misalnya, jika saya mengatakan kepada seseorang bahwa saya lebih menyukai mobil Jeep Rubicon dan bercita-cita memilikinya, meskipun dia mengatakan bahwa Rolls Royce lebih canggih, saya tetap tidak akan terpengaruh. Keputusan saya didasari oleh rasa, oleh perasaan suka dan nyaman.
Ketika kita sudah mampu menghormati akal dan rasa dengan cara yang seimbang, maka pembahasan mengenai mana yang lebih penting—pikiran atau rasa—menjadi tidak relevan lagi.
Akhirnya, saya menutup tulisan ini dengan pernyataan seorang ulama: “Akal bukan hanya perkara logika, namun semua hal yang digunakan untuk menimbang, termasuk kejernihan hati.”

