Oleh: Agung Hyt
Akan kuceritakan satu kisah membosankan. Kusebut “membosankan” karena ini bukan kisah cinta dengan bumbu percumbuanya. Ini kisah dendam, kisah kemuakan atas kebodohan yang dipertontonkan.
Begini.
Pada tahun 1997 di sebuah desa seorang perempuan berusia tanggung berlari ke atas bukit kecil. Dari atas bukit itu ia berteriak selepas-lepasnya. Setelah itu, dengan suara yang sedikit serak dia mengumpat, “Tetua keparat! Matilah kau!” Merasa puas dengan apa yang dilakukannya dia pun turun dan pulang ke rumah. Inilah teriakan pertama selama dia hidup di bumi.
Dua bulan sebelum dia memanjat bukit, Si Perempuan sempat berdebat dengan Tetua desa. Karena Tetua desa melarangnya untuk melanjutkan kuliah ke kota. Di hadapan kedua orang tua dan pengurus Lembaga Adat, dia mendebat Tetua desa secara tenang dan jernih. Tapi Tetua desa adalah tuhan-kelas-kampung kata-katanya adalah firman bagi dirinya dan masyarakat desa. Maka sekeras apa pun Si Perempaun mendebat, hanyalah upaya yang sia-sia.
***
Selama ini Si Perempuan tampil sebagai sosok yang cemerlang dan tenang.
Meskipun dia seorang perempuan cemerlang, tetapi dia bukan pedagang slogan, ia amat hati-hati dalam membaca fenomena.
Pun pantang baginya menggelar keluh-kesah. Seluruh amarah dan kemuakannya atas Tetua desa ia simpan secara rapi dalam dadanya. Dan sesekali ia tumpahkan dalam tulisan manis yang menggigit.
Semua prinsip hidupnya ini terpancar dari matanya yang setangguh akar bakau dan jari-jemarinya yang sekuat tanduk kerbau. Sungguh suatu pola yang dihindari oleh kebanyakan perempuan zaman ini, yang lebih memilih memparadekan keakuan dan keberisikan.
***
Dia tahu kerakusan harkat-martabat lelaki telah membuat ceruk ketidakadilan atas perempuan semakin dalam. Para orang tua di desa yang membatasi gerak anak-anak perempuannya mesti membuka lebar mata jernihnya. Bahwa kepicikan telah ngendon di dalam batok kepala mereka. Ketidakmampuan mereka membedakan antara yang pantas dan tidak pantas dalam batas aturan main yang pasti adalah fakta yang mengkhawatirkan.
Lebih tepatnya, semua ini karena Tetua desa keparat. Seluruh orang tua di desa patuh terhadapnya. Dan yang ada sekarang tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena ini adalah konsekuensi dari kesepakatan ratusan tahun lalu saat desa kami berperang melawan penjajah. Saat itu orang-orang desa mengangkat satu pemimpin perang dan wajib menaatinya. Setelah perang usai, pemimpin perang itu tetap dihormati, dan dianggap sebagai sesepuh kampung yang didengarkan segala sabdanya. Saat pemimpin perang tadi mati, masyarakat desa bermusyawarah mencari penggantinya. Dan tradisi ini berlangsung hingga sekarang, sudah hampir 150 tahun.
Seiring berjalannya waktu, Tetua desa semakin memiliki keistimewaan-keistimewaan. Salah satunya kedudukan Tetua desa lebih dihormati daripada kepala desa. Tetua desa pun melahirkan pelbagai aturan adat dan harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat adat. Salah satu aturannya adalah “setiap orang tua harus bertungkus lumus menyekolahkan anak laki-laki setinggi-tingginya.”
Aturan ini bukan masalah bagi masyarakat desa, bahkan perempuan desa hanya menerimanya saja dengan senang hati. Seperti tidak ada bau busuk apa-apa. Tidak akan ada yang melawan, bahkan sekadar membayangkannya pun tak mungkin ada. Aturan adat adalah aturan Tetua, aturan Tetua adalah firman tuhan-kelas-kampung.
Baginya Si Perempuan, ketidakadilan ini harus digugat, digugat untuk membuka lebar-lebar mata mereka, suatu penggugatan yang bukan hanya bagi kelangsungan hak perempuan saja, tetapi juga bagi seluruh anak-anak desa yang direnggut masa depannya.
Namun apalah daya. Saat ini ia baru mampu mengumpulkan amunisi perlawanan. Ya, baru amunisi saja, tanpa senjata. Lebih jauh lagi, ia harus menyelesaikan kuliahnya, lebih jauh lagi, ia harus menggalang penyadaran kepada anak-anak desa, laki-laki dan perempuan, melalui jalan-jalan pemikiran. Setelah itu, baru benar-benar bisa melawan.
(bersambung)