• Cerita Pak Tua

    Pukul 9 pagi Pak Tua terlihat mangkal tidak jauh dari Stasiun Sudirman. Dahinya menyentuh spidometer, seperti sedang tertidur.

    “Pak, tolong antar saya ke kantor KPK Pusat di Kuningan. Cepat! Saya sudah terlambat!”

    Pak Tua terperangah, ia bangkit dari peningnya memikirkan beras di rumah habis. Ditambah istrinya yang harus segera membeli minyak goreng, lauk pauk, dan pembalut. Namun, sejak pagi tadi Pak Tua baru mendapat 1 penumpang. Hari ini cuaca panas lagi sepi.

    “Baik! Baik, Pak!”

    Segera Pak Tua menghidupkan motornya. Suara mesin yang sudah tak sedap mengiringi kegirangan Pak Tua.

    Motor melaju ke depan. Kira-kira setelah 500 meter Pak Tua hendak belok ke kiri, tapi Pak Penumpang meminta untuk lurus ke depan mengambil ke arah rel kereta api dekat Manggarai saja.

    Pak Tua mengangguk. Motornya pun melintasi rel kereta api. 20 meter di depan lampu merah menyala. Pak Tua menghentikan motornya.

    “Terobos saja, Pak.”

    Bagaikan perintah dari seorang raja, tanpa tetapi Pak Tua menarik gas motornya.

    “Lawan arah sedikit, Pak. Lalu belok ke kanan. Lewat belakang saja, tidak usah lewat depan. Macet!”

    Pak Tua hanya mengikuti perintah penumpang tersebut. Toh baginya, yang penting ia mendapat bayaran atas jasa ojeknya.

    “Nah, di situ, Pak,” ucap penumpang sambil menunjuk ke arah pintu beton tinggi. Di atas gedung tersebut terpampang tulisan Komisi Pemberantasan Korupsi.

    “Ini. Ambil saja semua. Saya baru dapat rezeki.”

    “Terima kasih, Pak. Terima kasih, Pak. Terima kasih.”

    Pak Tua mengudai motornya menuju arah pulang dengan perasaan senang karena telah diberi ongkos 200ribu oleh orang baik.

  • Membela Prinsip Kapitalis

    Oleh Agung Hidayat

    Saya membayangkan bagaimana jadinya kalau kapitalis itu seorang yang bertabiat pemalas, tidak disiplin, tidak tertib?

    Tetapi satu hal yang penting. Bertabiat tidak disiplin dan mudah patah arang bukanlah prinsip seorang kapitalis —atau yang bercita-cita menjadi kapitalis— dan tidak mungkin menjadi kapitalis. Kita semua tahu, terkadang kapitalis punya cerita hidup yang panjang.

    Lalu saya menengok ke sekeliling, ke selokan, ke jalanan, ke dalam diri. Jangan-jangan inilah masalah terbesar kita mengapa tak akan (atau belum) mampu meruntuhkan kapitalisme.

    Kapitalisme adalah “rumah” tempat berkumpulnya orang-orang disiplin, elaboratif, dan pantang mundur. Meskipun disiplin yang bermuara kapital. Transaksional.

    Maka, kalau kita masih bertabiat pemalas, tidak disiplin, tidak tertib, dan tidak menuntaskan suatu tanggung jawab secara sungguh-sungguh, jangan sekali-kali mengatakan hendak meruntuhkan kapitalisme, kecuali membual belaka.

    Nb: Bacaan lebih lanjut, “Membela Kapitalisme Global” oleh Johan Norberg.

  • Predikat Parkombur

    Oleh: Agung Hyt

    Dua wanita sedang berdialog. Satu dosen, satu mahasiswi. Dosen duduk di atas sofa orange berbahan kulit. Mahasiswi berdiri di depan dosen agak ke pinggir kanan.

    “Suatu pemikiran yang dianggap ideal tidak boleh berlawanan dengan logika sosial. Segala gagasan harus membumi, ” kata sang dosen dengan nada penuh keyakinan.

    Lalu sang dosen bangkit dari tempat duduk dan berjalan menaiki tangga menuju ke lantai 3 buat makan siang dan beristirahat di dalam ruangan estetis ala coffeshop.

    Si mahasiswi melangkah ke arah gerbang kampus bagian belakang. Ketika melewati gerbang teman-temannya menyapa dari atas motor dan dari dalam mobil. Si mahasiswi tersenyum dan melambaikan tangan. Ia terus berjalan 600 meter ke depan. Lalu belok ke kiri 200 meter. Sampai.

    Di sana, bersebelahan dengan pembuangan sampah ia tinggal bersama dua adiknya. Ibu-bapaknya telah mati digerogoti malaria di tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, tak ada teknokrat, politisi, maupun akademisi yang menjenguk di detik-detik kematiannya.

  • Musim Semi Ayah

    Oleh: Agung Hyt

    Di dalam Kereta Api Listrik dari Tangerang menuju Bogor tiba-tiba aku teringat sesuatu: Ayah. Mungkin ini disebabkan oleh banyaknya orang yang memperbincangkan Hari Ayah di media sosial pada 12 November 2021 kemarin. Tepat di tanggal itu sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh oleh peringatan itu, aku hanya menengok tanpa respon berarti.

    Begini. Ayah adalah simbol kesunyian. Ayah adalah simbol ketakterucapan. Ayah adalah musim semi di antara musim gemuruh dan musim riuh (Meskipun tidak dapat dipukul rata). Ah, mengapa pembahasan ini menjadi melankolis. Jadi ringkasnya begini: Memparadekan “kegemuruhan” untuk seorang ayah adalah cara yang sangat tidak keayahan.

    Dan di saat aku tengah menulis ini. Di hadapanku duduk seorang lelaki tua, beruban, kedua tangannya memeluk tas berwarna hitam dengan sedikit lubang-lubang sobekan, dan bola matanya memancarkan keraguan.

    Pun malam kemarin ketika aku menunggu jemputan di stasiun Tanah Tinggi sekitar pukul 22.00 WIB. Aku melihat seorang lelaki tua berjongkok di sudut tembok. Kepalanya ditutupi semacam cupluk. Lalu dia mondar-mandir mendatangi tukang ojek, entah apa yang ia sampaikan kepada tukang ojek itu. Tapi aku melihat gerak-geriknya tidak begitu meyakinkan, langkahnya ragu, gerak bibirnya ragu, sorot matanya ragu.

    Aku tidak tahu apakah mereka seorang ayah. Atau hanya lelaki tua yang kelamaan berjalan.

    Lalu ketika aku masih menulis ini, aku menoleh ke kiri dan kanan, ternyata ada banyak lelaki tua dengan sorot mata ragu di dalam KRL ini.

    Beda. Beda dengan sorot mata lelaki tua yang duduk di Senayan. Atau lelaki tua yang berjalan dengan langkah meyakinkan di SCBD maupun di Plaza Indonesia.

    Ada apa ini? Apakah ini kejutan dari Hari Ayah itu?

  • Teduh IV

    Maka, kupersilakan engkau memilih jalanmu. Mengikuti kehendakmu dan membangun tembok di dalam dadamu, lalu kau katakan: Yang kulihat darimu hanyalah setumpuk kegelapan dan keketusan.

    Yang berakhir bukan sesuatu yang ada di dalam dadaku. Namun, potensi penerimaan yang telah jatuh ke taraf mustahil.

    Sampai dengan gelegar petir malam kemarin. Dan detak jarum jam malam ini. Hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang sesuatu di dalam dadaku itu.

    Sedemikian dingin kau lihat. Sedemikian rapi kujaga.

  • Akalbudi Perkawinan

    Oleh Agung Hyt

    Tidak perlu mencari yang pintar pol. Khatam ribuan buku. Ndak perlu.

    Toh, kita menyaksikan tidak sedikit yang hobi membaca namun tidak berdampak apa-apa kepada mentalitas dan karakternya. Kecuali sekadar memenuhi daftar informasi di dalam batok kepalanya.

    Maka, keluasan pengetahuan dan banyaknya informasi dalam otak seseorang bukan satu-satunya indikator pasangan yang laik buat dinikahi. Tapi, kuncinya ada pada akalbudi. Akalbudi bukan barang yang dapat dimonopoli. Akalbudi dapat tumbuh dalam diri siapa pun sepanjang ada ruang penghayatan dalam dirinya.

    Ada hal yang lebih penting dari standar “kepinteran” yaitu kemampuan membaca ego sendiri dan memiliki sensitifitas-nalar-sehat. Karena ketidakmampuan menengok diri sendiri dan ketidakmampuan memaknai yang di luar diri itu lebih mengerikan dibanding kemalasan membaca buku. Kita pikir, inilah sumber dari segala keruwetan hidup.

    Sekali lagi, ikuti kata akalbudi bukan kata hati. Bukan hanya dalam memilih istri/suami. Tetapi juga dalam segala pilihan apa pun di dalam hidup.

  • Oleh: Agung Hyt

    Jalanan telah mencuri habis rasa takut

    tiada lagi ketakutan kecuali yang diciptakan oleh mata-pisau-waktu yang mengintaimu setiap pagi

    Gelap telah menghisap habis duka

    tiada lagi duka kecuali yang diciptakan oleh tumpukan kemungkinan

    luka adalah Gibran kepada Ziadah?

    luka adalah Rahwana kepada Shinta?

    oh, tidak!

    luka adalah langkah tanpa ujung di lorong panjang kerinduan

  • Racun Ekstrovert

    Oleh : Agung Hyt

    Kita mulai dengan satu kalimat tendensius:

    Mengapa sebagian dari kita senang sekali membual ke banyak corong. Padahal sebagian pendapat mengatakan: membual sebagai sumber dusta. Sumber perkara. Mulutmu harimaumu.

    Baik.

    Kita tak tahu pasti, apakah yang bangga dengan ke-ekstroveran-nya akan menggerutu ketika membaca ini. Sebagaimana ciri khas mereka: penggerutu.

    Namun, kita semua tahu, mulut ekstrover adalah sumber banyak kekacauan. Dengan kemahirannya memainkan lidah, improvisasi fakta, dan mengayunkan drama; ia rakit ranjau-ranjau kebencian.

    Tidak berhenti sampai di situ. Dengan bermodalkan lidah dan raut wajah manja, para ekstrover juga mahir menciptakan jejaring kenaifan: upaya mengonsolidasikan kebencian.

    Sebenarnya bukan hanya para ekstrover, pun ada satu jenis insan, kami biasa menyebutnya “lupi” akronim dari: lugu-lugu pukimak. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya: saleh-saleh menghanyutkan. Tapi intinya, insan ekstrover dan insan lupi sama-sama pukimaknya.

    Insan ekstrover-over tidak senang diserang, tapi ia senang mengurusi rumah orang lain. Khas sekali. Pasti Anda paham.

    Insan ekstrover-over tidak senang jika melihat orang lain tak meladeninya.

    Insan ekstrover-over tak jarang terang-terangan menunjukkan kehausan perhatian. Terang-terangan menunjukkan kejahilan. Terang-terangan menunjukkan bahwa pikirannya tak terang.

    Namuuun… Tak sedikit pula orang-orang ekstrover yang tetap berada di rel kejernihan. Pikirannya cemerlang. Apalagi adabnya, masyaallah. Dan amat patut buat dinikahi.

    Tapi sayangnya… Orang ekstrover itu bakal langsung “merasa” ketika membaca kalimat macam di atas. Itulah ciri khasnya. Sering merasa dicintai. Sering merasa dimusuhi.

    Dan, bukan berarti seluruh introver otomatis jernih akal dan hatinya.

    Hahaha. Tabik.

  • Mengerti

    Jadi. Tidak apa-apa, Tuhan. Tidak apa-apa. Aku percaya kepada-Mu.

    Kalimat itu ia ucapkan dengan suara parau setiap kali malam datang bertamu. Ketika waktu semakin mengangkang dan dirinya masih berupa tumpukan kemungkinan.

    Tidak apa-apa, Tuhan.

    Aku percaya kepada-Mu.

  • Tembok Ilmu Pengetahuan

    Oleh Agung Hyt

    Sebenarnya awak merasa telat. Ketika sebagian sudah menggempur “kebuntuan” dan “kegelapan” sejak masih belia —dari SMA. Sementara awak, di detik ini, masih saja membolak-balik, menyimak, memelajari, dan mengeruti ilmu pengetahuan. Selalu merasa kurang, selalu merasa tak pas.

    Mungkin ini semua pengaruh dari kelalaian di masa silam itu, sewaktu masih sekolah, di mana spirit memberontak hari itu begitu membara, namun tidak diimbangi dengan membaca dan diskusi secara serius. Ditambah hampir tidak adanya budaya berdialektika. Akhirnya akal budi sendiri benar-benar serbatanggung. Meskipun dulu itu nyatanya, memang, akses terhadap ilmu pengetahuan terbatas. Dipadu dengan budaya masyarakat dan lembaga pendidikan yang belum benar-benar “menggilai” ilmu. Sempurna sudah.

    Dari situ awak menangkap ada dua jenis tembok ilmu pengetahuan. Pertama, tembok yang dibangun oleh sesuatu dari luar diri kita yaitu, suburnya budaya anti-ilmu pengetahuan di lingkungan masyarakat, minimnya fasilitas literasi, dan tiadanya kawan dan pembimbing literatif.

    Kedua, tembok yang dibangun oleh diri sendiri. Secara sadar kita sendiri yang memosisikan ilmu pengetahuan sebagai “musuh”, dengan sikap cemooh terhadap praktik membaca, diskusi, dan berilmu-pengetahuan.

    Pun setelahnya, kini, air liur kita malah menetes menengok orang-orang yang fasih berkitab dari A sampai Z. Dari pengetahuan paling pangkal sampai paling hulu, tuntas. Kita iri? Ya. Namun, nyatanya, iri itu gak akan merubah apa-apa.

    Satu-satunya jalan: Memulai.

    Memulai membaca-i dan menghayati. Meskipun sebagian praktik membaca dan berdialektika itu menyakiti pikiran. Itu lebih baik. Daripada abadi dalam ketidaktahuan. Lebih-lebih abadi dalam kebodohan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai