• Akalbudi Perkawinan

    Oleh Agung Hyt

    Tidak perlu mencari yang pintar pol. Khatam ribuan buku. Ndak perlu.

    Toh, kita menyaksikan tidak sedikit yang hobi membaca namun tidak berdampak apa-apa kepada mentalitas dan karakternya. Kecuali sekadar memenuhi daftar informasi di dalam batok kepalanya.

    Maka, keluasan pengetahuan dan banyaknya informasi dalam otak seseorang bukan satu-satunya indikator pasangan yang laik buat dinikahi. Tapi, kuncinya ada pada akalbudi. Akalbudi bukan barang yang dapat dimonopoli. Akalbudi dapat tumbuh dalam diri siapa pun sepanjang ada ruang penghayatan dalam dirinya.

    Ada hal yang lebih penting dari standar “kepinteran” yaitu kemampuan membaca ego sendiri dan memiliki sensitifitas-nalar-sehat. Karena ketidakmampuan menengok diri sendiri dan ketidakmampuan memaknai yang di luar diri itu lebih mengerikan dibanding kemalasan membaca buku. Kita pikir, inilah sumber dari segala keruwetan hidup.

    Sekali lagi, ikuti kata akalbudi bukan kata hati. Bukan hanya dalam memilih istri/suami. Tetapi juga dalam segala pilihan apa pun di dalam hidup.

  • Oleh: Agung Hyt

    Jalanan telah mencuri habis rasa takut

    tiada lagi ketakutan kecuali yang diciptakan oleh mata-pisau-waktu yang mengintaimu setiap pagi

    Gelap telah menghisap habis duka

    tiada lagi duka kecuali yang diciptakan oleh tumpukan kemungkinan

    luka adalah Gibran kepada Ziadah?

    luka adalah Rahwana kepada Shinta?

    oh, tidak!

    luka adalah langkah tanpa ujung di lorong panjang kerinduan

  • Racun Ekstrovert

    Oleh : Agung Hyt

    Kita mulai dengan satu kalimat tendensius:

    Mengapa sebagian dari kita senang sekali membual ke banyak corong. Padahal sebagian pendapat mengatakan: membual sebagai sumber dusta. Sumber perkara. Mulutmu harimaumu.

    Baik.

    Kita tak tahu pasti, apakah yang bangga dengan ke-ekstroveran-nya akan menggerutu ketika membaca ini. Sebagaimana ciri khas mereka: penggerutu.

    Namun, kita semua tahu, mulut ekstrover adalah sumber banyak kekacauan. Dengan kemahirannya memainkan lidah, improvisasi fakta, dan mengayunkan drama; ia rakit ranjau-ranjau kebencian.

    Tidak berhenti sampai di situ. Dengan bermodalkan lidah dan raut wajah manja, para ekstrover juga mahir menciptakan jejaring kenaifan: upaya mengonsolidasikan kebencian.

    Sebenarnya bukan hanya para ekstrover, pun ada satu jenis insan, kami biasa menyebutnya “lupi” akronim dari: lugu-lugu pukimak. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya: saleh-saleh menghanyutkan. Tapi intinya, insan ekstrover dan insan lupi sama-sama pukimaknya.

    Insan ekstrover-over tidak senang diserang, tapi ia senang mengurusi rumah orang lain. Khas sekali. Pasti Anda paham.

    Insan ekstrover-over tidak senang jika melihat orang lain tak meladeninya.

    Insan ekstrover-over tak jarang terang-terangan menunjukkan kehausan perhatian. Terang-terangan menunjukkan kejahilan. Terang-terangan menunjukkan bahwa pikirannya tak terang.

    Namuuun… Tak sedikit pula orang-orang ekstrover yang tetap berada di rel kejernihan. Pikirannya cemerlang. Apalagi adabnya, masyaallah. Dan amat patut buat dinikahi.

    Tapi sayangnya… Orang ekstrover itu bakal langsung “merasa” ketika membaca kalimat macam di atas. Itulah ciri khasnya. Sering merasa dicintai. Sering merasa dimusuhi.

    Dan, bukan berarti seluruh introver otomatis jernih akal dan hatinya.

    Hahaha. Tabik.

  • Mengerti

    Jadi. Tidak apa-apa, Tuhan. Tidak apa-apa. Aku percaya kepada-Mu.

    Kalimat itu ia ucapkan dengan suara parau setiap kali malam datang bertamu. Ketika waktu semakin mengangkang dan dirinya masih berupa tumpukan kemungkinan.

    Tidak apa-apa, Tuhan.

    Aku percaya kepada-Mu.

  • Tembok Ilmu Pengetahuan

    Oleh Agung Hyt

    Sebenarnya awak merasa telat. Ketika sebagian sudah menggempur “kebuntuan” dan “kegelapan” sejak masih belia —dari SMA. Sementara awak, di detik ini, masih saja membolak-balik, menyimak, memelajari, dan mengeruti ilmu pengetahuan. Selalu merasa kurang, selalu merasa tak pas.

    Mungkin ini semua pengaruh dari kelalaian di masa silam itu, sewaktu masih sekolah, di mana spirit memberontak hari itu begitu membara, namun tidak diimbangi dengan membaca dan diskusi secara serius. Ditambah hampir tidak adanya budaya berdialektika. Akhirnya akal budi sendiri benar-benar serbatanggung. Meskipun dulu itu nyatanya, memang, akses terhadap ilmu pengetahuan terbatas. Dipadu dengan budaya masyarakat dan lembaga pendidikan yang belum benar-benar “menggilai” ilmu. Sempurna sudah.

    Dari situ awak menangkap ada dua jenis tembok ilmu pengetahuan. Pertama, tembok yang dibangun oleh sesuatu dari luar diri kita yaitu, suburnya budaya anti-ilmu pengetahuan di lingkungan masyarakat, minimnya fasilitas literasi, dan tiadanya kawan dan pembimbing literatif.

    Kedua, tembok yang dibangun oleh diri sendiri. Secara sadar kita sendiri yang memosisikan ilmu pengetahuan sebagai “musuh”, dengan sikap cemooh terhadap praktik membaca, diskusi, dan berilmu-pengetahuan.

    Pun setelahnya, kini, air liur kita malah menetes menengok orang-orang yang fasih berkitab dari A sampai Z. Dari pengetahuan paling pangkal sampai paling hulu, tuntas. Kita iri? Ya. Namun, nyatanya, iri itu gak akan merubah apa-apa.

    Satu-satunya jalan: Memulai.

    Memulai membaca-i dan menghayati. Meskipun sebagian praktik membaca dan berdialektika itu menyakiti pikiran. Itu lebih baik. Daripada abadi dalam ketidaktahuan. Lebih-lebih abadi dalam kebodohan.

  • Teduh III

    Kau tahu adanya

    Lihatlah ke dalam lembah hatiku

    tak ada rahasia

    Lihatlah ke dalam telaga mataku

    tak ada yang mampu disembunyikan

    Maka datanglah padaku

    sebagai api atau

    sebagai amuk badai

    siap aku terbakar

    rela aku terhempas

  • Mantra Konservatif

    Oleh : Agung Hidayat

    Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Roy Murtadho sebagai aktivis kiri yang beberapa pandangannya saya sepakati khususnya terkait perjuangan kelas.

    Saya mengajukan tanggapan atas pandangannya tentang konservatisme beragama.

    Tempo hari Roy Murtadho memuat foto seorang perempuan dan anak perempuan beserta caption di dinding facebooknya tentang Taliban, keberjilbaban dan aturan pertubuhan (perempuan).

    Jika saya tidak khilaf. Dia melihat bahwa perempuan dengan pakaian tertutup adalah hal yang mengerikan. Maka baginya menyuruh orang lain untuk berjilbab berseberangan dgn asas kebebasan individu. Dalam bahasa dia “situ siapa nyuruh-nyuruh”? Ia menganggap bahwa hal ini adalah bentuk dari konservatisme beragama. Dan dia tidak rela anak-anaknya terjangkit paham konservatif semacam itu.

    Kita berharap sikap Roy Murtadho itu tidak ditunggangi kedengkian.

    Secara sederhana konservatif dimaknai sebagai pelestarian tradisi atau kebiasaan masa lalu yang dianggap kuno dibandingkan memilih beradaptasi dengan kebiasaan baru yang lebih segar di masa kini.

    Jika Roy Murtadho menilai bahwa aturan tentang tubuh sebagai bentuk konservatisme beragama, lalu ketelanjangan dan semi-telanjang tubuh disebut apa? Kebebasan individu atas tubuhnya? Sementara usia ketelanjangan ribuan tahun lebih tua daripada keberpakaian.

    Bukankah ini bagian dari konservasi –konservatisme primitif? Satu bentuk pelestarian tradisi purba.

    Labeling konservatif –yang dilakukan secara liar– pada orang lain atau suatu golongan adalah tindakan naif. Bahasa simbol yang hendak dimunculkan di sana: saya lebih progresif dan futuristik.

    Padahal, setiap kita adalah konservatif. Kita hari ini, di detik ini, bukan sebuah barang yang didatangkan dari dunia sim salabim abakadabra. Pemikiran dan perilaku kita dibentuk oleh masa lalu —diakses melalui penginderaan; membaca, mendengar, dan melihat— dengan titik fokus dan penekanannya masing-masing.

    Kalau begitu, persoalannya bukan pada konservatif atau progresifnya seseorang? Benar. Namun persoalannya ada pada itikad atau dalam hukum pidana disebut mens rea. Bagaimana keadaan jiwa seseorang ketika melakukan suatu tindakan tertentu. Dalam konteks ini, apa motif seseorang memilih menampilkan “wajah” konservatif atau progresif. Sebab, kalau itikadnya busuk, maka busuklah ia. Baik mereka yang di jalan konservatif maupun progresif.

  • Rindu memanah inti batinmu

    Yang paling mengerikan dari kehidupan kota adalah satu tahun terasa sebulan, dua tahun terasa dua bulan, dan seterusnya.

    Padahal, di desa orangtua dan teman-temanmu tersayat batinnya menunggu kepulanganmu. Karena bagi mereka melewati waktu setahun itu sungguhlah lama. Rindu memanah inti jantungnya.

    Namun, sejak jauh-jauh hari kita telah putuskan mengambil langkah ini. Mengembara ke pulau jauh, menantang nasib. Pun kita telah siap dengan segala konsekuensinya.

    Maka, ketika rasa lapar, kemiskinan, penolakan, kesakitan dan segala krikil perjalanan memukul inti batinmu, itu adalah satu pengajaran tentang arti hidup. Alam menguji, apakah kita berani bergulat dengan kenyataan?

    Dalam kehidupan kota satu tahun terasa sebulan, dua tahun terasa dua bulan, dan seterusnya. Yang mengerikan, ketika waktu berjalan tanpa kendali dan membawamu ke ujung kekalahan hidup. Dan kau pasrah.

  • Lelaki Malam dan Cerita Seekor Anjing Jantan

    Oleh: AgungHyt

    Saya berada di antara mereka. Saya melihat segala aktivitasnya. Saya seekor binatang yang mengamati manusia.

    ***

    Lelaki itu sering sekali menghabiskan waktu berjam-jam di hadapan tembok, cuma buat merenungi hal-hal di seberang kenyataan.

    Kadang pula, saat tembok hanya terpaku bisu dan tak menghiraukan segala kerisauannya, ia mengambil sebatang pena dan selembar kertas –kadang berlembar-lembar– di atasnya ia tulis harapan-harapan panjang dan dalam. Sampai-sampai, seekor anjing sepertiku tak mampu mencerna isinya. Entah aku yang bodoh, atau memang lelaki itu yang harapannya terlampau ngawur.

    Tapi aku mengerti. Aku mengerti ia sedang dipermainkan kehidupan. Tidak ada yang mampu menghapus seluruh dukanya kecuali ‘sang penawar’. Celakanya, di antara mereka terbentang sebuah hijab. Ia pun mencuri-curi peduli sebagai manifestasi dari perasaan malu dan keragu-raguan.

    Saat kegembiraan menerpa dirinya. Kabar burung menyentuh telinganya.

    Isi dari kabar itu seketika meruntuhkan segala kegembiraannya yang baru sebentar saja tegak berdiri. Sebab, bahasa makna yang ia lontarkan sekian banyak itu ditangkap secara dangkal. Anehnya, mereka merasa telah berhasil, dan merasa telah menemukan maknanya. Mereka mencoba memaknai bahasa lelaki itu: tetapi mereka tidak sadar, mereka tak mungkin mampu memahaminya.

    Saya ingin sekali menjilati pundak lelaki itu. Dia berduka karena bahasanya tidak tepat sasaran. Sebagai seekor anjing yang kesulitan berkomunikasi dengan manusia, sebenarnya saya ingin sekali menghibur lelaki itu dengan lelucon lucu dan menggembirakan. Namun apalah daya, saya cuma seekor anjing dekil yang kesepian, tidak menarik buat ditemani, apalagi dicintai.

    Hari ini adalah malapetaka bagi lelaki itu. Sebab ia sudah tahu akan bagaimana akhir dari naskah cerita yang telah susah payah ia susun secara subtil.

    Dadanya telah penuh. Dan kini semakin sesak.

    Membuatnya semakin muak atas orang-orang yang mendaku diri sebagai ekstrovert yang berbangga dengan ritme hidupnya yang norak dan berlebihan. Yang menggerakkan lidah dan jari tanpa rasa sungkan. Yang dengan berisiknya mendramatisasi segala sesuatu secara naif.

    Saya kembali ke sudut gedung. Meringkuk kaki dan meletak dagu di atasnya. Gelegar petir menyala-nyala. Hujan turun di kota Jakarta.

    Saya sesenggukan. Nasib kami sama. Saya seekor anjing yang menaruh hati kepada kucing. Sebelum saya sampaikan secara terang, saya sudah tahu, bulu saya adalah haram baginya.

    Meskipun saya sama seperti lelaki malang itu. Tapi saya telah berjanji tidak akan menjadi seperti pada umumnya seekor anjing: saya lebih senang tidur, makan, dan bermimpi. Saya tidak suka menggonggong.

  • Instruktur pembunuh rindu

    Kalau dulu kita pernah meyakini bahwa apa-apa yang bermain dalam waktu pasti berlalu. Maka persimpangan kali ini pun bagian daripada itu.

    “Peristiwa rekayasa” ini telah menjadi hikayat subur di kalangan para pelipur. Hari yang mula-mula terasa panjang, di ujung penghabisannya dirindui serindu-rindunya.

    Belum lagi, kita telah sampai pada stasiun akhir. Di mana inilah waktunya kita membangun gudang kerinduan demi kerinduan.

    Kita pikir, inilah ruang untuk menjalankan mekanisme “propaganda” itu. Suatu jalan membangkitkan kesadaran pikiran dan nurani. Bahwa segala bentuk ketertekanan hidup sebesar-besarnya untuk dihadapi secara tangguh.

    Sebagaimana kesaksian banyak orang. Meninggalkan stasiun ini bukanlah perkara mudah. Sebab, stasiun berikutnya masih memerlukan pemolesan.

    Ringkasnya, rindu ini akan menggelembung. Sementara kewajiban keberanjakan adalah sesuatu yang tidak semestinya ditolak.

    Kita akan menjadi manusia paling sadis. Membunuhi anak-anak yang lahir dari rahim kerinduan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai