Oleh : agung h.
Sejak kelahirannya 75 tahun lalu Indonesia sudah dilanda berbagai permasalahan. Tapi kita tidak ingin jauh-jauh menengok ke masa lalu, kita hitung saja dari pilpres 2019 sampai dengan hari ini.
Ditambah lagi hari ini, serangan dadakan dari pandemi Covid-19 melumpuhkan hampir semua sektor. Kita berduka untuk Indonesia atas segala permasalahannya yang tak kunjung selesai.
Dari segala permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia. Kita boleh memandang apakah permasalahan Indonesia ini sebuah keniscayaan, atau karena ketidakbecusan pemerintah mengelola segala potensi yang ada. Silakan pembaca berpandangan?
Tapi, di sini penulis hendak melihat permasalahan yang dihadapi Indonesia dari sudut pandang yang lain.
Falsafah Kejayaan
Kita mungkin tak asing dengan istilah, “Terbentur-terbentur-terbentuk”. Biasanya para perantau sering menggunakan istilah ini sebagai senjata untuk menjaga ritme perjuangan.
Korelasinya dengan konteks Indonesia adalah kita anggap Indonesia itu seorang manusia. Seorang manusia yang sedang merantau. Seorang perantau adalah seorang yang telah siap dengan segala konsekuensi kehidupan. Konsekuensi terberat dari seorang perantau bukanlah kegagalan, tapi kematian.
Tetapi, seorang perantau meletak “harga” di atas konsekuensi itu bahwa ia harus dapat mencapai tujuannya.
Segala permasalahan yang tengah dihadapi oleh Indonesia adalah bagian daripada konsekuensi. Kita memilih merdeka, maka harus siap dengan tantangan sebuah negara yang merdeka.
Meskipun Indonesia itu sesuatu yang abstrak. Tapi, Indonesia bukanlah benda mati (baca, tidak bergerak). Indonesia bergerak, penggeraknya adalah setiap manusia yang mengelolanya.
Kita ketahui bahwa Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atas permintaan Presiden Joko Widodo telah menyusun Visi Indonesia 2045. Keseluruhan Visi itu diarahkan pada perwujudan Indonesia yang maju, adil, dan makmur.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).
Visi Indonesia yang maju, adil dan makmur tidak bisa ujug-ujug tercapai. Perlu usaha dan kerjasama semua pihak. Dari sana kita melihat bahwa harus ada “gerak” untuk mengubah suatu fakta yang ada. Dari satu gerak kepada gerak lainnya, itulah yang kita sebut sebagai proses.
Kultur Indonesian Dream’s
Pada tanggal 24 November 2015. YouTuber Ismail Fahmi mewawancarai Ulil Abshar Abdalla yang akrab disapa “Gus Ulil” dengan tema “Manusia Indonesia”.
Dalam wawancara itu Gus Ulil mengatakan bahwa ia optimis suatu saat Indonesia akan seperti Amerika, Indonesia memiliki satu fenomena yang sama dengan Amerika dalam istilahnya Kultur Indonesian Dream’s. Dimana orang-orang yang berangkat dari bawah tiba-tiba muncul menjadi sesuatu yang sangat besar.
Selain itu ia juga melihat begitu tingginya kreativitas anak-anak muda sekarang. Berbagai penemuan dan prestasi tak henti-hentinya mengisi beranda pemberitaan. Pertumbuhan kreativitas ini dapat dijadikan salah satu tolok ukur untuk mencapai mimpi menjadi seperti Negara Amerika. Tapi dengan catatan, lingkungan harus mendukung kultur kekreativitasan.
Istilah ekonomi kreatif pertama kali dimunculkan oleh John Howkins ketika melihat ada gelombang ekonomi baru yang melanda Amerika Serikat. Gelombang ekonomi baru itu dicirikan dengan aktivitas ekonomi berbasis ide, gagasan, dan kreativitas. Menurutnya, karakter ekonomi kreatif dicirikan dari aktivitas ekonomi yang bertumpu pada eksplorasi dan eksploitasi ide-ide kreatif yang memiliki nilai jual tinggi.
Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif terbukti dengan lahirnya Badan Ekonomi Kreatif yang sekarang menyatu dengan Kementerian Pariwisata.
Selain itu, pada November 2018 lalu Indonesia menyelenggarakan The World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali. Mempertemukan perwakilan dari pemerintah, pengusaha, think tank, komunitas, organisasi internasional, media, dan ahli di bidang ekonomi kreatif.
Optimisme sebagian kalangan terhadap kemajuan dan kejayaan Indonesia sering penulis dengar. Baik dalam diskusi lesehan maupun diskusi di forum-forum formal. Namun demikian, kreativitas hanyalah salah satu komponen yang dapat mendorong Indonesia menjadi Negara yang maju, adil dan makmur. Tentu ada faktor-faktor lain yang tak kalah pentingnya.
Memenangkan Kemungkinan
Tidak selamanya perubahan itu bergerak perlahan-lahan. Ada jenis perubahan yang datang secara tiba-tiba dan mengubah segalanya dengan cepat. Hal demikian itu dapat kita sebut sebagai kejadian wild card. Tentang perubahan sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, tapi tiba-tiba ia meledak dan membuat kehebohan.
Saya pikir kita semua sama-sama sepakat. Bahwa setiap tujuan yang besar memiliki harga yang harus dibayar. Dalam konteks Indonesia, salah satu harga yang harus dibayar ialah bertarung dengan ketidakpastian. Pertarungan ini bisa melahirkan kemenangan bisa juga melahirkan kekalahan.
Mimpi Indonesia tentang kejayaan 2045 tidak bisa dikatakan sebagai tujuan biasa-biasa saja. Setidaknya ada 2 hal yang membuat ia tidak biasa-biasa saja, pertama, Indonesia akan bertarung dengan waktu atas eksistensi dirinya. Kedua, Indonesia bertarung dengan realitas untuk dapat tumbuh menjadi Negara besar.
Secara filosofis, dua faktor itu memengaruhi apakah Indonesia dapat bertahan dalam perjalanannya serta dapat mencapai tujuannya sebagai Negara yang Berdaulat, Adil dan Makmur. Atau ia menyerah dihadapan waktu dan realitas? Hal ini adalah sebuah konsekuensi logis dari kemungkinan-kemungkinan yang terbuka dan dengan melihat begitu dinamisnya kehidupan dunia.
Tapi karena masa depan adalah kemungkinan-kemungkinan yang terbuka. Maka Indonesia tak perlu khawatir dengan masa depannya. Sebab definisi dari kemungkinan ialah bisa “Ya” bisa “Tidak”.
Itu artimya, selama peta jalan yang telah disusun oleh Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional dilalui dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Indonesia yang Adil dan Makmur bukanlah suatu ketidakmungkinan.
*Artikel ini telah terbit di jurnalintegritas.com









