Oleh: AgungHyt
Saya berada di antara mereka. Saya melihat segala aktivitasnya. Saya seekor binatang yang mengamati manusia.
***
Lelaki itu sering sekali menghabiskan waktu berjam-jam di hadapan tembok, cuma buat merenungi hal-hal di seberang kenyataan.
Kadang pula, saat tembok hanya terpaku bisu dan tak menghiraukan segala kerisauannya, ia mengambil sebatang pena dan selembar kertas –kadang berlembar-lembar– di atasnya ia tulis harapan-harapan panjang dan dalam. Sampai-sampai, seekor anjing sepertiku tak mampu mencerna isinya. Entah aku yang bodoh, atau memang lelaki itu yang harapannya terlampau ngawur.
Tapi aku mengerti. Aku mengerti ia sedang dipermainkan kehidupan. Tidak ada yang mampu menghapus seluruh dukanya kecuali ‘sang penawar’. Celakanya, di antara mereka terbentang sebuah hijab. Ia pun mencuri-curi peduli sebagai manifestasi dari perasaan malu dan keragu-raguan.
Saat kegembiraan menerpa dirinya. Kabar burung menyentuh telinganya.
Isi dari kabar itu seketika meruntuhkan segala kegembiraannya yang baru sebentar saja tegak berdiri. Sebab, bahasa makna yang ia lontarkan sekian banyak itu ditangkap secara dangkal. Anehnya, mereka merasa telah berhasil, dan merasa telah menemukan maknanya. Mereka mencoba memaknai bahasa lelaki itu: tetapi mereka tidak sadar, mereka tak mungkin mampu memahaminya.
Saya ingin sekali menjilati pundak lelaki itu. Dia berduka karena bahasanya tidak tepat sasaran. Sebagai seekor anjing yang kesulitan berkomunikasi dengan manusia, sebenarnya saya ingin sekali menghibur lelaki itu dengan lelucon lucu dan menggembirakan. Namun apalah daya, saya cuma seekor anjing dekil yang kesepian, tidak menarik buat ditemani, apalagi dicintai.
Hari ini adalah malapetaka bagi lelaki itu. Sebab ia sudah tahu akan bagaimana akhir dari naskah cerita yang telah susah payah ia susun secara subtil.
Dadanya telah penuh. Dan kini semakin sesak.
Membuatnya semakin muak atas orang-orang yang mendaku diri sebagai ekstrovert yang berbangga dengan ritme hidupnya yang norak dan berlebihan. Yang menggerakkan lidah dan jari tanpa rasa sungkan. Yang dengan berisiknya mendramatisasi segala sesuatu secara naif.
Saya kembali ke sudut gedung. Meringkuk kaki dan meletak dagu di atasnya. Gelegar petir menyala-nyala. Hujan turun di kota Jakarta.
Saya sesenggukan. Nasib kami sama. Saya seekor anjing yang menaruh hati kepada kucing. Sebelum saya sampaikan secara terang, saya sudah tahu, bulu saya adalah haram baginya.
Meskipun saya sama seperti lelaki malang itu. Tapi saya telah berjanji tidak akan menjadi seperti pada umumnya seekor anjing: saya lebih senang tidur, makan, dan bermimpi. Saya tidak suka menggonggong.