Pukul 9 pagi Pak Tua terlihat mangkal tidak jauh dari Stasiun Sudirman. Dahinya menyentuh spidometer, seperti sedang tertidur.
“Pak, tolong antar saya ke kantor KPK Pusat di Kuningan. Cepat! Saya sudah terlambat!”
Pak Tua terperangah, ia bangkit dari peningnya memikirkan beras di rumah habis. Ditambah istrinya yang harus segera membeli minyak goreng, lauk pauk, dan pembalut. Namun, sejak pagi tadi Pak Tua baru mendapat 1 penumpang. Hari ini cuaca panas lagi sepi.
“Baik! Baik, Pak!”
Segera Pak Tua menghidupkan motornya. Suara mesin yang sudah tak sedap mengiringi kegirangan Pak Tua.
Motor melaju ke depan. Kira-kira setelah 500 meter Pak Tua hendak belok ke kiri, tapi Pak Penumpang meminta untuk lurus ke depan mengambil ke arah rel kereta api dekat Manggarai saja.
Pak Tua mengangguk. Motornya pun melintasi rel kereta api. 20 meter di depan lampu merah menyala. Pak Tua menghentikan motornya.
“Terobos saja, Pak.”
Bagaikan perintah dari seorang raja, tanpa tetapi Pak Tua menarik gas motornya.
“Lawan arah sedikit, Pak. Lalu belok ke kanan. Lewat belakang saja, tidak usah lewat depan. Macet!”
Pak Tua hanya mengikuti perintah penumpang tersebut. Toh baginya, yang penting ia mendapat bayaran atas jasa ojeknya.
“Nah, di situ, Pak,” ucap penumpang sambil menunjuk ke arah pintu beton tinggi. Di atas gedung tersebut terpampang tulisan Komisi Pemberantasan Korupsi.
“Ini. Ambil saja semua. Saya baru dapat rezeki.”
“Terima kasih, Pak. Terima kasih, Pak. Terima kasih.”
Pak Tua mengudai motornya menuju arah pulang dengan perasaan senang karena telah diberi ongkos 200ribu oleh orang baik.

