Kau tahu adanya
Lihatlah ke dalam lembah hatiku
tak ada rahasia
Lihatlah ke dalam telaga mataku
tak ada yang mampu disembunyikan
Maka datanglah padaku
sebagai api atau
sebagai amuk badai
siap aku terbakar
rela aku terhempas

Kau tahu adanya
Lihatlah ke dalam lembah hatiku
tak ada rahasia
Lihatlah ke dalam telaga mataku
tak ada yang mampu disembunyikan
Maka datanglah padaku
sebagai api atau
sebagai amuk badai
siap aku terbakar
rela aku terhempas

Oleh : Agung Hidayat
Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Roy Murtadho sebagai aktivis kiri yang beberapa pandangannya saya sepakati khususnya terkait perjuangan kelas.
Saya mengajukan tanggapan atas pandangannya tentang konservatisme beragama.
Tempo hari Roy Murtadho memuat foto seorang perempuan dan anak perempuan beserta caption di dinding facebooknya tentang Taliban, keberjilbaban dan aturan pertubuhan (perempuan).
Jika saya tidak khilaf. Dia melihat bahwa perempuan dengan pakaian tertutup adalah hal yang mengerikan. Maka baginya menyuruh orang lain untuk berjilbab berseberangan dgn asas kebebasan individu. Dalam bahasa dia “situ siapa nyuruh-nyuruh”? Ia menganggap bahwa hal ini adalah bentuk dari konservatisme beragama. Dan dia tidak rela anak-anaknya terjangkit paham konservatif semacam itu.
Kita berharap sikap Roy Murtadho itu tidak ditunggangi kedengkian.
Secara sederhana konservatif dimaknai sebagai pelestarian tradisi atau kebiasaan masa lalu yang dianggap kuno dibandingkan memilih beradaptasi dengan kebiasaan baru yang lebih segar di masa kini.
Jika Roy Murtadho menilai bahwa aturan tentang tubuh sebagai bentuk konservatisme beragama, lalu ketelanjangan dan semi-telanjang tubuh disebut apa? Kebebasan individu atas tubuhnya? Sementara usia ketelanjangan ribuan tahun lebih tua daripada keberpakaian.
Bukankah ini bagian dari konservasi –konservatisme primitif? Satu bentuk pelestarian tradisi purba.
Labeling konservatif –yang dilakukan secara liar– pada orang lain atau suatu golongan adalah tindakan naif. Bahasa simbol yang hendak dimunculkan di sana: saya lebih progresif dan futuristik.
Padahal, setiap kita adalah konservatif. Kita hari ini, di detik ini, bukan sebuah barang yang didatangkan dari dunia sim salabim abakadabra. Pemikiran dan perilaku kita dibentuk oleh masa lalu —diakses melalui penginderaan; membaca, mendengar, dan melihat— dengan titik fokus dan penekanannya masing-masing.
Kalau begitu, persoalannya bukan pada konservatif atau progresifnya seseorang? Benar. Namun persoalannya ada pada itikad atau dalam hukum pidana disebut mens rea. Bagaimana keadaan jiwa seseorang ketika melakukan suatu tindakan tertentu. Dalam konteks ini, apa motif seseorang memilih menampilkan “wajah” konservatif atau progresif. Sebab, kalau itikadnya busuk, maka busuklah ia. Baik mereka yang di jalan konservatif maupun progresif.

Yang paling mengerikan dari kehidupan kota adalah satu tahun terasa sebulan, dua tahun terasa dua bulan, dan seterusnya.
Padahal, di desa orangtua dan teman-temanmu tersayat batinnya menunggu kepulanganmu. Karena bagi mereka melewati waktu setahun itu sungguhlah lama. Rindu memanah inti jantungnya.
Namun, sejak jauh-jauh hari kita telah putuskan mengambil langkah ini. Mengembara ke pulau jauh, menantang nasib. Pun kita telah siap dengan segala konsekuensinya.
Maka, ketika rasa lapar, kemiskinan, penolakan, kesakitan dan segala krikil perjalanan memukul inti batinmu, itu adalah satu pengajaran tentang arti hidup. Alam menguji, apakah kita berani bergulat dengan kenyataan?
Dalam kehidupan kota satu tahun terasa sebulan, dua tahun terasa dua bulan, dan seterusnya. Yang mengerikan, ketika waktu berjalan tanpa kendali dan membawamu ke ujung kekalahan hidup. Dan kau pasrah.

Oleh: AgungHyt
Saya berada di antara mereka. Saya melihat segala aktivitasnya. Saya seekor binatang yang mengamati manusia.
***
Lelaki itu sering sekali menghabiskan waktu berjam-jam di hadapan tembok, cuma buat merenungi hal-hal di seberang kenyataan.
Kadang pula, saat tembok hanya terpaku bisu dan tak menghiraukan segala kerisauannya, ia mengambil sebatang pena dan selembar kertas –kadang berlembar-lembar– di atasnya ia tulis harapan-harapan panjang dan dalam. Sampai-sampai, seekor anjing sepertiku tak mampu mencerna isinya. Entah aku yang bodoh, atau memang lelaki itu yang harapannya terlampau ngawur.
Tapi aku mengerti. Aku mengerti ia sedang dipermainkan kehidupan. Tidak ada yang mampu menghapus seluruh dukanya kecuali ‘sang penawar’. Celakanya, di antara mereka terbentang sebuah hijab. Ia pun mencuri-curi peduli sebagai manifestasi dari perasaan malu dan keragu-raguan.
Saat kegembiraan menerpa dirinya. Kabar burung menyentuh telinganya.
Isi dari kabar itu seketika meruntuhkan segala kegembiraannya yang baru sebentar saja tegak berdiri. Sebab, bahasa makna yang ia lontarkan sekian banyak itu ditangkap secara dangkal. Anehnya, mereka merasa telah berhasil, dan merasa telah menemukan maknanya. Mereka mencoba memaknai bahasa lelaki itu: tetapi mereka tidak sadar, mereka tak mungkin mampu memahaminya.
Saya ingin sekali menjilati pundak lelaki itu. Dia berduka karena bahasanya tidak tepat sasaran. Sebagai seekor anjing yang kesulitan berkomunikasi dengan manusia, sebenarnya saya ingin sekali menghibur lelaki itu dengan lelucon lucu dan menggembirakan. Namun apalah daya, saya cuma seekor anjing dekil yang kesepian, tidak menarik buat ditemani, apalagi dicintai.
Hari ini adalah malapetaka bagi lelaki itu. Sebab ia sudah tahu akan bagaimana akhir dari naskah cerita yang telah susah payah ia susun secara subtil.
Dadanya telah penuh. Dan kini semakin sesak.
Membuatnya semakin muak atas orang-orang yang mendaku diri sebagai ekstrovert yang berbangga dengan ritme hidupnya yang norak dan berlebihan. Yang menggerakkan lidah dan jari tanpa rasa sungkan. Yang dengan berisiknya mendramatisasi segala sesuatu secara naif.
Saya kembali ke sudut gedung. Meringkuk kaki dan meletak dagu di atasnya. Gelegar petir menyala-nyala. Hujan turun di kota Jakarta.
Saya sesenggukan. Nasib kami sama. Saya seekor anjing yang menaruh hati kepada kucing. Sebelum saya sampaikan secara terang, saya sudah tahu, bulu saya adalah haram baginya.
Meskipun saya sama seperti lelaki malang itu. Tapi saya telah berjanji tidak akan menjadi seperti pada umumnya seekor anjing: saya lebih senang tidur, makan, dan bermimpi. Saya tidak suka menggonggong.

Kalau dulu kita pernah meyakini bahwa apa-apa yang bermain dalam waktu pasti berlalu. Maka persimpangan kali ini pun bagian daripada itu.
“Peristiwa rekayasa” ini telah menjadi hikayat subur di kalangan para pelipur. Hari yang mula-mula terasa panjang, di ujung penghabisannya dirindui serindu-rindunya.
Belum lagi, kita telah sampai pada stasiun akhir. Di mana inilah waktunya kita membangun gudang kerinduan demi kerinduan.
Kita pikir, inilah ruang untuk menjalankan mekanisme “propaganda” itu. Suatu jalan membangkitkan kesadaran pikiran dan nurani. Bahwa segala bentuk ketertekanan hidup sebesar-besarnya untuk dihadapi secara tangguh.
Sebagaimana kesaksian banyak orang. Meninggalkan stasiun ini bukanlah perkara mudah. Sebab, stasiun berikutnya masih memerlukan pemolesan.
Ringkasnya, rindu ini akan menggelembung. Sementara kewajiban keberanjakan adalah sesuatu yang tidak semestinya ditolak.
Kita akan menjadi manusia paling sadis. Membunuhi anak-anak yang lahir dari rahim kerinduan.

Oleh: Agung Hyt
Akan kuceritakan satu kisah membosankan. Kusebut “membosankan” karena ini bukan kisah cinta dengan bumbu percumbuanya. Ini kisah dendam, kisah kemuakan atas kebodohan yang dipertontonkan.
Begini.
Pada tahun 1997 di sebuah desa seorang perempuan berusia tanggung berlari ke atas bukit kecil. Dari atas bukit itu ia berteriak selepas-lepasnya. Setelah itu, dengan suara yang sedikit serak dia mengumpat, “Tetua keparat! Matilah kau!” Merasa puas dengan apa yang dilakukannya dia pun turun dan pulang ke rumah. Inilah teriakan pertama selama dia hidup di bumi.
Dua bulan sebelum dia memanjat bukit, Si Perempuan sempat berdebat dengan Tetua desa. Karena Tetua desa melarangnya untuk melanjutkan kuliah ke kota. Di hadapan kedua orang tua dan pengurus Lembaga Adat, dia mendebat Tetua desa secara tenang dan jernih. Tapi Tetua desa adalah tuhan-kelas-kampung kata-katanya adalah firman bagi dirinya dan masyarakat desa. Maka sekeras apa pun Si Perempaun mendebat, hanyalah upaya yang sia-sia.
***
Selama ini Si Perempuan tampil sebagai sosok yang cemerlang dan tenang.
Meskipun dia seorang perempuan cemerlang, tetapi dia bukan pedagang slogan, ia amat hati-hati dalam membaca fenomena.
Pun pantang baginya menggelar keluh-kesah. Seluruh amarah dan kemuakannya atas Tetua desa ia simpan secara rapi dalam dadanya. Dan sesekali ia tumpahkan dalam tulisan manis yang menggigit.
Semua prinsip hidupnya ini terpancar dari matanya yang setangguh akar bakau dan jari-jemarinya yang sekuat tanduk kerbau. Sungguh suatu pola yang dihindari oleh kebanyakan perempuan zaman ini, yang lebih memilih memparadekan keakuan dan keberisikan.
***
Dia tahu kerakusan harkat-martabat lelaki telah membuat ceruk ketidakadilan atas perempuan semakin dalam. Para orang tua di desa yang membatasi gerak anak-anak perempuannya mesti membuka lebar mata jernihnya. Bahwa kepicikan telah ngendon di dalam batok kepala mereka. Ketidakmampuan mereka membedakan antara yang pantas dan tidak pantas dalam batas aturan main yang pasti adalah fakta yang mengkhawatirkan.
Lebih tepatnya, semua ini karena Tetua desa keparat. Seluruh orang tua di desa patuh terhadapnya. Dan yang ada sekarang tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena ini adalah konsekuensi dari kesepakatan ratusan tahun lalu saat desa kami berperang melawan penjajah. Saat itu orang-orang desa mengangkat satu pemimpin perang dan wajib menaatinya. Setelah perang usai, pemimpin perang itu tetap dihormati, dan dianggap sebagai sesepuh kampung yang didengarkan segala sabdanya. Saat pemimpin perang tadi mati, masyarakat desa bermusyawarah mencari penggantinya. Dan tradisi ini berlangsung hingga sekarang, sudah hampir 150 tahun.
Seiring berjalannya waktu, Tetua desa semakin memiliki keistimewaan-keistimewaan. Salah satunya kedudukan Tetua desa lebih dihormati daripada kepala desa. Tetua desa pun melahirkan pelbagai aturan adat dan harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat adat. Salah satu aturannya adalah “setiap orang tua harus bertungkus lumus menyekolahkan anak laki-laki setinggi-tingginya.”
Aturan ini bukan masalah bagi masyarakat desa, bahkan perempuan desa hanya menerimanya saja dengan senang hati. Seperti tidak ada bau busuk apa-apa. Tidak akan ada yang melawan, bahkan sekadar membayangkannya pun tak mungkin ada. Aturan adat adalah aturan Tetua, aturan Tetua adalah firman tuhan-kelas-kampung.
Baginya Si Perempuan, ketidakadilan ini harus digugat, digugat untuk membuka lebar-lebar mata mereka, suatu penggugatan yang bukan hanya bagi kelangsungan hak perempuan saja, tetapi juga bagi seluruh anak-anak desa yang direnggut masa depannya.
Namun apalah daya. Saat ini ia baru mampu mengumpulkan amunisi perlawanan. Ya, baru amunisi saja, tanpa senjata. Lebih jauh lagi, ia harus menyelesaikan kuliahnya, lebih jauh lagi, ia harus menggalang penyadaran kepada anak-anak desa, laki-laki dan perempuan, melalui jalan-jalan pemikiran. Setelah itu, baru benar-benar bisa melawan.
(bersambung)

Aku adalah apa yang digubah oleh Nizar Qabbani, “Aku tak menyimpan rahasia sebab hatiku adalah buku–tidaklah sulit bagimu untuk membacanya.”
Bahasa cinta mengalir ke setiap sudut tubuhku. Menyebut-nyebut namamu secara lirih, persis seperti pujangga yang pesakitan. Benarlah, cinta adalah bahasa paling halus sedunia.
Ya, memanglah aku si pesakitan yang lumpuh diserang senyum teduhmu. Dan mungkin, tak akan pernah sembuh, sebab suaraku telampau parau untuk memanggil cinta di kedalaman lembah hatimu.

Oleh: agunghyt
Dalam aktifitas politik (politik yang dimaknai sebagai keadaan yang terikat pada nilai/tujuan/prinsip) memiliki konsekuensi bahwa segala ekspresi seseorang dianggap sebagai bahasa komunikasi–meski kenyataannya tidak selalu begitu.
Orang yang sudah terikat dalam keadaan ini akan (seharusnya) berhati-hati dalam setiap geraknya. Sebab, senyumnya yang paling abstrak sekali pun bakal dikaji dan diperhatikan.
Bahasa simbol yang mengemuka akan dicari perhubungannya untuk menemukan makna dan relevansi yang tersembunyi.
Misalnya, pada demonstrasi di Thailand dan Myanmar belakangan ini muncul simbol “tiga jari” dan dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap totalitarian.
Dulu, pada masa-masa kontestasi pilpres 2019 pun muncul simbol-simbol sebagai bahasa komunikasi.
Dan, hal-hal semacam ini tidak hanya terjadi dalam aktifitas politik pemerintahan saja. Tetapi juga aktivitas politik pertemanan, percintaan, kekeluargaan, dan organisasi.
Kekeliruan menafsirkan bahasa simbol–baik terlalu dangkal atau terlalu jauh–mengakibatkan kegagalpahaman. Dan bermuara pada kegagalan menentukan langkah.
Tapi, ya demikian, kadang bahasa simbol yang terlalu bias dapat menipu kita. Akhirnya, lahirlah orang-orang yang merasa dicintai, merasa berpengaruh, merasa punya andil, merasa terbaik, dan segala aktifitas klaim lainnya.
Bahasa simbol yang muncul dari kejujuran, nurani, dan kejernihan, memiliki pantulan cahayanya sendiri. Suatu pantulan isyarat atas dorongan Campur-Tangan-Tuhan.
Isyarat yang semacam ini dapat kita sebut sebagai “komunikasi hati”. Keberhasilan komunikasinya sepenuhnya bergantung pada kehendak-Nya. Apabila Allah meridhoi, bagaimana pun kacaunya keadaan, maka ia bakal bertemu juga. Jiwa-jiwa yang sevisi akan berpadu pada akhirnya.

Setelah kutimbang-timbang. Setelah selama sekian purnama kepalaku disesaki tanda tanya. Setelah kulakukan pembacaan dan meneliti sudut jendela barangkali ada kisi-kisi. Akhirnya, aku harus mengakui bahwa ia terasa amat jauh dari jangkauan. Bahkan, hampir mendekati taraf kemustahilan.
Aku malu kalau semua orang mengetahuinya. Sebab, di saat semua merayu. Aku saja yang memasang mata tak peduli. Namun, di balik itu, ada pertarungan hebat di dalam dada dan pikiranku.
Jadi, begini saja.
Bagaimana kalau kali ini aku menjadi seorang yang sepenuhnya skeptis. Meletak keyakinan bahwa jika yang kuinginkan bisa saja bertentangan dengan yang Tuhan inginkan.
Ada alasan kuat mengapa aku harus mengedepankan skeptisisme. Bahwa dalam lingkaran ini, aku bukan hanya yang paling nista dalam watak, tetapi juga dalam banyak hal lainnya. Bagaimana mungkin dengan fakta yang jelas-jelas nyata, aku berani melanjutkan “tanda tanya” itu ke level praktik?
Bisa saja suatu saat nanti. Saat kenistaan-kenistaanku sebagian besar telah dapat terperbaiki. Aku mengampiri dan menanyainya pada waktu malam, sunyi dan ketika tidak ada sesiapa. Bisa saja.
Tapi, bukankah kepercayaan diri seseorang itu tumbuh karena adanya potensi kepastian. Ada sesuatu yang dapat ia banggakan dan unggulkan.
Aku musti membawa apa?
Secara amat pengecut dan pecundang tanpa usaha apa-apa untuk meyakinkannya, bahkan sekadar untuk memberitahunya tentang semua ini. Aku menyerahkan segalanya kepada Sang Kudus. Kata orang, kalau jendela hati manusia tampak sukar dibuka, cobalah masuk melalui pintu-pintu Tuhan.

Satu hal yang kukhawatirkan, tentang waktu yang terus bergerak maju, orangtua yang semakin menua dan sesakitan, dan dosa sosial yang kian menumpuk.
Terjatuhlah aku ke dalam jurang kemungkinan di antara bukit kepastian dan ketidakpastian.
Sampai pada titik paling membingungkan, aku menjajakan mimpi-mimpiku.
Mimpi adalah barang dengan nilai daya tawar tertinggi yang kumiliki, selain itu aku hampir tidak memiliki apa-apa lagi.
Daya tawarku melemah, sejak kuputuskan melepas seluruh momentum panjat sosial.
Dan sekarang, aku menyadari betapa manusia itu pada titik tertentu memang harus kejam.
Kepada yang lemah dan tak berdaya tidak ada alasan untuk menindasnya, tapi kepada setan-setan kekuasaan dan begu-begu berwajah klimis harus diberi garis tegas dan keras.
Kalau tidak begini, semua orang bakal dihitung sebagai komoditi kepentingan semata.
Tapi aku menerimanya dengan lapang dada. Kemudi waktu bukan barang yang bisa diajak bersantai. Apalagi kembali!
Satu persatu tuan kudatangi. Kepada semuanya kukatakan hal yang sama.
“Bantu aku hari ini, segalanya akan kulunasi di masa depan.”