• Negara Seribu Kemungkinan

    Oleh : agung h.

    Sejak kelahirannya 75 tahun lalu Indonesia sudah dilanda berbagai permasalahan. Tapi kita tidak ingin jauh-jauh menengok ke masa lalu, kita hitung saja dari pilpres 2019 sampai dengan hari ini.

    Ditambah lagi hari ini, serangan dadakan dari pandemi Covid-19 melumpuhkan hampir semua sektor. Kita berduka untuk Indonesia atas segala permasalahannya yang tak kunjung selesai.

    Dari segala permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia. Kita boleh memandang apakah permasalahan Indonesia ini sebuah keniscayaan, atau karena ketidakbecusan pemerintah mengelola segala potensi yang ada. Silakan pembaca berpandangan?

    Tapi, di sini penulis hendak melihat permasalahan yang dihadapi Indonesia dari sudut pandang yang lain.

    Falsafah Kejayaan

    Kita mungkin tak asing dengan istilah, “Terbentur-terbentur-terbentuk”. Biasanya para perantau sering menggunakan istilah ini sebagai senjata untuk menjaga ritme perjuangan.

    Korelasinya dengan konteks Indonesia adalah kita anggap Indonesia itu seorang manusia. Seorang manusia yang sedang merantau. Seorang perantau adalah seorang yang telah siap dengan segala konsekuensi kehidupan. Konsekuensi terberat dari seorang perantau bukanlah kegagalan, tapi kematian.

    Tetapi, seorang perantau meletak “harga” di atas konsekuensi itu bahwa ia harus dapat mencapai tujuannya.

    Segala permasalahan yang tengah dihadapi oleh Indonesia adalah bagian daripada konsekuensi. Kita memilih merdeka, maka harus siap dengan tantangan sebuah negara yang merdeka.

    Meskipun Indonesia itu sesuatu yang abstrak. Tapi, Indonesia bukanlah benda mati (baca, tidak bergerak). Indonesia bergerak, penggeraknya adalah setiap manusia yang mengelolanya.

    Kita ketahui bahwa Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atas permintaan Presiden Joko Widodo telah menyusun Visi Indonesia 2045. Keseluruhan Visi itu diarahkan pada perwujudan Indonesia yang maju, adil, dan makmur.

    Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

    Visi Indonesia yang maju, adil dan makmur tidak bisa ujug-ujug tercapai. Perlu usaha dan kerjasama semua pihak. Dari sana kita melihat bahwa harus ada “gerak” untuk mengubah suatu fakta yang ada. Dari satu gerak kepada gerak lainnya, itulah yang kita sebut sebagai proses.

    Kultur Indonesian Dream’s

    Pada tanggal 24 November 2015. YouTuber Ismail Fahmi mewawancarai Ulil Abshar Abdalla yang akrab disapa “Gus Ulil” dengan tema “Manusia Indonesia”.

    Dalam wawancara itu Gus Ulil mengatakan bahwa ia optimis suatu saat Indonesia akan seperti Amerika, Indonesia memiliki satu fenomena yang sama dengan Amerika dalam istilahnya Kultur Indonesian Dream’s. Dimana orang-orang yang berangkat dari bawah tiba-tiba muncul menjadi sesuatu yang sangat besar.

    Selain itu ia juga melihat begitu tingginya kreativitas anak-anak muda sekarang. Berbagai penemuan dan prestasi tak henti-hentinya mengisi beranda pemberitaan. Pertumbuhan kreativitas ini dapat dijadikan salah satu tolok ukur untuk mencapai mimpi menjadi seperti Negara Amerika. Tapi dengan catatan, lingkungan harus mendukung kultur kekreativitasan.

    Istilah ekonomi kreatif pertama kali dimunculkan oleh John Howkins ketika melihat ada gelombang ekonomi baru yang melanda Amerika Serikat. Gelombang ekonomi baru itu dicirikan dengan aktivitas ekonomi berbasis ide, gagasan, dan kreativitas. Menurutnya, karakter ekonomi kreatif dicirikan dari aktivitas ekonomi yang bertumpu pada eksplorasi dan eksploitasi ide-ide kreatif yang memiliki nilai jual tinggi.

    Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif terbukti dengan lahirnya Badan Ekonomi Kreatif yang sekarang menyatu dengan Kementerian Pariwisata.

    Selain itu, pada November 2018 lalu Indonesia menyelenggarakan The World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali. Mempertemukan perwakilan dari pemerintah, pengusaha, think tank, komunitas, organisasi internasional, media, dan ahli di bidang ekonomi kreatif.

    Optimisme sebagian kalangan terhadap kemajuan dan kejayaan Indonesia sering penulis dengar. Baik dalam diskusi lesehan maupun diskusi di forum-forum formal. Namun demikian, kreativitas hanyalah salah satu komponen yang dapat mendorong Indonesia menjadi Negara yang maju, adil dan makmur. Tentu ada faktor-faktor lain yang tak kalah pentingnya.

    Memenangkan Kemungkinan

    Tidak selamanya perubahan itu bergerak perlahan-lahan. Ada jenis perubahan yang datang secara tiba-tiba dan mengubah segalanya dengan cepat. Hal demikian itu dapat kita sebut sebagai kejadian wild card. Tentang perubahan sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, tapi tiba-tiba ia meledak dan membuat kehebohan.

    Saya pikir kita semua sama-sama sepakat. Bahwa setiap tujuan yang besar memiliki harga yang harus dibayar. Dalam konteks Indonesia, salah satu harga yang harus dibayar ialah bertarung dengan ketidakpastian. Pertarungan ini bisa melahirkan kemenangan bisa juga melahirkan kekalahan.

    Mimpi Indonesia tentang kejayaan 2045 tidak bisa dikatakan sebagai tujuan biasa-biasa saja. Setidaknya ada 2 hal yang membuat ia tidak biasa-biasa saja, pertama, Indonesia akan bertarung dengan waktu atas eksistensi dirinya. Kedua, Indonesia bertarung dengan realitas untuk dapat tumbuh menjadi Negara besar.

    Secara filosofis, dua faktor itu memengaruhi apakah Indonesia dapat bertahan dalam perjalanannya serta dapat mencapai tujuannya sebagai Negara yang Berdaulat, Adil dan Makmur. Atau ia menyerah dihadapan waktu dan realitas? Hal ini adalah sebuah konsekuensi logis dari kemungkinan-kemungkinan yang terbuka dan dengan melihat begitu dinamisnya kehidupan dunia.

    Tapi karena masa depan adalah kemungkinan-kemungkinan yang terbuka. Maka Indonesia tak perlu khawatir dengan masa depannya. Sebab definisi dari kemungkinan ialah bisa “Ya” bisa “Tidak”.

    Itu artimya, selama peta jalan yang telah disusun oleh Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional dilalui dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Indonesia yang Adil dan Makmur bukanlah suatu ketidakmungkinan.

    *Artikel ini telah terbit di jurnalintegritas.com

  • Desa Elitis

    Oleh Agung Hidayat

    Dulu di desa kita sering mendengar celotehan anak-anak tentang kota dan segala isinya. Apabila ada seorang anak yang baru pulang dari kota, ia akan bercerita tentang kemegahan dan kemajuannya. Sementara bagi anak desa yang tak pernah menyentuh kota–apalagi sekadar buat liburan–hanya tertegun mendengar ceritanya.

    Kenapa anak-anak desa begitu merindukan kota, sesuatu yang kadang ia tak pernah melihatnya?

    Sejarah umat manusia dimulai dari ‘kampung’, dari ketiadaannya ‘kota’. Tatkala Allah turunkan Adam ke bumi, Adam hanya bertemu dengan tanah, hutan, batu dan laut. Sampai ia bertemu dengan Hawa, memiliki anak-anak, dan mereka bertani. Tak ada kota dan tak ada pakaian branded. Hal ini berlangsung setidaknya sampai Aleppo dibangun pada 3.000 tahun sebelum masehi sebagai kota pertama di dunia.

    Pada posisi ini, kita tidak menghujat kota dan tidak membela desa (baca, kampung) ataupun menolak mentah-mentah kemodernan. Karena kota ataupun desa adalah bagian daripada peradaban dunia saat ini. Yang menjadi pembahasan kita berhubungan dengan narasi ‘peradaban’ itu. Menurut an-Nabhni, “peradaban hakikatnya adalah kumpulan pemahaman (pandangan hidup) tentang kehidupan dan metode kehidupan yang khas“.

    Kata kuncinya ada pada ‘pandangan hidup’ dan ‘metode kehidupan yang khas’. Mengindikasikan bahwa ‘siapa’ yang mendominasi suatu peradaban maka otomatis ia juga memengaruhi pandangan hidup khalayak pada umumnya. Atau dalam istilahnya disebut hegemoni. Peradaban saat ini didominasi oleh pandangan hidup sekulerisme-materialisme, memisahkan antara kepentingan dunia dan akhirat serta berpaham kebendaan. Dari sana lahirlah pandangan ‘mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya’ dan pandangan ‘setiap individu berhak berlaku sebebasnya’.

    Budaya modern dengan nilai kesenangan dan kebebasan memiliki ciri-cirinya sendiri. Misalnya, ketika standar kecantikan telah diatur sedemikian rupa oleh iklan. Pakaian branded menjadi standar dalam berteman. Tempat nongkrong yang menentukan kelas komunitas. Serta berpandangan segala pemenuhan nafsu pribadi adalah bentuk dari pemenuhan kebahagiaan dan hak keberbebasan. Dan kecongkakan-kecongkakan lainnya yang menjamah hampir semua aspek kehidupan.

    Di sinilah persoalannya. Saat sebagian kawan-kawan kita di desa ‘mabuk’ dengan budaya kota (baca, yang bernilai kesenangan dan kebebasan tanpa memahami hakikat darinya) serta terseret jauh karenanya. Sehingga memandang sebelah mata desa.

    Sebenarnya ada banyak ruang untuk memahami dan mempelajari kehidupan beserta nilai-nilai di dalamnya. Tapi, sebagian dari mereka seakan-akan tak pernah mau mengerti. Bahwa dibalik setiap pakaian branded dan budaya ‘makan ala Eropa’ yang mereka tampilkan ada beban moral yang ditenggelamkan oleh ketaksadaran.

    Budaya modern dengan nilai kesenangan dan kebebasan telah merusak hakikat berkehidupan kota. Lebih jauh lagi, budaya ini terbang ke desa menjamah setiap pemuda yang rela menjadi mangsanya. Dengan semangat meyakinkan mereka yang terseret budaya itu mengkomunikasikannya dengan bahasa simbol kepada publik yang tak-berdaya.

    Padahal, tanpa orang-orang yang berpangkal dari desa (baca, kampung), ibu kota pun takkan dapat tumbuh menjulang. Kini, kita tersayat melihat anak-anak desa yang mabuk dengan budaya kota. Segala standar disandarkan pada yang pseudo dan kebendaan, dengan wawasan historis yang minim dan tumpulnya kemampuan refleksi-filosofis.

    Sangat mengkhawatirkan ketika pandangan-pandangan itu mewujud dalam tingkah laku, pakaian, makanan dan gaya hidup anak-anak desa. Tapi, lebih mengkhawatirkan lagi apabila itu mengakar dan menjadi ideologinya.

    Sebagai refleksi. Mari kita baca perlahan-lahan puisi Najwa Shihab di bawah ini:

    Tuhan menciptakan desa-desa, manusia yang membangun kota-kota. Kita pada dasarnya anak desa yang merantau, yang pergi ke tanah impian yang tak terjangkau.

    Asal-usul selalu dipanggul ke mana-mana, ibarat cangkang di punggung kura-kura. Yang tahu kapan saatnya kembali ke kampung halaman, karena kacang memang tak boleh lupa pada lanjaran.

    Menjadi anak kampung yang memandang seluas cakrawala, si udik yang tak sungkan untuk menjangkau ujung dunia.

    Mampu bangkit dari kegagalan yang tak terkira, meniti pencapaian yang niscaya akan tiba. Kita semua anak-anak dari masa silam, yang sedang bergerak menuju yang menjelang.

    Yang merentangkan batas-batas sejauh mungkin, kita adalah anak panah yang dilesatkan angin.

  • Mata

    manusia melihat,

    kawan-kawan di atas sana sungguh mulia

    manusia melihat,

    kawan-kawan di bawah sana sungguh hinanya

    sastrawan mengucap;

    sungguh hidup ini biasa saja yang hebat-hebat hanya tafsirannya

    sepuh menyeru;

    Tuhan tidak peduli dengan apa yang kau miliki, Tuhan melihat apa yang kau beri

  • Kerancuan Berorganisasi

    Oleh : agung h.

    Dalam Falsafah Gerakan dan Khittah Perjuangan telah ditegaskan bahwa PII adalah organisasi pengkaderan yang bertujuan — kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam … serta bercita-cita menegakkan Izzul Islam wal Muslimin. Artinya, kemana PII akan berlabuh telah jelas muaranya. Namun, apakah kejelasan muara itu berbanding lurus dengan kejelasan pergerakannya?

    Hal ini berkait erat dengan kerapian pergerakan sebuah organisasi. Tujuan yang jahat dengan pengorganisasian yang rapi akan dapat mencapai tujuannya dibandingkan tujuan mulia dengan pengorganisasian yang buruk. Maka, tugas kita dalam situasi sekarang ini adalah untuk menguatkan kembali pondasi keorganisasian. Memperjelas arah gerakan. Memperjelas batas antara hak dan kewajiban para organisatoris.

    Kita kemukakan bahwa kerancuan-kerancuan di dalam pergerakan mendekatkan kita kepada nilai keserampangan. Kalau tidak ada aturan main dalam berlembaga atau katakanlah ada aturan mainnya tapi tidak dilaksanakan. Maka hal itu membuat PII terlihat seperti ‘organisasi yang ugal-ugalan’.

    Memang perihal marwah dan wibawa akan di tolak mentah-mentah oleh pihak yang mengatasnamakan dirinya ‘egaliter dan bebas’. Hal itu tidak perlu dirisaukan. Marwah kelembagaan tetap mesti kita bangkitkan serta menjaganya baik-baik dengan tidak merendahkan aturan main. Sesuatu yang mengalami krisis kewibawaan bukan hanya tidak akan dipertimbangkan oleh dunia luar, tetapi juga oleh internalnya sendiri.

    Permisalannya, kita sadari bahwa semua manusia memiliki potensi untuk menjadi mahluk berkualitas—Allah Swt menanamkan potensi itu dan menetapkan aturan main dalam berkehidupan—Tetapi sebagian memilih menjadi ‘manusia sampah’ karena ketakberaniannya menjalankan aturan main serta tak-siap atas konsekuensinya.

    Kini, berbagai gagasan muncul kemuka demi menjawab tantangan lembaga PII. Kita katakan bahwa dari berbagai gagasan itu ada yang brilian dan canggih tapi ada pula yang rancu. Misalnya, sebagian mengatakan bahwa ‘berdata’ menjadi hal penting saat ini guna menjalankan asas ‘velox et excatus’—kecepatan dan ketepatan dalam mengambil keputusan dan merespon kondisi eksternal. Sementara sebagian organisatoris yang berpikir amat serampangan berpendapat PII harus lihai bermain dengan penguasa guna menyerap kekuatannya.

    Pendapat pertama benar, terlebih bila kita kaitkan dengan kondisi saat ini yang serba digital dan serba cepat. Kami melihat gagasan pertama yang mengemuka itu merupakan bentuk kekhawatiran, antara PII yang konvensional dan dunia yang sangat dinamis. Anthony Giddens, pemikir asal Inggris, mengatakan, bahwa dunia kita adalah dunia yang tunggang langgang (runaway world). Siapa yang tak siap ikut berlari, pasti akan tertinggal.

    Kemudian kita kemukakan satu pertanyaan. Apakah gagasan yang muncul itu benar-benar di gali dari hakikat persolan PII?

    Atau justru kita hanya tenggelam dalam samudera dialektika dan perdebatan tentang seputar metode untuk mengatasi persoalan PII, yang sebenarnya menjauhkan kita dari mengkaji hakikat persoalan. Sementara ‘berdata’ tidak berarti apa-apa jika para organisatoris bergerak serampangan dan tidak menghormati aturan main.

    PII bangkit dan tumbuh dalam waktu. Jangan sampai waktu sendiri yang menikamnya.

  • Menghujam Bumi

    Oleh: agung h.

    Narasi ‘Fatum Brutum Amor Fati‘ — ‘Mencintai takdir meskipun takdir itu kadang brutal’ — adalah pandangan yang harus dipertimbangkan.

    Kita perhatikan lekat-lekat. Ada miliaran manusia di bumi. Adakah dari mereka yang hidup tanpa persoalan?

    Kita tampil ke muka meneriakkan keluh kesah. Sembari menyebut satu persatu nama mahluk di kebun binatang. Kita mengutuk segala yang ada–jijik terhadap hidup sendiri.

    Ada sebagian orang yang mendukung keluh kesah itu. Mendukung kematian sebelum waktunya. Merekalah orang-orang yang memuja pikiran tapi menutup iman. Apabila diberi satu peringatan, mereka berkata: orang kuat sedang berlagak menasehati.

    Tidak perlu kita bergabung dengan kumpulan manusia rumit untuk menyaksikan keluh kesah itu. Perhatikan saja di sekelilingmu. Sesuatu yang setiap hari kau lihat.

    Kita tidak tahu, kapan tepatnya keluh kesah itu lahir ke bumi dan menjangkit jiwa manusia. Yang kita tahu, iblis dan malaikat pernah melakukannya tatkala Allah hendak menciptakan Adam.

    Itu artinya, mengeluh adalah suatu kewajaran bagi mahluk.

    Tapi, ada pula orang-orang yang menjalani hidupnya dengan anggun. Kita mengerti bahwa setiap manusia memiliki persoalannya sendiri. Manusia anggun dan manusia pengeluh sama saja dalam hal ini. Tapi, orang pertama tak sudi bersikap serampangan.

    Hidup ini penuh dengan makna-makna. Sesuatu yang tersembunyi di balik apa yang terindera. Ada hal yang tidak dapat di jangkau oleh akal murni manusia.

    Memang, ketika akal ini menemukan kejanggalan-kejanggalan kehidupan, hasrat memberontak bisa seketika muncul. Penolakan demi penolakan atas nama kehidupan yang sempurna.

    Pemberontakan dan penolakan itu tidak sepenuhnya tertolak. Tapi, ia harus ada pada tempat dan porsinya. Misalnya, tidak mungkin kita diam melihat kelaliman penguasa yang memandang sinis masyarakat bawah. Di lain sisi, ada takdir yang tidak mungkin tertolak–bentuk pemberontakan terhadapnya hanya suatu kesia-siaan.

    Tidak juga kita sedang bersikap seperti kaum skeptis. Kita hanya sedang berusaha menyadarkan diri sendiri bahwa kita ini manusia. Kita mahluk.

    Sementara pada kejanggalan-kejanggalan nasib. Allah telah memberi lampu kuning ‘Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada dirinya’.

    Lampu kuning itu berupa pesan bahwa harus ada proses di sana. Kita mengambil contoh ke negeri jauh, Tiongkok. Di sana ada sebuah bambu bernama ‘Mojuk’. Bambu itu dalam pertumbuhannya akan menjadi tunas dalam waktu yang sangat lama, yaitu 5 tahun.

    Dalam pandangan normal, itu adalah sesuatu yang tidak normal dan membuang-buang waktu. Tapi, dalam pandangan yang bijaksana, kita akan diam dan memperhatikan tunas Mojuk itu. Selepas 5 tahun berlalu Mojuk akan tumbuh cepat. Dalam satu hari Mojuk bisa tumbuh puluhan sentimeter. Ternyata di dalam proses 5 tahun menjadi tunas Mojuk menghujam tanah, menguatkan akar — agar dapat tumbuh menjulang.

  • Teduh

    Oleh: agung h.

    Bagaimana cara membaca panas dalam gelombang dingin? Bagaimana cara membaca riang dalam ritme diam? Bagaimana cara menemukan diriku pada keheninganmu?

    Setangkai bunga bermata teduh, menafsirkanmu bukanlah keahlianku. Dan, dalam prosa ini tak akan kucoba-coba melakukannya, kecuali jika aku siap diserang kegilaan.

    Kumulai saja dari kata ‘maaf’. Maaf, ada tanah yang ingin menyatu bersama langit. Seorang insan pemberang nan dingin mengepak-ngepak tangan sambil merapal mantra bunga-bunga.

    Sesuatu di dalam dadaku boleh saja meronta-ronta—itu haknya—tapi, hanya sebatas itu. Tidak boleh ia memaksamu buat mengerti simbol-simbol yang mengemuka.

    Senafas dengan pandangan Nietzche ‘permintaan dicintai adalah jenis arogansi paling besar’.

    Sejauh dugaan-dugaan itu ada, aku tidak dapat memberi kepastian kepada diri sendiri. Kepastian itu milik Tuhan dan dirimu.

    Suara-suara kecil di dalam diriku tidak hadir begitu saja. Seluruhnya berpangkal dari perjumpaan yang dingin namun menggetarkan.

    Matanya yang teduh, bagaikan mantra pereda angkara– mendinginkan amarah yang mengangkasa.

    Tak perlu aku bertanya-tanya lebih kepada diri sendiri, bahwa tepat pada detik itu aku langsung mengerti. Diam mengingini pertemuan-pertemuan berikutnya sekalipun tetap diselimuti kedinginan-kebekuan.

    Hal yang mungkin akan mengendap dalam ingatanku. Di mana pada suatu ketika kau dan aku dalam satu perjalanan, hening tanpa sepatah kata. Pada waktu-waktu lainnya, pun tak pernah ada kalimat panjang. Kecuali satu-dua kata biasa— yang di dalamnya terdapat maksud yang tak sederhana.

    Apabila kemudian hal ini menumbuhkan penyesalan, tak soal. Kupilih jalan sunyi menuju jendela hatimu.

    Api bertemu api—membesarlah ia. Beku bertemu beku—kalau tidak saling bertolak, maka saling mencair.

    Di sana, barangkali telah kau ketahui sedikit banyaknya tentang perwatakan ini. Hal itu bukanlah masalah penting. Sebagaimana pada lebah-lebah yang terbang di antara tubuhku, kubiarkan ia menyengat dan mencium bau diriku. Telah kukemukakan kepada alam bahwa aku tak pakar dalam beberapa watak dan tak akan kututup-tutupi.

    Di samping itu, semoga matamu yang teduh membacanya dengan adil. Serta mampu menerjemahkan simbol-simbol yang mewakili qolb. Menjadi penawar bagi hati yang sepenuhnya diselimuti keresahan.

    Apabila kemudian penglihatan membawamu kepada kesinisan, aku pun telah siap. Dan nyatanya aku selalu siap. Setidaknya tanah telah mencoba menggetarkan langit.

  • Muara Pembebasan

    Oleh Agung Hyt

    Filsuf Indonesia, Siti Murtiningsih, mengatakan, “Perbedaan manusia dengan binatang dilihat dari kemampuan manusia untuk ‘berefleksi’ dan watak ‘bertujuan’ dalam memandang dan berhubungan dengan dunia,” (Murtiningsih (2004: 38).

    Binatang melakukan aktivitas makan, berburu, dan bermain. Tetapi, itu hanyalah suatu aktivitas yang tanpa tujuan. Suatu aktivitas yang hanya sekadar dorongan daripada hasratnya tanpa melalui proses berpikir dan menimbang.

    Sementara itu, manusia hadir dan ada di muka bumi karena suatu tujuan, yaitu sebagai khalifah Allah di bumi— memelihara kehidupan di bumi berdasarkan petunjuk-petunjuk yang di berikan-Nya. Pemeliharaan itu meliputi hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan alam sekalian.

    Maka, pembuka tulisan ini berupaya memberi clue sebelum kita teruskan ke pembahasan selanjutnya, yaitu kewajiban ketuhanan berkait erat dengan kewajiban lainnya. Sebagaimana yang dicatat oleh Kuntowijoyo (2019: 7), “Kesadaran ketuhanan tidak berarti kaffah jika tidak disertai kesadaran kemanusiaan”.

    Kedudukan Ilmu dalam Perjuangan

    Memang ada orang yang mengatakan bahwa “semangat” lebih penting daripada ilmu. Atau, posisi semangat dianjurkan lebih dahulu ada sebelum adanya ilmu. Misalnya, pandangan filosofis ini ada di dalam falsafah beladiri karate, dengan narasi “semangat dahulu, teknik kemudian”.

    Sehubungan dengan tema pembahasan kita.  Ilmu bukan hanya sekadar perangkat untuk tujuan kemahiran, ia lebih daripada itu. Ilmu sebagai batasan dan modal bergerak untuk suatu tujuan yang mulia. Barangkali narasinya dapat kita ganti dengan “niat tulus, mendahului ilmu dan praksis”. Tetapi bukan berarti posisi “niat” lebih penting daripada “ilmu”, tetapi kita memandang hal ini sebagai sesuatu yang harus seimbang.

    Habermas berpandangan, ada tiga macam ilmu (1) ilmu empiris-analitis, didorong oleh kepentingan teknis, kepentingan untuk memanfaatkan sesuatu yang diketahui (2) ilmu historis-hermeneutis didorong oleh kepentingan “praksis”, kepentingan untuk memahami makna (3) ilmu-ilmu kritis (filsafat, psikoanalisis) didorong oleh kepentingan emansipatoris, yaitu kepentingan untuk membebaskan, (Nunu Burhanuddin, 2016: 247).

    Selain itu, dalam seminar ilmiah tentang “Budaya Ilmu” di Universiti Teknologi Malaysia, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan, “Seseorang yang memiliki informasi dan kemahiran belum tentu dapat dikatakan berilmu. Karena berilmu berarti dapat menemukan makna di balik informasi-informasi dan kemahiran yang ia miliki”.

    Kita memandang, ilmu memiliki posisi yang penting dalam setiap hal perjuangan. Ilmu sebagai cahaya, menerangi jalan perjuangan yang akan ditempuh.

    Kedudukan Ideologi dan Ideolog

    Ada banyak pengertian ideologi. Tetapi, kita mengambil satu-tiga pandangan dari pihak yang memiliki semangat pembebasan. Menurut an-Nabhani, “Ideologi (Arab: mabda’) dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional (yang bersifat mendasar, pen.) yang melahirkan sistem atau seperangkat peraturan tentang kehidupan”.

    Ali Syari’ati mencatat “Ideologi terdiri dari dua kata, yaitu ideo/idea yang berarti gagasan, pemikiran, konsep, dan keyakinan. Sementara logi/logos atau logika berarti ilmu atau pengetahuan. Maka dari sini ideologi dapat di artikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita-cita”, Eko Supriyadi (2013: 141).

    Begitu pula definisi ideologi di dalam Glosarium Marxis: Istilah-istilah Penting dalam Marxisme. “Di sana, Ideologi di artikan sebagai suatu cita-cita dan pandangan-pandangan yang mengekspresikan kepentingan-kepentingan suatu kelas.”, Harry Gould (2019: 84).

    Kita memandang, nafas cita-cita yang terkandung di dalam pengertian ideologi tidak sama seperti harapan seorang remaja untuk mendapatkan balasan cinta dari orang terkasihnya. Makna cita-cita di sana lebih dalam dan luas. Suatu cita-cita radikal yang menghendaki terjadinya suatu perubahan mendasar.

    Dalam pandangan Marxisme, ideologi di era modern ini hanya ada dua, yaitu “kapitalisme dan ideologi kelas buruh. Sementara seseorang yang menyatakan dirinya “netral” dan berdiri di luar ideologi-ideologi, secara tidak langsung menunjukkan keputusan ideologis, yaitu cenderung berkepentingan kapitalis.” (Harry Gould, 2019).

    Tetapi, kita mengemukakan bahwa Islampun layak disebut sebagai ideologi. Sebagaimana upaya Ali Syari’ati meng-ideologisasikan Islam. Islam tidak hanya persoalan ritus, tetapi ia memiliki kekuatan untuk menggerakkan masyarakat kepada suatu transformasi. Hal ini dapat dilakukan mula-mula dengan memandang Islam secara menyeluruh. Bahwa Islam lahir untuk membawa perubahan yang mendasar serta berkeadilan. Islam memiliki pandangan-pandangan filosofis, sekaligus ia menetapkan (petunjuk) aturan-aturan berkehidupan dalam segala aspek. Dengan memandang Islam secara menyeluruh dan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan dalam mencapai cita-cita. Maka, dapatlah kita katakan bahwa kita telah ber-ideologikan Islam.

    Eko Supriyadi (2013), beliau menarik kesimpulan dari pengertian ideologi ala Ali Syari’ati, yaitu “seorang ideolog (orang yang berideologi) berarti seorang pembela atau pejuang dari suatu keyakinan dan cita-cita tertentu”. Maka, setiap orang yang memiliki keyakinan dan cita-cita mulia serta berjuang dengannya layak disebut sebagai ideolog. Terutama cita-cita bagi kelangsungan hidup manusia.

    Jalan Pembebasan

    Di atas kita telah membahas posisi ilmu dan ideologi. Akhirnya kita sampai kepada muara dari fungsi ilmu dan ideologi. Segala bentuk perjuangan apa pun di atas muka bumi ini tidak mungkin kokoh apabila ia tidak memiliki pegangan ilmu dan tujuan yang jelas (ideologi). Serta pegangan ilmu dan ideologi itu tidak berarti apa-apa jika ia tidak disertai jalan yang benar dan niat yang lurus. Tetapi, apabila semuanya telah ada pada diri seseorang atau suatu kelompok pergerakan, maka tinggal memastikan apakah ia serius dengan jalan yang dipilihnya. Fungsi ilmu dan ideologi dalam hal ini adalah guna mendasari tercapainya pembebasan.

    Praksis pembebasan telah dilakukan di zaman Rasulullah. Terutama pembebasan kaum mustadh’afin (kaum yang lemah atau dilemahkan). Hal ini terjadi pada dua fase: Fase Mekkah dan fase Madinah, (Baca lebih lanjut, Abad Badruzzaman, “Dari Teologi Menuju Aksi”, 2018: 55-70).

    Pemikir-pemikir seperti Asghar Ali Engineer, Taqi al-Din an-Nabhani, Ali-Syari’ati, Sayyid Qutb dan lainnya adalah ulama-ulama yang menarasikan pembebasan berasaskan Islam. Meskipun kemudian mereka memiliki metode dan jalan yang berbeda-beda tetapi inti darinya adalah suatu cita-cita untuk melepaskan diri dari belenggu penindasan dan meraih kehidupan ideal bagi umat manusia.

    Menurut Ali Syari’ati (dalam Bonjol Jauhari, 2016: 8), “Kita (umat Islam) memiliki tugas intelektual, yaitu mempelajari dan memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia, baik perseorangan maupun  masyarakat, dan sebagai intelektual, kita memikul amanah demi  masa depan umat manusia yang lebih baik”.

    Melihat realitas kehidupan saat ini kita dapat menyimpulkan sendiri fakta apa yang sedang terjadi. Kita boleh menyebut saat ini sebagai zaman “kemajuan” dengan kehadiran teknologinya yang mempercepat segala aktivitas manusia. Tetapi, di samping itu kita harus mengakui telah terjadi ketimpangan-ketimpangan yang merugikan orang-orang yang tak memiliki “kekuatan”.

    Di sana terjadi ketidakadilan, penindasan, akses pendidikan yang terbatas, serta eksploitasi manusia oleh manusia. Lebih parah lagi, telah terjadi budaya anti-intelektual di mana aktivitas ilmiah dibubarkan secara serampangan. Gambaran ini bukanlah bentuk sesungguhnya dari “kemajuan”. Kecuali “kemajuan” yang menumpang nama di atas kesemuan semata.

    Dalam hal ini, orang-orang yang menyebut dirinya “orang pergerakan” telah banyak tampil ke muka menyuarakan perubahan. Beberapa tampil dengan landasan dan semangat yang meyakinkan, namun tidak sedikit pula orang-orang pergerakan yang hanya bergerak berdasarkan asas opportunistik. Dalam kata lain, pergerakannya “berbayar” dan “berbatas”.

    Ditambah lagi fenomena sauvinisme yang tumbuh subur dikalangan masyarakat umum menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai perubahan. Misalnya, sebagian orang menyebut bahwa “Negara ini telah final”. Padahal, sejak pertanggalan masehi itu ada, tidak ada negara atau kekuasaan yang lolos dari tantangan zaman.

    Setiap negara atau kekuasaan akan selalu berhadapan dengan alternatif-alternatif sistem lain. Maka, kemudian, perubahan dan pembebasan menjadi semacam keniscayaan manakala “yang ada” telah menyimpang jauh dari nilai-nilai keidealan. Segala upaya pembebasan itu tidak lain adalah untuk menemukan kebahagiaan (eudaimonia) yang hakiki sebagai tujuan akhir dari perjuangan dan inti dari kehidupan.

  • Stasiun Jakarta Kota

    Oleh Agung Hyt

    Itu hari Minggu, stasiun tidak begitu ramai. Sesampainya di Stasiun Jakarta Kota siang itu, ia berjalan ke arah kursi panjang dengan raut sumringah. Ia duduk dengan posisi anggun. Sesekali membuka HP. Sesekali membaca buku. Tanpa memerdulikan pandangan orang-orang ia duduk dengan tenang selama beberapa waktu.

    Pada hari Minggu biasanya orang-orang Jakarta memilih berlibur ke puncak atau menghabiskan waktu di rumah udara Jakarta kurang bersahabat buat bermain-main. Namun, siang itu udara agak sejuk. Langit di luar mendung. Tetapi cuaca Jakarta tetaplah kekanakan, sulit diduga akhirnya.

    Lelaki itu beranjak dari kursi dan berjalan menyusuri tembok stasiun. Matanya melirik setiap sudut ruangan. Wajahnya sumringah memancarkan semangat harapan. “Menunggu satu jam bukanlah waktu yang lama untuk sebuah hal penting,” bisiknya dalam hati.

    Tiga tahun lalu di stasiun ini, ia dan seorang perempuan bersepakat untuk bertemu di tempat yang sama, pada jam dan tanggal yang telah ditentukan untuk membicarakan pernikahan. “Tiga tahun lagi kau temui aku di sini. Untuk sementara waktu selesaikan kewajibanmu sebagai seorang pencari ilmu,” ucap sang perempuan.

    Selama proses menunggu, si perempuan tidak mengizinkan si lelaki untuk menghubunginya, kecuali untuk perkara penting. Dengan alasan menjaga kaidah pergaulan di dalam Islam. Lelaki itu seorang aktivis di organisasi pergerakan Islam. Dan sang perempuan seorang yang sedang bergerak menuju perbaikan diri. Maka mereka saling mengerti untuk hal ini.

    Kini, tiga tahun telah berlalu, lelaki itu datang untuk mewujudkan kesepakatan. Menyambut harapan.

    Sembari menyusuri ruangan stasiun, lelaki itu menerbangkan pikirannya ke dunia imajinasi, dan berbicara pada dirinya sendiri tentang sebuah keluarga kecil dengan kehidupan yang sempurna.

    “Jika kami sudah menikah, aku akan membawanya ke Pulau Sirandah dan bermalam selama beberapa hari. Bukan hanya itu, setiap pagi akan ada yang membuatkanku sarapan. Dengan wajah penuh senyum ia membawakan sepotong roti ke hadapanku. Lalu aku memakannya sambil memandang wajahnya. Ia membersihkan serpihan roti yang tertinggal di sudut bibirku dengan bibirnya.

    Di suatu malam yang dingin di kamar yang mungil, aku duduk membaca buku di meja kerja. Ia menemaniku sambil menghantarkan potongan apel ke dalam mulutku dengan jari-jemarinya yang manis. Lalu kami berdiskusi tentang seorang anak yang memiliki keluasan pemikiran dan kehalusan perasaan, serta menakar satu-persatu nama yang bagus untuknya.”

    Lelaki itu menggerakkan kepala lalu mengusap wajahnya. Mengingat khayalan itu hanya tinggal selangkah lagi akan terwujud. Tentunya, selepas ia menemui sang perempuan. Membicarakan tanggal pernikahan, dan melalui resepsi sederhana yang dihadiri sahabat dan anak-anak desa. Lalu ia melanjutkan khayalannya yang semakin liar.

    “Kami belajar bersama setiap hari. Apabila aku memiliki pekerjaan menumpuk, ia menemaniku sampai larut malam. Aku pun akan menemaninya apabila ia sulit tidur, dan memberinya cerita-cerita lucu yang menggairahkan.”

    Lelaki itu berkhayal tentang banyak hal. Tanpa disadari ia telah berkhayal terlalu jauh. Tiba-tiba sesuatu yang ghaib memukul kesadarannya. Mengingatkannya akan perkataan seorang sufi: bahwa berpanjang angan-angan adalah buah dari kebodohan dan cinta dunia. Sontak ia palingkan pikirannya.

    Ia melihat jam tangan telah menunjukkan pukul tiga sore. Ia kembali ke tempat duduk dan melanjutkan penungguannya sembari membaca buku. Wajahnya mulai memancarkan kekhawatiran, hatinya gelisah, setiap kalimat yang ia baca seolah-olah berubah menjadi barisan nama perempuan itu. Hatinya bertanya-tanya, mengapa yang ditunggu belum juga datang? Sementara hujan telah turun.

    Sebenarnya pagi-pagi tadi ia sudah menghubungi perempuan itu melalui pesan singkat WA, tetapi tidak ada balasan. Sebelum ia berangkat menuju Stasiun Jakarta Kota ia menghubunginya kembali. Tidak ada juga balasan. Ia berpikir barang kali perempuan itu sedang sibuk sehingga tidak sempat menyentuh HP-nya. Tapi ia berkeyakinan perempuan itu pasti datang. Maka ia pun berangkat menuju Stasiun Jakarta Kota dengan setumpuk harapan.

    Berlembar-lembar halaman buku sudah terlewati. Perempuan itu belum juga datang. Ketika tengah membaca, tiba-tiba seorang lelaki berwajah tirus menepuk pundaknya dari belakang. Tanpa banyak kata lelaki itu duduk di sebelahnya, dengan baju yang sedikit basah.

    “Ardi, sudah berapa lama menunggu?” Tanya lelaki berwajah tirus.

    Ardi melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 05.05 WIB. “Sekitar empat jam, sejak jam satu,” jawabnya. “Maaf, kamu siapa?

    Tidak terlalu penting dengan nama saya. Saya ingin menyampaikan amanah ini.” Sembari menyodorkan sebuah amplop mungil berbahan kertas padi. “Di dalam ini ada pesan dari seorang yang sedang engkau tunggu. Dia tidak lupa dengan janjinya. Untuk menghormatimu, surat ini mewakili kehadiran dirinya.

    Di saat Ardi kebingungan dan berusaha mencerna perkataan lelaki itu. Lelaki itu pamit dan melangkah pergi. Langkahnya sedikit terburu-buru, padahal di luar sedang hujan. Ardi memerhatikannya: tubuhnya tinggi, langkahnya tegas, persis seperti Luca Valdesi dari Itali. “Tampaknya lelaki itu orang baik,” besitnya dalam hati.

    Ardi membuka amplop perlahan-lahan. Ditemuinya secarik kertas, terdapat empat paragraf tulisan tangan yang rapi. Ia baca dengan mata yang meredup, hatinya bergetar hebat seiring dengan bising hujan dan gelegar petir yang menyala-nyala.

    Ardi, selamat atas kelulusan kuliahmu. Aku tahu kau akan dapat menyelesaikan rintangan meski seorang diri. Maaf aku tidak dapat menemuimu sesuai dengan kesepakatan kita tiga tahun lalu. Mungkin kau akan amat marah ketika membaca surat ini. Tapi izinkan aku tetap menjelaskan. Empat bulan yang lalu seorang temanmu di dalam kepengurusan organisasi yang juga teman dekatku mengabariku. Ia menyampaikan bahwa kau adalah laki-laki yang penuh ketabahan dan kesungguhan, kau tidak kurang dari segi sifat apa pun kecuali satu: kau seorang pemberang.

    Ardi, katamu kau ingin membangun peradaban kecil dan memiliki seorang anak pejuang keadilan, menurutmu bagaimana membentuk anak berwatak adil dari benih pemberang?

    Telah banyak informasi itu sampai kepadaku, tetapi semua itu kutepis sampai kemudian kawanmu mengabariku. Perlu kau tahu telah berjatuhan air mataku mengingatmu, ketangguhanmu tiada setara dari setiap lelaki yang pernah memintaku. Tapi Ardi, aku seorang perempuan yang jauh dari sifat humor, aku tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya kalau kita hidup dalam satu rumah.

    Tahun lalu aku pernah memberitahumu ada seorang lelaki yang melamarku dan kutolak atas pertimbangan kehadiran dirimu di hati dan pikiranku. Nyatanya ia masih setia menanti sama seperti aku menantimu selama ini. Maka setelah kupikirkan berhari-hari dan telah kering air mataku, serta telah kuketahui perwatakannya, kuputuskan untuk menerima lamarannya. Lelaki itu baru saja menghantarkan surat ini ke tanganmu. Kami menikah satu bulan lalu, dengan resepsi sederhana dan dihadiri oleh anak-anak desa. Maafkan aku.”

    from May Ziadah

  • Sayap-sayap Api

    Oleh: agung h. —

    Dengan perasaan yang teramat, ia meyakini bahwa dirinya seorang sanguinis-koleris. Sebuah teori kepribadian yang berusia tua yang berasaskan temperamen—koherensi perilaku. Meskipun seiring berjalannya waktu teori ini mengalami perkembangan dan penolakan, sampai kepada teori personality plus Littauer. Sanguinis-koleris berarti pribadi yang penuh percaya diri, kuat, dan riang. Watak ini senada dengan teori kepribadian Jung, yaitu ekstrovesi/ekstrover kebalikan dari introversi/introver. Keyakinan itu bertahan pada dirinya selama beberapa tahun—di hitung sejak ia bisa berpikir.

    Hal yang membuat ia sangat yakin bahwa dirinya seorang sanguinis-koleris berdasarkan pada praktik hidupnya (masa itu) yang sering tampil ke muka dan menonjol dari yang lainnya.

    Pada praktik-praktik hidupnya itu, memang ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang jika di analogi kan seperti sebuah pisau di atas kertas, atau memancing ikan di danau minyak. Inkoherensi atau ketidakberhubungan. Tetapi karena keyakinan tadi itu terlanjur ia sepakati, maka menunjukkan citra yang mengesankan bahwa ia seorang sanguinis-koleris.

    Menonjolkan diri dan mendominasi perdiskusian pada dasarnya memberi tekanan pada dirinya. Ia harus memaksa diri untuk tetap tampil meskipun dengan kapasitas yang seadanya. Pada beberapa momen, bagi seseorang yang paham dan tajam analisisnya akan memandang sinis dirinya. Pada momen ini, sebenarnya, ia sendiri menyadari kesinisan itu. Tapi seolah-olah ia tidak menghiraukannya. Pada praktik yang ekstrim, kadang-kadang ia memutuskan berkonflik terbuka pada orang yang memandang sinis dirinya. Sekalipun itu gurunya. Tidak jarang pula sampai ke ranah fisik. Setelah perkonflikan-perkonflikan berlau, tanpa ada satupun yang menyadari, jauh di dalam dirinya tesimpan penyesalan-penyesalan.

    Maka kemudian menjadi semacam paradoksal, seorang yang penuh prestise itu juga seorang yang gemar berkonflik dan berkelahi. Pada satu sisi ia seorang pendominasi dan penonjol, pada sisi lain ia seorang yang rapuh perasaannya. Orang-orang yang sinis akan kemenonjolannya itu, baginya adalah sebuah hinaan.

    Paradoksal lainnya, adalah sudah semestinya seorang sanguinis-koleris itu memiliki banyak teman dan mudah bergaul (adaptif). Tapi nyatanya, ia kebalikannya. Keramaian dan orang-orang baru adalah sebuah siksaan. Sehingga tidak jarang, beberapa orang yang berwatak sanguinis sejati melabeli dirinya “sombong”.

    Paradok-paradok ini menjadi pikiran yang berkepanjangan bagi dirinya. Di tambah, semakin hari semakin berkurang lingkaran pertemanannya. Label orang-orang atas dirinya sering pula ia ungkapkan dalam puisi-puisi dan tulisan-tulisan. Ia sadar benar, mengajak mereka bertikai secara terbuka lagi hanya akan membuat ia semakin kehilangan identitas dan di benci.

    Pergolakan batin yang kian hari kian tajam. Membuat ia harus merenung panjang pada tiap-tiap sepi dan malam. Siapa dirinya sebenarnya?

    Sampailah pada satu waktu, sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan. Selama ini beberapa guru menyebut dirinya watak pemikir, tapi hal itu luput dari pikirannya. Bahkan ketika mengetahui itu, ia sendiri malu mengakuinya. Bukan karena hal itu buruk, tetapi publik tidak akan menerimanya, bahwa nyatanya ia seorang melankolis.

    Benar, ia malu untuk mengumumkan itu kepada publik. Tapi sebenarnya ia tidak harus mengumumkan itu. Paradoksal dan pertikaian batin itu akhirnya terjawab setelah bertahun-tahun. Bahwa selama ini, sayap-sayap murung (watak melankolik) itu memaksa diri menerbangkan keriangan, menebar optimisme, serta menipu diri sendiri. Seorang melankolis berpraktik sanguinis-koleris—sungguh sebuah inkoherensi.

    Kepercayadirian yang ia layangkan selama ini adalah sebuah keterpaksaan. Pemaksaan itu bukan hanya memanaskan situasi dan merusak ritme hidup, tetapi juga membakar dirinya sendiri.

    Seperti pada sebelumnya, di dalam dirinya yang jauh, ia menyesalinya, maka dengan penuh kesadaran ia menginsyafkan diri. Meskipun praktik emosionil berupa “amarah-berang” masih sering mengemuka, itu hanyalah manifestasi dari hatinya yang rapuh dan sensitif. Tetapi telah pula ia putuskan untuk menanggalkan praktik-praktik lama yang merusak nilai kemanusiaan. Memanusiakan manusia berarti pula menghormati hak-hak manusia lain untuk juga mendapatkan kesempatan mengekspresikan diri.

  • Rosea
    Oleh : agung h. —
    /1/
    adalah dirimu
    segala apa yang ada padamu
    sebuah puisi
    sastra yang, sunyi
    
    /2/
    tanganmu puisi
    matamu puisi
    langkahmu puisi
    segala apa yang ada padamu, sunyi
    
    /3/
    seseorang yang linglung
    merapal setiap inci tubuhmu
    memuncratkannya
    tepat di jendela kamar hatimu
    saat kau bermimpi
    saat kau, sunyi
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai