• Teduh V

    Keluasan, kedalaman, dan segala ketakterjangkauan, kita sebut sebagai misteri. Misteri juga berarti rahasia yang tak terjangkau indera.

    Manusia waras mana yang mau bermain di ruang misteri? Kecuali yang telah sampai pada taraf gila.

    Dan satu-satunya penawar atas kegilaannya hanyalah malam pekat belaka.

  • Hikayat Burung Serindit

    Oleh: Agung Hyt

    Jalan Kencana membentang sepanjang 500 meter. Di kanan jalan bunga dadap tumbuh berbaris. Di sebelah kiri terdapat sungai gambut dengan air yang agak keruh. Di ujung jalan kita akan menemukan dua pohon mahoni besar dengan daun yang lebat, berdiri kokoh bagai gapura.

    Konon, dua pohon tersebut telah berusia sangat tua, setua ruas jalan Kencana. Para orang tua mengatakan bahwa jalan ini telah ada sejak zaman kerajaan, masa awal abad 18. Mereka juga percaya, dahulu jalan ini sering dilintasi oleh rombongan kerajaan Putri Kaca Mayang. Menurut penuturan warga yang rumahnya tak jauh dari ruas jalan Kencana, sering mendengar suara derap kaki kuda dibarengi pekikan suaranya. Mereka meyakini, itu adalah rombongan Putri Kaca Mayang yang tengah melakukan perjalanan lintas dimensi. Itulah sebabnya penduduk desa akan bergidik ketika melewati jalan ini terutama di waktu malam.

    Tetua desa memberi sabda kepada para orang tua agar anak-anak mereka dilarang untuk bermain di jalan Kencana. Tetua desa mengatakan, jika ada yang berani melakukannya, anak-anak tersebut akan dibawa ke alam gaib oleh Sang Putri untuk dijadikan pelayan. Masyarakat yang mendengar petuah Tetua langsung memercayainya tanpa tetapi.

    Tak heran jika jalanan ini sunyi. Aroma ngeri menguar di setiap waktunya.

    Namun demikian, jika manusia merasa ngeri meski cuma mendengar nama jalan Kencana, lain hal dengan tumbuhan dan hewan yang hidup di sekitarnya. Pepohonan dan hewan tampak selalu riang. Sebab mereka dapat hidup aman terbebas dari tangan-tangan jahat manusia. Begitu pula dengan Sinta dan Rahwana, dua burung Serindit yang telah lama berkawan, mereka dapat terbang bebas di antara ranting pohon tanpa harus merasa khawatir dibidik oleh senapan manusia.

    Sebenarnya Rahwana pernah mengatakan kepada Sinta, ia menyimpan keinginan untuk pergi ke daerah manusia. Ia ingin melihat bagaimana kehidupan di sana. Tetapi Sinta selalu melarangnya. Sinta mengatakan bahwa nyawa menjadi taruhan jika Rahwana berani pergi ke daerah manusia. Rahwana selalu mendengarkan perkataan Sinta. Tapi entah kenapa sore itu berbeda, Sinta menyadari sesuatu hal, rasa penasaran Rahwana seakan telah menjelma menjadi setan bebal.

    Rahwana mencuri waktu dan terbang ke daerah manusia. Benar saja, tak jauh setelah keluar dari batas antara jalan Kencana dengan daerah manusia yang ditandai oleh dua pohon mahoni, malapetaka berkunjung kepada dirinya. Tubuhnya menghantam tanah di-ketapel oleh anak manusia. Rahwana berteriak. Sinta yang mengikuti Rahwana sejak tadi cuma bisa menyaksikan kemalangan Rahwana di antara dedaunan pohon mahoni. Rahwana beringsut mencoba melarikan diri. Sayangnya sayapnya yang terluka kalah gesit oleh tangan manusia yang lebih dulu mencengkram tubuhnya. Tamatlah dia!

    Anak manusia tertawa girang mendapati burung mungil berwarna indah.

    Air mata mengalir deras, membasahi bulu hijau indahnya. Seketika saja kekuatan cinta merobohkan ketakutannya. Sinta meluncur meninggalkan garis aman. Ia kepak sayapnya sekuat tenaga — Sinta melesat bagai Elang yang hendak menerkam mangsa. Sinta membidik mata si anak manusia dengan paruhnya yang indah. Sejurus kemudian si anak manusia berguling-guling di tanah. Darah memuncrat dari matanya. Bidikan Sinta tepat sasaran.

    Bergegas Sinta meraih tubuh Rahwana dengan kedua kakinya. Membawa Rahwana terbang ke langit.

    Setelah dirasa aman dari jangkauan ketapel anak manusia, Sinta mendarat di salah satu pohon besar yang rimbun. Diletaknya tubuh Rahwana di antara cabang pohon itu. Sinta mengelus tubuh Rahwana dengan paruhnya. Meminta Rahwana bertahan. Rahwana mengedipkan mata. Ia mengedipkan mata berulang kali seperti sedang berusaha membahasakan sesuatu.

    “M-maaf. M-maafkan a-aku…”

    Sinta menangis.

    “Kau mampu bertahan. Aku percaya kepadamu.”

    Rahwana tersenyum kecil. Mengedipkan mata. Mencoba berkomunikasi dengan matanya.

    Sekian puluh detik kemudian, tak ada kedipan lagi. Matanya tertutup rapat.

    Sinta meraung. Diiringi oleh gelegar halilintar di langit mendung.

    “Lihatlah diriku, sebuah kekhawatiran yang maknanya samar-samar. Kadang tak bermakna. Kadang bermakna bahasa cinta,” lirih Sinta pada Rahwana yang telah mati oleh kebodohannya sendiri.

  • Mengapa Pertama-pertama Akal Harus Mendahului Rasa?

    Oleh Agung Hyt

    Di hari-hari yang penuh ketidakpastian, seorang anak muda merasa diterjang badai kegelisahan. Dia terjebak dalam pilihan hidup yang berat, meskipun akhirnya harus membuat keputusan. Ketika ia akhirnya menetapkan pilihan, ternyata banyak pengaruh perasaan yang dominan.

    Tentu saja, keputusan seperti ini bermasalah. Mengapa? Karena ia lahir dari penalaran yang sudah termotivasi oleh perasaan, dan berakhir pada kesimpulan yang bias. Semua orang yang memahami hal ini pasti akan mengatakan bahwa keputusan yang berasal dari penalaran yang termotivasi perasaan tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

    Lalu, mengapa seseorang bisa mengambil keputusan seperti itu? Jawabannya sederhana: karena dominasi perasaan telah melampaui batas kewajaran. Ini adalah masalah serius, sebab sering kali kita justru menganggap dominasi perasaan sebagai kebijaksanaan. Kita telah salah memahami makna kebijaksanaan, menjadikannya sebagai sesuatu yang dirasa nyaman oleh hati. Padahal, kebijaksanaan yang sejati tidak hanya berkutat pada rasa nyaman, melainkan lebih pada keseimbangan antara pertimbangan logis dan emosional.

    Lalu, apakah kita harus mendorong penggunaan akal untuk mendahului rasa? Tidak hanya boleh, tapi harus. Tapi tunggu dulu, jangan terburu-buru memberi reaksi.

    Dalam cerita di atas, saya telah menggambarkan bagaimana dominasi perasaan bisa mengacaukan keseimbangan antara akal dan rasa. Oleh karena itu, kita perlu lebih banyak membicarakan tentang pentingnya akal, untuk menurunkan dominasi rasa sehingga keduanya bisa berjalan beriringan. Atau setidaknya, kita harus bisa memahami kapan akal dan rasa harus hadir dalam setiap situasi.

    Ketika keseimbangan antara akal dan rasa tercapai, kita tidak lagi perlu membicarakam pentingnya akal dibanding rasa. Sebab pada akhirnya, kita akan sampai pada titik di mana kita bisa menghormati keduanya—akal dan rasa—secara setara.

    Akal dan rasa, pikiran dan hati, adalah dua elemen yang saling melengkapi. Kebijaksanaan sejati terletak pada kemampuan kita untuk menempatkan akal dan rasa pada waktu yang tepat. Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang harus dipenuhi dengan romantisme kosong seperti yang sering digambarkan oleh penyair, melainkan kebijaksanaan yang mengandung keseimbangan dan kejelasan.

    Mengapa saya menyebutkan “akal dan rasa” dan bukan “akal dan hati”? Karena saya percaya bahwa rasa adalah bagian integral dari fungsi hati. Rasa berkait erat dengan ego, yakni apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita anggap menyenangkan. Misalnya, jika saya mengatakan kepada seseorang bahwa saya lebih menyukai mobil Jeep Rubicon dan bercita-cita memilikinya, meskipun dia mengatakan bahwa Rolls Royce lebih canggih, saya tetap tidak akan terpengaruh. Keputusan saya didasari oleh rasa, oleh perasaan suka dan nyaman.

    Ketika kita sudah mampu menghormati akal dan rasa dengan cara yang seimbang, maka pembahasan mengenai mana yang lebih penting—pikiran atau rasa—menjadi tidak relevan lagi.

    Akhirnya, saya menutup tulisan ini dengan pernyataan seorang ulama: “Akal bukan hanya perkara logika, namun semua hal yang digunakan untuk menimbang, termasuk kejernihan hati.”

  • Cerita Pak Tua

    Pukul 9 pagi Pak Tua terlihat mangkal tidak jauh dari Stasiun Sudirman. Dahinya menyentuh spidometer, seperti sedang tertidur.

    “Pak, tolong antar saya ke kantor KPK Pusat di Kuningan. Cepat! Saya sudah terlambat!”

    Pak Tua terperangah, ia bangkit dari peningnya memikirkan beras di rumah habis. Ditambah istrinya yang harus segera membeli minyak goreng, lauk pauk, dan pembalut. Namun, sejak pagi tadi Pak Tua baru mendapat 1 penumpang. Hari ini cuaca panas lagi sepi.

    “Baik! Baik, Pak!”

    Segera Pak Tua menghidupkan motornya. Suara mesin yang sudah tak sedap mengiringi kegirangan Pak Tua.

    Motor melaju ke depan. Kira-kira setelah 500 meter Pak Tua hendak belok ke kiri, tapi Pak Penumpang meminta untuk lurus ke depan mengambil ke arah rel kereta api dekat Manggarai saja.

    Pak Tua mengangguk. Motornya pun melintasi rel kereta api. 20 meter di depan lampu merah menyala. Pak Tua menghentikan motornya.

    “Terobos saja, Pak.”

    Bagaikan perintah dari seorang raja, tanpa tetapi Pak Tua menarik gas motornya.

    “Lawan arah sedikit, Pak. Lalu belok ke kanan. Lewat belakang saja, tidak usah lewat depan. Macet!”

    Pak Tua hanya mengikuti perintah penumpang tersebut. Toh baginya, yang penting ia mendapat bayaran atas jasa ojeknya.

    “Nah, di situ, Pak,” ucap penumpang sambil menunjuk ke arah pintu beton tinggi. Di atas gedung tersebut terpampang tulisan Komisi Pemberantasan Korupsi.

    “Ini. Ambil saja semua. Saya baru dapat rezeki.”

    “Terima kasih, Pak. Terima kasih, Pak. Terima kasih.”

    Pak Tua mengudai motornya menuju arah pulang dengan perasaan senang karena telah diberi ongkos 200ribu oleh orang baik.

  • Membela Prinsip Kapitalis

    Oleh Agung Hidayat

    Saya membayangkan bagaimana jadinya kalau kapitalis itu seorang yang bertabiat pemalas, tidak disiplin, tidak tertib?

    Tetapi satu hal yang penting. Bertabiat tidak disiplin dan mudah patah arang bukanlah prinsip seorang kapitalis —atau yang bercita-cita menjadi kapitalis— dan tidak mungkin menjadi kapitalis. Kita semua tahu, terkadang kapitalis punya cerita hidup yang panjang.

    Lalu saya menengok ke sekeliling, ke selokan, ke jalanan, ke dalam diri. Jangan-jangan inilah masalah terbesar kita mengapa tak akan (atau belum) mampu meruntuhkan kapitalisme.

    Kapitalisme adalah “rumah” tempat berkumpulnya orang-orang disiplin, elaboratif, dan pantang mundur. Meskipun disiplin yang bermuara kapital. Transaksional.

    Maka, kalau kita masih bertabiat pemalas, tidak disiplin, tidak tertib, dan tidak menuntaskan suatu tanggung jawab secara sungguh-sungguh, jangan sekali-kali mengatakan hendak meruntuhkan kapitalisme, kecuali membual belaka.

    Nb: Bacaan lebih lanjut, “Membela Kapitalisme Global” oleh Johan Norberg.

  • Predikat Parkombur

    Oleh: Agung Hyt

    Dua wanita sedang berdialog. Satu dosen, satu mahasiswi. Dosen duduk di atas sofa orange berbahan kulit. Mahasiswi berdiri di depan dosen agak ke pinggir kanan.

    “Suatu pemikiran yang dianggap ideal tidak boleh berlawanan dengan logika sosial. Segala gagasan harus membumi, ” kata sang dosen dengan nada penuh keyakinan.

    Lalu sang dosen bangkit dari tempat duduk dan berjalan menaiki tangga menuju ke lantai 3 buat makan siang dan beristirahat di dalam ruangan estetis ala coffeshop.

    Si mahasiswi melangkah ke arah gerbang kampus bagian belakang. Ketika melewati gerbang teman-temannya menyapa dari atas motor dan dari dalam mobil. Si mahasiswi tersenyum dan melambaikan tangan. Ia terus berjalan 600 meter ke depan. Lalu belok ke kiri 200 meter. Sampai.

    Di sana, bersebelahan dengan pembuangan sampah ia tinggal bersama dua adiknya. Ibu-bapaknya telah mati digerogoti malaria di tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, tak ada teknokrat, politisi, maupun akademisi yang menjenguk di detik-detik kematiannya.

  • Musim Semi Ayah

    Oleh: Agung Hyt

    Di dalam Kereta Api Listrik dari Tangerang menuju Bogor tiba-tiba aku teringat sesuatu: Ayah. Mungkin ini disebabkan oleh banyaknya orang yang memperbincangkan Hari Ayah di media sosial pada 12 November 2021 kemarin. Tepat di tanggal itu sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh oleh peringatan itu, aku hanya menengok tanpa respon berarti.

    Begini. Ayah adalah simbol kesunyian. Ayah adalah simbol ketakterucapan. Ayah adalah musim semi di antara musim gemuruh dan musim riuh (Meskipun tidak dapat dipukul rata). Ah, mengapa pembahasan ini menjadi melankolis. Jadi ringkasnya begini: Memparadekan “kegemuruhan” untuk seorang ayah adalah cara yang sangat tidak keayahan.

    Dan di saat aku tengah menulis ini. Di hadapanku duduk seorang lelaki tua, beruban, kedua tangannya memeluk tas berwarna hitam dengan sedikit lubang-lubang sobekan, dan bola matanya memancarkan keraguan.

    Pun malam kemarin ketika aku menunggu jemputan di stasiun Tanah Tinggi sekitar pukul 22.00 WIB. Aku melihat seorang lelaki tua berjongkok di sudut tembok. Kepalanya ditutupi semacam cupluk. Lalu dia mondar-mandir mendatangi tukang ojek, entah apa yang ia sampaikan kepada tukang ojek itu. Tapi aku melihat gerak-geriknya tidak begitu meyakinkan, langkahnya ragu, gerak bibirnya ragu, sorot matanya ragu.

    Aku tidak tahu apakah mereka seorang ayah. Atau hanya lelaki tua yang kelamaan berjalan.

    Lalu ketika aku masih menulis ini, aku menoleh ke kiri dan kanan, ternyata ada banyak lelaki tua dengan sorot mata ragu di dalam KRL ini.

    Beda. Beda dengan sorot mata lelaki tua yang duduk di Senayan. Atau lelaki tua yang berjalan dengan langkah meyakinkan di SCBD maupun di Plaza Indonesia.

    Ada apa ini? Apakah ini kejutan dari Hari Ayah itu?

  • Teduh IV

    Maka, kupersilakan engkau memilih jalanmu. Mengikuti kehendakmu dan membangun tembok di dalam dadamu, lalu kau katakan: Yang kulihat darimu hanyalah setumpuk kegelapan dan keketusan.

    Yang berakhir bukan sesuatu yang ada di dalam dadaku. Namun, potensi penerimaan yang telah jatuh ke taraf mustahil.

    Sampai dengan gelegar petir malam kemarin. Dan detak jarum jam malam ini. Hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang sesuatu di dalam dadaku itu.

    Sedemikian dingin kau lihat. Sedemikian rapi kujaga.

  • Akalbudi Perkawinan

    Oleh Agung Hyt

    Tidak perlu mencari yang pintar pol. Khatam ribuan buku. Ndak perlu.

    Toh, kita menyaksikan tidak sedikit yang hobi membaca namun tidak berdampak apa-apa kepada mentalitas dan karakternya. Kecuali sekadar memenuhi daftar informasi di dalam batok kepalanya.

    Maka, keluasan pengetahuan dan banyaknya informasi dalam otak seseorang bukan satu-satunya indikator pasangan yang laik buat dinikahi. Tapi, kuncinya ada pada akalbudi. Akalbudi bukan barang yang dapat dimonopoli. Akalbudi dapat tumbuh dalam diri siapa pun sepanjang ada ruang penghayatan dalam dirinya.

    Ada hal yang lebih penting dari standar “kepinteran” yaitu kemampuan membaca ego sendiri dan memiliki sensitifitas-nalar-sehat. Karena ketidakmampuan menengok diri sendiri dan ketidakmampuan memaknai yang di luar diri itu lebih mengerikan dibanding kemalasan membaca buku. Kita pikir, inilah sumber dari segala keruwetan hidup.

    Sekali lagi, ikuti kata akalbudi bukan kata hati. Bukan hanya dalam memilih istri/suami. Tetapi juga dalam segala pilihan apa pun di dalam hidup.

  • Oleh: Agung Hyt

    Jalanan telah mencuri habis rasa takut

    tiada lagi ketakutan kecuali yang diciptakan oleh mata-pisau-waktu yang mengintaimu setiap pagi

    Gelap telah menghisap habis duka

    tiada lagi duka kecuali yang diciptakan oleh tumpukan kemungkinan

    luka adalah Gibran kepada Ziadah?

    luka adalah Rahwana kepada Shinta?

    oh, tidak!

    luka adalah langkah tanpa ujung di lorong panjang kerinduan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai