• Perdebatan kesunyian

    Oleh : agunghyt

    Katamu / sekuntum puspa enggan mewangi di ladang pagi yang kaku

    Tiada jiwa yang benar-benar beku / jawabku

    Katamu / jiwa-jiwa hambar ditakdirkan mati ditikam kesunyian

    Kesunyian adalah anugerah bagi terlaksananya segala permenungan / jawabku

    Katamu / hidup ialah buat berkompetisi, menangguk prestasi sebagai sumber dari kebahagiaan hakiki

    Hidup-menghidupi adalah inti dari berkehidupan / jawabku

    Katamu / empati cuma dimiliki jiwa-jiwa yang bergerak, kemanusiaan tak mungkin timbul pada diri berbaju hitam

    Mengatakan tentang marabahaya gulungan ombak laut, tak sama dengan memahami bahwa laut itu dalam / jawabku

    Tutupku / prinsip kemanusiaan tertinggi adalah dengan menyadari bahwa manusia itu lautan, manusia itu gunung berapi, dibalik penggerayangan atas hamparan tubuhnya ada yang bergejolak di kedalamannya, bola matamu tak melihatnya, kecuali disertai kejernihan

    Homosocious, ekstrovert, segala kicauan perhatian adalah harga mati, tak peduli dengan segala motif di kedalamannya / jawabmu

  • Kemuliaan Berbohong

    Oleh: agunghyt

    Ada yang mengatakan bahwa kebohongan tidak selamanya salah. Pada situasi tertentu ia merupakan pilihan baik.

    Hal ini bertentangan dengan prinsip tekstual. Di mana kebohongan ditinjau dari sudut makna katanya. Secara harfiah, kebohongan berkonotasi negatif.

    Kita pikir, hal ini berfungsi sebagai “alarm” agar kita tidak menjadikan kebohongan sebagai senjata untuk meraup keuntungan batil. Satu jenis tindakan yang merugikan orang lain demi keuntungan diri sendiri dan kelompok saja.

    Namun, pada situasi rumit yang berpotensi menjebak diri, kadang kita harus mempraktekkan kebohongan.

    Misalnya, saat orangtua membujuk anaknya yang sedang sakit untuk meminum obat yang rasanya pahit. Kadang harus ada unsur kebohongan di sana, dengan mengatakan bahwa obat ini rasanya manis.

    Atau, ketika beberapa orang sedang berkumpul di warung kopi. Misalnya, ada salah satu dari mereka berkata-kata berlebihan dan terkadang dusta. Kita tahu dia bodoh tapi kita tetap memujinya. Kita tahu kata-katanya tidak tepat dan tidak patut tapi kita tetap menyimak tanpa bantahan berarti. Ini adalah sebuah kebohongan, kita mendiamkan kesesatan. Tetapi kebohongan pada situasi ini lahir karena sentuhan nurani, kita tidak ingin si dia tadi malu di hadapan khalayak.

    Kebohongan yang seperti itu tidaklah harus kita sikapi secara keras dan tegas. Dan hal ini mengkonfimasi satu prinsip yang menyatakan, “Dalam hidup selalu ada saja ruang bagi permakluman.”

    Maka, sama halnya ketika seseorang menaruh keinginan lebih pada orang lain. Jika keinginan itu berpotensi menimbulkan “blunder” dan mengacaukan kesucian niatnya kita tidak harus menyampaikannya secara vulgar. Ini bukan berarti Anda munafik. Tetapi harus dipilih cara-cara yang lebih subtil.

    Karena seringkali pembacaan atas situasi (yang rasa-rasanya jauh dari kemungkinan) memaksa kita untuk menyimpan saja dentuman-dentuman di dalam dada yang telanjur meronta-ronta.

    Sehingga, seolah-olah tidak ada apa-apa. Kebohongan yang semacam ini tidak lasuh dilakukan. Perlu ketabahan dan pengorbanan bahwa pesannya berpotensi tak sampai kepada tuannya.

  • Cerita di antara malam

    Oleh: agunghyt

    Malam ini aku menyelam di kedalaman keheningan. Telingaku dapat menangkap jelas setiap bunyi-bunyi halus. Detak-detik jarum jam di dinding mengetuk sisi paling melankolis di dalam diriku. Rasa-rasanya, pertama kalinya aku mengalami ini–di dalam ruangan empat kali empat. Mendadak sesuatu yang terperangkap di dalam diriku meloncat keluar saat itu juga. Dan meneriakkan segala ketaktuntasan.

    Pendidikan yang kuusahakan mendapati hadangan dari sana sini. Telah kucoba berbagai jalur, tetapi semuanya mengatakan tidak. Otakku hampir mengalah di hadapan keremang-remangan hidup. Tapi lagi-lagi, setiap aku hendak berhenti dan memutar haluan, aku teringat ibu-bapak di desa yang masih senantiasa melirihkan harapan-harapan.

    Selanjutnya cerita ini akan sedikit panjang. Begini, ketika kesedihan jiwaku atas ibu-bapak belum juga menenang. Bayangan seorang gadis pulau melayang di langit-langit ingatanku. Kesedihanku semakin memuncak. Seorang gadis yang padanya harapan-harapan pernah kutaruh panjang. Seorang gadis yang pernah kurapal dalam doa-doa kesunyian.

    Mimpinya tentang melewati batas-batas dan menyeberangi pulau-pulau kuamini setiap waktu. Pada waktu itu, kuterbangkan lirih kata melewati tanah, laut dan hutan, lalu jatuh tepat di sudut telinganya, suaraku membisik, “akan kubawa kau menapaki tanah-tanah jauh, pantai-pantai manis, dan gunung-gunung tinggi, kita berjalan di bentangan savana lalu berbagi canda di antara ilalang yang menguning, akan kubuat kau menangis bahagia di dalam dekapanku.”

    Pada waktu itu, satu cerita yang masih berupa imajinasi, dan… semakin jauh dari kemungkinan.

    Malam ini, dirinya datang, kau hadir sekian senti di ujung mataku, kau tersenyum dan aku melihatnya. Mataku menyembab, dadaku berontak dipermainkan kebencian dan cinta.

    Tapi, kulihat ada sesuatu di balik senyumannya. Kuamati, dan kuperhatikan, ternyata sesuatu itu adalah sebentuk ketaksungguhan dan api penghianatan. Jiwaku yang telah lebam oleh kerikil kehidupan, dibuat semakin lumpuh olehnya. Pisau itu ia tusuk secara halus dari berbagai arah, tanpa ampun. Aku terkapar, ia tertawa. Ingin rasanya kumaki diri sendiri. Kesakitan itu semakin mendekati titik kulminasi, saat kudapati kabar satu-persatu kawanku bicara tentang gadis pulau, berbasa-basi dan meminta… Ingin kumaki diri sendiri.

    Seseorang yang lasuh dalam mengidolakan sesuatu akan pula menyimpan rahasia-rahasia. Aku tahu, aku paham, aku pernah menjadi seperti itu.

    Hanya saja, aku tak ingin semua berlalu secepat aku mendapatkannya. Maka, aku berpura-pura tak memahami mekanisme yang semacam itu. Hatiku telanjur simpuh kepada dirinya, hatiku menyediakan ruang kasih seluas-luasnya. Namun, walau telah kau tanam dalam-dalam nafas kesungguhan dan kesetiaan, akan tetap sukar tumbuh kejujuran pada diri perempuan berjiwa rapuh.

    Akhirnya, dalam kesunyian, dalam kediam-diaman ia menebar “hai” ke banyak ruang. Ia menganggap segala ekspresi keakuan adalah puncak dari kebebasan. Ia belum menghadapi realitas yang sebenarnya, ia rapuh menengok pencapaian manusia lain.

    Ingin rasanya kubisikkan pelan-pelan di telinganya, “Nona, jangan terjebak dalam kesemuan. Kau harus berani tidak menjadi siapa-siapa. Jadilah sebagaimana seharusnya perempuan.”

    Namun, aku tak ingin mematahkan semangatnya. Biarlah kehidupan demi kehidupan mengajarinya cara memandang sesuatu secara tuntas dan mendalam. Sementara waktu, biarlah ia berselancar di lautan semu atraktif-teatrikal.

    Ingin kumaki diri sendiri…

    Malam semakin pekat. Setindak demi setindak suara detak jarum jam mulai menyamar. Lalu menghilang. Seiring dengan lenyapnya segala kepercayaan. Kesadaranku terperangkap di alam mimpi. Tubuhku terperangkap di alam kehidupan.

  • Filosofi Angsa

    Oleh: Agung Hyt

    Apa yang terlintas di benak sodara ketika saya menyebut angsa di atas air. Apa pun itu yang jelas saya meyakini pikiran sodara tidak sedang membayangkan sesuatu yang latah dan grasah grusuh.

    Angsa di atas air. Sekilas ia tampak sedang bermalas-malasan. Mengapung dan sekali-kali membenamkan kepalanya ke dalam air. Tetapi saya pikir kita semua tahu, bahwa kakinya tidak pernah berhenti bergerak.

    Kekuatannya tidak terlihat. Kekuatannya ada di balik permukaan air. Apa yang Anda lihat di atas permukaan air yaitu, sebuah tubuh yang tenang dan anggun sebenarnya dikendalikan dari dalam—oleh kaki yang terus bergerak—memberi keseimbangan.

    Begitulah seharusnya kita menjalani hidup di permukaan bumi ini. Biarkan dunia melihat seolah-olah Anda tanpa aksi, tidak bergerak, tidak terlihat, tetapi di luar penglihatan mata dunia yang fana kita bergerak melebihi pembacaannya.

    Kita harus berani tidak menjadi siapa-siapa. Melepaskan segenap ego diri yang ingin terlihat dipandang keren, pintar. Ingin menjadi “seseorang” atau “sosok tertentu”.

    Memang cita-cita bukanlah sesuatu yang hina. Tetapi ketika kita mengorientasikan semuanya itu hanya untuk sekadar dikenal dan dipandang sebagai “manusia berprestasi” dan “sukses” semuanya menjadi terasa semu.

    Seringkali nafas cita-cita hanya menjadikan subyek sebagai satu-satunya yang menerima kebermanfaatan. Mendongkrak status sosial agar mendapatkan kedudukan istimewa dan seribu pujian.

    Mungkin semua itu dapat mengerek Anda ke puncak privilege dan dielu-elukan oleh banyak orang. Tetapi percayalah, kerja keras Anda itu hanyalah SEBUAH KESEMUAN.

    Prestasi yang selama ini dipuja-puja oleh orang tua penuntut tidak akan membuat sang anak tumbuh menjadi manusia yang sesungguhnya. Kecuali hanya menjadi “manusia pencapaian” yang haus pujian.

    Kita tengok, betapa banyaknya anak-anak yang gila karena tuntutan prestasi. Bahkan tidak sedikit yang memilih bunuh diri.

    Apakah Anda tidak bersedih menengok mereka? Lalu, Anda ingin mengembangkan “budaya populer” dengan argumen-argumen yang seolah-olah rasional. Sehingga menjadikan Anda sebagai manusia narsistik yang haus pengakuan.

    Apa yang kita miliki. Kesempurnaan pikiran, watak dan fisik adalah sebesar-besarnya buat kebermanfaatan umat dan mencari ridha Allah. Kalau kita telah mengorientasikan hidup pada ini, Anda tidak akan lagi memuja manusia-manusia populer secara gila-gilaan. Anda tidak akan bekerja mati-matian sekadar untuk menjadi seperti mereka.

    Kembalilah menjadi seekor angsa di atas air. Anggun tetapi tetap bekerja.

  • Kekuasaan kopong makna

    Oleh: Agung Hyt

    Godaan kekuasaan, beratnya, melampaui godaan sepiring nasi padang.

    Bedanya, kalau nasi padang membawa kepada kenikmatan perut. Kekuasaan membawa kepada kenikmatan yang paripurna.

    Bagaimana tidak, dengan kekuasaan Anda bukan cuma dapat membeli nasi padang tetapi juga beserta kedai-kedainya bisa Anda borong, kalau perlu, gadisnya juga. Ups.

    Karena kekuasaan begitu menggiurkan. Maka tidak heran kalau kekuasaan menjadi motif utama dalam sejarah peperangan dunia.

    Secara umum, sejarah perang dari zaman ke zaman disebabkan ketakrelaan ketidakberkuasaan.

    Baik itu kekuasaan atas teritori, kekuasaan atas organisasi/lembaga, maupun kekuasaan atas cinta (ego).

    Azas manfaat semu amat kentara pada motif ini. Kepentingan dalam arti kotor menggurita di dalamnya.

    2021. Di zaman yang tidak lagi purba. Apakah laik insan yang mendaku sebagai terpelajar haus akan kekuasaan?

    Allah mengamanahkan pemeliharaan bumi kepada insan manusia.

    Allah menghendaki manusia untuk mengelola dan menjaganya. Ini artinya Allah menghendaki manusia berkuasa.

    Tetapi kekuasaan ini bukanlah suatu kekuasaan yang tidak beradab. Kekuasaan yang diamanahkan kepada manusia ialah kekuasaan dalam garis-garis aturan main.

    Kekuasaan sebesar-besarnya buat kepentingan umat dan agama. Kepentingan pribadi diletak di nomor paling ujung.

    Apabila seorang insan mengambil dan mempergunakan kekuasaannya di luar garis-garis aturan main. Inilah yang kita sebut “haus kekuasaan”.

    Kekuasaan berhubungan dengan hajat orang banyak. Kalau kekuasaan diraih secara tidak beradab. Kebijakan yang lahir juga tidak akan beradab.

    Kalau begini, kita cuma insan yang menumpang hidup di zaman modern dengan nafsu yang masih purba.

    Satu-satunya cara terhindar dari jebakan ini hanyalah dengan bersikap “rela” dan “insyaf” — bahwa segala kengototan atas jabatan hanya akan menghinakan diri.

    Kekuasaan pada dasarnya mulia. Tetapi kekuasaan hanyalah alat. Praktiknya membahayakan atau memuliakan tergantung kepada pemangkunya.

  • Runtuhnya Cinta

    Selain virus yang dapat menyebar secara cepat. Krisis kesetiaan dan kesungguhan juga bagian dari penyakit yang mewabah.

    Tengok saja.

    Berita mengumumkan satu persatu politisi tersandung kasus korupsi. Ia tak setia pada amanahnya.

    Para pengusaha menyedot keringat para buruh lalu memakinya dengan balasan gaji yang tak seberapa . Ia menghianati kemanusiaan.

    Para dosen yang mempersulit proses belajar. Sesungguhnya ia sedang menghianati prinsip mencerdaskan.

    Para mahasiswa yang mencuri jawaban dari temannya. Sesungguhnya ia sedang menghianati dirinya sendiri.

    Intelektual yang menjual kepakarannya kepada penguasa dengan harga menghinakan. Ia rela mengkhianati pengetahuan.

    Seorang anak yang memenjarakan ibunya. Mengerikan. Pendurhaka yang menghianati nurani.

    Seorang ayah-ibu meremehkan kerendahan hati. Ia membusungkan ego di atas kewajiban. Ini juga bagian dari penghianatan.

    Aktivis menebalkan mukanya buat kekuasaan dan jabatan. Ia menghianati falsafah pergerakan.

    Tengok. Betapa krisis kesetiaan telah melewati batas-batas ruang. Kesungguhan telah enyah dari tempatnya.

    Maka tersebutlah suatu cerita yang sama maknanya:

    Setiap menemui malam // Seorang lelaki menaruh kepalanya di kaki seorang wanita // Merendahkan bahu di depan suaranya // Sesekali menyanyikan lagu-lagu bisu // Sesekali berkata-kata yang menggairahkan // Merubuhkan badannya di atas sajadah harapan // Sang lelaki gila tak sadar sedang menghianati kesadaran.

    Seorang perempuan pulau-pulau menebar benih kebanyak orang // Mengendap-ngendap merayu dengan bahasa qalbu dan buku-buku // Dialah penghianat suci di tengah malam.

    Demi luka yang diremas ketika sunyi. Di waktu terenyuhnya segala hati. Aku menghendaki cinta tercerabut dari akarnya.

  • Menyelam di lautan pseudo

    Oleh: Agung Hyt

    Di salah satu artikelnya. Bung Geger Riyanto menguliti habis para milenial inovator pengobral “mimpi”.

    Ruh dari artikelnya adalah Bung Geger hendak menunjukkan kepada kita. Bahwa orang-orang yang disebut milenial inovator itu tak pantas menjadi panutan. Lebih-lebih panutan dalam hidup berkehidupan.

    Sebab panutan memberi hidup secara jujur. Bukan secara tipu-tipu.

    Selanjutnya, Bung Geger menyatakan bahwa aktivitas bisnis para milenial inovator tak pelak berpegang pada kreatifitas. Namun di samping itu ia berkiblat kepada jaringan, senior dan segala “tangan-tangan tuhan”.

    Dan kurang ajarnya, mereka mengatasnamakan kreatifitas untuk memuji dirinya sendiri. “Kreatifitas yang membawa saya ke sini.”

    Sesungguhnya kreatifitas berperan sepersekian persen dalam menumpuk kapital dan bergaining selain yang paling penting itu “jaringan pengerek”. Bagaimana dengan nasib anak-anak desa yang tak mengerti dunia peraksesan?

    Setelah mereka memberi ceramah kepada anak-anak muda yang sedang hangat-hangatnya ingin menjadi terkenal dan dikenal. Anak-anak muda membawa hasrat dan sederet mimpi ngablu ketika pulang ke rumahnya.

    Di kamarnya dan disegala tempat anak muda tadi berbicara tentang masa depan yang “Baik dan membahagiakan” kepada teman-temannya.

    Katanya, “Kita akan menangkap masa depan seperti kakak-kakak milenial inovator.”

    Ia membangkitkan sebagian semangat anak muda dan memberi mereka harapan. Tapi sayangnya, ia belum juga menyadari bahwa apa-apa yang dibicarakan dan dilakukannya hanyalah kesemuan yang hakiki. Kesemuan adalah ciri khas orang-orang yang tergila-gila menjadi bintang di panggung kehidupan milenial.

    Karena kesemuan itu tak berbentuk. Ia cuma refleksi kesadaran. Maka itulah mengapa nilai semu jarang disadari oleh pengagum milenial ngablu.

    Sejauh ini, yang paling berseberangan dengan tokoh-tokoh milenial pseudo adalah para teman-teman dari kiri jalan. Atau kalau pembaca agak anti-kiri kita sebut saja manusia-manusia “pengagum kejernihan”.

    Mereka mengangkat “pedang” kepada virus milenial semu. Melalui tulisan yang tajam dan manis. Melalui diskusi-diskusi. Melalui praktik-taktik mereka menyatakan diri “memerangi kepseudoan”.

    Alasan-alasan mengapa ada pihak-pihak yang menolak habis milenial inovator-motivator tak lain adalah karena nilai kesemuan yang dibawanya. Orientasi bergerak mereka semata-mata buat terkenal dan kapital. Kalau dalam geraknya ada narasi nurani semata-mata hanyalah strategi pemasaran diri.

    Data demografis menunjukkan jumlah anak muda kita berjibun. Membuat kekhawatiran kita semakin mengemuka. Karena anak mudalah sasaran empuk para pengobral mimpi-mimpi. Mengiblatkan hidup sepenuhnya kepada eksistensi diri dan kapital. Inilah kebahagiaan hakiki bagi mereka–di luar ini ialah kegagalan.

    Sepatutnya para anak muda tak tergiur dengan yang demikian itu. Bahwa hidup bukan hanya tentang terkenal dan kapital cukuplah ini menjadi alarm bagi kita untuk tidak hanya menjadi pengikut tetapi juga pembela kaum yang takberdaya.

    Omong kosong rasanya mengatakan kita ini menaruh nurani pada kaum takberdaya sementara mengamini penyembahan berhala-berhala milenial inovator.

    Jalan di seberang berkerikil dan becek. Memilih bersandar pada nurani berarti harus siap menghadapi kesulitan di sana sini.

    Pemujian terhadap berhala manusia sesegera mungkin musti kita tanggalkan. Sepenuhnya menyandarkan hidup hanya kepada kejernihan.

  • Belantara Kota

    Oleh: Agung Hyt

    Sebagai pengembara yang tertahan di persimpangan jalan kehidupan, seringkali saya mendapati titik ini.

    Titik di mana saya seolah-olah berada di tengah padang pasir nan luas.

    Atau seperti si nelayan Diego yang bertarung dengan ikan marlin di tengah bentangan samudera tanpa siapa pun.

    Atau bagaikan seorang lelaki yang terpisah dari rombongan petualang di dalam kerimbunan belantara hutan yang maha mencekam.

    Entahlah, semua bagaikan orang asing.

    Entah kalimat mana lagi yang laik menggambarkan seorang petualang hilang dengan cita-cita setua langit.

    Saya mendongak ke atas, mendadak langit membuka dirinya menyaksikan mulut tuan-tuan terhormat berkata-kata congkak.

    Saya menengok ke kanan. Semua orang tertunduk menutupi kepalanya dengan kepura-puraan. Memanjangkan lidahnya dan melipat tangannya di antara dada dan perut.

    Waktu saya menoleh ke kiri. Hal yang sama pun terjadi.

    Lalu saya tidak melihat ke mana-mana. Di sanalah saya menemukan seorang lelaki yang mengkhawatirkan.

    Kami duduk di tepi danau kota dengan sebatang rokok yang masih berupa keinginan. Kepulan asap harapan keluar dari mulut dan seluruh tubuh kami.

    Di lain waktu, dalam persimpangan yang sama, dengan berhidangkan secangkir air mineral bercampurkan beberapa tetes air mata, kami tertawa di salah satu ruangan yang ada di ibu kota.

    Malam terasa gerah. Ia membuka kaosnya, saya mengikuti. Kami telanjang dada di hadapan persimpangan tanda tanya. Saling puji dan saling hina.

    Akhir-akhir ini kami benar-benar kehausan tertawa.

  • Hening Binal Pablo Neruda

    Aku ingin jadi keheningan

    Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada
    Dan kau dengar aku dari jauh, tapi suaraku tak menyentuhmu
    Seperti matamu yang mengalur hingga jauh
    Seperti ada sebuah kecupan yang mengunci mulutmu

    Seperti segalanya terpenuhi dengan jiwaku
    Kau menjelma dari segalanya, memenuhi jiwaku
    Engkau seperti jiwaku, kupu-kupu mimpi,
    Dan engkau seperti kata Melakoli

    Aku ingin jadi keheningan untukmu: dan kau berjauh jarak
    Suara itu seperti engkau meratap, kupu-kupu berbunyi seperti merpati
    Kau mendengarku dari jauh, suaraku tak mencapaimu:
    Biarkan aku datang padamu menjadi hening dalam sunyimu

    Dan biarkan aku bicara denganmu, dengan kesunyianmu
    Terang seperti lampu, seadanya bagai seutas cincin
    Engkau seperti malam, menyimpan keheningan dan konstelasi
    Sunyimu adalah bintang, memecil jauh dan bersembunyi

    Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada
    Jauh jarak itu penuh nestapa itu seakan kau telah mati
    Lalu hanya satu kata, satu senyuman, cukup sudah
    Dan aku bahagia, bahagia karena segalanya menyaru palsu~

    (8/1/2021/imperiumdaily.com)

    Menjaga keheningan

    Kini kita akan menghitung waktu
    ke puncak malam
    dan berhenti sejenak di sana
    untuk sekali memandang wajah bumi
    tanpa suara dalam bahasa apa pun
    berhenti sejenak saja
    membiarkan tubuh
    tak banyak bergerak

    akan tiba saat yang menakjubkan
    tanpa riuh, tanpa deru mesin-mesin
    kita berada dalam kebersamaan
    dalam keterasingan yang tiba-tiba

    Para nelayan di lautan dingin
    takkan melukai ikan-ikan paus
    dan lelaki pencari garam
    memandangi tangannya
    yang terluka

    Mereka yang mempersiapkan perang hijau,
    peperangan dengan gas,
    peperangan dengan api,
    kemenangan tanpa pemenang,

    akan meletakkan baju-baju bersih
    dan akan melangkah bersama para saudara
    di dalam bayang-bayang,
    tak melakukan apa pun

    Apa yang kuinginkan
    tak seharusnya membingkungkan
    Kehidupan seperti ini:
    Aku ingin tidak ada truk dengan kematian.

    Jika kita tidak tulus ikhlas
    untuk menjaga kehidupan kita
    yang terus bergerak,
    dan sekali saja tak melakukan apa pun,
    mungkin keheningan yang maha besar
    mungkin akan menyela kesedihan ini
    yang tak pernah memahami diri sendiri
    dan mengancam diri kita
    dengan kematian.
    Barangkali bumi bisa mengajarkan kita
    seperti ketika segalanya seakan mati
    dan kemudian terbukti hidup.

    Kini kuakan menghitung waktu
    ke puncak malam,
    dan kau tertinggal menjauh
    dadaku melangkah pergi~

    (balipost.co.id)

    Telanjang

    Telanjang
    Kau sesederhana satu dari kedua belah tanganmu
    yang halus, bersahaja, kecil, bening, dan melingkar:
    dengan garis bulan dan jalan masuk:
    Telanjang
    Kau selembut butiran gandum tanpa kemasan.

    Telanjang
    Kau sebiru malam di Kuba,
    dengan tumbuhan dan bintang-bintang di rambutmu;
    Telanjang
    Kau lapang dan kuning
    seperti musim panas di dalam sebuah gereja emas.

    Telanjang
    Kau setipis satu dari kuku-kukumu
    yang melengkung, halus, dan merah muda sampai hari ini lahir
    Dan kau kembali kepada dunia bawah tanah.

    Seolah-olah kau menyusuri terowongan panjang yang menyelimuti dan memasung:
    Kau cahaya terang yang meredup dengan hiasan
    yang jatuh di dedaunan
    Dan kembali menjadi sepasang tangan yang telanjang

    (SyahrulChelsky/medium.com)

  • Sejarah Canggung

    Oleh: Agung Hyt

    Setelah melobi bagian Tata Usaha kampus. Akhirnya, ia berkenan mengeluarkan surat bahwa aku benar sebagai mahasiswa kampus tersebut. Dengan surat ini, akan kucoba mencari jalan tikus. Barangkali ada celah agar bisa kutuntaskan apa yang telah kumulai. Kadang-kadang kita memang harus seperti tikus, tidak penting jenis makanannya, yang penting makan. Selepas itu, aku keluar berjalan ke arah parkiran, aku akan pulang ke kost dengan sepeda motor milik teman. Di perjalanan, perutku dikocok oleh ban yang sedikit baling. Tapi tidak dengan kepalaku, mataku sekadarnya saja melihat jalan, dibalik mataku itu ada sebentuk otak yang disesaki tentang ini itu, tentang kampung, dan segala tentang yang biasa dihadapi oleh mahasiswa kacau.

    Sesampainya di kos, kulepas sepatu, kuletak tas, kulepas batik hingga tersisa kaos hitam polos, lalu aku duduk di atas kursi plastik biru tosca. Daguku menyentuh dada.

    Tiga bulan sudah aku tidak menghubungi bapak-ibu. Kepalaku seperti terperangkap dalam asap pembakaran sampah, tiada waktu buat duduk tenang. Gelisah, gelisah. Aku mondar mandir. Kubongkar tasku berkali-kali, baju-baju kotor di dalam ember, seluruh ruangan kugerayangi, lantai bawah dan lantai atas. Berharap kutemukan uang tujuh ribu buat membeli pulsa. Aku duduk sejenak di kursi plastik tosca, mengendurkan dadaku yang sudah berat sejak seminggu lalu. Entahlah, sedikit saja aku bergerak terburu-buru sembari diikuti perasaan cemas dadaku akan terasa seperti dililit tali tambang kapal.

    Setelah dadaku terasa sedikit kendur, aku bangkit membongkar buku-buku yang berserak di etalase kaca, berharap kudapati uang tujuh ribu di antara celah-celah buku itu. Tetapi rasanya aku harus mengetuk kesadaranku, bahwa aku sedang tidak kelupaan menaruh uang. Aku duduk kembali, menurunkan kepala sampai daguku menyentuh dada.

    Aku khawatir bapak-ibu menganggapku anak sombong, karena tidak menelponnya selama itu, padahal satu bulan lalu, melalui saudaraku ibu mengirim uang satu juta. Sudah berkali-kali kubilang, jangan kirim uang. Tapi katannya ibu ketakutan aku tidak makan, dan, aku ketakutan ibu dipermainkan harapan.

    Uang itu habis. Lima Ratus Ribu buat temanku yang membutuhkan, Tiga Ratus Ribu untuk membeli buku, Dua Ratus Ribu buat menjaga hubungan baik dengan teman-teman. Sialnya, aku lupa menyisakannya buat membeli pulsa.

    Daguku masih menyentuh dada, bangkit, lalu aku pergi ke atas, lantai dua. Sekali lagi membongkar pakaianku, merogoh kantong demi kantong. Kuraih tas ransel yang sudah tergeletak berbulan-bulan, kubongkar setiap sudutnya secermat mungkin, “Aaa, alhamdulillah!” Kudapati uang dua ribuan sebanyak empat lembar. Aku bergegas membeli pulsa. Lalu membeli paket nelpon 20 menit.

    Mula-mula, saat sambungan telpon berdering, aku bingung mau membicarakan apa. Ibu mengangkatnya. Kutanya kabarnya, Apakah ibu sehat? Apakah ibu sudah makan? dan sepaket “basa-basi” lainnya. Kami berbincang sejenak, aku canggung, sepertinya ibu pun sama. Seolah-olah bagaikan pertanyaan wajib setiap kali menelpon, ibu bertanya tentang kapan aku wisuda. Kuberi jawaban yang menenangkan, “Doakan saja, bu, semoga dimudahkan.”

    Lalu ibu berkata, apakah aku mau bicara dengan bapak. Kukatakan, Ya. Suara bapak terdengar, saat bapak hendak bertanya langsung saja kupotong. Aku bertanya, bapak menjawab. Pertanyaannya sama seperti yang kutanyakan kepada ibu. Bapak tampak canggung, meski tidak secanggung ibu. Seperti sudah kehabisan bahan pembicaraan, lalu bapak berkata, “Kalau sudah wisuda, kau pulang saja. Bantu bapak menernak lele!”

    “InsyaAllah, lihat besok.” Aku menjawab.

    20 menit berlalu. 20 menit yang kaku. Tetapi aku lega, kewajiban mengabari sudah tuntas, setidaknya untuk bulan ini. Tinggal kewajiban berkata jujur dan apa adanya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai