Oleh: Agung Hyt
Setelah melobi bagian Tata Usaha kampus. Akhirnya, ia berkenan mengeluarkan surat bahwa aku benar sebagai mahasiswa kampus tersebut. Dengan surat ini, akan kucoba mencari jalan tikus. Barangkali ada celah agar bisa kutuntaskan apa yang telah kumulai. Kadang-kadang kita memang harus seperti tikus, tidak penting jenis makanannya, yang penting makan. Selepas itu, aku keluar berjalan ke arah parkiran, aku akan pulang ke kost dengan sepeda motor milik teman. Di perjalanan, perutku dikocok oleh ban yang sedikit baling. Tapi tidak dengan kepalaku, mataku sekadarnya saja melihat jalan, dibalik mataku itu ada sebentuk otak yang disesaki tentang ini itu, tentang kampung, dan segala tentang yang biasa dihadapi oleh mahasiswa kacau.
Sesampainya di kos, kulepas sepatu, kuletak tas, kulepas batik hingga tersisa kaos hitam polos, lalu aku duduk di atas kursi plastik biru tosca. Daguku menyentuh dada.
Tiga bulan sudah aku tidak menghubungi bapak-ibu. Kepalaku seperti terperangkap dalam asap pembakaran sampah, tiada waktu buat duduk tenang. Gelisah, gelisah. Aku mondar mandir. Kubongkar tasku berkali-kali, baju-baju kotor di dalam ember, seluruh ruangan kugerayangi, lantai bawah dan lantai atas. Berharap kutemukan uang tujuh ribu buat membeli pulsa. Aku duduk sejenak di kursi plastik tosca, mengendurkan dadaku yang sudah berat sejak seminggu lalu. Entahlah, sedikit saja aku bergerak terburu-buru sembari diikuti perasaan cemas dadaku akan terasa seperti dililit tali tambang kapal.
Setelah dadaku terasa sedikit kendur, aku bangkit membongkar buku-buku yang berserak di etalase kaca, berharap kudapati uang tujuh ribu di antara celah-celah buku itu. Tetapi rasanya aku harus mengetuk kesadaranku, bahwa aku sedang tidak kelupaan menaruh uang. Aku duduk kembali, menurunkan kepala sampai daguku menyentuh dada.
Aku khawatir bapak-ibu menganggapku anak sombong, karena tidak menelponnya selama itu, padahal satu bulan lalu, melalui saudaraku ibu mengirim uang satu juta. Sudah berkali-kali kubilang, jangan kirim uang. Tapi katannya ibu ketakutan aku tidak makan, dan, aku ketakutan ibu dipermainkan harapan.
Uang itu habis. Lima Ratus Ribu buat temanku yang membutuhkan, Tiga Ratus Ribu untuk membeli buku, Dua Ratus Ribu buat menjaga hubungan baik dengan teman-teman. Sialnya, aku lupa menyisakannya buat membeli pulsa.
Daguku masih menyentuh dada, bangkit, lalu aku pergi ke atas, lantai dua. Sekali lagi membongkar pakaianku, merogoh kantong demi kantong. Kuraih tas ransel yang sudah tergeletak berbulan-bulan, kubongkar setiap sudutnya secermat mungkin, “Aaa, alhamdulillah!” Kudapati uang dua ribuan sebanyak empat lembar. Aku bergegas membeli pulsa. Lalu membeli paket nelpon 20 menit.
Mula-mula, saat sambungan telpon berdering, aku bingung mau membicarakan apa. Ibu mengangkatnya. Kutanya kabarnya, Apakah ibu sehat? Apakah ibu sudah makan? dan sepaket “basa-basi” lainnya. Kami berbincang sejenak, aku canggung, sepertinya ibu pun sama. Seolah-olah bagaikan pertanyaan wajib setiap kali menelpon, ibu bertanya tentang kapan aku wisuda. Kuberi jawaban yang menenangkan, “Doakan saja, bu, semoga dimudahkan.”
Lalu ibu berkata, apakah aku mau bicara dengan bapak. Kukatakan, Ya. Suara bapak terdengar, saat bapak hendak bertanya langsung saja kupotong. Aku bertanya, bapak menjawab. Pertanyaannya sama seperti yang kutanyakan kepada ibu. Bapak tampak canggung, meski tidak secanggung ibu. Seperti sudah kehabisan bahan pembicaraan, lalu bapak berkata, “Kalau sudah wisuda, kau pulang saja. Bantu bapak menernak lele!”
“InsyaAllah, lihat besok.” Aku menjawab.
20 menit berlalu. 20 menit yang kaku. Tetapi aku lega, kewajiban mengabari sudah tuntas, setidaknya untuk bulan ini. Tinggal kewajiban berkata jujur dan apa adanya.